MENGALAMI DAN MENIKMATI ROH YANG ALMUHIT
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 4:1-6
Beban kita dalam pemulihan Tuhan adalah melayankan Allah Tritunggal sebagai hayat dan segala sesuatu bagi kita sehingga kita dapat menikmati segala apa adanya Dia. Mengenai ini, kita berdiri di atas bahu guru-guru besar Alkitab yang sebelum kita. Kita banyak belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain. Kita telah mempelajari sejarah gereja, biografi-biografi, dan tulisan-tulisan yang terpenting dari guru-guru besar sejak abad permulaan sampai sekarang. Semua itu sangat membantu kita. Tentu saja, kita juga telah mempelajari Alkitab sendiri. Karena itu, kita benar-benar tahu di mana kita, dan kita mempunyai jaminan mengenai ketepatan dari apa pun yang telah Tuhan pimpin untuk kita katakan dalam ministri.
MAKSUD ALLAH
Sebagai hasil dari pengalaman dan belajar selama bertahun-tahun, kita telah melihat bahwa menurut seluruh wahyu dalam Alkitab, maksud Allah adalah menggarapkan diriNya sendiri ke dalam kita sehingga Dia dapat menjadi hayat kita, kita dapat hidup oleh Dia, menjadi ekspresiNya. Inilah maksud Allah. Agar Allah dapat mencapai maksud ini, Dia harus menjadi tritunggal. Tanpa menjadi tritunggal, yaitu tanpa menjadi Bapa, Anak (Putra), dan Roh, Allah tidak akan mempunyai jalan untuk menggarapkan diriNya ke dalam kita. Untuk menggarapkan diriNya ke dalam kita, Allah pertama-tama harus memberikan diriNya sendiri kepada kita, menyalurkan diriNya ke dalam kita. Jika Dia tidak dapat melakukan ini, Dia tidak dapat menggarapkan diriNya ke dalam kita menjadi hayat kita. Tidaklah mungkin Allah Tritunggal menjadi hayat kita jika Dia tetap sebagai Yang di luar kita, yang kita percayai, kita sembah, dan yang baginya kita bekerja. Agar Allah dapat menjadi hayat kita, Dia harus menyalurkan diriNya ke dalam kita, dan agar penyaluran ini dapat terlaksana, Allah harus menjadi Bapa, Putra, dan Roh.
ANAK DATANG DALAM NAMA BAPA
DAN BERSAMA BAPA
Allah menciptakan manusia menurut gambarNya untuk menyalurkan diriNya ke dalam manusia, sehingga manusia dapat menjadi ekspresiNya. Tujuan Allah dalam menciptakan manusia adalah agar manusia dapat menjadi wadahNya, menikmati Dia sebagai hayat untuk mengekspresikan Dia. Akan tetapi, manusia jatuh. Setelah manusia jatuh, Allah sendiri menjadi seorang manusia. Yang menjadi manusia adalah Allah Putra, bukan Allah Bapa, atau Allah Roh. Namun, Putra datang dalam nama Bapa dan bersama Bapa. Banyak orang Kristen hanya menekankan Putra datang dan mengabaikan fakta bahwa Putra datang dalam nama Bapa dan bersama Bapa. Beberapa ahli teologi bahkan mengatakan bahwa ketika Putra Allah datang, Bapa ditinggal di surga. Berkebalikan dengan konsepsi alamiah, manusiawi ini, Perjanjian Baru mewahyukan bahwa ketika Putra datang, Dia tidak pernah meninggalkan Bapa. Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Dia tidak sendirian, karena Bapa bersama Dia. Dalam Yohanes 8:29 Dia mengatakan, “Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri.” Dalam Yohanes 16:32 Tuhan berkata, “Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.” Selama hidupnya di bumi, Bapa bersama Dia. Sebab itu, ketika Putra datang menjadi seorang manusia, Dia hidup sebagai seorang manusia dalam nama Bapa dan bersama Bapa.
Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa ketika Dia di bumi sebagai seorang manusia, Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. Dalam Yohanes 10:38 Dia mengatakan, “Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Kemudian dalam Yohanes 14:10-11 dalam menanggapi permohonan Filipus agar Dia memperlihatkan Bapa kepada mereka, Dia berkata “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaanNya. Percayalah kepadaKu bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” Ini bukan hanya satu perkara tentang hidup berdampingan dari Bapa dan Putra, tetapi juga tentang saling berhuninya Bapa dan Putra. Ini berarti Bapa dan Putra saling hidup di dalam satu sama lain. Karena itu, Bapa dan Putra hidup berdampingan dengan cara saling huni. Karena Putra datang bersama Bapa dan dalam nama Bapa dan karena Dia hidup berdampingan dengan cara saling huni dengan Bapa, Dia disebut Bapa kekal (Yes. 9:5). Kita tidak dapat menganalisis atau mensistematiskannya. Kita jangan mencoba untuk menganalisis atau mensistematiskan Allah Tritunggal, kita harus dengan sederhana menerima fakta-fakta seperti yang diwahyukan dalam Alkitab.
Pernahkah Anda mendengar bahwa ketika Putra datang, Dia datang dalam nama Bapa dan bersama Bapa? Seperti yang telah kami katakan, beberapa orang Kristen mempunyai penekanan bahwa ketika Putra Allah datang, Dia datang sendiri, meninggalkan Bapa di atas takhta. Orang-orang Kristen ini belum diajarkan menurut Kitab Suci bahwa ketika Putra Allah datang sebagai seorang manusia, Dia datang bersama Bapa. Bapa ada di dalam Dia, dan Dia ada di dalam Bapa. Inilah alasannya Dia dapat mengatakan bahwa Dia tidak pernah sendirian, karena Bapa bersama Dia, bahkan pada waktu Dia dianiaya. Seperti yang telah kita jelaskan dari Injil Yohanes bahwa Bapa beserta dengan Putra dengan jalan saling huni.
Orang-orang yang berada di bawah pengaruh teologi tradisional mungkin masih mengira bahwa ketika Putra Allah datang, Dia meninggalkan Bapa di atas takhta. Menurut konsepsi ini, ketika Putra hidup di Nazaret, ketika Dia melaksanakan ministriNya, Bapa di atas takhta di surga mengawasi Dia. Apa yang diwahyukan mengenai Bapa dan Putra dalam Injil Yohanes sangatlah berbeda. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dengan ini kita nampak bukan hanya Kristus, Firman, bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia adalah Allah. Menurut Yohanes 1:14, Firman itu telah menjadi daging; yaitu, Kristus menjadi seorang manusia, Allah yang berinkarnasi. Dalam pengajaran dan pemberitaanNya, Tuhan menegaskan bahwa Dia datang dalam nama Bapa dan bersama Bapa. Dia juga mengatakan kepada kaum agamawan Yahudi dan murid-muridNya bahwa Dia tidak sendirian, karena Bapa selalu bersama Dia. Selanjutnya, Dia mewahyukan kepada murid-muridNya bahwa Dia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Karena itu, dikatakan bahwa ketika Putra datang, Dia meninggalkan Bapa di atas takhta, itu sama sekali tidak tepat.
SATU WAHYU TENTANG PUTRA BERSAMA BAPA
Ketika Putra ada di bumi, Dia hidup di dalam Bapa, dan Bapa hidup di dalam Dia. Putra tidak pernah mengatakan perkataanNya sendiri; Dia mengatakan perkataan Bapa. Putra tidak pernah melakukan pekerjaanNya sendiri, Dia melakukan pekerjaan Bapa. Putra tidak pernah mencari kemuliaanNya sendiri, Dia mencari kemuliaan Bapa. Karena itu, apa yang kita miliki dalam Injil Yohanes adalah satu wahyu tentang Putra bersama Bapa. Sebab itu, Yesaya 9:5 mengatakan bahwa Anak yang diberikan kepada kita disebut Bapa kekal. Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah sangat mengasihi dunia sehingga Dia telah mengaruniakan PutraNya yang tunggal. Ya, Allah telah memberikan PutraNya kepada kita; tetapi sebutan PutraNya ini adalah Bapa kekal! Beberapa orang telah mencoba menjelaskan Yesaya 9:5 dengan mengatakan bahwa Putra hanya disebut Bapa tetapi sebenarnya bukanlah Bapa. Betapa menggelikan! Putra datang bersama Bapa dan dalam nama Bapa; Dia juga hidup di dalam Bapa, dan Bapa hidup di dalam Dia. Di sini kita mempunyai Putra dan Bapa, karena kita mempunyai Putra bersama Bapa. Tentu saja, masih ada satu perbedaan antara Putra dengan Bapa. Tetapi, meskipun ada satu perbedaan antara Putra dengan Bapa, Injil Yohanes dengan jelas mewahyukan bahwa Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra. Inilah alasannya Putra dapat mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30).
ROH SEBAGAI REALITAS PUTRA
Setelah Putra mati di atas salib dan dikubur, dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi hayat. Ini berarti Bapa ada di dalam Putra dan Putra menjadi Roh pemberi hayat. Inilah Roh yang dibicarakan dalam Yohanes 7:39, “Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Sekarang ketika kita memberitakan Injil mengenai Kristus Putra dan orang-orang percaya kepada Dia dan menyeru namaNya, mereka tidak hanya menerima Putra, tetapi juga Bapa dan Roh itu, karena ketiganya adalah satu. Putra datang bersama Bapa, dan Roh itu datang tidak hanya bersama Putra tetapi sebagai realitas Putra bersama Bapa. Kita perlu jelas bahwa Anak datang bersama Putra dan Roh itu datang tidak hanya bersama Putra, tetapi sebagai realitas Putra. Tidak hanya demikian, ketiganya Bapa, Putra, dan Roh itu saling huni. Inilah Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh itu sebagai satu Allah seperti diwahyukan dalam Alkitab.
ALLAH TRITUNGGAL BERHUNI DI DALAM KITA
SEBAGAI PENGURAPAN
Hari ini ketika Allah Tritunggal mencapai kita, Dia datang sebagai Roh itu. Pergerakan Roh ini adalah peng-urapan di batin kita (1 Yoh. 2:27). Allah Tritunggal berhuni di dalam kita sebagai Roh pemberi hayat yang majemuk dan almuhit, dan Roh ini adalah pengurapan yang bergerak di batin kita. Kita tidak hanya mempunyai satu per tiga dari Allah Tritunggal; yaitu, kita tidak memiliki Roh Kudus terpisah dari Putra dan Bapa. Kita tidak boleh menganggap bahwa satu per tiga dari Allah Tritunggal ada di dalam kita dan dua per tiga yang lain ada di surga. Seluruh Allah Tritunggal Roh itu sebagai realitas Putra bersama Bapa berhuni di dalam kita sebagai minyak pengurapan. Selanjutnya, Dia tidak tidur di dalam kita, melainkan hidup, beroperasi, bergerak. Inilah pengurapan, yang adalah Allah Tritunggal sebagai Roh yang almuhit bergerak di dalam kita untuk menjenuhi kita dengan esens Allah. Pertama, Roh ini adalah hayat bagi kita, dan kemudian Dia menjadi segala sesuatu kita, meliputi sifat, susunan, kebajikan, atribut, kekuatan, hikmat, keadilan, pengudusan, penebusan, kebaikan, kerendahan hati kita.
Apa yang telah kita bicarakan dalam berita ini adalah pandangan inti dari seluruh wahyu ilahi menurut 66 kitab dalam Alkitab. Mengenai hal ini, Surat 1Yohanes adalah kelanjutan dari Injil Yohanes. Injil Yohanes mewahyukan bahwa Kristus telah datang untuk merampungkan segala sesuatu bagi ekonomi Allah, dan sekarang Dia siap untuk kita terima dengan percaya kepadaNya. Setelah kita menerima Dia, kita harus mengasihi Dia, dan melalui kasihNya kita harus mengasihi saudara-saudara. Surat 1Yohanes mengatakan kepada kita bagaimana menikmati Allah Tritunggal, yang adalah hayat ilahi bagi kita. Kita menikmati Dia dengan menetap, tinggal, berhuni dalam persekutuan ilahi. Asalkan kita tinggal dalam persekutuan ini, kita akan menikmati Allah Tritunggal sebagai kasih dan terang. Allah Tritunggal ada di dalam kita, untuk kita nikmati.
BIDAH-BIDAH MENGENAI PERSONA KRISTUS
Ketika Yohanes menulis suratnya yang pertama, ada ajaran bidah-bidah tertentu tentang persona Kristus. Salah satu dari bidah-bidah ini mengatakan bahwa Yesus bukanlah Kristus. Bidah ini menyangkal keilahian Yesus. Ajaran bidah semacam ini meniadakan kenikmatan atas Allah Tritunggal.
Bidah yang lain mengenai persona Kristus mengatakan bahwa Kristus adalah Allah, tetapi menyangkal bahwa Dia menjadi daging. Menurut bidah ini, Kristus adalah Allah, tetapi Dia bukanlah seorang manusia. Karena pengaruh Gnostikisme, siapa saja yang mengajarkan bidah ini mengatakan bahwa materi pada dasarnya adalah jahat. Kemudian kaum bidah ini mengatakan bahwa Kristus sebagai Allah yang kudus tidak mungkin menjadi daging. Karena itu, mereka menyatakan bahwa tubuh jasmani Kristus hanyalah sebuah bayang-bayang. Ini berarti mereka tidak percaya bahwa Dia benar-benar mempunyai satu tubuh materi. Bidah ini juga menghapuskan kenikmatan atas Kristus yang almuhit.
Dalam bagian kedua surat ini (2:12-27), Yohanes mengatakan kepada “anak-anak” (2:12) bahwa mereka mempunyai satu pengurapan dari Yang Kudus (2:20) dan pengurapan ini mengajar mereka mengenai segala sesuatu (2:27). Yohanes seolah-olah mengatakan, “Pengurapan adalah pergerakan dan penjenuhan Allah Tritunggal di dalam kalian. Pengurapan batiniah ini mengajar kalian tentang segala sesuatu, mengenai Allah Tritunggal. Jangan dengarkan Cerintus dan pengikut-pengikutnya, juga jangan dengarkan Kaum Dosetis. Mereka adalah nabi-nabi palsu.” Selain itu, nabi-nabi palsu ini adalah antikristus-antikristus (2:18, 22; 4:3) karena mereka anti terhadap beberapa aspek Kristus. Mereka mempunyai satu roh yang tidak berasal dari Allah, yang tidak bersumber dari Allah, “Dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia” (4:3).
Seperti telah kita jelaskan dalam berita sebelumnya, ada lebih dari satu antikristus. Antikristus adalah seseorang yang anti terhadap suatu hal tentang Kristus. Menjadi antikristus adalah menentang Kristus dan menggantikan Kristus dengan sesuatu yang lain.
KELICIKAN MUSUH
DALAM MENYANGKAL KEALMUHITAN KRISTUS
Pada abad pertama Satan (Iblis) dalam kelicikannya memakai kaum Cerintus dan Dosetis untuk menghalangi orang-orang Kristen menikmati Allah Tritunggal dan bahkan memutus mereka dari kenikmatan ini. Pada masa Konsili Nicea (325 M), doktrin yang nampaknya ortodoks mengenai Allah Tritunggal telah disusun. Pengakuan Iman Nicea secara umum dianggap sebagai pernyataan doktrin yang ortodoks. Akan tetapi, pengakuan iman ini sebenarnya tidak lengkap mengenai persona Kristus. Pengakuan iman ini tidak menyatakan dengan jelas bahwa Putra datang dalam nama Bapa dan bersama Bapa dan bahkan disebut Bapa kekal. Pengakuan iman ini juga tidak menjelaskan bahwa Putra di dalam kebangkitanNya menjadi Roh pemberi hayat. Selain itu, pengakuan iman ini tidak mengatakan bahwa Roh Allah akhirnya rampung menjadi tujuh Roh. Tambahan pula, Pengakuan Iman Nicea ini tidak mempunyai satu pernyataan yang jelas mengenai Kristus sebagai yang sulung dari ciptaan Allah. Dengan ini kita dapat melihat bahwa hanya Alkitablah yang lengkap. Tidak ada pengakuan iman yang lengkap.
Dalam kelicikannya Satan (Iblis), musuh itu, mencoba untuk menghilangkan butir-butir dasar tertentu tentang apa adanya Kristus di dalam personaNya. Sebab itu, siapa saja yang mengikuti pengakuan iman dan ajaran tradisional mungkin menekankan bahwa Yesus Kristus hanyalah Putra Allah yang berinkarnasi. Mereka mungkin tidak nampak bahwa Kristus juga adalah Bapa, Roh, dan yang sulung dari ciptaan Allah. Akibat dari kelicikan ini adalah menyajikan satu Kristus yang tidak almuhit. Tetapi Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab adalah almuhit. Dia adalah Allah, juga adalah manusia. Dia adalah Putra, Bapa, dan Roh itu. Dia juga Pencipta dan yang sulung dari ciptaan-ciptaan. Menurut Alkitab, Kristus masih tetap seorang manusia, dan Dia mempunyai satu tubuh rohani yang dapat dijamah (Yoh. 20:27). Hari ini Kristus yang di atas takhta di surga masih tetap mempunyai satu sifat insani (Mat. 26:64; Kis. 7:56).
Kristus adalah yang pertama dalam ciptaan lama Allah dan juga yang pertama dalam kebangkitan, yaitu dalam ciptaan baru Allah (Kol. 1:15, 18). Persona yang almuhit ini adalah kekuatan, hikmat, keadilan, pengudusan, penebusan, hayat, suplai hayat, dan semua kebajikan insani kita, termasuk kebaikan hati, kerendahan hati, kesabaran, dan kelemahlembutan. Persona yang ajaib ini adalah kenikmatan kita, pesta kita, bulan baru kita, sabat kita, makanan kita, minuman kita, dan pakaian kita. Sesungguhnya, Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab itu almuhit.
Karena kita melayankan kealmuhitan Kristus seperti yang diwahyukan dalam Alkitab, ada orang yang menuduh kita mengajarkan panteisme. Mereka mengatakan kita mengajarkan bahwa segalanya adalah Allah. Tuduhan ini sama sekali salah, dan kita menolaknya. Namun, kita tidak berperang bagi doktrin, melainkan bagi kenikmatan atas Kristus yang almuhit.
MENGALAMI DAN MENIKMATI
ALLAH TRITUNGGAL
Kita telah melihat bahwa salah satu kelicikan musuh adalah menyangkal aspek-aspek tertentu tentang Kristus, dan dengan demikian membatasi Dia dan membuat Dia tidak almuhit lagi. Kelicikan yang lain adalah menyangkal bahwa Allah Tritunggal itu subyektif untuk kita alami dan nikmati; menyajikan Trinitas ilahi hanya sebagai satu doktrin yang obyektif bagi agama. Kebanyakan denominasi kekristenan berdasar pada pengakuan iman. Pada suatu denominasi Pengakuan Iman Rasuli dibacakan dalam kebaktian mereka setiap minggu. Banyak dari mereka yang membaca pengakuan iman itu tidak mempunyai pengalaman atas Allah Tritunggal. Bagi mereka, Trinitas ilahi hanyalah satu kepercayaan di dalam doktrin. Tetapi Alkitab mewahyukan bahwa Allah Tritunggal bukan hanya obyek dari iman kita semata; Dia itu subyektif bagi kita, berhuni di dalam kita, menjadi hayat dan suplai hayat kita. Setiap hari, bahkan setiap jam, kita perlu mengalami Dia dan menikmati Dia secara demikian. Ini ditegaskan oleh firman mengenai kenikmatan atas Allah Tritunggal dalam 2Korintus 13:13.
Alkitab dengan jelas mewahyukan bahwa Allah Tritunggal, setelah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, telah rampung dalam Roh yang almuhit, yang telah datang untuk berhuni di dalam roh kita. Haleluya bagi Roh almuhit yang ajaib yang berhuni di dalam roh insani kita! Roh kita mungkin satu organ yang kecil, tetapi Roh ini berhuni di dalamnya.
Seorang manusia dapat diumpamakan sebagai sebuah radio transistor. Sebuah radio semacam ini mempunyai sebuah alat penerima yang memungkinkannya menerima gelombang radio. Bila radio itu disetel dengan tepat, ia akan memperdengarkan musik. Kita dapat mengatakan bahwa diri kita seperti radio transistor, dan alat penerima itu adalah roh insani kita. Bila alat penerima kita disetel dengan tepat, kita menikmati musik surgawi. Ini adalah sebuah ilustrasi tentang menikmati Allah Tritunggal yang sekarang adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam roh insani kita yang dilahirkan kembali. Inilah alasannya kita menekankan pentingnya roh insani. Dengan roh kita inilah kita menjamah, menikmati, dan mengalami Roh yang almuhit.
Berdasarkan Kitab Suci, kita dengan kuat bersaksi bahwa Tuhan kita hari ini bukanlah satu bagian dari Allah Tritunggal semata Dia adalah perwujudan dari seluruh Allah Tritunggal, Putra bersama Bapa dan sebagai Roh. Dalam pengalaman kita hari ini, Dia adalah Roh sebagai realitas Putra bersama Bapa menjadi hayat kita bagi kenikmatan kita. Menyadari bahwa Dia adalah Pribadi yang begitu ajaib, kita tidak peduli doktrin-doktrin yang mati, agama yang hampa, atau liturgi yang tidak berarti. Perhatian kita adalah setiap hari mempunyai pengalaman dan kenikmatan atas Allah Tritunggal.