← Daftar isi 1 Yohanes · bab 13/16

KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MENGALAHKAN DUNIA, MAUT, DOSA, IBLIS, DAN BERHALA (2)

Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 5:14-17

Dalam berita ini kita akan membahas 1Yohanes 5:14-17.

PERSEKUTUAN ILAHI

Satu Yohanes 5:14 mengatakan, “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.” Kata “Dan” pada awal ayat ini sangat penting. Tanpa kata ini, kita mungkin mengira bahwa 1Yohanes 5:14-17 adalah satu bagian yang terpisah dari bagian sebelumnya dan tidak ada hubungannya. Kita juga mungkin mengira bahwa apa yang diungkapkan penulis dalam ayat 14 ada secara tiba-tiba. Akan tetapi, sebenarnya menurut fakta-fakta rohani, apa yang dikatakan Yohanes dalam ayat 14 bukanlah satu kejutan, melainkan merupakan satu pengaliran yang spontan dari ayat-ayat sebelumnya.

Satu Yohanes 5:4-13 menunjukkan kepada kita bagaimana kita menerima hayat kekal, yang disebutkan dalam 1:1-2. Kemudian ayat 14-17 memberi tahu kita bagaimana kita seharusnya berdoa dalam persekutuan hayat kekal, yang disebutkan dalam 1:3-7. Tujuh ayat pertama dari pasal satu menunjukkan bahwa kita telah menerima hayat kekal, dan dari hayat kekal ini kita mempunyai persekutuan dengan rasul-rasul dan juga dengan Bapa dan Putra. Prinsipnya sama dengan yang di dalam 5:4-17. Dalam 5:4-13 kita telah menerima hayat kekal, dan dalam 5:14-17 kita di dalam persekutuan hayat ini. Tentu saja, kata “persekutuan” tidak ada di sini. Ayat-ayat ini membicarakan tentang berdoa. Bila kita berdoa dengan hayat ilahi, kita di dalam persekutuan hayat ilahi. Karena itu, ayat-ayat ini faktanya mengacu kepada persekutuan ilahi.

HAYAT KEKAL MENGALAHKAN MAUT

Kata “Dan” pada awal ayat 14 menghubungkan hayat dalam 1Yohanes 5:4-13 dengan persekutuan dalam 1Yohanes 5:14-17. Dalam bagian yang di depan kita telah menerima hayat kekal dan kita mempunyai firman tertulis sebagai jaminan ini. Sekarang Yohanes memakai apa yang telah dia tulis dalam 1Yohanes 5:4-13 sebagai satu dasar untuk menampakkan kepada kita bahwa hayat kekal ini dapat mengalahkan maut. Kita telah menerima hayat kekal, dan hayat ini telah dipersaksikan, dibuktikan, dan dijaminkan di dalam kita. Sekarang Yohanes bermaksud menjelaskan bahwa hayat kekal mengalahkan maut.

Mungkin Anda menganggap 1Yohanes 5:14-17 sebagai ayat-ayat mengenai doa kita dan jawaban Allah atas doa kita. Sebenarnya, maksud Yohanes dalam ayat-ayat ini adalah menampakkan kepada kita bahwa hayat kekal di dalam kita dapat mengalahkan maut di dalam diri kita dan di dalam anggota-anggota gereja yang lainnya. Hayat kekal menelan maut di dalam kita dan maut di dalam anggota-anggota yang lain.

Dalam hidup gereja, kita tidak hidup sendiri. Karena gereja adalah Tubuh, kita hidup dengan sesama anggota Tubuh. Karena kita di dalam Tubuh, kita beranggota dengan kawan anggota yang lain. Hayat kekal tidak hanya mengurusi keperluan kita sendiri; juga mengurusi keperluan sesama anggota di sekeliling kita. Ia mengalahkan maut di dalam kita, dan ia mengalahkan maut di dalam saudara-saudara kita. Khususnya, ia mengalahkan maut di dalam orang-orang yang lemah atau yang mempunyai kesulitan-kesulitan.

Kelemahan berhubungan dengan maut, dan kesulitan-kesulitan berasal dari maut. Selama ada kesulitan-kesulitan dalam hidup gereja, ini adalah satu petunjuk bahwa ada maut di antara mereka yang di dalam gereja. Karena itu, kita perlu hayat kekal untuk mengalahkan dan menelan maut ini. Jika Anda lebih kuat dan anggota lain lebih lemah, Anda dapat menjadi orang yang menyuplaikan hayat dari dalam Anda kepada orang yang lebih lemah, agar dapat menelan maut di dalam dia.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa ayat 14 dimulai dengan “Dan”. Mari kita baca ayat 13-14a sekali lagi. “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya.” Kelihatannya, bagian pertama dari ayat 14 tidak tepat atau logis. Tetapi jika kita menjamah beban dalam roh penulis, kita akan nampak maksudnya, yaitu menampakkan kepada kita bahwa kita tidak hanya mempunyai hayat kekal, tetapi juga menunjukkan, hayat kekal yang di dalam kita ini mengalahkan maut dan menelannya.

MEMINTA MENURUT KEHENDAK ALLAH

Dalam ayat 14 Yohanes mengatakan, “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.” Di sini “keberanian” mengacu kepada keberanian yang kita miliki untuk berdoa dalam persekutuan dengan Allah. Berdasarkan fakta bahwa kita telah menerima hayat kekal melalui kelahiran ilahi dengan percaya ke dalam Putra Allah, kita dapat berdoa dalam persekutuan hayat kekal, dengan mengontak Allah, dalam keberanian hati nurani yang tanpa pelanggaran (Kis. 24:16), menurut kehendakNya, kita memiliki jaminan bahwa Dia akan mendengarkan kita.

Ayat ini berbicara tentang meminta menurut kehendak Allah, bukan menurut keinginan, pilihan, atau cara kita. Tetapi bagaimana kita tahu bahwa hal yang kita minta sesuai dengan kehendakNya? Seseorang yang meminta menurut kehendak Allah adalah seseorang yang telah dilahirkan kembali, yang mempunyai hayat ilahi, dan yang berada di dalam persekutuan hayat ilahi. Seperti yang kita lihat dalam pasal 3, orang semacam ini akan mempunyai satu hati nurani yang tanpa pelanggaran. Ini berarti hatinya tidak menyalahkan dia, karena ketika dia di dalam persekutuan hayat ilahi, dia mempunyai satu hati nurani yang tanpa pelanggaran. Asalkan kita tinggal di dalam persekutuan hayat ilahi, hati nurani kita tentu saja akan tanpa pelanggaran. Kemudian kita akan dapat berdoa, meminta, menurut kehendak Allah. Dengan ini kita nampak bahwa seseorang yang berdoa di dalam persekutuan hayat ilahi benar-benar bersatu dengan Tuhan. Dengan cara inilah kita tahu kehendak Allah: dengan bersatu dengan Dia, dengan tinggal di dalam Dia, dan dengan menetap di dalam persekutuan hayat ilahi.

Doa yang menurut kehendak Allah menyatakan bahwa orang yang berdoa tinggal di dalam persekutuan hayat ilahi dan juga tinggal di dalam Tuhan sendiri. Orang beriman semacam ini bersatu dengan Tuhan. Ini memungkinkan dia mempunyai keberanian terhadap Allah. Bila kita di dalam persekutuan hayat ilahi dan hati nurani kita tanpa pelanggaran, kita mempunyai damai sejahtera dengan Allah, dan kita juga mempunyai keberanian untuk berdoa, tidak menurut perasaan kita, tetapi menurut kehendakNya. Karena kita berdoa menurut kehendakNya, Dia mendengarkan kita.

MENGETAHUI BAHWA KITA MEMPEROLEH APA YANG KITA MINTA

Dalam 5:15 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya.” Pengetahuan ini berdasar pada fakta bahwa setelah menerima hayat ilahi, kita tinggal dalam Tuhan dan bersatu dengan Dia da-lam doa kita kepada Allah dalam namaNya (Yoh. 15:7, 16; 16:23-24). Berdasarkan fakta bahwa kita telah menerima hayat ilahi melalui kelahiran ilahi, kita dapat tinggal di dalam Tuhan dan bersatu dengan Dia di dalam doa kita. Karena kita bersatu dengan Tuhan di dalam doa, kita berdoa di dalam namaNya. Dengan ini kita tahu bahwa Dia mendengarkan kita dalam apa pun yang kita minta. Permohonan kita bukan meminta dalam diri kita menurut pikiran kita, melainkan dalam Tuhan menurut kehendak Allah. Karena itu, kita tahu bahwa kita mempunyai permintaan-permintaan yang telah kita mohon dari Dia.

BERDOA DAN MEMBERIKAN HAYAT

Dalam ayat 16 Yohanes sampai pada butir dalam bagian ini, “Kalau seseorang melihat saudara seimannya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup (hayat) kepadanya, yaitu mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: Tentang itu tidak kukatakan bahwa Ia harus berdoa.” Secara harfiah, kata “mendatangkan” dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya berarti “mengarah ke”. Di sini Yohanes mengatakan bahwa jika seseorang melihat saudaranya, yaitu orang yang karib dengannya di dalam Tuhan, melakukan satu dosa yang tidak mendatangkan maut, dia harus berdoa bagi orang itu. Kata “berdoa” di sini tentunya doa yang dipanjatkan ketika kita berada dalam persekutuan dengan Allah.

Tidak diragukan, “hendaklah ia berdoa” mengacu kepada orang yang melihat saudaranya melakukan satu dosa yang tidak mendatangkan maut. Tetapi kepada siapa “dia akan memberikan hayat” mengacu? Ada satu masalah dengan “dia” yang kedua dalam ayat ini. Beberapa terjemahan menghurufbesarkan “dia” yang kedua dan dengan demikian diacukan kepada Tuhan. Sesungguhnya, dalam kedua kasus itu “dia” mengacu kepada orang yang sama, yaitu kepada orang yang melihat saudaranya berdosa dan yang berdoa bagi dia.

Subyeknya “akan memberikan hayat” adalah subyek dari predikat pertama “hendaklah ia berdoa”. Ini menunjukkan bahwa orang yang berdoa itu akan memberikan hayat kepada orang yang dia doakan. Ini tidak berarti orang yang berdoa itu memiliki hayat dalam dirinya sendiri dan dapat memberikan hayat kepada orang lain. Hal ini berarti orang yang berdoa itu, yang tinggal dalam Tuhan, yang bersatu dengan Tuhan, dan yang berdoa dalam satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17), menjadi sarana yang dengannya Roh pemberi hayat Allah dapat memberikan hayat kepada orang yang dia doakan. Ini adalah perkara penyaluran hayat dalam persekutuan hayat ilahi. Untuk menjadi orang yang dapat memberikan hayat kepada orang lain, kita harus tinggal dalam hayat ilahi, dan berjalan, hidup, berperilaku dalam hayat ilahi. Dalam Yakobus 5:14-16 ada doa untuk kesembuhan; di sini ada doa untuk menyalurkan hayat.

Butir yang penting di sini adalah jika kita ingin berdoa bagi seorang saudara menurut apa yang dilukiskan dalam ayat 16, kita perlu bersatu dengan Tuhan. Kita harus tinggal di dalam Tuhan dan berdoa di dalam satu roh dengan Dia. Karena kita bersatu dengan Tuhan, kita dapat menjadi sarana, saluran, yang melaluinya Roh pemberi hayat Allah dapat menyalurkan hayat kepada orang yang kita doakan. Pemberian hayat ini terjadi dalam persekutuan hayat ilahi.

Tidak diragukan, “hayat” dalam ayat 16 mengacu kepada hayat rohani yang disalurkan melalui doa seseorang ke dalam orang yang didoakan. Namun, menurut konteksnya, hayat rohani ini juga bisa menyelamatkan tubuh jasmani orang yang didoakan dari bahaya kematian yang diderita akibat perbuatan dosanya (lihat Yak. 5:15).

DOSA YANG MENDATANGKAN MAUT

Mengenai “dosa yang mendatangkan maut”, guru-guru Alitab memiliki berbagai penafsiran. Ada yang mengatakan bahwa ini mengacu kepada dosa antikristus yang menyangkal Yesus adalah Kristus (2:22), dosa ini membuat mereka selamanya dalam kematian. Tetapi, menurut konteks ayat ini, dosa yang mendatangkan maut berhubungan dengan seorang saudara yang berdosa, bukan antikristus atau orang yang tidak percaya. Karena bagian ini, 1Yohanes 5:14-17, berhubungan dengan doa dalam persekutuan hayat kekal yang dibahas dalam 1Yohanes 1:3-2:11, maka apa saja yang dibahasnya pasti berhubungan dengan perkara persekutuan hayat ilahi. Dalam persekutuan hayat ilahi, ada penanggulangan pemerintahan Allah berdasarkan keadaan rohani setiap anakNya. Dalam penanggulangan pemerintahan Allah, beberapa anakNya mungkin ditentukan untuk mengalami kematian jasmani dalam zaman ini karena suatu dosa, dan yang lain mungkin ditentukan untuk mengalami kematian jasmani karena dosa yang lain. Keadaannya sama seperti keadaan yang dialami oleh Ananias dan istrinya, Safira, yang ditanggulangi dengan kematian jasmani karena mereka men-dustai Roh Kudus (Kis. 5:1-11). Situasinya juga seperti keadaan kaum beriman Korintus yang ditanggulangi dengan penghakiman yang sama karena mereka tidak menghormati Tubuh (1Kor. 11:29-30). Ini dilambangkan oleh penanggulangan Allah terhadap bani Israel di padang gurun (1Kor. 10:5-11). Semua orang Israel, selain Kaleb dan Yosua, dihakimi oleh Allah dengan kematian jasmani karena dosa tertentu. Penanggulangan pemerintahan Allah sangat serius. Miryam, Harun, dan bahkan Musa tidak terhindar dari penanggulangan semacam ini yang menimpa mereka karena suatu kegagalan mereka (Bil.12:1-15; 20:1, 12, 22-29; Ul. 1:37; 3:26-27; 32:48-52). Penghukuman penanggulangan pemerintahan Allah terhadap anak-anakNya sama sekali tidak berhubungan dengan kebinasaan kekal; ini adalah penanggulangan sezaman berdasarkan pemerintahan ilahi, penanggulangan yang berhubungan dengan persekutuan kita dengan Allah dan dengan satu sama lain. Dapat tidaknya suatu dosa mendatangkan maut tergantung pada penghakiman Allah berdasarkan kedudukan dan keadaan kaum beriman yang melakukan dosa itu dalam rumah Allah. Bagaimanapun, berbuat dosa adalah suatu perkara yang serius bagi anak-anak Allah. Allah mungkin menghakiminya dengan kematian jasmani dalam zaman ini! Rasul tidak mengatakan bahwa kita seharusnya mengajukan permohonan mengenai dosa yang mendatangkan maut.

Dalam ayat 17 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” Setiap kesalahan, setiap hal yang tidak adil atau tidak benar, adalah dosa.

Kita telah menjelaskan bahwa dalam penanggulangan pemerintahan Allah, bagi beberapa orang beriman suatu dosa mungkin mendatangkan maut. Tetapi untuk orang beriman yang lain dosa yang sama mungkin tidak mendatangkan maut. Dalam ayat 16 Yohanes mengatakan, “Ada dosa yang mendatangkan maut,” dan dalam ayat 17 dia mengatakan, “Ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” Selanjutnya, Yohanes seolah-olah menyiratkan dalam ayat 16 bahwa orang yang berdoa dapat mengetahui seorang saudara melakukan dosa yang mendatangkan maut atau tidak, karena kita hanya memohon untuk dosa yang tidak mendatangkan maut. Ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting tentang bagaimana kita dapat mengetahui suatu dosa itu mendatangkan maut atau tidak. Ini adalah satu perkara yang dalam, dan kita akan membahasnya dalam beberapa perincian dalam berita berikutnya.