← Daftar isi Wahyu (3) · bab 1/18

PELACUR BESAR YANG DUDUK DI ATAS SEEKOR BINATANG YANG MERAH TUA (1)

Dalam berita ini kita sampai pada Kitab Wahyu 17, yang mencantumkan seorang perempuan duduk di atas binatang yang berwarna merah ungu (tua) (ayat 3). Betapa penting kita memiliki pemahaman yang jelas terhadap apa yang diwahyukan di sini.

Salah satu dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan berkata kepada Rasul Yohanes, katanya, “Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya” (17:1). Dalam ayat 3 Rasul Yohanes berkata, “Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu (tua), yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.” Ayat 1 membicarakan tentang pelacur besar, sedang ayat 3 membicarakan tentang seorang perempuan. Perempuan ini adalah pelacur besar yang duduk di atas seekor binatang yang merah tua, ia mempunyai kekuatan dan kuasa. Binatang yang disebut di sini, sama seperti yang digambarkan dalam pasal 13, mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Semua peneliti Alkitab sependapat bahwa binatang di sini ditujukan kepada Kekaisaran Romawi dan Antikristus, kaisar terakhir dari Kekaisaran Romawi yang terpulih. Na-mun, ada perdebatan mengenai identitas perempuan itu, si pelacur besar.

I. PELACUR BESAR

Siapakah pelacur besar yang duduk di tempat yang banyak airnya itu? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita perlu membicarakan sedikit tentang perempuan itu. Menurut ayat 18, perempuan itu adalah kota besar, Kota Roma, yang dibangun di atas tujuh gunung yang dilambangkan oleh ketujuh kepala binatang itu (ayat 9). Perempuan itu adalah Roma, maka pelacur itu bukanlah Roma, karena binatang itu akhirnya akan membenci pelacur itu, menjadikannya sunyi dan membakarnya dengan api (ayat 16). Antikristus, kaisar terakhir dari Kekaisaran Romawi, sudah tentu tidak akan membakar ibu kotanya sendiri. Karena itu, yang dibakar oleh binatang itu pasti bukan kota Roma, melainkan sesuatu yang lain. Sekarang perlu kita pertanyakan hal ini: Menurut Alkitab dan menurut sejarah dunia, siapakah pelacur yang menunggangi Kekaisaran Romawi itu? Siapakah yang berhubungan erat sekali dengan negara Roma? Pelacur itu akrab sekali dengan kota Roma sehingga keduanya hampir-hampir adalah satu. Dalam ayat 1, malaikat itu menyebutnya pelacur, sedang dalam ayat 18, ia menyebutnya perempuan. Sejarah menun-jukkan hanya ada satu figur yang sepadan dengan lukisan perempuan dalam pasal ini, dan figur itu adalah aliran ke-kristenan tertentu (yang dilambangkan oleh gereja di Tiatira. Red.). Seorang pelacur tidak memiliki suami. Di sini me-nunjukkan bahwa Allah tidak pernah mengakui Ia mempu-nyai sangkutpaut apa pun dengan gereja itu.

Dalam berita ke-13 saya memberikan kata-kata yang keras terhadap gereja itu berdasarkan pasal ini. Jika pe-rempuan dalam Wahyu 17 bukan gereja itu, lalu siapakah dia? Menurut sejarah, hanya gereja itulah yang cocok de-ngan gambaran perempuan dalam pasal ini.

Tahun 1960-an saya pergi ke Roma dan tinggal di sana beberapa hari, khusus untuk meninjau tempat itu. Untuk memperoleh gambaran yang lengkap, saya berkeliling sampai delapan kali. Semakin melihat, saya semakin yakin bahwa gereja itulah yang dimaksud dengan pelacur besar dalam Wahyu 17. Wahyu 17:4 mengatakan, “Perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi.” Warna merah itu justru dominan dalam gereja itu. Para pemimpinnya, misalnya, mengenakan jubah yang berwarna merah. Mendengar kata-kata ini, mungkin banyak orang yang berada di dalamnya merasa tersinggung dan tidak percaya. Boleh jadi mereka akan bertanya, “Bagaimana Anda bisa menyebut kami pelacur besar? Bukankah kami menyembah Allah dan percaya kepada Yesus? Bukankah kami juga memiliki Alkitab?” Jawabannya terletak pada ayat 4 pasal ini.

Perhatikan, ayat 4 mengatakan bahwa tangan perem-puan itu memegang “suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya”. Dalam perlambangan, emas menunjukkan sifat ilahi. Perempuan itu disebut pelacur besar, namun ia memegang cawan emas yang menunjukkan sifat ilahi. Emas pada cawan itu hanya di luarnya saja, isinya tidaklah demikian. Dari luar, kelihatannya bersifat ilahi, tetapi di bagian dalamnya penuh dengan segala kekejian dan kenajisan. Meskipun gereja itu memiliki beberapa perkara kudus, namun di dalamnya penuh dengan perkara yang najis. Sebagai contoh, penyembahan terhadap Maria. Sesungguhnya Maria yang mereka sembah itu adalah dewi Venus. Dalam buku “The Great Prophecies” (Nu-buat-nubuat Besar), G.H.Pember menunjukkan bahwa Budha, dengan nama Santo Yosafat, telah masuk ke dalam gereja tersebut. Dalam catatan gereja ini ada satu orang suci (santo) yang bernama Yosafat. Biografi orang ini, sesungguhnya adalah biografi dari Budha. Agama Babilon masuk ke dalam agama Budha, dan agama Budha yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari agama Babilon ini justru telah merembes ke dalam gereja tersebut. Baiklah sekarang kita baca terjemahan paragraf yang bersangkutan dari The Great Prophecies (halaman 104) karya Pember:

Tidak sampai seabad setelah kematian Belsyazar . . . suatu kepercayaan baru menyebar ke India, yaitu agama Budha. Agama ini sebenarnya adalah agama Babilon dengan sedikit perubahan. . . Budha sendiri sesungguhnya adalah salah satu orang suci (santo) dalam kalender . . . dengan nama Santo Yosafat. Kisah tentang Yosafat dan Barlam, yang mula-mula muncul dalam tulisan Yohanes (seorang theolog pada awal abad ke-8) dari Damaskus, dan menjadi sangat populer pada abad pertengahan; kini telah terbukti dengan pasti bahwa itu adalah kisah dari Budha sendiri. Jadi, kisah Budha diserap masuk ke dalam aliran . . . Inilah salah satu contoh asimilasi pemujaan berhala ke dalam gereja . . .

Contoh lainnya adalah hari Natal. Hari Natal merupakan satu penghujatan terhadap Kristus. Orang Kristen yang berhati nurani murni seharusnya mutlak terlepas dari perkara ini. Buku “The Two Babylons” (Dua Babilon) membuktikan bahwa hari Natal itu berasal dari pemujaan berhala di Eropa. Berabad-abad sebelum era kekristenan, setiap tanggal 25 Desember, para pemuja berhala di Eropa merayakan hari kelahiran matahari. Ketika Konstantin menerima kekristenan, ia mendorong warga Roma untuk menjadi orang-orang Kristen, dan bahkan memberi hadiah kepada orang-orang yang mau dibaptis. Ribuan orang yang tidak tahu menahu tentang Kristus telah dibaptis dan dimasukkan ke dalam “agama Kristen” itu, membawa serta adat istiadat penyembahan berhala mereka. Kemudian, nama Kristus dikaitkan kepada hari kelahiran dewa matahari yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Dalam prinsip-nya, perayaan Paskah pun sama. Meskipun sebagian orang Kristen di wilayah Orange menyebut kita bidat, tetapi mereka sendiri masih mengadakan perayaan Natal milik berhala itu. Satu hal yang pasti, selama tiga setengah tahun kesusahan besar, semua orang Kristen akan meninggalkan segala perkara seperti hari Natal, Paskah, penyembahan terhadap Maria, dan semua aliran berhala.

Dalam berita ke-48 saya telah mempersekutukan keyakinan saya bahwa Amerika Serikat adalah negara burung nasar, dan dalam tahun-tahun mendatang gereja-gereja lokal akan memberikan pengaruh yang positif di antara umat Kristen. Bahkan saya yakin, bahwa pemulihan Tuhan akan menyebar ke kota-kota utama di seluruh dunia. Pada tahun 1976, di Eropa telah terdapat beberapa gereja lokal, dan di Brasil sedikitnya telah ada tujuh belas gereja lokal. Selain itu, ada pula gereja-gereja lokal di Ghana, Nigeria, Australia, Selandia Baru, dan banyak pula di negara-negara di Timur Jauh, termasuk Taiwan, Hongkong, Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Korea, Jepang dan Filipina. Pemulihan Tuhan terus menyebar luas. Di kota-kota besar telah berdiri gereja-gereja lokal sebagai satu kesaksian, baik terhadap kaum beriman maupun terhadap orang-orang yang tidak percaya. Kita harus meniup sangkakala kita dan mempersaksikan Kristus dan Tubuh-Nya. Akhirnya, seluruh umat Kristen di bumi akan terpengaruh. Sekarang ini, memang sebagian orang menentang kita, menyerang kita dan melawan kita. Tetapi suatu saat, setiap mulut akan bungkam, karena semua yang kita beritakan telah di-genapi. Para pemenang akan diangkat, Antikristus akan muncul. Selanjutnya, gereja yang murtad akan dibakar dan dibinasakan sama sekali. Ketika Antikristus dan kesepuluh tanduk memusnahkan gereja itu, menurut pendapat Anda, apakah orang-orang dalam aliran tersebut masih akan menghadiri katedral mereka? Tentu tidak! Saat itu, banyak orang Kristen sejati di gereja itu akan berpaling ke jalan pemulihan Tuhan.

Saya sungguh percaya bahwa Tuhan sedang menggunakan pemulihan-Nya untuk menghasilkan buah bungar yang hidup. Inilah fungsi pertama dari pemulihan Tuhan. Setelah pengangkatan buah bungar, gereja-gereja lokal akan dipakai oleh Tuhan untuk membantu semua orang Kristen yang masih tertinggal. Inilah fungsi kedua dari pemulihan Tuhan. Selama kesusahan besar, orang-orang Kristen akan memiliki dan pergi ke tempat yang tepat. Hari Natal, Paskah dan semua perkara tradisional dari kekristenan akan di-buang. Saat itu tidak akan ada perbantahan lagi, semua to-koh pemecah belah dari putri-putri pelacur besar akan di-buang, dan Tuhan mutlak akan menyatakan jalan gereja-Nya.

Memang, tidak seorang pun bisa menyangkal adanya sesuatu yang riil di dalam gereja tersebut. Ia memegang cawan emas; ia dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara (ayat 4), bahan-bahan yang sama dengan bahan pembangun Yerusalem Baru. Penampilan luar dari pelacur besar itu dengan Yerusalem Baru persis sama; tetapi di bagian dalamnya terdapat perbedaan yang sangat besar. Bagian dalam pelacur itu penuh dengan berbagai kekejian, kenajisan, dan percabulan rohani. Itulah situasi sesungguhnya, kita perlu memiliki daya pandang tembus agar kita bisa nampak keadaan ini. Ini bukan perkara kecil. Oh, betapa kita perlu memiliki penampakan yang jelas!

Semakin merenungkan perkara ini bersama Tuhan, saya semakin berbeban meniup sangkakala agar pemulihan Tuhan dengan hidup gereja yang normal bisa diperluas sampai ke seluruh pelosok bumi. Di setiap kota besar di seluruh bumi, perlu ada kaki dian yang bersinar menerangi malam yang gelap ini. Jika bukan hari ini, maka sedikit dikitnya pada tahun-tahun kesusahan besar, setiap orang yang mengasihi Tuhan dengan hati yang murni dan yang menuntut Dia dengan hati yang tulus akan nampak terang ini. Pada saat itu kaki dian akan bersinar dengan terangnya di setiap kota besar. Pengangkatan terhadap buah bungar akan membuat gereja-gereja lokal bercahaya lebih cemerlang daripada hari ini. Misalkan, ada lima puluh lima saudara-saudari di gereja di Anaheim telah diangkat lebih dulu. Sudah tentu saudara-saudari lainnya akan merasa terdorong untuk giat menuntut Tuhan dengan sekuat tenaga. Hal demikian akan terjadi di seluruh dunia. Bila orang-orang Kristen mulai melihat penggenapan nubuat-nubuat ini, mereka pasti tidak mau lagi memusingkan soal perpecahan, tradisi-tradisi agama, ataupun semua perkara kedosaan dan keduniawian. Sebaliknya mereka akan melarikan diri ke dalam hidup gereja yang benar dan murni. Saya sangat yakin hal ini akan terjadi.

Kita di sini tidak membicarakan hal-hal yang tidak bermakna, kita membahas hal-hal yang sangat penting un-tuk zaman mendatang. Kita tidak mempedulikan perdebatan atau tentangan yang dilakukan oleh orang lain. Semakin mereka menyanggah dan menentang, ministri kita akan semakin dikukuhkan. Sering kali, setelah membahas sesuatu yang bersifat mengecam kekristenan dalam suatu pemberitaan, saya merasa heran mengapa saya demikian keras, kemudian saya putuskan untuk bersikap lunak sedikit. Namun, apa yang saya katakan bukanlah keputusan saya. Hal itu tidak tergantung pada saya, melainkan tergantung pada Roh yang berbicara itu. Jika dalam pemberitaan itu saya tidak berbicara dengan berani tentang kekristenan hari ini, di dalam saya terasa tidak damai, dan saya kehilangan pengurapan minyak. Jika saya tidak mengutarakannya, ministri saya akan melemah. Jika saya mengutarakannya, tentangan akan muncul, tetapi tentangan-tentangan itu malah membuat saya menjadi semakin teguh. Semua tindakan dan reaksi dari para penentang itu sesungguhnya telah menyingkapkan diri mereka sendiri. Saya berbeban semoga kita semua diterangi, bisa menembus semua tabir yang ada, dan masuk ke dalam ruang dalam untuk melihat keadaan sebenarnya dari kekristenan hari ini.

Ini bukan masalah doktrin Trinitas ataupun tentang pengajaran mengenai gereja lokal, melainkan mutlak per-kara Babel. Menyebut seorang gembala sebagai “Yang ter-hormat” — ini berasal dari Babel. Mendirikan pohon Natal dan menghormati Sinterklas — berasal dari Babel. Menye-but diri Anda dengan nama denominasi — berasal dari Babel. Semua nama denominasi merupakan faktor-faktor pemecah-belah dan pengacau dari Babel. Ketika orang-orang Kristen melihat kehancuran pelacur besar di tangan Antikristus, mereka akan diyakinkan tentang gereja. Mereka akan nam-pak apakah gereja itu dan di manakah gereja. Mereka akan sadar bahwa gereja sama sekali tidak bersangkutpaut dengan segala yang berbau Babel. Setiap kelompok yang ma-sih melaksanakan perkara-perkara Babel atau memegang perkara-perkara itu bukanlah gereja yang murni.

Kita harus berhati-hati terhadap perpecahan, karena perpecahan merupakan bentuk lain dari agama Babel. Di Babel, yang berarti kacau-balau, bahasa umat manusia dikacaukan dan dicampuradukkan. Babel adalah istilah Ibrani untuk Babilon. Segala perpecahan menyebabkan kekacauan, dan kekacauan adalah pernyataan dari agama Babilon. Hari ini, ada ratusan bahkan ribuan kelompok be-bas. Mereka itu ada di mana-mana. tetapi yang mereka nya-takan adalah kekacauan dan perpecahan. Itulah Babilon.

Pada tahun 1957, seorang saudara yang terkasih yang dipandang rohani dan pandai berkhotbah, datang ke Tai-wan. Hasil kunjungannya, beberapa orang muda, yang semuanya pernah di bawah bimbingan saya, terpengaruh se-hingga hanya memperhatikan kerohanian, tidak lagi mem-perhatikan gereja. Akhirnya, mereka sendiri berkali-kali terpecah-belah, dan hasilnya adalah kekacauan milik Babilon.

Di Amerika Serikat, ada beberapa orang yang telah tinggal sejangka waktu di dalam pemulihan Tuhan dan te-lah belajar menempuh hidup gereja. Namun kemudian me-reka keluar dan menempuh jalan mereka sendiri dengan bekerja sendiri-sendiri. Itu juga menyebabkan perpecahan yang mendatangkan kekacauan milik Babilon. Hari ini ada sejumlah orang yang membaca buku-buku Saudara Watch-man Nee, lalu melaksanakan jalan gereja lokal menurut pengertian mereka. Jika mereka sungguh-sungguh terhadap Tuhan untuk pemulihan keesaan yang sejati, mereka tentu mau bersekutu dengan kita. Namun, mereka menolak ber-sekutu dengan orang-orang yang sudah lebih dulu ada di gereja lokal. Keadaan itu juga menghasilkan kekacauan mi-lik Babilon.

Ketika pekerjaan pemulihan Tuhan dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1962, saya khusus menekankan masa-lah gereja lokal. Sebagian orang mengingatkan saya untuk tidak membicarakan gereja lokal lagi, karena kalau tidak, banyak orang akan tersinggung. Dengan tegas saya menolak peringatan mereka. Saya katakan kepada mereka bahwa kita di sini adalah untuk pemulihan gereja lokal. Tidak sampai sepuluh tahun kemudian, istilah “gereja lokal” telah menjadi sesuatu yang populer di kalangan kekristenan. Istilah ini bahkan dipakai oleh beberapa pengkhotbah pada beberapa pemancar radio Kristen. Banyak sekali, termasuk pendeta-pendeta dari beberapa denominasi, mengatakan bahwa mereka adalah gereja lokal. Kekacauan ini merupakan bentuk lain dari agama Babilon.

Bila saya memperhatikan situasi tertentu, saya mungkin tidak berkata apa-apa kepada orang lain, tetapi saya berkata kepada diri sendiri, “Itu palsu. Itu bukan yang sejati.” Jadi, sekte-sekte, denominasi-denominasi atau kelompok-kelompok bebas yang terus terpecah dan kacau balau itu, tidak mungkin bisa mempersiapkan mempelai perempuan. Untuk mempersiapkan mempelai perempuan, Tuhan harus memulihkan hidup gereja yang sejati, yaitu hidup gereja yang bebas dari segala perpecahan, kekacauan, dan segala perkara milik Babilon.

A. Namanya

Dalam ayat 5 kita nampak nama pelacur besar, “Suatu rahasia, Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Sebutan “rahasia” di sini menunjukkan bahwa Babel besar dalam pasal ini bukanlah Babel yang materi dalam pasal 18, melainkan Babel yang agamawi. Babel yang agamawi, yang adalah gereja yang murtad, benar-benar misterius dalam apa adanya, apa yang dipraktekkannya dan apa yang diajarkannya.

B. Pelacur Besar Itu Adalah Ibu

dari Wanita-wanita Pelacur dan Kekejian Bumi

1. Wanita-wanita Pelacur

Wanita-wanita pelacur adalah aliran-aliran yang kacau dan terpecah-belah dalam kekristenan, juga ajaran-ajaran, praktek-praktek, dan tradisi-tradisi dari gereja yang murtad itu. Karena “ibu dari wanita-wanita pelacur” adalah gereja yang murtad, maka pelacur-pelacur, putri-putrinya, tentu adalah kelompok-kelompok lainnya yang ikut meme-gang pengajaran, berbagai praktek, dan tradisi gereja itu. Hidup gereja yang murni tidak tercemari dengan segala yang jahat yang berasal dari gereja yang murtad. Kita se-mua tahu, apa yang disebut dengan gerakan kharismatik baru telah masuk ke dalam gereja yang murtad. Gerakan itu bahkan telah dicampuradukkan dengan penyembahan terhadap Maria dan Misa kurban. Meskipun cawan itu dari emas, namun orang banyak meminum berbagai kekejian. Bukan cawannya, melainkan isi cawan itulah yang masuk ke dalam mereka. Jika bukan untuk campuran yang jahat ini, pemimpin tertinggi gereja itu pasti tidak akan mem-biarkan gerakan kharismatik baru itu memasuki gerejanya.

Setiap denominasi perlu diperingatkan dan diuji, ap-kah mereka memiliki sesuatu milik pelacur besar itu. Ada-nya pohon Natal di rumah Anda, menyatakan bahwa Anda masih melakukan sesuatu milik pelacur besar. Anda sulit menemukan adanya satu denominasi yang tidak terpenga-ruh oleh pelacur besar itu. Mungkin hanya di gereja lokallah Anda bisa menemukan tempat yang bebas dari pelacur itu. Jika ada kelompok yang masih memegang doktrin-doktrin, praktek-praktek, dan berbagai tradisi gereja itu, maka kelompok itu adalah putri dari gereja itu.

Sebagian orang merasa perkataan di atas itu terlalu keras. Mungkin Anda berkata, “Bukankah orang-orang di denominasi dan di kelompok bebas juga percaya kepada Tuhan dan mengasihi Dia? Bukankah mereka juga telah dilahirkan kembali? Bukankah mereka memiliki hayat ilahi? Bagaimana Anda mengatakan mereka adalah putri pelacur besar?” Madame Guyon, seorang saudari yang berbobot dalam hayat, namun masih menyembah patung Maria. Ia telah terkena racun gereja itu. Tahun 1930-an, kami menerjemahkan sebagian besar tulisan-tulisan Madame Guyon yang penting. Sewaktu saya menemukan dia masih menyembah patung Maria, saya memberi tahu para saudara agar mencantumkan hal itu ke dalam terjemahan bukunya, karena kalau tidak, saudara saudari akan menganggap ia seluruhnya benar. Di sini kita nampak, bahkan ia telah dibuat kabur oleh gereja itu.

Kita boleh menggunakan bau bawang putih sebagai contoh. Jika kita makan bawang putih setiap hari, indera penciuman kita akhirnya akan tumpul. Jika seseorang yang mempunyai penciuman yang baik masuk ke tengah-tengah orang pemakan bawang, ia akan segera mencium bau bawang dan tidak akan tahan terhadapnya. Namun, si pemakan bawang sendiri tidak sadar akan bau yang tidak me-nyenangkan itu. Madame Guyon masih bisa menyembah patung Maria karena ia dilahirkan dalam “kamar bawang” gereja itu.

Alasan saya mengatakan kelompok-kelompok lain itu adalah putri-putri pelacur besar adalah adanya berhalaberhala di antara mereka. Mungkin ada yang menyanggah dan berkata bahwa mereka tidak memiliki berhala. Namun adanya nama denominasi itu sendiri adalah berhala. Milik siapakah Anda? Milik tokoh-tokoh tertentu atau milik Kristus? Tidakkah cukup Anda menyebut diri Anda adalah “orang Kristen”? Mengapa Anda harus mengembel-embelinya dengan nama denominasi? Nama-nama berhala itu merupakan kekejian.

Prinsip pengaturan Allah adalah satu gereja untuk satu Kristus, sama seperti seorang istri untuk seorang suami. Dengan perpecahan yang mereka lakukan, kebanyakan orang Kristen hari ini telah melanggar prinsip pengaturan ini. Sebagai gantinya, mereka melakukan persundalan, yaitu kekacauan. Siapa saja yang melanggar prinsip satu suami untuk satu istri telah melakukan persundalan. Di mana pun kita berada, kita harus memelihara prinsip satu istri untuk satu suami, satu gereja untuk satu Kristus.

Setiap perpecahan melanggar prinsip pengaturan Allah. Menyebabkan perpecahan di antara umat Kristen adalah melakukan persundalan. Setiap orang yang melakukan per-pecahan tidak mempedulikan prinsip pengaturan Allah. Orang-orang yang memecah-belah tidak memperhatikan perkara satu Tubuh, satu gereja; mereka tidak memperhatikan satu gereja lokal untuk satu kota. Mereka seperti satu perempuan yang tidak mau hanya mempunyai satu suami. Setelah ia bosan dengan satu laki-laki, ia akan berpaling ke laki-laki lainnya.

Kita perlu melihat perbedaan antara perzinaan dengan persundalan. Jika seorang istri melanggar hukum perkawinan antara dirinya dengan suaminya, ia berbuat zina.

Tetapi seorang perempuan yang tidak memiliki suami yang sah, lalu melanggar prinsip pengaturan Allah, berarti ia bersundal. Pelacur besar itu adalah seorang wanita tuna susila; ia tidak bersuami. Situasi di antara kebanyakan orang Kristen hari ini penuh dengan persundalan. Banyak orang seolah-olah berkata, “Jika aku sudah tidak menyukai sidang-sidang di sini, aku akan pergi ke tempat lain. Jika aku bosan dengannya, aku akan membentuk satu persekutuan sendiri. Kemudian, jika aku tidak menyukai lagi persekutuan yang telah kuadakan itu, aku akan mendirikan yang lainnya.” Itulah persundalan rohani.

Jika Anda telah nampak visi, Anda tidak akan berani memiliki nama khusus apa pun, selain nama Kristus. Se-lain itu, Anda juga tidak akan berani melakukan perpecahan, karena Suami kita hanya satu, dan kita, mempelai perempuan-Nya, juga hanya satu. Di setiap kota seharus-nya hanya ada satu gereja. Ke mana pun saya pergi, gereja adalah satu. Kalau praktek kita bukan demikian, berarti kita bersundal. Hari ini, banyak orang Kristen melakukan persundalan. Sundal besar dalam Wahyu 17 adalah ibu segala pelacur, kekacauan dan kekejian.

Jika Anda masih heran bagaimana orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan bisa bersundal, saya akan menunjukkan kembali kepada Anda gambaran Madame Guyon, yang mempunyai hayat yang berbobot, namun masih dibuat kabur oleh “bawang putih” gereja itu. Bertindaklah bijaksana, tinggalkanlah “kamar bawang”, ting-gallah di udara segar dua puluh empat jam setiap hari. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan memiliki penciuman yang tajam. Saya telah menjauhkan diri dari semua “kamar bawang” lima puluh tahun lebih. Karena itulah penciuman rohani saya cukup tajam. Saya sungguh-sungguh tidak bisa bertoleransi terhadap segala perpecahan, karena itu segera tercium oleh saya sebagai bau persundalan.

Bagi sebagian orang, begitu dihadapkan pada masalah pembatasan satu gereja di satu kota, mungkin akan berka-ta, “Kami tidak memiliki keleluasaan untuk membebaskan diri dalam perhimpunan kalian. Kami ingin memiliki sidang atau perhimpunan di rumah, karena di rumahlah kami bisa bebas.” Itu adalah alasan licik dari roh pemecah belah. Roh pemeca belah adalah sumber persundalan dan perpecahan. Di antara umat Kristen seharusnya tidak ada perpecahan, karena kita adalah satu istri dari satu Suami, satu gereja di tiap lokal. Kita harus memelihara prinsip peng-aturan Allah. Sebagian orang yang mendengar bahwa kita adalah gereja, merasa tidak senang dan berkata, “Mengapa kalian mengatakan diri kalian adalah gereja, sedang kami bukan?” Mereka bukan gereja karena mereka adalah pelacur, perempuan yang mempunyai hubungan dengan banyak laki-laki lain, tetapi tidak dengan suami sendiri. Jika Kristus itu Suami Anda, mengapa Anda menyebut diri An-da denominasi tertentu? Jika nama Anda sungguh-sungguh Nyonya Smith, mengapa Anda menyebut diri Anda Nyonya Jones dan bahkan juga Nyonya Harris?

Gereja yang murtad itu adalah pelacur, dan semua putrinya adalah para pelacur. Seorang pelacur adalah pe-rempuan yang melakukan persundalan untuk mencari un-tung. Hari ini banyak kelompok kekristenan yang dibentuk berdasarkan keuntungan, kekuasaan, kedudukan, atau gelar manusia. Itu adalah pelacuran.

Perhatikanlah seluruh situasi kekristenan di bumi hari ini. Tuhan benar-benar memerlukan suatu pemulihan. Pe-mulihan ini akan menghasilkan buah bungar yang hidup bagi-Nya, dan selama tiga setengah tahun kesusahan besar, pemulihan Tuhan ini akan menjadi pertolongan bagi semua orang Kristen yang masih tinggal di bumi. Saya yakin semua gereja dalam pemulihan Tuhan akan memberikan kedua manfaat ini. Saatnya akan tiba, para pemenang akan diangkat dan Antikristus akan meniadakan agama Yahudi dan membinasakan gereja yang murtad itu. Semua orang Kristen yang masih tertinggal di bumi akan sadar. Mereka tidak akan lagi menghadiri misa-misa atau tempat-tempat bebas yang lain. Sebaliknya, mereka akan berkata, “Bertahun-tahun aku mendengar tentang gereja; sekarang aku harus pergi ke gereja yang sejati.” Meskipun Tuhan Yesus memiliki hati yang penuh kasih, namun akan kita lihat dalam berita berikutnya, Ia akan menggunakan Antikristus untuk memusnahkan pelacur besar, gereja yang murtad itu.

2. Kekejian-kekejian Di Bumi

Gereja yang murtad itu juga adalah ibu dari segala kekejian di bumi. Kekejian-kekejian itu adalah berhala-ber-hala (Ul. 7:25-26), yang memenuhi gereja itu. Berhala-berhala itu telah tercampur ke dalam apa yang disebut pela-yanan atau penyembahan terhadap Allah. Sewaktu mereka masuk ke “gedung ibadah” mereka, siapakah yang mereka sembah? Ada yang membeli lilin, lalu berdiri di depan ber-hala pilihan mereka. Dalam gereja itu juga ada tempat ber-jualan berhala, dan orang-orang bisa berdoa kepada berhala yang mereka pilih. Meskipun banyak yang berdoa kepada Maria, namun sesungguhnya dia bukanlah Maria — ia adalah Venus. “Gedung ibadah” mereka tidak ada bedanya dengan tempat berhala, bahkan kalau dibandingkan dengan tempat berhala di daratan China, berhala di “gedung ibadah” mereka lebih banyak. Memang dia adalah ibu dari segala kekejian.

C. Di Padang Gurun

Ketika Rasul Yohanes nampak pelacur besar, saat itu ia berada di dalam roh dan seorang malaikat membawanya ke padang gurun (17:3). Padang gurun adalah adalah se-buah tempat yang gersang dan sunyi. Itu berarti, gereja itu ada di tempat yang gersang, tiada mata air yang disediakan oleh Allah. Memang, gereja itu tidak akan menerima suplai air dari Allah. Untuk menunjukkan kepada Rasul Yohanes bahwa gereja yang murtad berada di tempat yang demikian gersang, malaikat itu membawanya ke padang gurun.

D. Duduk di Tempat yang Banyak Airnya

Ayat 1 mengatakan, pelacur besar itu duduk di tempat yang banyak airnya, sedang ayat 15 menunjukkan bahwa “semua air . . . di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan umat dan bahasa”. Hal ini tergenap oleh fakta sejarah mengenai ajaran gereja yang murtad yang memperalat bangsa-bangsa dan umat di seluruh dunia. Jumlah pengikut gereja itu adalah sekitar sepertiga dari seluruh penduduk bumi.

E. Melakukan Percabulan dengan Raja-raja di Bumi

Raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan pelacur besar itu. Ini berarti ia melakukan hubungan yang agama-wi dan penuh dosa dengan penguasa-penguasa di bumi. Pelanggaran gereja yang murtad bukanlah perzinaan, yaitu dosa karena tidak setia kepada pasangannya, melainkan percabulan, yakni dosa yang dilakukan oleh pelacur. Ini lebih berdosa daripada berzina. Percabulan gereja yang mur-tad terdiri atas hubungannya yang penuh dosa dengan raja-raja di bumi untuk keuntungannya, sama seperti halnya pelacur berbuat dosa demi keuntungan. Pelanggaran gereja yang murtad ialah percabulan rohani. Gereja itu terlibat sangat erat dengan politik dunia; raja-raja di bumi berbuat cabul langsung dengannya. Dalam pandangan Allah, ini adalah percabulan rohani.

F. Membuat Penghuni Bumi Minum dan

Mabuk Anggur Percabulannya

Pelacur besar ini telah membuat penghuni-penghuni bumi “telah mabuk oleh anggur percabulannya” (ayat 2). Anggur di sini mengacu kepada doktrin-doktrin bidah atas hubungan percabulan gereja yang murtad dengan setiap penguasa di bumi ini. Doktrin bidah tersebut seperti anggur, menyesatkan orang-orang yang masuk ke dalam agamanya. Itulah anggur percabulannya. Orang-orang yang ting-gal di bumi, secara tidak langsung telah dimabukkan oleh anggur tersebut.

Doktrin-doktrin bidat yang diajarkan oleh gereja itu laksana obat bius. Mereka memabukkan orang banyak, menjadikan mereka bodoh dan kehilangan perasaan. Saya pernah berbincang-bincang dengan beberapa orang di antara mereka, mereka benar-benar telah terbius. Semakin Anda berbicara dengan mereka, mereka semakin tidak mengerti. Itu menunjukkan bahwa mereka telah mabuk dengan anggur pelacur besar itu.

G. Mengenakan Kain Ungu dan Kain Kirmizi

Menurut ayat 4, perempuan ini “memakai kain ungu dan kain kirmizi”. Warna ungu menandakan kehormatan disertai kekuasaan (lihat Yoh. 19:2-3). Warna ungu adalah percampuran antara warna biru dengan warna merah; melambangkan percampuran benda surgawi dengan benda bumiah. Inilah penampilan gereja yang murtad itu. Perempuan itu juga memakai kain kirmizi, inilah warna yang mendominasi gereja itu, terutama tampak pada pakaian pimpinan-pimpinan yang bertopi merah dan berjubah merah.

H. Dihiasi dengan Emas,

Batu Permata dan Mutiara

Perempuan itu “dihiasi dengan emas, permata dan mu-tiara” (ayat 4). Emas, permata, dan mutiara adalah bahan-bahan yang dipergunakan untuk membangun Yerusalem Baru (21:18-19, 21). Tetapi perempuan itu, bukan sepenuh-nya dibangun dengan kokoh dengan benda-benda berharga seperti Yerusalem Baru; ia hanya memakai benda-benda berharga ini sebagai hiasan untuk memuliakan dirinya di luaran. Itulah muslihat untuk memperdaya manusia, juga adalah penampilan palsu pelacur itu.

I. Memegang Cawan Emas

Pelacur itu memegang “suatu cawan emas penuh de-ngan segala kekejian dan kenajisan percabulannya” (ayat 4). Dalam perlambangan, emas melambangkan sifat ilahi Allah. Sebab itu, cawan emas di sini menyatakan bahwa penampilan lahiriah gereja yang murtad benar-benar memiliki sesuatu yang berasal dari Allah, namun di dalamnya, “cawan emasnya” penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulannya, penuh dengan penyembahan berhala, praktek agama kafir, dan hal-hal setani dalam ibadah agamawi yang bidah.

J. Mabuk oleh Darah Orang-orang

Kudus dan Darah Saksi-saksi Yesus

Ayat 6 mengatakan, “Aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.” Ini menunjukkan bahwa gereja itu telah membunuh orang-orang kudus dan para saksi Yesus; orang-orang kudus yang dibunuhnya lebih banyak daripada yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi. Gereja yang murtad tidak membunuh orang-orang kudus secara langsung, melainkan secara tidak langsung melalui Kekaisaran Romawi. Karena itu, ia mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.

Orang-orang kudus adalah orang-orang yang dipisahkan, dikuduskan bagi Allah, dan yang sampai mati pun menempuh kehidupan yang kudus bagi Allah. Saksi-saksi adalah orang-orang yang menjadi kesaksian hidup bagi Tuhan Yesus, dan yang setia sampai mati. Saksi-saksi Yesus itu juga adalah orang-orang kudus; tetapi orang-orang kudus mungkin hanya menempuh kehidupan yang dipisahkan, dikuduskan, tidak mengikuti gereja yang murtad, namun tidak menampilkan diri untuk bersaksi menentang kemurtadan gereja, seperti yang dipersaksikan oleh Antipas (2:13). Perempuan itu mabuk dengan darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.

K. Secara Materi Merupakan Kota Besar

Malaikat memberi tahu Rasul Yohanes, “Perempuan yang telah kaulihat itu adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi” (ayat 18). Di satu pihak, pelacur pada ayat 16 mengacu kepada Babel agamawi, yang dilambangkan oleh gereja di Tiatira, sedangkan perempuan itu dalam ayat ini mengacu kepada Babel yang materi, dilam-bangkan oleh kota Roma, yang disebut “kota besar yang memerintah raja-raja di bumi”. Ketika Yohanes menulis kitab ini, Roma adalah kota yang memiliki kuasa kerajaan untuk memerintah raja-raja di bumi. Yang dibenci oleh Antikristus dan kesepuluh rajanya adalah pelacur ini, gereja di Tiatira, bukan perempuan, kota Roma, yang adalah basis pemerintahan mereka.