INJIL ALLAH
Injil Allah merupakan pokok pembicaraan dalam surat Roma (Rm. 1:1). Sudah menjadi kebiasaan setiap orang Kristen mengatakan ada empat kitab Injil, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Tetapi, Paulus juga menyebut surat yang dikirimnya kepada gereja di Roma sebagai Injil. Keempat Injil yang pertama dalam Perjanjian Baru mengisahkan Kristus dalam tubuh daging dan hidup di tengah-tengah murid-murid-Nya, sebelum kematian dan kebangkitan-Nya.
Masa antara setelah Dia berinkarnasi dan sebelum Dia mati dan bangkit, Ia ada di tengah-tengah murid-murid-Nya. Tetapi saat itu Dia belum tinggal di dalam mereka. Injil dalam surat Roma berkaitan dengan Kristus sebagai Roh, bukan Kristus di dalam tubuh daging.
Dalam Roma 8 dapat kita lihat Roh hayat yang diam di dalam kita itu tidak lain adalah Kristus sendiri. Kristus tinggal di dalam kita. Kristus dalam keempat kitab Injil hanya hidup di antara murid-murid-Nya; sedang Kristus dalam surat Roma adalah Kristus yang diam di dalam kita. Kristus dalam keempat kitab Injil adalah Kristus yang telah berinkarnasi, tetapi belum mati dan bangkit, ini berarti Dia adalah Kristus yang hidup di luar kita. Kristus dalam surat Roma adalah Kristus yang telah bangkit, ini berarti Dia adalah Kristus yang tinggal di dalam kita. Ini lebih subyektif dan lebih dalam daripada Kristus yang ada dalam keempat kitab Injil. Baiklah kita ingat satu hal ini: Injil dalam surat Roma mengenai Kristus sebagai Roh yang tinggal di dalam kita sesudah kebangkitan-Nya.
Jika kita hanya mengenal Injil mengenai Kristus seperti yang tercantum dalam keempat kitab Injil dalam Perjanjian Baru, itu berarti Injil kita terlalu obyektif. Kita perlu Injil yang kelima, yaitu surat Roma, yang mewahyukan Injil Kristus yang subyektif. Kristus bukan sekadar Kristus yang ada di dalam daging (setelah Dia berinkarnasi dan sebelum kebangkitan-Nya), yang hanya berada di tengah-tengah mu-rid-murid-Nya. Kristus kita lebih tinggi dan lebih subyektif. Dialah Roh hayat yang berdiam di dalam kita. Dia sangat subyektif. Walaupun Yohanes 14 - 15 mewahyukan bahwa Kristus akan tinggal di dalam kaum beriman, namun itu masih belum digenapi sebelum Ia bangkit dari kematian. Karena itu, surat Roma merupakan Injil Kristus setelah kebangkitan-Nya, yang menunjukkan juga bahwa Dia sekarang adalah Juruselamat yang subyektif di dalam kaum beriman-Nya. Jadi, Injil ini adalah Injil yang lebih dalam dan lebih subyektif.
I. DIJANJIKAN DALAM KITAB SUCI
Injil ini telah dijanjikan oleh Allah melalui nabi-nabi-Nya dalam Perjanjian Lama. Ini berarti Injil Allah bukan merupakan suatu hal kebetulan, tetapi memang telah direncanakan dan disediakan oleh Allah. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Injil ini telah direncanakan oleh Allah dalam kekekalan yang lampau. Sebelum dunia ini diciptakan, Allah telah merencanakan adanya Injil ini. Maka, berulang-ulang dalam kitab-kitab suci, dari Kejadian sampai Maleakhi, Allah mengatakan janji-Nya melalui nabi-nabi-Nya mengenai Injil Allah ini.
II. TENTANG KRISTUS
Injil Allah membahas Seseorang, yaitu Kristus. Sudah tentu hal pengampunan, keselamatan, dan lain-lain juga tercantum dalam Injil ini, tetapi bukan itu yang merupakan titik pusat pembicaraan kitab ini. Injil Allah membahas Persona Anak Allah, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Orang yang ajaib ini mempunyai dua sifat. Sifat ilahi dan sifat insani; sifat Allah dan sifat manusia.
A. DARI KETURUNAN DAUD
Pertama-tama, Paulus menyebut Kristus dari segi insani-Nya, bukan dari segi ilahi-Nya. Dikatakannya bahwa Dia yang “secara jasmani berasal dari keturunan Daud” (Rm. 1:3). Ini adalah sifat-Nya sebagai manusia, keinsanian-Nya.
B. SETELAH BANGKIT DARI KEMATIAN DISEBUT
ANAK ALLAH
Kemudian Paulus mengatakan, bahwa Ia “menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa” (Rm. 1:4). Di sini dengan jelas memperlihatkan keilahian Kristus. Tetapi mengapa keinsanian-Nya disebutkan lebih dulu daripada keilahian-Nya?
Paulus menyebut keinsanian Kristus terlebih dulu karena ia mengutamakan urutan kejadian Kristus. Pertama, Kristus melalui proses inkarnasi menjadi daging. Kedua, Ia menempuh proses kematian dan kebangkitan. Pada proses kedua inilah, yaitu setelah kebangkitan-Nya, Ia menjadi Anak Allah. Melalui dua proses ini Kristus berubah dalam dua keberadaan yang berbeda. Melalui inkarnasi, Ia menjadi daging, dan setelah melalui kematian dan kebangkitan, Ia menjadi Anak Allah. Dalam proses pertama, Ia membawa Allah ke dalam keinsanian; sedang dalam proses kedua, Ia membawa manusia ke dalam keallahan; Sebelum inkarnasi, Kristus, Persona ilahi ini memang sudah sebagai Anak Al-lah (Yoh. 1:18). Dia adalah Anak Allah sebelum berinkarnasi ke bumi. Bahkan dalam Roma 8:3 dikatakan bahwa Allah “mengutus Anak-Nya.” Jika Kristus sebelum berinkarnasi sudah sebagai Anak Allah, mengapa Ia masih perlu dinyatakan sebagai Anak Allah setelah kebangkitan-Nya? Ini disebabkan melalui inkarnasi, Ia telah mengenakan suatu unsur, yaitu daging, sifat insani. Di dalam daging ini, Ia tidak ada hubungannya dengan keilahian. Sebagai Persona ilahi, Kristus adalah Anak Allah sebelum berinkarnasi, tetapi bagian diri-Nya yang adalah Yesus dalam daging, ber-sifat insani, yang dilahirkan oleh Maria, bukanlah Anak Allah. Bagian itu adalah manusia. Melalui kebangkitan-Nya, sifat insani Kristus telah dikuduskan dan ditinggikan. Jadi, melalui kebangkitan-Nya Dia dinyatakan sebagai Anak Allah yang memiliki sifat insani. Maka, dalam pengertian ini, Alkitab mengatakan bahwa Ia dilahirkan sebagai Anak Allah di dalam kebangkitan-Nya (Kis. 13:33; Ibr. 1:5).
Mari kita mengambil benih bunga anyelir yang kecil sebagai contoh. Ketika benih ini ditanam ke dalam tanah, ia akan bertumbuh dan berbunga. Proses ini boleh kita sebut sebagai “pernyataannya”. Jika benih ini belum ditanam ke dalam tanah, meskipun kita menelitinya, kita mungkin tidak akan tahu jenis tanaman apakah benih ini. Namun setelah benih ini ditanam, tumbuh dan berbunga, barulah ternyata benih apakah itu. Bunganya adalah pernyataannya, sehingga setiap orang dapat mengatakan, “Inilah bunga anyelir.” Benih dan bunga itu, keduanya adalah bunga anyelir. Tetapi sebagai bunga yang mekar, ia sangat berbeda bentuknya dengan benih. Jika benih tetap sebagai benih, tidak berbunga, maka orang yang melihatnya sukar mengenalnya sebagai bunga anyelir. Tetapi setelah bertumbuh dan berbunga, ia dengan mudah dikenal oleh orang yang melihatnya.
Ketika Kristus hidup di dalam daging selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, Ia seumpama benih bunga anyelir itu. Meskipun Anak Allah ada di dalam-Nya, namun tidak seorang pun dapat mengenal-Nya dengan mudah. Melalui ditanam di dalam kematian-Nya, dan tumbuh di dalam kebangkitan-Nya, Ia mengeluarkan bunga. Melalui proses ini, Ia dinyatakan sebagai Anak Allah; melalui proses ini pula Ia meninggikan daging, sifat insani. Ia tidak menanggalkan daging-Nya, Ia tidak membuang keinsanian-Nya. Ia menguduskan, meninggikan, mengubah dan bahkan menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah di dalam keinsanian-Nya yang telah terubah ini dengan kuat kuasa ilahi. Sewaktu Ia sebagai Anak Allah sebelum inkarnasi, Ia tidak memiliki sifat insani. Setelah Ia bangkit, Ia adalah Anak Allah yang mengandung keinsanian yang ditinggikan, dikuduskan, dan diubah melalui kebangkitan. Sekarang Ia mengandung unsur insani dan ilahi. Ia adalah benih Daud dan Anak Allah. Ia adalah Persona Ajaib!
Kristus menjadi daging guna menggenapkan pekerjaan penebusan. Penebusan ini menuntut adanya darah. Sudah tentu sesuatu yang ilahi tidak memiliki darah, hanya ma-nusia yang memiliki darah. Meskipun demikian, penebusan tetap menuntut adanya darah, karena tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Karena itu Kristus menjadi daging untuk merampungkan karya penebusan. Tetapi, penebusan bukanlah tujuan Allah. Penebusan membuka jalan untuk memberikan hayat. Dalam Injil Yohanes, Kristus mula-mula diperkenalkan sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Anak Domba Allah itu adalah untuk pekerjaan penebusan. Selanjutnya Yohanes menyajikan Dia bersama Merpati yang memberi hayat (Yoh. 1: 32-33). Pertama-tama Kristus menggenapkan penebusan bagi kita, selanjutnya Ia menjadi hayat kita. Kristus men-jadi daging untuk merampungkan karya penebusan bagi kita, melalui kebangkitan-Nya Ia dinyatakan sebagai Anak Allah dan akhirnya menyalurkan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai hayat. Langkah yang pertama ialah untuk penebusan, dan langkah yang kedua untuk menyalurkan hayat. Sekarang Kristus yang kita miliki adalah Kristus yang telah dibangkitkan dan tinggal di dalam kita sebagai hayat kita. Kristus yang bangkit ini sebagai Anak Allah adalah hayat bagi kita. Siapa saja memiliki Anak Allah, memiliki hayat (1Yoh. 5:12).
Bagian depan dari surat Roma membicarakan penebusan yang digenapkan oleh Kristus di dalam daging. Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam rupa daging dosa dan menghukum dosa dalam daging. Bagian kedua dari surat Roma membicarakan pemberian hayat. Pertama-tama surat Roma mewahyukan Kristus sebagai Penebus di dalam daging, dan selanjutnya mewahyukan Kristus sebagai Roh Pemberi-hayat. Dalam Roma 8:2 kita temukan istilah “Roh hayat” (Tl.). Ini adalah Roh yang ber-huni di dalam kita. Roh yang berhuni di dalam kita ini adalah Roh Kristus, dan Roh Kristus ini sebenarnya adalah diri Kristus sendiri yang berhuni di dalam kita (Rm. 8:9-10).
Mengapa surat Roma berawal secara demikian? Setiap kitab dalam Alkitab mempunyai keistimewaannya masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Paulus memulai surat Roma secara demikian, sebab surat Roma mengandung satu tujuan yaitu seperti yang tercantum dalam 8:29-30. Tujuan ini adalah menghasilkan banyak anak Allah. Untuk menghasilkan banyak anak Allah, diperlukan penebusan, penyaluran hayat, dan hidup berdasarkan hayat ini. Sebagai manusia yang telah jatuh dan sebagai orang-orang dosa, kita memerlukan penebusan, hayat ilahi, dan kita perlu hidup berdasarkan hayat ilahi agar kita dapat dilahirkan kembali, diubah, dan dimuliakan sebagai anak-anak Allah. Akhirnya kita ternyata sempurna sebagai anak-anak Allah.
Tadinya Allah hanya memiliki seorang Anak, yakni Anak tunggal-Nya. Namun Allah tidak puas hanya mempunyai seorang Anak. Ia menginginkan banyak anak untuk dibawa ke dalam kemuliaan. Karena itu Allah memakai Anak tunggal-Nya sebagai model, pola, untuk memproduksi banyak anak. Mengertikah Anda, bahwa Kristus telah melalui proses untuk dinyatakan sebagai Anak Allah, dan bahwa kita pun harus melalui proses yang sama untuk juga dinyatakan sebagai anak-anak Allah? Sebermula, Kristus adalah Anak tunggal Allah. Pada suatu waktu, Anak Allah ini datang dan berinkarnasi ke dalam daging dengan nama Yesus. Anak Allah yang di dalam daging ini dinamai Yesus. Sesudah tiga puluh tiga setengah tahun, melalui kebangkitan, Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah. Saat ini, Allah mempunyai seorang Anak yang bersifat ilahi dan bersifat insani. Sebelum Anak Allah ini berinkarnasi, Ia hanya memiliki sifat ilahi; namun setelah Ia bangkit, Ia memiliki keduanya, yaitu sifat ilahi dan insani. Haleluya! Kini keinsanian juga berbagian dalam Anak Allah itu. Hari ini Anak Allah memiliki sifat ilahi dan sifat insani.
Lalu bagaimana dengan kita? Kita dilahirkan sebagai anak-anak manusia, tetapi kita telah dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah. Baik kita laki-laki maupun perempuan, kita semua adalah anak-anak (putra-putra Allah). Jika ditinjau dari sudut laki-laki dan perempuan, Allah tidak mempunyai anak perempuan. Walaupun Tuhan Yesus memiliki banyak saudara, Ia tidak memiliki saudara-saudara perempuan. Maka dalam hal ini, setiap saudari adalah saudara juga. Kita semua saudara juga anak-anak Allah. Kita adalah anak-anak Allah, sebab Roh Anak Allah ada di dalam kita (Gal. 4:6). Sebagaimana Anak Allah masuk ke dalam daging melalui inkarnasi, begitulah sekarang Roh Anak Allah masuk ke dalam kita yang bertubuh daging. Karena itu, setiap orang dari kita “sama” seperti Tuhan Yesus. Yesus adalah manusia dalam daging yang mengandung Anak Allah di dalam-Nya. Kita pun manusia daging yang mengandung Anak Allah di dalam kita. Bukankah Anda juga manusia daging yang mengandung Anak Allah di dalam Anda? Tentu! Tetapi kita tidak akan tinggal tetap seperti keadaan kita sekarang ini, bukan? Kita sedang menunggu dinyatakan. Oh, manusia daging ini akan dinyatakan setelah dikuduskan, diubah, dan dimuliakan. Haleluya! Manusia daging yang mengandung Anak Allah di dalamnya ini juga mengalami proses pengudusan, pengubahan, dan pemuliaan. Saatnya akan tiba, kita semua akan mengumumkan, “Kita dinyatakan sebagai anak-anak Allah demi kebangkitan!”
Jika Anda memberi tahu orang-orang di jalan bahwa Anda adalah anak Allah, niscaya mereka mengira Anda sudah gila. Ingatlah kembali bagaimana orang-orang memperlakukan Yesus ketika Dia menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah; mereka membunuh Dia. Tetapi justru melalui kematian dan kebangkitan, Ia dinyatakan sebagai Anak Allah. Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus tidak perlu lagi mengumumkan diri-Nya sebagai Anak Allah, karena Ia telah dinyatakan sebagai Anak Allah. Sekarang jika kita mengatakan kepada orang-orang bahwa kita ini anak-anak Allah, mereka akan menganggap bahwa pikiran kita sudah terganggu. Walaupun demikian, saatnya akan tiba, surat Roma menyatakan zaman itu sebagai manifestasi atau perwujudan kemuliaan anak-anak Allah di mana kita dinyatakan sebagai anak-anak Allah di dalam kemuliaan. Kesemuanya ini tidak memerlukan kita melakukan pengumuman, dengan sendirinya kita akan dinyatakan sebagai anak-anak Allah.
Roma 1:3-4 memberi tahu kita bahwa Yesus adalah prototipe. Sedang dalam Roma 8:29-30 terdapat banyak saudara sebagai produksi massal. Dalam berita ini kita hanya membahas prototipe. Pada prototipe ini terkandung Roh kekudusan, daging, dan penyataan sebagai Anak Allah. Puji Tuhan! Kita juga mempunyai Roh kekudusan yang berhuni di dalam kita, daging insani di lahir kita, dan kita akan dinyatakan sepenuhnya sebagai anak-anak Allah.
III. DIBERITAKAN OLEH ORANG-ORANG YANG DIUTUS
Sekarang kita perlu maju lebih jauh dan mengenal bagaimana Injil Allah diberitakan. Injil ini diberitakan oleh orang-orang yang diutus. Orang-orang yang diutus itu ada-lah para rasul (1:5) yang telah dipisahkan bagi tujuan ini. Bukan semua orang beriman adalah rasul, tetapi pada pe-ngertian yang tertentu, semua orang yang beriman diutus Tuhan untuk memberitakan Injil.
A. DALAM ROH
Injil ini diberitakan di dalam roh (Rm. 1:9 Tl.). Perhatikan, perkataan “roh” ini ditulis dengan huruf kecil, berarti bukan ditujukan kepada Roh Kudus. Semua orang Kristen percaya bahwa untuk memberitakan Injil kita perlu di dalam Roh Kudus. Namun, saya belum pernah mendengar orang berkata bahwa kita harus di dalam roh kita. Tetapi Paulus mengatakan bahwa kita perlu di dalam roh kita. Memberitakan Injil tergantung pada roh kita. Rasul Paulus mengatakan ia melayani Allah di dalam roh, dalam pemberitaan Injil Anak-Nya. Ketika kita memberitakan Injil, kita tidak sepatutnya memakai bermacam-macam variasi, kita harus memakai roh kita.
Mengapa hanya di dalam surat Roma saja Paulus mengatakan ia melayani Allah di dalam rohnya? Sebab dalam kitab ini ia sedang membantah orang-orang agamawi yang semuanya berada di dalam sesuatu yang di luar roh huruf, bentuk, maupun doktrin. Dalam surat Roma Paulus meminta agar apa saja yang kita lakukan terhadap Allah, haruslah kita lakukan di dalam roh. Dalam Roma 2:29 ia mengatakan, bahwa orang Yahudi sejati (umat Allah sejati) haruslah di dalam roh, dan sunat sejati bukan yang dilaku-kan pada lahiriah dalam daging, melainkan dalam roh. Dalam pasal 7:6 ia mengatakan, bahwa kita harus melayani Allah dalam kebaruan roh. Paulus menyebut roh insani kita sampai sebelas kali dalam surat Roma. Sebutan yang ter-akhir terdapat dalam pasal 12:11, yang mengatakan, kita harus menyala-nyala di dalam roh. Mengabarkan Injil mutlak adalah perkara dalam roh kita.
B. DEMI DOA
Untuk penginjilan, kita perlu banyak berdoa (Rm. 1:9). Kita perlu mendoakan jiwa-jiwa dan juga Injil. Dalam penginjilan, doa lebih perlu daripada melakukan bermacammacam usaha. Jika tidak berdoa, takkan ada buah yang dapat dihasilkan dalam penginjilan tersebut.
C. DENGAN TEKUN
Ketiga, kita harus memberitakan Injil dengan tekun (1:13-15). Jika kita mau bekerja sama dengan Tuhan dalam hal memberitakan Injil, kita harus melatih ketiga hal ini: dalam roh, demi doa, dan dengan tekun. Segala macam upaya dan kepandaian tak berguna. Kita semua perlu melatih roh kita untuk menjamah orang, berdoa, dan siap dengan tekun. Jika Injil itu tidak dapat menggerakkan Anda, Injil itu juga tidak akan dapat menggerakkan orang lain. Jika Injil itu tidak bisa menundukkan Anda, tentu tidak bisa menundukkan orang lain. Jika diri Anda sendiri tidak pernah menangis karena Injil, maka tidak akan ada seorang pun yang akan bertobat. Tetapi bila Anda menangis, orang-orang lain pun akan menangis dengan penuh penyesalan.
Pernah suatu kali saya membaca biografi seorang saudara yang mahir menginjil. Ia tidak berbicara banyak. Namun ketika ia berdiri di hadapan mereka, ia menangis. Setelah sejangka waktu ia menangis di hadapan mereka, air mata penyesalan pun turun dari mata orang-orang lain. Itulah memberitakan Injil dengan tekun.
IV. DITERIMA OLEH ORANG YANG TERPANGGIL
Injil Allah diterima oleh orang-orang yang terpanggil (1:6-7). Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang terpanggil ini? Mereka percaya. Karena itu, Injil ini diterima oleh orang-orang yang terpanggil dan yang percaya. Kita adalah orang-orang yang terpanggil dan yang percaya. Hal terpanggil ini adalah dipanggil ke luar, sedang percaya adalah percaya ke dalam.
Surat Roma memberikan Abraham sebagai contoh. Abraham dipanggil oleh Allah, keluar dari umat ciptaan. Umat ciptaan telah jatuh ke dalam hal-hal di luar kehendak Allah dan menjadi tidak mempunyai pengharapan terhadap Allah. Allah telah meninggalkan umat ciptaan dan memanggil seorang keluar dari umat itu, yaitu Abraham. Kemudian Abraham menjadi bapak umat terpanggil, bukan umat yang diciptakan, melainkan umat yang dipanggil oleh Allah. Kita telah dipanggil ke luar dari segala sesuatu yang di luar Allah, ke luar dari ciptaan yang usang, dunia, umat manusia, dan diri kita sendiri. Kita telah dipanggil ke luar dari hal-hal yang baik dan hal-hal yang jahat, ke luar dari segala perkara yang bukan berasal dari Allah sendiri. Karena itu terpanggil adalah keluar dari segala sesuatu yang bukan diri Allah sendiri.
Setelah kita dipanggil, kita percaya. Percaya berarti percaya ke dalam. Percaya Yesus bukan hanya berarti percaya bahwa ada seorang yang bernama Yesus. Percaya Yesus berarti percaya ke dalam Yesus. Percaya Allah adalah percaya ke dalam Allah. Percaya menuntut kita mengakui bahwa di dalam kita atau atas diri kita sendiri tidak ada pengharapan dan pertolongan, bahkan kita tak dapat berbuat apa pun untuk menyenangkan Tuhan. Kita perlu melupakan diri kita sendiri dan menghentikan semua adanya kita ini, semua yang kita miliki, dan semua yang dapat kita lakukan. Inilah percaya. Di pihak negatifnya, percaya berarti menghentikan semua adanya kita, semua yang kita miliki, semua kemampuan kita. Di pihak positifnya, percaya berarti meng-anggap Tuhan sebagai segala sesuatu kita, meletakkan diri kita sendiri di dalam Tuhan, percaya akan segala yang telah Ia lakukan bagi kita, atas yang dapat Ia kerjakan bagi kita, terhadap apa saja yang akan Dia lakukan bagi kita. Dengan kata lain, percaya adalah menghentikan diri kita sendiri dan meletakkan diri kita sendiri di hadapan Allah dengan penuh keyakinan. Percaya sedemikian ini dianggap benar di hadapan Allah, sehingga Allah tidak bisa tidak menyelamatkan kita.
Injil ini diterima oleh orang-orang yang telah dipanggil keluar dari segala sesuatu yang di luar Allah dan orang-orang yang telah percaya ke dalam Allah Tritunggal, mengakhiri segala adanya mereka, milik mereka, dan pekerjaan mereka serta percaya kepada Allah atas segala hal yang telah Ia kerjakan, yang Ia mampu kerjakan, dan yang akan Ia kerjakan. Jika sebagai orang yang demikian Anda menerima Injil Allah, Anda akan mengakui: “Aku sudah berakhir. Sekarang bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Aku tak perlu lagi melakukan apa-apa, karena Ia telah melakukannya, dan Ia akan mengerjakan segala sesuatu bagiku. Semua milikku, segala adaku ini, dan segala yang dapat kulakukan telah diakhiri oleh imanku kepada-Nya. Sekarang, Ia adalah segala-galaku.” Inilah keadaan orang yang menerima Injil Allah.
A. MELALUI TAAT DAN PERCAYA
Orang-orang yang telah terpanggil, menerima Injil Allah melalui taat kepada kepercayaan (1:5 Tl.). Apakah ini? Di bawah hukum Musa, Allah memberikan sepuluh hukum kepada bani Israel untuk ditaati. Ketaatan demikian adalah taat kepada hukum, taat kepada undang-undang. Dalam zaman kasih karunia ini, Allah telah memberikan satu hukum kepada kita, hukum yang unik, yaitu percaya di dalam nama Yesus. Allah tidak menyuruh kita memelihara hukum apa pun selain yang satu ini. Dengan tidak mempedulikan siapa kita ini, kita harus taat kepada perintah Allah ini, yaitu percaya di dalam nama Yesus. Siapa pun yang percaya di dalam Kristus, akan diselamatkan; dan siapa yang tidak percaya di dalam Kristus, telah ditetapkan hukumannya oleh karena ketidakpercayaannya itu (Yoh. 3:18). Bila kita taat kepada hukum Allah yang unik ini, kita memiliki ketaatan iman. Sebab itu, Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:8-9 berkata bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, karena tidak percaya kepada-Nya.
Hari ini hanya ada satu hukum, yaitu percaya dalam nama Yesus dan hanya ada satu dosa, yaitu tidak percaya kepada-Nya. Jika Anda percaya, Anda taat kepada kepercayaan, melalui ketaatan inilah Anda menerima Injil Allah. Dalam pandangan Allah, orang yang benar-benar taat adalah orang yang percaya di dalam nama Yesus; sedang orang yang tidak taat adalah orang yang tidak percaya kepada Dia. Tidak ada hal yang lebih menggusarkan Allah daripada ke-tidak-percayaan orang di dalam nama-Nya; dan sebaliknya, tidak ada yang lebih menyenangkan Allah selain percaya ke dalam Dia. Jika ada orang dosa, anak yang hilang berkata, “Ya Allah, aku bersyukur karena Engkau memberikan Yesus Kristus. Aku percaya Dia”, hati Bapa akan puas. Allah senang jika Anda taat kepada kepercayaan.
B. MEMILIKI KASIH KARUNIA DAN DAMAI
Menerima Injil melalui taat kepada kepercayaan akan menghasilkan kasih karunia dan damai. Kasih karunia ada-lah Allah sendiri di dalam Kristus sebagai segala sesuatu untuk kita nikmati. Damai adalah hasil dari kenikmatan atas kasih karunia Allah. Damai ini adalah perhentian, penghiburan, dan kepuasan batiniah, bukan yang lahiriah.
V. KEKUATAN ALLAH
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (1:16). Dalam surat Roma, arti keselamatan mencakup berbagai aspek. Selamat bukan hanya berarti menyelamatkan kita dari hukuman Allah dan dari api neraka, tetapi juga berarti menyelamatkan kita dari sifat-sifat alamiah kita, kegemaran kita, ego kita, sifat senang menonjolkan diri atau memecah belah. Keselamatan ini menyelamatkan kita dari hal-hal yang tidak patut pada diri kita, menyelamatkan kita dari hal-hal yang menyebabkan kita tidak kudus, supaya kita serupa dengan Dia, dimuliakan, diubah, dapat dibangun bersama anggota lainnya menjadi satu Tubuh, dan tidak menyendiri dalam menempuh hidup gereja. Injil Allah adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dengan sempurna, lengkap, dan kekal. Inilah kekuatan Allah bagi semua orang yang percaya. Puji Tuhan! Kita percaya!
VI. KEBENARAN ALLAH DINYATAKAN DALAM INJIL
Mengapa Injil ini demikian berkuasa? Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah (1:17). Menurut Yohanes 3:16, keselamatan berasal dari kasih Allah. Menurut Efesus 2:8, keselamatan adalah karena kasih karunia Allah. Tetapi di sini, rasul Paulus tidak mengatakan bahwa keselamatan berasal dari kasih Allah atau oleh kasih karunia Allah, ia mengatakan bahwa keselamatan itu datangnya dari kebenaran Allah.
Kasih dan kasih karunia, keduanya tidak berhubungan dengan hukum. Tidak ada hukum mana pun yang memaksa orang untuk mengasihi orang lain, dan tidak ada hukum yang memaksa orang memberi kasih karunia kepada yang lain. Saya mengasihi Anda atau tidak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan hukum. Saya bermaksud memberi Anda kasih karunia atau tidak, saya tetap tidak bersalah. Allah juga tidak terikat harus mengasihi kita. Jika Dia senang, Dia boleh mengasihi kita; jika Dia tidak senang, Dia boleh melupakan kita. Selain itu Allah juga tidak harus menunjukkan kasih karunia-Nya kepada kita. Saat Ia gembira, Ia boleh mengatakan, “Di sini ada kasih karunia”, dan saat Ia tidak gembira, Ia boleh menjauhi kita. Allah tidak terikat untuk mengasihi orang, dan juga tidak diwajibkan oleh hukum untuk memberi kasih karunia kepada orang. Tetapi, kebenaran, sangat berkaitan dengan hukum. Karena Kristus telah memenuhi semua tuntutan keadilan hukum, maka Allah mau tidak mau harus menyelamatkan kita. Jika Anda mengatakan, “Tuhan Yesus, Engkau adalah Juruselamatku.” Berarti Anda dapat berkata, “Ya Allah, Engkau harus mengampuni aku. Suka atau tidak suka, Engkau harus mengampuni aku. Engkau benar, jika Engkau memberi ampunan; sebaliknya Engkau tidak benar, jika tidak mengampuni aku.” Kita harus demikian tegas berkata kepada Allah. Bagi kita, orang-orang dosa, Kristus telah memenuhi semua tuntutan kebenaran hukum Taurat, maka Allah terikat oleh kebenaran-Nya untuk menyelamatkan kita. Kebenaran adalah satu pengikat yang kuat. Allah justru berada di dalam ikatan ini untuk menyelamatkan kita. Allah tidak dapat mengelak, Ia harus menyelamatkan kita, karena Dia benar.
1Yohanes 1:9 mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita.” Kristus telah mati bagi kita, telah men-cucurkan darah-Nya bagi kita, karena itu Allah harus men-cuci segala dosa kita. Kekuatan dalam Injil yang diberitakan Paulus adalah kebenaran Allah yang terwahyu di dalamnya. Dalam pasal 3 kita akan melihat kebenaran Allah.
A. BERTOLAK DARI IMAN
DAN MEMIMPIN KEPADA IMAN
Kebenaran Allah dinyatakan di dalam Injil yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (1:17). Ini berarti, selama kita memiliki iman, kita memiliki kebenaran Allah. Kebenaran Allah bertolak dari iman kita dan memimpin kepada iman kita. Jangan mengatakan Anda tidak memiliki iman. Asalkan Anda berseru kepada nama Tuhan Yesus, Dia berlimpah bagi Anda. Saat Anda berseru, “Oh, Tuhan Yesus!” Dia segera menjadi iman Anda. Atau mung-kin Anda berkata, Anda tidak memiliki perasaan bahwa Anda percaya. Jika Anda berkata demikian, saya ingin menceritakan kepada Anda apa yang terjadi pada diri saya lebih dari 40 tahun yang lalu, ketika saya membaca sebuah buku tentang jaminan keselamatan.
Buku itu dengan tegas mengatakan bahwa ketika kita percaya, kita diselamatkan. Segera saya bertanya kepada diri sendiri, “Percayakah aku? Apakah aku memiliki iman?” Di dalam saya mulai timbul keragu-raguan. Sampai beberapa hari pikiran itu terus mengganggu, membuat saya tidak enak makan dan tidur. Di dalam saya tidak ada perasaan bahwa saya telah percaya. Setelah mengalami kesulitan ini beberapa hari lamanya, Tuhan membelaskasihani saya dan menolong saya. Tuhan berkata, “Hai orang bodoh! Tinjaulah pertanyaan itu dari sudut lain, dan tanyalah dirimu sendiri, apakah engkau tidak percaya? Cobalah sedapatmu untuk tidak percaya.” Bagaimanapun saya mencoba untuk tidak percaya kepada Yesus, saya tidak sanggup melakukannya. Saya benar-benar tidak sanggup menghentikan percaya saya kepada-Nya. Ini membuktikan bahwa saya memiliki iman. Karena itu, jika Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki iman, cobalah Anda berhenti percaya kepada-Nya. Jika Anda tidak sanggup berhenti percaya, itu membuktikan Anda memiliki iman.
Puji Tuhan! Kita semua memiliki iman. Asal kita memiliki iman, maka kebenaran Allah akan dinyatakan dari iman dan memimpin kepada iman. Sekalipun Anda berusaha membuang iman Anda, Anda tidak akan sanggup melakukannya, sebab iman itu telah masuk ke dalam Anda. Di dalam diri Anda ada sesuatu yang oleh Alkitab disebut “iman”. Asalkan Anda memiliki iman, Anda memiliki kebenaran Allah.
Mengatakan bahwa kebenaran Allah dinyatakan bukan berarti hal ini sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, meskipun sebelumnya kebenaran Allah telah ada, namun kebenaran itu tidak dinyatakan atau tidak ditampak. Sesuatu yang dapat dinyatakan, tentu sebelumnya telah ada. Kebenaran Allah ini dinyatakan dari iman kepada iman.
Izinkan saya memberi gambaran dengan memegang kalender indah di depan Anda. Kalender ini telah ada beberapa waktu yang lalu, tetapi baru sekarang dinyatakan kepada Anda. Bagaimana menyatakannya? Ini dinyatakan dengan bertolak dari pandangan Anda dan kepada pandangan Anda untuk melihatnya. Jika Anda buta, kalender ini tidak akan dapat Anda lihat, karena wahyu untuk mengenal kalender berasal dari pandangan mata dan kepada pandangan mata. Kebenaran Allah telah tersedia berabad-abad yang lalu. Sejak kita percaya Tuhan Yesus, kita memiliki iman, dan iman ini adalah mata rohani kita. Bertolak dari iman kepada iman, kebenaran Allah dinyatakan. Sebab itu, kebenaran Allah dinyatakan di dalam Injil yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Puji Tuhan!
B. ORANG BENAR AKAN MEMILIKI HAYAT DAN HIDUP OLEH IMAN
Kebenaran Allah dinyatakan dalam Injil, bahwa orang benar akan hidup oleh iman (1:17). Dalam bahasa Yunaninya perkataan “hidup oleh iman” lebih tepat diterjemahkan sebagai “memiliki hayat dan hidup oleh iman.” Konkordansi Young juga mengatakan, bahwa dalam bahasa Yunaninya, kata ini mengandung arti “mempunyai hayat dan hidup”.
Ayat ini dikutip dari kitab Habakuk 2:4, dan dikutip sebanyak tiga kali dalam Perjanjian Baru. Ini dapat kita lihat di Ibrani 10:38. Jika melihat konteks atas dan bawahnya, kalimat ini dapat diartikan sebagai “Orang benar akan hidup oleh iman”. Dalam Galatia 3:11, mengandung arti “orang benar akan mempunyai hayat oleh iman”, karena konteks Galatia 3 mengatakan, hukum Taurat tidak dapat memberikan hayat kepada manusia (Gal. 3:21), bahwa manusia hanya dapat mempunyai hayat oleh iman. Karena itu, Galatia 3 bukan mempermasalahkan menempuh hidup, melainkan masalah memiliki hayat. Roma 1:17 mengandung kedua arti itu, yaitu mempunyai hayat dan menempuh hidup. Sebab itu, ayat ini boleh kita terjemahkan “Orang benar akan mempunyai hayat dan hidup oleh iman.”
Kalimat pendek ini merupakan petikan ringkas dari seluruh isi surat Roma. Surat Roma terdiri atas tiga bagian besar. Bagian pertama membahas pembenaran, menunjukkan kepada kita bagaimana kita dibenarkan, bagaiman menjadi benar dalam pandangan Allah. Bagian kedua memberi tahu kita, bagaimana memiliki hayat melalui dibenarkan kepada hayat (5:18). Jalan menuju kematian adalah dihukum oleh Allah, sedang jalan menuju hayat adalah dibenarkan oleh Allah. Kemudian bagian ketiga memberi tahu kita bagaimana menempuh hidup. Setelah kita menerima hayat ini, kita perlu memperhidupkannya terutama dengan mempraktekkan kehidupan Tubuh. Bagian akhir surat Roma, dari pasal 12 sampai akhir pasal 16 membahas kehidupan kita. Yang penting kita perlu memiliki kehidupan gereja. Gereja-gereja lokal merupakan bagian utama dari kehidupan kita, seperti yang dinyatakan dalam Roma 16. Karenanya, seluruh surat Roma membahas tiga bagian besar ini, pembenaran, mendapatkan hayat, dan hidup dengan tepat. Puji Tuhan! Kita semua telah dibenarkan dan kita pun telah menerima hayat ilahi. Sekarang kita sedang memperhidupkan hayat ini terutama di dalam Tubuh, dalam gereja lokal. Inilah jalan menempuh hidup demi hayat ilahi. Orang benar akan mempunyai hayat dan hidup oleh iman.