PENDAHULUAN
Syukur kepada Tuhan, karena Ia telah menunjang kita untuk menyelenggarakan pelatihan ini, yaitu satu pelatihan yang membahas kehidupan orang Kristen yang normal dan kehidupan gereja yang wajar. Kita akan memperhatikan sepenuhnya perihal hayat kehidupan orang Kristen dan kehidupan gereja. Ini berarti kita bukan mengadakan pelatihan di bidang doktrin, meskipun kita masih perlu memahami kebenaran azasi dan prinsip firman Allah.
Seluruh pelatihan ini akan berpusat pada surat Roma. Untuk itu kita perlu mempelajari surat Roma versi Pemu-lihan dengan seksama. Berita ini dipakai sebagai pendahuluan surat Roma tersebut.
I. POSISI SURAT ROMA DALAM ALKITAB
Pertama, kita perlu mengetahui posisi surat Roma dalam Alkitab. Untuk ini kita perlu memperhatikan Alkitab secara menyeluruh.
A. ALKITAB —
SEBUAH ROMAN SEJOLI UNIVERSAL
Alkitab ialah sebuah roman. Pernahkah Anda mendengar ini sebelumnya? Mungkin kedengarannya agak duniawi dan tidak agamawi. Tetapi bila Anda telah menyelami pikiran Alkitab secara mendalam, Anda akan mengerti bahwa Alkitab merupakan sebuah roman yang diperani oleh sejoli universal dalam pengertian yang paling murni dan kudus.
1. Allah dalam Kristus sebagai Mempelai Laki-laki
Di antara sejoli ini, sebagai laki-lakinya adalah Allah sendiri. Meskipun Ia adalah Persona ilahi, tetapi Ia ingin menjadi laki-laki dari pasangan universal ini. Allah ini, setelah melalui proses panjang, membuat diri-Nya menjadi Mempelai laki-laki di dalam Kristus.
2. Kaum Tebusan Allah sebagai Mempelai Perempuan
Yang menjadi mempelai perempuan adalah manusia yang korporat, yakni orang-orang tebusan Allah yang meliputi seluruh kaum saleh pada zaman Perjanjian Lama dan Baru. Setelah melalui proses panjang, sekelompok orang ini menjadi mempelai perempuan di dalam Yerusalem Baru.
3. Kisah Roman dalam Perjanjian Lama
Berkali-kali kisah roman kudus ini dinyatakan dalam seluruh Perjanjian Lama.
a. Kisah sebuah Pernikahan
Kisah yang segera menyusul setelah catatan penciptaan Allah ialah suatu pernikahan (Kej. 2:21-25). Dalam pernikahan itu, sang suami, Adam, melambangkan Kristus; sang istri, Hawa, melambangkan gereja. Dalam Efesus 5, kita nampak kedua sejoli yang dilambangkan oleh Adam dan Hawa, yaitu Kristus dan gereja. Adam dan Hawa melambangkan orang-orang yang menjadi pasangan universal ini harus berasal dari sumber yang sama.
Allah menciptakan satu orang yaitu Adam. Dari orang inilah berasal sang istri. Hawa bukan dibuat secara terpisah oleh Allah, melainkan berasal dari Adam. Hawa dibuat dari sebuah rusuk yang diambil dari diri Adam. Hal ini menyatakan baik Adam maupun Hawa, berasal dari satu sumber. Jadi, istri dari pasangan universal ini harus berasal dari suami. Demikian pula, gereja harus berasal dari Kristus. Kedua orang dari pasangan ini harus berasal dari satu sumber, satu sifat bahkan mereka harus berbagian dalam satu hayat. Sifat dan hayat yang dimiliki Adam sama dengan yang dimiliki Hawa, demikian pula sebaliknya. Kedua orang dari pasangan ini berasal dari satu sumber, satu sifat, dan memiliki satu hayat yang sama; dan pasti pula mereka memiliki satu kehidupan. Mereka hidup ber-sama. Hawa hidup bersandar dan beserta Adam; demikian pula dengan Adam.
Sejoli ini adalah rahasia alam semesta. Rahasia alam semesta ialah Allah menjadi sejodoh dengan kaum pilihan-Nya. Haleluya! Kita kaum pilihan Allah dengan Allah ber-asal dari satu sumber, satu sifat dan satu hayat. Kini, kita perlu memiliki satu kehidupan. Kita tidak lagi hidup demi diri sendiri, melainkan bersama Allah dan untuk Allah. Allah pun hidup bersama kita dan untuk kita. Haleluya!
b. Allah sebagai Suami, Umat-Nya sebagai Istri
Dalam Perjanjian Lama, Allah beberapa kali menganggap diri-Nya sebagai suami dan menganggap umat-Nya sebagai istri-Nya (Yes. 54:5; 62:5; Yer. 2:2; 3:1, 14; 31:32, Yeh. 16:8; 23:5; Hos. 2:7, 19). Allah sangat ingin menjadi suami dan memiliki umat-Nya sebagai istri. Para nabi sering mengatakan Allah sebagai suami dan umat-Nya sebagai istri. Menurut konsepsi manusia, kita selalu berpegang pada ajaran agama, mengira Allah itu mahakuasa, dan kita tak dapat tidak harus menyembah-Nya. Saudara-saudara yang telah beristri, apakah kalian mengharapkan istri kalian berbuat demikian terhadap kalian? Misalkan, istri Anda menganggap Anda gagah perkasa, ia mendekati Anda sambil menyembah, sambil membungkuk, bahkan berlutut menyembah Anda. Apakah yang akan Anda katakan kepada-nya? Pasti Anda akan berkata, “Duhai istriku yang bodoh, tak perlu kau menyembahku demikian. Aku ingin engkau sebagai istriku yang tercinta, memeluk dan menciumku. Asal kau mencium aku sedikit saja, aku akan melayang ke udara.” Memang betul Allah kita itu mahakuasa dan sebagai makhluk ciptaan-Nya kita patut menyembah Allah. Banyak ayat membicarakan menyembah Allah secara demikian. Tetapi tidakkah pernah Anda baca dalam kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Hosea bahwa Allah hendak menjadi seorang Suami? Dahulu umat Allah membangun sebuah bait Allah dan membuat cara penyembahan lengkap dengan imamat dan macam-macam kurban. Namun pada suatu hari Allah datang dan melalui nabi Yesaya Ia seolah bersabda, “Aku jemu akan semua kurban itu. Aku ingin engkau mengasihi-Ku. Aku suamimu, dan engkau harus menjadi istri-Ku. Aku ingin menikmati hidup pernikahan. Aku merasa kesepian, Aku perlu engkau. Hai umat pilihan-Ku, jadilah istri-Ku.”
c. Kisah Roman dalam Kitab Kidung Agung
Di antara 39 kitab dalam Perjanjian Lama terdapat sebuah kitab yang disebut kitab Kidung Agung. Kitab ini lebih dari sekadar roman, sebuah roman yang fantastik. Pernahkah Anda membaca roman seperti kitab Kidung Agung? Sepanjang pengamatan saya, kitab Kidung Agung ini merupakan roman yang terindah, yang mengisahkan sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Meskipun saya kurang suka memakai istilah “jatuh cinta” namun saya tak dapat menyangkal fakta ini. Dalam kitab Kidung Agung kita nampak sang putri sedang jatuh cinta kepada sang lelaki yang berkata kepadanya, “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!” Kekasihnya segera muncul dan kata ganti “ia” berubah menjadi “mu” (Kid. 1:2-3). “Karena cintamu lebih nikmat daripada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu.” Tariklah daku, hai kekasihku. Jangan mengajar aku, melainkan tariklah aku. Aku tak membutuhkan seorang pendeta atau seorang peng-khotbah. Aku pun tidak membutuhkan seorang penatua atau seorang rasul, aku perlu tarikanmu. Tariklah daku, maka aku akan mengejarmu. Oh, alangkah romantisnya!
Dalam Adam dan Hawa kita nampak bahwa pasangan ini sama-sama memiliki satu sumber, satu sifat, satu hayat, dan satu kehidupan. Membaca kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Hosea, kita pun nampak betapa Allah mendambakan seorang istri yang hidup bersama Dia. Allah mendambakan kehidupan pernikahan, memiliki hayat ilahi dengan hayat insani. Akan tetapi umat-Nya telah mengecewakan-Nya.
Dalam Kidung Agung ini kita nampak suatu hidup pernikahan yang sejati. Apakah rahasia roman ini? Rahasianya adalah sang istri wajib menganggap suaminya tidak saja sebagai hayat dan kehidupannya, juga sebagai personanya.
Sebagaimana telah kita tandaskan pada sidang pelatihan tidak resmi tahun 1972 yang lalu, yaitu bahwa Tuhan dalam kitab Kidung Agung memakai beberapa kiasan melukiskan pencari-Nya, ketika ia mengalami bermacam-macam tingkat pertumbuhan hayat. Kiasan pertama ialah sekelompok kuda (Kid. 1:9). Kuda mengibaratkan kekuatan, keperkasaan, penuh kepribadian, dan memiliki tujuan tertentu. Kemudian demi penggarapan kasih, si pencari ini berubah dari sekelompok kuda menjadi sekuntum bunga bakung yang semerbak, indah, dan mekar (Kid. 2:2). Ia menjadi bunga bakung yang tanpa keinginan, emosi, dan persona. Akhirnya ia menjadi sebatang tiang asap (Kid. 3:6 Tl.). Walaupun kata tiang menunjukkan kekuatan, namun ia bukan tiang marmer, tetapi tiang asap yang berdiri tegak dan teguh dalam alam semesta, juga sangat fleksibel.
Saya senang melihat para istri yang masih muda menjadi tiang asap dan selalu berkata, “Tekadku berada di dalam hati suamiku, emosiku berada di dalam dirinya, pikiranku juga berada di dalam benaknya. Aku hanyalah sebatang tiang asap.” Sebatang tiang asap tidak memiliki personanya sendiri, tidak memiliki pikiran, emosi, maupun tekad. Bila sang suami berkata kepada sang istri, “Mari kita pergi.” Ia segera mematuhinya. Sebaliknya, jika sang suami berkata, “Tinggallah di sini selamanya”, tidak akan ada masalah. Sayang sekali, kabar yang saya terima tentang suami istri muda sama sekali berbeda. Jika suami berkata, “Marilah kita pergi.” Si istri membantah. Kalau suami berkata, “Tinggal saja di sini.” Si istri malah ngotot ingin pergi. Ia masih seperti seekor kuda Mesir liar yang menghela kereta Firaun. Saudari yang demikian mungkin menuntut Tuhan juga, tetapi ia masih menghela Firaun. Ia perlu di-lepaskan dari penunggangnya itu. Bagaimana caranya? Dengan melepaskan pikiran, emosi, dan tekadnya, dan men-jadi sebatang tiang asap.
Akhirnya si pencari dalam kitab Kidung Agung ini menjadi sebuah tandu untuk mengusung jantung hatinya (Kid. 3:9). Ia tak lagi memiliki personanya sendiri. Sekarang ia memiliki persona kekasihnya, yakni Kristus Tuhan yang berada di dalam dirinya. Ia sendiri menjadi sebuah tandu yang mengusung persona Kristus. Selanjutnya ia menjadi sebidang kebun yang menumbuhkan sesuatu untuk memuas-kan kekasihnya (Kid. 4:12-13). Terakhir ia menjadi sebuah kota, yaitu Yerusalem Baru (Why. 21:2), tanpa personanya sendiri tetapi memiliki Persona Kristus yang kuat di dalam dirinya. Puji Tuhan! Inilah sebuah roman yang kudus.
4. Roman Ini dalam Perjanjian Baru
Sekarang kita perlu merenungkan kisah roman ini seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Baru.
a. Kristus Sebagai Mempelai Laki-laki dalam Keempat Kitab Injil
Memang tidak dapat disangkal bahwa keempat kitab Injil menyajikan sejarah Kristus yang lengkap sebagai Juruselamat kita. Tetapi pernahkah anda memperhatikan, bahwa keempat kitab Injil pun menerangkan kepada kita bahwa Kristus datang untuk menjadi mempelai laki-laki? (Mat. 9:15; Mrk. 2:19; Luk. 5:34; Yoh. 3:29). Dia datang untuk mempelai perempuan-Nya. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis melihat banyak orang meninggalkannya dan mengikut Tuhan Yesus, Yohanes berkata kepada mereka supaya jangan merasa risau, sebab Kristuslah mempelai laki-laki, semua itu miliknya, Ia harus semakin besar (Yoh. 3:30). Mempelai laki-laki datang untuk mempelai perempuan. Apakah atau siapakah mempelai perempuan itu? Ialah perluasan Kristus. Setiap kitab dari keempat kitab Injil menyajikan Kristus, Mempelai laki-laki, telah datang untuk mempelai perempuan-Nya.
b. Suami dan Istri dalam Surat-surat Kiriman
Dalam Surat-surat Kiriman, Kristus dan gereja dilukiskan sebagai suami dan istri (Ef. 5:25-32; 2 Kor. 11:2). Surat-surat Kiriman dengan jelas menyamakan Kristus dan gereja sebagai suami dan istri. Jika kita memahami apa yang disingkapkan dalam Surat-surat Kiriman itu, kita akan nampak bahwa Kristus dinyatakan sebagai suami, sedangkan orang-orang yang beriman sebagai pasangan-Nya, yaitu istri-Nya. Sebab itu, kita wajib menjadi satu dengan Dia dalam hal sumber, sifat, hayat, dan kehidupan sehari-hari.
c. Pernikahan Kristus dengan Umat-Nya dalam Kitab Wahyu
Kitab Wahyu menyingkapkan satu pernikahan (Why. 19:7), dan Yerusalem Baru disajikan sebagai istrinya. Pada pasal 19 kita nampak Kristus akan menikmati perjamuan nikah; pada pasal 21 kita nampak Yerusalem Baru akan menjadi istri-Nya. Pada Wahyu 21-22, dua pasal terakhir dalam Alkitab, kita nampak satu kesempurnaan terakhir dari seluruh Alkitab, yaitu dua sejoli universal ini sebagai suami istri.
5. Pasangan Universal dan Manusia Universal
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pasangan ini, kedua manusia ini, menjadi satu daging (Kej. 2:24; Ef. 5:31). Adam dan Hawa adalah satu daging. Jika mereka itu satu daging, berarti mereka juga satu orang. Kristus dan kaum pilihan-Nya menjadi satu manusia universal yang korporat dengan Kristus, sang suami, sebagai Kepala (Ef. 4:15), dan gereja, sang istri sebagai Tubuh (Ef. 1:22-23). Akhirnya keduanya menjadi satu manusia yang almuhit, universal, dan korporat. Dalam Efesus 5 gereja disajikan sebagai istri, dan dalam Efesus 1 gereja disajikan sebagai Tubuh Kristus. Jadi gereja ialah istri juga Tubuh Kristus, dan Kristus ialah Suami juga Kepalanya. Maka, Kristus dan gereja adalah manusia yang universal dan korporat. Inilah inti wahyu ilahi dalam firman Allah, yaitu sepasang mempelai dan seorang manusia. Sepasang persona yang terdiri atas Allah Tritunggal sebagai Suami, dan kaum pilihan-Nya sebagai istri. Seorang manusia yang terdiri atas Kristus sebagai Kepala, dan kaum pilihan-Nya sebagai Tubuh. Inilah wahyu pokok dari seluruh Alkitab. Aspek utama dalam satu pasangan ialah kasih, sedang aspek utama dalam satu manusia ialah hayat. Kristus dan gereja sebagai pasangan adalah perihal kasih; Kristus dan gereja sebagai satu manusia adalah perihal hayat.
B. PERJANJIAN LAMA SEBAGAI
PEMBERITAHUAN DINI
1. Nubuat tentang Kristus
Perjanjian Lama menubuatkan Kristus dengan kata-kata jelas, lambang-lambang, kiasan-kiasan dan bayang-bayang. Jika Anda membaca Perjanjian Lama dengan seksama, Anda akan menemukan banyak nubuat yang jelas dan nyata tentang Kristus. Kitab Perjanjian Lama menun-jukkan kepada kita asal kelahiran Kristus, di mana Ia dilahirkan, dan juga hal-hal yang terjadi atas diri-Nya se-lama hidup-Nya. Banyak ayat berupa nubuat mengenai Kristus. Selain nubuat, tercantum pula banyak lambang, kiasan, dan bayang-bayang, yang dengan rinci mewahyukan dan melukiskan diri Kristus. Maka Perjanjian Lama mem-bicarakan wahyu tentang Kristus (Luk. 24:27, 44; Yoh. 5:39).
2. Gereja dalam Lambang, Kiasan dan Bayang-bayang
Perjanjian Lama juga menubuatkan gereja, tetapi tidak dengan kata-kata jelas, melainkan dengan lambang, kiasan-kiasan, dan bayang-bayang. Istilah gereja memang tidak pernah disinggung dalam Perjanjian Lama, sebab dalam Perjanjian Lama gereja merupakan suatu rahasia yang ter-sembunyi (Ef. 3:3-6). Namun ini telah dinubuatkan dengan banyak lambang, kiasan, dan bayang-bayang. Dalam hal ini terdapat dua kategori utama. Yang pertama terdiri atas istri beberapa orang yang melambangkan Kristus. Misalnya, Hawa (Ef. 5:31-32); Ribka, istri Ishak (Kej. 24); Rut (Rut 4); dan Sulam (Kid. 6:13). “Sulam” dalam bahasa Ibrani berarti bentuk perempuan dari Salomo. Maka Salomo dan Sulam ini senama, yang satu Salomo laki-laki, dan yang lain Salomo perempuan. Sulam ini juga melambangkan gereja. Kategori kedua meliputi Tabernakel dan Bait Suci. Kedua benda tersebut juga melambangkan gereja. Meskipun Perjanjian Lama tidak menyinggung gereja dengan kata-kata jelas, tetapi menggambarkannya lewat lambang-lambang.
C. PERJANJIAN BARU ADALAH KEGENAPAN PERJANJIAN LAMA
Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Perjanjian Baru adalah kegenapan Perjanjian Lama. Segala sesuatu yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, baik mengenai Kristus maupun mengenai gereja, telah digenapi seluruhnya dalam Perjanjian Baru.
1. Kristus yang Individual dalam Keempat Kitab Injil
Keempat kitab Injil merupakan biografi yang hidup dari Persona yang ajaib, yakni biografi Kristus yang individu. Dialah yang menggenapkan Perjanjian Lama. Mungkin Anda telah sering membaca kitab-kitab Injil tanpa mema-hami berbagai aspek Kristus yang diwahyukan di dalamnya. Lebih dari enam puluh aspek tentang diri Kristus terungkap dalam Injil Matius dan Yohanes. Seperti telah kita bahas dalam kesempatan yang lalu, Matius 1 mengungkapkan Kristus sebagai Yesus, Yehova (TUHAN) Penyelamat dan Imanuel (Allah beserta kita). Pada pasal 4 Dia disebut Terang yang besar, dan pada pasal-pasal selanjutnya Dia disebut Daud yang lebih besar, Bait Suci yang lebih besar, Salomo dan Yunus yang lebih besar, Musa yang hidup yang memiliki hukum-hukum yang lebih sempurna dan baru, juga sebagai Elia yang hidup yang menggenapkan nubuat. Bila kita membaca Injil Matius dengan cermat, kita akan menemukan sedikitnya tiga puluh sebutan lagi untuk Kristus. (Sebutan-sebutan itu telah dicantumkan dalam Pelajaran-Hayat Injil Matius berita pertama.) Kristus ialah Daud sejati, Salomo sejati, Bait Suci sejati, Musa sejati, . . . Kristus adalah segala sesuatu. Dalam Injil Yohanes, tercantum sebanyak 20 atau 30 sebutan lagi. Misalnya Kristus adalah terang, udara, air, roti, gembala, pintu, pa-dang rumput, dan lain sebagainya. Kristus sungguh almu-hit, Dia adalah segala sesuatu. Sudahkah Anda nampak Kristus sedemikian? Memang Dia adalah Juruselamat kita, tetapi sebenarnya Ia jauh lebih banyak daripada itu. Dia adalah segala sesuatu. Dia merupakan Persona yang paling ajaib.
Anda sebenarnya tidak dapat mengatakan siapa sebenarnya Kristus itu. Jika Anda menyebut Dia adalah Allah, saya akan menyebut-Nya manusia. Jika Anda mengatakan Dia adalah manusia, saya akan mengatakan Dia adalah Allah. Jika Anda mengatakan Dia adalah Anak Allah, saya akan mengatakan Dia adalah Allah Bapa. Kalau Anda mengatakan Dia adalah Allah Bapa, saya akan mengatakan Dia adalah Allah Roh. Kalau Anda mengatakan Dia adalah Pencipta, saya akan mengatakan Dia adalah Penebus. Oh, Dia adalah segala sesuatu!
2. Kristus yang Korporat dalam Kitab Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul adalah kitab lanjutan dari keempat kitab Injil. Apakah sebenarnya Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul adalah perluasan, pertambahan, dan pembesaran dari Persona yang ajaib ini. Persona ini, dulu terbatas dan tertahan dalam diri Yesus yang kecil. Tetapi dalam kitab Kisah Para Rasul, Dia telah direproduksi, diperbanyak, dan diperluas. Dia telah bertambah banyak dengan tersebar ke dalam Petrus, Yohanes, Yakobus, Stefanus, dan bahkan Saulus dari Tarsus. Dia telah tersebar ke dalam laksaan bahkan ratusan ribu orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka menjadi bagian dari-Nya. Secara kolektif, semua orang yang beriman itu dengan diri-Nya sendiri menjadi Kristus yang korporat. Maka, pada keempat kitab Injil terdapat Kristus yang individual, sedang dalam kitab Kisah Para Rasul terdapat Kristus yang korporat. Menjelang akhir kitab Kisah Para Rasul kita nampak Kristus yang individual dan Kristus yang korporat. Namun, kita tidak memahami bagaimana Kristus yang individual ini dapat menjadi Kristus yang korporat. Bagaimana kita, orang-orang beriman, yang begitu banyak ini menjadi bagian dari Kristus?
3. Definisi Lengkap tentang Kristus yang Korporat dalam Surat Roma
Hal ini membawa kita kepada surat Roma. Surat Roma menjelaskan bagaimana Kristus yang individu menjadi Kristus yang korporat, dan bagaimana pula kita yang asalnya adalah orang-orang dosa dan seteru Allah, dapat menjadi bagian dari Kristus serta menjadi Tubuh-Nya yang esa. Surat Roma memberikan definisi yang lengkap tentang ini, menyingkapkan kehidupan kekristenan dan kehidupan gereja secara terperinci. Karena itulah kita akan mempe-lajari surat Roma untuk melatih kehidupan kekristenan maupun kehidupan gereja. Surat Roma memberikan garis besar kedua hal tersebut. Sekarang kita telah mengerti posisi surat Roma dalam Alkitab.
II. PEMBAGIAN SURAT ROMA
Kita perlu memperhatikan pembagian surat Roma. Tuhan telah memberikan delapan kata untuk menerangkan kedelapan bagian itu: pendahuluan, penghukuman, pembe-naran, pengudusan, pemuliaan, pemilihan, pengubahan, dan penutup. Kita semua perlu mengingat kedelapan kata itu. Garis besar sedemikian dalam surat Roma tidak pernah saya nampak sebelumnya. Tuhan menunjukkan kepada saya belakangan ini. Meskipun pada tahun 1960-an saya pernah memimpin kaum saleh di Taiwan mempelajari seluruh surat Roma, tetapi saya harus mengatakan bahwa garis besar yang saya pakai dulu itu sudah terlalu usang. Maka garis besar dengan delapan kata yang menerangkan kedelapan bagian ini adalah baru dan mutakhir. Sebab itu kita harus memperhatikan dengan cermat isi kedelapan bagian tersebut.
A. PENDAHULUAN — INJIL ALLAH
Pendahuluan (1:1-17) melukiskan tema surat Roma, yaitu Injil Allah. Inilah isi pendahuluan. Pada berita berikutnya akan kita lihat apakah yang dimaksud dengan Injil Allah.
B. PENGHUKUMAN — MENYATAKAN KEBUTUHAN
AKAN KESELAMATAN
Setelah pendahuluan kita nampak bagian penghukuman (1:18—3:20) yang mengungkapkan kebutuhan kita akan keselamatan Allah. Kita semua dalam keadaan putus asa, tidak tertolong, dan berada di bawah penghukuman Allah. Sebab itu, kita benar-benar memerlukan keselamatan Allah.
C. PEMBENARAN — MEWAHYUKAN
PENGGENAPAN KESELAMATAN
Bagian ketiga ialah pembenaran (3:21—5:11) yang mewahyukan perampungan keselamatan Allah. Berhubungan dengan pembenaran terdapat tiga butir, yaitu perujukan, penebusan, dan pendamaian. Ketiga butir ini akan kita bahas nanti dalam pasal 3. Saat ini saya hanya ingin mengatakan dengan singkat, bahwa pembenaran Allah bersandar pada penebusan Kristus. Tanpa penebusan Kristus tidak ada jalan lain bagi Allah untuk membenarkan orang dosa. Jadi pembenaran Allah tergantung pada penebusan Kristus dan penebusan itu memiliki satu aspek utama yaitu perujukan. Perujukan merupakan susunan dan bagian utama dari penebusan Kristus, karena sebagai orang dosa, kita telah berhutang banyak kepada Allah, dan Allah menuntut agar kita melunasinya. Hal ini menimbulkan satu persoalan yang sangat serius. Persoalan ini telah diatasi oleh Kristus sebagai kurban pendamaian. Karena perujukan telah membereskan persoalan kita dengan Allah, maka kita pun tertebus. Berdasarkan penebusan Kristus, Allah membenarkan kita dengan mudah dan sah. Lalu apa arti pendamaian? Pendamaian adalah hasil dari pembenaran. Pembenaran Allah menghasilkan pendamaian. Semua hal ini sudah rampung. Haleluya! Meskipun mungkin saat ini Anda kurang jelas terhadap perkataan saya, tetapi Anda dapat mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak mengerti kata-kata ini, tetapi aku memuji Engkau, sebab segalanya telah Engkau rampungkan.”
Pembenaran membawa kita kepada Allah. Dalam fakta-nya, pembenaran tidak saja membawa kita kepada Allah, bahkan membawa kita ke dalam Allah. Karena itu kita dapat memperoleh kenikmatan sepenuhnya atas diri Allah. Alkitab bahasa Inggris versi King James mengatakan, “Kita ber-sukacita di dalam Allah” (Rm. 5:11). Kita tidak hanya ber-sukacita di dalam Allah, kita bahkan menikmati diri Allah sendiri. Allah menjadi kenikmatan kita. Demikianlah makna pembenaran.
D. PENGUDUSAN — PROSES HAYAT
DALAM KESELAMATAN
Bagian selanjutnya adalah pengudusan (5:12—8:13). Alangkah indahnya kita berada di dalam Allah serta menikmati Allah. Namun jangan memandang diri kita. Sering kali, ketika saya menikmati Allah, memuji-Nya dan menikmati kelimpahan-Nya, tiba-tiba si jahat itu datang dan berkata, “Hm, lihatlah dirimu sendiri! Renungkanlah apa yang telah kaulakukan tadi pagi terhadap istrimu!” Pada saat saya menerima perkataaan itu, saya segera jatuh dari surga ke dalam neraka. Saya merasa sangat kecewa. Ketika saya memuji di dalam kamar, istri saya sedang masak di dapur. Ketika Iblis mengajukan pertanyaan itu, saya takut kalau-kalau istri saya mendengar pujian saya lalu datang untuk menghentikan saya dengan berkata, “Sudahlah, tidak perlu memuji lagi. Apakah kau tidak merasakan perbuatanmu terhadapku tadi pagi?” Setelah dibenarkan, kita perlu dikuduskan.
Apakah arti pengudusan? Sekali lagi kita boleh meng-gunakan perumpamaan air teh. Jika kita membubuhkan teh ke dalam segelas air putih, air dalam gelas itu akan menjadi air teh. Kita ini paling-paling hanya seperti air putih (meski sebenarnya kita tidak putih, melainkan kotor). Tetapi sekalipun kita putih, kita tidak memiliki aroma, sari, dan warna teh. Kita perlu dirasuki oleh teh. Kristus sendiri sebagai teh surgawi yang kini berada di dalam kita. Haleluya!
Akhir-akhir ini saya menunjukkan kepada kaum saleh di Anaheim bahwa melalui seluruh surat Roma ini, Allah berangsur-angsur mewahyukan diri-Nya kepada kita. Pada pasal 1, Dia adalah Allah dalam penciptaan; pada pasal 3, Dia adalah Allah dalam penebusan; pada pasal 4, Dia adalah Allah dalam pembenaran; pada pasal 5, Dia adalah Allah dalam pendamaian; pada pasal 6, Dia adalah Allah dalam penyatuan. Ketika kita tiba pada pasal 8, kita nampak bahwa Allah kini berada di dalam kita. Ya, Kristus berdiam di dalam kita (Rm. 8:10). Kini, Dia tidak lagi di dalam penciptaan, penebusan, pembenaran, pendamaian, dan penyatuan saja, tetapi Dia ada di dalam kita, di dalam roh kita. Kristus di dalam kita sedang bekerja untuk mengubah dan menguduskan kita. Seperti teh yang dicelupkan ke dalam air, unsur teh itu akan bekerja di dalam air, sehingga akhirnya air itu seluruhnya terbaur menjadi satu dengan teh, memiliki rupa, aroma, dan rasa teh. Kalau saya memberikan minuman itu kepada Anda, berarti saya memberikan teh kepada Anda, bukan air putih.
Jika saya bertanya kepada Anda, “Apakah Anda telah dibenarkan?” Anda pasti menjawab, “Haleluya, aku sudah dibenarkan, sebab Kristus telah menggenapkan penebusan. Allah pun telah mendamaikan aku dengan diri-Nya, bahkan kini aku sedang menikmati Dia.” Alangkah indahnya hal ini! Tetapi, bagaimana dengan pengudusan? Sudahkah Anda dikuduskan? Jika saudara-saudara yang telah beristri meng-aku sudah dikuduskan, istri-istri mereka akan menyangkal dan berkata, “Memang saudara-saudara itu telah dibenarkan, tetapi sangat meragukan, apakah mereka telah dikuduskan.” Saudara-saudara, sudahkah istri kalian dikuduskan? Hai para istri, menurut kalian, apakah suami kalian sudah dikuduskan? Boleh jadi ada beberapa saudari berkata bahwa suami mereka sudah dikuduskan sedikit. Mungkin juga ada yang merasakan bahwa suami mereka telah menjadi lebih baik. Tetapi di sini saya tidak mempermasalahkan perbaikan, melainkan pengudusan, yakni Kristus tergarap di dalam kita, seperti halnya sari, aroma, dan warna teh terbaur ke dalam air tadi. Itulah yang dimaksud dengan pe-ngudusan.
E. PEMULIAAN — TUJUAN KESELAMATAN
Bagian berikutnya adalah pemuliaan (8:14-39). Ini adalah tujuan keselamatan Allah. Sesudah pengudusan menyusullah kebutuhan akan pemuliaan, yaitu tubuh kita perlu dimuliakan.
Meskipun seseorang sangat kudus, namun masih ada kekurangan dan pembatasan tubuhnya, karena itu tubuhnya perlu mengalami pemuliaan. Saat Tuhan Yesus datang kelak, kita semua akan dimuliakan. Sekarang, saya harus mengenakan kaca mata tebal khusus ini, tetapi ketika Tuhan datang lagi, saya akan dimuliakan dan tidak perlu lagi me-makai kaca mata ini. Kita tidak saja dibenarkan dan diku-duskan, bahkan dimuliakan, yaitu tubuh kita akan ditebus. Pemuliaan adalah penebusan sempurna atas tubuh kita.
Pemuliaan adalah tujuan keselamatan Allah. Tujuan keselamatan Allah ialah menghasilkan banyak saudara bagi Kristus. Asalnya Kristus adalah Anak tunggal Allah, kini Ia telah menjadi Anak sulung. Kita akan diproses menjadi saudara-saudara Kristus, anak-anak Allah yang berjumlah besar. Dalam berita berikutnya kita akan melihat bahwa Kristus adalah model pertama dan kita adalah duplikatnya yang akan diproduksi secara massal. Yesus yang kecil itu telah diproses dan ditetapkan menjadi Anak Allah. Kini, dengan proses yang sama, kita pun diproses dan ditetapkan menjadi anak-anak Allah. Dia menjadi Anak Sulung, dan kita, anak-anak Allah, saudara-saudara-Nya. Inilah tujuan kekal keselamatan Allah.
F. PEMILIHAN — EKONOMI KESELAMATAN
Setelah pemuliaan, tibalah kita pada bagian pemilihan (Rm. 9:1—11:36). Bagian ini menyatakan ekonomi keselamatan. Allah memiliki satu tujuan dan ekonomi. Ekonomi-Nya adalah untuk mencapai tujuan-Nya. Allah sungguh bijaksana. Ia mengatur segala sesuatu untuk menyempurnakan tujuan-Nya. Ia tahu apa yang sedang Ia kerjakan. Ia pun tahu siapakah orang pilihan-Nya dan Ia tahu, kapan mereka harus dipanggil. Bagi Allah, pemilihan adalah untuk menggenapkan tujuan-Nya; bagi kita, pemilihan adalah nasib kita.
G. PENGUBAHAN — PRAKTEK HAYAT
DALAM KESELAMATAN
Pengubahan menerangkan praktek hayat dalam keselamatan (Rm. 12:1—15:13). Pada bagian ini kita nampak praktek hayat dari segala yang dihasilkan oleh proses hayat itu. Segala perkara yang telah dihasilkan dalam bagian pengudusan dipraktekkan dalam bagian pengubahan ini. Pada akhirnya pengudusan menjadi pengubahan. Pada satu aspek, kita berada dalam proses pengudusan, tetapi pada aspek lain, kita juga berada dalam proses pengubahan. Kita berada dalam proses hayat dan praktek hayat agar kita memperoleh hayat Tubuh dan hayat pribadi yang normal. Setiap aspek kehidupan kekristenan dan kehidupan gereja yang tepat tercakup dalam bagian pengubahan ini. Ketika kita dikuduskan, saat itu pula kita diubah dari satu rupa ke rupa yang lain, dari satu corak ke corak yang lain. Puji Tuhan! Kita semua berada di bawah proses hayat pengudusan yang menuju ke praktek hayat pengubahan.
H. PENUTUP — KESEMPURNAAN AKHIR
KESELAMATAN
Bagian terakhir dari surat Roma ialah penutup yang menerangkan kesempurnaan akhir keselamatan (15:14— 16:27). Kesempurnaan akhir keselamatan Allah tak lain ada-lah gereja-gereja bukan hanya Tubuh, melainkan gereja-gereja lokal sebagai perwujudan tubuh tersebut. Haleluya! Surat Roma berawal dengan Injil Allah dan berakhir dengan gereja-gereja lokal. Dalam surat Roma ini kita tidak menjumpai gereja lokal dalam doktrin, melainkan gereja lokal dalam pelaksanaan. Seperti dalam berita-berita yang akan kita lihat nanti, dalam Roma 16 tercatat banyak gereja.
III. SUSUNAN POKOK SURAT ROMA
Dalam susunan pokok surat Roma ini ada tiga hal yaitu: keselamatan, hayat, dan pembangunan.
A. KESELAMATAN
Butir pertama dalam susunan pokok surat Roma adalah keselamatan, tercantum dalam pasal 1:1 — 5:11 dan 9:1 — 11:31.
Keselamatan meliputi perujukan, penebusan, pembenaran, pendamaian, pemilihan, dan penentuan. Pada kekekalan yang lampau Allah telah menentukan kita. Kemudian Ia memanggil kita, menebus kita, membenarkan kita, dan mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri. Demikianlah kita memiliki keselamatan yang sempurna.
Kita perlu membedakan penebusan dengan keselamatan. Penebusan adalah yang dikerjakan Kristus di hadapan Allah; sedang keselamatan adalah yang dikerjakan Allah di atas diri kita berdasarkan penebusan Kristus. Jadi, penebusan bersifat obyektif, sedang keselamatan bersifat subyektif. Ketika penebusan itu menjadi pengalaman kita, penebusan itu menjadi keselamatan kita.
B. HAYAT
Keselamatan adalah untuk hayat. Ini diungkapkan dalam pasal 5:12—8:39. Istilah hayat tercatat sedikitnya tujuh kali dalam bagian ini, dan dalam pasal 8 kita menemukan bahwa hayat itu menjadi empat ganda. Kita akan meninjau hal ini lebih lanjut bila kita tiba pada pasal tersebut.
C. PEMBANGUNAN
Pada bagian terakhir surat Roma, yakni pasal 12:1— 16:27. Kita nampak pembangunan, yakni tubuh bersama segenap ekspresinya dalam gereja lokal. Keselamatan untuk hayat dan hayat untuk pembangunan. Begitulah susunan pokok dari surat Roma, yaitu keselamatan, hayat, dan pembangunan.