← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 16/16

KEBEBASAN ROH ITU DI DALAM ROH KITA (3) III. PENGHUNIAN KRISTUS, ROH ITU

Meski dalam Roma 8:1-6, kita telah nampak jelas tentang kebebasan hukum Roh hayat, namun kita sukar mengetahui inti dari ketujuh ayat berikutnya. Tetapi kalau kita memasuki pikiran bagian ini, kita akan nampak di situ Paulus berusaha memberi tahu kita, bahwa masih ada sesuatu yang berhuni di batin kita selain dosa. Dalam 7:20 Paulus berkata, “Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.” Jadi, Roma 7 menyingkapkan dosa yang berdiam di dalam kita. Kita telah nampak bahwa Roma 8 merupakan suatu perbandingan kontras dengan Roma 7. Dalam Roma 7 ada belenggu, dalam Roma 8 ada kemerdekaan. Dalam Roma 7 ada hukum Taurat, dalam Roma 8 ada Roh itu. Dalam Roma 7 ada daging kita, dalam Roma 8 ada roh kita. Selain itu dalam Roma 7 ada dosa yang berhuni di dalam. Apakah yang berhuni di dalam kita menurut Roma 8? Kristus, Kristus yang berhuni di dalam. Jadi dalam Roma 7 ada dosa yang berhuni di dalam kita, yang menjadi faktor utama segala kejahatan; sedang dalam Roma 8 ada Kristus yang berhuni di dalam kita yang menjadi faktor segala berkat kita.

Kalau Kristus bukan Roh itu, Dia tak mungkin berhuni di dalam kita. Ia harus menjadi Roh itu, agar dapat berhuni di dalam kita. Dalam ayat 9-10 ada tiga buah kata sinonim yang dipakai secara bergantian: “Roh Allah”, “Roh Kristus”, dan “Kristus”. Selain itu dalam ayat 11 dikatakan, “Roh yang tinggal di dalam kamu.” Kata-kata tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa Kristus adalah Roh yang berhuni di dalam kita. Tidak usah diragukan, bahwa “Roh Allah” dalam ayat 9 adalah “Roh hayat” dalam ayat 2. Setelah Paulus mengatakan “Roh Allah”, dikatakannya pula “Roh Kristus” dan “Kristus” sendiri. Kemudian dalam ayat 11 dikatakan tentang Roh yang tinggal di dalam. Jadi, itu berarti Roh Allah ialah Roh Kristus, sedang Roh Kristus adalah Kristus sendiri. Maka Kristus yang ada di dalam kita adalah Roh yang berhuni di dalam. Dialah “Roh hayat”, Dialah “Roh Allah” dan Dia pun “Roh Kristus” yang tinggal di dalam kita, agar Dia dapat mengaruniakan diri-Nya kepada kita sebagai hayat. Kristus tidak hanya mengaruniakan hayat kepada roh kita (ayat 10), Ia pun mengaruniakan hayat kepada pikiran kita (ayat 6), bahkan kepada tubuh kita yang fan (ayat 11). Karena itu, sekarang Kristus adalah hayat di dalam Roh Kudus (ayat 2); adalah hayat di dalam roh kita (ayat 10); adalah hayat di dalam pikiran kita (ayat 6); bahkan adalah hayat di dalam tubuh kita yang fana (ayat 11). Kristus adalah hayat dengan kelimpahan empat ganda.

Walaupun surat Roma ini telah bertahun-tahun lamanya di tangan saya, tetapi baru pada hari-hari terakhir ini terlihat oleh saya bahwa Kristus adalah hayat yang empat ganda. Bagi kita Kristus adalah hayat yang memiliki kelimpahan yang diperkuat empat kali. Dia tidak hanya hayat di dalam Roh ilahi dan di dalam roh insani, tetapi juga sebagai hayat di dalam pikiran, bahkan Dia pun dapat menjadi hayat bagi tubuh kita yang fana ini. Dengan kata lain, Dia kini adalah hayat di dalam Allah pun hayat di dalam umat-Nya. Inilah fokus Roma 8:7-13, yaitu Kristus yang telah menjadi Roh yang berhuni di batin, adalah hayat dengan kelimpahan empat ganda. Dia sungguh limpah. Dia menunjang roh kita, menyuplai pikiran kita, dan menghidupkan kembali tubuh kita yang fana. Hayat yang adalah Kristus sendiri, adalah hayat yang kita nikmati hari ini. Kiranya Tuhan mewahyukan hal ini kepada kita sepenuhnya, bukan hanya secara doktrinal, bahkan dalam pengalaman. Kita semua perlu nampak bahwa Kristus kita telah menjadi Roh yang berhuni di batin, sebagai hayat dengan kelimpahan empat ganda.

A. DAGING

Dalam Roma 8:7 dikatakan, “Sebab meletakkan pikiran di atas daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Tl.). Ayat ini menekankan bahwa daging kita berada dalam suatu keadaan yang tanpa harapan. Jika kita meletakkan pikiran kita di atas daging, maka pikiran itu akan tanpa harapan. Segala perkara yang bersatu dengan daging pasti akan tanpa harapan. Jangan mengira bahwa daging Anda bisa dikuduskan, itu mustahil. Daging adalah daging, ia sama sekali tanpa harapan. Jangan sekali-kali menaruh harapan apa pun terhadap daging Anda. Daging selamanya tidak mungkin diperbaiki. Allah telah memutus-kan bahwa daging harus diakhiri, karena ia telah bejat sama sekali. Allah telah menghukum manusia pada zaman Nuh dengan air bah, sebab manusia pada zaman itu telah menjadi daging (Kej. 6:3). Ketika manusia pada zaman itu menjadi daging, Allah menganggap mereka sudah tidak ada harapan lagi. Allah menganggap mereka tidak bisa diselamatkan, dipulihkan, atau diperbaiki. Allah seolah-olah berkata, “Biarlah zaman itu berlalu! Mereka semua akan Kuletakkan di bawah penghakiman-Ku.” Penghakiman air bah adalah penghakiman atas daging. Allah baru menganggap manusia sebagai daging dan menghukumnya bila manusia sudah berubah menjadi daging. Sebab itu, jangan sekali-kali mengira daging Anda bisa diperbaiki, dan jangan pula mengira daging Anda pada hari ini lebih baik daripada sebelum Anda beroleh selamat. Tak peduli seseorang itu sudah beroleh selamat atau belum, daging tetaplah daging. Daging tidak ada harapan, dan setiap perkara yang bersatu dengan daging juga tidak ada harapan.

Paulus mengatakan, “Meletakkan pikiran di atas daging adalah perseteruan dengan Allah.” Daging adalah seteru Allah, maka meletakkan pikiran di atas daging berarti berseteru dengan Allah. Pikiran yang diletakkan di atas daging tidak dapat mematuhi hukum Allah. Memang pikiran yang demi-kian tidak mungkin takluk kepada hukum Allah, sekalipun ia ingin patuh. Maka keputusan yang dijatuhkan atas daging sudah pasti. Daging sudah tamat. Begitu pula segala sesuatu yang berhubungan dengan daging sudah tamat.

Seiring dengan pemikiran itu dalam ayat 8 Paulus mengatakan, “Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Bila kita hidup dalam daging, kita tidak mungkin diperkenan oleh Allah. Jangan mengatakan daging Anda baik. Dalam ayat 7-8 kita nampak empat hal: Daging berseteru dengan Allah, daging tidak takluk kepada hukum Allah, daging memang tidak mungkin takluk kepada hukum Allah, dan daging tidak dapat diperkenan oleh Allah. Itulah keadaan daging.

B. PENGHUNIAN KRISTUS, ROH ITU

“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (ayat 9). Banyak ayat dalam surat ini diawali dengan istilah “tetapi” yang amat ajaib. Haleluya untuk istilah “tetapi” itu. Dalam sejarah kita, kita perlu banyak “tetapi” seperti itu. Kita harus dapat berkata, “Oh, hari ini aku sangat tertekan, “tetapi” . . . Dalam diriku aku merasa lemah sekali, “tetapi”. . . Aku sama sekali tidak ada harapan, “tetapi”. . .” Paulus berkata, “Tetapi . . . kamu tidak hidup di dalam daging.” Jangan sekali-kali berkata bahwa Anda memiliki daging yang baik, dan Anda hidup di dalam daging yang baik. Kita tidak seharusnya tinggal dan hidup di dalam daging kita, sebab daging kita telah dijatuhi hukuman. Andaikata sebuah rumah sudah disita oleh pemerintah, maka tidaklah sah jika Anda tetap tinggal di rumah itu. Demikian pula, daging dengan mutlak telah dijatuhi hukuman oleh Allah, karena itu kita tidak seharusnya tinggal dan hidup di dalamnya, dengan alasan daging kita telah diperbaiki. Kita tidak seharusnya ada di dalam daging, tetapi harus ada di dalam roh, yakni roh manusia yang berbaur dengan Roh Allah.

1. Penghunian Roh Allah

Kalau kita ingin berada di dalam roh, ada satu syarat, yaitu Roh Allah harus tinggal di dalam kita (ayat 9). Istilah “tinggal” di sini sebenarnya berarti “berumah”. Jika Roh Allah tinggal, yaitu berumah di dalam kita, kita ada di dalam roh. Walaupun Anda telah beroleh selamat, boleh jadi Roh Allah belum berumah di dalam Anda. Itulah sebabnya Anda belum hidup di dalam roh. Sekalipun Roh Allah sudah ada di dalam Anda, namun Ia tidak dapat berumah di dalam Anda. Ia tidak berhuni di dalam Anda. Mungkin Anda mengundang saya ke rumah Anda, tetapi saya tidak dapat berumah di rumah Anda itu. Saya hanya sebagai tamu dan tidak dapat berumah di situ. Begitu pula, Roh Allah memang benar telah ada di dalam Anda, namun Ia tak dapat berumah di dalam Anda, melainkan seperti orang yang bertamu, bukan penghuni rumah itu. Bila Roh Allah dapat berumah di dalam kita, tinggal di dalam kita di tempat yang layak, itu berarti kita sudah hidup di dalam roh, tidak di dalam daging. Sebaliknya, jika Roh Allah tidak mendapat tempat kediaman di dalam kita, kita tetap hidup di dalam daging, bukan di dalam roh.

2. Penghunian Roh Kristus

Ayat 9 mengatakan, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Di sini “Roh Allah” tiba-tiba diganti dengan “Roh Kristus”. Tak seorang pun dapat menyangkal bahwa hal ini menunjukkan “Roh Allah” adalah “Roh Kristus”, dan “Roh Kristus” adalah “Roh Allah”. Kata Paulus, “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Kalau Anda sudah mengetahui bahwa Roh Allah belum berumah di dalam Anda, tidak usah kecewa. Janganlah berkata, “Karena Roh Allah tidak berumah di dalamku, aku menyerah.” Meskipun Roh Allah tidak berumah di dalam Anda, Anda tetap memiliki Roh Allah, yaitu Roh Kristus. Asalkan Anda memiliki Roh Kristus, Anda adalah milik Kristus. Apakah Anda bukan milik Kristus? Kita semua harus mengumumkan, “Haleluya, aku milik Kristus!” Roh Kristus ada di dalam kita, dan kita adalah milik Kristus. Tetapi apakah Roh Allah yaitu Roh Kristus sudah berhuni di batin kita, hal itu ada syaratnya. Roh Kristus harus berumah di dalam kita, Ia harus menduduki seluruh manusia batiniah kita, barulah kita dapat berada di dalam roh.

3. Kristus yang Berhuni

Dalam ayat 10 dikatakan, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Di sini dikatakan bahwa Kristus ada di dalam kita. Dalam ayat 9 dikatakan dulu “Roh Allah” kemudian “Roh Kristus”, sedang dalam ayat 10 adalah “Kristus” sendiri. Ini bukti yang nyata sekali, bahwa “Kristus” adalah “Roh Allah” dan “Roh Kristus”. Hal ini harus kita akui. Kristus sebagai Roh itu ada di dalam kita. Ini adalah suatu hal yang amat besar. Dalam pasal 3, Kristus ada di mana? Dia di atas salib, mencucurkan darah-Nya demi penebusan. Di manakah Ia dalam pasal 4? Ia di dalam kebangkitan. Namun dalam pasal 8, Kristus ada di dalam kita. Dalam pasal 6 kita ada di dalam Kristus, tetapi dalam pasal 8 Kristus ada di dalam kita. Tinggal di dalam Kristus adalah satu aspek, sedang Kristus tinggal di dalam kita adalah aspek lainnya. Pertama, kita berada di dalam Kristus, kemudian Kristus berada di dalam kita (Yoh. 15:4). Tinggalnya kita di dalam Dia membuat Dia tinggal di dalam kita. Berada di dalam Kristus, adalah suatu syarat agar Kristus ada di dalam kita. Puji Tuhan! Kristus ada di dalam kita! Kristus telah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, Dia telah diproses ke dalam kita. Kristus ini harus tinggal dan berumah di dalam kita.

a. Dosa yang Tinggal di dalam Mendatangkan Maut kepada Tubuh

Meskipun Kristus ada di dalam kita, tubuh kita tetap mati karena dosa. Setelah membaca berita-berita yang lalu, yang mengatakan bahwa Allah telah menghukum dosa di dalam daging, mungkin ada orang akan berkata, “Karena Allah telah menjatuhi hukuman atas dosa, tentu dosa tidak dapat berbuat apa-apa lagi, maka tubuh kita pun tidak mati lagi, melainkan sudah hidup.” Ini bukan pemahaman yang tepat dari perkataan Paulus. Meskipun Allah telah menjatuhi hukuman atas dosa di dalam daging, namun dosa masih tinggal di dalam tubuh kita, karena itu tubuh kita tetap mati. Hal ini menimbulkan banyak perdebatan. Ada orang mengatakan, kalau Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa di atas salib, dengan sendirinya dosa telah terhapus, maka orang beriman tidak dapat berbuat dosa lagi. Bahkan ada yang mengatakan, setelah kita beroleh selamat, dosa kita telah terhapus atau dicabut. Orang-orang golongan pencabut dosa mengajarkan bahwa setelah kita beroleh selamat, akar dosa yang di dalam kita itu sudah tercabut. Pengikutpengikut golongan ini percaya bahwa orang yang telah beroleh selamat dosanya telah lenyap.

Lebih dari 40 tahun yang lalu, di Shanghai ada seorang penginjil yang sangat menekankan konsepsi pencabutan dosa ini. Ia mengatakan kepada orang-orang, setelah seseorang beroleh selamat ia tidak dapat berbuat dosa lagi. Pada suatu hari penginjil itu mengajak beberapa pemuda asuhannya mengunjungi sebuah taman di Shanghai. Untuk memasuki taman itu harus membeli karcis. Penginjil itu hanya membeli 3 atau 4 lembar karcis untuk 5 orang. Kemudian apa yang diperbuatnya? Pertama yang masuk hanya sebagian saja, setelah itu salah seorang keluar lagi dengan membawa karcis itu dan memberikannya kepada kawan yang menunggu di luar, sampai akhirnya semuanya dapat masuk ke dalam taman itu. Dengan cara berdosa penginjil itu memasukkan keempat muridnya yang masih muda ke dalam taman tersebut. Melihat kelakuan yang demikian, salah seorang pemuda di antaranya mulai meragukan ajaran pencabutan dosa penginjil itu. Dalam batin ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang kau lakukan? Engkau mengatakan dosa telah lenyap dari dirimu. Apakah artinya perbuatanmu itu?” Akhirnya pemuda itu mencari si penginjil dan berkata, “Bukankah itu perbuatan dosa?” Penginjil menjawab, “Tidak, itu bukan dosa, itu hanya suatu kelemahan kecil saja.” Dosa adalah dosa, entah Anda sebut dengan istilah apa. Meskipun Anda bisa menyebutnya dengan istilah lain, dosa tetap adalah dosa. Jangan mau menerima ajaran yang mengatakan kita sudah menjadi kudus dan rohani, tidak mungkin berdosa lagi. Jika kita menerima ajaran itu, kita akan tertipu, dan akibatnya akan menyedihkan.

Memang benar, Tuhan Yesus di atas salib telah merampungkan segalanya, tetapi semua hasil karya-Nya baru dapat kita wujudkan bila kita telah hidup di dalam Roh itu. Pada faktanya kita semua telah tercakup di dalam segala sesuatu yang dilaksanakan Kristus di atas salib. Kita telah menikmati dan mengambil bagian dalam semua hal yang dirampungkan Kristus di atas salib. Itu suatu fakta mulia. Namun kita masih perlu mengalaminya. Walaupun dosa yang ada di dalam daging kita telah dibereskan sepenuhnya oleh salib Kristus, akan tetapi bagaimana fakta itu menjadi pengalaman kita? Jalannya hanya satu, yaitu di dalam Roh itu. Roh Kristus bersifat almuhit. Segala hakiki Kristus, perbuatan Kristus, yang diperoleh Kristus, dan yang dicapai Kristus ada di dalam Roh almuhit itu. Jadi bila kita ingin mengalami segala sesuatu yang kita miliki di dalam Kristus, kita harus hidup di dalam Roh itu secara riil dan nyata. Roh almuhit itulah yang menyalurkan segala sesuatu yang ada dalam Kristus ke dalam diri kita.

Kita tidak bisa meninggalkan Roh itu. Dari hari ke hari, dari jam ke jam, dan bahkan dari saat ke saat, kita harus berada di dalam Roh itu. Jangan berkata, “Kemarin malam aku menempuh waktu yang indah sekali bersama Tuhan. Sekarang aku merasa lebih suci daripada malaikat dan segala persoalanku telah lewat.” Meskipun Anda semalam telah mendapatkan pengalaman yang sedemikian indahnya, tetapi bila Anda tidak terus tinggal di dalam Roh almuhit itu, Anda akan jatuh terperosok bagaikan ke dalam neraka. Jangan pula berkata bahwa Anda telah nampak visi dan mendapat wahyu atau pengalaman rohani khusus, lalu mengira Anda sudah suci tanpa persoalan apa-apa lagi. Bila Anda berkata demikian, tak lama kemudian Anda akan menyadari betapa celakanya diri Anda.

Lambang Roh yang terbaik ialah “udara”. Kita perlu menghirup udara setiap saat. Kita tidak dapat berkata, “Pagi ini aku telah menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sekarang aku sudah dipenuhi dengan udara segar, maka aku tidak perlu menghirup udara lagi.” Anda sekali-kali tidak dapat berhenti bernafas, Anda pun tidak mungkin meninggalkan udara. Jangan mengira karena Anda telah dipenuhi udara satu kali, lalu Anda tidak perlu menghirupnya lagi. Kalau Anda menghentikan nafas Anda 5 menit saja, Anda akan mati. Mengalami Roh hayat serupa dengan bernafas. Kita perlu bernafas dari saat ke saat. Kita harus tinggal di dalam Roh pemberi-hayat, karena begitu kita terpisah dengan-Nya, kita akan mati. Jangan berkata Anda sudah kawakan dan sangat mahir. Anda perlu senantiasa baru dan segar. Saya tidak peduli berapa lama saya sudah beroleh selamat, atau sudah mengalami kelimpahan Tuhan. Saya hanya memperhatikan satu hal, yaitu sekarang ini saya berada di dalam Roh itu. Saya harus berada di dalam Roh itu dengan segar dan terus-menerus. Roh pemberi-hayat seperti udara yang perlu kita hirup tanpa henti.

b. Kristus yang Berhuni Membawakan Hayat kepada Roh Kita

Sungguhpun Kristus telah berada di dalam kita, tubuh kita tetap mati karena dosa. Dosa yang menghuni di dalam telah mendatangkan maut bagi tubuh kita. Tetapi kita tidak usah merasa risau terhadap tubuh kita yang mati ini, sebab roh kita yang telah dilahirkan kembali itu adalah hayat karena kebenaran. Kristus yang berhuni di dalam kita demi kebenaran membawakan hayat kepada roh kita. Kebenaran itu ialah kebenaran Allah, yakni Kristus. Kristus pada mulanya adalah kebenaran kita, kemudian, Ia pun menjadi hayat kita. Ketika si anak hilang itu kembali kepada bapanya, ia tak layak duduk bersama bapanya dan makan daging lembu tambun itu, sebab ia belum mengenakan jubah yang pantas, yaitu jubah yang terbaik. Jubah itu melambangkan Kristus kebenaran Allah, yang menjadi penutup kita, agar kita layak duduk bersama Bapa dan menikmati Kristus sebagai hayat. Pertama-tama kita harus memiliki Kristus sebagai kebenaran kita. Setelah itu, di bawah kebenaran ini, yakni “jubah” kebenaran itu, barulah kita layak menikmati Kristus sebagai hayat kita. Asalkan Kristus ada di dalam roh kita, maka roh kita adalah hayat karena Kristus sebagai kebenaran kita. Kini tidak saja Roh Allah sebagai hayat bahkan roh kita yang telah dilahirkan kembali itu adalah hayat. Roh itu yang adalah Kristus sendiri, kini di dalam roh kita ada-lah hayat. Karena itu, roh kita menjadi hayat. Penghunian Kristus membawakan hayat kepada roh kita.

C. PENYALURAN HAYAT

Ayat 11 mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Dalam ayat ini, yang dimaksud Roh ialah Roh kebangkitan. Kita telah nampak bahwa roh kita ialah hayat (ayat 10), dan pikiran kita pun hayat (ayat 6). Kini kita tiba pada bagian terakhir diri kita tubuh yang fana. Tubuh kita sedang mati. Namun hayat pun dikaruniakan kepada tubuh kita yang fana dan sedang mati. Demi Roh-Nya yang tinggal di dalam kita, tubuh kita dapat mengambil bagian dalam hayat ini; ditunjang dengan hayat ini dan disuplai oleh hayat ini. Tak perlu diragukan, Roh yang tinggal di dalam kita adalah Kristus yang telah bangkit (1Kor. 15:45; 2Kor. 3:17). Kristus sebagai Roh yang tinggal di dalam senantiasa mengaruniakan hayat ke setiap bagian dari diri kita.

Satu perumpamaan yang sangat baik mengenai hal ini ialah listrik. Meskipun suatu instalasi listrik telah dipasang di sebuah bangunan, namun arus listriknya bisa saja tertutup. Kristus sebagai Roh pemberi-hayat telah terpasang di dalam diri kita, seperti listrik surgawi. Akan tetapi dalam manusia kita hanya terdapat tempat yang kecil yang dapat dilalui-Nya dengan bebas, sedang sebagian besar tempat lainnya masih tidak terbuka bagi-Nya, malah sebaliknya, merintangi-Nya. Misalkan emosi Anda, mungkin sekali menjadi suatu rintangan bagi Kristus. Sebab itu Kristus sukar menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam emosi Anda. Anda perlu berdoa demikian, “Tuhan, tanggulangilah emosi ku. Hancurkan emosiku agar Dikau dapat menyalurkan diri-Mu sebagai hayat ke dalamku.” Kita perlu pengalaman demikian. Jangan menganggap hal ini sebagai teori atau ajaran. Hal ini harus dipraktekkan. Jika Anda mempraktekkannya, Anda pasti mengalami betapa sekarang Kristus di dalam roh Anda ialah hayat, sedang menunggu kesempatan untuk memperluaskan diri-Nya hingga mencapai setiap bagian dan pelosok diri Anda. Ia sedang menanti untuk meresapi bagian-bagian Anda yang tersembunyi. Bila Anda terbuka kepada-Nya, Ia bahkan akan mengaruniakan diri-Nya sebagai hayat ke dalam tubuh Anda yang fana, supaya Anda menjadi orang yang dipenuhi dengan segala kelimpahan hayat-Nya. Di dalam Anda, Ia akan menjadi hayat yang empat ganda, yang menghidupkan roh, pikiran, dan tubuh Anda.

D. KERJASAMA KITA

Ayat 12 mengatakan, “Jadi, Saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Ayat ini juga membuktikan setelah kita beroleh selamat, kita masih mungkin hidup menurut daging. Kalau tidak, mengapa Paulus mengingatkan kita bahwa kita bukan berhutang kepada daging? Kita perlu berkata, “Haleluya! Aku bukan berhutang kepada daging. Aku tidak berhutang apa-apa kepadanya. Aku tidak perlu menurutinya. Aku telah meninggalkannya dan telah bebas. Aku telah dibebaskan dari daging yang tidak ada harapan itu. Aku bukan berhutang kepada daging untuk hidup menuruti daging lagi.”

1. Dengan Tidak Hidup Menurut Daging

Paulus meneruskan, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (8:13). Kata “kamu” di sini sudah tentu ditujukan kepada orang yang telah beroleh selamat. Karena itu, ayat ini sekali lagi membuktikan bahwa setiap orang yang telah beroleh selamat masih mungkin hidup menurut daging. Jika kita hidup menurut daging, kita akan mati. Tentu, itu bukan kematian jasmani, melainkan yang rohani. Jadi, jika Anda hidup menurut daging, Anda akan mati dalam roh. Akan tetapi, jika Anda demi Roh mematikan perbuatan-perbuatan tubuh Anda, yakni menyalibkannya, Anda akan hidup. Itu berarti Anda harus hidup di dalam roh. Ayat ini berhu-bungan dengan ayat 6, yang mengatakan, “meletakkan pikiran di atas daging itulah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh, adalah hidup (Tl.).” Hidup menurut daging berarti meletakkan pikiran di atas daging; demikian juga, meletak-kan pikiran di atas daging terutama berarti hidup menurut daging. Untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, kita perlu meletakkan pikiran di atas roh dan hidup menurut roh.

Misalnya, seorang saudari pergi berbelanja. Di sebuah toko ia nampak suatu barang seharga US $ 12,99. Saudari ini beralasan dengan dirinya sendiri, “Setiap bulan aku mendapatkan US $ 1,200. Membeli pakaian seharga US $ 12,99 tidak berarti apa-apa. Tuhan tidak miskin. Dia kaya. Minggu lalu aku mempersembahkan US $ 250 untuk pembangunan balai sidang. Apa salahnya memakai US $ 12,99? Tuhan pasti murah hati.” Semakin beralasan, ia makin mati. Ketika ia berpikir demikian, rohnya menjadi tertekan. Ia ingin menghibur dirinya dengan berkata, “Aku tak usah terlalu fanatik. Apa yang kulakukan itu tidak salah.” Namun, semakin ia ingin mempertahankan rohnya, rohnya semakin tenggelam. Ketika ia menghadiri sidang, apa yang dapat ia lakukan hanyalah memelihara suatu tata cara, dan berusaha menjaga dirinya agar tampak seperti rohaniwan. Walau ia berseru, “Haleluya!” seruannya tanpa hayat dan hampa. Itulah tandanya bahwa rohnya telah mati. Sekalipun ia sedang mengalami kematian di dalam rohnya, ia tidak segera bertobat. Minggu berikutnya, ia berpikir apakah pakaian itu masih dapat dibelinya. Pada akhirnya, ia membelinya dan membawanya pulang. Pada saat ini, ia tidak saja telah mati, bahkan rohnya telah dimasukkan ke dalam peti, dan siap untuk dimakamkan. Ketika ia menghadiri sidang, ia tidak berdaya mengatakan haleluya lagi, kendatipun hanya tata cara saja. Ia menghadiri sidang, namun ia duduk seperti sesosok mayat. Seorang penatua berkata kepada seseorang, “Apa yang terjadi pada saudari itu? Dua bulan yang lalu ia sangat lincah, mengapa sekarang menjadi begitu? Apakah terjadi suatu problem dalam pernikahannya?” Bukan problem besar seperti masalah pernikahan yang menyebabkannya masuk ke dalam peti. Urusan kecil seperti membeli pakaian seharga US $ 12,99 dapat membuat rohnya terbunuh. Ia berhenti dalam keadaan demikian, sampai pada suatu hari ia bertobat karena belas kasih Tuhan.

Anda wajib memeriksa pengalaman Anda sendiri. Bila Anda memikirkan suatu perkara, dalam roh Anda tidak ada perhentian, hendaklah Anda hentikan pikiran itu. Palingkan pikiran Anda dari perkara yang membuat roh Anda gelisah. Bila Anda beralasan dan Anda merasa hampa dalam roh, berhentilah beralasan, dan alihkanlah pikiran Anda ke dalam roh. Anda perlu berkata, “Oh, Tuhan Yesus, tolonglah aku. Tuhan, lepaskanlah pikiranku dari pertimbangan yang mematikan aku.” Kalau Anda berbuat demikian, roh Anda akan segera menjadi tenang, terhibur, puas, dan kuat. Asalkan batin Anda merasa sentosa, terhibur, dan puas, itu menandakan pikiran Anda berada di tempat yang benar. Tetapi jika Anda merasa tidak sentosa, tidak terhibur, dan tidak puas, malah sebaliknya merasa kelam, hampa, dan gelisah, itu menandakan bahwa pikiran Anda terarah kepada maut. Dalam keadaan demikian, Anda perlu memalingkan pikiran Anda ke roh.

Dalam Roma 8 kita tidak menjumpai ajaran. Kita hanya diberi tahu bahwa kita wajib hidup menurut roh. Bagaimanakah kita dapat hidup menurut roh? Dengan memperhatikan pikiran kita, yaitu senantiasa meletakkannya pada arah yang benar. Jangan mengarahkan pikiran ke luar, tetapi ke dalam. Jangan mengarahkan pikiran pada perkara belanja yang di luar, tetapi pada roh yang di dalam. Jika Anda menaruh pikiran Anda di atas roh, Anda akan hidup menurut roh. Demikianlah kita menikmati Kristus, dan mengambil bagian sepenuhnya dalam Roh yang almuhit itu. Dengan otomatis dan tak terasa kita sudah dapat memenuhi tuntutan kebenaran dari hukum Taurat Allah (ayat 4). Hari demi hari kita akan menikmati Kristus sebagai hayat kita yang empat ganda. Jadi, hal yang patut kita lakukan ialah memperhatikan pikiran kita. Di mana pikiran Anda berada? Ke mana pula arah pikiran Anda itu? Kita perlu berkata, “Tuhan, belaskasihanilah aku dan berilah kasih karunia, agar aku dapat selalu mengalihkan pikiranku ke arah-Mu, dan meletakkannya di atas roh.”

2. Dengan Mematikan Perbuatan-perbuatan Tubuh

Ketika kita meletakkan pikiran di atas roh, daging kita akan dimatikan. Melalui meletakkan pikiran di atas roh, kita akan mematikan segala perbuatan tubuh kita. Itulah yang disebut “menyalibkan daging” (Gal. 5:24). Pada saat kita hendak berbelanja, baru saja kita mengangkat kaki hendak berjalan, roh kita segera berkata, “Berhentilah di persimpangan jalan.” Itulah yang dimaksud dengan mematikan atau menyalibkan perbuatan tubuh. Akhirnya kita akan mengalami kematian Kristus. Pengalaman disalib bersama Kristus yang sesungguhnya dihasilkan dari mematikan perbuatan tubuh oleh Roh. Hal itu tidak bisa dialami sekali untuk selamanya, melainkan suatu latihan yang terus-menerus, hari lepas hari. Setiap perbuatan tubuh kita perlu dimatikan demi memalingkan pikiran kita kepada roh dan meletakkannya di atas roh. Itulah caranya untuk “hidup menurut roh” (ayat 4).

Istilah “hidup” mencakup seluruh kehidupan kita, apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan, dan ke mana kita pergi. Ketika kita terus-menerus meletakkan pikiran kita di atas roh, seluruh hidup kita akan menurut roh. Kehidupan demikian dapat juga kita sebut kehidupan yang kudus, kehidupan yang menang, atau kehidupan yang mulia. Tidak peduli apa sebutannya, itu adalah ekspresi Kristus yang berhuni di batin kita sebagai hayat kita yang empat ganda. Itulah pengalaman yang perlu kita miliki dalam kehidupan gereja.

?