← Daftar isi Keluaran (9) · bab 19/20

MEZBAH UKUPAN EMAS (5)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 30:6-10, 26-28; 40:5, 26-27; Mzm. 84:3; 141:2; Why. 8:3-6

KRISTUS YANG BERDOA SYAFAAT

Lambang terdalam di antara lambang-lambang dalam Perjanjian Lama boleh jadi adalah mezbah ukupan dalam Keluaran 30. Jika kita memperhatikan lambang ini secara dangkal pun, kita akan melihat bahwa lambang ini berkaitan dengan doa. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, ukupan yang dipersembahkan kepada Allah menunjukkan doa kita kepada-Nya. Karena itu, dalam pembacaan Alkitab kita, kita dapat memahami bahwa mezbah pembakaran ukupan emas tentu berkaitan dengan doa. Jika kita membahas masalah ini lebih mendalam, kita akan melihat bahwa sebenarnya mezbah ukupan tidak ditujukan kepada doa kita, melainkan ditujukan kepada doa Kristus, karena mezbah itu sendiri merupakan lambang dari persona Kristus. Mezbah ukupan melambangkan diri Kristus, Persona itu, bukan doa-Nya. Mezbah ukupan menunjukkan Kristus yang berdoa, Kristus yang berdoa syafaat.

Kristus yang individual, setelah kebangkitan-Nya, terutama setelah keterangkatan-Nya, menjadi korporat. Jadi, hari ini di hadapan Allah bukan hanya Kristus yang individu yang berdoa syafaat, tetapi Kristus yang korporat, Kepala dengan Tubuh, juga syafaat. Kristus Sang Kepala berdoa syafaat di surga, sedang gereja berdoa syafaat di bumi. Karena itu, yang berdoa syafaat bukan hanya Kristus sendiri, melainkan Kristus dengan Tubuh-Nya. Jika kita menyadari hal ini, kita akan melihat bahwa apa yang dilambangkan oleh mezbah ukupan adalah perkara yang sangat dalam.

SATU KONSEPSI YANG DALAM

Jika Anda memeriksa gambaran yang tercetak dalam berita ke-147, Anda akan melihat bahwa mezbah ukupan terletak di bagian dalam Kemah Suci. Mezbah yang pertama, mezbah kurban bakaran, terletak di sebelah luar Kemah Suci, di pelataran luar. Makna mezbah ukupan lebih dalam daripada mezbah kurban bakaran. Seperti yang telah kita tunjukkan, Kemah Suci dengan jelas dan tegas menunjukkan diri Allah sendiri yang ke dalam-Nya kita bisa masuk. Selanjutnya, karena mezbah ukupan berada di dalam Kemah Suci, maka siapa saja yang akan berdoa di mezbah ukupan haruslah berada di dalam Kemah Suci. Konsepsi di sini sangat dalam. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa makna mezbah ukupan sangatlah dalam. Dalam berita ini kita akan mencoba membahas beberapa rincian berkaitan dengan kedalaman makna mezbah ini.

Dalam Kemah Suci dan pelataran luar ada dua buah mezbah: mezbah kurban bakaran dan mezbah ukupan emas. Mezbah ukupan di dalam Kemah Suci adalah untuk berdoa, sedang mezbah kurban bakaran di pelataran luar adalah untuk mempersembahkan kurban.

Andaikata seorang berdosa datang mempersembahkan kurban penghapus dosa atau kurban penebus salah di mezbah di pelataran luar, tidakkah orang ini akan berdoa? Ya, sudah pasti ia akan berdoa. Akan tetapi, jenis doa itu, yakni doa di pelataran luar, bersifat dangkal, karena dipersembahkan di luar Allah. Doa ini bukanlah doa yang dipersembahkan di dalam Allah. Hari ini banyak orang Kristen hanya tahu mengucapkan doa yang dangkal ini. Mereka hanya tahu berdoa di atas dasar darah Kristus yang tertumpah di atas salib. Tidak banyak orang Kristen yang mengetahui bagaimana mengucapkan doa yang dipersembahkan di mezbah ukupan.

Permintaan atau syarat mendasar yang diperlukan untuk berdoa di mezbah pertama adalah kita mempersembahkan Kristus sebagai pengganti kita, baik sebagai kurban penghapus dosa untuk dosa-dosa kita maupun sebagai kurban penebus salah untuk segala pelanggaran kita. Ini berarti kita berdoa berdasarkan Dia sebagai Sang tersalib yang menumpahkan darah-Nya untuk penebusan kita. Jika doa kita tidak lebih maju lagi dari ini, kita dapat berdoa kepada Allah, tetapi kita tidak berdoa di dalam Allah. Berdoa kepada Allah merupakan satu hal, tetapi berdoa di dalam Allah merupakan hal yang lebih dalam. Ini merupakan suatu hal yang sangat penting, kita semua perlu melihatnya.

Saya berharap dalam berita ini kita bisa melihat sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang merupakan pengalaman. Saya tidak ingin membahas mezbah ukupan hanya secara doktrinal saja. Berita ini bukan semata-mata merupakan suatu studi Alkitab yang membahas Keluaran 30. Karena itu, saya berharap Tuhan akan menunjukkan kepada kita sesuatu yang lebih dalam yang berhubungan dengan mezbah ukupan emas.

Semasa muda, saya pernah menghadiri Gereja Baptis Selatan, Gereja Presbiterian China, dan perkumpulan Kaum Saudara. Selama bertahun-tahun saya pergi ke tiga tempat tersebut, saya mendengar banyak doa yang diakhiri dengan kata-kata, “oleh darah adi Tuhan Yesus”. Namun, saya tidak pernah mengingat telah mendengar satu doa yang diakhiri dengan kata-kata, “Dalam nama Tuhan Yesus.” Doa-doa yang demikian itu dipersembahkan di pelataran luar, bukan di mezbah ukupan, karena mereka yang berdoa sedemikian ini, sangat dangkal dalam kehidupan doa mereka. Mereka tidak masuk ke dalam hayat yang lebih dalam atau hayat batini. Berdoa demi darah Kristus yang disalibkan adalah sangat dangkal, tetapi berdoa di mezbah ukupan adalah dalam.

DARAH DAN API

Mezbah ukupan berhubungan dengan mezbah kurban bakaran terutama melalui darah kurban penghapus dosa. Mula-mula darah kurban penghapus dosa teralir di mezbah yang di pelataran luar. Kemudian darah itu dibawa ke mezbah ukupan dan dipercikkan ke atasnya. Sisa darah dituangkan di dasar mezbah kurban bakaran. Karena itu, darah penebusan mempersatukan kedua mezbah. Ini menyatakan bahwa doa yang dipersembahkan kepada Allah di mezbah ukupan seharusnya berdasarkan pengalaman di mezbah yang pertama. Begitu kita mempunyai pengalaman mezbah yang pertama, kita akan mempunyai dasar, standar, kedudukan untuk masuk ke mezbah yang kedua untuk berdoa.

Kedua mezbah juga dihubungkan oleh api. Api yang menyala di mezbah pelataran luar dipakai untuk membakar ukupan di mezbah pembakaran ukupan dalam Kemah Suci. Karena itu, kedua mezbah dipersatukan melalui darah maupun api. Darah menunjukkan bahwa dosa serta pelanggaran-pelanggaran kita semua telah dibereskan. Dosa telah diangkut dan pelanggaran-pelanggaran telah dipikul. Darah memberikan kita jaminan ini. Mengenai hal ini, tak ada sedikit pun yang perlu kita kerjakan. Darah telah menyelesaikan problem dosa serta pelanggaran-pelanggaran.

DIKURANGI HINGGA MENJADI ABU

Akan tetapi, apakah makna dari api? Api menyatakan bahwa apa saja adanya kita ini perlu dikurangi hingga menjadi abu. Kita perlu dibakar sehingga kita menjadi abu. Orang-orang Kristen tertentu, khususnya kita yang ada di dalam pemulihan Tuhan, sering membicarakan tentang menjadi alamiah. Hanya ada satu cara supaya kita tidak alamiah, yaitu kita dibakar hingga menjadi abu. Jika Anda belum dibakar, Anda masih tetap alamiah. Misalnya Anda mempunyai sebuah meja kayu terletak di depan Anda. Meja ini berada dalam bentuk alamiah. Namun, kalau meja ini dibakar hingga menjadi seonggok abu, ia tidak alamiah lagi. Ini menggambarkan satu fakta: ketika sesuatu dibakar hingga menjadi abu, ia tidak lagi alamiah.

Saya tidak berdasarkan diri saya sendiri berkata dengan seenaknya bahwa semua orang beriman dalam Kristus perlu menjadi abu. Ini adalah keinginan Tuhan, bukan keinginan saya. Ada orang begitu mendengar bahwa Tuhan Yesus menghendaki kita dibakar hingga menjadi abu, mungkin akan berkata, “Kristuslah yang dikurangi hingga menjadi abu oleh pembakaran. Api di atas mezbah membakar-Nya; api itu bukan untuk membakar kita.” Kita perlu ingat, menurut perlambangan, orang yang mempersembahkan kurban harus menumpangkan tangannya ke atas kurban persembahan, jadi ia menyatukan dirinya dengan kurban persembahan itu. Ini berarti kurban persembahan itu mencakup orang yang mempersembahkannya. Ketika Kristus mati di atas salib, kita mati di dalam-Nya, karena kita tercakup di dalam-Nya. Sedikitnya kita bisa berkata, ketika kita percaya kepada-Nya, kita menumpangkan tangan kita ke atas diri-Nya. Percaya Kristus adalah menumpangkan tangan kita ke atas diri-Nya. Oleh karena kita bersatu dengan Kristus yang telah terbakar hingga menjadi abu, kita juga terbakar menjadi abu.

Ada orang mungkin akan bertanya, “Kalau kita dibakar hingga menjadi abu, bagaimana kita bisa hidup?” Paulus memberi jawabannya dalam Galatia 2:19b, 20: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kematian Kristus mendatangkan kebangkitan. Sekarang kita di dalam Kristus adalah di dalam kebangkitan, dan bukan lagi kita yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Namun, bagi kebanyak-an orang Kristen, Galatia 2:19b, 20 hanya suatu doktrin saja. Mereka tidak mempunyai banyak pengalaman tentang ini dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berita-berita yang lalu, kita telah menunjukkan bahwa melalui kurban penghapus dosa, kita dapat melihat tiga hal: darah, abu, dan bau-bauan harum yang naik ke hadapan Allah. Darah dan abu berhubungan dengan kita, dan bau-bauan harum adalah untuk kepuasan Allah. Puji Tuhan! Hari ini kita mempunyai darah sebagai tanda dan jaminan bahwa dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita sudah ditanggulangi. Kita juga mempunyai abu sebagai tanda bahwa kita sudah disalibkan, sudah ditamatkan. Ketika kita menjadi abu, kita tidak lagi orang yang alamiah. Kita adalah orang yang telah disalibkan, ditamatkan, dibakar. Kita tidak lagi orang yang alamiah, kita telah menjadi seonggok abu. Namun, bagi kebanyakan orang, kebenaran ini hanya suatu doktrin, mereka belum mempunyai pengalaman yang riil. Sebab itu kita perlu maju selangkah untuk mendapatkan pengalaman yang sejati tentang dikurangi hingga menjadi abu.

Sayang sekali banyak orang Kristen hanya mengetahui darah telah dicucurkan di atas salib. Mereka tidak menyadari bahwa di atas salib juga ada api. Di atas diri kaum beriman itu hanya ada darah, tetapi tidak ada abu. Mereka tetap alamiah, belum terbakar. Mereka benar-benar belum menjadi abu. Bagaimana kaum beriman semacam ini bisa berdoa di mezbah ukupan dari emas yang di dalam Kemah Suci? Jawabannya ialah mereka tak mungkin bisa berdoa di sana.

Ketika kita percaya Tuhan Yesus dan mengakui dosa kita kepada Allah, kita berdoa kepada Allah. Namun, kita berdoa di mezbah yang pertama dengan cara yang dangkal. Karena kita hanya berdoa untuk diri kita, doa semacam ini tidak bisa dihitung sebagai doa syafaat. Ini adalah doa pribadi untuk situasi kita; ini bukan doa syafaat untuk orang lain. Doa syafaat tidak bisa dilakukan di mezbah yang pertama; itu perlu dilakukan di mezbah yang kedua. Namun, siapa yang bisa berdoa di mezbah yang kedua? Mereka yang berdoa di mezbah yang kedua, pertama-tama harus dibakar hingga menjadi abu; mereka harus tidak lagi orang yang alamiah. Setiap orang yang akan berdoa di mezbah ukupan harus menjadi seonggok abu.

Kalau kita masuk ke dalam Kemah Pertemuan, kita tidak bisa langsung menuju ke mezbah ukupan. Sudah kita jelaskan, pertama-tama kita harus pergi ke meja roti sajian, kemudian datang ke kaki pelita, lalu ke depan kesak-sian yang ada di dalam tempat maha kudus. Setelah itu barulah kita siap untuk datang berdoa syafaat di mezbah ukupan.

KELAKUAN, PANDANGAN, DAN KEBAJIKAN KITA

Kelakuan kita berlawanan dengan Kristus sebagai hayat (roti di meja roti sajian). Pandangan kita berlawanan dengan Kristus sebagai terang kita (kaki pelita). Kebajikan kita berlawanan dengan Kristus sebagai ukupan yang dipersembahkan kepada Allah (mezbah ukupan). Kelakuan, pandangan, dan kebajikan kita sama dengan orang alamiah kita, yang berlawanan dengan Kristus sebagai kesaksian Allah (tabut). Kalau kita telah menjadi seonggok abu, apakah kita masih mempunyai kelakuan alamiah, pandangan alamiah, dan kebajikan alamiah? Tentu tidak. Seonggok abu tidak mempunyai kelakuan, pandangan, atau kebajikan apa pun. Apa yang dipunyai oleh seonggok abu? Seonggok abu tak mempunyai apa-apa. Dikurangi hingga menjadi abu adalah dikurangi sampai tidak mempunyai apa-apa, dikurangi hingga menjadi nol.

Selama kita menganggap diri kita mempunyai sesuatu dan menghitung kita sebagai sesuatu, kita tidak di dalam kemah, malahan di luar Kemah Suci. Apakah Anda ingat Kemah Suci menandakan apa? Kemah Suci menandakan Allah yang berinkarnasi. Jadi berada di dalam Kemah Suci adalah berada di dalam Allah. Sekarang kita harus mengetahui, syarat untuk di dalam Allah adalah menjadi tidak mempunyai apa-apa. Kita bisa di dalam Allah bila kita telah menjadi nol. Sebab itu, saya ingin menegaskan kenyataan ini, kalau kita terus-menerus menganggap kita mempunyai sesuatu, kita tidak di dalam Allah. Namun, ketika kita menjadi tidak mempunyai apa-apa, kita bersyarat berada di dalam Allah.

Bagaimana kita mengetahui bahwa kita masih adalah sesuatu dan kita belum menjadi tidak mempunyai apa-apa? Kita bisa mengetahuinya melalui kenyataan bahwa kita masih mempunyai kelakuan alamiah, pandangan alamiah, dan kebajikan alamiah. Misalnya, seorang saudara mungkin berpikir dirinya sangat baik dan menyenangkan. Khususnya saudara yang sudah menikah, mungkin menganggap dirinya lebih menyenangkan daripada istrinya. Namun, orang yang berdoa syafaat di mezbah ukupan yang di dalam Kemah Suci, tidak berpikir demikian tentang dirinya. Orang yang berdoa di dalam Kemah Suci di mezbah ukupan adalah or-ang yang menjadi abu. Ini berarti dia tidak lagi mempunyai kebajikan alamiah. Kelakuan alamiahnya, pandangan alamiahnya dan kebajikan alamiahnya telah menjadi abu.

Kalau kita masih mempunyai kelakuan, perilaku alamiah, kita tidak bisa menikmati Kristus sebagai roti kita. Kita tidak bisa menikmati Dia sebagai suplai hayat kita. Saya jamin apa yang saya katakan bukan doktrin belaka, ini saya dapatkan melalui pengalaman. Dari pengalaman saya mengetahui, kapan kala saya tetap mempertahankan kelakuan alamiah, saya tidak dapat menikmati Kristus sebagai suplai hayat saya. Dari pengalaman saya juga telah belajar, kalau saya masih merasa bahwa saya mempunyai pandangan saya, pendapat saya, pengetahuan saya tentang sesuatu, saya ti-dak mempunyai Kristus sebagai terang saya. Saya tidak dapat mengalami Dia sebagai kaki pelita saya. Hanya ketika saya tidak lagi mempunyai pandangan alamiah apa pun, barulah saya dapat mengalami Kristus sebagai kaki pelita saya.

Sering kali pertanyaan yang diajukan kepada kita berhubungan dengan pandangan, pendapat, dan pengetahuan alamiah kita. Misalnya, Anda datang kepada saya bertanya tentang seorang saudara atau suatu gereja, pertanyaan Anda akan menguji saya, dan jawaban saya akan menyatakan apakah saya masih mempunyai pandangan alamiah. Kalau saya mempertahankan pandangan, pendapat, dan pengetahuan saya, Kristus tidak akan menjadi kaki pelita saya. Namun, kalau saya tidak mempunyai pandangan atau pendapat alamiah, Kristus akan menjadi kaki pelita yang riil dalam pengalaman saya. Dia akan menjadi terang saya. Saya akan mendapatkan terang ilahi. Saya akan mempunyai terang rohani, dan terang ini tak lain adalah Kristus sendiri.

Terlalu sering kita menurut pandangan alamiah menilai saudara atau gereja. Mungkin juga kita adakalanya memandang urusan tidak menurut pandangan alamiah kita, tetapi dengan Kristus sebagai terang kita. Orang yang ber-doa, bersyafaat di mezbah yang kedua, adalah orang yang mempunyai terang rohani menggantikan terang alamiahnya. Lagi pula, setiap orang yang berdoa syafaat di mezbah ukupan, memiliki Kristus sebagai ukupannya. Ia tidak lagi mempunyai kebajikan alamiahnya. Bagi orang semacam ini, Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah suplai hayatnya agar ia memiliki kelakuan yang tepat, Kristus adalah terangnya untuk pandangan yang sejati, dan Kristus adalah kebajikan baginya untuk memiliki bau-bauan wangi membubung ke hadapan Allah. Inilah orang yang dapat berdoa di mezbah ukupan.

Tak satu pun yang kita doakan di mezbah pertama, mezbah kurban bakaran di pelataran luar, yang bisa menjadi doa syafaat. Namun, apa saja yang kita doakan di mezbah kedua, mezbah ukupan dari emas di dalam Kemah Suci, adalah doa syafaat. Di mezbah kedua, kita tidak terlalu banyak berdoa untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, kita berdoa untuk ekonomi Allah, berdoa untuk penyaluran Allah, berdoa untuk pergerakan Allah, berdoa untuk pemulihan Allah, dan berdoa untuk gereja-gereja serta kaum beriman. Kita dengan sendirinya berdoa syafaat secara demikian.

Ketika kita berdoa di mezbah yang pertama, sukar sekali untuk berdoa secara demikian, kita sulit tidak diduduki oleh diri kita atau situasi kita. Namun, ketika kita berdoa di mezbah yang kedua, sulit sekali kita diduduki oleh diri kita sendiri. Karena orang yang berdoa di mezbah ukupan terlebih dulu harus menjadi abu, maka doa yang dipanjatkan tidak melibatkan dirinya lagi. Untuk berdoa syafaat di mezbah yang kedua, pertama-tama kita perlu dikurangi sampai tidak mempunyai apa-apa. Sebaliknya, orang yang berdoa di mezbah yang pertama, sering berseru kepada Allah bagi dirinya. Mereka mungkin berseru kepada Tuhan untuk mendapat belas kasihan-Nya, dan memohon Allah membantu mereka menyelesaikan berbagai masalah mereka. Ketika berdoa di mezbah yang pertama, sulit sekali berada di luar diri sendiri. Orang yang berdoa di mezbah pertama penuh dengan dirinya sendiri. Akan tetapi, ketika kita datang ke mezbah yang kedua, kita telah melewati salib, meja roti sajian, kaki pelita, dan tabut. Karena kita telah mengalami meja roti sajian, kita tidak lagi mempunyai kelakuan alamiah. Kita mempunyai Kristus sebagai suplai hayat kita. Karena kita telah datang ke kaki pelita, kita tidak lagi mempunyai pandangan alamiah, sebaliknya kita mempunyai Kristus sebagai terang kita.

Sekarang kita harus melihat apa yang kita alami ketika kita datang ke tabut. Tabut melambangkan Kristus sebagai kesaksian Allah, yang berlawanan dengan apa adanya alamiah kita. Apa adanya kita dilambangkan oleh tabir penyekat tempat kudus dengan tempat maha kudus. Kita perlu ingat benar-benar bahwa tabir adalah apa adanya alamiah kita, dan tabir ini berlawanan dengan tabut. Apa adanya kita terdiri atas kelakuan, pandangan, dan kebajikan kita. Apa adanya alamiah ini adalah tabir yang berlawanan dengan Kristus yang sebagai kesaksian Allah.

Dulu, tahukah Anda bahwa tabir yang menutupi tabut berlawanan dengan tabut, dan melambangkan apa adanya alamiah kita? Di sini kita mempunyai empat hal: Kelakuan alamiah, pandangan alamiah, kebajikan alamiah, dan apa adanya alamiah kita yang terdiri dari ketiga hal ini.

Misalnya, ada seorang saudara yang kelakuannya seperti ksatria; ia sungguh adalah seorang suami yang baik, seorang ayah yang baik. Lagi pula ia mempunyai pandangan alamiah dan kelihatannya mempunyai pengetahuan yang luas. Ia juga mempunyai banyak kebajikan. Banyak orang akan menganggap dia adalah seorang Kristen yang luar biasa, karena ia mempunyai banyak kelakuan baik, pandangan yang baik, dan kebajikan. Namun, orang Kristen macam ini seluruhnya alamiah; ia hidup berdasarkan apa adanya yang alamiah. Hasilnya, ia tidak dapat masuk ke dalam Kemah Suci untuk berdoa di mezbah ukupan. Sepanjang ia menganggap dirinya sebagai orang baik, ia berjauhan dengan Kemah Suci. Ia pasti tidak di dalam Allah. Setelah lewat pengalaman bertahun-tahun, barulah saya mengetahui hal ini. Saya tidak bisa menyampaikan berita ini pada 30 tahun yang lalu, karena pada saat itu apa yang saya pelajari dari pengalaman masih kurang memadai. Pelajaran yang telah saya pelajari tentang mezbah ukupan hanya doktrin belaka. Seperti telah saya nyatakan, saya tidak berminat hanya membicarakan mezbah ukupan secara doktrin. Beban saya adalah melihat pengalaman yang dilambangkan oleh mezbah ukupan.

Apa yang dilambangkan oleh mezbah ukupan sangatlah dalam. Ini menyatakan kalau kita berdoa syafaat di mezbah ukupan, kita harus menjadi abu; kita harus menjadi tidak mempunyai apa-apa. Kalau kita telah menjadi abu, kita tidak akan mempunyai kelakuan alamiah, pandangan alamiah, atau kebajikan alamiah. Kita tidak mempunyai kelakuan alamiah untuk menggantikan Kristus sebagai suplai hayat; kita tidak mempunyai pandangan alamiah untuk menggantikan Kristus sebagai terang kita; dan kita tidak mempunyai kebajikan alamiah untuk menggantikan Kristus sebagai ukupan kita. Ini berarti, kita tidak alamiah lagi. Sebab itu, atas diri kita tidak seharusnya ada tabir. Sebagai ganti tabir, kita mempunyai tabut, Kristus sebagai kesaksian Allah. Hasilnya, kita akan bersyarat berdoa syafaat di mezbah ukupan. Setelah melewati setiap pos di Kemah Suci, kita dapat berdoa, berdoa syafaat di mezbah ukupan emas.