← Daftar isi Keluaran (9) · bab 1/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:1-14; 40:12-15; Im. 8:1-9, 12-17

Dalam berita ini kita sampai pada bagian lain dari Kitab Keluaran. Kita telah membahas Kemah Suci (Pertemuan) dengan perabotannya juga jubah imam. Ketika umat Allah berkumpul di Gunung Sinai, Musa menerima wahyu tentang Kemah Suci dan rancangan perabotan Kemah Suci. Orang Israel harus mendirikan sebuah tempat kediaman, tempat yang kudus bagi TUHAN untuk berdiam di antara mereka, dan bagi umat-Nya untuk melayani Dia. Setelah itu, Kitab Keluaran mencatat penjelasan tentang jubah imam.

Dalam Alkitab, jubah menandakan kehidupan kita, tingkah laku, tindak tanduk, dan karakter kita. Ini menunjukkan bahwa mengenai para imam, orang-orang yang melayani Allah, Kitab Keluaran pertama-tama memperhatikan tingkah laku lahiriah mereka yang dilambangkan oleh jubah imam. Sekarang, dalam pasal 29 kita memiliki bagian yang berhubungan dengan pengudusan Harun dan anakanaknya untuk menjadi imam.

MENGISI TANGAN KITA YANG KOSONG

Orang yang membaca Keluaran 29 dapat dengan mudah terkesan oleh apa yang sering disebut pentahbisan imam. Kelihatannya pasal ini berkenaan dengan pentahbisan, karena di sini kita melihat bahwa imam dan jubah-Nya telah siap dan perlu ditahbiskan. Beberapa terjemahan menggunakan kata “ordinasi” sebagai pengganti kata “pentahbisan”. Terjemahan ini berdasarkan praktek pentahbisan yang tradisional dan agamis. Sebenarnya, tidak ada dasar bagi terjemahan ini. Ayat 9 mengatakan, “Kau ikatkanlah ikat pinggang kepada mereka, kepada Harun dan anak-anaknya, dan kaulilitkanlah destar itu kepada kepala mereka, maka merekalah yang akan memegang jabatan imam; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Demikianlah engkau harus mentahbiskan Harun dan anak-anaknya.” Dalam bahasa Ibrani pentahbisan Harun berarti “memenuhi tangan”. Kata pentahbisan maupun ordinasi tidaklah akurat. Karena itu, saya lebih baik tidak menggunakan kata pentahbisan yang ada dalam ayat 9. Apa yang dikatakan di sini ialah tentang memenuhi tangan imam. Karena tangan mereka kosong, maka tangan mereka perlu dipenuhi. Ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa melayani Allah dengan tangan kosong. Jika kita mau melayani Allah, tangan kita harus dipenuhi dengan Kristus. Jadi, menguduskan imam, mentahbiskan imam (jika kita ingin menggunakan kata ini), berarti memenuhi tangan imam. Tangan imam yang melayani Tuhan harus dipenuhi dengan Kristus.

Dalam Keluaran 29:1 digunakan kata menguduskan, “Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela.” Menguduskan sesuatu sama sekali berbeda dengan mentahbiskan atau mempersembahkannya. Menguduskan berarti memisahkan sesuatu. Sebagai contoh, dalam suatu kumpulan ternak ada banyak lembu, namun salah satu lembu dari kumpulan ternak tersebut dipisahkan. Alhasil, lembu itu dikuduskan. Selain itu, ketika seekor binatang dipisahkan dari kumpulan atau kawanan, boleh jadi binatang itu diberi tanda untuk menunjukkan bahwa binatang itu telah dipisahkan. Jadi, menguduskan berarti memisahkan sesuatu dengan tanda tertentu.

Dulu kita berada di antara orang berdosa di dunia ini. Namun, suatu hari Tuhan memisahkan kita. Karunia ke-selamatan adalah perkara yang almuhit, di dalamnya tercakup perihal pemisahan. Suatu hari Tuhan Yesus datang untuk memisahkan kita, yaitu menyelamatkan kita. Ia memisahkan kita dari antara orang-orang berdosa. Diselamatkan dan dipisahkan dengan cara demikian berarti dikuduskan.

Pengudusan Tuhan selalu memberi kita tanda, memeterai kita. Kita memiliki tanda yang menunjukkan bahwa kita telah beroleh selamat, dikuduskan, dan dipisahkan bagi Allah. Tahukah Anda tanda apakah yang memisahkan kita? Tanda ini ialah Kristus sendiri.

Ketika kita berada di antara orang-orang berdosa, kita ini kosong. Bukan hanya tangan kita yang kosong, bahkan seluruh diri kita kosong. Ketika kita beroleh selamat, Kristus masuk ke dalam kita dan menjadi meterai yang memisahkan kita dari orang-orang berdosa. Sejak saat itulah kita memiliki sesuatu di dalam kita, yaitu sesuatu di tangan kita, yang dengannya kita melayani Allah. Namun, banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini. Tidak ada yang memberi tahu kepada mereka bahwa mereka memiliki Kristus untuk memenuhi tangan mereka. Namun, sejak kita beroleh selamat, kita telah memiliki Kristus.

Karena kita memiliki Kristus, kita tidak boleh dengan hampa tangan datang ke hadapan Allah. Sebaliknya, kita harus selalu datang ke hadapan-Nya bersama Kristus. Inilah sebabnya mengapa kita berdoa dan bersidang dalam nama Tuhan Yesus. Bersidang dalam nama Tuhan ialah bersidang bersama-Nya. Jadi, orang-orang Yahudi, yang berdoa kepada Allah tanpa berdoa dalam nama Tuhan Yesus, berarti berdoa dengan hampa tangan. Berbeda dengan doa kita, yaitu doa dalam nama Tuhan Yesus, yang berarti ber-doa kepada Allah dengan tangan terpenuhi.

Sekarang, kita dapat memahami bahwa persembahan dalam Keluaran 29 berarti memenuhi tangan kita. Persembahan yang sejati ialah memenuhi kekosongan kita dengan Kristus. Ini juga berarti pengudusan. Bila kita menghadiri sidang, kita harus memiliki sesuatu dari Kristus untuk kita persembahkan kepada Allah. Kita tidak boleh menghadiri sidang dengan hampa tangan. Hampa tangan dalam sidang berarti dihukum. Kita semua harus menjadi imam-imam yang tangannya terpenuhi dengan Kristus.

KURBAN PENGHAPUS DOSA

Harun, imam besar, mengalami Paskah di Mesir. Berhubungan dengan pemenuhan kekosongan tangan Harun, kurban penghapus dosa adalah kurban pertama yang dipersembahkan kepada Allah. Apakah ini bukan pengulangan Paskah? Bukankah Paskah meliputi kurban penghapus dosa? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Kita semua mengalami Paskah ketika kita beroleh selamat. Jika demikian, mengapa kita masih memerlukan kurban penghapus dosa? Mengapa dalam pemenuhan kekosongan tangan para imam masih diperlukan kurban penghapus dosa? Ketika kita beroleh selamat dan mengalami Paskah, dosa-dosa kita telah diampuni. Namun, bila kita datang ke hadapan Tuhan, kita masih memerlukan kurban penghapus dosa. Tidak peduli berapa lama kita telah beroleh selamat, kapan saja kita datang untuk melayani Allah, kita masih memerlukan kurban penghapus dosa, karena kita masih hidup di dalam daging, yaitu dalam ciptaan lama. Melayani Allah sebagai imam memerlukan kurban penghapus dosa. Bahkan berkontak dengan Tuhan selama munajad pagi pun memerlukan kurban penghapus dosa. Melayani Tuhan sebagai imam adalah suatu hal besar, sedangkan berkontak dengan-Nya dalam munajad pagi termasuk hal yang kecil, namun kedua hal tersebut memerlukan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah.

TANDA PEMISAHAN

Mempersembahkan seseorang untuk menjadi imam Allah berarti menguduskannya, dan menguduskannya berarti memisahkannya. Agar seseorang dapat terpisah untuk melayani Allah sebagai imam, tangannya harus dipenuhi. Pemenuhan tangan ini menjadi tanda yang memisahkannya dari segala sesuatu yang awam. Jika saya memiliki sesuatu dari Kristus yang memenuhi tangan saya, ini menunjukkan bahwa saya telah dipisahkan. Siapa saja yang memiliki Kristus dalam tangannya untuk memenuhi kekosongannya, berarti ia telah dipisahkan, dikuduskan.

Tidak hanya kurang akurat menggunakan kata “pentahbisan” dalam ayat 9, namun juga kurang sesuai, karena ini agak menghalangi pengertian yang tepat tentang apa yang tercatat dalam pasal ini. Bila kita membaca kata “pentahbisan”, boleh jadi secara otomatis kita berpikir tentang mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Namun sebagaimana telah kita tunjukkan, makna “pentahbisan” di sini ialah memiliki Kristus yang memenuhi kekosongan kita. Di dalam diri kita sendiri, kita adalah hampa tangan. Sekarang, hampa tangan kita perlu dipenuhi dengan Kristus. Tangan kita terpenuhi oleh Kristus bukan hanya merupakan masalah pentahbisan, melainkan juga pengudusan, pemisahan kita, yaitu membuat kita berbeda dengan orang lain.

Jika tangan kita terpenuhi dengan Kristus, maka keluarga kita, tetangga kita, atau teman sejawat kita, akan menemukan bahwa kita berbeda dengan mereka. Namun, jika keadaan kita awam, tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, maka kita bukanlah imam. Yang membuat kita berbeda dengan orang lain ialah karena kita memiliki Kristus yang memenuhi tangan kita. Di mana saja kita berada, baik itu di sekolah, di tempat kerja, maupun di rumah, kita perlu memiliki tangan yang penuh dengan Kristus. Dipenuhi dengan Kristus akan menimbulkan tanda yang memisahkan kita dari orang-orang biasa. Orang lain akan menemukan bahwa kita berbeda. Mereka masih hampa tangan, namun tangan kita penuh dengan Kristus. Memiliki tangan yang penuh dengan Kristus ialah dikuduskan untuk menjadi imam.

DIPISAHKAN UNTUK MELAYANI ALLAH

SEBAGAI IMAM

Ketika saya masih muda, saya mempelajari perkara jabatan imam yang umum dari guru-guru Kaum Saudara. Kaum Saudara menentang sistem paderi-awam. Sebelum mereka muncul seratus enam puluh tahun yang lalu (sekitar tahun 1820-an.), julukan paderi dan kaum awam berlaku di antara orang Kristen. Pada saat itu Kaum Saudara mulai menentang sistem ini dan bersaksi bahwa hal ini keliru. Mereka mengatakan bahwa menurut Perjanjian Baru, semua orang beriman adalah imam-imam. Karena ajaran ini benar, maka saya menerimanya dan menyampaikannya kepada orang lain. Namun, saya tidak tahu bagaimana umat Allah dapat dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam.

Meskipun Harun dan anak-anaknya adalah umat Allah, namun mereka masih perlu dikuduskan. Apa yang dilakukan terhadap mereka dalam Keluaran 29, tidaklah diterapkan pada orang yang tidak percaya, orang Mesir. Karena mereka berada di antara umat Allah, maka Harun dan anak-anaknya mengalami Paskah, bahkan ketika mereka masih di Mesir. Namun mereka masih perlu dipisahkan, yaitu dikuduskan, untuk melayani Allah sebagai imam. Menurut ayat 9, jabatan imam menjadi milik mereka selama-lamanya. Apa yang menguduskan Harun dan anak-anaknya, dan apa yang menyebabkan mereka berbeda dengan orang lain? Yang menguduskan mereka dari orang Israel ialah terpenuhinya tangan mereka dengan semua kurban yang berlimpah. Pemenuhan ini menguduskan mereka, yaitu memisahkan mereka, dan menjadi tanda pemisahan dan pengudusan. Ya, memang kita semua telah beroleh selamat, namun kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah tangan kita telah terpenuhi dengan Kristus atau belum.

Lama saya tidak tahu bagaimana cara menjadi seorang imam. Setelah melalui tahun-tahun kegelapan, berangsur-angsur saya menyadari bahwa untuk melayani Allah sebagai imam, tangan kita harus terisi dengan Kristus. Puji Tuhan, saya tidak lagi berada dalam kegelapan! Sekarang saya melihat bahwa melalui terisinya tangan kita dengan Kristus, kita telah terpisah untuk melayani Allah sebagai imam-imam-Nya.

Kita semua dianjurkan agar berfungsi di dalam sidang. Tetapi masalahnya ialah bagaimana cara berfungsi. Beberapa orang mungkin berfungsi dengan hanya berkata, “Puji Tuhan!” Namun, jika fungsi seseorang hanya demikian saja untuk sejangka waktu lamanya, ia tidak akan memperoleh rasa nikmat lagi ketika menyatakan kata-kata ini dalam sidang. Demikian pula dengan hanya mengatakan, “Oh Tuhan! Amin! Haleluya!” Agar dapat berfungsi dengan tepat di dalam sidang, tangan kita perlu dipenuhi dengan Kristus.

Kita semua perlu melihat apa yang dimaksud dengan dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam. Masalah pemisahan ini bukan terjadi karena tindakan atau aktivitas dari pihak kita, melainkan karena tangan kita telah terpenuhi dengan Kristus sebagai kurban. Pemenuhan kekosongan tangan kita dengan Kristus inilah yang dimaksud dengan pemisahan kita, dan pemisahan ini memisahkan kita untuk menjadi imam-imam Allah.

Siapakah yang memisahkan kita sehingga kita dapat menjadi imam-imam Allah? Sang Pemisah ini tak lain ialah Kristus. Namun, Kristus yang memisahkan kita ini bukanlah Kristus yang doktrinal semata; Ia adalah Kristus yang kita alami sebagai kurban yang memenuhi tangan kita. Jika kita memahami hal ini, kita memiliki dasar yang benar untuk membahas penjelasan yang rinci tentang pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam.

PERLUNYA DIBASUH

Supaya tangan kita terpenuhi dengan Kristus, kita perlu dibasuh. Keluaran 29:4 berkata, “Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan, dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.” Apa yang kita perlukan untuk memenuhi tangan kita tidak dapat kita peroleh jika kita belum dibasuh. Karena itu, kita perlu dibasuh. Orang yang kotor tidak dapat melayani Allah sebagai imam. Karena alasan inilah, Harun dan anak-anaknya perlu dibawa ke pintu Kemah Pertemuan dan dibasuh dengan air.

Pembasuhan Harun dan anak-anaknya dengan air ini melambangkan pembasuhan atas hati nurani yang jahat dengan air di dalam firman (Ibr. 10:22; Yoh. 15:3; lihat Ef. 5:26). Dalam Yohanes 15:3, Tuhan Yesus berkata, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Dalam Efesus 5:26, Paulus berkata, “Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman” (Tl.). Bagi kita, air yang membasuh kita ialah firman Allah. Dalam Yohanes 14, 15, dan 16, kita melihat pengudusan para imam. Dalam pasal-pasal ini Tuhan Yesus menguduskan murid-murid-Nya untuk menjadi imam. Pengudusan itu dimulai dengan pembasuhan oleh firman, sebab Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa mereka bersih karena firman-Nya. Demikian pula dengan Efesus 5:26. Dengan air dalam firmanlah kita dikuduskan dan dibasuh.

MENGENAKAN PAKAIAN IMAM

Ayat 5 sampai 9 menunjukkan bahwa setelah Harun dan anak-anaknya dibasuh, mereka dikenakan pakaian imam. Pertama-tama Harun dipakaikan kemeja, gamis baju efod, efod, dan tutup dada. Kemudian padanya dikebatkan sabuk baju efod, setelah itu ditaruh serban pada kepalanya, dan pada serban tersebut dibubuhkan jamang. Jamang ini berbentuk seperti mahkota; jamang ini adalah kembang dari pakaian imamnya. Begitu Harun mengenakan pakaian sedemikian, pakaian ini baginya menjadi suatu ekspresi yang lengkap dan yang sempurna, penuh dengan keindahan dan kemuliaan.

MAKANAN ADALAH HAL YANG PALING TIDAK BOLEH KURANG

Jika Harun telah sejangka waktu lamanya berdiri di dekat Kemah Suci dengan berpakaian imam, mungkin ia akan berkata, “Aku lapar. Secara lahiriah aku berpakaian rapi. Ketelanjanganku telah tertutupi, dan aku telah mengenakan pakaian imam yang menunjukkan keindahan dan kemuliaan. Namun, aku masih memerlukan sesuatu untuk merawat diriku dan mengenyangkan laparku.” Ini berarti selain pakaian, para imam masih memerlukan kurban-kurban. Kurban-kurban itu akan menjadi makanan mereka. Selain dibasuh dan diberi pakaian, para imam memerlukan perawatan batiniah, yaitu penguatan batiniah.

Bila kita memperhatikan gambaran tentang pembasuhan dan pemberian pakaian kepada para imam, kita akan menyadari bahwa makanan adalah hal yang paling tidak boleh kurang. Dari berita sebelumnya kita telah melihat bahwa pakaian imam melambangkan Kristus. Mempelajari pakaian ini merupakan cara yang terbaik untuk mempelajari persona Kristus. Bahkan dalam Perjanjian Baru pun kita tidak memiliki catatan yang jelas, kaya, dan dalam mengenai hal-hal yang rinci tentang persona Kristus seperti yang terdapat dalam Kitab Keluaran berkenaan dengan pakaian imam. Namun, pakaian ini hanyalah untuk ekspresi dan keindahan lahiriah saja. Pakaian ini tidak bisa memenuhi keperluan batiniah untuk perawatan.

Kisah tentang anak hilang yang pulang ke rumah menggambarkan perlunya pakaian maupun makanan. Anak yang hilang itu memutuskan untuk pulang ke rumah karena merasa lapar dan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Ia pulang bukan untuk memperoleh pakaian bagi ekspresi dan keindahan luaran. Namun, sebelum memberi dia makan, pertama-tama ayahnya memberi dia pakaian. Menurut Lukas 15:22, ayahnya berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya.” Ketika jubah itu dikenakan padanya, mungkin anak itu berkata kepada dirinya sendiri, “Aku masih lapar. Jubah ini mungkin sangat penting bagi ayahku, tetapi tidak penting bagiku. Aku pulang karena aku memerlukan sesuatu untuk dimakan.” Setelah menyuruh hamba-hambanya mengenakan jubah yang terbaik pada anaknya, barulah sang ayah berkata, “Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita” (Luk. 15:23). Yang membuat orang yang lapar bersukacita bukanlah pakaian, melainkan anak lembu tambun.

Jika Harun diberi pakaian dan bukan makanan, ia pasti akan merasa lapar. Mungkin ia akan berkata, “Secara lahiriah, segala sesuatunya baik, indah, dan mulia. Namun bagaimana dengan rasa laparku! Batinku masih kosong.” Gambaran tentang Harun yang telah diberi pakaian imam namun masih memerlukan makanan ini menunjukkan bahwa kita memerlukan Kristus untuk menjadi ekspresi dan kemuliaan lahiriah, dan bahkan menjadi makanan dan kekuatan batiniah kita. Kita memerlukan Dia untuk menjadi makanan kita! Karena alasan inilah, maka dalam Keluaran 28 kita memiliki pakaian untuk para imam, sedang dalam pasal 29 kita memiliki makanan untuk para imam. Jika sebagai umat Allah kita dikuduskan untuk menjadi imam-imam yang melayani-Nya, maka kita memerlukan baik pakaian yang di luar maupun makanan yang di dalam. Pakaian dan makanan inilah yang memenuhi kehampaan kita.

KEHAMPAAN KITA DENGAN KRISTUS

Sekarang kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan pemenuhan kehampaan kita dengan Kristus. Ada kehampaan yang batiniah dan kehampaan yang lahiriah. Kehampaan lahiriah merupakan masalah ketelanjangan, sedangkan kehampaan batiniah merupakan masalah kelaparan. Untuk bisa hidup, kita harus memecahkan problem ketelanjangan yang di luar dan kelaparan yang di dalam ini. Jadi, untuk mempertahankan kehidupan manusia, makanan dan pakaian mutlak tidak boleh kurang. Keperluan ini, di samping tempat tinggal dan transportasi, merupakan aspek dasar dari kehidupan kita. Memperoleh penghasilan berarti memperoleh apa yang kita perlukan untuk menjamin bahwa kita memiliki pakaian, makanan, tempat tinggal, dan transportasi. Dalam Alkitab, yang ditekankan bukanlah tempat tinggal dan transportasi, melainkan pakaian dan makanan. Bila kita memiliki Kristus sebagai pakaian kita, kita juga memiliki-Nya sebagai tempat tinggal kita, karena pakaian kita adalah tempat tinggal kita. Lagi pula, kita boleh mengatakan bahwa Roh itu ialah transportasi kita. Namun, dalam berita ini kita membahas tentang pakaian dan makanan. Secara lahiriah kita harus memiliki pakaian, sedangkan secara batiniah kita harus memiliki makanan.

Baik pakaian maupun makanan yang kita perlukan itu adalah Kristus. Ini juga digambarkan oleh perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15. Jubah terbaik yang dikenakan pada anak itu ialah Kristus, dan anak lembu tambun yang disembelih untuknya juga Kristus. Jubah terbaik itu ialah Kristus sebagai pakaian kita, sedangkan anak lembu tambun tersebut ialah Kristus sebagai makanan kita. Puji Tuhan, bila kita mengenakan jubah terbaik dan menikmati anak lembu tambun itu, kita dipenuhi dan dikuduskan! Kita dikuduskan oleh Allah Bapa untuk menjadi imam-imam-Nya dengan Kristus sebagai meterai kekudusan kita. Kristus yang memenuhi kehampaan kita ialah Dia yang memisahkan kita dari hal-hal awam. Haleluya, kehampaan kita sepenuhnya terisi dengan Kristus! Kita tidak lagi telanjang dan lapar. Kehampaan lahiriah kita telah terpenuhi oleh Kristus sebagai pakaian kita, dan kehampaan batiniah kita telah terpenuhi oleh Kristus sebagai makanan kita.