← Daftar isi 1 Petrus (2) · bab 7/11

PENGHAKIMAN PEMERINTAHAN ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:17; 2:23; 4:5-6, 12, 17-19

PEMIKIRAN DASARDALAM TULISAN-TULISAN PETRUS

Dalam berita ini dan berita-berita selanjutnya kita akan melihat dengan teliti semua perkara dalam pasal 1—4 sehubungan dengan penghakiman pemerintahan Allah. Konsepsi tentang penghakiman pemerintahan Allah adalah satu pemikiran dasar dalam tulisan Petrus ini. Penghakiman Allah, seperti yang terlihat dalam Surat 1Petrus, dapat disamakan dengan poros sebuah roda. Jika poros itu ditarik dari roda, semua rujinya akan berantakan. Demikian juga, jika pemikiran tentang penghakiman Allah dihapus dari Kitab 1 dan 2Petrus, surat-surat ini akan kehilangan struktur dasarnya.

Banyak orang Kristen yang membaca surat ini kurang memperhatikan perkara penghakiman pemerintahan Allah. Sebagian besar pembaca memperhatikan hal-hal selain penghakiman Allah karena daya pikir mereka belum dilatih untuk berkonsentrasi pada pokok ini dalam firman Allah. Akan tetapi, John Nelson Darby adalah satu perkecualian. Dalam tulisannya tentang Surat 1 dan 2Petrus, dia memusatkan perhatiannya pada penghakiman pemerintahan Allah. Kita memperhatikan atau tidak perkara ini dalam Surat Petrus tergantung pada apakah kita mempunyai satu pikiran yang terlatih untuk memperhatikan hal semacam ini.

Bertahun-tahun yang lalu, beberapa orang dari kami bersekutu mengenai pokok bahasan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kita semua tahu bahwa kitab Matius membicarakan tentang Kerajaan Allah; Kitab Markus membicarakan tentang melayani Allah; Kitab Lukas membicarakan tentang penyelamatan Allah, dan Kitab Yohanes membicarakan tentang hayat. Ketika seseorang bertanya tentang pokok Surat Petrus, di luar dugaan saya, Saudara Watchman Nee berkata bahwa kedua kitab ini membahas tentang pemerintahan Allah. Sejak saat itu saya mulai memikirkan apakah pemerintahan Allah itu. Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Bukankah kerajaan dalam Kitab Matius adalah pemerintahan Allah? Apakah perbedaan antara Kerajaan Allah dengan pemerintahan Allah?” Lambat laun saya mulai mengerti perbedaan antara kerajaan dengan pemerintahan.

Memang, dalam Surat 1 dan 2Petrus kita tidak dapat menemukan kata “pemerintahan”. Tetapi dalam kedua kitab ini kita nampak cara Allah melaksanakan pemerintahan-Nya. Cara Allah melaksanakan pemerintahan-Nya adalah dengan penghakiman. Akhirnya, setelah penghakiman Allah selesai, akan ada langit baru dan bumi baru di mana kebenaran ada di dalamnya. Langit baru dan bumi baru adalah perampungan sempurna Surat 1 dan 2Petrus. Kita semua perlu nampak hal ini.

Seperti yang telah kita tunjukkan, pada awal Surat 1Petrus ada perkataan mengenai pengenalan dini Allah sebelum dunia dijadikan, yaitu dalam kekekalan yang lampau. Dalam pasal terakhir Surat 2Petrus ada perkataan mengenai langit baru dan bumi baru dalam kekekalan yang akan datang. Ini berarti jangkauan kedua surat ini meliputi kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang. Kedua kitab ini berakhir dengan langit baru dan bumi baru dengan kebenaran sebagai isinya. Hal ini berhubungan dengan pemerintahan Allah.

Penghakiman Allah mulai dilaksanakan dalam Perjanjian Lama dan terus-menerus dilaksanakan dari generasi ke generasi. Hari ini Allah masih menghakimi. Dalam Perjanjian Baru kita nampak bahwa penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri dan diakhiri dengan pembakaran langit lama dan bumi lama. Pembakaran itu adalah langkah terakhir penghakiman Allah. Bila langkah terakhir penghakiman ini telah selesai, langit baru dan bumi baru akan muncul. Ini berarti bila Allah telah dengan sepenuhnya membersihkan alam semesta melalui penghakiman, akan ada sebuah langit baru dan bumi baru di mana kebenaran ada di dalamnya. Ini adalah satu perkara dari penghakiman pemerintahan Allah.

Beban saya adalah semua orang beriman, khususnya yang masih muda, mempunyai satu pengertian yang jelas tentang Surat 1 dan 2Petrus. Khususnya, kita perlu nampak bahwa pokok kedua kitab ini adalah pemerintahan Allah dilaksanakan melalui penghakiman-Nya.

PENGHAKIMAN SEHARI-HARI

DARI PEMERINTAHAN ALLAH

Satu Petrus 1:17 mengatakan, “Dan jika kamu menyebutnya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Petrus “tidak berbicara tentang penghakiman akhir atas manusia; maksudnya, Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak (Yoh. 5:22). Yang dibicarakan di sini adalah penghakiman sehari-hari dari pemerintahan Allah di dunia ini, yang dilaksanakan terhadap anak-anak-Nya. Karena itu, di sini dikatakan ‘selama kamu menumpang di dunia ini’” (Darby). Inilah penghakiman Allah atas keluarga-Nya sendiri (1Ptr. 4:17).

Karena kedua surat ini menyinggung tentang pemerintahan Allah, maka penghakiman Allah dan Tuhan disebut berkali-kali (2:23; 4:5-6, 17; 2Ptr. 2:3-4, 9; 3:7) sebagai salah satu dari hal utama. Penghakiman Allah mulai dari malaikat-malaikat (2Ptr. 2:3-4) dan berlangsung terus melewati angkatan demi angkatan manusia dalam Perjanjian Lama (2Ptr. 2:5-9). Dalam zaman Perjanjian Baru, penghakiman Allah dimulai dari rumah Allah (ayat 17; 2:23; 4:6, 17) dan berlangsung sampai datangnya hari Tuhan (2Ptr. 3:10), yang akan menjadi hari penghakiman atas orang Yahudi, orang beriman, dan orang kafir sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, semua yang mati, termasuk manusia dan roh-roh, akan dihakimi dan akan binasa (1Ptr. 4:5; 2Ptr. 3:7), dan langit serta bumi akan dihanguskan oleh api (2Ptr. 3:10b, 12). Hasil dari berbagai penghakiman itu tidak sama. Ada penghakiman yang mengakibatkan penanggulangan pendisiplinan, ada yang mengakibatkan peng-hukuman sezaman (dispensasional), dan ada yang mengaki-batkan kebinasaan kekal. Bagaimanapun, Tuhan Allah akan membersihkan dan memurnikan alam semesta dengan semua penghakiman itu, agar Dia bisa memiliki langit baru dan bumi baru yang menjadi alam semesta baru yang penuh dengan kebenaran-Nya (2Ptr. 3:13) bagi perkenan-Nya.

“Ketakutan” yang dibicarakan dalam 1:17 adalah semacam rasa takut yang kudus, seperti “takut dan gentar” dalam Filipi 2:12; yaitu kewaspadaan yang serius dan sehat, yang membawa kita kepada perilaku yang kudus. Rasa takut semacam ini disebutkan beberapa kali dalam kitab ini, karena ajaran kitab ini menyinggung tentang pemerintahan Allah.

Kita perlu memiliki kesan yang mendalam terhadap fakta perbedaan penghakiman Allah secara zaman. Ada penghakiman yang berbeda untuk kasus yang berbeda, dan penghakiman itu memiliki akibat yang berbeda. Penting untuk kita sadari bahwa penghakiman dalam 1:17, dengan kata-kata Darby bukanlah “penghakiman akhir terhadap manusia”. Seperti diwahyukan dalam Yohanes 5:22 bahwa penghakiman telah diserahkan kepada Putra. Apa yang kita miliki dalam 1:17 adalah penghakiman sehari-hari dari pemerintahan Allah di dunia ini, penghakiman yang dilaksanakan atas anak-anak-Nya. Ini bukan penghakiman terakhir pada takhta putih, tetapi penghakiman sehari-hari Allah di dunia. Penghakiman sehari-hari Allah ini tidak dilaksanakan atas orang-orang berdosa yang jatuh, melainkan dilaksanakan atas anak-anak Allah.

Orang yang menentang pengajaran dari firman ini berkata, “Bagaimana mungkin kita, anak-anak Allah dalam anugerah, dihakimi oleh Allah? Allah adalah Bapa kita, dan Dia mengasihi kita dan memberi kita anugerah. Bagaimana Dia dapat melakukan sesuatu untuk menghakimi kita?” Karena kebenaran penghakiman Allah ditentang sedemikian, maka saya berbeban agar kita semua memegang pemikiran yang murni tentang hal ini yang terdapat dalam Alkitab. Hari ini kita semua berada di bawah penghakiman Allah. Allah tidak hanya merahmati kita, memberi kita anugerah, Dia juga menghakimi kita. Inilah sebabnya kita mengalami banyak penderitaan. Kita mengalami penderitaan-penderitaan karena Allah menghakimi kita. Di satu pihak, Allah memberi karunia kepada kita untuk menempuh hidup yang sesuai dengan kebenaran-Nya di bawah pemerintahan-Nya. Di pihak lain, Dia menghakimi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pemerintahan-Nya. Karena itu, dalam zaman ini kita, kaum beriman, berada di bawah penghakiman sehari-hari dari Allah.

Darby menunjukkan bahwa karena penghakiman dalam 1:17 adalah penghakiman sehari-hari dari pemerintahan Allah dan dilaksanakan atas anak-anak-Nya, ayat ini berbicara tentang menempuh hidup pengembaraan kita dengan takut. Penghakiman semacam ini dilaksanakan atas kita, anak-anak Allah, ketika kita menumpang di bumi. Sebab itu, penghakiman ini bukanlah yang akan datang; ini adalah penghakiman yang kita alami hari ini. Yohanes 5:22 membicarakan tentang penghakiman kekal, untuk menghakimi orang-orang yang tidak percaya pada takhta putih. Tetapi penghakiman di sini adalah penghakiman Allah yang sekarang atas anak-anak-Nya, bukan atas orang-orang yang tidak percaya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah menghakimi malaikat-malaikat yang jatuh, Dia menghakimi bumi pada zaman Nuh, Dia juga menghakimi Kota Sodom dan Gomora. Kemudian Dia menghakimi bani Israel di padang gurun. Kita telah nampak bahwa dalam Perjanjian Baru penghakiman Allah dimulai dari rumah Allah. Ini berarti bahwa penghakiman Allah dimulai dari kita, yaitu gereja, termasuk semua orang beriman. Penghakiman pemerintahan Allah telah dimulai, bahkan telah dilaksanakan selama zaman para rasul. Penghakiman ini akan diteruskan sampai datangnya hari Tuhan.

Hari Tuhan disebutkan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Menurut Alkitab, hari Tuhan adalah hari penghakiman, bukan hari penyelamatan. Seluruh dunia telah meninggalkan Allah. Berangsur-angsur Tuhan telah melaksanakan penghakiman-Nya. Tetapi pada suatu hari, penghakiman terakhir-Nya akan datang. Pada hari itu Allah akan menghakimi setiap orang. Tiga golongan orang tercakup dalam penghakiman Allah: orang Yahudi, orang gereja, dan orang dunia. Penghakiman Allah telah dilaksanakan selama ribuan tahun, dan akan terus dilaksanakan sampai penghakiman terakhir yaitu hari Tuhan. Akhirnya, Allah akan menghakimi setiap golongan dari tiga golongan orang itu. Dia akan menghakimi orang Yahudi, semua orang Kristen, dan kemudian semua orang yang tidak percaya. Jangan mengira karena Anda adalah seorang Kristen, Anda akan lolos dari penghakiman Allah. Mengenai penghakiman Allah, tidak seorang pun yang dapat lolos. Hari Tuhan adalah hari penghakiman sebelum Kerajaan Seribu Tahun terhadap orang Yahudi, orang beriman, dan orang kafir.

Setelah Kerajaan Seribu Tahun, semua yang mati, termasuk manusia dan setan akan dihakimi pada takhta putih. Itulah penghakiman terakhir untuk kebinasaan kekal. Setelah penghakiman itu dilaksanakan, langit lama dan bumi lama akan dibakar dan langit baru dan bumi baru akan muncul.

AKIBAT DARI BERBAGAI MACAM PENGHAKIMAN

Penanggulangan Pendisiplinan

Kita telah nampak bahwa akibat dari berbagai macam penghakiman ini tidak sama. Ada penghakiman yang mengakibatkan penanggulangan pendisiplinan. Inilah penghakiman yang kita alami hari ini. Penganiayaan, kesulitan, dan penyakit adalah penghakiman Allah akibat penanggulangan pendisiplinan dalam zaman ini.

Hukuman Sezaman (Dispensasional)

Ada penghakiman yang mengakibatkan hukuman sezaman. Hukuman sezaman mengacu kepada hukuman selama seribu tahun, selama Kerajaan Seribu Tahun. Kerajaan adalah suatu zaman. Orang-orang Kristen yang gagal akan menderita hukuman selama zaman yang akan datang. Itulah hukuman sezaman.

Menurut Injil Matius, beberapa orang beriman akan menderita selama zaman kerajaan yang akan datang (Mat. 24:48-51; 25:24-30). Bagi mereka, masa itu adalah masa kegelapan dengan ratap dan kertak gigi. Matius 25 dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, hamba-hamba yang setia akan diberi pahala dan yang tidak setia akan dihukum. Beberapa pengajar Alkitab mengatakan bahwa hamba-hamba yang tidak setia dalam Matius 25 adalah orang-orang Kristen palsu, sedangkan yang setia adalah orang-orang Kristen sejati. Pengertian demikian tidak logis dan tidak tepat. Bagaimana seorang Kristen palsu dapat terhitung sebagai hamba Tuhan? Selanjutnya, bagaimana seorang Kristen palsu dapat diangkat untuk tampil di hadapan takhta penghakiman Kristus? Kita tidak mengikuti penafsiran itu, yaitu hamba-hamba yang tidak setia adalah orang-orang Kristen palsu, melainkan kita percaya firman Allah yang murni. Alkitab mengatakan bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, kita semua harus berdiri di depan takhta penghakiman-Nya. Dalam 2Korintus 5:10, Paulus mengatakan dengan jelas bahwa kita semua akan berdiri di depan takhta penghakiman Kristus untuk menerima balasan sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Jika kita telah melakukan pekerjaan yang setia, Tuhan akan memberi pahala kepada kita. Tetapi jika kita tidak setia dan meninggalkan Tuhan, Dia akan memberi kita hukuman. Itu adalah hukuman sezaman selama seribu tahun.

Kebinasaan Kekal

Penghakiman yang lain mengakibatkan kebinasaan kekal. Seperti yang telah kita lihat, penghakiman atas orang-orang dan setan pada takhta putih akan mengakibatkan kebinasaan kekal. Sebab itu, kita dapat melihat tiga macam akibat dari penghakiman pemerintahan Allah: penanggulangan pendisiplinan, hukuman sezaman dan kebinasaan kekal.

KRISTUS HIDUP

DI BAWAH PEMERINTAHAN ALLAH

Dalam 2:23 Petrus berkata mengenai Kristus, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil.” Menurut pemakaian kata kerja “menyerahkan” dalam bahasa Yunani perlu disisipi “semua” di sini sebagai pelengkap, mengacu kepada semua penderitaan Tuhan. Tuhan menyerahkan semua penghinaan dan luka-luka yang diderita-Nya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil dalam pemerintahan-Nya, yaitu Allah yang adil, yang ditaati-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mengakui pemerintahan Allah ketika Dia menempuh hidup sebagai manusia di bumi.

Tidak ada kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru yang memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus hidup di bawah pemerintahan Allah. Petrus adalah satu-satunya yang mengatakan ini kepada kita. Dalam 2:23 Petrus menunjukkan, ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia berada di bawah pemerintahan Allah. Karena Tuhan hidup di bawah pemerintahan Allah, Dia menyerahkan semua penderitaan-Nya kepada Allah. Di sini Petrus tidak mengatakan Allah sebagai Sang Setia, tetapi sebagai Seorang yang menghakimi dengan adil, sebab meng-hakimi dengan adil adalah satu hal yang berkaitan dengan pemerintahan Allah.

PENGHAKIMAN TERHADAP

ORANG YANG HIDUP DAN YANG MATI

Satu Petrus 4:5 membicarakan orang-orang yang tidak percaya, “Tetapi mereka harus memberi pertanggungjawaban kepada Dia yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Kata “mereka” di sini mengacu kepada orang kafir (4:3), yang heran akan cara hidup kaum beriman yang berbeda, dan memfitnah mereka (4:4). Mereka harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan mengenai semua yang telah dilakukan dan dikatakan mereka dalam seumur hidupnya. Ini mewahyukan pemerintahan Allah atas semua manusia. Tuhan siap menghakimi semua orang, baik orang hidup maupun orang mati. Penghakiman-Nya adalah adminis-trasi pemerintahan-Nya yang dengannya Dia menanggulangi keadaan di antara manusia.

Menurut Perjanjian Baru, Allah akan menghakimi yang hidup dan yang mati. Kisah Para Rasul 10:42 mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah ditentukan oleh Allah menjadi Hakim bagi yang hidup dan yang mati, dan Kisah Para Rasul 17:31 mengatakan bahwa Allah telah menetapkan satu hari di mana “Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya.” Dalam 2Timotius 4:1 Paulus berkata bahwa Kristus Yesus “adalah yang menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.

Kata “hidup” dalam 4:5 mengacu pada siapa? Mengacu pada orang-orang yang tidak percaya yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali. Matius 25:31-46 membicarakan hal ini. Matius 25:31-33 mengatakan, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.” “Semua bangsa” mengacu kepada semua bangsa lain yang masih hidup pada saat Kristus kembali ke bumi, setelah Dia membinasakan bangsa bukan Yahudi yang mengikuti Antikristus di Harmagedon (Why. 16:14, 16; 19:11-15, 19-21). Bangsa bukan Yahudi yang masih tinggal ini akan dikumpulkan dan dihakimi di takhta kemuliaan Kristus. Ini akan menjadi penghakiman Kristus atas orang-orang yang hidup sebelum Kerajaan Seribu Tahun (Kis. 10:42; 2Tim. 4:1). Hal ini berbeda dengan penghakiman-Nya atas orang-orang mati pada takhta putih besar setelah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:1-15).

Sebelum Tuhan duduk di atas takhta kemuliaan-Nya menurut Matius 25:31, Dia akan melaksanakan banyak penghakiman selama kesusahan besar. Selama periode kesu-sahan besar, banyak orang akan dibunuh dengan bencana-bencana alam, peperangan, dan Antikristus. Setelah kesusahan besar, Tuhan akan datang dan duduk di atas takhta kemuliaan-Nya di Yerusalem. Semua bangsa yang hidup akan dikumpulkan bersama-sama di depan-Nya untuk dihakimi. Dia akan memisahkan siapa yang adalah kambing-kambing, yang buruk, yang akan “pergi ke dalam penghukuman kekal”, ke dalam api kekal, dan domba-domba, yang baik, yang akan mewarisi kerajaan yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Penghakiman ini akan menggenapi perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:42, yang mengatakan bahwa Kristus telah ditentukan oleh Allah untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Juga menggenapi perkataan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:31 yang mengatakan bahwa Allah telah menentukan Kristus untuk menghakimi semua manusia. Lagi, dalam 1Petrus 4:5, Petrus mengatakan bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban (perhitungan) kepada Dia yang siap menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

“Orang yang mati” dalam 4:5 mengacu kepada orang tidak percaya yang mati, yaitu yang akan dihakimi pada takhta putih besar yang digambarkan dalam Wahyu 20. Kita telah melihat bahwa setelah kesusahan besar, Tuhan akan melaksanakan penghakiman-Nya atas bangsa-bangsa yang masih hidup. Lalu Milenium, Kerajaan Seribu Tahun akan dimulai. Setelah Milenium, Tuhan akan menjalankan penghakiman-Nya atas semua orang yang sudah mati. Mengenai hal ini, Wahyu 20:12 mengatakan, “Aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan (hayat). Orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.” Menurut Wahyu 20:15, “Setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” Inilah penghakiman terakhir bagi orang-orang tidak percaya yang mati. Penghakiman itu akan diikuti oleh pembakaran langit lama dan bumi lama.

ALLAH MENGGUNAKAN NYALA API SIKSAAN

UNTUK MEMURNIKAN KAUM BERIMAN

Dalam 4:6 Petrus selanjutnya berkata, “Itulah sebabnya, Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah” (Tl.). Dalam ayat ini “orang-orang mati” mengacu kepada kaum beriman dalam Kristus yang sudah mati, yang menderita aniaya karena kesaksian kristiani mereka, seperti yang disinggung dalam 1:6; 2:18-21; 3:16-17; dan 4:12-19. Dalam kitab ini, penganiayaan semacam ini oleh Petrus dianggap sebagai penghakiman Allah, yang menurut pemerintahan Allah dan dimulai dari rumah Allah (4:17). Injil diberitakan kepada kaum beriman yang mati ketika mereka masih hidup, agar mereka di satu pihak bisa dihakimi, ditanggulangi oleh Allah dalam daging, menurut manusia melalui penganiayaan para penentang, tetapi di pihak lain, hidup di dalam roh menurut Allah dengan percaya kepada Kristus. Ini memperlihatkan betapa ketat dan seriusnya penghakiman Allah dalam administrasi pemerintahan-Nya. Jika kaum beriman yang taat kepada Injil ditanggulangi oleh penghakiman pemerintahan-Nya, lebih-lebih orang yang menentang Injil dan memfitnah orang-orang beriman, akan dihakimi oleh penanggulangan Allah (4:17-18).

Dalam 4:12 Petrus berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Menurut apa yang telah kita bahas mengenai ayat ini dalam satu berita di depan, “nyala api siksaan” di sini berarti menyala, melambangkan tungku pemurni emas dan perak yang menyala-nyala (Ams. 27:21; Mzm. 66:10); ini serupa dengan kiasan yang dipakai dalam 1:7. Petrus menganggap penganiayaan yang diderita kaum beriman sebagai tungku yang menyala-nyala yang digunakan Allah untuk memurnikan hayat mereka. Inilah cara Allah menanggulangi kaum beriman dalam penghakiman administrasi pemerintahan-Nya, yang dimulai dari rumah-Nya sendiri (4:17-19).

Nyala api siksaan adalah cara Allah bukan untuk menanggulangi orang dosa dan penentang-penentang, tetapi untuk kaum beriman, anggota-anggota keluarga-Nya. Tungku pembakaran adalah sarana yang digunakan oleh Allah untuk melaksanakan penghakiman administrasi pemerintahan-Nya. Di dalam administrasi pemerintahan-Nya, Allah menggunakan nyala api siksaan sebagai sebuah tungku untuk memurnikan setiap kotoran yang ada pada kaum beriman. Tidak salah, sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita adalah emas, tetapi kita masih mempunyai banyak kotoran. Sebab itu, kita perlu dimurnikan. Pemurnian ini tidak dapat dirampungkan hanya melalui pengajaran, persekutuan, atau menghadiri sidang-sidang gereja. Kita semua perlu melewati tungku pembakaran ini. Allah meletakkan kita ke dalam sebuah tungku pembakaran, ke dalam nyala api siksaan, untuk membakar habis kotoran kita. Inilah yang dianggap oleh Petrus sebagai satu penghakiman dalam penanggulangan pemerin-tahan Allah atas kaum beriman.