← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 19/26

VISI BANGUNAN KUDUS ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 40:1-27

Dalam berita-berita sebelumnya kita melihat penampakan kemuliaan Tuhan, penghakiman Allah oleh api, dan pemulihan Tuhan oleh hayat. Sekarang kita datang ke bagian terakhir dari Yehezkiel (psl. 40—48), yang berkaitan dengan bangunan kudus Allah. Tiga bagian sebelumnya adalah untuk bagian yang terakhir; yaitu, kemuliaan Tuhan, penghakiman Allah, dan pemulihan Tuhan semuanya adalah bagi bangunan kudus Allah. Kita bahkan boleh berkata bahwa hasil hari kemuliaan Tuhan, penghakiman Allah, dan pemulihan Tuhan adalah bangunan Allah. Tujuan kekal Allah adalah untuk memiliki bangunan. Apapun yang Allah lakukan di antara umat-Nya di atas bumi adalah bagi bangunan-Nya.

WAKTU DARI VISI

Pada permulaan bagian ini (40:1), kita diberitahu waktu dari visi—tahun, bulan, dan hari. Jika kita membandingkan tahun yang disebutkan di sini dengan yang disebutkan pada permulaan pasal ini, kita melihat bahwa ada selisih dua puluh tahunan. Visi penampakan kemuliaan Tuhan yang Yehezkiel lihat di pasal satu dilihat di tahun kelima puluh dari penawanan. Visi bangunan rumah Allah yang dia lihat dalam pasal empat puluh adalah di tahun kedua puluh lima dari penawanan. Ada selisih dua puluh tahunan, bukanlah waktu yang singkat. Kita perlu ingat bahwa ketika Yehezkiel melihat visi yang pertama, dia berumur tiga puluh tahunan, umur dimana seorang imam mulai berfungsi. Ketika dia melihat visi yang terakhir, dia berumur lima puluh tahuanan, umur pensiun dari seorang imam. Ini sangat bermakna, karena ini menunjukkan bahwa untuk melihat bangunan Allah, Yehezkiel perlu lebih banyak kematangan dalam hayat. Ketika dia melihat visi yang pertama, dia masih muda, hanya berumur tiga puluh tahunan. Tetapi ketika dia melihat visi bangunan Allah, dia berada pada umur pensiun, menunjukkan bahwa dia mencapai kematangan yang lebih lanjut di dalam hayat dan dapat melihat bangunan Allah. Untuk melihat bangunan Allah, kematangan dalam hayat diperlukan. Karena ketidakmatangan mereka dalam hayat ilahi, sangat sedikit orang Kristen hari ini telah melihat mengenai bangunan Tuhan. Secara rohani, banyak yang jauh di bawah umur tiga puluh sehingga bahkan tidak bersyarat untuk magang. Jadi, tidaklah mungkin bagi mereka untuk melihat visi bangunan Allah.

Sangatlah bermakna bahwa tahun-tahun dihitung dalam kelipatan lima. Visi pertama dilihat di tahun kelima, dan visi terakhir dilihat di tahun kedua puluh lima.

Dua puluh lima adalah lima dikali lima. Dalam Alkitab angka lima melambangkan manusia ditambah Allah. Empat adalah angka makhluk ciptaan, manusia, dan satu adalah angka Pencipta, Allah. Lima melambangkan memikul tanggung jawab. Oleh karena itu, lima, yang terdiri dari empat ditambah satu, melambangkan manusia sebagai makhluk ciptaan ditambah Allah sebagai Pencipta bersama-sama memikul tanggung jawab. Angka dua puluh lima melambangkan bukan hanya kematangan, tetapi juga syarat penuh untuk memikul tanggung jawab.

Tahun ini disebut juga tahun keempat belas. Tahun kelima puluh dihitung dari waktu penawanan, sedangkan tahun keempat belas dihitung dari waktu penghancuran Yerusalem. Yehezkiel 40:1 berkata, “Sesudah kota itu ditaklukkan”.

Dalam Alkitab angka empat belas terutama tersusun dari tujuh dikali dua. Tujuh adalah angka kelengkapan, dan dua adalah angka kesaksian. Oleh karena itu, tujuh dikali dua menyiratkan sebuah kesaksian kelengkapan. Ini menunjukkan bahwa selama empat belas tahun penghancuran kota Yerusa lem telah menjadi satu kesaksian yang kuat bagi umat. Mula-mula, umat tidak percaya bahwa kota itu akan dihancurkan. Meskipun demikian, Yehezkiel bernubuat mengenai penghancuran kota Yerusalem itu, dan nubuatnya digenapi. Empat belas tahun setelah penghancuran Yerusalem, Yehezkiel melihat visi yang lebih jauh. Ini berarti kesaksian penghancuran kota itu sudah cukup. Itu berlangsung selama empat belas tahun, dan setelah empat belas tahun, umat di dalam penawanan menyadari bahwa hal itu adalah satu kesaksian yang kuat.

Lagipula, kita diberitahu bahwa Yehezkiel melihat visi pada permulaan dari tahun itu, dalam bulan pertama. Bulan pertama menunjukkan permulaan yang baru. Ini menunjukkan bahwa bersama kita dalam pengalaman kita, pembangunan Allah harus memiliki permulaan baru. Ketika kita melihat sesuatu mengenai pembangunan gereja, ini adalah permulaan baru dalam kehidupan kita.

Catatan itu juga berbicara tentang sepuluh hari. Menurut Keluaran 12:3 sepuluh hari dari bulan pertama adalah hari dimana umat Israel mempersiapkan anak domba untuk Paskah. Tentu saja ini mengacu pada Kristus, Paskah kita, askah kitabagi penebusan kita. Dari hal ini, kita melihat bahwa kapan saja kita memiliki permulaan baru dalam kehidupan Kristiani kita, itu harus berdasarkan pada Kristus dan penebusan-Nya. Dalam diri kita sendiri, dengan apa adanya kita dan apa yang dapat kita lakukan, kita tidak akan pernah dapat memiliki permulaan baru. Kita tidak bersyarat untuk memiliki permulaan baru, dan kita tidak memiliki jasa untuk memiliki permulaan baru. Permulaan baru apapun yang dapat kita miliki dalam kehidupan rohani kita selalu berdasarkan pada Kristus, Anak Domba Paskah, dan penebusan-Nya. Hanya oleh Kristus dan penebusan-Nya kita dapat memiliki permulaan baru dalam kehidupan Kristiani kita.

TEMPAT UNTUK MELIHAT VISI

Sekarang kita perlu mempertimbangkan tempat untuk melihat visi. Yehezkiel tidak melihat visi mengenai bangunan Allah di negeri tawanan. Sebaliknya, dia dibawa kembali ke tanah kudus, tanah Israel (Yeh. 40:2). Karena tanah ini melambangkan Kristus, dibawa kembali ke tanah Israel adalah dibawa kembali kepada Kristus. Sebagai tambahan untuk dibawa kembali ke tanah Israel, Yehezkiel dibawa ke gunung yang tinggi, melambangkan tempat kebangkitan dan kenaikan. Ketika kita kembali kepada Kristus, kita mungkin merasa di dalam roh kita bahwa kita berada di tempat yang ditinggikan, yaitu, di dalam Kristus yang bangkit dan naik. Lagipula, Yehezkiel dibawa kembali ke Yerusalem. Banyak dari kita dapat bersaksi bahwa ketika kita berada dalam penawanan di denominasi, kita tidak dapat melihat visi pembangunan gereja. Tetapi ketika kita kembali ke tanah kudus, kepada hidup gereja, kita dapat melihat visi pembangunan gereja.

Untuk melihat sesuatu dengan tepat, kita perlu posisi yang tepat, tumpuan yang tepat, dan sudut pandang yang tepat. Jika kita salah baik dalam posisi maupun tumpuan, kita tidak akan sanggup untuk melihat. Misalnya, Jika kita ingin melihat Los Angeles, kita harus berada di posisi yang tepat dan tumpuan yang tepat. Jika kita ingin melihat bangunan Allah, Kita perlu berada di atas gunung di Yerusalem.

Yehezkiel bukan satu-satunya orang yang melihat visi bangunan Allah. Dalam kitab Wahyu, rasul Yohanes memberi tahu kita bahwa di dalam roh dia dibawa ke gunung yang tinggi untuk melihat kota kudus, Yerusalem Baru (21:10). Alasan bahwa kita perlu berada di atas gunung (yang melambangkan kebangkitan dan kenaikan) adalah bahwa bangunan Allah adalah sesuatudi dalam kebangkitan dan kenaikan Kristus, dan kita perlu berada di posisi yang ditinggikan untuk melihat visi bangunan Allah.

Beberapa orang telah tersandung karena ministri saya tentang bangunan Allah. Alasan mereka tersandung adalah bahwa, mengenai perkara-perkara rohani, mereka seperti anak-anak kecil yang sedang bermain dengan mainan-mainannya. Jika kamu menyentuh “mainan-mainan” mereka, mereka akan tersandung. Jika kamu memberitahu mereka bahwa mereka perlu bertumbuh dalam kehidupan rohani dan melepaskan mainan mereka, mereka mungkin sangat kecewa. Semoga Tuhan membelaskasihani kita supaya kita dapat bertumbuh dan juga naik. Kita bukan hanya perlu bertumbuh, tetapi kita juga perlu naik ke posisi yang tertinggi dengan tumpuan yang tertinggi dan sudut pandang yang terbaik untuk melihat bangunan Allah.

Jika Yehezkiel tetap tinggal di Babel dalam penawanan, dia tidak dapat melihat bangunan. Demikian pula, jika dia berada di dataran dan bukan di puncak gunung, dia tidak dapat melihat visi bangunan Allah. Oleh karena itu, jika kita ingin melihat visi ini, kita perlu bertumbuh dan naik. Ini berarti bahwa kita perlu matang dalam hayat dan bahwa kita perlu berada di atas gunung yang tinggi. Kemudian kita akan sanggup melihat bangunan Allah.

VISI MANUSIA

Sebelum Yehezkiel melihat visi bangunan, dia melihat visi manusia. Tidak seperti manusia dalam pasal satu, manusia ini tidak seperti suasa, sebaliknya kelihatannya seperti tembaga (Yeh. 40:3). Dalam pasal satu, dalam visi kemuliaan Tuhan, Tuhan Yesus di atas takhta sebagai manusia kelihatannya seperti suasa. Tetapi dalam pasal empat puluh, Dia tidak berada di atas takhta; Dia ada pada pintu gerbang bangunan, mengukur. Dalam Alkitab mengukur berarti menghakimi dan memiliki. Ketika seorang saudari membeli beberapa pakaian, pertama dia mengukurnya. Ketika dia sedang mengukur pakaian itu, dia menilai kualitas dari pakaian itu. Dalam pengukurannya, dia menghakimi. Demikian pula, pengukuran dalam pasal empat puluh berkaitan dengan penghakiman. Di sini Tuhan Yesus tidak berada di atas takhta, tetapi pada pintu gerbang dalam penampilan tembaga untuk mengukur dan memiliki.

Ketika Tuhan datang untuk mengukur sesuatu, pertama Dia menghakimi sesuatu itu. Dalam perlambangan, tembaga melambangkan penghakiman. Ketika Tuhan Yesus di atas salib, Dia seperti ular tembaga (Bil. 4:9; Yoh. 3:14). Dalam Perjanjian Lama, mezbah kurban bakaran dilapisi dengan tembaga. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa tembaga melambangkan penghakiman.

Sekali sesuatu telah dihakimi, sesuatu itu mampu untuk bertahan. Setelah hal tertentu telah dihakimi, hal itu dapat bertahan terhadap segala macam ujian dan pengujian. Hal itu juga dapat bertahan terhadap penghakiman lanjutan. Tuhan Yesus adalah orang yang demikian. Dia melewati penghakiman Allah, dan sekarang Dia telah menjadi ujian bagi yang lain. Karena Dia mampu bertahan terhadap segala macam ujian, pengujian, dan penghakiman, Dia sepenuhnya bersyarat untuk mengukur segala sesuatu, termasuk bangunan Allah. Dengan pengukuran-Nya, Dia mengukur apa yang menjadi milik bangunan Allah.

YEHEZKIEL DISURUH UNTUK MEMANDANG, MENDENGAR,

DAN MENETAPKAN HATINYA

Yehezkiel 40:4 berkata, “Orang itu berbicara kepadaku: "Hai anak manusia, lihatlah dengan teliti dan dengarlah dengan sungguh-sungguh dan perhatikanlah baik-baik segala sesuatu yang akan kuperlihatkan kepadamu; sebab untuk itulah engkau dibawa ke mari, supaya aku memperlihatkan semuanya itu kepadamu. Beritahukanlah segala sesuatu yang kaulihat kepada kaum Israel”. Ketika Allah sedang menunjukkan visi bangunan-Nya kepada Yehezkiel, nabi perlu memiliki pandangan yang tajam dan mendengar dengan sungguh-sungguh. Juga, untuk menyerap hal-hal yang akan ditunjukkan kepadanya, dia harus menetapkan hatinya atas mereka. Lalu dia akan sanggup untuk mendeklarasikan kepada umat Allah, semua yang telah dia lihat dan dengar.

BANGUNAN KUDUS ALLAH

Bait kudus adalah tempat dimana Allah ada, tempat kediaman Allah. Jika kita ingin mencari Allah, mengontaki Allah, bersekutu dengan Allah dan melayani Allah, kita perlu menyadari bahwa Allah memiliki tempat kediaman-Nya. Di satu pihak, Allah itu Mahahadir; di pihak lain, Allah memiliki tempat-Nya yang khusus. Jika kita ingin bertemu dengan-Nya, kita harus tahu lokasi-Nya dengan tepat, tempat kediaman-Nya dengan pasti. Jadi, kita perlu mempertimbangkan visi bangunan Allah di dalam Yehezkiel, karena visi ini menjelaskan tempat dimana Allah berdiam—bait kudus-Nya.

Marilah kita mempertimbangkan pandangan sekilas, atau gambaran, dari bangunan Allah. Silakan memeriksa gambar 1, yang adalah gambaran yang menunjukkan bait dan pelataran dalam dan luar.

Bangunan itu persegi, dengan setiap keempat sisinya lima ratus hasta panjangnya. Tiga dari empat sisinya memiliki pintu masuk. Ada pintu gerbang di sebelah timur, selatan, dan utara, semuanya mengarahkan ke pelataran luar di sekeliling tembok. Di pelataran lua ada enam trotoar yang terbuat dari batu. Pada setiap trotoar ada lima bilik yang dibangun sebagai tempat bagi umat untuk makan dan menikmati kurban dan persembahan. Ini berarti bahwa tiga puluh bilik ditempatkan bagi kita untuk menikmati Kristus.

Dalam pelataran luar ada pelataran dalam, yang juga memiliki pintu gerbang pada tiga sisi, di sebelah timur, selatan, dan uatara. Sehingga jumlahnya ada enam pintu gerbang—tiga ke pelataran luar dan tiga ke pelataran dalam. Mengenai hal ini, kita perlu menyadari bahwa bangunan yang Yehezkiel lihat memiliki dua tembok, tembok di luar pelataran luar dan tembok di luar pelataran dalam. Pada setiap tembok ada tiga pintu gerbang. Pengukuran dan desain dari tembok dan pintu gerbang adalah sama persis.

Di dalam pelataran dalam ada mezbah. Mezbah ini adalah pusat dari seluruh bangunan Allah. Mezbah adalah lambang salib. Jadi, mezbah pada pusat dari seluruh bangunan menunjukkan bahwa salib Kristus ada pada pusat ekonomi Allah dan kepentingan Allah.

Dalam Yehezkiel 40—48, bagian tentang bangunan Allah, tiga hal utama dibahas: bait kudus, kota kudus, dan tanah kudus. Bait, kota, dan tanah semuanya adalah kudus. Sangatlah bermakna bahwa Yehezkiel memulai bukan dari luar, tetapi dari dalam. Inilah jalan ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah selalu memulai dari dalam, bukan dari luar. Kita melihat petunjuk dari hal ini di dalam 1 Tesalonika 5:23, yang berbicara tentang “roh dan jiwa dan tubuh”, bukan tubuh, jiwa, dan roh. Ini mewahyukan bahwa Allah memulai dari dalam, dari roh kita, bukan dari luar. Ekonomi Allah selalu mulai dari dalam, sedangkan pergerakan manusia selalu dari luar. Dalam terang ini, kita perlu belajar dalam hidup gereja untuk tidak memiliki sesuatu yang dimulai dengan cara luaran, tetapi selalu memiliki sesuatu yang dimulai dari dalam. Ini adalah untuk menerapkan apa yang diwahyukan di sini mengenai bangunan Allah—pertama bait, lalu kota, dan kemudian tanah.

TEMBOK

Butir pertama kita perlu melihat mengenai bait adalah tembok. Bait memiliki tembok di setiap empat sisinya. Tembok adalah untuk pemisahan, memisahkan apa yang menjadi milik Allah dari apa yang tidak dapat dimiliki-Nya. Tembok itu memisahkan apa yang seharusnya menjadi milik Allah dan apa yang tidak seharusnya menjadi milik Allah. Jadi tembok adalah batas yang memisahkan.

Ukuran dari tembok menunjukkan bahwa hal itu melambangkan Diri Kristus Sendiri sebagai batas yang memisahkan. Apapun yang ada dalam Kristus adalah milik kepentingan Allah dan milik bangunan Allah, tetapi apapun yang di luar Kristus tidak termasuk kepentingan Allah dan bangunan Allah. Dalam sebuah kota yang memiliki jutaan orang, kita dapat mengenal siapa yang adalah milik Allah dan siapa yang bukan dengan Kristus sebagai batas yang memisahkan. Siapapun yang di dalam Kristus adalah milik Allah, dan siapapun yang di luar Kristus terbisah dari Allah. Dengan kata lain, siapapun yang adalah milik Kristus ada di dalam tembok, dan siapapun yang di luar Kristus ada di luar tembok.

Ukuran dari tembok sangat tidak umum. Saya tidak berpikir bahwa sepanjang berabad-abad sejarah manusia, tidak pernah ada tembok yang demikian. Tembok ini enam hasta tingginya dan enam hasta tebalnya. Jika kita melihat pada bagian yang melintang dari tembok, kita akan melihat persegi enam hasta kali enam hasta. Enam adalah angka manusia, yang diciptakan pada hari keenam. Karena tembok adalah enam hasta tingginya dan enam hasta tebalnya dan karena enam adalah angka manusia, kita boleh berkata bahwa tembok melambangkan Tuhan Yesus sebagai seorang manusia yang jujur, benar, sempurna, dan lengkap. Sebagai seorang manusia yang jujur, benar, sempurna, lengkap, dan bahkan bangkit, Kristus adalah batas yang memisahkan. Karena Dia jujur dan benar, Dia sepenuhnya bersyarat. Di dalam Dia tidak ada ketidaksempurnaan; pada-Nya tidak ada kekurangan dan tidak ada kebengkokan. Sebaliknya, pada-Nya segala sesuatu lurus, benar, sempurna, dan lengkap. Sekali lagi saya berkata, manusia demikian adalah batas yang memisahkan.

Jika hanya Tuhan Yesus yang adalah manusia demikian, kita tidak akan termasuk. Kita tidak jujur, lurus, atau benar. Pasti kita tidak sempurna atau lengkap. Meskipun kita begitu banyak kekurangan, kita tidak seharusnya meniru Kristus. Sangatlah tidak mungkin bagi manusia jatuh untuk meniru Kristus, Persona yang jujur, benar, sempurna, dan lengkap.

Jika kita datang kepada Tuhan Yesus dan membandingkan diri kita dengan-Nya, kita disingkapkan dan disalahkan. Misalnya, dalam Lukas 2 kita melihat bahwa ketika Tuhan Yesus adalah seorang anak yang berusia dua belas tahun, tidak peduli berapa banyak apa adanya Dia bagi Bapa-Nya, Dia masih mentaati orang tua-Nya. Orang muda, kamu tidak taat kepada orang tuamu ketika kamu sedang memenuhi kepentingan bapamu, tetapi Tuhan Yesus itu taat. Dari contoh ini, kita dapat menyadari bahwa sejarah kehidupan Tuhan Yesus adalah faktor yang menyalahkan kita.

PINTU GERBANG

Puji Tuhan Dia tidak hanya tembok, tetapi juga pintu gerbang. Sebagai tembok Dia memisahkan kita dan menyalahkan kita, tetapi sebagai pintu gerbang, Dia membawa kita ke dalam bangunan Allah. Jika kita berada dalam ruang lingkup bangunan Allah hari ini, itu karena Kristus sebagai pintu gerbang telah membawa kita masuk.

Kristus adalah pintu gerbang, pintu kita. Dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Dia adalah jalan kepada Bapa. Terpisah dari-Nya, tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa. Kristus adalah jalan masuk bagi kita untuk masuk ke dalam Allah dan ke dalam kepentingan Allah, bangunan Allah, dan kerajaan Allah.

Kita mungkin menyadari bahwa Kristus adalah pintu, pintu gerbang, tetapi kita mungkin tidak mengenal Kristus sebagai pintu gerbang secara rinci. Namun, Yehezkiel, melihat mengenai rincian mengenai Kristus sebagai pintu gerbang.

Ukurannya

Panjangnya pintu gerbang dari depan ke belakang, adalah lima puluh hasta. Lebarnya pintu gerbang dari sisi ke sisi, adalah dua puluh lima hasta. Angka-angka ini adalah kelipatan lima, angka tanggung jawab.

Tangga dengan Tujuh Anak Tangga

Di depan pintu gerbang ada sebuah tangga dengan tujuh anak tangga. Anak tangga yang naik cukup tinggi, menunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam bangunan, kita perlu naik. Kapa saja seseorang percaya dalam Tuhan Yesus, dia memiliki perasaan bahwa dia sedang naik. Tetapi ketika kita berbagian dengan hiburan duawi tertentu, kita memiliki perasaan bahwa kita sedang turun. Kapa saja kita datang kepada Tuhan Yesus, kita merasa bahwa kita berada di atas tangga yang naik.

Terdiri dari Empat Bagian

Pintu gerbang terdiri dari empat bagian: ambang pintu luar, gang, ambang pintu dalam, dan serambi. Ada tiga ambang pintu, yang adalah ambang pintu luar, ambang pintu dalam, dan gang di antara keduanya yang mungkin dianggap jalan masuk. Bagian tengah, gang, juga disebut ambang pintu, tetapi sebagai bantuan untuk pemahaman kita, kita menggunakan kata gang. Jadi, di sini kita memiliki ambang pintu luar, gang, ambang pintu dalam, dan serambi. Serambi agaknya seperti lobi untuk bait. Dengan melewati ambang pintu luar, gang, ambang pintu dalam, dan lobi, seseorang dapat batuk ke dalam bait. Lalu seseorang harus naik tangga. Pada waktu ini, kenaikannya bahkan lebih tinggi, delapan anak tangga bukan tujuh.

Tempat Masuk Pintu Gerbang

Dengan mengacukan gambar 2, yang adalah gambaran pintu gerbang secara rinci, kita dapat melihat bahwa dalam pintu gerbang ada tempat masuk pintu gerbang, dimana lebarnya sepuluh hasta. Sangatlah bermakna bahwa tempat masuknya adalah sepuluh hasta lebarya. Dalam Alkitab angka sepuluh, pertama mengacu kepada Sepuluh Perintah. Apapun yang Sepuluh Perintah tuntut, tempat masuk pintu gerbang memenuhinya. Lebar dari tempat masuk adalah selebar Sepuluh Perintah. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memenuhi semua tuntutan dari Sepuluh Perintah. Ketika kita dihadapkan pada Sepuluh Perintah, kita ditiadakan oleh mereka. Namun, Tuhan Yesus sanggup memenuhi setiap perintah, dan Dia telah menjadi pintu gerbang bagi kita untuk masuk ke dalam bangunan Allah.

Tempat masuk pintu gerbang adalah sepuluh hasta, sedangkan pintu gerbangnya sendiri adalah tiga belas hasta lebarya. Pada kedua sisi pintu gerbang, ukuran tembok satu setengah hasta. Bila keduanya dijumlahkan, kita memiliki tiga hasta. Tiga adalah angka Allah Tritunggal dan juga angka kebangkitan. Di sini, tiga dibagi dua, satu setengah pada setiap sisi. Saya ingin meminta kamu mengingat bahwa di dalam tabernakel, papan-papan tegak masing-masing adalah satu setengah hasta lebarnya dan dua papan membentuk satu unit dari tiga hasta. Semua angka ini bermakna. Semua angka ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus yang memenuhi semua tuntutan dari Sepuluh Perintah, adalah Allah Tritunggal yang menjadi manusia, yang ditaruh pada kematian, dan telah dibangkitkan. Dalam kematian-Nya, Kristus “terbelah,” dipotong menjadi dua, lalu Dia dibangkitkan.

Ambang Pintu

Setelah pintu gerbang, muncul ambang pintu, yang berukuran enam hasta kali sepuluh hasta. Dengan menaruh semua angka ini bersama, kita dapat menyadari bahwa Kristus adalah Allah Tritunggal (angka tiga) yang menjadi seorang manusia memiliki angka enam. Dia telah “terbelah” dalam kematian-Nya dan telah dibangkitkan, memenuhi tuntutan dari Sepuluh Perintah. Dengan cara ini Dia membuka pintu gerbang.

Gang

Dari ambang pintu kita pergi ke gang, yang memiliki banyak rincian.

Kamar-Kamar Jaga

Yehezkiel 40:10 berkata bahwa dalam gang ini ada enam kamar kecil. Beberapa terjemahan yang lebih baik menggunakan kata kamar-kamar jaga. Ini adalah kamar-kamar dimana para penjaga tinggal untuk melindungi bait. Setiap kamar jaga ini luasnya enam hasta persegi sehingga sama dengan ukuran bagian melintang dari tembok. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesusu dalam Persona dan pekerjaan-Nya adalah penjaga yang sejati akan kemuliaan dan kekudusan Allah.

Jika tidak ada tembok, orang dosa akan sanggup masuk ke dalam bait, dan hal itu akan menjadi suatu penghinaan kepada kemuliaan dan kekudusan Allah. Tembok memisahkan orang dosa dari Allah,

sedangkan pintu gerbang membawa umat ke dalam Allah dan ke dalam bangunan Allah. Untuk menjadi pintu gerbang, Tuhan Yesus harus memenuhi semua tuntutan dari Sepuluh Perintah. Dia itu manusia yang jujur, benar, dan tepat, sanggup memenuhi Sepuluh Perintah, dan sekarang Dia Sendiri adalah kamar-kamar jaga dari kemuliaan dan kekudusan Allah. Hanya mereka yang bersyarat dan yang cocok dengan kemuliaan dan kekudusan Allah dapat masuk ke dalam bait. Jika kita ingin bersyarat dengan cara ini, kita harus melewati pintu gerbang. Dengan melewati Kristus sebagai pintu gerbang, kita bersyarat untuk masuk ke dalam bangunan Allah, yang penuh dengan kemuliaan dan kekudusan Allah.

Enam kamar penjaga dibagi menjadi dua kelompok tiga. Sekali lagi kita memiliki angka tiga yang melambangkan Allah Tritunggal, yang menjadi manusia dan telah “terbelah” menjadi dua. Ini menunjukkan bahwa kamar jaga adalah satu persona, Kristus Sendiri.

Batas-batas

Di antara tiga kamar jaga ada dua jarak yang masing-masing lima hasta. Sekali lagi kita memiliki sepuluh hasta yang terdiri dari dua kelompok lima hasta. Ini menunjukkan pada kita sekali lagi bahwa Kristus memikul tanggung jawab untuk memenuhi semua tuntutan dari Sepuluh Perintah. Lagipula, kita sekali lagi memiliki angka dua, melambangkan kesaksian. Di satu sisi ada dua jarak masing-masing lima hasta, dan di sisi lain ada dua jarak lima hasta. Ini menunjukkan bahwa Kristus sepenuhnya memikul tanggung jawab Sepuluh Perintah dan hal itu menjadi sebuah kesaksian. Tuhan Yesus sebagai Allah Tritunggal menjadi seorang manusia dan mati di atas salib untuk memenuhi semua tanggung jawab dari Sepuluh Perintah.

Dari kamar jaga, kita melanjutkan ke batas-batas. Daripada menggunakan kata batas Versi King James menggunakan kata tempat; versi lain menggunakan kata panggung. Di luar setiap kamar jaga ada batas, tempat, yang lebarnya satu hasta. Hal ini terbagi menjadi dua kelompok tiga, melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan.

Kita perlu ingat bahwa gang itu sepuluh hasta lebarnya. Namun, ada sebuah perasaan dimana kita dapat berkata bahwa gang itu delapan hasta lebarnya. Jika kita mengurangi satu hasta untuk batas di sekeliling kamar jaga di setiap sisinya, hal ini membuat gang itu delapan hasta lebarnya. Delapan adalah angka kebangkitan. Hari pertama dari satu minggu, hari dimana Tuhan Yesus dibangkitkan, juga adalah hari kedelapan. Maka, hari kedelapan adalah hari kebangkitan dan melambangkan suatu permulaan baru. Ketika kita melewati Kristus, kita melewati kebangkitan dan memiliki permulaan baru.

Tonggak-Tonggak

Selanjutnya kita perlu mempertimbangkan tonggak-tonggak, yang sulit untuk ditempatkan. Yehezkiel 40:14 berkata bahwa tonggak-tonggak itu jumlahnya enam puluh hasta dan bahwa setiap tonggak (tiang) memiliki dua sisi. Setiap tonggak, setiap tiang, memiliki dua sisi, dan setiap sisi dua hasta. Di sisi gang ada lima belas sisi yang masing-masing dua hasta. Jadi, ada tiga puluh hasta pada kedua sisi gang, seluruhnya ada enam puluh hasta. Lima belas terdiri dari tiga kali lima, melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan memikul semua tanggung jawab. Angka dua yang menunjukkan kesaksian, juga disajikan. Angka tiga puluh berkaitan dengan bilik dari semua trotoar bagi kenikmatan Kristus.

Tiang-tiang yang menopang atap dari struktur, menunjukkan bahwa kita perlu ditopang oleh kekuatan Kristus yang menopang untuk masuk ke dalam kenikmatan Kristus. Kekuatan yang menopang adalah angka tiga puluh, dan kenikmatan Kristus juga angka tiga puluh. Ini menunjukkan bahwa kita dapat menikmati sebanyak yang dapat ditopang oleh Kristus. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, ekspresi Kristus, seperti yang terlihat di sisi bilik dari bait, juga berangka tiga puluh. Jadi, ekspresi Kristus, kenikmatan Kristus, dan penopangan oleh Kristus semuanya dilambangkan oleh angka tiga puluh. Kita hanya dapat mengekspresikan apa yang dapat kita nikmati, dan kita hanya dapat menikmati apa yang dapat ditopang oleh Kristus.

Pohon-Pohon Palem

Pada kedua sisi dari setiap tiang ada sebuah pohon palem (ay. 16). Dalam Alkitab, pohon palem melambangkan kemenangan, bahkan kemenangan yang tak berkesudahan. Kristus, penjaga kekudusan dan kemuliaan Allah, adalah yang tak berkesudahan, Dia yang menang berdiri, memikul, menopang, dan menang.

Serambi

Dari tonggak-tonggak, kita melanjutkan ke serambi, dimana angka delapan digunakan. Dalam bagian sebelumnya, terutama angka lima, enam, dan sepuluh digunakan, tetapi pada serambi angka delapan digunakan. Ini menunjukkan bahwa sekarang kita berada dalam kebangkitan, dalam suatu permulaan yang baru.

JENDELA-JENDELA

Jendela adalah untuk membawa masuk terang dan udara. Ini bukanlah jendela yang sempit, tetapi jendela yang berkisi-kisi, yang memiliki potongan bahan di atasnya untuk melindungi bangunan dari hal-hal negatif. Namun jendela-jendela dibiarkan terbuka untuk udara dan terang.

Jendela yang berkisi-kisi ini melambangkan Roh pemberi hayat. Seluruhnya ada tiga puluh jendela, lima belas pada satu sisi dan lima belas pada sisi lain. Pintu gerbang penuh jendela. Ini menunjukkan bahwa Kristus penuh Roh pemberi hayat. Roh Pemberi hayat membawa masuk udara dan terang dan menyingkirkan semua hal negatif.

Kata Yunani untuk kisi-kisi menyiratkan pemikiran yang menyimpang. Ini berarti bahwa sisi luar jendela sempit, tetapi sisi dalam lebih lebar (40:16). Roh pemberi hayat selalu terhadap yang di dalam. Secara luaran, Dia tidak lebar, tetapi secara batini Dia sangat lebar.

PELEBARAN SECARA LUAS

Meskipun Yehezkiel menyebutkan tinggi tembok, dia tidak menyebutkan tinggi pintu gerbang. Tidak dicantumkannya ukuran ini adalah sangat bermakna. Seluruh bait tidak memberi kesan tentang tinggi, tetapi pelebaran secara luas. Bahkan tinggi tembok hanya enam hasta. Menurut rencana, luas bait adalah lima ratus hasta persegi. Jadi, tinggi tidak besar, tetapi pelebaran sangat besar.

Konsep insani adalah bahwa seseorang seharusnya mendaki lebih tinggi dan lebih tinggi sampai mencapai surga. Itu adalah konsep dalam pembangunan menara Babel. Namun, maksud Allah adalah untuk bersama manusia di bumi. Kedambaan Allah adalah untuk datang ke bumi dan menyebarkan kesaksian-Nya di bumi. Jadi, Allah datang ke bumi sebagai manusia untuk menyebarkan kesaksian-Nya atas seluruh bumi.

Dalam berita ini kita melihat pintu gerbang melambangkan Kristus sebagai Allah Tritunggal. Kristus adalah seorang manusia yang jujur, benar, sempurna, dan lengkap. Kristus memikul tanggung jawab dan memenuhi semua tuntutan Sepuluh Perintah untuk membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Allah dan ke dalam kepentingan Allah. Lagipula, Kristus adalah kesaksian Allah, dan sebagai Dia yang bangkit, Roh pemberi hayat yang menghidupkan, Dia adalah saksi hidup dari kemenangan sampai selamanya.