PENDAHULUAN (1)
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 1:1-3; Bil. 4:2-3; 1Taw. 23:3a; Luk. 3:23a;
Yeh. 40:17; 41:6a; 46:22; Bil. 8:24; Kej. 11:6, 31
Perhatian kita dalam kitab ini adalah untuk melihat visi dalam kitab Yehezkiel. Tujuan kita bukanlah untuk melakukan penelitian pada kitab ini atau untuk menjelaskannya, tetapi untuk melihat visi hati Allah yang mulia yang terkandung di dalamnya. Karena itu, daripada mempertimbangkan Yehezkiel ayat demi ayat atau bahkan pasal demi pasal, kita akan berusaha melepaskan butir-butir penting mengenai hayat dalam kitab ini.
KITAB YEHEZKIEL SEJAJAR
DENGAN KITAB WAHYU
Alkitab mewahyukan satu kisah misterius yang terbentang di alam semesta—satu cerita yang melibatkan Allah dan manusia. Dalam kisah ini Allah masuk ke dalam manusia untuk menjadi hayat manusia, membuat manusia memiliki sifat dan gambar-Nya yang mulia. Secara ultima, dalam sifat ilahi, Allah dan manusia akan dibangun bersama menjadi tempat perhentian Allah. Sebagai hasil dari bangunan ini, Allah dan manusia akan menjadi kesatuan yang lengkap. Ini adalah kisah hayat misterius antara Allah dan manusia.
Meskipun seluruh Alkitab memberi tahu kisah Allah dan manusia yang misterius ini, hanya dua kitab yang fokus dengan kisah ini dengan cara yang khusus. Dua kitab ini adalah Yehezkiel dan Wahyu. Kedua kitab ini berbicara tentang Allah menjadi hayat bagi manusia, tentang Roh hayat, tentang aliran air hayat, dan tentang umat Allah, yang memiliki rupa-Nya yang mulia, yang akan menjadi tempat kediaman-Nya. Kedua kitab ini diakhiri dengan visi tentang Yerusalem, dan kedua kitab ini menunjukkan pada kita bahwa umat Allah sedang dibangun bersama untuk menjadi bukan hanya tempat kediaman Allah bagi perhentian-Nya, tetapi juga pasangan-Nya yang korporat bagi kepuasan-Nya.
Kitab Yehezkiel dan Wahyu berjalan bersama secara sejajar. Jika kita ingin memahami kitab Yehezkiel, kita perlu kitab Wahyu, dan jika kita ingin melihat beberapa hal dalam kitab Wahyu, kita perlu memahami hal-hal yang diwahyukan dalam Yehezkiel. Karena itu, sangatlah membantu untuk mengambil kitab-kitab ini bersamaan. Jika kita membaca Yehezkiel dan Wahyu bersama-sama, kita akan melihat bahwa dalam banyak hal keduanya hampir sama. Poin utama dalam kedua kitab ini hampir sama.
Visi yang Berhubungan dengan Hayat
Kesamaan yang pertama adalah bahwa kedua kitab ini dimulai dengan visi. Kitab Yehezkiel dan Yohanes melihat visi, dan visi yang dilihat oleh mereka terutama berkaitan dengan hayat. Alkitab berbicara kepada kita mengenai hayat. Dalam kitab Yehezkiel dan Wahyu, kita tidak hanya memiliki istilah hayat tetapi juga visi yang menggambarkan apa hayat itu dan bagaimana hayat bekerja di dalam kita dan di antara kita. Dalam kedua kitab ini kita tidak hanya memiliki sebuah penjelasan mengenai hayat tetapi juga memiliki visi yang memperlihatkan kepada kita perihal hayat.
Aliran Air Hidup
Dalam seluruh Alkitab, kitab-kitab yang berbicara paling jelas mengenai Allah mengalir sebagai hayat adalah kitab Yehezkiel dan Wahyu. Baik kitab Yehezkiel dan Wahyu keduanya memperlihatkan kepada kita aliran air hidup. Yehezkiel 47:1 membicarakan sungai yang mengalir keluar dari tempat kediaman Allah. Ayat 9 mengatakan, “ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup”, dan ayat 12 mengatakan, “Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.” Dalam Wahyu 22:1 dan 2 kita melihat sungai air hayat mengalir keluar dari Takhta Allah dan Anak Domba. “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu (Tl.). Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”. Karena itu, baik dalam Yehezkiel maupun Wahyu, kita memiliki sebuah sungai yang mengalir keluar dari Allah dengan suplai hayat.
Visi mengenai Yerusalem
Hal utama yang dimiliki secara umum dalam kitab Yehezkiel dan Wahyu adalah bahwa kedua kitab ini memberi kita visi mengenai Yerusalem. kitab Yehezkiel diakhiri dengan visi mengenai Yerusalem, dan demikian juga dengan kitab Wahyu. Kedua kitab ini, yang diakhiri dengan visi mengenai Yerusalem, memberitahukan pada kita perhatian Allah adalah masuk ke dalam kita sebagai hayat supaya kita dapat memiliki sifat-Nya dan gambar-Nya, sehingga di dalam sifat-Nya dan dengan gambar-Nya, kita yang memiliki Dia sebagai hayat kita dapat dibangunkan bersama sebagai kota kudus untuk menjadi tempat kediaman Allah sampai kekal. Ini adalah inti berita dari kitab Yehezkiel dan Wahyu. Karena itu, berita-berita dalam kitab Yehezkiel sama seperti berita-berita dalam kitab Wahyu.
Baik Yehezkiel maupun Yohanes
Berdiri dalam Posisi sebagai Seorang Imam
Kitab Yehezkiel dan Wahyu tidak hanya sama dalam isinya, tetapi para penulis dari kitab-kitab ini adalah sama di dalam hal-hal tertentu. Kesamaan yang paling penting adalah bahwa nabi Yehezkiel dan rasul Yohanes keduanya adalah imam di hadapan Allah. Meskipun Yehezkiel adalah seorang nabi, ketika ia melihat visi yang tercatat dalam kitabnya, dia berdiri pada posisi sebagai imam, memiliki status seorang imam (Yeh. 1:3) dan juga memiliki kehidupan sebagai seorang imam. Saat dia berada di tepi sungai Kebar, tentu saja dia melaksanakan keimamannya di dalam roh, melayani Allah dan bersekutu dengan Allah, sehingga langit terbuka dan Dia melihat visi yang mulia tentang Allah sebagai hayat bagi manusia sehingga Dia dan manusia dapat dibangun bersama. Dalam Wahyu 5:10 rasul Yohanes membicarakan umat yang telah ditebus oleh Allah menjadi imam-imam kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Yohanes sendiri harus melayani sebagai imam. Ketika Yohanes menulis kitab Wahyu, hati, pendirian, kondisi, dan situasinya adalah sebagai seorang imam.
MINIATUR DARI SELURUH ALKITAB
Kitab Yehezkiel menduduki posisi yang sangat penting di antara kitab-kitab lain dalam Alkitab. Jika kita mengenal apa yang diwahyukan Alkitab, kita dapat melihat bahwa Yehezkiel adalah miniatur dari seluruh Alkitab. Apa yang diwahyukan dalam Yehezkiel adalah ringkasan dari seluruh wahyu dalam Alkitab. Dalam pengertian ini, Yehezkiel adalah miniatur dari Kitab Suci secara keseluruhan.
Tujuan Kekal Allah
Alkitab memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa kehendak kekal Allah adalah untuk menyalurkan DiriNya sendiri ke dalam sekelompok manusia. Perhatian-Nya adalah untuk menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam kita supaya kita dapat memiliki Dia sebagai hayat kita, supaya kita dapat memiliki sifat-Nya dan supaya kita mengemban gambar kemuliaan-Nya. Ini berarti bahwa tujuan Allah, perhatian-Nya, adalah supaya kita dan Dia memiliki hayat, sifat, dan gambar yang sama, bahkan pada akhirnya, kita dan Dia, Dia dan kita, akan dibaurkan bersama sebagai satu kesatuan dengan dua sifat, sifat ilahi dan sifat insani, untuk dibangun bersama sebagai tempat kediaman kekal Allah. Inilah tujuan kekal Allah yang diwahyukan dengan jelas di dalam Kitab Suci. Kitab Yehezkiel menunjukkan pada kita gambar yang sama secara ringkas, mewahyukan bahwa maksud Allah adalah mengerjakan Diri-Nya Sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita dan membaurkan Diri-Nya Sendiri dengan kita supaya kita dapat dibangun bersama di dalam Dia sebagai hayat untuk menjadi tempat kediaman kekal-Nya. Inilah apa yang diwahyukan Alkitab, dan ini juga yang Yehezkiel wahyukan secara miniatur.
Hayat, Sifat, Gambar, dan Bangunan
Dalam tiga pasal pertama dari kitab Kejadian, kita melihat bahwa Allah menciptakan manusia dan menempatkan-Nya di depan pohon hayat. Pohon hayat menandakan Diri Allah Sendiri sebagai hayat bagi kita dalam bentuk makanan. Karena kejatuhan manusia, pohon hayat ditutup dan disembunyikan oleh Kerub, dan “pedang yang menyala-nyala yang berjaga-jaga di setiap jalan” menutup “jalan ke pohon hayat” (Kej. 3:24). Setelah kejadian 3, kita melihat baik penghakiman Allah maupun perhatian, rahmat, dan keselamatan Allah. Di satu pihak, pedang Allah yang menyala-nyala melaksanakan penghakiman-Nya, membakar apapun yang bertentangan dengan Diri-Nya Sendiri. Di pihak lain, melalui kasih karunia-Nya, Allah telah menebus suatu umat bagi Diri-Nya Sendiri. Melalui penebusan Kristus, jalan ke pohon hayat telah dibuka lagi bagi manusia. Sekarang manusia, di bawah dan melalui penebusan Kristus, memiliki jalan masuk yang bebas hambatan ke pohon hayat dan dapat mengambil pohon hayat sebagai makanan-Nya. Inilah mengapa di dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Dia datang sebagai roti hayat dan bahwa kita harus mengambil Dia sebagai makanan. Dia berkata, “Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (ay. 57b). Jika kita mengambil Dia sebagai makanan kita, kita akan memiliki hayat dan sifat-Nya, dan pada akhirnya, kita akan mengemban gambar-Nya. Dengan memiliki hayat, sifat, dan gambar-Nya, kita akan dibangun bersama. Dia berdoa bagi bangunan ini di dalam Yohanes 17:21 ketika Dia berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita”. Untuk menjadi satu dengan cara demikian berarti bahwa kita perlu dibangun bersama. Jika kita melanjutkan dari Injil Yohanes sampai Wahyu Yohanes, kita dapat melihat bahwa di dalam Wahyu 21 dan 22 semua orang yang ditebus telah dibangun bersama menjadi satu kota. Di dalam kota ini, kita semua adalah satu, bukan hanya satu dalam doktrin atau satu dalam visi, tetapi satu dalam bangunan. Dari hal ini, kita melihat bahwa kita perlu dibangun satu dengan yang lain di dalam hayat. Kemudian Allah akan memiliki satu kota, Yerusalem Baru. Inilah gambar yang dilukiskan dalam Kitab Suci.
Ketika kita datang kepada kitab Yehezkiel, kita melihat gambar yang sama. Dalam pasal pertama ada kerub dari api yang menyala-nyala dengan Allah di tengah-tengah mereka. Pasal lainnya menunjukkan pada kita bagaimana Allah menjadi hayat kita (psl. 11, 33, 34, 36, 37, 47). Akhirnya, pasal empat puluh delapan mewahyukan bahwa kita yang memiliki hayat Allah akan dibangun bersama menjadi kota kudus, Yerusalem. Sekali lagi kita melihat bahwa kitab Yehezkiel adalah miniatur dari Alkitab.
Kita perlu secara dalam terkesan dengan fakta Alkitab secara keseluruhan dan kitab Yehezkiel sebagai miniatur dari Alkitab mewahyukan bahwa maksud Allah menyalurkan Diri-Nya Sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita supaya kita dapat memiliki sifat ilahi-Nya dan mengemban gambar-Nya yang mulia. Lalu oleh sifat ilahi dengan gambar ilahi, kita akan dibangun bersama sebagai satu tempat kediaman kekal—Yerusalem Baru. Ini adalah poin sentral dari wahyu Alkitab dan juga kitab Yehezkiel.
EMPAT BAGIAN DARI YEHEZKIEL
Yehezkiel adalah kitab visi. Bagian pertama dari kitab ini (psl. 1) menyajikan visi penampakan kemuliaan Tuhan, mewahyukan bagaimana Allah dinyatakan, bagaimana Allah bergerak, dan bagaimana allah mengadministrasi pemerintahan-Nya melalui empat makhluk hidup. Melalui koordinasi makhluk-makhluk hidup, Allah sanggup bergerak dan mengadministrasi. Pada bagian kedua (psl. 2—32) Allah datang sebagai api yang menghanguskan untuk menghakimi umat-Nya dan bangsa-bangsa kafir. Setelah penghakiman, Allah datang untuk memulihkan umat-Nya dengan hayat. Bagian ketiga (psl. 33—39) adalah bagian pemulihan. Bagian keempat (psl. 40—48), yang mempedulikan bangunan kudus Allah, berasal dari pemulihan oleh hayat dan merampungkan kitab ini. Jadi, Yehezkiel mulai dengan penampakan kemuliaan Tuhan dan berakhir dengan bangunan kudus Allah. Ini menunjukkan bahwa sasaran Allah adalah bangunan.
PENDAHULUAN YANG LUAR BIASA
Setiap kitab dalam Alkitab dimulai dengan cara yang unik. Misalnya, Kejadian dimulai dengan cara ini: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Matius dan Yohanes dimulai dengan cara yang sangat berbeda. Matius 1:1 berkata, “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham”. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Kitab Yehezkiel juga dimulai dengan cara yang sangat khas. Tiga ayat pertama dari Yehezkiel adalah pendahuluan yang khusus, rinci, luar biasa untuk kitab ini.
Yehezkiel 1:1-3 berkata, “Pada tahun ketiga puluh, dalam bulan yang keempat, pada tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama-sama dengan para buangan berada di tepi sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah. Pada tanggal lima bulan itu, yaitu tahun kelima sesudah raja Yoyakhin dibuang, datanglah firman TUHAN kepada imam Yehezkiel, anak Busi, di negeri orang Kasdim di tepi sungai Kebar, dan di sana kekuasaan TUHAN meliputi dia”. Dalam pendahuluan ini, empat hal utama dibahas. Pertama, ini adalah sebuah kitab visi, dan ayat-ayat pendahuluan ini menunjukkan pada kita tahun, bulan, dan hari dimana Yehezkiel mulai melihat visi-visi. Kedua, ayat-ayat ini menunjukkan pada kita tempat dimana dia melihat visi-visi. Ketiga, di sini kita memiliki perkataan mengenai manusia, seseorang, yang melihat visi. Keempat, dalam pendahuluan ini kita melihat syarat melihat visi.
TANGGAL DARI VISI-VISI
Mengenai pendahuluan kitab Yehezkiel, hal pertama yang perlu kita pertimbangkan adalah tanggal, dengan tahun, bulan, dan hari.
Tahun Ketiga Puluh
Tahunnya adalah tahun ketiga puluh. Ini mengacu pada umur Yehezkiel. Pada saat itu Yehezkiel berumur tiga puluh tahun. Menurut Bilangan 4:2-3 dan 1 Tawarikh 23:3 seorang imam, seorang Lewi, mulai melayani Tuhan pada umur tiga puluh tahun. Tuhan Yesus juga mulai melayani Allah dalam ministri-Nya pada umur tiga puluh tahun yang sah secara ilahi (Luk. 3:23). Sebagai seorang imam yang mencapai umur tiga puluh tahun, Yehezkiel bersyarat untuk memulai ministri keimaman-Nya.
Di sini kita memiliki prinsip bahwa untuk menyadari hal-hal rohani dan untuk melihat visi-visi surgawi, kita perlu kematangan dalam hayat. Umur tiga puluh tahun menandakan kematangan. Pada saat para imam mencapai umur tiga puluh tahun, mereka dianggap telah matang. Oleh karena itu, frase pada tahun ketiga puluh menunjukkan bahwa Yehezkiel, berumur tiga puluh tahun, telah matang. Ini menunjukkan pada kita bahwa jika kita ingin melihat visi-visi di dalam kitab Yehezkiel, kita harus memiliki kematangan dalam hayat. Orang Kristen hari ini memiliki kesulitan memahami kitab ini karena kebanyakan dari mereka kekurangan kematangan dalam hayat ilahi. Berbicara secara rohani, tidak banyak orang Kristen telah mencapai umur tiga puluh tahun, jadi sangat sulit bagi mereka untuk memahami visi-visi di dalam kitab ini.
Dalam Yehezkiel 40 sampai 48, bagian kitab ini yang tercurah pada bangunan Allah, angka tiga puluh digunakan untuk tiga macam hal. Pelataran luar dari bait Allah dalam 46:22 memiliki empat sudut pelataran, setiap pelataran memiliki lebar tiga puluh hasta. Empat sudut pelataran ini adalah tempat bagi para imam untuk menyiapkan persembahan-persembahan bagi umat untuk makan dan menikmati. Menurut pasal 40:17 pelataran luar dari bait memiliki tiga puluh bilik. Ketika umat datang bersama untuk menyembah Allah, mereka dapat menikmati persembahan yang kaya di dalam tiga puluh bilik ini. Yehezkiel 41:6 menyebutkan tiga puluh sisi bilik lain. Ini mengelilingi bait pada tiga sisi, pada setiap tiga tingkatan. Pada setiap tingkat ada tiga puluh sisi bilik. Semua sisi bilik ini menunjukkan kepenuhan bait. Ketika kita meletakkan ayat-ayat ini bersama, kita dapat melihat bahwa tiga puluh adalah angka yang berkaitan dengan menyiapkan Kristus, meministrikan Kristus kepada yang lain, menikmati kekayaan Kristus, dan mengekspresikan kepenuhan Kristus. Maka, dalam Alkitab angka tiga puluh menandakan kematangan dalam hayat untuk menyiapkan Kristus bagi yang lain, untuk menikmati Kristus bagi diri kita sendiri, dan untuk mengekspresikan Kristus di dalam semua kepenuhan-Nya. Ketika Yehezkiel melihat visi yang dicatat dalam kitab ini, dia berumur tiga puluh tahun. Dia adalah seorang yang matang, sanggup menyiapkan Kristus dan meministrikan Kristus bagi kenikmatan orang lain dan sanggup juga menikmati kekayaan Kristus bagi dirinya sendiri dan untuk mengekspresikan Kristus di dalam semua kepenuhan-Nya.
Angka tiga puluh bukan hanya penting bagi Yehezkiel, tetapi juga penting bagi kita sebagai kaum beriman dalam Kristus hari ini. Sama seperti Yehezkiel harus matang untuk melayani sebagai seorang imam, untuk melihat visi-visi, untuk menyiapkan Kristus sebagai persembahan bagi kenikmatan orang lain, untuk menikmati kekayaan Kristus, dan untuk mengekspresikan kepenuhan Kristus, maka kita juga perlu matang di dalam hayat rohani kita, sehingga kita dapat melihat visi-visi mengenai Kristus dan Tubuh-Nya, menyiapkan Kristus bagi kenikmatan orang lain, dan menikmati semua kekayaan Kristus untuk menjadi kepenuhan Kristus sebagai ekspresi-Nya.
Dalam kitab Yehezkiel, angka tiga puluh dibentuk dengan dua cara: lima dikali dengan enam dan tiga dikali dengan sepuluh. Terutama disusun dengan tiga dikali sepuluh. Dalam Alkitab angka sepuluh, yang adalah angka lengkap dari seorang manusia, terdiri dari dua angka lima, lima dikali dua. Pertimbangkanlah contoh, sepuluh dara dalam Matius 25. Lima dara bijaksana dan lima dara bodoh. Di sini kita melihat bahwa sepuluh dara dibagi menjadi dua kelompok lima. Dengan sepuluh perintah, ada lima perintah pada loh batu pertama dan lima perintah lain pada loh batu kedua. Oleh karena itu, Sepuluh Perintah juga dibagi menjadi dua kelompok lima. Angka lima menandakan tanggung jawab yang dapat kita pikul dengan memiliki Allah ditambahkan kepada kita. Empat adalah angka makhluk ciptaan, dan satu adalah angka Pencipta. Ketika Pencipta ditambahkan kepada makhluk ciptaan, makhluk ciptaan sanggup memikul tanggung jawab. Angka dua adalah angka kesaksian, kesatuan, dan keseimbangan. Ketika Tuhan Yesus mengutus murid-murid, Dia mengutus mereka berdua-dua. Angka sepuluh, terdiri dari dua angka lima, menandakan bahwa sebagai makhluk ciptaan kita memiliki Allah ditambahkan kepada kita supaya kita sanggup memikul tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa kita dianugerahi untuk memikul tanggung jawab di hadapan Allah dengan cara kesaksian, kesatuan, dan keseimbangan.
Seperti yang ditunjukkan dalam pasal-pasal berikutnya, tanggung jawab ini berada dalam tiga lapisan, atau tingkatan, menandakan tiga persona dari ke-Allahan—Bapa, Putra, dan Roh. Tiga adalah angka Allah Tritunggal, dan tiga puluh menandakan sifat tiga ganda Allah dalam manusia. Oleh karena itu, tiga puluh adalah angka yang penting menandakan manusia dengan Allah Tritunggal di dalamnya memikul tanggung jawab secara lengkap. Dari semua ini kita dapat melihat bahwa dalam kitab Yehezkiel angka tiga puluh menunjukkan bahwa makhluk ciptaan memiliki Allah Tritunggal ditambahkan ke dalam mereka sehingga mereka dapat memikul tanggung jawab di dalam Allah Tritunggal. Ini adalah kematangan dalam hayat yang kita perlukan untuk menyiapkan Kristus bagi kenikmatan orang lain, untuk menikmati Kristus dengan cara yang penuh bagi diri kita sendiri, dan untuk mengekspresikan Kristus sebagai kepenuhan-Nya. Hanya dengan memiliki kematangan semacam ini kita akan sanggup melihat visi-visi dari kitab Yehezkiel.
Tahun Kelima
Yehezkiel selanjutnya berbicara tentang tahun kelima. Mengingat, tahun ketiga puluh dihitung dari tahun kelahirannya, tahun kelima dihitung dari tahun penawanan. Mengapa visi-visi itu datang pada tahun kelima dari penawanan dan bukan pada tahun yang lebih awal? Visi-visi itu tidak datang lebih awal karena umat belum siap dan Yehezkiel sendiri, yang berada di bawah umur tiga puluh tahun, juga belum siap. Ini menunjukkan bahwa melihat visi-visi yang dicatat dalam kitab Yehezkiel memerlukan kita membuat diri kita siap.
Karena Yehezkiel telah berumur tiga puluh tahun ketika dia melihat visi, dalam tahun penawanan dia baru berumur dua puluh lima tahun. Bilangan 4:2-3 memberitahu kiota bahwa para imam memulai ministri mereka pada umur tiga puluh tahun, tetapi Bilangan 8:24 mengatakan bahwa suku Lewi mulai melayani pada umur dua puluh lima tahun. Alasan untuk perbedaan di sini adalah para imam memerlukan lima tahun magang. Mereka tidak dapat masuk ke dalam pelayanan keimaman dengan segera. Sebaliknya, mereka perlu dilatih dan didisiplin selama lima tahun. Pada permulaan penawanan, Yehezkiel adalah imam yang magang, seorang yang belajar. Dia belum memiliki kematangan yang diperlukan untuk melihat visi. Ini menunjukkan bahwa dalam perkara-perkara rohani ada keperluan akan kematangan. Karena kekurangan kematangan, beberapa di antara kita tidak dapat melihat visi-visi yang Tuhan tunjukkan pada kita dari kitab ini. Kita tidak dapat melihat perkara rohani tertentu ketika kita masih muda. Jadi, kita perlu memandang pada Tuhan supaya Dia memberi kita kematangan dalam hayat supaya kita dapat melihat, menyetujui, menerima, dan mengambil semua perkara-perkara rohani.
Fakta bahwa visi-visi datang di tahun kelima menunjukkan bahwa tidak hanya Yehezkiel, tetapi juga umat telah dibuat siap. Angka lima menunjukkan bahwa manusia dianugerahi oleh Allah untuk memikul tanggung jawab terhadap Allah. Bahkan meskipun umat Allah berada dalam penawanan, mereka masih memiliki sedikit kasih karunia dari Allah, sehingga ketika waktunya tiba, mereka dapat memikul tanggung jawab di hadapan Allah. “Tahun kelima dari penawanan raja Yoyakhin” menunjukkan bahwa waktunya telah tiba bagi umat Israel untuk memikul tanggung jawab terhadap Allah. Ketika penawanan ini mulai, Yehezkiel mulai belajar menjadi seorang imam. Bahkan dalam penawanan Allah memberi dia kasih karunia agar dia dapat belajar menjadi seorang imam. Pada waktu tahun kelima, baik Yehezkiel maupun umat telah siap. Di satu pihak, Yehezkiel telah mencapai umur tiga puluh, dapat secara resmi meministrikan sebagai seorang imam di hadapan Allah. Di pihak lain, sekarang umat dapat memikul tanggung jawab mereka, dan Allah datang untuk berbicara kepada mereka mengenai hal itu.
Sebelum orang tua dapat berbicara kepada anaknya tentang tanggung jawab tertentu, seorang anak harus memiliki umur yang tepat untuk menerima pembicaraan demikian. Seorang anak harus mencapai umur tertentu sebelum orang tuanya meminta dia memikul tanggung jawab tertentu. Situasinya sama dengan pembicaraan Allah di dalam kitab Yehezkiel. Allah tidak berbicara sampai tahun kelima dari penawanan mereka. Sebelum Yehezkiel mencapai umur tiga puluh, Allah tidak memberi dia tanggung jawab untuk berbicara bagi-Nya. Demikian pula, sebelum tahun kelima penawanan, umat belum menerima kasih karunia yang cukup untuk memikul tanggung jawab akan apa yang Allah bicarakan kepada mereka. Tetap[i pada saat tahun kelima, umat memiliki kasih karunia yang cukup, dan Yehezkiel telah cukup belajar dan sekarang dapat memikul tanggung jawab untuk berbicara bagi Allah. Jadi, di tahun kelima Allah menginginkan Yehezkiel untuk memikul tanggung jawab untuk berbicara bagi umat Israel dan Dia menginginkan Israel memikul tanggung jawab untuk mendengarkan perkataan-Nya.
Kita tidak dapat berbicara tentang hal-hal di dalam kitab Yehezkiel kepada mereka yang baru beroleh selamat, karena mereka tidak dapat memahaminya. Namun, ketika beberapa orang mencapai “tahun kelima” dari keselamatannya, allah mungkin ingin berbicara kepada orang itu dengan cara tertentu. Demikian pula, sebagai seorang yang berbicara bagi Allah, saya tidak dapat berbicara tentang hal-hal ini sampai saya telah mencapai “tahun kelima”. Sekarang saya telah sampai pada “tahun kelima” saya dan orang lain telah sampai pada “tahun kelima” mereka, saya sanggup berbicara kepada mereka mengenai visi-visi di dalam kitab Yehezkiel, dan mereka sanggup untuk menerima pembicaraan ini. Baik orang yang berbicara dan orang yang mendengarkan harus memikul tanggung jawab terhadap Allah.