← Daftar isi Nehemia · bab 2/5

KEAGRESIFAN NEHEMIA

Pembacaan Alkitab: Neh. 1:1—2:8, 17-20

Dengan berita ini kita akan membahas keagresifan Nehemia dan perlu agresif dalam pemulihan Tuhan hari ini.

TIGA BAGIAN PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN RUMAH ALLAH DAN KERAJAAN ALLAH

Kitab Ezra dan Nehemia menggambarkan kembalinya tawanan dari Babel ke Yerusalem untuk membangun kembali bait dan memperbaiki tembok bagi rumah Allah dan kerajaan Allah. Agar Allah memiliki satu rumah dan kerajaan di bumi, tiga bagian pekerjaan yang diperlukan. Pertama, perlu ada banyak tawanan yang kembali dari Babel ke Yerusalem untuk meletakkan dasar bagi pembentukan satu bangsa. Hal ini memerlukan satu pemerintahan yang kuat, administrasi yang kuat. Kedua, perlu ada pengajaran dan pendidikan untuk membawa umat Allah ke dalam satu budaya yang menurut Allah. Budaya sedemikian bukan jenis Mesir ataupun orang Kanaan ataupun jenis Babel tetapi jenis Allah, satu budaya yang mengekspresikan Allah. Jenis budaya ini memerlukan pendidikan yang besar. Ketiga, perlu ada susunan bangsa itu secara organik. Bagian pekerjaan ini memperhatikan susunan umat Allah.

Kata susunan (konstitusi) adalah berarti dua. Menurut pikiran umum, kata ini mengacu kepada sebuah dukumen yang menyusun satu negara, sebagai contoh, Susunan Amerika Serikat. Pengertian susunan ini sangat sempit. Dalam pemakaian kita, kata susunan mengacu pada sesuatu yang organik yang memiliki sejumlah unsur. Jika pemerintahan satu negara disusun bukan saja secara organisasi tetapi juga secara organik, pemerintahan ini tidak akan mati. Sebaliknya, satu pemerintahan yang sedemikian akan menjadi sesuatu yang hidup dan organik.

Kepemimpinan Zerubabel

Pada tujuh puluh tahun terakhir pembuangan di Babel, Allah yang mahakuasa, berdaulat bergerak secara tersembunyi untuk mengendalikan Raja Koresh dengan terbuka membebaskan tawanan bangsa Israel kembali ke negeri mereka sendiri untuk membangun bait Allah (Ezr. 1:1-4). Juga, Raja Koresh membawa semua perabotan rumah Allah, yang telah Nebukadnezar jarah dari Yerusalem dan yang diletakkan di kuil dewa-dewanya (ayat 7). Perabotan ini kemudian dikembalikan ke Yerusalem (ayat 11). Kembali dari pembuangan di bawah kepemimpinan rajani Zerubabel, seorang keturunan rajani Daud (2:1-2). Jika kita mempelajari secara teliti catatan mengenai dia dalam Alkitab, kita akan nampak bahwa dia adalah seorang gubernur yang kuat dan sangat cakap dalam mengatur rakyat.

Kepemimpinan Ezra

Selanjutnya, ada kembali dari pembuangan yang kedua di bawah kepemimpinan imamat Ezra, seorang keturunan keluarga imam. Ezra bukan seorang pejabat tinggi di Persia. Sebaliknya, dia adalah seorang imam dan ahli Taurat yang mahir dalam hukum Taurat Musa (7:6). Sekalipun dia tidak memiliki jabatan di Persia, dia berani, kuat, dan agresif menghadapkan petisi kepada raja Persia. Raja mengabulkan semua permohonannya, melakukan sesuatu yang di minta Ezra.

Menghadapkan petisi ini bukan dimulai oleh Allah, ini dimulai oleh Ezra. Sebagai seorang yang mengambil inistiatif dalam perkara ini, Ezra adalah seorang yang bersandar Allah dan yang bersatu dengan Allah. Dia mahir dalam Firman Allah dan dia mengenal hati Allah, kedambaan Allah, dan ekonomi Allah. Karena semua hal ini, dia adalah seorang yang memiliki karakter yang unggul dan reputasi di hadapan raja. Jika Ezra tidak memiliki pendirian sedemikian di mata raja, raja tidak akan memberi dia kuasa untuk menunjuk pemimpim dan hakim-hakim (ayat 25).

Kepemimpinan Nehemia

Nehemia, anak Hakhalya, bukan seorang penasihat raja ataupun seorang panglima pasukan. Dia hanya seorang juru minum, seorang yang melayani anggur kepada raja. Tetapi kehidupan dan perilakunya telah membentuk sesuatu yang yang dihormati raja. Nehemia tidak pernah bersedih di hadapan raja (Neh. 2:1). Satu hari raja berkata kepada dia, “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati” (ayat 2). Menjadi agresif, Nehemia mengambil keuntungan dari kesempatan ini dan berkata, “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?'' (ayat 3). Raja bertanya apakah permintaannya, dan Nehemia meminta raja untuk mengutusnya ke Yehuda supaya ia dapat membangun kembali kota nenek moyangnya (ayat 5). Nehemia selanjutnya meminta agar surat-surat akan diberikan kepadanya untuk gubernur sehingga mereka akan membiarkan dia lewat. Dia meminta juga untuk surat kepada Asaf, penjaga taman, supaya ia dapat memberinya kayu (ayat 7-8). Raja memberikan kepada Nehemia semua yang ia minta.

KEAGRESIFAN NEHEMIA MERELAKAN DIRINYA UNTUK BEBANNYA

Kita tidak diberi tahu bahwa Nehemia dikendalikan oleh Allah. Sebaliknya, menurut 1:1-2, ia bertanya salah satu saudaranya dan beberapa orang lain yang datang dari Yehuda tentang orang-orang yang tertinggal dari pembuangan dan tentang Yerusalem. Mereka mengatakan bahwa orang-orang yang dalam keadaan sangat buruk dan tecela dan bahwa tembok Yerusalem telah dirobohkan dan pintu gerbangnya telah terbakar dengan api (ayat 3). Ketika Nehemia mendengar laporan ini, ia menangis, berduka, berpuasa, dan berdoa (ayat 4). Dia tidak menyebut sidang doa, dan dia tidak meminta orang-orang yang memberikan laporan untuk berdoa tentang situasi itu. Ia berdoa sendiri dengan beban riil.

Pada prinsipnya, ketiga bagian, pemerintah, pendidikan, dan konstitusi, telah hadir dalam pemulihan Tuhan selama berabad-abad. Beberapa dibangkitkan dan dikendalikan oleh Allah, dan beberapa relawan. Beberapa berada dalam posisi yang tinggi, dan beberapa masyarakat umum. Tetapi semua harus berani dan kuat dalam karakter dan agresif. Semua yang telah dipakai Allah sepanjang sejarah adalah orang agresif. Sebagai contoh, Paulus dan Martin Luther keduanya sangat agresif. Saudara Nee juga, meskipun ia adalah seorang pria, sangat agresif.

Nehemia pasti adalah orang yang agresif. Dia merelakan dirinya, dalam arti, bukan kepada Allah tetapi bebannya. Dia memiliki beban untuk membangun kembali kota Yerusalem. Agresifitasnya sangat banyak dipakai Allah.

Dalam pemulihan Tuhan hari ini ada banyak orang kudus yang baik, tetapi kita kekurangan agresifitas. Jika hanya lima ribu di antara kita yang agresif, dunia akan terbalik. Jika ada tujuh ratus orang agresif di setiap benua, banyak orang akan berbuah untuk melaksanakan ekonomi Allah.

Dalam bacaan kita tentang Kitab Nehemia, kita perlu memperhatikan agresifitas Nehemia. Meskipun ia adalah seorang manusia biasa, hamba raja, dia agresif untuk relawan dirinya kepada Allah dan bebannya mengenai pembangunan kota. Dia juga agresif dalam membuat permohonan yang dikenal raja. Ketika raja bertanya tentang wajah sedih, ia berbicara kepada raja dengan cara yang agresif berani tentang bebannya untuk kota Yerusalem. Adalah penting kita melihat ini dalam Firman.

KEBAJIKAN DAN KAPASITAS ALAMIAH DIBAWA KE SALIB

AGAR DIBAWA KE DALAM KEBANGKITAN

Pada saat ini kita perlu mempertimbangkan suatu hal yang bermakna dalam perlambangan Perjanjian Lama dan dalam penggenapan lambang dalam Perjanjian Baru. Dalam perlambangan banyak orang yang sementara dipakai Allah menurut kapasitas alamiah dan kebajikan alamiahnya untuk menandakan sesuatu yang rohani. Contoh dari hal ini adalah Nehemia dan agresifitasnya, yang merupakan kebajikan dalam perilaku insaninya. Sedangkan pada perlambangan hal-hal alamiah yang dipakai Allah sementara, dalam penggenapan lambang dalam Perjanjian Baru, semua kebajikan dan kapasitas alamiah harus dibawa ke salib. Mereka harus diletakkan ke salib dan disalibkan.

Banyak di antara kita berpikir bahwa untuk menempatkan hal tertentu ke salib berarti menempatkan hal itu untuk diakhiri. Dalam arti, ini benar. Namun, menurut arti yang sebenarnya dari salib Kristus, salib tidak hanya berarti sesuatu yang diletakkan ke akhir tetapi bahwa hal-hal alamiah yang disalibkan untuk dibawa ke dalam kebangkitan. Salib Kristus membawa semua hal yang alamiah kepada kematian dan penguburan. Namun, menurut Alkitab penguburan diikuti dengan kebangkitan. Karena itu penguburan diikuti kebangkitan. Apa pun yang dikuburkan akan dibangkitkan. Menurut Yohanes 12:24 sebutir gandum jatuh ke tanah, mati, dan dikuburkan. Tetapi ini bukan akhir. Setelah penguburan, sesuatu yang akan keluar dalam kebangkitan.

Contoh Musa

Mari kita membahas contoh Musa. Saya percaya bahwa Musa memiliki karakter yang kuat dan bahwa dalam konstitusi alaminya ia bahkan lebih agresif dibandingkan Nehemia. Pada usia empat puluh tahun Musa agresif menawarkan diri untuk menyelamatkan Israel dari tangan Firaun, raja Mesir, tetapi Allah datang untuk membatasi dirinya, sehingga dia gagal dan kecewa. Musa kemudian “dikubur” di padang gurun selama empat puluh tahun. Akhirnya, Allah kebangkitan datang untuk membangkitkan Musa (Kel. 3:2-6).

Contoh Petrus

Allah menjadikan kita dengan kebajikan dan kapasitas tertentu dalam konstitusi alami kita. Matius 25:15 memberi tahu kita bahwa “bakat” diberikan sesuai dengan kemampuan alami kita,'' yaitu kemampuan alami kita, yang didasari atas ciptaan Allah dan pembelajaran kita. Kemampuan ini perlu disalibkan dan kemudian dibawa ke dalam kebangkitan.

Ini adalah pengalaman dari semua rasul yang mampu dan cakap, seperti Paulus dan Petrus. Petrus, misalnya, berada di dalam “kuburan” selama tiga setengah tahun. Kapan saja ia merayap keluar dari kuburan itu, maka Tuhan Yesus mengirimkan dia kembali ke kuburan itu. Pada malam hari ketika Tuhan dikhianati, Petrus begitu berani dan agresif sambil mengatakan kepada Tuhan, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mrk. 14:31). Petrus selanjutnya memberi tahu Tuhan bahwa yang lainnya bisa saja meninggalkan Tuhan tetapi ia tidak akan pernah berbuat demikian. Sungguh berani! Sungguh agresif! Tuhan memberi tahu Petrus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (ay. 30). Sekali lagi, Petrus ditaruh ke atas salib dan dikuburkan.

Masuk Ke dalam Kebangkitan

Jika konsep alamiah, kemampuan alamiah, dan kebajikan-kebajikan alamiah kita tidak disalibkan, maka hal-hal itu akan menyebabkan banyak kesulitan dan akan menjadi sumber dari kesalahan-kesalahan yang besar. Tetapi kita kita membiarkan kapasitas, kemampuan, dan kebajikan-kebajikan alamiah kita dibawa kepada salib, dan mati, maka kita akan dibangkitkan. Kemudian di dalam kebangkitan, kapasitas, kemampuan, dan kebajian-kebajikan kita akan menjadi berkali-kali lebih besar daripada hal-hal itu sebelumnya berada di dalam hayat alamiah. Hal-hal ini tetap adalah milik kita, tetapi telah melalui kematian dan penguburan, dan sekarang hal-hal ini berada di dalam kebangkitan. Ini berarti bahwa kita sendiri, dengan kapasitas, kemampuan, dan kebajikan-kebajikan kita telah masuk ke dalam kebangkitan. Kita terus menerus eksis, tetapi kita dengan kemampuan alamiah kita yang telah dibawa ke dalam kebangkitan.

Realitas kebangkitan adalah Roh itu, dan Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah rampung. Karena itu, kebangkitan adalah Allah Tritunggal yang telah rampung. Kapasitas, kemampuan, dan kebajikan kita perlu ditransfer dari hayat alamiah kita ke dalam Allah Tritunggal yang telah rampung melalui kematian dan penguburan. Di dalam diri kita sendiri, kita ini alamiah, tetapi bila kita ditransfer keluar dari diri sendiri ke dalam Allah, yang adalah kebangkitan, maka kita akan masuk ke dalam kebangkitan.

Satu Prinsip Penting

Ini adalah satu prinsip yang sangat penting dalam menafsirkan lambang-lambang dan penggenapannya. Jika kita tidak menerapkan prinsip ini, maka semua kapasitas, kemampuan, dan kebajikan alamiah itu, tidak diperiksa oleh penyaliban, dan akan menjadi seperti “binatang-binatang liar” di antara kita.

Inilah situasi pada kebanyakan orang-orang yang cakap yang datang ke dalam pemulihan ini dan tinggal untuk sejangka waktu. Akhirnya mereka akan menyadari bahwa di dalam pemulihan ini tidak ada dasar bagi mereka untuk membentuk satu pekerjaan bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak akan rela untuk menerima penyaliban dan penguburan untuk dibawa masuk ke dalam kebangkitan. Mereka tidak dapat memikul salib. Inilah alasannya mengapa orang-orang cakap tertentu yang telah masuk ke dalam pemulihan ini tidak dapat tetap tinggal.

Allah memerlukan orang-orang yang sangat terdidik. Misalnya, Dia memerlukan seorang seperti Musa, yang “terdidik di dalam segala hikmat orang Mesir” (Kis. 7:22). Jika Musa bukanlah seorang yang terdidik, maka Allah tidak akan memakainya untuk memberikan hukum taurat. Namun kita tidak boleh mengandalkan hikmat alamiah dan pendidikan kita. Sangat beresiko bila kita menaruh kepercayaan kita kepada hal-hal demikian. Kita perlu bersatu dengan Allah. Jika kita bersatu dengan Allah, maka kita akan menaruh hikmat alamiah dan pendidikan kita ke atas salib. Semakin kita berbuat demikian, kita akan semakin berada di dalam kebangkitan.

Menaburkan “benih” kemampuan alamiah kita ke dalam tanah itu tidak pernah merupakan satu kerugian. Ketika kita menabur satu benih, maka kita kehilangan benih itu untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya, akan ada satu tuaian di dalam kebangkitan.

KEHIDUPAN NEHEMIA DALAM KEBANGKITAN

Nehemiah adalah seorang yang tidak hidup di dalam manusia alamiahnya melainkan di dalam kebangkitan. Ia agersif, tetapi keagresifannya itu disertai dengan karakteristik-karakteristik lainnya. Pertama, ia mengasihi Allah. Tidak ada keraguan tentang hal ini. Ia lahir di dalam penawanan dan ditunjuk untuk menjadi pembawa cawan raja, tetapi ia mengasihi Allah. Ia juga mengasihi negeri kudus (yang melambangkan Kristus), bait kudus (yang melambangkan gereja), dan kota kudus (yang melambangkan kerajaan Allah). Ia mengasihi Allah dan dalam perlambangan, ia mengasihi Kristus, gereja, dan kerajaan. Sebagai seorang yang mengasihi Allah, Nehemia adalah seorang yang mengontaki Allah. Kita diberitahu berkali-kai bahwa Nehemia berdoa kepada Allah (Neh. 1:4; 2:4b; 4:4-5, 9). Selain itu, Nehemia bersandar kepada Allah dan bahkan menjadi satu dengan Allah.

Dalam dirinya sendiri, keagresifan Nehemia itu alamiah, tetapi di dalam Allah, keagresifannya itu berada di dalam kebangkitan. Nehemia adalah seorang yang agersif yang mengasihi Allah, negeri kudus, bait kudus, dan kota kudus, yang mengontaki Allah dan bersekutu dengan Dia, yang bersandar kepada Allah, dan yang bersatu dengan Allah. Alhasilnya, ia menjadi wakil Allah. Kita perlu jelas tentang hal ini untuk memahami makna intrinsik dari lambang ini menurut pandangan yang diberikan oleh Roh itu.