← Daftar isi Kepengurusan Penatua atas Gereja · bab 15/15

PEMERINTAHAN PENATUA (5)

Dalam bab ini kita meneruskan melihat butir kedua tentang pelayanan.

b. Penanganan atas Urusan-urusan

Begitu gereja berdiri, segera ada keperluan untuk bersidang, ada pergerakan penginjilan, penjengukan kaum saleh. Semua ini adalah pelayanan yang paling dasar. Sebab itu, penanganan atas urusan-urusan (pekerjaan umum) tidak bisa dihindari lagi. Begitu ada pelayanan, segera ada keperluan penanganan atas urusan-urusan. Misalnya, mau bersidang perlu mempersiapkan tempat duduk; setelah ada tempat duduk, sebelum sidang perlu ada pembersihan, penataan ruang; dan lain sebagainya. Kita akan melihat banyak urusan-urusan (pekerjaan umum) yang akan menyusul. Sekarang kita akan menyinggung beberapa prinsip penanganan atas urusan-urusan ini.

Ada gereja yang didirikan oleh pekerja. Pada mulanya tanggung jawab berada pada diri pekerja, setelah sejangka waktu baru ditetapkan penatua. Ada tempat, gereja disana berdiri karena ada saudara-saudara pindah dan menetap di tempat itu, pelan-pelan Tuhan melalui mereka membangunkan gereja, pada mulanya dengan sendirinya tanggung jawab berada pada diri saudara-saudara itu. Kemudian pelayanan mereka semakin nyata, semakin teratur, lalu ada sekerja datang ke tempat itu, menurut keadaan yang ada menetapkan penatua. Bagaimanapun, prinsip penanganan atas urusan-urusan adalah sama.

Prinsip ini yaitu dalam penanganan atas urusanurusan sekali-kali jangan membawa masuk cara demokrasi, semua berunding, menyatakan pendapatnya, akhirnya mengambil keputusan berdasarkan pendapat yang lebih banyak. Itu adalah cara duniawi, pengajaran dan teladan Alkitab tidak demikian. Di lain pihak, Anda juga tidak dapat diktator. Jangan karena Anda seorang diri yang memimpin, lalu apa saja Anda putuskan sendiri, Anda kerjakan sendiri, ini juga tidak sesuai dengan Alkitab. Prinsip pemerintahan dalam Alkitab tergantung pada Roh Kudus yang ada di dalam gereja.

Kalau di satu tempat berdiri satu gereja dan keadaan di sana normal, di dalamnya pasti ada Roh Kudus. Kalau tidak ada Roh Kudus, berdirinya gereja di sana pasti ada masalah. Kalau kita mengakui itu adalah gereja, kita harus percaya dan mengakui dengan khidmat bahwa di tengah-tengah mereka ada Roh Kudus. Politik dalam dunia atau organisasi kemasyarakatan hanya ada orang, tidak ada Roh Kudus. Politik zaman kuno adalah sistem kerajaan yang diktator, politik zaman sekarang cenderung pada demokrasi; tetapi, dalam kediktatoran tidak ada Roh Kudus, dalam demokrasi juga tidak ada Roh Kudus. Pemerintahan dalam gereja tergantung pada Roh Kudus. Karena ada Roh Kudus, maka bukan diktator, juga bukan demokrasi.

Karena ada Roh Kudus, maka ada perbedaan tingkatan hayat. Kita tidak bisa menyangkal bahwa Roh Kudus beserta dengan kaum saleh berdasarkan tingkatan hayat masing-masing orang. Kalau tingkatan hayatnya lebih tinggi, penyertaan Roh Kudus juga lebih banyak; kalau tingkatan hayatnya agak rendah, maka penyertaan Roh Kudus juga agak rendah. Seberapa banyak, kuat, dan nyata penyertaan Roh Kudus, sepenuhnya tergantung pada tingkatan hayat. Tentu saja, ini sendirinya, sangat berhubungan dengan keadaan orang bersangkutan di hadapan Tuhan. Mungkin tingkatan hayat Anda sangat tinggi, sangat dalam, dan sangat matang, tetapi dalam beberapa hari ini keadaan Anda di hadapan Allah agak kurang baik, persekutuan Anda dengan Tuhan kurang bagus, bahkan ada kelemahan, kesemuanya ini bisa mempengaruhi penyertaan Roh Kudus. Hal ini dapat dilihat pada diri Petrus yang tercantum dalam Galatia 2 dan Kisah Para Rasul pasal 15. Tingkatan hayat Petrus di tengah-tengah saudara-saudara sangatlah tinggi, tetapi dalam Galatia 2 kita nampak Petrus ada kelemahan, Petrus telah lemah. Dia mencampuradukkan Injil dengan hukum Taurat, mencampuradukkan kebenaran Injil. Sebab itu ayat 9 mengatakan, “Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang dipandang sebagai tiang utama jemaat . . .” Di sini terlebih dulu menyebut Yakobus, kemudian baru menyebut Kefas (Kefas adalah Petrus), jelas sekali pada saat ini Petrus telah berada di belakang.

Sampai Kisah Para Rasul 15, ketika para rasul dan para penatua di Yerusalem berunding soal apakah orang kafir perlu memelihara hukum Taurat, sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata sepotongan perkataan, kemudian Barnabas dan Paulus menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. Setelah itu diamlah seluruh umat itu, lalu Yakobus mengambil keputusan terakhir. Artinya, di sini Yakobus menjadi otoritas yang memimpin. Dia memberi kesempatan Petrus berbicara, memberi kesempatan Barnabas dan Paulus bersaksi, terakhir dia berdiri berbicara, mengutarakan pendapatnya. Lalu semua memutuskan demikian dan menulis surat berkata bahwa ini adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami. Inilah keadaan yang tidak ada dalam dunia, tidak demokrasi, juga tidak diktator; yang ada di sini adalah Roh Kudus.

Penyertaan Roh Kudus berdasarkan tingkatan hayat orang, juga berdasarkan keadaan rohani orang itu di hadapan Allah pada saat itu. Penyertaan Roh Kudus ini adalah otoritas pengambilan keputusan dalam gereja. Tingkatan hayat Petrus lebih tinggi daripada Yakobus. Tetapi pada saat itu Petrus ada kelemahan. Di tengah-tengah mereka, keadaan Yakobus di hadapan Allah paling benar, sebab itu otoritas memimpin, otoritas mengambil keputusan terakhir berada di atas diri Yakobus. Ketika mereka memutuskan demikian, mereka bisa berkata, “Ini adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.” Bukan opini orang banyak, juga bukan pendapat seseorang, melainkan pergerakan Roh Kudus, dan pergerakan Roh Kudus berdasarkan tingkatan hayat dan keadaan orang itu di hadapan Allah.

Sebab itu, ketika satu gereja lokal dibangunkan, dengan sendirinya orang-orang yang kerohaniannya lebih tinggi akan menjadi orang yang memimpin di sana. Saudara-saudara yang memimpin ini tidak mungkin begitu menemui urusan-urusan segera mengumpulkan seluruh gereja untuk merundingkan masalah ini. Kalau berbuat demikian, pasti membawa masuk opini manusia dan mengorbankan otoritas Roh Kudus.

Misalnya, di sini ada tiga puluh saudara saudari, hanya lima atau enam orang yang hayat rohaninya agak tinggi sedikit, keadaan mereka di hadapan Tuhan agak normal sedikit, lainnya baru beroleh selamat, keadaan rohaninya masih muda, sama sekali tidak mengerti tentang sifat rohani atau sifat daging. Kalau menghendaki semua mengeluarkan opini, akhirnya melakukan pemungutan suara, hasilnya pasti delapan puluh persen menyetujui usulan yang bersifat daging, dua puluh persen memilih usulan yang bersifat rohani. Sistem kongresional akan membawa masuk daging manusia dan mengorbankan otoritas Roh Kudus. Sebab itu kita tidak bisa menempuh sistem kongresional. Di lain pihak, hanya saudara yang memimpin sendirian yang mengambil keputusan, juga tidak diperbolehkan oleh Alkitab. Dalam Alkitab tidak ada cara diktator, melainkan saudarasaudara yang senior, yang rohani, yang dewasa bersamasama bersidang.

Kalau gereja baru mulai, belum menetapkan penatua, prinsip kerjanya tetap sama. Perlu di antara saudara saudari mencari beberapa yang agak dewasa, agak mengasihi Tuhan, agak rohani, bersama-sama bersekutu. Harus memberi kesempatan kepada semua orang mengutarakan perasaan, Anda yang sebagai orang yang memimpin harus mendengarkan, sambil menengadah mohon Roh Kudus memberi Anda daya pembeda, supaya Anda bisa menemukan dalam perkataan saudara ini ada pandangan pribadi, ada kadar daging; atau perkataan saudara itu sangat takwa kepada Allah, sangat cocok dengan maksud hati Tuhan. Setelah mengutarakan perasaan-perasaan peserta persekutuan, Anda harus mengambil keputusan, bukan melalui voting. Harus mendapat saudara saudari merasakan di sini ada otoritas Roh Kudus, bukan sistem demokrasi. Tetapi semua menyampaikan perasaan Roh Kudus di hadapan Tuhan, kemudian otoritas Roh Kudus yang mengambil keputusan. Kalau saudara saudara semua memegang prinsip ini, dalam keadaan yang demikian, Anda akan nampak penyertaan Roh Kudus yang nyata.

Sering kali, dalam situasi yang lain, Anda sangat ceroboh, tetapi begitu datang ke dalam situasi ini, di bawah keadaan ini, di dalam Anda sangat jelas. Asal Anda membuka mulut, Roh Kudus segera memberi Anda perasaan, Anda akan dengan jelas mengetahui bahwa di dalam saudara itu masih ada nafsu, di dalam perkataan saudara ini masih membawa emosi, opini saudara yang lain benar, bisa dipakai. Kesemuanya itu belum pernah Anda pikirkan. Pada saat ini Anda harus menjadi otoritas, mengambil suatu keputusan. Ini bukan demokrasi, juga bukan diktator, melainkan Roh Kudus menjadi otoritas di dalam gereja, yang dinyatakan melalui saudara-saudara yang lebih dewasa, yang hidup di hadapan Tuhan.

Dalam gereja selalu ada sejumlah kecil orang yang lebih takwa kepada Tuhan, hidup di hadapan Tuhan, mengenal Tuhan, memiliki daya pembeda dalam perkara rohani, merekalah yang seharusnya mencari maksud Roh Kudus terhadap urusan-urusan gereja, kemudian mengambil satu keputusan. Kalau perhimpunan di satu tempat itu benar-benar dibangunkan oleh Tuhan, Anda harus percaya, meskipun saudara yang memimpin agak muda, pasti juga ada penyertaan Tuhan yang khusus.

Beginilah pelaksanaan kita dulu ketika mulai sidang di daerah utara China. Saat itu sayalah yang memimpin, tetapi belum pernah menerima pelatihan apa pun, juga belum pernah mengadakan sidang yang demikian, tetapi di bawah pimpinan Roh Kudus, kami tidak demokrasi, juga tidak diktator. Kalau ada masalah, lalu membicarakannya dengan sejumlah kecil saudara saudari yang mengasihi Tuhan, berulang-ulang membicarakannya di hadapan Tuhan, mempertimbangkan untung ruginya, kemudian mengambil keputusan harus bagaimana bertindak. Lama kelamaan, melewati kurang lebih sepuluh tahun, kita baru nampak terang dalam Alkitab tentang pemerintahan gereja memang demikian: bukan demokrasi, juga bukan diktator.

Catatan Kisah Para Rasul 15 tentang keputusan Yakobus sangatlah indah. Ayat 13 berkata, “Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, ‘Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: . . .’” Ini adalah otoritas yang sejati. Tetapi dia tidak berkata, “Dengarlah perkataanku, aku lihat, keputusannya demikian!” Kalau demikian, adalah diktator. Yakobus berkata, “Simon telah menceritakan . . .”; dia terlebih dulu membawa masuk perasaan orang lain sebagai dasar. Kemudian berkata lagi bahwa ucapan-ucapan para nabi juga sesuai dengan maksud ini; dia juga mendapatkan konfirmasi dari Alkitab, kemudian baru memutuskan, “Sebab itu aku berpendapat”, inilah perkataan otoritas. Di dalam inilah mengambil keputusan, tidak diktator, juga tidak demokrasi, sepenuhnya adalah keputusan Roh Kudus.

Dalam gereja, setiap kali bertemu dengan masalah urusan, harus berpegang pada prinsip ini. Bahkan yang murni bersifat urusan pun perlu berpegang pada prinsip ini. Misalnya kalian mulai bersidang, perlu kursi, Anda tidak bisa mengumpulkan tiga puluh saudara saudari, mengadakan sidang khusus membicarakan soal kursi, kalau demikian akan celaka, karena gereja sepenuhnya menjadi Lembaga Masyakat Sosial, otoritas Roh Kudus hilang sama sekali. Anda harus mencari beberapa orang yang agak mengasihi Tuhan, yang agak mengerti tentang urusan umum, berkontak dengan mereka, menanyakan pendapat mereka, mengambil pandangan mereka, kemudian Anda mengundang beberapa saudara saudari yang memimpin, saling bersekutu. Kalau hati Anda takwa kepada Tuhan, tidak ada opini pribadi, tidak diktator, ingin Roh Kudus yang berkuasa, atas masalah kursi pun Roh Kudus akan memberi Anda hikmat, akan menunjukkan kepada Anda apa yang paling baik. Kemudian Anda boleh mengambil satu keputusan, berkata kepada saudara-saudara bahwa di antara cara-cara ini, apa yang dikatakan saudara A paling baik, sebab itu marilah kita memakai cara saudara A. Inilah prinsip menangani urusan-urusan.

Sayang sekali, ada beberapa gereja kalau tidak condong ke diktator, condong ke demokrasi, dan dalam kedua keadaan ini, Roh Kudus sama-sama tidak mempunyai otoritas. Akibatnya, dalam kepengurusan gereja terjadi kesulitan yang besar. Roh Kudus menjadi otoritas di dalam gereja dinyatakan melalui saudara saudari yang agak (lebih) maju. Setelah saudara saudari jelas akan prinsip ini, baru kemudian dapat menerapkannya diterapkan dalam segala urusan. Tentang bagaimana cara kerjanya, harus melakukan apa saja, Anda harus lebih dulu berdoa di hadapan Tuhan. Misalnya di sini sudah mulai ada sidang, sebaiknya dalam satu minggu diadakan sidang-sidang apa saja, Anda yang sebagai pewajib yang memimpin harus terlebih dulu datang ke hadapan Tuhan berdoa, menjamah perasaan Tuhan, kemudian mencari beberapa saudara saudari yang mengasihi Tuhan, yang rohani, untuk bersekutu, mendengarkan perasaan mereka. Pada saat itu, Roh Kudus akan memberi Anda satu keputusan, lalu Anda berkata, “Saudara-saudara, urusannya sudah jelas. Setiap minggu kita harus memecahkan roti sekali, berdoa sekali, memberitakan Injil di rumah salah satu saudara sekali.” Semua urusan rutin atau umum dalam gereja diputuskan dengan cara yang demikian.

Begitu ada urusan, segera timbul masalah manusia. Sekarang akan mulai sidang, siapa yang bertanggung jawab menata ruang sidang? Siapa yang bertanggung jawab pembersihan? Prinsipnya tetap sama. Anda tidak bisa mengadakan rapat umum untuk memutuskannya, juga tidak bisa memutuskan sendiri, Anda harus mengundang beberapa saudara saudari untuk bersekutu, mendengarkan perasaan mereka, melalui perbincangan itu dalam Anda akan jelas. Demikian Anda lalu menyerahkan urusanurusan itu kepada orang yang dikonfirmasi oleh Roh Kudus. Tidak saja demikian, cara pembersihan atau penataan juga perlu dipersekutukan oleh beberapa orang, kemudian diserahkan kepada orang-orang yang seharusnya memikul tanggung jawab itu. Inilah satu prinsip dasar. Kalau kita takwa kepada Tuhan, di bawah prinsip ini, menurut tingkatan kerohanian kita, Roh Kudus di tengah-tengah kita akan memperoleh kedudukan yang seharusnya Ia peroleh.

Dalam koordinasi atas urusan-urusan, orang yang mengurus masih perlu setelah memiliki ide. Sekarang gereja telah bangun, harus ada pergerakan apa? Harus mengarah ke mana? Semua perlu dibawa dalam doa, baik-baik menengadah kepada Tuhan. Tetapi ada ide saja masih merupakan satu permulaan, ketika akan mengambil keputusan, masih perlu berdasarkan prinsip ini, mengundang sejumlah kecil saudara saudari duduk berbincang-bincang. Anda boleh berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, dalam beberapa waktu ini saya di hadapan Tuhan merasakan bahwa hanya ada doa dan pemecahan roti saja masih tidak cukup. Terhadap Alkitab, kita tidak begitu mengerti, kebenaran juga masih kabur, apakah kita perlu ada sidang pembacaan Alkitab?” Di sinilah kalian memutuskan sidang pembacaan Alkitab, mungkin perlu ditambah satu sidang pemberitaan firman.

Mungkin tidak lama lagi, karena penyertaan Tuhan, jumlah orang yang hadir dalam sidang kalian terus bertambah, ruang sidang sudah tidak cukup menampung, sampai ke luar ruangan. Saat ini, Anda yang menjadi pemimpin, harus segera memiliki ide. Anda berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, apakah bersidang di ruang tamu saudara kita sudah tidak memadai lagi? Perlukah kami menyewa satu tempat untuk bersidang? Atau harus membeli sebidang tanah untuk membangun tempat sidang? Setelah Anda berdoa demikian di hadapan Tuhan, ketika akan mengambil keputusan, masih dalam prinsip yang sama. Undanglah saudara saudari yang dewasa, bersama-sama membicarakan hal ini. Di dalam pembicaraan itu, Roh Kudus akan menunjukkan harus menyewa rumah, atau membeli tanah, atau menyewa rumah sambil juga mencari tanah untuk membangun tempat sidang. Setelah Anda jelas, lalu mengambil keputusan; pada sidang pemecahan roti selanjutnya, bisa diumumkan. Kalau bisa terus berada di dalam prinsip ini, mengikuti Roh Kudus timbul ide-ide, ini adalah perkara yang paling indah.

Yang paling ditakutkan dalam hal para penatua mengurus gereja ialah tidak bisa mengikuti Roh Kudus menghasilkan ide. Penyebab tidak bisa mengikuti Roh Kudus, kalau bukan karena malas, pasti karena takut repot. Adakalanya seorang saudara yang mengasihi Tuhan berkata kepada Anda, “Saudara, lihatlah, jumlah yang hadir dalam sidang kita sekarang ada tujuh puluh, delapan puluh orang, ruang tamu ini mungkin sudah tidak muat lagi. Tetapi Anda menjawab, “Saudara, Anda masih harus mengajar sebagai guru, aku masih harus bekerja sebagai karyawan, asal bisa lewat, demikianlah dulu!” Dalam Perjanjian Baru, tanda Roh Kudus adalah burung merpati, bukan harimau. Anda sedikit takut repot, Dia akan terbang. Kalau Anda dengan gembira berdoa, “Tuhan, aku rela sedikit lebih kurang tidur, atau sedikit lebih berjerih lelah, karena di sini ada suatu keperluan, apakah perlu mempersiapkan satu tempat sidang? Di dalam Anda segera ada desakan; Anda harus mengundang lagi saudara saudari yang rohani datang bersekutu, menjamah perasaan Roh Kudus, mempersilakan Roh Kudus berkuasa, terus berusaha, maka Roh Kudus akan membawa Anda maju. Kalau Anda mau menghasilkan ide bersama dengan Roh Kudus, Dia akan terus datang mencari Anda.

Dalam menghasilkan ide ini, pada suatu hari, Roh Kudus kembali mendapatkan Anda, memperlihatkan kepada Anda bahwa di antara seratus saudara saudari ini ada beberapa puluh keluarga yang mempunyai anak kecil, apakah perlu diadakan sidang anak-anak? Lalu Anda berdoa di hadapan Tuhan lagi, di dalam ada desakan lagi, masih menurut prinsip ini mengambil keputusan. Begitu ada sidang anak-anak, segera timbul masalah tempat sidang, masalah kursi, masalah siapa yang bertanggung jawab, begitu Anda ada ide, segera timbul banyak kerepotan.

Kalau Anda mau berjerih lelah, pekerjaan pasti diberkati Tuhan, jumlah yang hadir akan terus bertambah, segera timbul ide yang baru lagi, misalnya membangun tempat sidang, membagi distrik hall, menetapkan pewajib hall, distrik urusan yang “repot” terus datang bertubi-tubi. Dari ide ini dengan sendirinya timbul tiga macam pelayanan yang besar. Orang yang bersidang sekian banyak, urusan juga begitu banyak, harus ada kantor diaken. Anda ada ide untuk mengadakan kantor diaken, masih ada ide kantor diaken perlu mengerjakan urusan apa saja, siapa yang menangani urusan itu, baru bisa menunjang tiga macam pelayanan. Lihatlah, di sini perlu banyak jerih lelah!

Tahun 1950, di Taipei saya bersama dengan seorang saudara membuat rancangan detail tata tertib kantor diaken, sedikitnya ada beberapa ratus butir. Masih perlu dilaksanakan dengan baik, masih perlu menunjang tiga macam pelayanan besar, masih perlu menunjang sidang, masih perlu dilakukan oleh orang yang rohani, orang yang ikut melayani dalam kantor diaken perlu dibina; ini tidak cukup dengan dua atau tiga kata saja sudah bisa melakukan dengan baik, perlu para penatua sering mengelola, datang mengatur sendiri, baru bisa terlaksana dengan baik. Kalau tidak, gereja lokal yang sekian besar, jangankan jumlah yang sampai 3.000 atau 5.000 orang, 300 atau 500 orang saja sudah tidak mudah mendorong pelayanan berjalan baik. Tidak saja tidak mampu mendorongnya, bahkan di belakang juga tidak bisa menghasilkan orang yang melayani. Karena sama sekali tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk masuk belajar melayani. Sebab itu Anda harus mengurus sampai pelayanan bisa terus berputar, membawa masuk orang yang di belakang. Orang yang beroleh selamat lebih banyak, pembagian distrik lebih banyak; pembagian distrik lebih banyak, pekerjaan umum atau urusan rutin lebih banyak; pekerjaan rutin lebih banyak, penanggung jawab dan orang yang melayani semakin banyak. Harus terus berputar, sama seperti di Taipei telah menghasilkan 34 distrik, 180 distrik. Kalau 180 pewajib distrik ini mau seperti yang kita bicarakan, terus menghasilkan ide bersama Roh Kudus, saya percaya, lewat lima tahun lagi pasti menghasilkan seratus lebih distrik, hanya pewajib distrik saja sudah ada 500 atau 600 orang. Anda jangan takut Tuhan tidak akan memberkati, masalahnya adalah siapa yang akan bekerja sama dengan Dia? Prinsip Roh Kudus adalah langit turun hujan, orang menggarap tanah. Masalahnya siapa yang mau menggarap tanah, bagaimana cara menggarap tanah? Orang yang menggarap tanah ada seluk-beluknya, cara menggarap tanah juga ada seluk-beluknya. Semua seluk-beluk ini tergantung dari dukungan pelayanan urusan umum atau rutin.

Kalau Anda mau terus menghasilkan ide, pelan-pelan Anda akan nampak Taipei adalah pusat pendidikan, di dalam sekolah menengah dan perguruan tinggi ada banyak pelajar dan mahasiswa, bagaimana Anda melalui menggarap saudara saudari yang menjadi pelajar dan mahasiswa, mengantar Injil ke tengah-tengah mereka? Ini adalah satu ide yang besar, coba pikirkan, hanya mendorong hal ini saja perlu berapa banyak pekerjaan? Perlu berapa banyak material? Perlu berapa banyak orang? Setelah berusaha satu dua tahun, sedikitnya ada 100 sampai 200 pemuda didapatkan oleh Tuhan; pengaruh ini, hari depan ini, tidak dapat diduga. Dengan cara demikianlah gereja bertumbuh besar, berkoordinasi, terbangun!

Dalam kepengurusan yang demikian, orang tidak bisa tidak takwa kepada Tuhan, tidak bisa tidak menempuh kehidupan yang beribadah, tidak bisa tidak hidup di dalam roh. Kalau demikian, bisakah gereja tidak ada penyertaan Tuhan? Apakah berkat yang diterima akan sangat terbatas? Lagi pula, berkat yang tidak terbatas ini akan mendorong orang-orang yang bertanggung jawab menghasilkan ide, sama seperti orang di wilayah utara ketika musim dingin menggulirkan bola salju, semakin bergulir semakin cepat semakin besar. Mungkin karena keterbatasan orang sampai suatu saat bisa berhenti. Tetapi lama kelamaan, setelah para pewajib di hadapan Tuhan mempunyai pelajaran yang lebih dalam, menerima pemberesan yang lebih hebat, pergerakan baru mulai berjalan lagi, bola salju akan bergulir lagi.

Sebagai manusia, seseorang perlu menerima pendidikan, perlu belajar ketrampilan, tetapi setelah berkeluarga dia masih perlu belajar bagaimana mengurus rumah. Gereja juga demikian. Selain menuntut rohani secara pribadi, memberitakan Injil, merawat orang, kalau bersimpati kepada maksud hati Allah, mau di dalam tangan Allah menjadi orang yang berguna, dia masih perlu menuntut atau belajar mengurus gereja. Bila dia ingin kerohaniannya mempunyai jalan, ingin persekutuan dengan Tuhan berguna, ingin pemberitaan Injil bisa mendatangkan hasil, ingin perawatan kaum saleh ada jalan keluarnya, kesemuanya ini tergantung pada kepengurusan gereja. Kalau kekurangan kepengurusan gereja, kesemuanya ini akan runtuh, berantakan berkeping-keping. Begitu ada kepengurusan gereja, kesemuanya ini dapat dikoordinasikan menjadi satu gereja yang utuh, solid, dan berguna. Sebab itu, sungguh mengharapkan para penatua dalam hal kepengurusan gereja banyak berjerih lelah, inilah keperluan gereja yang mendesak pada dewasa ini.