← Daftar isi Gereja · bab 21/23

SIKAP KITA DI DALAM KEHIDUPAN GEREJA

Pembacaan Alkitab:

Rm. 12:3-5; 1 Kor. 12:12-27; 1 Yoh. 3:14; Ibr. 13:17.

Garis Besar

I. Memiliki kesadaran terhadap Tubuh

II. Mengasihi saudara-saudara

III. Tanpa perpecahan

IV. Dilepaskan dari kemandirian

V. Tinggal dalam persekutuan

VI. Belajar menjadi anggota

VII. Tunduk kepada otoritas

VIII. Tidak memiliki ambisi

Dalam pelajaran ini, kita perlu melihat sikap kita di dalam kehidupan gereja. Sikap yang tepat sangat membantu dalam membangun gereja. Sikap yang salah akan membantu iblis merusak kehidupan gereja. Beberapa orang berkata bahwa mereka nampak Tubuh, tetapi sikap mereka salah; sikap yang salah ini menimbulkan masalah dalam gereja. Sebab itu orang muda harus belajar memiliki sikap yang tepat untuk membangun gereja.

I. MEMILIKI KESADARAN TERHADAP TUBUH

Kita diselamatkan sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus; sebab itu kita harus memiliki kesadaran terhadap Tubuh. Banyak orang yang tidak melihat visi ini, dan menganggap diri mereka sebagai orang Kristen yang individual, yang telah diselamatkan Tuhan sehingga tidak masuk neraka, tetapi masuk surga. Mereka tidak menyadari bahwa tujuan Allah adalah gereja, mereka juga tidak menyadari bahwa mereka adalah anggota-anggota Tubuh; sebab itu mereka tidak memiliki perasaan (kesadaran) terhadap Tubuh. Mereka hidup sebagai individu-individu yang terpisah dari Tubuh. Mereka hanya memperhatikan diri mereka dan kerohanian mereka sendiri. Mereka hidup secara independen terhadap kaum beriman lainnya, seolah-olah mereka tidak memerlukannya. Kaum beriman yang memiliki sikap demikian sangat kasihan. Kita harus berdoa dan mempelajari firman sampai kita melihat sepenuhnya visi Tubuh, dan memiliki kesadaran (perasaan) terhadap Tubuh Kristus.

II. MENGASIHI SAUDARA-SAUDARA

Pertama-tama kita mencoba melakukan pendekatan dari sudut pandang kasih. Ada perkara yang sangat menakjubkan bila kita merenungkan ayat ini: “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita” (Yoh. 3:14). Semua orang yang sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup saling mengasihi satu sama lain. Semua yang menjadi anggota dari Tubuh rohani yang sama saling mengasihi satu sama lain. Kasih semacam ini berasal muncul dari hayat dan mengalir dengan sendirinya. Misalkan dalam sebuah sidang gereja seseorang menyatakan dengan yakin, bahwa ia adalah seorang Kristen. Setelah diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, ia seharusnya mengasihi orang Kristen yang lain, kemudian ia berkata, “Saya akan mulai mengasihi orang Kristen yang lain besok bila Anda berkata demikian”. Apakah orang semacam ini dapat dianggap sebagai anak Allah? O, hendaknya kita melihat bahwa setiap orang yang benar-benar dilahirkan dari atas dan memiliki hayat Allah, secara spontan mengasihi semua orang yang menjadi anggota bersama dengannya di dalam Tubuh Kristus. Baik diingatkan maupun tidak, ia memiliki kesadaran untuk mengasihi saudara-saudara. Memang benar, ia perlu diingatkan berkali-kali agar mengasihi saudara-saudara. Tetapi dengan mengingatkan demikian, kita tidak menambahkan sesuatu yang semula belum ada dalam dirinya; hal tersebut hanya membarakan apa yang sudah ada dalam dirinya. Bila kasih Allah ada di dalam seseorang, kasih akan saudara-saudara ada juga di dalamnya. Dan bila kasih Allah tidak ada, maka kasih persaudaraan pun tidak ada. Hal ini sangat sederhana. Tidak ada yang bisa diciptakan atau dibuat. Bila seorang beriman bertemu dengan orang lain yang juga milik Allah, aneh, tetapi juga alami, ia secara spontan mengasihinya, sebab ia memiliki kesadaran batiniah di dalamnya yang mewujudkannya dalam kasih terhadap orang lain tersebut.

Kita semua yang telah dilahirkan dari Allah dan telah dibaptis ke dalam Tubuh Kristus tidak bisa tidak mengasihi satu sama lain. Ketika kita hidup di dalam daging, kita cenderung melukai orang lain dengan perkataan kita yang menyakitkan. Kita perlu bertobat dari perilaku semacam itu. Kita saling harus memperhatikan perasaan orang lain dengan hidup di dalam roh.

III. TANPA PERPECAHAN

Orang yang telah nampak Tubuh Kristus, dengan demikian memiliki kesadaran terhadap Tubuh, merasa tidak nyaman bila ia melakukan suatu hal yang menyebabkan perpecahan, atau mengucilkan anak-anak Allah. Sebab ia mengasihi semua orang milik Allah dan tidak dapat memecah belah anak-anak Allah. Kasih adalah hal yang alami bagi Tubuh Kristus, sedangkan perpecahan adalah hal yang paling tidak alami. Sama halnya dengan kedua tangan kita: sebanyak apa pun alasan yang dikemukakan oleh sebuah tangan terhadap yang lain, tetap tidak ada jalan untuk memisahkan hubungan keduanya: secara sederhana, pemisahan adalah hal yang tidak mungkin.

Tubuh Kristus akan melepaskan kita dari golongan dan sikap bergolong-golongan; ia juga akan menyelamatkan kita dari diri-sendiri dan individualisme. Alangkah menyedihkan, hari ini prinsip-hidup kebanyakan orang bukanlah Tubuh, tetapi diri mereka sendiri. Kita bisa menemukan prinsip individualisme ini di banyak tempat. Misalnya, kadang-kadang tiga atau lima, atau bahkan sepuluh atau dua puluh saudara dalam sidang semuanya berbicara tentang urusan mereka sendiri, tanpa menunjukkan minat terhadap perihal orang lain atau mendengarkan pemikiran mereka. Atau mungkin, ketika Anda atau orang lain duduk bersama orang seperti itu, ia mungkin berbicara dengan penuh gerak tentang urusannya sendiri; tetapi ketika Anda atau orang lain tersebut berbicara, ia tidak menunjukkan perhatian sedikit pun—sebab jika Anda menanyainya kemudian, akan ketahuan bahwa sepertinya ia tidak mendengar apa pun. Dalam perkara-perkara kecil seperti ini, Anda dapat mengatakan apakah seseorang telah benar-benar mengenal Tubuh Kristus.

Kesulitan individualisme dapat juga berkembang, dari hanya mengekspresikan individualisme satu orang menjadi beberapa orang. Anda bisa mengamati dalam gereja, bahwa tiga atau lima, mungkin bahkan delapan atau sembilan orang kadang-kadang membentuk lingkaran kecil. Hanya beberapa orang ini saja yang bisa sepikiran dan saling mengasihi. Mereka tidak bisa cocok dengan saudara-saudari lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga belum nampak Tubuh Kristus. Gereja itu satu, ia tidak dapat dipisah-pisahkan. Bila seseorang benar-benar telah mengenal Tubuh, ia tidak dapat menyetujui bentuk apa pun dari individualisme. Ia tidak dapat membentuk kelompok atau lingkaran kecil apa saja.

Bila Anda memiliki pengalaman yang sejati akan Tubuh Kristus, Anda akan merasakan ada yang tidak beres setiap kali Anda mulai menunjukkan individualisme Anda, dan tentu saja Anda tidak berani berbuat apa pun. Atau ketika Anda atau beberapa orang akan mengambil tindakan yang salah, kesadaran Tubuh ini akan membuat Anda sadar akan bahaya terputus dari anak-anak Allah yang lain, dengan demikian mencegah Anda meneruskan tindakan tersebut. Ada sesuatu di dalam Anda yang menahan, berbicara, memarahi, memperingati, atau menghalangi. Kesadaran hayat ini dapat melepaskan kita dari semua noda perpecahan.

IV. DILEPASKAN DARI KEMANDIRIAN

Bila kita memiliki kesadaran Tubuh, kita akan segera memahami bahwa Tubuh itu satu. Jadi, ruang lingkup pekerjaan rohani tidak bisa perorangan. Untuk berbagian dengan benar dalam pekerjaan Tuhan, kita wajib menanggulangi perihal jerih-lelah yang dikerjakan sendirian. Beberapa orang berpikiran, bahwa mereka harus ikut turun tangan dalam semua hal; kalau tidak, maka hal-hal tersebut tidak bernilai di mata mereka. Apa pun yang dikerjakannya dianggapnya bernilai rohani, sedang apa yang tidak dikerjakan olehnya tidak bernilai sama sekali. Kalau ia memberitakan dan tidak ada yang diselamatkan, ia merasa tertekan. Tetapi kalau pemberitaannya membawa orang diselamatkan, ia seperti mendapat kejutan yang menyenangkan. Hal ini disebabkan ia memandang pekerjaan tersebut sebagai jerih-lelah pribadinya sendiri. Tetapi pada saat anak-anak Allah nampak keesaan Tubuh, mereka segera memahami keesaan pekerjaan tersebut. Begitu mereka melihat bahwa Tubuh itu satu, mereka diselamatkan dari usaha individual mereka, sebab mereka sekarang melihat pekerjaan Tubuh. Bukannya orang tersebut tidak bisa lagi bekerja sebagai perorangan, tetapi ia tidak bisa lagi memandang pekerjaan tersebut sebagai kepunyaannya semata-mata. Apakah pekerjaan tersebut dikerjakan olehnya atau tidak, tidak lagi menjadi masalah, asalkan ada yang mengerjakannya.

Sebagai orang Kristen, kita harus menjunjung tinggi dan menuntut hal-hal rohani, tetapi kita tidak seharusnya memiliki kepura-puraan atau perasaan iri sekecil apa pun. Sikap kita masing-masing terhadap pekerjaan rohani seharusnya adalah demikian: apa yang dapat saya lakukan, saya berharap orang lain dapat juga melakukannya; dan apa yang tidak dapat saya kerjakan, saya berharap orang lain dapat mengerjakannya; saya ingin mengerjakan lebih, sama seperti saya berharap orang lain juga mengerjakan lebih. Betapa saya perlu menyadari bahwa saya hanya bisa menjadi satu bejana dalam pekerjaan ini; saya tidak dapat memonopolinya. Saya tidak berani menganggap bahwa pekerjaan tersebut beserta hasilnya adalah milik saya sepenuhnya. Kalau saya bersikeras bahwa segalanya harus dikerjakan oleh saya, berarti saya belum memahami Tubuh. Ketika saya memahami Tubuh, saya segera menyadari bahwa jerih lelah saya maupun orang lain bermanfaat bagi Kepala maupun Tubuh. Dan biarlah segala kemuliaan bagi Tuhan dan semua berkat bagi gereja.

Tuhan membagi-bagikan pekerjaan-Nya kepada semua orang, dan setiap orang memiliki bagiannya. Kita tidak boleh berpikir tentang diri kita sendiri lebih dari yang seharusnya kita pikirkan. Kita harus setia terhadap bagian yang Tuhan berikan kepada kita; tetapi kita juga harus menghormati bagian yang Tuhan berikan kepada orang lain. banyak orang muda memiliki semacam sikap bersaing, yaitu mereka selalu membandingkan apa yang mereka miliki dengan apa yang tidak dimiliki orang lain dan apa yang tidak mereka punyai dengan yang dipunyai orang lain. Sesungguhnya perbandingan semacam itu tidak masuk akal. Bagaimana kita bisa menjumlahkan sebuah kursi dan sebuah meja? Apakah mereka satu atau dua? Sebuah meja ditambah sebuah kursi sama dengan sebuah meja dan sebuah kursi. Kalau kita ditanya, mana yang baik, tangan atau mata, kita hanya dapat menjawab bahwa tangan dan mata kedua-duanya baik. Orang yang telah melihat Tubuh mengakui dan menghargai fungsi semua anggota Tubuh. Ia melihat dirinya sendiri hanya sebagai salah satu dari banyak anggota. Ia tidak akan memandang dirinya istimewa dan lebih baik dari orang lain atau bahkan menduduki tempat orang lain.

V. TINGGAL DALAM PERSEKUTUAN

Orang yang melihat Tubuh Kristus dengan sendirinya tidak hanya nampak bahwa perbuatan yang independen itu bodoh, tetapi juga melihat adanya keperluan untuk bersekutu. Persekutuan bukan suatu perbuatan luaran dalam hubungan sosial; ini adalah tuntutan spontan dari hayat Tubuh.

Persekutuan sering disalahartikan oleh anak-anak Allah sebagai kunjungan ke rumah beberapa saudara dan saudari pada waktu senggang dan mengobrol sejenak dengan mereka. Sebetulnya persekutuan memiliki makna bahwa saya menyadari diri saya sendiri mutlak tidak memadai. Saya ingin mengerjakan segala perkara bersama dengan anggota Tubuh yang lain. Walaupun di dalam banyak perkara, saya tidak bisa mengumpulkan semua saudara-saudari dalam gereja, tetapi saya bisa melakukan perkara-perkara tersebut bersama dua atau tiga saudara-saudari menurut prinsip Tubuh.

Seringkali kita perlu belajar bersekutu dalam doa, belajar bersekutu dalam kesulitan, belajar bersekutu dalam mencari kehendak Allah, belajar bersekutu tentang masa depan kita, dan belajar bersekutu tentang firman Allah. Apa yang dimaksud dengan bersekutu adalah, karena saya tahu bahwa saya tidak memadai dalam hal doa, maka saya mencari dua atau tiga orang lagi untuk berdoa bersama saya. Saya sendiri tidak cakap menyelesaikan kesulitan-kesulitan, sebab itu saya mencari dua atau tiga saudara untuk memecahkan permasalahan tersebut bersama saya. Saya sendiri bingung terhadap masa depan saya, karena itu saya meminta dua atau tiga saudara dan saudari untuk bersekutu dan memutuskan bersama saya tentang bagaimana seharusnya masa depan saya. Saya tidak bisa mengerti firman Allah sendirian, jadi saya belajar firman Allah bersama dua atau tiga saudara dan saudari. Dalam persekutuan, saya mengakui kekurangan dan ketidakcakapan saya, dan saya juga mengakui kebutuhan saya akan Tubuh. Saya mengakui bahwa saya terbatas dan sangat mungkin membuat kesalahan; oleh sebab itu saya memohon saudara dan saudari yang memiliki daya pembeda rohani untuk membantu saya (bukan hanya meminta tolong pada orang-orang yang baik terhadap saya saja). Saya tidak cukup, dengan demikian saya membutuhkan pertolongan saudara yang lain.

Tubuh Kristus adalah sebuah hayat, dan karena itu di dalamnya tercakup sebuah kesadaran. Anda sendiri sadar akan kenyataan bahwa tanpa persekutuan, Anda tidak dapat hidup.

VI. BELAJAR MENJADI ANGGOTA

Bila seseorang memiliki kesadaran Tubuh, pada saat yang sama ia mengetahui tempatnya di dalam Tubuh; yaitu, ia melihat dirinya sendiri sebagai salah satu anggotanya. Setiap anggota memiliki kegunaannya yang khusus. Sebuah anggota dari tubuh fisik berbeda dari sel tubuh. Kehilangan sebuah sel tidak terhitung apa-apa, tetapi kehilangan satu anggota tubuh sungguh tidak mungkin.

Karena kita adalah anggota-anggota dari Tubuh Kristus dan anggota-anggota di dalam setiap bagiannya, kita harus berusaha membantu Tubuh mendapatkan hayat dan kekuatan. Dalam perhimpunan apa pun, sekalipun kita tidak membuka mulut kita, kita bisa berdoa diam-diam. Walaupun kita tidak berbicara, kita masih bisa memandang Allah. Inilah kesadaran Tubuh. Bila kita telah nampak Tubuh, kita tidak dapat berkata bahwa kita tidak terikat dengan konsekuensi apa pun. Sebaliknya kita harus berkata: saya adalah anggota Tubuh, sebab itu saya berkewajiban untuk menjalankan peran saya. Saya memiliki perkataan yang harus saya katakan, saya memiliki doa yang harus saya ucapkan. Saat saya datang ke sidang, saya harus melakukan apa pun yang Allah ingin saya kerjakan. Saya tidak bisa puas hanya menjadi penonton. Hal-hal seperti inilah yang kita ucapkan atau kerjakan bila kita benar-benar paham akan Tubuh. Dan bila kita semua berfungsi, hayat dari keseluruhan sidang akan menelan segala maut. Banyak sidang yang gagal menampilkan kekuatan yang mengalahkan maut karena terlalu banyak yang menjadi penonton.

VII. TUNDUK KEPADA OTORITAS

Siapa saja yang mengenal hayat Tubuh Kristus dan menyadari bahwa ia adalah anggota Tubuh akan selalu merasakan otoritas Kepala, yaitu Kristus Yesus, Tuhan.

Kita tidak hanya harus tunduk kepada otoritas langsung Kepala, kita juga perlu tunduk terhadap otoritas taklangsung dari Kepala. Tangan fisik saya berada di bawah otoritas-langsung kepala saya, tetapi ketika lengan saya bergerak, tangan saya bergerak juga bersama lengan saya—sebab tangan saya tunduk kepada kepala melalui lengan. Jadi, siapa pun yang nampak Tubuh Kristus juga melihat otoritas yang telah Allah tentukan dalam Tubuh Kristus yang kepadanya ia harus tunduk.

Bila Anda benar-benar menyadari otoritas Kepala, Anda juga akan menyadari bahwa ada satu atau lebih anggota Tubuh yang ada di depan Anda, dan kepada mereka Anda harus belajar tunduk. Maka Anda tidak hanya menghormati Kepala, tetapi juga mereka yang ditentukan oleh Allah di dalam Tubuh untuk mewakili Kepala. Bila Anda bertentangan dengan mereka, Anda juga akan bertentangan dengan Allah.

Bila seseorang tidak mengenal apa itu otoritas, bagaimana ia bisa berkata bahwa ia mengenal Tubuh Kristus? Hendaknya kita melihat bahwa orang yang mengenal Tubuh Kristus dapat membedakan—sekalipun hanya tiga atau lima orang berhimpun bersama—siapa di antara mereka yang berkumpul yang menjadi otoritas di atasnya; sebab di tengah-tengah mereka ternyata otoritas sang Kepala, yang kepadanya ia harus tunduk. Betapa alami dan indahnya tubuh manusia sebab jari-jari tunduk kepada pergelangan tangan, pergelangan tangan tunduk kepada lengan, lengan kepada bahu, dan demikian seterusnya. Dan keindahan yang sama dapat juga diperlihatkan dalam Tubuh Kristus.

Orang-orang Kristen tertentu sedemikian ceroboh dalam tindakan dan perkataan mereka sehingga mereka tidak mau mendengarkan siapa pun. Mereka nampaknya memandang diri mereka sendiri sebagai yang terbesar, sampai-sampai mereka tidak dapat mengenali siapa yang seharusnya mereka tunduki. Hal ini membuktikan bahwa kaum imani tersebut belum pernah mengenal pembatasan Tubuh, dan belum pernah tunduk kepada otoritas sang Kepala. Semoga Allah membelaskasihani anggota semacam itu. Bila kita sungguh-sungguh telah ditanggulangi olah Tuhan dan daging kita telah menerima penanggulangan sehingga ketegaran hayat alamiah kita telah diremukkan, kita akan segera mengakui, bahwa baik tangan maupun mulut kita, tidak satu pun yang bebas tak terbatas—sebab semua berada di bawah kendali tubuh—dan betapa kita tidak boleh lalai untuk menundukkan diri kita kepada otoritas yang telah Allah tetapkan di dalam Tubuh Kristus.

VIII. TIDAK MEMILIKI AMBISI

Menurut pengalaman-pengalaman kita dalam tahun-tahun yang telah lalu, ambisi merupakan sumber dari segala permasalahan dalam penghidupan gereja. Ambisi menimbulkan perebutan kekuasaan. Sumber ambisi adalah Satan. Ambisinya adalah untuk melampaui Allah dan kekuasaan-Nya. Karena ambisinya itu Satan dibuang dan diadili. Hari ini, Anda dapat melihat perebutan kekuasaan di mana-mana. Anda melihatnya di antara teman-teman Anda. Begitu Anda berusaha melampaui orang lain untuk berkuasa atas mereka, Anda akan menimbulkan masalah dalam penghidupan gereja. Kita tidak berkata bahwa kekuasaan (otoritas) tidak seharusnya ada dalam penghidupan gereja. Pelajaran-pelajaran sebelumnya telah menjelaskan perihal otoritas di dalam gereja. Semakin banyak seseorang memiliki hayat Allah, semakin banyak pula otoritas yang dimilikinya. Otoritas tidak diperoleh dengan cara merebut, memfitnah, atau berdebat. Otoritas datang dari Allah dan datang bersama hayat Allah. Allahlah sumbernya. Satan diciptakan oleh Allah. Bagaimana mungkin Satan bisa melampaui Allah? Inilah ambisi satanik yang tidak dibarengi dengan kemampuan untuk melaksanakan otoritas yang bersesuaian. Kita harus belajar tunduk.

Tuhan sendiri merendahkan dan mengosongkan diri-Nya untuk menjadi hamba sampai mati. Bagaimana dengan kita? Paulus berkata bahwa kita harus menaruh pikiran Kristus di dalam kita (Flp. 2:5). Bila kita melakukan hal ini, tidak akan pernah ada ambisi satanik di dalam kita. Sebaliknya, kita akan selalu melayani sebagai hamba di dalam penghidupan gereja untuk membangun gereja.