SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (5)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 2:1-2
Dalam berita ini kita akan membahas 1Yohanes 2:1-2.
ANAK-ANAK
Dalam 2:1 Yohanes mengatakan, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa. Namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil.” Dengan memakai ungkapan “anak-anakku” Yohanes menyapa semua orang beriman tanpa menunjukkan usia. Bahasa Yunani untuk kata “anak-anak” di sini adalah teknia, bentuk jamak dari teknion, anak kecil, pengecilan dari teknon, anak, satu kata yang sering dipakai oleh orang-orang tua dalam menyapa orang-orang muda. “Ini adalah istilah yang mengungkapkan kasih dari orang tua, cocok diterapkan kepada semua orang Kristen dalam tingkat pertumbuhan yang mana pun. Dipakai dalam ayat 12, 28; 3:7, 18; 4:4; 5:21; Yoh. 13:33; Gal. 4:19” (Darby). Rasul yang tua menganggap semua penerima suratnya sebagai anak-anaknya yang terkasih dalam Tuhan. Dalam ayat 13-27 dia mengelompokkan mereka dalam tiga kelompok: anak-anak, orang-orang muda, dan bapa-bapa. Sebab itu, ayat 1-12 dan 28-29 ditujukan kepada semua penerima surat ini pada umumnya; dan ayat 13-27 ditujukan kepada ketiga kelompok, satu per satu, berdasarkan pertumbuhan mereka dalam hayat ilahi.
MAKSUD YOHANES
Dalam 2:1 Yohanes mengatakan kepada anak-anak bahwa dia menulis “hal-hal ini” kepada mereka. Ini adalah hal-hal yang disebutkan dalam 1:5-10 mengenai perbuatan dosa yang dilakukan oleh anak-anak Allah, kaum beriman yang telah dilahirkan kembali, yang telah menerima hayat ilahi dan berbagian dalam persekutuannya (1:1-4).
Yohanes mengatakan kepada penerima surat ini bahwa dia menulis kepada mereka supaya mereka “jangan berbuat dosa”. Perkataan ini dan kata-kata “jika seseorang berbuat dosa” dalam kalimat selanjutnya menunjukkan bahwa kaum beriman yang sudah dilahirkan kembali masih bisa berdosa. Meskipun mereka telah memiliki hayat ilahi, mereka masih tetap berkemungkinan berdosa, jika mereka tidak hidup berdasarkan hayat Allah dan tinggal dalam perseku-tuannya. Kata-kata “berbuat dosa” di sini dalam bahasa aslinya adalah bentuk pengandaian kata kerja kala lampau, menyatakan suatu tindakan yang tunggal, bukan tindakan yang menjadi kebiasaan.
Dalam kalimat “supaya kamu jangan berbuat dosa”, kita melihat maksud Yohanes dalam apa yang dia tulis mengenai dosa, pengakuan dosa, menerima pengampunan, dan penyucian Allah. Maksud Yohanes, tujuannya, adalah agar kita jangan berbuat dosa. Seperti yang dia nyatakan dalam pasal 1, jika kita berdosa, persekutuan kita dengan Bapa akan putus. Jika kita ingin memelihara persekutuan ini, kita perlu menjaga diri kita sendiri dari perbuatan dosa. Inilah tujuan utama dari apa yang ditulis Yohanes dalam pasal 1 surat ini.
Dalam pasal 1Yohanes menampakkan kepada kita bahwa kita telah menerima hayat Allah dan hayat ini telah membawa kita ke dalam persekutuan ilahi. Dalam persekutuan ilahi kita menerima terang, dan sekarang kita harus hidup (berjalan) di dalam terang seperti Allah ada di dalam terang (1:5, 7). Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa kita masih mempunyai masalah dosa yang tinggal (berhuni), dan terhadap dosa ini kita perlu berjaga-jaga. Bahkan setelah kelahiran kembali kita, dosa yang masuk ke dalam umat manusia melalui Adam tetap ada di dalam daging kita. Meskipun roh kita telah dilahirkan kembali, hayat Allah telah disalurkan ke dalam roh kita, dan Roh Allah juga tinggal di dalam roh kita, namun dosa masih tinggal di dalam daging kita. Kita perlu mengakui fakta bahwa kita mempunyai penghuni di dalam daging kita, yaitu dosa yang masuk ke dalam umat manusia melalui Adam. Kita juga perlu berjaga-jaga agar kita tidak berbuat dosa. Jika kita tidak berjaga-jaga, kita akan berdosa, dan dosa-dosa kita akan mengganggu persekutuan kita dengan Allah. Sebagai akibat dari terputusnya persekutuan kita dengan Allah, kita akan kehilangan kenikmatan atas hayat ilahi.
Kita dapat mengatakan bahwa dalam pasal 1 kita mempunyai satu peringatan, satu pengingat, dan satu pesan tentang perlunya kita berjaga-jaga. Ya, kita telah menerima hayat Allah dan hayat Allah ini sekarang adalah kenikmatan kita, menghasilkan persekutuan dengan Allah Tritunggal. Betapa ajaibnya! Tetapi kita perlu menyadari bahwa masih ada masalah dosa yang tinggal. Karena dosa tinggal di dalam daging kita, selalu ada kemungkinan kenikmatan kita atas hayat Allah dapat terganggu karena perbuatan dosa.
Jika kita tidak menyadari bahwa dosa masih tinggal di dalam daging kita, sebaliknya malah tertipu mengenai masalah ini, kita pasti bisa berbuat dosa. Kemudian kita akan kehilangan kenikmatan atas hayat Allah. Karena itu, jika kita ingin tetap di dalam kenikmatan atas hayat Allah dan di dalam persekutuan hayat ilahi, kita perlu menyadari bahwa kita mempunyai dosa di dalam daging kita dan dosa itu mendekam, menunggu kesempatan untuk merusak kita, memutus persekutuan kita dengan Allah Tritunggal, dan menjauhkan kita dari kenikmatan atas hayat Allah yang kita terima melalui kelahiran kembali.
Sekarang kita dapat melihat tujuan Yohanes dalam menulis pasal 1. Karena dia tidak ingin kaum beriman kehilangan kenikmatan atas hayat Allah, dia mengatakan kepada mereka dalam 1Yohanes 2:1, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa.” Inilah maksud Yohanes dan juga harapannya. Selain itu, perkataan ini juga adalah satu peringatan dan pengingat mengenai berbuat dosa.
SEORANG PENGACARA KEPADA BAPA
Dalam 2:1 Yohanes mengatakan, “Namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil.” Yohanes tidak mempunyai keyakinan bahwa kaum beriman akan selalu dapat menjaga diri mereka sendiri dari perbuatan dosa. Dia tahu bahwa meskipun kita dapat berjaga-jaga mengenai dosa yang tinggal di dalam daging kita, kita masih dapat berdosa. Karena itu, dia mengatakan kepada kita bahwa jika kita berdosa, kita mempunyai seorang Pengantara kepada Bapa.
Bahasa Yunani untuk kata “Pengantara” adalah parakletos, mengacu kepada orang yang dipanggil ke pihak orang lain untuk mebantu orang lain; jadi, ia adalah seorang penolong. Istilah ini juga mengacu kepada seseorang yang menawarkan bantuan hukum atau orang yang bersyafaat bagi orang lain. Jadi, berarti pengacara, penasihat, atau pensyafaat. Istilah ini mengandung arti menghibur dan penghiburan. Jadi, juga diterjemahkan sebagai penghibur, penenteram. Istilah ini dipakai dalam Injil Yohanes sebagai Penolong (14:16, 26; 15:26; 16:7) untuk Roh realitas sebagai Penghibur di dalam kita, yang mengurus kasus kita atau urusan kita. Di sini, istilah ini dipakai dengan mengacu kepada Tuhan Yesus sebagai Pengacara kita kepada Bapa. Ketika kita berdosa, berdasarkan pendamaian yang dirampungkan-Nya, Dia mengurus kasus kita dengan bersyafaat (Rm. 8:34), dan memohon bagi kita.
Dalam pasal 1Yohanes berbicara mengenai darah penebusan Kristus yang tidak henti-hentinya menyucikan kita selama kita hidup di dalam terang. Tetapi dalam ayat ini Yohanes melanjutkan untuk menampakkan kepada kita satu persona, yang adalah Pengacara kita kepada Bapa. Jadi, dalam persediaan ilahi kita mempunyai darah Kristus dan juga persona Kristus sebagai Pengacara kita.
Penolong di Surga dan Penolong di Dalam Roh Kita
Seperti yang telah kita lihat, “pengacara” adalah satu terjemahan dari bahasa Yunani parakletos. Kata ini dibentuk dari dua kata; kata depan para (di sini digunakan sebagai awalan) dan kata kletos. Jika digabungkan, kata ini menunjukkan seorang yang dipanggil ke pihak kita. Kata parakletos dalam Perjanjian Baru hanya digunakan oleh Yohanes. Dalam Injilnya Yohanes mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (14:16). Ini menyatakan bahwa ketika Tuhan bersama murid-murid, satu parakletos, satu penghibur, telah ada bersama mereka. Tetapi parakletos ini akan pergi. Dengan demikian, perlu parakletos yang lain, Penghibur yang lain, datang. Sebenarnya, parakletos yang pertama dan parakletos yang lain adalah satu. Yang disebut “Penolong yang lain” sekarang ada di dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat, dan seorang yang adalah Penolong yang pertama, Tuhan Yesus Kristus, sekarang ada di surga di sebelah kanan Allah.
Kita dapat memakai listrik sebagai satu ilustrasi dari kedua Penolong atau Penghibur ini. Di satu pihak, listrik ada di pusat pembangkit. Di pihak lain, listrik telah dialirkan ke dalam rumah kita. Karena itu, kita dapat mengatakan, listrik itu ada dua ujung; ujung yang satu di pusat pembangkit dan ujung yang lain di dalam rumah kita. Seperti listrik mengalir dari pusat pembangkit (tempat listrik berasal) ke rumah kita (tempat listrik dipergunakan), dua ujung ini berhubungan. Kita dapat mengumpamakan listrik di pusat pembangkit dengan Penghibur, Tuhan Yesus, di surga, dan listrik di rumah-rumah kita dengan Penghibur yang lain, Roh pemberi-hayat di dalam roh kita. Di surga kita mempunyai Tuhan Yesus Kristus sebagai Penghibur kita, dan di dalam roh kita, kita mempunyai Roh itu sebagai Penghibur yang lain. Akan tetapi, keduanya ini adalah satu. Karena itu, kata parakletos digunakan untuk Penghibur di surga dan Penghibur di dalam roh kita.
Dalam Alkitab bahasa Indonesia dipakai kata “Penolong” dalam Yohanes 14:16 dan “Pengantara” dalam 1Yohanes 2:1. Dalam Yohanes 14:26 dan 15:26 kata Yunani ini juga diterjemahkan Penolong. Penolong adalah satu terjemahan yang tepat dari parakletos dalam Yohanes 14:16, karena dalam ayat ini ada satu perasaan tertentu bahwa Penolong ini datang untuk menghibur murid-murid dalam dukacita mereka karena Tuhan meninggalkan mereka. Tuhan telah memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi dan mereka akan susah karenanya. Karena itu, dalam pasal ini Tuhan menyatakan kepada murid-murid bahwa mereka tidak perlu berdukacita, karena Dia akan memohon Bapa untuk mengutus kepada mereka Penolong yang lain. Karena murid-murid yang susah memerlukan penghiburan, memang tepat memberikan parakletos dalam Yohanes 14:26 sebagai Penolong. Kata Yunani ini menyiratkan penghiburan; ini mengacu kepada seorang yang menolong kita, melayani kita, berdiri di samping kita, dan berjalan seiring dengan kita. Orang semacam ini benar-benar adalah seorang penolong.
Pengacara Rohani
Tepat juga menerjemahkan parakletos dalam 1Yohanes 2:1 sebagai Pengacara (LAI: pengantara). Menurut pemakaian kata pada zaman kuno, kata Yunani ini mengacu kepada orang yang berfungsi sebagai seorang pengacara, seorang advokad hukum. Situasi dalam 1Yohanes 2:1 berbeda dengan situasi dalam Yohanes 14:16; ini adalah satu situasi yang memerlukan satu pengacara. Akan tetapi, kata “advokad hukum” sepertinya kurang sesuai digunakan dalam terjemahan sebenarnya dari firman ini. Karena itu, setelah melalui pertimbangan, kami memilih kata pengacara.
Pengacara dalam 2:1 sesungguhnya adalah seorang pengacara rohani. Parakletos ini berdiri di samping kita, seperti seorang perawat memperhatikan kita, melayani kita. Parakletos juga adalah seorang penasihat. Di sekolah, murid-murid mempunyai seorang penasihat untuk membantu mereka memilih mata pelajaran yang benar. Parakletos kita juga membantu kita dalam membuat pilihan-pilihan. Dalam terjemahannya atas 1Yohanes 2:1 J.N. Darby memakai kata “pelindung”. Dalam catatannya, dia menerangkan bahwa kata pelindung digunakan dengan mengacu kepada seorang pelindung Romawi, yang mempertahankan kepentingan kliennya dengan segala cara. Fungsi dari seorang pelindung Romawi mirip dengan seorang pengacara hari ini. Bila kita berada dalam situasi khusus, kita dapat menyerahkan seluruh masalah ke dalam tangan seorang pengacara. Pengacara itu kemudian mengurus kasus kita. Inilah fungsi Pengacara kita dalam 2:1.
Parakletos adalah kata yang almuhit, menyiratkan pemikiran tentang menolong dan memberi makan, pemikiran tentang menasihati, dan juga pemikiran tentang menghibur. Ini termasuk konsepsi seorang pengacara, yang mengurus kasus kita.
Kepada Bapa
Yohanes mengatakan kepada kita dalam 2:1 bahwa kita mempunyai seorang Pengacara kepada Bapa. Dalam bahasa aslinya, frase “kepada Bapa” digunakan juga dalam 1:2 (“dengan Bapa”); keduanya menyiratkan kehidupan dan perilaku dalam kesatuan dan persekutuan dengan Bapa. Tuhan Yesus sebagai Pengacara kita hidup dalam persekutuan dengan Bapa.
Bapa sebagai sebutan ilahi di sini menunjukkan bahwa kasus kita, yang diurus Tuhan Yesus selaku Pengacara kita, adalah kasus atau urusan rumah tangga, kasus antara anak-anak dengan Bapa. Melalui kelahiran kembali, kita sudah dilahirkan sebagai anak-anak Allah. Setelah dilahirkan kembali, jika kita berdosa, itu adalah perkara anak-anak bersalah kepada Bapa mereka. Pengacara kita, yang adalah kurban pendamaian kita, menangani perkara perbuatan dosa kita untuk memulihkan persekutuan kita yang terputus dengan Bapa, agar kita dapat tinggal dalam kenikmatan persekutuan ilahi.
Dulu saya heran mengapa Yohanes mengatakan bahwa kita mempunyai seorang Pengacara kepada Bapa. Seorang pengacara adalah orang yang terlibat dalam kasus-kasus hukum. Kita dengan mudah dapat melihat mengapa kita perlu seorang pengacara dengan hakim di dalam satu pengadilan. Tetapi mengapa kita perlu seorang Pengacara kepada Bapa kita? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah “kasus” dosa-dosa kita setelah kelahiran kembali adalah satu masalah yang melibatkan Bapa dan “pengadilan” rumah tangga (keluarga). Kapan saja kita berdosa, kita menyakiti hati Bapa. Karena itu, hakim kita, adalah seorang hakim — Bapa, pengadilan kita adalah rumah rohani kita, dan kasus kita adalah satu masalah keluarga. Tetapi kita mempunyai seorang anggota dalam keluarga kita, Kakak laki-laki kita, Tuhan Yesus, yang adalah Pengacara kita kepada Bapa. Sebagai Pengacara kita, Kakak laki-laki kita mengurus kasus kita. Inilah sebabnya Yohanes tidak mengatakan bahwa kita mempunyai seorang Pengacara dengan Allah, tetapi mengatakan bahwa kita mempunyai seorang Pengacara kepada Bapa.
Seorang anak mungkin mempunyai pemikiran yang keliru, yaitu mengira karena bapanya mengasihi dia, maka dia boleh melakukan apa saja yang dia inginkan terhadap orang dalam keluarganya. Tentu saja demikian ini tidak sepatutnya. Meskipun Bapa kita mengasihi kita, dosa apa saja yang kita lakukan adalah satu pelanggaran terhadap Dia. Ya, Allah adalah Bapa kita. Tetapi jika kita berdosa, Dia akan menuntut kita. Karena itu, dalam keluarga rohani kita, adakalanya kita perlu seorang Pengacara.
Dalam ayat ini kita mempunyai dua gelar yang penting — Pengacara dan Bapa. Gelar Bapa menunjukkan bahwa kita berada di dalam keluarga ilahi menikmati kasih Bapa. Gelar Pengacara menunjukkan bahwa kita mungkin salah dalam hal tertentu dan perlu seseorang untuk mengurus kasus kita. Sebab itu, dalam kehidupan keluarga kita perlu Kakak laki-laki sulung kita menjadi Pengacara kita, yang mengurus kasus kita.
Kebenaran dalam Alkitab selalu disampaikan dalam satu cara yang seimbang. Kebenaran dalam ayat ini juga seimbang. Di satu pihak, gelar Bapa adalah satu tanda kasih; di pihak lain, gelar Pengacara adalah satu tanda kebenaran. Contohnya, seorang bapa mengasihi anaknya. Tetapi jika anak itu nakal, bapa itu akan menghakimi berdasarkan kebenaran. Meskipun anak itu masih dikasihi oleh bapanya dan akan terus dipelihara olehnya, bapa itu menghakimi anak itu dan mungkin perlu mendisplin dia. Dalam cara yang sama, kapan saja kita berdosa, Bapa akan menghakimi kita. Karena itu, kita perlu seorang Pengacara surgawi. Kita perlu Yesus Kristus, Kakak laki-laki kita, menjadi Pengacara kita.
Kita telah menegaskan fakta bahwa Kristus adalah Pengacara kita kepada Bapa. Perhatikanlah bahwa Yohanes tidak mengatakan bahwa kita mempunyai seorang Pengacara kepada Allah, atau kita mempunyai Putra kepada Bapa, melainkan mengatakan bahwa jika kita berdosa, kita mempunyai seorang Pengacara kepada Bapa.
YESUS KRISTUS YANG ADIL
Menurut perkataan Yohanes dalam 2:1 Pengacara kita kepada Bapa adalah Yesus Kristus yang adil. Tuhan Yesus kita adalah satu-satunya manusia yang adil di antara semua manusia. Perbuatan-Nya yang benar (Rm. 5:18) di atas salib telah memuaskan tuntutan keadilan Allah yang adil bagi kita dan semua orang dosa. Hanya Dia yang memenuhi syarat menjadi Pengacara kita, memperhatikan kita dalam keadaan yang berdosa dan memulihkan kita kepada keadaan yang benar, agar hubungan antara kita dengan Bapa kita yang benar, dapat didamaikan.
Sebagai ganti mengatakan “Yesus Kristus yang adil”, kita dapat mengatakan “Yesus Kristus, Seorang yang adil.” Yesus Kristus benar-benar adalah Seorang yang adil, dan hanya yang adil inilah yang dapat menjadi Pengacara kita kepada Bapa. Kita bermasalah, Bapa hendak menghakimi kita, maka kita adalah orang-orang yang bersalah. Karena kita adalah orang-orang yang bersalah, kita perlu Sang adil untuk mengurus kasus kita.
SATU PENDAMAIAN UNTUK DOSA-DOSA KITA
Dalam 2:2 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Dialah pendamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Kata pendamaian di sini dan dalam 4:10 dalam bahasa Yunani adalah hilasmos. Dalam 1:7 kita mempunyai darah Yesus; dalam 2:1 mempunyai Persona Kristus sebagai Pengacara kita; dan sekarang dalam 2:2 kita mempunyai Kristus sebagai kurban pendamaian untuk dosa-dosa kita. Pengacara kita, yang mengucurkan darah-Nya bagi penyucian dosa-dosa kita, adalah kurban pendamaian kita. Kata “pendamaian” ini menyatakan penenteraman atau perukunan. Bila seorang anak bersalah dan bapanya menghakimi dia, tidak ada damai di antara mereka. Dalam situasi semacam ini, perlu perukunan dan penenteraman di antara bapa dengan anaknya. Perukunan ini, penenteraman ini, adalah pendamaian.
Sebagai satu bantuan untuk memahami perkataan pendamaian dalam 2:2, kita perlu melihat apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 3:25 mengenai tutup pendamaian, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan penda-maian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” Kata “jalan pendamaian” di sini dilambangkan oleh tutup pendamaian pada tabut. Tabut adalah tempat Allah bertemu dengan manusia. Di dalam tabut terdapat hukum Sepuluh Perintah, yang dengan tuntutan kekudusan dan kebenarannya menyingkapkan dan menghakimi dosa-dosa orang yang datang menghampiri Allah. Namun, melalui tutup tabut, dengan darah pendamaian yang dipercikkan di atasnya pada hari pendamaian, seluruh keadaan orang dosa tertudung sepenuhnya. Sebab itu, di atas tutup penudung dosa ini Allah dapat bertemu dengan orang-orang yang melanggar hukum kebenaran-Nya, dan Dia dapat melakukan hal ini secara pemerintahan, tanpa kontradiksi dengan kebenaran-Nya, sekalipun di bawah pengawasan kerub yang mengemban kemuliaan-Nya dan menaungi tutup tabut. Dengan demikian, persoalan di antara manusia dengan Allah telah diselesaikan, sehingga Allah dapat mengampuni, merahmati manusia, dan memberikan anugerah-Nya kepada manusia. Ini adalah lam-bang Kristus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa yang membuat manusia bermasalah dengan Allah (Yoh. 1:29), dan dengan demikian memuaskan semua tuntutan kekudusan, kebenaran, dan kemuliaan Allah, serta memperbaiki hubungan antara manusia dengan Allah. Karena itu, Allah dapat melewatkan dosa-dosa orang yang terjadi sebelumnya. Untuk menunjukkan kebenaran-Nya, Allah harus berbuat demikian. Inilah yang dimaksud dengan ayat ini.
Bahasa Ibrani untuk tutup tabut adalah kapporeth, dari akar kata yang berarti menutupi. Dalam Septuagin, kata ini diterjemahkan hilasterion, yang berarti tempat pendamaian (menyiratkan mengampuni, memberi rahmat kata belas kasihan dalam Ibrani 8:12 memiliki akar kata hilasterion, dan kata kasihanilah dalam Lukas 18:13 adalah turunan dari akar kata tersebut). Versi King James menggunakan istilah “takhta rahmat”, yang mengacu kepada tempat Allah memberikan rahmat kepada manusia. Dalam Ibrani 9:5 Paulus juga memakai hilasterion untuk menyebut tutup tabut (pendamaian). Di sini, dalam Roma 3:25, kata yang sama, hilasterion, dipakai untuk menunjukkan bahwa tutup tabut melambangkan Kristus sebagai tempat pendamaian yang disiapkan oleh Allah.
Selain hilasterion, dua kata lain yang diturunkan dari kata Yunani yang sama digunakan di dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan bagaimana Kristus menghapus dosa manusia untuk mendamaikan hubungan antara manusia dengan Allah. Yang satu adalah hilaskomai (Ibr. 2:17), yang berarti mendamaikan, yaitu menggenapkan pendamaian, mendamai-kan seseorang dengan orang lain melalui memuaskan tuntutan orang lain itu; yang lain adalah hilasmos (1Yoh. 2:2; 4:10), yang berarti yang mendamaikan, yaitu kurban pen-damaian. Kristus dijadikan pendamaian bagi dosa-dosa kita (Ibr. 2:17); sebab itu, Dia telah menjadi yang mendamaikan, kurban pendamaian di antara kita dengan Allah (1Yoh. 2:2; 4:10), dan juga menjadi tempat kita menikmati pendamaian di hadapan Allah dan tempat Allah memberikan anugerah kepada kita, seperti yang dilambangkan dengan tutup tabut (Ibr. 9:5).
Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban untuk dosa-dosa kita (Ibr. 9:28), bukan hanya untuk menebus kita, lebih-lebih untuk memuaskan tuntutan Allah, mendamaikan hubungan antara kita dengan Allah. Karena itu, Dia adalah kurban untuk pendamaian kita di hadapan Allah.
Yohanes mengatakan dalam 2:2 bahwa Kristus adalah kurban pendamaian bukan hanya untuk segala dosa kita, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Tuhan Yesus adalah kurban pendamaian bukan hanya untuk dosa-dosa kita, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Namun, pendamaian ini tergantung pada penerimaan manusia terhadap Tuhan dengan percaya kepada-Nya. Orang yang tidak percaya tidak akan mengalami khasiatnya, bukan karena dalam kurban ini ada kesalahan atau kekurangannya, melainkan karena mereka tidak percaya.