← Daftar isi 1 Yohanes (1) · bab 12/24

SYARAT-SYARAT PERSEKUTUAN ILAHI (4)

Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 1:8-10

Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut syarat-syarat persekutuan ilahi.

MENYESATKAN DIRI SENDIRI

Dalam 1:8 Yohanes mengatakan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Mengatakan bahwa kita tidak berdosa berarti mengatakan bahwa kita tidak memiliki dosa yang berhuni (tinggal) di dalam sifat kita (Rm. 7:17). Inilah yang diajarkan oleh bidah Gnostik. Rasul menyuntik kaum beriman untuk menghadapi ajaran yang salah itu. Bagian ini, 1Yohanes 1:7—2:2, membahas perbuatan dosa kaum beriman setelah mereka dilahirkan kembali, yang mengganggu persekutuan mereka dengan Allah. Jika setelah dilahirkan kembali kaum beriman tidak memiliki dosa di dalam sifat mereka, bagaimana mereka dapat berdosa dalam perilaku mereka? Bahkan walaupun mereka hanya adakalanya berdosa, bukan kebiasaan, perbuatan dosa mereka itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka masih memiliki dosa yang bekerja di dalam diri mereka. Kalau tidak, tidak akan ada gangguan dalam persekutuan mereka dengan Allah. Ajaran rasul di sini menyalahkan ajaran “kesempurnaan” hari ini, yang mengatakan bahwa keadaan bebas dari dosa bisa dicapai atau sudah tercapai dalam hidup di dunia; ajaran rasul ini juga menyingkirkan ajaran “mencabut akar dosa” yang salah, yang menyalahtafsirkan perkataan dalam 1Yohanes 3:9 dan 5:18, yang mengatakan bahwa orang yang sudah dilahirkan kembali tidak dapat ber-dosa sebab sifat dosa mereka sudah dicabut bahkan sampai ke akarnya.

Dalam bahasa Yunani kalimat “menipu diri sendiri” juga dapat diterjemahkan “kita menyesatkan diri sendiri”. Mengatakan bahwa karena kita sudah dilahirkan kembali, maka kita tidak memiliki dosa (tunggal), berarti menipu diri sendiri dan menyangkal fakta nyata dari pengalaman kita; demikianlah kita menyesatkan diri sendiri.

Kebenaran dalam ayat 8 menyatakan realitas Allah yang telah diwahyukan, fakta-fakta riil, yang tersalur dalam Injil, seperti: realitas Allah dan segala perkara ilahi (yang semuanya adalah Kristus — Yoh. 1:14, 17; 14:6 ); realitas Kristus dan segala perkara rohani (yang semuanya adalah Roh itu — Yoh. 14:17; 15:26; 16:13; 1Yoh. 5:6); dan realitas keadaan manusia (Yoh. 16:8-11). Di sini, kebenaran khususnya menyatakan realitas keadaan kita yang berdosa setelah kelahiran kembali, yang disingkapkan di bawah penerangan terang ilahi dalam persekutuan kita dengan Allah. Jika kita mengatakan bahwa kita tidak memiliki dosa setelah dilahirkan kembali, realitas semacam itu, kebenaran, tidak tinggal di dalam kita; ini juga berarti kita menyangkal keadaan kita yang sesungguhnya setelah dilahirkan kembali.

MENGAKUI DOSA-DOSA KITA

Dalam ayat 9 Yohanes selanjutnya berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pengakuan di sini mengacu kepada pengakuan dosa-dosa kita, kegagalan kita setelah kita dilahirkan kembali, bukan mengakui dosa-dosa sebelum kita dilahirkan kembali.

Allah setia dalam firman-Nya (ayat 10) dan adil dalam darah Yesus, Anak-Nya (ayat 7). Firman-Nya adalah firman kebenaran Injil-Nya (Ef. 1:13), memberi tahu kita bahwa Dia akan mengampuni dosa-dosa kita karena Kristus (Kis. 10:43), dan darah Kristus telah memuaskan tuntutan keadilan Allah, agar Dia dapat mengampuni dosa-dosa kita (Mat. 26:28). Jika kita mengaku dosa-dosa kita, Dia akan mengampuni kita berdasarkan firman-Nya dan penebusan darah Yesus, karena Dia harus setia kepada firman-Nya dan adil dalam darah Yesus. Kalau tidak, Dia akan menjadi tidak setia dan tidak adil. Untuk mendapatkan pengampunan-Nya, kita perlu mengaku dosa. Pengampunan Allah semacam ini, yang diperuntukkan pemulihan persekutuan kita dengan Dia, ada syaratnya, yaitu tergantung pada pengakuan kita.

Dalam ayat 9 Yohanes membicarakan tentang pengampunan dan penyucian. Karena Allah mengampuni kita berarti Allah melepaskan kita dari pelanggaran dosa-dosa kita. Dia menyucikan kita berarti Dia mencuci kita dari noda ketidakadilan kita.

“Ketidakbenaran” dan “dosa-dosa” adalah sinonim (sama arti). Semua ketidakbenaran adalah dosa (1Yoh. 5:17). Keduanya mengacu kepada kesalahan perilaku kita. Dosa-dosa menunjukkan kesalahan perilaku kita terhadap Allah dan manusia; ketidakbenaran menunjukkan noda kesalahan perilaku kita, yang menyebabkan kita tidak benar terhadap Allah atau manusia. Kesalahan memerlukan pengampunan Allah, dan noda memerlukan penyucian-Nya. Pengampunan dan penyucian Allah diperlukan untuk memulihkan persekutuan kita yang terputus dengan Allah, agar kita tanpa gangguan dapat menikmati Dia dalam persekutuan, dengan hati nurani yang baik, hati nurani yang bebas dari salah (1Tim. 1:5; Kis. 24:16).

KEADAAN KITA YANG BERDOSA

SETELAH KELAHIRAN KEMBALI

Ayat 10 mengatakan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Ayat 8 membuktikan bahwa setelah dilahirkan kembali, di dalam diri kita masih ada dosa. Ayat 10 membuktikan lebih lanjut bahwa kita masih bisa berbuat dosa di luaran, meskipun bukan kebiasaan berdosa. Kita masih berbuat dosa dalam perilaku di luaran, karena kita masih memiliki dosa dalam sifat kita. Kedua hal itu menegaskan keadaan kita yang berdosa setelah dilahirkan kembali. Ketika membicarakan keadaan semacam itu, rasul memakai kata ganti orang “kita”, berarti tidak menganggap dirinya sebagai perkecualian.

“Firman” dalam ayat 10 adalah perkataan wahyu Allah, yaitu firman kebenaran (Ef. 1:13; Yoh. 17:17) dan yang menyampaikan isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kata ini sinonim dengan kata kebenaran dalam ayat 8. Dalam perkataan ini Allah menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya yang berdosa, baik sebelum maupun sesudah dilahirkan kembali. Jika kita mengatakan bahwa setelah dilahirkan kembali kita tidak berdosa lagi, kita membuat Allah menjadi pendusta, dan menyangkal perkataan wahyu-Nya.

Kita telah menjelaskan bahwa ayat 8 membahas dosa yang tinggal dan ayat 10 menjelaskan perbuatan dosa. Dosa yang tinggal adalah dosa yang kita warisi melalui kelahiran alamiah kita. Dosa ini masuk ke dalam umat manusia melalui Adam, dan sekarang tinggal di dalam sifat kita. Bahkan setelah kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, dosa tetap ada di dalam daging kita yang telah jatuh. Inilah sebabnya tubuh kita perlu ditebus pada waktu kedatangan Tuhan kembali. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, tubuh kita akan ditebus, ditransfigurasi (diubah) oleh kuat kuasa Tuhan (Flp. 3:21). Ini berarti kuasa Tuhan akan mengubah tubuh kita menjadi satu tubuh yang mulia. Kemudian, dosa yang berhuni tidak akan lagi menjadi bagian kita, karena tidak akan ada dosa di dalam tubuh kita yang telah ditransfigurasi. Dalam ayat 8 Yohanes mengatakan bahwa jika kita mengatakan bahwa setelah kita dilahirkan kembali kita tidak lagi mempunyai dosa yang tinggal, kita tertipu.

Dalam ayat 10 Yohanes mengatakan bahwa jika kita mengatakan bahwa setelah kita dilahirkan kembali, kita tidak berdosa, kita membuat Allah menjadi pendusta. Alasan kita membuat Allah menjadi pendusta adalah dalam firman wahyu-Nya, Alkitab. Dia mengatakan dengan jelas bahwa kita masih dapat berdosa setelah kita dilahirkan kembali. Tetapi jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa setelah kita dilahirkan kembali, kita membuat Allah menjadi pendusta. Ini berarti firman wahyu-Nya tidak ada di dalam kita.

Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa setelah dilahirkan kembali, kita masih mempunyai dosa yang tinggal, dan kita masih mungkin berbuat dosa. Kita perlu mengakui fakta-fakta ini. Pertama, kita harus mengakui, meskipun kita telah dilahirkan kembali, kita masih mempunyai dosa yang tinggal di dalam daging kita. Jika kita mengabaikan fakta ini, kita akan tertipu dan disesatkan. Akibatnya, kita bisa seenaknya berbuat dosa.

Pada waktu yang lampau saya mendengar orang-orang Kristen tertentu yang menyatakan bahwa setelah mereka menerima baptisan Roh dan berbahasa lidah, mereka tidak lagi mempunyai dosa di dalam mereka. Tetapi dalam pengalaman mereka, mereka menjadi terlibat dalam situasi-situasi yang sangat berdosa. Mereka tertipu dalam pikirannya bahwa karena mereka telah mengalami baptisan Roh, maka mereka tidak lagi mempunyai dosa yang tinggal di dalam mereka.

Meskipun Anda mengalami baptisan Roh Kudus dan berbahasa lidah, sifat dosa masih ada di dalam Anda. Jangan percaya bahwa sifat ini telah dicabut. Sifat dosa ini akan tetap ada di dalam daging kita sampai Tuhan Yesus datang kembali dan dengan kuasa ilahi-Nya mengubah tubuh kita yang jatuh.

Kita semua perlu mengakui bahwa kita mempunyai satu sifat dosa. Saya dapat bersaksi bahwa sebagai seorang yang telah menjadi orang Kristen selama lebih dari 50 tahun, saya mempunyai keyakinan yang dalam, perasaan batiniah yang dalam bahwa sifat dosa saya masih ada. Tidak peduli bagaimana rohaninya seorang beriman, ia masih mempunyai dosa yang tinggal di dalam daging. Kita semua perlu menyadari hal ini dan mengakuinya. Ini akan menjaga kita agar tidak disesatkan.

PENGAJARAN MENGENAI “KESEMPURNAAN TANPA DOSA”

Pada waktu yang lalu, ada orang-orang Kristen tertentu mengajarkan bahwa seorang beriman dapat mencapai keadaan “kesempurnaan tanpa dosa”. Saya tidak mengatakan bahwa ini adalah ajaran bidah; akan tetapi, ajaran ini benar-benar keliru. Orang-orang yang mengajarkan ajaran kesempurnaan memakai firman Tuhan dalam Matius 5:48 tentang menjadi sempurna seperti Bapa surgawi kita adalah sempurna. Mereka juga mungkin menyalahgunakan ayat-ayat seperti Ibrani 6:1 dan 1Korintus 2:6. Dalam dua ayat ini, kata “sempurna” sesungguhnya berarti matang atau bertumbuh dewasa.

Tidaklah benar mengajarkan bahwa kita, orang-orang Kristen, dapat mempunyai apa yang disebut berkat kedua dan kemudian menjadi sempurna tanpa dosa. Jika kita pernah mencapai keadaan semacam ini, kita dapat mempertahankannya hanya secara sementara. Seandainya suatu hari Anda mempunyai satu pengalaman yang kaya atas Tuhan di pagi hari. Hasilnya, selama beberapa jam Anda mungkin sempurna tanpa dosa. Tetapi sejangka waktu kemudian, Anda mungkin tidak berwaspada lagi dan berdosa terhadap Tuhan.

Ayat-ayat tertentu dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa kita dapat menjadi sempurna. Firman Tuhan dalam Matius 5:48 tentang menjadi sempurna seperti Bapa surgawi kita adalah sempurna menunjukkan bahwa kita dapat menjadi sempurna sedemikian. Kalau tidak, Tuhan tidak akan mengatakan firman ini. Akan tetapi, adalah satu kekeliruan mengira bahwa jika kita mencapai satu keadaan kesempurnaan, kita dapat tetap di dalam keadaan itu selamanya. Beberapa orang beriman telah melebih-lebihkan pengalaman mereka tentang kesempurnaan atau telah keterlaluan dalam menggambarkan apa yang mereka alami. Yang penting di sini adalah jangan berpikir bahwa kita dapat mencapai satu keadaan sempurna yang permanen atau tetap. Hari ini kita mungkin sempurna, tetapi kita dapat jatuh besok. Sebelum Tuhan Yesus datang kembali untuk mengubah tubuh kita, kita tidak dapat berada dalam satu keadaan sempurna tanpa dosa secara permanen.

KESETIAAN DAN KEADILAN ALLAH

Kita perlu mengakui bahwa setelah dilahirkan kembali kita masih mempunyai dosa, yaitu kita masih mempunyai dosa yang tinggal (berhuni) di dalam sifat dosa kita. Karena kita masih mempunyai dosa di dalam kita, ada kemungkinan kita bisa berbuat dosa. Kapan saja kita berdosa, kita perlu mengakui dosa kita. Kemudian Allah akan setia dalam firman Perjanjian Baru-Nya untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita. Dalam Injil, yang adalah Perjanjian Baru, Allah berjanji akan mengampuni kita dari dosa-dosa kita karena penebusan Kristus. Karena itu, jika kita mengakui dosa-dosa kita, Allah harus setia untuk memelihara firman-Nya. Jika Allah tidak mengampuni kita, ini berarti Dia bertentangan dengan firman-Nya sendiri. Dalam hal ini, Allah tidak setia. Akan tetapi, kita dapat mempunyai jaminan, asalkan kita mengakui dosa-dosa kita melalui penebusan Kristus, Allah harus mengampuni kita, karena Dia harus setia dalam firman-Nya.

Dalam ayat 9 Yohanes juga mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah adil untuk menyucikan kita dari segala ketidakbenaran (LAI: kejahatan). Mengapa Allah harus adil untuk menyucikan kita secara demikian? Allah harus adil untuk menyucikan kita dari ketidakbenaran karena Dia telah menghakimi Tuhan Yesus di atas salib sebagai Pengganti kita, meletakkan segala dosa-dosa kita di atas diri-Nya. Karena Allah telah menghakimi Kristus bagi kita, darah-Nya berkhasiat untuk menyucikan kita. Karena itu, bila kita mengakui dosa-dosa kita melalui darah-Nya, Allah tidak mempunyai pilihan selain mengampuni kita. Contohnya, seandainya Anda berhutang sejumlah uang kepada seseorang. Seorang teman Anda membayarnya untuk Anda, dan pihak yang lain menerima pembayaran itu. Sekarang orang itu tidak dapat berdasarkan keadilan menuntut pembayaran dari Anda, karena hutang itu telah dibayar. Demikian pula, Allah telah menerima pembayaran bagi dosa-dosa kita melalui kematian Kristus di atas salib. Sekarang kapan saja kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah melalui darah penebusan Kristus di atas salib, Allah harus mengampuni kita. Dalam hal ini, Dia tidak ada pilihan. Dia harus adil.

Allah setia dalam firman-Nya, dan adil dalam tindakan-Nya. Dalam firman-Nya Allah harus setia, dan dalam tindakan-Nya Dia harus adil. Di sini kita melihat perbedaan antara kesetiaan dan keadilan.

PENGAMPUNAN DAN PENYUCIAN

Apakah perbedaan antara pengampunan dan penyucian? Untuk mengetahui perbedaan ini, kita perlu mengetahui perbedaan antara dosa-dosa dan ketidakbenaran. Dosa-dosa mengacu kepada pelanggaran-pelanggaran, dan ketidakbenaran adalah bekas, noda, kesalahan perilaku kita yang disebabkan oleh melakukan satu kesalahan. Kapan saja kita berdosa, kita melakukan satu kesalahan. Kesalahan ini lalu menjadi satu noda pada perilaku kita, dan noda ini adalah ketidakbenaran. Misalnya, Anda membeli dua barang, tetapi Anda hanya membayar satu. Jika Anda membayar hanya satu barang, itu akan menjadi satu perbuatan dosa terhadap toko itu. Dari segi penjualnya, itu adalah satu kesalahan. Tetapi dari segi karakter Anda, itu adalah satu bekas ketidakbenaran. Karena inilah, orang lain tidak mengatakan Anda berdosa, tetapi mengatakan Anda tidak benar.

Demikian pula, bila kita melakukan dosa-dosa di hadapan Allah, dari segi Allah, dosa-dosa ini adalah kesalahan-kesalahan; tetapi dari segi kita, dosa-dosa itu adalah noda ketidakbenaran. Kita perlu mengakui dosa-dosa kita. Kemudian, di satu pihak, Allah mengampuni dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita. Di pihak lain, Allah mencuci bekas-bekas, noda-noda ketidakbenaran kita. Inilah sebabnya dalam 1Yohanes 1:9 dibicarakan pengampunan dosa-dosa dan penyucian ketidakbenaran. Pengampunan dosa-dosa sesungguhnya adalah pembersihan, penyucian noda-noda ketidakbenaran kita.

PEMULIHAN PERSEKUTUAN

Tulisan Rasul Yohanes dalam ayat ini halus dan lembut. Dalam ayat 6 dia mengatakan, “Jika kita katakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran.” Lalu dalam ayat 8 dia selanjutnya berkata, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Dalam ayat 10 dia mengatakan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Tetapi dalam ayat 9 Yohanes mengatakan kepada kita, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala ketidakbenaran” (Tl.). Allah setia dalam firman-Nya untuk mengampuni pelanggaran-pelanggaran kita, dan Dia adil dalam tindakan-Nya untuk membersihkan noda dari ketidakbenaran kita. Melalui pengampunan dan penyucian Allah, pelanggaran kita diampuni, dan setiap bekasnya dibersihkan. Hasilnya adalah persekutuan kita dengan Allah sepenuhnya dipulihkan.

Persekutuan dengan Allah terputus karena dosa dan ketidakbenaran. Tetapi ketika dosa diampuni dan ketidakbenaran disucikan, persekutuan kita dengan Allah dipulihkan. Sekali lagi kita memiliki kenikmatan atas hayat Allah melalui persekutuan kita dengan Bapa dan Putra.

MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS

SEBAGAI KURBAN PENGHAPUS DOSA

DAN KURBAN PENEBUS SALAH KITA

Menurut perlambangan, bani Israel harus mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Dengan mempersembahkan kurban persembahan ini kepada Allah, mereka sebenarnya melakukan suatu pengakuan kepada Dia. Fakta bahwa mereka mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah menunjukkan bahwa mereka menyadari bahwa mereka berdosa dan mereka telah melakukan perbuatan dosa.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa lambang-lambang dari kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah dalam Perjanjian Lama tidak berhubungan dengan kita, karena Tuhan Yesus telah datang menjadi penggenapan semua kurban persembahan. Benar, Tuhan Yesus adalah penggenapan dari semua kurban persembahan. Tetapi bagaimana dengan situasi dan kondisi Anda sebagai orang beriman dalam Kristus? Apakah tidak ada dosa dalam diri Anda? Apakah Anda kadang-kadang tidak melakukan perbuatan dosa? Apa yang harus Anda lakukan dengan dosa yang tinggal dan perbuatan dosa yang sering Anda perbuat? Anda perlu mengaku bahwa Anda masih memiliki dosa yang tinggal dan Anda masih melakukan perbuatan dosa, walaupun Anda tidak terus-menerus berbuat dosa. Melakukan pengakuan sedemikian kepada Tuhan adalah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah.

Setiap hari dan sepanjang hari, kita perlu Tuhan sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita. Saya dapat bersaksi bahwa dalam pengalaman saya, saya perlu Tuhan sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah saya pagi, siang, dan malam. Saya mungkin memiliki waktu yang menyenangkan menikmati Tuhan, tetapi beberapa menit kemudian saya bisa tersandung oleh sesuatu atau seseorang.

JANJI ALLAH DAN PENGAKUAN KITA

Karena kita masih memiliki dosa di dalam diri kita dan karena kita kadang-kadang masih berbuat dosa, kita perlu mengaku kepada Tuhan. Kita tidak dapat berkata bahwa kita tidak memiliki dosa atau kita tidak berbuat dosa. Puji Tuhan atas janji yang kuat dalam ayat 9 bahwa jika kita mengaku dosa-dosa kita, Allah adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita dan menyucikan kita dari segala ketidakbenaran. Karena itu, kita tidak seharusnya terganggu oleh dosa yang tinggal, dan begitu kita mengaku dan menerima pengampunan dan penyucian Tuhan, kita tidak seharusnya terganggu oleh dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Janji dalam 1:9 tidak boleh disalahgunakan sebagai dorongan untuk berbuat dosa. Ini berarti kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita boleh keluar dan berbuat dosa lalu mengaku dan menerima penyucian Tuhan. Konsepsi ini mengarah kepada aliran Antinomian, konsepsi yang menyatakan, karena kita berada di bawah anugerah, kita bebas dari segala peraturan dan dapat berbuat dosa seenaknya. Seperti yang akan kita lihat dalam 2:1, Yohanes berkata, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa.” Yohanes menulis dengan harapan bahwa kita tidak akan berbuat dosa. Namun, kita memiliki janji dalam 1:9 yaitu jika kita berbuat dosa, kita dapat diampuni dan disucikan, asalkan kita mengakui dosa kita kepada Allah.

PANDANGAN YANG SEIMBANG

Saya percaya bahwa kita telah memiliki pandangan yang seimbang mengenai dosa setelah kita dilahirkan kembali. Mulai sekarang kita semua harus jelas bahwa setelah kelahiran kembali, kita masih memiliki dosa dalam sifat kita dan masih ada kemungkinan berbuat dosa. Jangan percaya bahwa karena Anda telah dilahirkan kembali, maka Anda tidak lagi memiliki dosa dalam sifat Anda atau Anda tidak dapat berbuat dosa lagi. Itu ajaran yang menipu. Karena kita masih memiliki dosa dalam sifat kita, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk berbuat dosa. Jika Anda berdosa, Anda harus mengakui dosa Anda kepada Allah. Dia telah berjanji dalam Injil-Nya untuk mengampuni kita, dan Dia akan setia dengan perkataan-Nya. Lagi pula, dalam penebusan, Allah menghakimi Kristus karena kita. Ini berarti Dia tidak akan menghakimi kita karena dosa-dosa kita jika kita mengakuinya melalui penebusan Kristus. Sebagai Allah yang adil, Dia tentu akan menyucikan kita dari ketidakbenaran kita. Dengan demikian kita dapat memelihara persekutuan kita dengan Dia dan menikmati Dia hari demi hari.

Kami telah menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya percaya bahwa kita dapat sempurna selamanya sebelum Tuhan datang untuk mengubah tubuh kita. Itu adalah konsepsi yang salah mengenai kesempurnaan. Kita percaya bahwa dengan anugerah Tuhan kita dapat menang dan sempurna. Namun, kemenangan dan kesempurnaan ini bukanlah sekali untuk selamanya. Karena itu, kita perlu takut dan gentar dan berjaga-jaga agar kita tidak dirusak oleh dosa yang tinggal di dalam daging kita. Hari demi hari, kita perlu menengadah kepada Tuhan, berdoa, dan berjaga-jaga. Bila kita gagal dan berbuat dosa, kita harus mengakuinya kepada Tuhan. Dia akan setia dan adil untuk mengampuni kita dan menyucikan kita dengan darah Anak-Nya, Yesus Kristus.