SEPATAH KATA MENGENAI TULISAN-TULISAN YOHANES (1)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 1:2-3; 2:27; 3:9; 5:4, 18
Dengan berita ini kita memulai Pelajaran-Hayat Surat Yohanes. Kita percaya Tuhan akan membukakan Kitab Suci sekali lagi bagi kita dan menyampaikan firman yang segar kepada kita semua.
WAHYU TENTANG HAL-HAL ILAHI
Berita ini adalah sebuah kata pengantar mengenai tulisan-tulisan Yohanes. Tulisan-tulisan Yohanes meliputi Injilnya, ketiga suratnya, dan Kitab Wahyunya. Tulisan-tulisan ini menduduki satu tempat yang khusus dan mencolok dalam wahyu yang lengkap tentang Allah dalam Alkitab. Dalam Injil, surat-surat, dan Kitab Wahyunya Yohanes menulis tentang hal-hal yang misterius. Hal-hal ini misterius karena bersifat ilahi. Karena itu, kita perlu nampak bahwa tulisan-tulisan Yohanes sepenuhnya adalah wahyu tentang hal-hal ilahi. Di sini saya ingin menekankan dua kata: wahyu dan ilahi.
Tentu saja, seluruh Alkitab adalah wahyu ilahi Allah. Alkitab tidak ditulis menurut pikiran manusia atau menurut gagasan manusiawi. Sebaliknya, seluruh Alkitab adalah wahyu ilahi yang ditulis dalam bahasa manusia. Namun, sangatlah penting untuk kita pahami bahwa justru demikianlah tulisan-tulisan Yohanes. Tulisan-tulisan ini berhubungan dengan hal-hal ilahi.
Keperluan Kita akan Wahyu
Karena Yohanes menulis tentang hal-hal ilahi, maka hal-hal ini perlu diwahyukan kepada kita. Tidaklah mungkin mental alamiah manusia menafsirkan atau menduga apa yang diungkapkan tulisan-tulisan Yohanes bagi kita. Apa pun yang diwahyukan dalam tulisan-tulisan Yohanes jauh melebihi pemahaman manusiawi kita. Sebab itu, di sini tidak ada tempat bagi tafsiran atau dugaan. Pikiran kita tidak dapat memahami, mencerap hal-hal ilahi yang diwahyukan dalam tulisan-tulisan Yohanes. Injil Yohanes, ketiga Surat Yohanes, dan Kitab Wahyu mewahyukan perkara-perkara yang melebihi kemampuan imajinasi kita. Kita pun tidak dapat memahami hal-hal ini, lebih-lebih menafsirkannya. Karena tulisan-tulisan Yohanes membahas hal-hal ilahi, kita tidak dapat dengan pikiran alamiah kita membayangkan apa isinya. Hanya melalui wahyu ilahi, barulah hal-hal ilahi dalam tulisan-tulisan Yohanes dapat diwahyukan kepada kita.
Ketika membaca tulisan-tulisan Yohanes, tidak cukup hanya melatih pikiran kita. Kita perlu lebih banyak berdoa. Kita juga perlu percaya bahwa hari ini Roh ilahi ada di dalam kita, yaitu di dalam roh kita. Kita harus mohon kepada Roh yang berhuni ini agar mewahyukan hal-hal yang terkandung dalam tulisan-tulisan Yohanes, dan juga memberi kita hikmat untuk memahami, mencerap hal-hal yang kita lihat di dalam roh kita karena wahyu ini. Seperti Rasul Paulus, kita perlu berdoa memohon roh hikmat dan wahyu, “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Ef. 1:17). Hanya membaca tulisan-tulisan Yohanes atau merenungkannya tidaklah cukup. Juga tidak cukup hanya memakai pengertian alamiah kita. Bila kita sampai pada tulisan-tulisan Yohanes, kita tidak boleh percaya kepada pembacaan, renungan, atau pemahaman kita. Sebaliknya, kita harus berdoa, “Tuhan, aku bersandar kepada-Mu, berilah aku wahyu tentang apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan ini. Tuhan, aku tidak percaya kepada kemampuan alamiahku untuk memahami firman-Mu.”
Seluruh Kitab Wahyu adalah wahyu. Inilah sebabnya Kitab Wahyu dibuka dengan perkataan, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya” (Why. 1:1). Kata “wahyu” menunjukkan penyingkapan suatu selubung. Wahyu adalah penyingkapan selubung untuk memperlihatkan kepada kita sesuatu yang misterius yang tersembunyi di balik selubung. Kita semua perlu penyingkapan selubung semacam ini. Banyak perkara ilahi yang mengagumkan telah tersembunyi, tetapi kita dapat mengalami satu penyingkapan selubung dan memiliki wahyu akan perkara itu.
Keperluan Kita akan Akal Budi
Sehubungan dengan wahyu, kita juga perlu akal budi untuk mengerti. Kita mungkin dapat melihat hal-hal tertentu, tetapi kita tidak dapat mengerti apa yang kita lihat. Contohnya, seandainya Anda mengunjungi sebuah pabrik yang besar dan melihat berbagai macam mesin. Anda melihat mesin-mesin itu, tetapi mungkin Anda tidak mengerti apa pun tentang mesin-mesin itu. Meskipun mesin-mesin itu telah diwahyukan kepada Anda, Anda masih perlu mengerti. Prin-sipnya sama dengan perkara ilahi. Di samping wahyu, kita juga perlu hikmat untuk mengerti. Karena inilah, Paulus berdoa meminta roh hikmat dan wahyu.
Berpaling ke Roh Perbauran
Pemikiran dalam tulisan-tulisan Yohanes sepenuhnya ilahi. Tulisan-tulisan ini tidak berisi ajaran-ajaran etika atau konsepsi-konsepsi filsafat. Sebaliknya, tulisan-tulisan ini diisi dengan hal-hal ilahi. Kata “ilahi” menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan Allah atau milik Allah. Hal-hal yang berkaitan dengan Allah dan milik Allah sendiri bersifat ilahi, dan segala perkara ilahi bersifat misterius. Kita tidak dapat memahami, mencerap hal-hal misterius ini. Allah adalah konkret dan tidak terbatas. Bagaimana kita, yang hanyalah manusia, dapat memahami Dia? Ini tidak mungkin. Kita tidak memiliki kapasitas untuk memahami Allah. Tetapi syukur kepada-Nya karena Dia menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki roh, dan dalam penyelamatan-Nya, Dia telah melahirkan kembali roh kita yang mati dan telah menanamkan hayat ilahi-Nya ke dalam roh kita. Dia pun telah mengaruniakan kepada kita diri-Nya sendiri sebagai Roh pemberi-hayat untuk berhuni di dalam roh kita. Hanya di dalam roh kelahiran kembali kitalah, kita dapat memenuhi syarat untuk melihat wahyu tentang hal-hal yang misterius dalam tulisan-tulisan Yohanes. Pikiran manusiawi kita tidak memenuhi syarat untuk ini. Tidak mungkin melihat hal-hal semacam ini dengan pikiran alamiah kita. Syukur kepada Tuhan karena kita mempunyai roh yang dilahirkan kembali, bahkan roh perbauran, roh kelahiran kembali kita berbaur dengan Roh ilahi. Karena itu, kita harus berpaling ke roh per-bauran ini dan berdoa, “Tuhan, kami mohon penyingkapan-Mu dan hikmat-Mu. Kami percaya, Tuhan, Engkau ingin menunjukkan kepada kami sesuatu yang ada dalam tulisan-tulisan Yohanes. Tuhan, sebagaimana Engkau menyingkapkan selubung bagi Rasul Yohanes, singkapkanlah lagi bagi kami. Tuhan, kami perlu penyingkapan kembali selubung itu. Belas kasihanilah kami, dan singkapkanlah rahasia-rahasia ini sekali lagi. Berilah kami hikmat untuk memahami dan mencerap apa yang ingin Engkau tunjukkan kepada kami dalam Surat-surat Yohanes.”
MENCERNA ALLAH YANG TAK TERBATAS
Kita telah menunjukkan bahwa kata ilahi menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dan milik Allah. Sesungguhnya, kata ini mengacu kepada Allah sendiri. Sebab itu, mengatakan bahwa tulisan-tulisan Yohanes mewahyukan hal-hal ilahi berarti tulisan-tulisan ini mewahyukan Allah sendiri. Ketika membaca Surat-surat Yohanes, tujuan kita bukan hanya untuk mempelajari hal-hal tentang Allah. Kita membaca surat-surat ini untuk melihat hal-hal Allah. Kita ingin memahami, menerima, dan bahkan mencerna hal-hal Allah. Betapa hebatnya ini! Camkanlah bahwa dalam berita-berita ini kita tidak bermaksud menyajikan satu pemahaman Alkitab. Kita tidak berusaha mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan agama atau mempelajari hal-hal yang akan membantu kita untuk memperbaiki kelakuan kita atau meningkatkan standar hidup kita. Dalam berita Surat-surat Yohanes ini tujuan kita adalah melihat Allah, memahami Allah, menerima Allah, dan mencerna Allah. Ada beberapa orang mendengar tentang “mencerna Allah”, mereka mungkin terganggu dan bertanya bagaimana mungkin Allah kita cerna. Saya dapat bersaksi bahwa saya sangat senang dengan ungkapan “mencerna Allah” ini. Setiap hari saya menerima Allah dan mencerna Allah. Jika saya tidak mencerna Allah, saya tidak akan dapat memikul beban berat yang ada di bahu saya. Puji Tuhan, melalui mencerna Dia, saya dapat memikul beban berat! Melalui mencerna Allah yang tidak terbatas ini, saya menjadi saya hari ini, dan Anda menjadi Anda hari ini. Wahyu tentang hal-hal ilahi dalam tulisan-tulisan Yohanes telah diwahyukan agar kita dapat menerima Allah dan mencerna Dia.
TAMBAHAN BAGI WAHYU
DARI TULISAN-TULISAN KUDUS YANG LAIN
Tambahan bagi Injil-injil Sinoptik
Wahyu tentang hal-hal ilahi dalam tulisan-tulisan Yohanes adalah tambahan bagi wahyu dari tulisan-tulisan ilahi yang lain. Ini menyatakan bahwa jika tulisan-tulisan Yohanes tidak ada di dalam Alkitab, Alkitab akan kekurangan sesuatu yang sangat penting. Contohnya, Injil Yohanes adalah satu tambahan bagi Injil-injil sinoptik, Injil Matius, Markus, dan Lukas. Tanpa Injil Yohanes, kita hanya dapat mengerti bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang melayani Allah sebagai seorang hamba (budak), seperti yang diwahyukan dalam Injil Markus; bahwa Dia mati di atas salib menjadi Juruselamat kita, seperti diwahyukan dalam Injil Lukas; dan bahwa Dia adalah Raja, seperti diwahyukan dalam Injil Matius. Pada diri Tuhan sebagai seorang hamba, sebagai Juruselamat dan Penebus, dan sebagai Raja, kita nampak keinsanian-Nya. Akan tetapi, Tuhan adalah Allah sebelum Dia menjadi manusia. Ini berarti dalam persona-Nya Dia memiliki dua aspek, aspek ilahi dan aspek insani. Kita dapat mengatakan bahwa Dia mempunyai persona ganda, karena Dia adalah manusia-Allah, Allah yang berinkarnasi. Dia adalah Allah juga manusia. Dia adalah Allah yang sejati dan sempurna, dan Dia juga adalah seorang manusia yang sejati dan sempurna.
Jika kita hanya mempunyai tiga kitab Injil yang pertama, Injil sinoptik, kita hanya akan melihat aspek insani Tuhan, tetapi tidak banyak tentang aspek ilahi-Nya. Dengan ini kita nampak perlunya suatu tambahan bagi Injil Matius, Markus, dan Lukas. Injil Yohanes berfungsi seperti tambahan yang demikian. Injil Yohanes mewahyukan bahwa manusia Yesus, Orang yang melayani Allah sebagai seorang hamba, yang mati di atas salib menjadi Penebus kita, dan yang ada-lah Raja umat Allah, Orang ini adalah Allah sendiri. Karena Dia adalah Allah, maka Dia tidak berawal dan tidak bersisilah. Dia adalah Allah yang tidak terbatas dan kekal.
Injil Yohanes dibuka dengan kata-kata, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Kata “pada mulanya” menyatakan kekekalan yang lampau. Pada mulanya, pada kekekalan yang lampau, ada Firman. Jika Yohanes tidak menulis ini dalam kitab Injilnya, kita tidak mungkin mem-bayangkan bahwa Juruselamat kita adalah Firman kekal. Betapa mengagumkan wahyu ini! Dengan wahyu di hadapan kita ini pun, kita mungkin masih belum dapat mengerti makna yang sebenarnya tentang Firman. Dapatkah Anda menerangkan apakah Firman itu? Pernahkah Anda membaca buku tentang etika atau filsafat yang mempunyai satu ungkapan seperti “pada mulanya ada Firman”? Yohanes tidak hanya mengatakan bahwa Firman ada pada mulanya, tetapi juga mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kemudian dia mengatakan, “Dalam Dia adalah hayat, dan hayat itu adalah terang manusia” (ayat 4, Tl.). Kita tahu dari Yohanes 1:14 bahwa Orang ini, yang adalah Firman pada mulanya, telah menjadi daging dan berkemah (mendirikan tabernakel) di antara kita (Tl.). Dalam Yohanes 1:1, 4, dan 14 kita mempunyai Firman, Allah, hayat, terang, dan daging. Firman yang ajaib, yang adalah Allah, menjadi daging. Kita mungkin tidak memandang kata “daging” dengan cara positif, tetapi Alkitab menyatakan bahwa Firman itu menjadi daging. Inilah bagian dari wahyu yang disampaikan dalam tulisan-tulisan Yohanes.
Dalam Yohanes 1:14 dikatakan bahwa Firman yang menjadi daging mendirikan kemah di antara kita. Saya menghargai kata “berkemah”. Ketika Firman itu menjadi daging, Dia menjadi kemah Allah. Kita tahu dari Kitab Keluaran bahwa Kemah (Pertemuan) dalam Perjanjian Lama adalah lambang dari Kristus, adalah tempat saling huni antara Allah dengan manusia. Allah berhuni di dalam kemah dan kita dapat memasuki kemah ini, menjadi “teman sekamar” Allah. Saya dapat bersaksi bahwa teman sekamar saya adalah Allah yang berhuni di dalam kemah-Nya. Tempat kediaman saya yang sebenarnya bukanlah rumah saya, tetapi kemah, tempat kediaman Allah. Ini berarti di mana Allah berhuni, saya juga berhuni. Betapa mengagumkan bahwa Firman yang bersama-sama dengan Allah pada mulanya berinkarnasi untuk berkemah di antara kita!
Yohanes 1:14 mengatakan bahwa firman yang menjadi daging dan berkemah di antara kita penuh dengan anugerah dan kebenaran (realitas), dan juga bahwa murid-murid melihat kemuliaan-Nya. Bila kita menjajarkan ayat 14 bersama ayat 1 dan 4, kita mempunyai Firman, Allah, hayat, terang, daging, kemah, anugerah, realitas, dan kemuliaan. Lalu dalam 1:29 kita mempunyai Anak Domba, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Apakah Anda dapat mengerti semua hal yang misterius ini? Bagaimanakah Firman dapat menjadi Allah, dan bagaimana hayat dalam Firman dapat menjadi terang manusia? Bagaimana diri Allah sendiri yang ajaib dapat menjadi daging, dan bagaimana Allah yang berinkarnasi, Allah di dalam daging, menjadi kemah? Bagaimana kemah ini dapat menjadi penuh anugerah dan realitas? Selanjutnya, bagaimana Orang yang berinkarnasi ini juga dapat menjadi Anak Domba Allah? Siapakah yang pernah membayangkan bahwa dalam sejarah manusia bisa ada satu tulisan yang mengandung hal-hal semacam ini? Tulisan ini, Injil Yohanes, mengatakan tentang Orang yang adalah Firman kekal dan Allah, dan mengatakan bahwa dalam Firman ini ada hayat, bahwa hayat ini adalah terang manusia, bahwa Dia menjadi daging, bahwa dalam daging Dia adalah kemah, ketika kita datang ke kemah ini, kita menerima anugerah dan kebenaran dan menikmati kemuliaan-Nya, dan Orang ajaib semacam ini juga menjadi Anak Domba. Satu tulisan semacam ini bukan hanya insani, dan bukanlah suatu hal yang agamawi, bermoral, etis, atau filosofis. Ini adalah satu tulisan yang mengandung wahyu yang sepenuhnya ilahi.
Banyak pembaca Perjanjian Baru menyukai Injil Lukas karena mempunyai banyak perumpamaan dan menyajikan kejadian orang-orang dosa yang diselamatkan. Akan tetapi, kita mungkin menyukai Injil Lukas karena pandangan kita terbatas, seperti katak dalam sumur. Seekor katak dalam sumur hanya dapat melihat satu lingkaran kecil dari langit. Tetapi dalam kelima kitab yang ditulis oleh Yohanes, seluruh surga disingkapkan kepada kita. Ketika kita melihat wahyu dalam tulisan-tulisan Yohanes, kita diangkat keluar dari “sumur” kita.
Tulisan-tulisan Yohanes tidak hanya mengangkat kita keluar dari sumur, tetapi juga membawa kita ke surga. Dalam Kitab Wahyu, Yohanes dapat menyatakan bahwa dia melihat sebuah pintu terbuka di surga dan bahwa dia melihat sebuah takhta terletak di surga dan Seseorang duduk di atas takhta itu (Why. 4:1-2). Akhirnya, Yohanes melihat langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru (Why. 21:1-2). Sebenarnya, Kitab Wahyu bukanlah satu kitab nubuat, melainkan satu kitab wahyu. Dalam kitab ini kita diselamatkan dari keadaan kita yang rendah dan diangkat ke surga. Saya harap berita-berita ini akan membantu mengangkat Anda secara demikian. Kemudian Anda akan dapat bersaksi, “Aku tidak lagi berada di dalam sebuah sumur dengan pandangan yang sempit, terbatas. Sekarang aku di surga dengan pandangan yang jelas tentang wahyu Allah.” Tujuan tulisan-tulisan Yohanes adalah mengangkat kita dan menunjukkan kepada kita satu wahyu tentang hal-hal yang misterius, yang ilahi.
Tambahan bagi Surat-surat yang Lain
Sebagaimana Injil Yohanes merupakan tambahan bagi Injil-injil sinoptik, Surat-surat Yohanes juga merupakan tambahan bagi Surat-surat Perjanjiaan Baru yang lain. Saya telah mempelajari tulisan-tulisan Paulus dan Petrus, dan saya sangat menghargainya. Saya juga telah mempelajari Surat-surat Yakobus dan Yudas. Saya dapat bersaksi bahwa jika kita tidak mempunyai Surat Yohanes, kita akan merasakan satu kehilangan yang besar. Surat Yohanes adalah satu tambahan yang penting bagi semua surat yang lain.
Tambahan bagi Seluruh Alkitab
Selanjutnya, Kitab Wahyu adalah tambahan bagi seluruh Alkitab. Bayangkan akan seperti apa jadinya Alkitab jika tidak ada Kitab Wahyu. Jika demikian, Alkitab akan kekurangan satu kesimpulan. Betapa sangat besarnya kehilangan ini!
MELENGKAPI SELURUH WAHYU ILAHI
Tulisan-tulisan Yohanes tidak hanya menambahkan, tetapi juga melengkapi seluruh wahyu ilahi. Ini berarti tulisan-tulisan Yohanes melengkapi Alkitab. Injilnya melengkapi kitab-kitab Injil-injil, surat-suratnya melengkapi Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyunya melengkapi seluruh Alkitab. Jika kita mengerti pentingnya tulisan-tulisan Yohanes, kita pasti akan bersyukur kepada Tuhan untuk tulisan ini. Puji Tuhan untuk Injil Yohanes, Surat-surat Yohanes, dan Kitab Wahyu Yohanes.
BEBERAPA HAL
YANG KHUSUS DALAM SATU YOHANES
Hayat Ilahi dan Persekutuan Ilahi
Dalam Surat 1Yohanes ada ayat-ayat tertentu yang saya sukai dengan khusus. Satu Yohanes 1:2-3 mengatakan, “Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup (hayat) kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Dalam ayat-ayat ini, Yohanes mengatakan bahwa para rasul mem-beritakan hayat kekal kepada kita sehingga kita dapat mempunyai persekutuan dengan mereka. Dalam tulisan lain manakah Anda dapat menemukan perkataan semacam ini? Dalam Surat 1Yohanes kita mempunyai pemberitaan tentang hayat kekal untuk maksud persekutuan. Ini berarti hayat kekal menghasilkan persekutuan. Bila hayat ini diberitakan, hasilnya adalah persekutuan hayat ilahi. Karena itu, dalam 1:2-3 kita mempunyai hayat ilahi dengan persekutuan ilahi.
Pengurapan Minyak Urapan
Satu Yohanes 2:27 mengatakan, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demi-kianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” Dalam ayat ini Yohanes mengatakan bahwa pengurapan Tuhan mengajar kita tentang segala sesuatu, dan sebagaimana ia telah mengajar kita, kita harus tinggal di dalam Dia. Penga-jaran pengurapan sama sekali berbeda dengan pengetahuan guru-guru besar manusia, termasuk apa yang disebut pelajaran yang tertinggi dari Konghucu. Semoga kita semua mempunyai satu pengertian yang penuh tentang fakta bahwa pengurapan ilahi di dalam kita mengajar kita setiap saat dan kita hanya perlu tinggal di dalam Tuhan menurut pengurapan ini.
Kelahiran Ilahi dan Benih Ilahi
Ayat lain yang mengagumkan adalah 3:9, “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa, sebab benih ilahi tinggal di dalam dia, dan dia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (Tl.). Dalam ayat ini, Yohanes berbicara tentang siapa saja yang telah “lahir dari Allah”. Tulisan Yohanes menekankan kelahiran ilahi, kelahiran kembali kita. Sungguh ajaib bahwa manusia dapat lahir dari Allah, dilahirkan kembali dari Dia. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita tidak hanya telah lahir dari bapa jasmani kita, juga lahir dari Allah. Siapa pun yang lahir dari manusia, dengan sendirinya menjadi manusia. Dalam prinsip yang sama, apa pun yang lahir dari seekor anjing adalah seekor anjing. Yang penting di sini adalah bahwa suatu hayat akan selalu melahirkan hayat yang sama. Saya tidak akan mengatakan karena kita telah lahir dari Allah, kita adalah Allah. Akan tetapi, menurut Kitab Suci, kita dapat mengatakan bahwa karena kita telah lahir dari Allah, kita adalah anak-anak Allah, memiliki hayat dan sifat ilahi. Allah adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Seperti kita telah lahir dari orang tua jasmani kita sehingga mempunyai hayat dan sifat manusia, maka kita telah lahir dari Allah sehingga mempunyai hayat dan sifat ilahi.
Menurut 3:9, setiap orang yang telah lahir dari Allah tidak berbuat dosa, sebab benih Allah tinggal di dalam dia. Berbuat dosa di sini adalah terbiasa hidup di dalam dosa. Karena kita telah lahir dari Allah, kita tidak berbuat dosa. Contohnya, kucing menangkap tikus karena kucing mempunyai hayat semacam itu. Akan tetapi, seekor anjing yang mempunyai semacam hayat yang berbeda, tidak berbuat demikian. Yang berbuat dosa bukanlah anak Allah. Tidak seorang pun anak Allah terbiasa hidup di dalam dosa.
Orang yang telah lahir dari Allah tidak berbuat dosa karena benih Allah tinggal di dalamnya. Benih dalam ayat ini adalah hayat Allah, yang kita terima ketika kita dilahirkan dari Dia. Benih ilahi ini tinggal di dalam setiap orang beriman yang dilahirkan kembali. Betapa mengagumkan bahwa benih Allah tinggal di dalam kita! Betapa hebatnya wahyu ini! Saya tidak dapat mengatakan betapa jauh wahyu ini melampaui ajaran-ajaran tertentu mengenai pelajaran yang tertinggi. Karena kita telah lahir dari Allah, benih-Nya tinggal di dalam kita. Apakah Anda tidak merasakan bahwa ada sesuatu yang hidup dan organik bergerak dan bertumbuh di dalam Anda? Kadang-kadang kita dapat merasakan aktivitas benih ini, dan pada saat yang lain kita dapat merasakan bahwa ia sedang berbunga.
Dalam perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13, kita nampak Tuhan Yesus datang sebagai seorang penabur untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ilahi ke dalam hati manusia. Hati kita adalah tanah di mana benih ilahi bertumbuh. Benih ini tidak lain adalah Allah sendiri. Sebutir benih gandum adalah gandum, dan sebutir benih anyelir adalah anyelir. Dalam prinsip yang sama, benih Allah adalah Allah sendiri. Melalui kelahiran kembali, Allah telah menjadi sebutir benih hayat yang organik, bertumbuh di dalam kita. Akhirnya, benih ini akan berbunga dan berbuah. Karena benih ini bersifat ilahi, ia tidak berbuat dosa.
Lahir dari Allah,
Tidak Disentuh oleh Si Jahat
Satu Yohanes 5:4 mengatakan, “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia,” dan 5:18 mengatakan, “Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menyentuhnya.” Bila kita menja-jarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia dan bahwa si jahat tidak menyentuhnya. Nanti kita akan melihat mengapa 5:4 mengatakan “semua” dan 5:18 mengatakan “setiap orang”. Sekarang cukuplah kita nampak bahwa semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia dan si jahat tidak menyentuhnya.
Orang Kristen sering mengeluh tentang betapa kuatnya Iblis itu. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yohanes ada perkataan yang memberi tahu kita bahwa kita telah lahir dari Allah dan bahwa Iblis tidak menyentuh kita. Iblis tahu bahwa usaha-usahanya akan menjadi sia-sia jika dia menyentuh orang yang telah lahir dari Allah dan yang menjaga dirinya sendiri.
Semua ayat dari Surat 1Yohanes ini bersifat unik. Kita tidak dapat menemukan ayat-ayat semacam ini dalam tulisan-tulisan Paulus atau Petrus. Saya mendorong kalian mengeluarkan waktu untuk mendoakan ayat-ayat ini. Saya percaya, jika kalian mendoakan ayat-ayat ini, kalian akan melihat suatu hal ilahi. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah melihat bahwa hayat kekal telah diberikan kepada saya, saya mempunyai satu persekutuan ilahi, pengurapan ilahi ada di dalam saya, saya telah lahir dari Allah, saya mempunyai benih ilahi, dan saya menjadi satu orang yang tidak disentuh oleh Iblis. Semoga kita semua melihat wahyu yang mengagumkan yang terkandung dalam ayat-ayat ini dan dapat bersaksi dengan berani mengenai ayat-ayat ini.