KEBEBASAN DI DALAM KRISTUS BERLAWANAN DENGAN PERHAMBAAN DI BAWAH HUKUM TAURAT
Pembacaan Alkitab:
Gal. 2:4; 4:24-25, 28, 30-31; 3:3, 21; 2:19b; 5:1
Dalam Kitab Galatia Paulus mengetengahkan sejumlah perbandingan antara perkara-perkara yang lebih tinggi atau unggul dengan perkara-perkara yang lebih rendah. Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan perbandingan antara Putra Allah dengan agama manusia. Dalam berita ini kita akan meninjau perbandingan lain: kebebasan di dalam Kristus berlawanan dengan perhambaan di bawah hukum Taurat. Kristus berlawanan dengan hukum Taurat, dan kebebasan berlawanan dengan perhambaan. Bila kita tiba pada pasal 3, kita akan nampak perbandingan antara Roh itu dengan daging. Untuk menyelami kedalaman kitab ini, kita perlu mengingat perbandingan-perbandingan yang dibuat oleh penulis kitab ini.
Dalam 2:4 Paulus berkata, “Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhamba kita.” Versi King James menerjemahkan istilah Yunani “perhambaan” sebagai “belenggu”. Walaupun itu tidak salah, tetapi akar kata itu dalam bahasa Yunani berarti menjadi budak atau hamba. Jadi, di sini tidak saja mengandung pemikiran dibelenggu, tetapi juga diperbudak, terikat dalam perhambaan.
Jika kita hendak memahami perbandingan antara kebebasan di dalam Kristus dengan perhambaan di bawah hukum Taurat, kita perlu satu definisi yang tepat tentang istilah kebebasan dan perhambaan. Ketika kita membaca istilah-istilah ini dalam Alkitab, mungkin kita menganggap memang seharusnya demikian, tanpa memiliki satu pengertian yang tepat dan memadai. Dalam 2:4 Paulus membicarakan saudara-saudara palsu yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita. Istilah-istilah “saudara palsu”, “menyelundup ke dalam” dan “menghadang” yang demikian keras dan negatif ini seharusnya memberi kita kesan atas fakta bahwa kebebasan di dalam Kristus adalah perkara yang sangat besar. Jika tidak, tentu para pengikut agama Yahudi, saudara-saudara palsu itu tidak akan menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita.
Apakah kebebasan di dalam Kristus? Pertama, kebebasan di dalam Kristus menyiratkan kemerdekaan dari kewajiban. Karena kita telah bebas di dalam Kristus, kita tidak lagi berkewajiban terhadap hukum Taurat dan peraturan-peraturan, praktek-praktek, serta ketetapan-ketetapannya. Orang yang berusaha memelihara hukum Taurat akan membuat dirinya berhutang kepada peraturan-peraturan, praktek-praktek, dan ketetapan-ketetapan hukum Taurat. Jadi, jika Anda mencoba memelihara hukum Taurat, Anda akan menempatkan diri Anda di bawah perhambaan dan melayani hukum Taurat sebagai budaknya. Akan tetapi, kebebasan di dalam Kristus memerdekakan kita dari semua kewajiban yang demikian.
Kedua, kebebasan di dalam Kristus mencakup kepuasan penuh, dengan suplai yang kaya. Jika kita bebas secara lahiriah, tanpa sesuatu yang menunjang kita atau memuaskan kita, maka kebebasan itu bukanlah kebebasan yang sejati. Kebebasan yang benar bukan hanya bebas dari kewajiban, tetapi juga kepuasan penuh, karena di dalamnya ada suatu suplai dan tunjangan yang memadai.
Ketiga, kebebasan di dalam Kristus berarti kenikmatan atas perhentian. Orang-orang yang tetap memelihara hari Sabat tidak menikmati perhentian sejati, sebab upaya mereka untuk memelihara hari Sabat telah menempatkan mereka di bawah beban yang berat. Namun, di dalam Kristus kita memiliki perhentian yang sejati.
Keempat, kebebasan di dalam Kristus menyiratkan kenikmatan penuh atas Kristus. Karena kita telah bebas di dalam Dia, kita menikmati semua hakiki-Nya. Kebebasan sejati di dalam Kristus adalah kenikmatan penuh atas Kristus yang hidup.
Jika kita ingin memiliki definisi yang tepat atas kebebasan di dalam Kristus, yakni satu definisi yang cocok dengan pengalaman kita, perlulah kita nampak bahwa kebebasan yang demikian ini mencakup kemerdekaan dari kewajiban, kepuasan karena suplai yang kaya dari Tuhan, perhentian sejati, dan kenikmatan atas Kristus. Mereka yang memiliki kebebasan semacam ini tidak lagi diperhamba oleh apa pun. Walau kadangkala mungkin Iblis me-nempatkan kita ke dalam situasi yang sulit, tetapi kita tetap dapat berada dalam perhentian. Kita tidak perlu diperhamba oleh situasi apa pun. Sebaliknya, kita dapat menikmati Tuhan. Ini berarti kita bebas di dalam lubuk batin kita. Inilah kebebasan kita di dalam Kristus.
Bila Anda merenungkan lukisan kebebasan di dalam Kristus ini, Anda akan menemukan bahwa kebebasan ini cocok dengan pengalaman Anda bersama Tuhan. Mungkin tingkatannya berbeda, tetapi hakekatnya tidak berbeda.
Kebebasan di dalam Kristus adalah suatu mustika. Tetapi Iblis, si licik itu, mengutus para penganut agama Yahudi untuk menyelundup ke dalam guna menghadang kebebasan ini dan membuat kaum beriman Galatia kehilangan mustika tersebut. Iblis ingin merampas kebebasan mereka dari kewajiban mereka serta kepuasan, perhentian, dan kenikmatan mereka atas Kristus.
Begitu kita memiliki pengertian yang tepat terhadap kebebasan di dalam Kristus, kita mudah mengerti apa itu perhambaan. Perhambaan adalah lawan kebebasan. Diperhamba di bawah hukum Taurat mewajibkan kita melakukan hukum Taurat berikut peraturan-peraturan, perintah-perintah, praktek-praktek, dan ketetapan-ketetapannya. Namun, tidak seorang pun dapat memenuhi permintaan hukum Taurat. Kesepuluh perintah itu sebagian besar mengendalikan orang dari luar. Tetapi perintah yang berkaitan dengan keserakahan mengendalikan dari dalam. Kita mungkin bisa memelihara perintah-perintah lainnya, tetapi yang satu ini tidak. Kita justru tidak mampu meloloskan diri dari keserakahan dalam batin kita. Sebagai contoh, mungkin kita melihat seseorang mempunyai sebuah pena baru yang lebih baik daripada yang kita miliki. Dalam batin kita, kita pun damba memiliki pena sebaik itu. Itulah keserakahan.
Karena kita semua mempunyai kekurangan manusia, kita tidak mampu memenuhi permintaan-permintaan hukum Taurat. Sepanjang sejarah, hanya satu Persona Tuhan Yesus yang telah memelihara hukum Taurat. Permintaan hukum Taurat terlampau berat untuk kita penuhi. Jika kita mencoba memelihara hukum Taurat, kita akan berada di bawah gandar (kuk) hukum Taurat. Dalam Kisah Para Rasul 15:10 Petrus berkata, “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” Perhambaan di bawah hukum Taurat itulah gandar yang dikatakan oleh ayat ini.
Diperhamba di bawah hukum Taurat juga berarti tanpa kepuasan. Di bawah hukum Taurat tidak ada kepuasan karena tidak ada suplai. Hukum Taurat hanya meminta kepada manusia, namun tidak memberi manusia suplai untuk memenuhi permintaannya.
Tambahan pula, diperhamba di bawah hukum Taurat akan membuat kita tidak mungkin berada dalam perhentian. Dalam Matius 11:28 Tuhan Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian) kepadamu.” Janji ini terutama ditujukan kepada mereka yang berusaha memelihara hukum Taurat. Ini khususnya ditujukan kepada jerih payah dalam memelihara perintah-perintah hukum Taurat dan peraturan-peraturan agama. Mendapat kelegaan atau perhentian di sini berarti dibebaskan dari kerja keras dan beban berat di bawah hukum Taurat dan agama. Dalam membuat deklarasi ini Tuhan Yesus seolah-olah berkata, “Marilah kepadaKu, semua yang berbeban berat di bawah hukum Taurat, Aku akan membebaskan kamu. Aku akan membebaskan kamu dari gandar hukum Taurat itu. Di bawah hukum Taurat, kamu tidak memiliki perhentian. Perhentian yang sesungguhnya ada di dalam-Ku.”
Pada akhirnya diperhamba di bawah hukum Taurat akan kehilangan kenikmatan atas Kristus. Orang-orang yang menempatkan diri mereka di bawah kewajiban melakukan hukum Taurat akan kehilangan kepuasan, perhentian, atau kenikmatan.
Jika kita merenungkan perbandingan antara kebebasan di dalam Kristus dengan perhambaan di bawah hukum Taurat, kita akan penuh dengan pujian kepada Tuhan. Di dalam Kristus kita telah dibebaskan dari segala macam kewajiban. Di dalam Dia kita pun memiliki kepuasan, perhentian, dan kenikmatan. Kebebasan di dalam Kristus ini berlawanan dengan perhambaan di bawah hukum Taurat. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita memiliki kebebasan, kepuasan, dan perhentian, kenikmatan yang demikian.
Mengenai kebenaran Perjanjian Baru, Kitab Galatia lebih mendasar daripada Kitab Kolose. Kitab Kolose membicarakan pengalaman orang Kristen, sedang Kitab Galatia membicarakan kebenaran asasi Perjanjian Baru. Kitab Galatia malah lebih mendasar daripada Kitab Roma. Kitab Galatia merupakan kitab yang paling mendasar mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kitab ini sangat unik dalam wahyunya tentang ekonomi Allah.
Perhambaan di bawah hukum Taurat yang dibicarakan dalam Kitab Galatia berbeda dengan perbudakan umat Israel di bawah kekuasaan Firaun. Kedua macam perhambaan tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Mesir itu milik Iblis, sedang hukum Taurat bersifat rohani dan diberikan oleh Allah. Memahami hal ini akan membantu kita untuk beroleh kesan terhadap fakta bahwa tidak ada kitab lain dalam Perjanjian Baru yang menampilkan kebenaran yang mendasar sejelas Kitab Galatia.
I. PERHAMBAAN DI BAWAH HUKUM TAURAT
A. Hukum Taurat Dilambangkan oleh Hagar,
Tidak Memiliki Kedudukan
dalam Janji dan Anugerah Allah
Kita perlu melihat lebih lanjut tentang perhambaan di bawah hukum Taurat. Hukum Taurat dilambangkan oleh Hagar, gundik Abraham, yang tidak mempunyai kedudukan yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam janji dan anugerah Allah, hukum Taurat tidak memiliki kedudukan (4:24-25). Selaku istri Abraham, Sara mempunyai kedudukan yang tepat dalam janji dan anugerah Allah. Istri ini bahkan dapat meminta Abraham mengusir budak perempuan itu serta anaknya. Hal ini memperlihatkan betapa hukum Taurat yang dilambangkan oleh Hagar tidak memiliki kedudukan dalam janji dan anugerah Allah.
Orang-orang golongan Advent Hari Ketujuh perlu mendengarkan perkataan ini. Dalam hal melakukan kewajiban memelihara hari Sabat, mereka telah menempatkan diri mereka pada posisi seorang gundik. Tatkala mereka berbuat demikian, mereka kehilangan kedudukan dalam anugerah Allah.
B. Hukum Taurat Tidak Dapat Memberikan Hayat
Dalam 3:21 Paulus berbicara seperti seorang ahli debat yang trampil, ia berkata, “Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan (memberikan hayat), maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.” Karena hukum Taurat tersusun dari huruf-huruf mati, ia tidak dapat memberikan hayat.
Karena hukum Taurat tidak dapat memberikan hayat, maka hukum Taurat tidak dapat melahirkan anak-anak; ia hanya dapat melahirkan budak-budak. Ismael bukanlah anak Abraham yang seharusnya, melainkan budak. Hagar tidak dapat melahirkan seorang anak sebagai ahli waris Abraham. Karena ibu Ismael adalah seorang budak perempuan, maka Ismael pun seorang budak. Semua orang yang berusaha memelihara hukum Taurat, adalah Ismael-Ismael hari ini yang dilahirkan oleh Hagar.
C. Budak-budak di Bawah Hukum Taurat Berupaya Memelihara Hukum Taurat dengan Daging
Orang-orang yang berupaya memelihara hukum Taurat melakukannya bukan dengan Roh itu, melainkan dengan daging mereka. Karena alasan inilah mereka tidak dapat mengambil bagian dalam janji Allah dan tidak memiliki kenikmatan hayat dalam anugerah oleh Roh itu (3:3). Hayat, anugerah, dan Roh itu tidak ada sangkut pautnya dengan pemeliharaan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak memiliki hayat, tidak dapat memberikan anugerah, dan tidak bersandar kepada Roh itu. Jadi, bila kita memelihara hukum Taurat, kita tidak memiliki hayat, anugerah, dan Roh itu. Sebaliknya, kita hanya memiliki usaha atau pergumulan di dalam daging.
II. KEBEBASAN DI DALAM KRISTUS
A. Kristus, sebagai Roh Pemberi-Hayat,
Menyalurkan Hayat melalui Anugerah
Bila kita membicarakan masalah kebebasan di dalam Kristus, kita perlu melihat bahwa Kristus sebagai Roh pemberi hayat menyalurkan hayat melalui anugerah. Anugerah ini dilambangkan oleh Sara, perempuan merdeka itu (4:31). Seperti telah berkali-kali kita tunjukkan, anugerah adalah Allah yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita. Dalam 1:15 Paulus berkata bahwa Allah memanggil dia dengan anugerah-Nya. Ini menunjukkan bahwa tatkala Allah memanggil kita, Ia memanggil kita dengan diri-Nya sendiri sebagai Persona yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita. Kristus sebagai Roh pemberi hayat menyalurkan hayat ke dalam kita melalui Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita.
Kebanyakan orang Kristen menganggap anugerah sebagai kebaikan yang tak layak diperoleh. Menurut konsepsi ini, menerima sesuatu dari Tuhan yang sebenarnya tak patut diterima itu berarti menerima anugerah. Banyak orang Kristen mengira bahwa pengalaman atas anugerah khususnya berkaitan dengan menerima berkat-berkat yang bendawi. Pengertian tentang anugerah sedemikian benar-benar sangat tidak memadai. Dalam Yohanes 1:14 dikatakan, tatkala Firman (Kristus) menjadi daging dan berkemah di antara kita, Ia penuh dengan anugerah. Ini pasti tidak berarti Firman yang menjadi daging itu penuh dengan berkat-berkat material. Selain itu, dalam Yohanes 1:16 dikatakan bahwa dari kepenuhan-Nya kita telah menerima anugerah demi anugerah. Ini pasti bukan ditujukan kepada menerima berkat material demi berkat material. Anugerah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru adalah Allah yang berinkarnasi yang mendatangi kita sebagai kenikmatan kita.
Dalam 1Korintus 15:10 Paulus berkata bahwa ia bekerja lebih keras daripada orang lain. Dalam ayat itu ia juga berkata bahwa bukan dia yang bekerja keras melainkan anugerah Allah yang ada dalam dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa anugerah yang menyertai Paulus sebe-narnya adalah Allah itu sendiri. Kristus menyalurkan hayat ke dalam diri kita melalui Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai kenikmatan kita. Inilah anugerah.
Anugerah dilambangkan oleh Sara, yang juga melambangkan janji Allah. Seperti telah kita tunjukkan, Hagar, si gundik itu melambangkan hukum Taurat. Ketika kita tiba pada pasal 4, kita akan nampak bahwa perempuan-perempuan tersebut merupakan kiasan-kiasan yang menandakan dua perjanjian yang melahirkan dua anak. Anugerah yang dilambangkan oleh Sara adalah perantara yang dipakai oleh Kristus untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat. Ini mutlak berbeda dengan hukum Taurat.
B. Hayat yang Disalurkan Kristus Melahirkan Anak-anak seperti Ishak, untuk Mewarisi Janji Allah
Hayat yang disalurkan oleh Kristus melahirkan anak-anak seperti Ishak, anak-anak dari perempuan merdeka, yang mewarisi janji Allah (4:28, 30-31). Tatkala kita menerima Kristus sebagai hayat, kita menjadi anak-anak Allah untuk mewarisi berkat yang dijanjikan Allah bagi penggenapan kehendak-Nya.
C. Anak-anak Perjanjian Mengambil Bagian dalam Anugerah Hayat Allah, Menikmati Kebebasan Hayat
Selaku anak-anak perjanjian, kita mengambil bagian dalam anugerah hayat Allah dan karenanya kita menikmati kebebasan hayat (5:1). Ini berarti kita memiliki kebebasan dari kewajiban hukum Taurat, dan kita memiliki kepuasan, perhentian, dan kenikmatan atas Kristus. Ini adalah kebebasan yang berlawanan dengan perhambaan di bawah hukum Taurat.
Galatia 2:4 mengemukakan perbandingan yang mendasar antara kebebasan di dalam Kristus dengan perhambaan di bawah hukum Taurat. Ini menunjukkan fakta bahwa Kitab Galatia memberi kita banyak kebenaran dan prinsip yang mendasar, agar kita mengenal ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan tepat. Berita-berita mengenai Kitab Galatia ini seharusnya membantu kita semua dalam mengenal ekonomi Allah secara mendasar.
Sangat penting bagi kita untuk mengerti istilah-istilah, kebenaran-kebenaran, dan prinsip dasar yang terdapat dalam Kitab Galatia. Sejauh ini, kita telah membahas dua masalah pokok. Pertama ialah Putra Allah berlawanan dengan agama manusia, kedua ialah kebebasan di dalam Kristus berlawanan dengan perhambaan di bawah hukum Taurat. Kita harus mengetahui Putra Allah dan agama serta tradisi manusia. Kita pun harus mengenal perbandingan antara kebebasan di dalam Kristus dengan perhambaan di bawah hukum Taurat. Puji Tuhan karena kebebasan kita di dalam Kristus! Kita tidak berada di bawah perhambaan hukum Taurat, kita menikmati kebebasan di dalam Kristus. Kita bebas dari kewajiban, dan kita memiliki kepuasan, perhentian, dan kenikmatan di dalam Kristus.