← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 6/24

KESETIAAN PAULUS DAN KETIDAKSETIAAN PETRUS TERHADAP KEBENARAN INJIL

Pembacaan Alkitab: Gal. 2:1-14

Dalam berita-berita terdahulu telah kita tunjukkan bahwa Paulus adalah contoh kaum beriman, teristimewa kaum beriman kafir. Khususnya, pembentukan kerasulan Paulus adalah contoh pembentukan kerasulan kita hari ini. Dalam berita ini kita tiba pada Galatia 2:1-14. Ayat-ayat ini tidak saja mencatat bagaimana Paulus memelihara kebenaran, kita pun memiliki teladan Paulus yang olehnya kita dapat belajar dari dia bagaimana kita juga dapat memelihara kebenaran. Pertama-tama baiklah kita meninjau kesetiaan Paulus terhadap kebenaran Injil. Kemudian kita akan melihat ketidak setiaan Petrus.

I. KESETIAAN PAULUS

Dalam Kitab Galatia kita nampak kesetiaan, kejujuran, keterbukaan, dan keberanian Paulus. Bersamaan dengan itu, ia pun memperlihatkan satu roh yang lemah lembut. Ia menunjukkan roh seperti itu dalam 6:1, di mana ia berkata bahwa siapa yang rohani harus memulihkan orang yang kedapatan melakukan pelanggaran dalam roh lemah lembut. Ketika menulis Surat Kiriman ini, Paulus berusaha memulihkan kaum beriman Galatia yang takluk oleh kelemahan mereka. Sudah tentu para penganut agama Yahudi dengan licik menunggangi kelemahan kaum beriman Galatia. Karena itu, Paulus menggunakan roh yang lemah lembut untuk memulihkan orang-orang yang telah melakukan pelanggaran. Di satu pihak ia sangat berani, di pihak lain ia sangat lemah lembut dalam roh. Dalam hal ini kita semua harus belajar kepada Paulus.

Sepanjang tahun-tahun ini, baik di Timur Jauh maupun di Barat, saya mengetahui banyak orang yang dianggap lemah lembut, tetapi sebetulnya mereka hanya bermain politik. Kelemahlembutan Paulus tentu tidak demikian. Sebagai contoh, dalam 2:4 ia mengatakan tentang “Saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus.” Dalam membuat pernyataan ini, Paulus pasti tidak bermain politik. Istilah-istilah yang ia pilih menampakkan keberanian dan keterusterangannya.

Para pemuka dalam gereja harus belajar menjadi orang jujur, setia, terus terang, dan berani, namun, di dalam semua itu mereka harus lemah lembut. Jangan sekali-kali bermain politik. Akan tetapi, jika kita kekurangan anugerah (kasih karunia) dan hikmat dalam menangani situasi khusus, kita harus diam tenang. Namun kita tidak boleh bermain politik.

Dalam menanggulangi masalah di Galatia, Paulus menghadapi situasi yang serius dan sangat sulit. Dalam 4:20 ia berkata bahwa ia telah habis akal terhadap orang-orang Galatia. Ia dibuat bingung, tidak tahu entah harus bagaimana menanggulangi kaum beriman yang telah menyimpang itu. Tetapi, walaupun Paulus sangat bingung, ia tidak bermain politik. Sebailknya, ia tetap terus terang, jujur, dan berani.

Bermain politik merupakan suatu bentuk dusta. Dalam pandangan Allah, politik lebih jahat daripada dusta yang terus terang. Inilah alasan begitu jahat dan menyedihkannya situasi politik internasional dalam pandangan Allah. Banyak diplomat dan duta besar adalah ahli dalam berdusta secara licik. Bahkan ada beberapa yang memang telah dilatih berperilaku demikian. Gereja sepenuhnya merupakan lingkungan yang berbeda, kerajaan yang berbeda. Dalam alam lingkungan ini, alam lingkungan Kerajaan Surga, tidak seharusnya ada dusta macam apa pun dan permainan politik macam apa pun. Dalam Yohanes 8:44 Tuhan Yesus berkata bahwa Iblis (Satan), adalah bapa segala dusta. Karena bermain politik lebih buruk daripada dusta, maka bermain politik pasti berasal dari Iblis, bapa segala dusta. Karena bermain politik begitu jahat dan jahanam, maka perundingan-perundingan sama sekali tidak dapat mendatangkan perdamaian di antara bangsa-bangsa. Mana mungkin ada perdamaian di antara bangsa-bangsa bila para wakil dari bangsa-bangsa itu berdusta dan bermain politik? Dalam gereja, kedutaan besar Kerajaan Surga di bumi tidak seharusnya ada permainan politik.

Paulus, satu contoh yang baik dari seorang duta besar surga, tidak bermain politik dalam menanggulangi orang-orang Galatia. Ia menyatakan kebenaran secara terus terang. Mungkin Anda merasa ia terlampau terus terang. Siapakah yang bisa memakai istilah “saudara-saudara palsu”? Beranikah Anda menyebut seseorang sebagai saudara palsu? Dapatkah Anda menulis surat dengan mengatakan saudara-saudara palsu masuk dengan menyelundup untuk menghadang kebebasan kita di dalam Kristus Yesus? Boleh jadi tidak ada seorang pun di antara kita yang berani seperti Paulus begitu terus terang. Setelah itu, dalam 3:1 ia menyebut kaum beriman itu “orang-orang Galatia yang bodoh.” Betapa berani, jujur, dan sejatinya Paulus! Kaum beriman Galatia yang beralih dari Kristus kepada hukum Taurat memang bodoh sekali. Mereka sungguh bodoh karena mereka mengikuti para penganut agama Yahudi. Karena itu, Paulus menyebut mereka dengan berani dan terus terang. Marilah kita belajar dari dia, untuk menjadi orang yang setia dan berani, juga tidak bermain politik. Jika kita kekurangan anugerah dan hikmat, kita harus tenang. Tetapi jika kita berbicara tentang situasi khusus, janganlah kita bermain politik.

A. Pergi ke Yerusalem Berdasarkan Wahyu

Dalam 2:1-2 Paulus berkata, “Empat belas tahun kemudian, aku pergi lagi ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu penyataan Allah.” Seperti tercatat dalam Kisah Para Rasul 15, ini terjadi setelah sejumlah gereja didirikan di wilayah orang kafir melalui ministri Paulus (lihat Kis. 13 dan 14). Ini menunjukkan, pengabaran Injil Paulus untuk mendirikan gereja-gereja di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak ada hubungannya dengan kaum beriman di Yerusalem dan Yudea.

Dalam 1:18 Paulus berkata bahwa kepergiannya ke Yerusalem adalah untuk mengunjungi Kefas. Dalam 2:1-2 kita lihat setelah lewat 14 tahun ia pergi lagi ke Yerusalem berdasarkan wahyu. Bukan hanya Injil Paulus, bahkan kepergiannya ke Yerusalem pun dilakukan menurut wahyu Tuhan, bukan menurut organisasi atau sistem apa pun. Pergerakan dan kegiatan Paulus adalah menurut pimpinan Tuhan saat itu. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa pemberitaan Injilnya bukan menurut pengajaran manusia, tetapi menurut wahyu Tuhan secara langsung.

Dari pengalaman kepergian Paulus ke Yerusalem 14 tahun kemudian yang berdasarkan wahyu ini, kita tahu bahwa kerap kali tidak pergi ke suatu tempat lebih sukar daripada pergi ke tempat itu. Sebagai contoh, bagi saya membuat keputusan untuk terbang ke London adalah hal yang mudah, tetapi untuk menahan diri tidak berbuat demikian selama 14 tahun mungkin tidak mudah; hal ini mengharuskan saya mengekang diri. Karena Paulus menerima kekangan, ia tidak pergi ke Yerusalem tanpa wahyu. Namun, pada saat tertentu, berdasarkan wahyu, ia pergi ke Yerusalem bersama Barnabas dan Titus.

Kunjungan Paulus ke Yerusalem mengacu kepada waktu yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15. Para penganut agama Yahudi menyuruh kaum beriman kafir menyunat diri mereka jika mereka ingin beroleh selamat, hal itu menimbulkan banyak keresahan. Mereka membuat sunat sebagai suatu syarat bagi keselamatan Allah yang kekal. Akibat dari hal itu sangatlah serius. Menurut wahyu, Paulus pergi ke Yerusalem untuk menanggulangi sumber masalah itu. Paulus ke Yerusalem bukan untuk menerima wahyu atau mempelajari ajaran baru. Sebaliknya, ia pergi ke sana berdasarkan wahyu untuk menanggulangi sumber masalah yang serius itu.

Dalam hal ini pun Paulus menjadi teladan kita. Kita harus belajar dari teladannya, yakni tidak pergi ke mana pun atau mengambil tindakan apa pun dengan sembarangan. Sebaliknya, kita harus terkendali oleh Roh itu dalam roh kita. Kapan saja kita pergi ke suatu tempat, kita harus bergerak menurut wahyu.

B. Membentangkan Injil yang Ia Beritakan

dalam Percakapan Tersendiri

kepada Orang-orang yang Terpandang

Dalam 2:2 Paulus juga berkata, “Kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.” Dalam berbuat demikian pun Paulus terkendali. Jika kita pergi ke Yerusalem dalam situasi demikian, boleh jadi kita akan pergi dengan gembar gembor. Mungkin kita akan memasang iklan, memberi tahu orang bahwa rasul orang kafir akan tiba. Inilah cara yang dipraktekkan kekristenan dewasa ini. Pemberitahuan datangnya seorang pengkhotbah atau penginjil terkenal dilakukan jauh sebelumnya agar meyakinkan dan menarik orang banyak. Cara Paulus sama sekali berbeda dengan cara kekristenan hari ini. Ia membentangkan Injilnya dalam percakapan tersendiri kepada orang-orang tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa ia pergi ke Yerusalem secara diam-diam tanpa bermaksud berbicara di hadapan khalayak ramai. Ia hanya ingin berkontak dengan para pemuka, para rasul, dan para penatua. Ini sesuai dengan catatan Kisah Para Rasul 15 yang berhubungan dengan catatan Galatia 2.

C. Titus pun Tidak Dipaksa untuk Disunatkan

Paulus berkata selanjutnya dalam ayat 3, “Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.” Ini menunjukkan bahwa dalam pergerakannya untuk kesaksian Tuhan, Paulus tidak mempedulikan pemeliharaan hukum Taurat. Paulus sengaja tidak menyuruh Titus untuk disunatkan. Tujuan Paulus ialah memelihara kebenaran. Karena di dalam Kristus praktek sunat sudah berlalu, menyunatkan orang beriman akan membuat kebenaran itu menjadi kabur. Karena itu, Paulus tidak memaksa Titus menyunatkan dirinya.

Yudaisme didirikan di atas hukum Taurat pemberian Allah dengan tiga tiangnya: sunat, hari Sabat, dan peraturan tentang makanan yang kudus. Ketiga hal itu di tetapkan oleh Allah (Kej. 17:9-14; Kel. 20:8-11; Im. 11) sebagai bayangan dari apa yang harus datang (Kol. 2:16-17). Sunat adalah bayangan penyaliban Kristus atas penanggalan tubuh dosa, seperti yang dilambangkan dengan baptisan (Kol. 2:11-12). Hari Sabat adalah lambang Kristus sebagai perhentian untuk umat-Nya (Mat. 11:28-30). Peraturan tentang makanan yang kudus melambangkan orang-orang yang tahir dan tidak tahir, yang boleh di-kontak atau yang tidak boleh dikontak oleh orang-orang kudus Allah (Kis. 10:11-16, 34-35). Begitu Kristus datang, semua bayangan itu harus berakhir. Karena itu, memelihara hari Sabat ditiadakan oleh Tuhan Yesus dalam ministri-Nya (Mat. 12:1-12); peraturan tentang makanan yang kudus dihapus oleh Roh dalam ministri Petrus (Kis. 10:9-20), dan sunat tidak terhitung dalam wahyu yang diterima Paulus dalam ministrinya (Gal. 5:6; 6:15). Lagi pula, hukum Taurat, dasar Yudaisme, telah diakhiri dan diganti oleh Kristus (Rm. 10:4; Gal. 2:16). Maka, Yudaisme secara keseluruhan telah tamat.

D. Tidak Mundur dan Tunduk kepada Saudara-saudara Palsu

Paulus menyambung dalam ayat 4-5, “Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhamba kita. Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka.” Saudara-saudara palsu adalah penganut agama Yahudi yang memutarbalik-kan Injil Kristus dengan diam-diam memasukkan pemeliharaan hukum Taurat ke dalam gereja dan menyusahkan saudara-saudara yang murni dalam Kristus (1:7). Kebebasan yang disebut Paulus di sini adalah kebebasan dari belenggu hukum Taurat. Perhambaan di sini ditujukan kepada perhambaan di bawah hukum Taurat.

Saudara-saudara palsu yang tidak ditolerir Paulus ini telah menyebarkan konsepsi bahwa kaum beriman harus disunat dulu baru dapat beroleh selamat. Paulus menentang mereka dan tidak mau mundur sesaat pun. Ia tidak mau tunduk kepada mereka yang berusaha merusak kebebasan kita dalam Kristus dan membawa kita ke dalam perhambaan. Bebas di dalam Kristus berarti menikmati kemerdekaan dari belenggu hukum Taurat berikut tuntutan sunatnya. Semua orang beriman sekarang telah bebas dari kewajiban hukum Taurat, terutama dari kewajiban bersunat. Demi mempertahankan kebebasan ini, Paulus menolak disunatkannya Titus atau mundur dan tunduk kepada para penganut agama Yahudi.

E. Mempertahankan Kebenaran Injil

Paulus menolak untuk mundur dan tunduk kepada saudara-saudara palsu itu agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kaum beriman. Semua yang dilakukan Paulus itu, dilakukannya demi kaum beriman, agar kebenaran Injil tetap jelas bagi mereka.

F. Tidak Menerima Apa-apa dari Mereka yang Terpandang

Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Mengenai mereka yang dianggap terpandang itu bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.” Di sini kita nampak Paulus tidak menerima apa-apa dari mereka yang dianggap terpandang. Petrus, Yohanes, dan Yakobus tidak mengajarkan apa-apa kepada Paulus. Sebaliknya Paulus mempunyai banyak ajaran yang dapat diajarkan kepada mereka. Dalam kitab Perjanjian Baru, tulisan Paulus lebih banyak daripada tulisan siapa pun. Dalam Surat Kirimannya yang kedua, Petrus bahkan mengakui bahwa “dalam surat-suratnya (Paulus) itu ada hal-hal yang sukar dipahami.” (2 Ptr. 3:16).

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Surat-surat Kiriman Paulus, ia telah membicarakan sejumlah hal besar yang tidak terdapat di tempat lain. Sebagai contoh, Paulus membicarakan manusia baru, sesuatu yang tidak terdapat bahkan dalam kitab-kitab Injil. Tambahan pula, dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus menampilkan satu analisis yang mendalam tentang manusia kita yang dilahirkan kembali. Ia melukiskan roh kita yang dilahirkan kembali, hati kita yang diperbarui, jiwa kita yang diubah, pikiran kita yang diperbarui, dan keadaan tubuh jasmani kita. Petrus dan Yohanes tidak pernah membicarakan hal-hal tersebut sedemikian jelasnya. Bayangkanlah lukisan yang diberikan Paulus dalam Roma 8. Betapa indahnya pemandangan yang kita lihat dalam pasal itu tentang manusia kita yang telah dilahirkan kembali! Menurut pasal itu seorang manusia yang dilahirkan kembali berarti sifat insaninya berbaur dengan sifat ilahi. Itu berarti unsur sifat ilahi telah ditambahkan ke dalam sifat insani. Tidak ada penulis kitab Perjanjian Baru lain yang menyajikan hal tersebut seperti yang dilakukan Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada kaum beriman lainnya. Tetapi walaupun Paulus mengetahui dan memiliki lebih banyak daripada orang lain, ia tidak sombong.

Yerusalem kekurangan suatu suasana yang memadai bagi Paulus untuk menyatakan apa yang ada dalam batinnya. Dari pembacaan yang cermat atas Kisah Para Rasul 15 kita dapat memahami betapa di Yerusalem terdapat suasana saling mengungguli. Paling tidak para rasul di sana menganggap diri mereka lebih tinggi daripada Paulus dan Barnabas. Paulus dan Barnabas adalah rasul untuk orang-orang yang tidak bersunat, untuk orang-orang kafir, sedang mereka yang di Yerusalem untuk orang-orang yang bersunat. Namun, secara rohani, Paulus lebih tinggi daripada Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Sikap saling mengungguli yang menonjol di Yerusalem itu merupakan satu faktor diruntuhkannya kota itu pada tahun 70 sesudah Masehi, kira-kira lima belas tahun setelah Paulus pergi ke Yerusalem seperti yang tercatat dalam Galatia 2.

Paulus telah nampak lebih banyak daripada Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka telah melihat Tuhan dalam daging dan mengenal Dia menurut daging. Tetapi Paulus mengenal Dia secara rohani. Dalam 2Korintus 5:16 Paulus berkata, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia (daging). Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia (daging), sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Kita harus berusaha mengenal Kristus menurut roh, bukan menurut daging. Karena Paulus mengenal Kristus dalam roh, maka ia telah nampak lebih banyak daripada Petrus, Yohanes, dan Yakobus.

Ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak boleh mengandalkan usia atau senioritas kita. Memang Petrus, Yohanes, dan Yakobus lebih tua daripada Paulus, dan telah menjadi rasul ketika Paulus masih muda dan masih menganiaya para pengikut Tuhan Yesus. Tetapi, setelah ia bertobat, pengenalan Paulus terhadap Kristus dan ekonomi Allah lebih banyak daripada siapa pun. Kitab Roma misalnya, menunjukkan betapa dalamnya pengetahuan Paulus. Paulus benar-benar mempunyai banyak hal yang dapat diajarkan kepada mereka yang di Yerusalem. Namun suasana di sana tidak mendukungnya berbuat demikian. Karena itu, ia tidak mengajarkan apa-apa kepada mereka; tetapi ia pun tidak menerima apa-apa dari mereka yang terpandang itu.

G. Telah Dipercayakan Pemberitaan Injil untuk Orang-orang Tak Bersunat

Berdasarkan ayat 7, mereka yang di Yerusalem mengetahui bahwa Paulus telah “dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat.” Tuhan telah mempercayakan kepada Paulus pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, hal ini sudah jelas. Walau dalam hal ini Paulus sangat terus terang, jujur, setia, dan berani, namun ia tidak sombong. Sebaliknya, ia hanya mengetahui bahwa Persona yang bekerja di dalam Petrus untuk ke-rasulan orang-orang bersunat, bekerja pula di dalam diri-nya untuk bangsa-bangsa, yakni orang-orang yang tidak bersunat.

Dalam ayat 9 Paulus selanjutnya berkata, “Setelah melihat anugerah yang diberikan kepadaku, maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang dipandang sebagai tiang utama jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.” Jika para rasul didaftar, Petrus biasanya disebut pertama (Mat. 10:2; Mrk. 3:16; Luk. 6:14; Kis. 1:13). Namun, di sini Yakobus disebut lebih dulu. Ini menunjukkan bahwa pada waktu itu Petrus bukanlah pemimpin terkemuka dalam gereja, melainkan Yakobus, saudara Tuhan Yesus (Gal. 1:19). Ini dikuatkan oleh Kisah Para Rasul 15:13-21, yang menyebutkan Yakobus, bukan Petrus, yang berwenang mengambil keputusan di dalam sidang yang diadakan di Yerusalem. Ini pasti karena kelemahan Petrus yang tidak mempertahankan realitas Injil, seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam ayat 11-14, sehingga Yakobus maju ke depan untuk memegang pimpinan di antara para rasul. Sebab itu, baik dalam Galatia 2:12 maupun dalam Kisah Para Rasul 21:18, Yakobus dianggap sebagai wakil gereja di Yerusalem dan wakil para rasul. Ini adalah bukti kuat bahwa Petrus tidak selalu merupakan pemimpin terkemuka dalam gereja. Selain itu, ini menyiratkan bahwa kepemimpinan dalam gereja bukan sesuatu yang bersifat organisasi dan kekal, melainkan bersifat rohani dan berubah-ubah menurut keadaan rohani orang-orang yang memimpin. Hal ini dengan tegas menyangkal ajaran yang menyatakan bahwa Petrus adalah satu-satunya penerus Kristus dalam pemerintahan gereja.

H. Menentang Petrus dengan Terbuka

Karena Paulus jujur, setia, terus terang, dan berani, maka ia menentang Petrus dengan terbuka ketika Petrus tidak setia kepada kebenaran Injil. Dalam 2:11 Paulus berkata, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku dengan terang-terangan menentangnya, sebab ia salah.” Seperti kita nampak kemudian, Petrus tidak setia kepada visi yang telah ia terima mengenai orang kafir. Ketika ia di Antiokhia, ia tidak saja bermain politik, tetapi juga bertindak munafik. Karena alasan inilah maka Paulus menentangnya.

II. KETIDAKSETIAAN PETRUS

Dalam 2:11-14, sikap Petrus yang tidak setia kepada kebenaran Injil terungkap. Dengan membahas hal ini, kita tidak bermaksud memihak Paulus untuk melawan Petrus; kita hanya membicarakan fakta.

A. Makan Bersama Orang-orang yang Tidak Bersunat

Kali pertama saya membaca ayat-ayat ini, saya terkejut. Saya hampir-hampir tidak percaya apa yang saya baca. Tetapi karena ayat-ayat tersebut ditulis oleh Paulus, itu pasti benar. Saya sukar percaya bahwa orang yang telah mengikuti Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun dan telah nampak visi dalam Kisah Para Rasul 10 tentang penanggalan peraturan makanan dalam Kitab Imamat, bisa melakukan kemunafikan yang sedemikian. Namun, Petrus di Antiokhia benar-benar telah melakukan itu. Tidaklah heran kalau ia kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin. Ia kehilangan kualifikasi sebab ia tidak setia terhadap visi yang ia lihat. Ia tidak memelihara kebenaran sesuai dengan visi yang ia terima dari Tuhan.

Dalam 2:12 tercatat, sebelum orang-orang tertentu datang dari kalangan Yakobus, Petrus makan bersama orang-orang kafir. Hal ini berlawanan dengan kebiasaan orang Yahudi dalam memelihara peraturan hukum Taurat mereka. Jika makan bersama orang-orang kafir itu salah, Petrus tidak boleh melakukan hal itu. Karena ia makan bersama mereka, maka ia seolah-olah membuktikan hal itu benar dan boleh dilakukan.

B. Mengundurkan Diri dan Memisahkan Diri, Takut akan Mereka yang Bersunat

Sewaktu orang-orang tertentu dari kalangan Yakobus datang, Petrus “mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut terhadap saudara-saudara yang bersunat.” Frase “dari kalangan Yakobus” ialah dari gereja di Yerusalem. Ini adalah petunjuk lain bahwa pada waktu itu Yakobus, bukan Petrus, yang menjadi orang pertama di antara para rasul di Yerusalem. Kenyataan Petrus mengundurkan diri membuktikan bahwa pada saat itu Petrus sangat lemah dalam iman kristiani yang murni. Dalam Kisah Para Rasul 10 ia telah menerima visi yang sangat jelas dari surga mengenai persekutuan dengan bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan ia memimpin untuk memprak-tekkannya. Betapa lemah dan tercela perbuatannya yang mengundurkan diri dan tidak mau makan bersama orang beriman bukan Yahudi karena takut terhadap orang yang bersunat! Tidak heran, jika ia kehilangan kepemimpinan di antara para rasul.

Dalam ayat 12 Paulus khusus menunjukkan bahwa Petrus takut kepada orang-orang yang bersunat. Hal ini menunjukkan bahwa di Yerusalem terdapat suatu suasana yang condong sekali kepada peraturan bersunat. Mungkin semua orang beriman Yahudi di Yerusalem, termasuk Petrus, masih menyukai praktek tersebut.

C. Orang-orang Yahudi yang Lain pun

Turut Berlaku Munafik dengan Dia

Dalam ayat 13 Paulus berkata, “Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia.” Jika orang yang memimpin mundur, yang lainnya mudah mengikuti. Petrus, rasul yang terkemuka, munafik dalam masalah realitas Injil. Ini hampir tidak dapat dipercaya.

Dalam Perjanjian Baru setidaknya tercatat dua kali Petrus mengepalai secara negatif dan diikuti oleh orang lain. Dalam Yohanes 21 Petrus mengepalai mengajak orang-orang menangkap ikan, ia diikuti oleh beberapa murid lain. Di sini, dalam Galatia 2, Petrus berlaku munafik, dan orang lain pun mengikutinya.

D. Barnabas Sendiri Turut Terseret oleh Kemunafikan Mereka

Paulus menegaskan, bahkan Barnabas pun turut terseret oleh kemunafikan mereka. Barnabas mengambil bagian dalam perjalanan ministri Paulus kali pertama untuk mengabarkan Injil kepada orang kafir dan untuk mendirikan gereja-gereja orang kafir. Bahkan orang yang tidak memiliki banyak persekutuan dengan kaum beriman kafir turut terseret oleh kemunafikan Petrus. Betapa hebatnya pengaruh negatif Petrus terhadap orang lain! Sudah sepantasnya ia kehilangan kepemimpinannya.

Kendatipun di sana berlaku suasana yang menyetujui sunat, Petrus tidak seharusnya tunduk. Tuhan telah memperlihatkan suatu visi yang berkesan kepadanya, seharusnya ia tidak melupakannya. Namun demikian, walau ia tidak melupakan visi tersebut, ia bertindak munafik dalam hal makan bersama orang-orang kafir.

E. Tidak Sesuai dengan Kebenaran Injil

Karena Petrus dan orang-orang lainnya berlaku munafik, maka Paulus menegurnya, karena “kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil” (ayat 14). Petrus benar-benar salah, dan Paulus berterus-terang menegurnya. Ia tidak dapat membiarkan kebenaran Injil yang jelas ini dirusak orang. Boleh jadi Paulus adalah satu-satunya orang yang berani menegur rasul terkemuka seperti Petrus. Syukur kepada Tuhan karena kesetiaan Paulus. Andaikata ia tidak setia di Antiokhia pada waktu itu, kebenaran Injil mungkin akan menjadi kabur.

F. Memaksa Orang-orang Kafir

Hidup seperti Orang Yahudi

Paulus berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup seperti orang bukan Yahudi dan tidak seperti orang Yahudi, bagaimana engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak ber-sunat untuk hidup seperti orang Yahudi?” Hidup secara kafir berarti makan, tinggal, dan bersekutu dengan orang bukan Yahudi. Hidup seperti orang Yahudi atau meyahu-dikan diri sendiri berarti tidak makan atau bersekutu dengan orang bukan Yahudi.

Kita bersyukur kepada Tuhan, melalui kesetiaan Paulus kebenaran Injil telah dipertahankan. Hari ini telah jelas menurut Perjanjian Baru bahwa dalam Kristus tidak ada lagi sunat. Kita telah dibebaskan dari perhambaan di bawah hukum dan belenggu sunat. Kita tidak perlu lagi memelihara hukum Taurat atau disunat. Sebaliknya, kita hanya perlu beriman di dalam Kristus. Karena kesetiaan dan keberanian Paulus, kebenaran Injil ini terpelihara dan tetap tinggal jelas bagi kita sampai hari ini. Kita bersyukur kepada Tuhan atas hal ini.