← Daftar isi Latar Belakang dan Subyek Kitab ini · bab 11/24

TIDAK MENIADAKAN ANUGERAH ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Gal. 2:21, 16, 20a; 3:3; 4:21; 5:2, 4, 16, 24-25; Yoh. 1:17; 6:57b; 15:4-5;

1Kor. 6:17; 15:45b; 2Kor. 3:17; Rm. 5:17-18, 21; 1Tim. 1:14

Dalam Galatia 2:21 Paulus berkata, “Aku tidak menolak (meniadakan) anugerah Allah.” Jika kita memperhatikan ayat ini dalam konteksnya, kita nampak bahwa meniadakan anugerah (kasih karunia) Allah berarti dalam pengalaman kita, kita tidak membiarkan Kristus hidup di dalam kita. Dalam ayat 20 Paulus berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kemudian ia berkata bahwa ia tidak meniadakan anugerah Allah. Ini merupakan satu petunjuk yang kuat bahwa bagi kita, kaum beriman, meniadakan anugerah Allah berarti menyangkal Kristus, dan tidak memberikan kesempatan kepada-Nya untuk hidup di dalam kita. Anugerah Allah justru adalah Kristus yang hidup itu sendiri. Membiarkan Kristus hidup di dalam kita berarti menikmati anugerah Allah. Tetapi tidak membiarkan Dia hidup di dalam kita berarti meniadakan anugerah Allah.

ANUGERAH DALAM PERJANJIAN BARU

Kita perlu menemukan makna anugerah Allah yang sejati dan tepat dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama sebenarnya tidak pernah disebutkan anugerah Allah. Kata anugerah yang dipakai dalam Perjanjian Lama berarti kemurahan. Yohanes 1:17 memberi tahu kita bahwa anugerah datang oleh Yesus Kristus. Sebelum inkarnasi Anak Allah, anugerah belum datang. Anugerah datang pada waktu Tuhan Yesus datang. Sebelum masa itu, hukum Taurat diberikan melalui Musa. Janji tentang anugerah telah dibuat juga untuk Abraham, itu pun diberikan sebelum ada hukum Taurat. Pertama-tama, Allah memberikan janji anugerah kepada Abraham. Lalu, 430 tahun kemudian, hukum Taurat diberikan di atas gunung Sinai melalui Musa. Kira-kira 1.500 tahun kemudian, barulah anugerah datang bersama Yesus Kristus, Putra Allah yang berinkarnasi.

Berdasarkan Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang pada mulanya ada bersama Allah dan yang adalah Allah telah menjadi daging dan berkemah di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran. Ayat 16 mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Karena anugerah datang bersama Yesus Kristus, maka pada masa Perjanjian Lama anugerah belum ada.

Sekarang kita harus memaparkan definisi anugerah. Anugerah adalah Allah dalam Trinitas-Nya melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan untuk menjadi segala sesuatu bagi kita. Sesudah mengalami proses yang begitu panjang, Allah Tritunggal telah menjadi segala sesuatu bagi kita. Dia adalah penebusan, keselamatan, hayat, dan pengudusan kita. Setelah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, maka Allah Tritunggal itu sendiri menjadi anugerah kita

LEBIH BESAR DARIPADA HUKUM TAURAT

Jika kita ingin mengerti anugerah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, kita perlu suatu pandangan yang jelas dan menyeluruh terhadap Perjanjian Baru itu sendiri. Anugerah adalah satu hal yang memiliki makna yang hebat. Pemberian hukum Taurat melalui Musa merupakan peristiwa besar bagi bangsa Yahudi. Fakta datangnya anugerah dibandingkan dengan pemberian hukum Taurat menunjukkan bahwa anugerah lebih besar daripada hukum Taurat. Sejauh yang menyangkut bangsa Yahudi, selain Allah, tidak ada apa pun yang lebih besar daripada hukum Taurat. Tetapi Yohanes 1:17 menunjukkan bahwa anugerah lebih besar daripada hukum Taurat. Hukum Taurat adalah sesuatu yang diberikan, namun anugerah adalah sesuatu yang datang.

ANAK ALLAH HIDUP DI DALAM KITA

Menurut konsepsi kebanyakan orang Kristen, anugerah Allah terutama adalah perihal berkat material. Pada akhir tahun, sebagian orang Kristen berhimpun bersama dan menghitung-hitung berkat yang telah Allah berikan kepada mereka dalam setahun itu, dan mereka berterima kasih kepada-Nya atas anugerah-Nya yang besar yang telah memberikan berkat-berkat tersebut. Kemudian, mereka bersyukur lagi kepada Tuhan atas hal-hal seperti sebuah rumah yang besar dan pakaian yang baru. Konsepsi tentang anugerah yang sedemikian sungguh terlalu picik! Rasul Paulus menganggap hal-hal itu seperti sampah, itu bukanlah anugerah.

Kita telah menunjukkan bahwa menurut Yohanes 1:17, anugerah lebih besar daripada hukum Taurat. Sesungguhnya, Allah memang lebih besar daripada hukum Taurat. Namun, jika Allah tetap obyektif terhadap kita, maka dalam pengalaman kita Ia tidaklah lebih besar daripada hukum Taurat. Agar Ia bisa menjadi lebih besar daripada hukum Taurat bagi kita, maka Allah Tritunggal harus subyektif. Jadi, dalam Perjanjian Baru, anugerah menunjukkan Allah Tritunggal yang melalui proses menjadi segala sesuatu kita dan hidup di dalam kita. Tidak ada apa pun yang dapat mengungguli Roh pemberi hayat almuhit dan yang melalui proses, yang tinggal di dalam kita ini.

Kita pun telah menunjukkan bahwa dalam Galatia 2:20 Paulus berkata bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus dan Kristus hidup di dalam dia. Lalu dalam ayat 21 ia berkata lagi bahwa ia tidak meniadakan anugerah Allah. Ini menunjukkan bahwa anugerah Allah adalah Putra Allah yang hidup di dalam kita. Sudah tentu ini jauh lebih besar daripada hukum Taurat. Putra Allah berinkarnasi tidak saja untuk hidup di bumi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, Dia pun datang untuk hidup di dalam kita. Inilah anugerah.

Berbalik kembali ke hukum Taurat berarti menolak anugerah. Itu berarti menolak Putra Allah yang kini hidup di dalam kita, dan berarti meniadakan anugerah Allah. Tetapi, jika kita tetap di dalam Kristus, menikmati Dia sebagai segala sesuatu bagi kita, kita tidak meniadakan anugerah Allah.

Semua Surat Kiriman Paulus berawal dan berakhir dengan perkataan tentang anugerah. Demikian pula Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 1:4 Yohanes menulis surat kepada ketujuh gereja di Asia, “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu dari Dia”; dan dalam 22:21 ia menutup dengan kalimat, “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian.” Paulus mengakhiri Kitab Galatia dengan perkataan, “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara.” Jika anugerah merupakan masalah berkat material, mana mungkin anugerah menyertai roh kita? Anugerah bukanlah yang jasmani atau material, melainkan yang ilahi dan rohani. Seperti yang telah kita tunjukkan, anugerah pada hakekatnya adalah Allah sendiri menjadi segala sesuatu kita bagi kenikmatan kita secara subyektif. Saya harap semua orang kudus dapat memahami definisi anugerah ini dengan jelas.

APA YANG TELAH DILAKUKAN ANUGERAH BAGI KITA

Sekarang marilah kita meninjau apa yang telah dan akan dilakukan anugerah bagi kita berdasarkan Perjanjian Baru. Walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah untuk mengekspresikan Dia dan mewakili Dia, namun manusia telah jatuh. Manusia yang jatuh tidak saja telah melakukan sesuatu yang keliru dari luar, tetapi juga telah terinjeksi oleh sifat dosa ke dalam dirinya. Jadi, secara lahiriah kita berdosa, dan secara batiniah kita jahat. Di hadapan Allah yang benar, perbuatan kita penuh dosa, dan dalam pandangan Allah yang kudus, sifat kita adalah jahat. Tambahan pula, kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap situasi kita. Bagi manusia yang telah jatuh, menuju kepada hukum Taurat dan berusaha memeliharanya dengan sekuat tenaga adalah perbuatan yang terlalu bodoh. Kalaupun kita dapat memelihara hukum Taurat, apakah yang dapat kita lakukan terhadap sifat kita yang jahat? Betapa kita harus memuji Allah karena anugerah-Nya dan karena apa yang telah Ia lakukan bagi kita! Pertama-tama, Allah Tritunggal berinkarnasi, hidup di bumi untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat Allah yang benar dan kudus. Setelah memenuhi tuntutan hukum Taurat, Ia naik ke atas salib dan mati bagi dosa-dosa kita sebagai pengganti kita. Melalui kematian-Nya, Kristus menebus kita. Karena itu, penebusan merupakan hal pertama dari apa yang telah digenapkan oleh anugerah Allah untuk kita.

Setelah menggenapkan penebusan melalui kematian-Nya, Kristus dibangkitkan dari antara orang mati untuk membebaskan hayat ilahi dari dalam diri-Nya. Dalam kebangkitan, Dia telah menjadi Roh pemberi hayat yang diterima oleh orang yang mau mengapresiasi Dia, mengasihi Dia, percaya kepada-Nya, berseru kepada-Nya, dan bertobat. Begitu orang yang berdosa berespon demikian kepada-Nya, Dia sebagai Roh pemberi hayat segera masuk ke dalam orang ini, dan melalui kelahiran kembali terlahir ke dalamnya. Bukankah ini merupakan satu aspek dari anugerah Allah? Ini adalah hal kedua dari apa yang dilakukan anugerah Allah bagi kita.

Ketiga, sejak hari kita dilahirkan kembali, Kristus tinggal di dalam roh kita untuk hidup di dalam kita, dan bersama kita. Melalui hidup di dalam kita, Kristus memungkinkan kita menempuh suatu kehidupan yang memuaskan hati Allah. Di dalam anugerah-Nya, Kristus hidup di dalam kita dan bersama kita.

Keempat, tatkala Kristus hidup di dalam kita, Dia juga menyuplaikan semua kekayaan-Nya ke dalam diri kita untuk menguduskan, mengubah, dan menjadikan kita anak-anak Allah dalam realitas dan pelaksanaannya (prakteknya). Dengan jalan inilah kita menikmati hak keputraan yang sempurna.

Kelima, dalam waktu yang telah ditetapkan, Kristus akan kembali lagi dan menjenuhi tubuh jasmani kita dengan unsur-Nya. Hal ini akan membuat tubuh kita diubah menjadi tubuh mulia, yakni yang serupa dengan tubuh kebangkitan Kristus. Sudah tentu hal ini merupakan aspek lain dari anugerah Allah. Dengan menjenuhi kita, Kristus akan memuliakan kita dan dimuliakan di dalam kita. Dia akan membawa kita semua masuk ke dalam kemuliaan-Nya, di mana kita akan benar-benar serupa Dia, baik dalam roh, jiwa, dan tubuh.

Terakhir, dalam kekekalan dan untuk selama-lamanya kita akan menikmati Kristus sebagai air hayat dan pohon hayat.

Lukisan tentang hakiki anugerah Allah itu bagi kita meliputi seluruh Perjanjian Baru, dari permulaan Injil Matius, hingga akhir Kitab Wahyu. Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh telah melalui proses inkarnasi, kehidupan manusia, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan agar dapat masuk ke dalam kita, menjadi satu dengan kita, dan menjadi segala sesuatu bagi kita. Sekarang Dia adalah penebusan, keselamatan, hayat, kehidupan, pengudusan, dan pengubahan kita, dan Dia akan menjadi penyerupaan, pemuliaan, dan kekekalan kita. Inilah bagian kaum saleh dalam terang (Kol. 1:12).

MENIKMATI ANUGERAH

Kita tidak dapat menikmati anugerah Allah secara penuh dalam sehari atau bahkan dalam seumur hidup kita. Kita baru dapat menikmati anugerah ini secara penuh ketika kita berada dalam kekekalan. Inilah anugerah yang datang bersamaan dengan kedatangan Tuhan Yesus, dan inilah anugerah yang kita perlukan dari hari ke hari. Puji Tuhan bahwa ini adalah anugerah yang kita temukan melalui datang ke takhta anugerah setiap hari untuk memenuhi keperluan kita pada waktunya. Setiap pagi kita harus menengadah kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, berikanlah anugerah-Mu hari ini kepadaku. Aku perlu bagian anugerah-Mu hari ini. Semoga anugerah menyertai aku dan semua saudara saudariku.” Oh, kita semua perlu berdoa sedemikian! Kemudian, kita akan mengalami anugerah, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit bagi kenikmatan kita.

Dalam 2:21 Paulus berkata, “Sebab sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Kristus telah mati bagi kita agar kita boleh memiliki kebenaran di dalam Dia, dan melaluinya kita dapat menerima hayat ilahi (Rm. 5:18, 21). Kebenaran ini bukan melalui hukum Taurat, melainkan melalui kematian Kristus. Jika kebenaran melalui hukum Taurat, kematian Kristus akan menjadi tanpa alasan, dan akan sia-sia. Namun kebenaran adalah melalui kematian Kristus, yang telah memisahkan kita dari hukum Taurat. Sekarang, menurut Roma 5:17, kita yang “menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Anugerah memungkinkan kita berkuasa di dalam hayat.

Dengan anugerah Allahlah Kristus menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita melalui Roh pemberi hayat. Tidak hidup oleh Roh ini berarti meniadakan anugerah Allah. Meniadakan anugerah Allah berarti menolak Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberihayat almuhit ini. Para penganut agama Yahudi menginginkan kaum beriman Galatia berbalik kembali kepada hukum Taurat. Berbalik kembali kepada hukum Taurat berarti meniadakan anugerah Allah. Itu berarti menyangkal dan menolak Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Lagi pula, itu juga berarti tidak berhasil mengalami dan menikmati Allah yang telah melalui proses sedemikian itu. Karena itu kita dapat melihat bahwa meniadakan anugerah Allah dengan berbalik kembali ke hukum Taurat adalah perkara yang sangat serius.

EKONOMI ALLAH

Para penganut agama Yahudi yang buta itu sungguh bodoh. Jika mereka telah nampak apa itu anugerah Allah, mereka tidak mungkin menjadi para penganut agama Yahudi lagi. Namun, karena mereka buta, mereka berusaha dengan gairah untuk mengalihkan orang dari Kristus. Mereka tidak memahami bahwa ekonomi Allah tidak menghendaki umat pilihan-Nya memelihara hukum Taurat. Ekonomi Allah menghendaki umat-Nya menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki umat-Nya menikmati diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal yang demikian, dan menjadi satu dengan Dia. Kemudian umat-Nya akan menjadi satu dalam hayat ilahi untuk mengekspresikan Allah secara korporat. Ekspresi korporat dari Allah Tritunggal ini adalah kehidupan gereja. Hasil terakhir dari hal ini ialah Yerusalem Baru, ekspresi korporat dari Allah Tritunggal dalam kekekalan.

Jika kita nampak visi ekonomi Allah ini, bagaimana mungkin kita berbalik kembali ke hukum Taurat? Bagaimana mungkin kita beralih dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi anugerah kita? Tidak heran Paulus berkata bahwa orang-orang Galatia itu bodoh, sebab mereka meniadakan anugerah Allah.

BERDIRI DALAM ANUGERAH

Jika kita ingin menjadi orang-orang yang tidak meniadakan anugerah Allah, perlulah kita tinggal di dalam Kristus (Yoh. 15:4-5). Tinggal di dalam Kristus berarti menetap dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Selain itu, kita perlu menikmati Kristus, khususnya melalui makan Dia (Yoh. 6:57b). Kemudian kita harus maju untuk menjadi satu roh dengan Kristus (1Kor. 6:17), berjalan atau hidup di dalam Roh (Gal. 5:16, 25), menyangkal “aku” yang alamiah (2:20), dan meninggalkan daging (5:24). Kita tidak boleh diselewengkan oleh hal-hal seperti hukum Taurat, sunat, hari Sabat, dan peraturan-peraturan tentang makanan. Sebaliknya, kita harus menikmati Kristus dan hidup bersama Dia dalam satu roh. Jika kita berjalan di dalam roh, menyangkal “aku” yang alamiah, dan meninggalkan daging, kita akan menjadi orang-orang yang tidak meniadakan anugerah Allah.

Kita memuji Tuhan karena dalam pemulihan-Nya kita sedang menikmati dan mengalami anugerah-Nya. Namun, banyak orang Kristen yang tidak berada dalam pengalaman anugerah ini. Dalam Roma 5:2 Paulus berkata bahwa oleh iman kita beroleh jalan masuk ke dalam anugerah yang di dalamnya kita berdiri. Marilah kita berdiri dengan teguh di dalam anugerah yang telah kita masuki ini.