BUKAN LAGI AKU, MELAINKAN KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM AKU
Pembacaan Alkitab:
Gal. 2:19-20; Rm. 6:6a, 8; 2Kor. 5:14-15;
1Kor. 15:45b; 2 Kor. 3:17; Yoh. 6:57b; Flp. 1:21a
Galatia 2:20 adalah satu ayat yang terkenal. Dalam ayat ini ada salah satu butir dasar dari ekonomi Perjanjian Baru Allah: Bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Menurut ekonomi Allah, kita tidak seharusnya hidup lagi; sebaliknya Kristuslah yang harus hidup di dalam kita. Inilah aspek dasar dari kebenaran Injil. Namun, kebanyakan orang Kristen tidak memiliki pengertian yang wajar dan memadai tentang apa yang dimaksud bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
BUKAN SUATU HAYAT YANG DIGANTI
Karena hal ini belum jelas, maka ada sebagian orang Kristen, termasuk beberapa guru Kristen, mengira bahwa Galatia 2:20 ini membicarakan apa yang disebut suatu hayat yang diganti. Menurut konsepsi itu, kita telah diganti oleh Kristus. Kristus masuk, dan kita keluar. Menurut konsepsi suatu hayat yang diganti, hayat kita amat kasihan, dan hayat Kristus jauh lebih baik; karena itu kita harus mengganti hayat kita dengan hayat Kristus. Seperti yang akan kita nampak, konsepsi semacam ini keliru.
Galatia 2:20 bukanlah membicarakan suatu hayat yang diganti. Di sini Paulus berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kemudian ia meneruskan, “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dari Anak Allah” (Tl.). Di satu pihak Paulus berkata, “Bukan lagi aku yang hidup,” di pihak lain ia berkata, “Aku hidup.” Jika Anda merenungkan ayat ini secara keseluruhan, Anda akan nampak tidak ada pemikiran tentang suatu hayat yang diganti. Yang ditampilkan di sini bukanlah suatu penggantian, sebaliknya merupakan suatu rahasia yang dalam dan misteri.
Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Galatia mewahyukan kebenaran dasar dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Di antara kebenaran-kebenaran dasar ini yang paling mendasar adalah yang tercatat dalam 2:20. Karena demikian mendasar, maka kebenaran “bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” ini juga sangat dalam dan misteri; dan karena ia sangat dalam dan misteri, maka hal ini tidak dimengerti dengan tepat oleh orang-orang Kristen sepanjang abad. Karena itulah kita menengadah kepada Tuhan agar Ia mau menjelaskan kebenaran dasar ini kepada kita.
“AKU” LAMA DAN “AKU” BARU
Kita sudah menunjukkan bahwa dalam ayat ini, di satu pihak Paulus berkata, “bukan lagi aku”, di pihak lain, “Aku hidup”. Bagaimana kita dapat menyerasikan kedua frase ini? Sekali lagi saya ingin menunjukkan bahwa ini bukanlah suatu hayat yang diganti. Cara menafsirkan Alkitab dengan tepat haruslah dengan Alkitab itu sendiri. Ini berarti kita perlu membaca ayat-ayat lain bila kita ingin mengerti ayat ini. Roma 6:6 menerangkan bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus. Ayat ini membantu kita mengetahui bahwa “aku” yang telah disalibkan bersama Kristus ini adalah “aku” lama, manusia lama. Selaku manusia yang telah dilahirkan kembali, kita mempunyai “aku” lama dan “aku” baru. “Aku” lama telah diakhiri, tetapi “aku” baru hidup. Dalam Galatia 2:20 kita melihat adanya “aku” lama dan “aku” baru. “Aku” lama telah disalibkan bersama Kristus, yakni telah diakhiri. Karena itu, Paulus dapat berkata, “Bukan lagi aku.” Akan tetapi “aku” baru tetap hidup. Karena alasan ini maka Paulus bisa berkata, “Aku hidup.”
Sekarang kita harus maju melihat perbedaan antara “aku” lama dan “aku” baru. Karena kita sangat mengenal Galatia 2:20, mungkin kita mengira ayat ini memang semestinya demikian, dan mengira kita telah memahaminya. Namun apa perbedaan antara “aku” lama dan “aku” baru? Menurut pengertian alamiah, mungkin ada sebagian orang berkata bahwa “aku” lama itu buruk dan jahat, sedang “aku” baru itu baik. Konsepsi seperti ini harus ditolak. Di dalam “aku” lama tidak ada sesuatu yang dari Allah, sedangkan “aku” baru telah menerima hayat ilahi. “Aku” lama telah menjadi “aku” baru, sebab Allah sang hayat telah ditambahkan kepadanya. “Aku” yang telah diakhiri adalah “aku” yang tanpa sifat ilahi. “Aku” yang masih hidup adalah “aku” yang ke dalamnya telah ditambahkan Allah. Di sini terdapat suatu perbedaan yang sangat besar. “Aku” lama, “aku” yang tanpa Allah, telah diakhiri, tetapi “aku” baru tetap hidup; “aku” yang muncul ketika “aku” lama dibangkitkan dan ditambahkan dengan Allah ke dalamnya. Di satu aspek Paulus telah diakhiri, tetapi di aspek lain Paulus yang telah dibangkitkan dan bersatu dengan Allah sebagai hayatnya tetap hidup.
Karena menolak terang Allah, maka banyak orang Kristen buta terhadap pengertian atas Galatia 2:20. Jika mereka mendengar perkataan seperti “aku” lama dan “aku” baru yang sedemikian ini mereka akan menolaknya. Akan tetapi, penolakan mereka sama sekali tanpa dasar. Selaku orang Kristen yang sejati, mereka sudah dilahirkan kembali. Bila seseorang dilahirkan kembali, ia tidak dihilangkan atau dimusnahkan. Dilahirkan kembali berarti memiliki Allah ditambahkan kepadanya. Dalam kelahiran kembali, kita yang tanpa Allah sekarang mempunyai Dia yang ditambahkan kepada kita. “Aku” yang tanpa Allah itu telah berlalu. Itulah “aku” lama, manusia lama, yang telah disalibkan bersama Kistus. Namun sejak kita mulai mengapresiasi Tuhan Yesus dan iman yang beroperasi itu mulai bekerja di batin kita, maka iman ini mendatangkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam kita dan menambahkan Dia ke dalam diri kita. Sejak waktu itu dan seterusnya, kita telah memiliki “aku” baru, “aku” yang di dalamnya ada Allah. Jadi, “aku” baru adalah “aku” lama yang telah menjadi “aku” yang telah dibangkitkan dan yang di dalamnya ada Allah. Puji Tuhan, “aku” lama telah diakhiri dan sekarang “aku” barulah yang hidup!
HIDUP BERSAMA KRISTUS
Dalam 2:20 Paulus berkata, “Kristus yang hidup di dalam aku.” Menurut konsepsi hayat yang diganti, hayat kita telah diakhiri dan Kristuslah yang hidup. Tetapi kita perlu pengertian yang lebih menyeluruh tentang makna Kristus hidup di dalam kita. Mengerti bahwa Kristus hidup agak mudah, tetapi memahami Kristus hidup di dalam kita sangat sukar. Ini tidak berarti kita telah disalibkan bersama Kristus dan tidak hidup lagi, dan Kristus menggantikan kita hidup. Di satu aspek Paulus berkata, “Bukan lagi aku,” di aspek lain ia berkata, “Kristus yang hidup di dalam aku.” Frase “di dalam aku” ini sangat penting. Ya, memang Kristus yang hidup, tetapi di dalam kitalah Dia hidup.
Untuk mengerti bagaimana Kristus dapat hidup di dalam kita, kita perlu kembali ke Yohanes 14. Sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup” (ayat 19). Kristus hidup di dalam kita dengan membuat kita hidup bersama Dia. Kristus tidak hidup sendirian. Dia hidup di dalam kita dan bersama kita. Dia hidup dengan membuat kita hidup bersama Dia. Pada hakekatnya, jika kita tidak hidup bersama Dia, Dia pun tidak dapat hidup di dalam kita. Kita tidak disingkirkan sama sekali, dan hayat kita tidak diganti atau ditukar dengan hayat ilahi. Kita hidup terus, tetapi kita hidup bersama Allah Tritunggal. Allah Tritunggal yang sekarang berhuni di batin kita membuat kita hidup bersama Kristus. Jadi, Kristus hidup di dalam kita melalui kita hidup bersama Dia.
SATU HAYAT DAN SATU KEHIDUPAN
Sekali lagi ilustrasi pengokulasian dapat membantu kita untuk memahami hal ini. Sesudah sebatang ranting diokulasi dengan sebatang pohon yang produktif, ranting itu hidup terus. Tetapi, ia tidak hidup oleh dirinya sendiri, melainkan oleh pohon yang dengannya ia diokulasikan. Selain itu, pohon itu hidup di dalam ranting yang telah diokulasi dengannya. Sekarang ranting itu memperhidupkan hayat yang telah diokulasikan. Ini berarti ranting itu hidup, bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh hayat pohon yang dengannya ia telah diokulasikan. Tambahan pula, hayat yang lain ini, hayat pohon yang produktif ini, tidak hidup oleh dirinya sendiri, tetapi melalui ranting yang diokulasi dengannya. Hayat pohon itu hidup di dalam ranting itu. Akhirnya, ranting dan pohon itu memiliki satu hayat dengan satu kehidupan. Seprinsip dengan ini, kita dan Kristus juga memiliki satu hayat dan satu kehidupan.
Dalam Yohanes 6:57 Tuhan Yesus berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Putra tidak hidup oleh diri-Nya sendiri. Tetapi ini tidak berarti Putra disingkirkan dan tidak hidup lagi. Putra sudah tentu hidup terus, tetapi Dia tidak memperhidupkan hayat-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia memperhidupkan hayat Bapa. Dengan jalan inilah Putra dan Bapa memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Mereka mengambil bagian atas hayat yang sama dan memiliki kehidupan yang sama.
Demikian pula dalam hubungan kita dengan Kristus hari ini. Kita dan Kristus tidak memiliki dua kehidupan, sebaliknya kita memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Kita hidup oleh Dia, dan Dia hidup di dalam kita. Jika kita tidak hidup, Dia pun tidak hidup; jika Dia tidak hidup, kita pun tidak dapat hidup. Di satu pihak, kita telah diakhiri; di pihak lain, kita tetap hidup; tetapi kita tak dapat hidup tanpa Dia. Kristus hidup di dalam kita, dan kita hidup bersama Dia. Karena itulah kita dan Dia memiliki satu hayat dan satu kehidupan.
MATI TERHADAP HUKUM TAURAT
Galatia 2:20 menjelaskan bagaimana kita telah mati terhadap hukum Taurat oleh hukum Taurat. Menurut ekonomi Allah, ketika Kristus disalibkan, kita pun tercakup di dalam-Nya. Ini adalah fakta yang telah rampung. Kita telah mati di dalam Kristus melalui kematian-Nya, kini melalui kebangkitan-Nya, Dia hidup di dalam kita. Dia hidup di dalam kita sepenuhnya berdasarkan Dia sebagai Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45b). Butir ini dikembangkan se-penuhnya dalam pasal-pasal berikutnya dalam Kitab Gala-tia, di mana Roh itu disajikan dan ditekankan sebagai Persona yang telah kita terima sebagai hayat dan yang di dalam-Nya kita harus hidup.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
“Aku”, orang alamiah, cenderung memelihara hukum Taurat agar tidak bercacat (Flp. 3:6), tetapi Allah menghendaki kita memperhidupkan Kristus sehingga Allah dapat diekspresikan di dalam kita melalui Dia (Flp. 1:20-21). Karena itu, ekonomi Allah menghendaki “aku” disalibkan dalam kematian Kristus dan Kristus hidup di dalam kita dalam kebangkitan-Nya. Memelihara hukum Taurat berarti meninggikannya di atas segala hal dalam kehidupan kita; memperhidupkan Kristus berarti menjadikan Dia sebagai pusat dan segala sesuatu dalam kehidupan kita. Hukum Taurat digunakan Allah untuk sejangka waktu guna menjaga umat pilihan-Nya dalam pengawalan untuk Kristus (Gal. 3:23), dan akhirnya menuntun mereka kepada Kristus (3:24), sehingga mereka boleh menerima Dia sebagai hayat dan memperhidupkan Dia sebagai ekspresi Allah. Karena Kristus telah datang, maka fungsi hukum Taurat telah berakhir, dan Kristus harus menggantikan hukum Taurat dalam kehidupan kita bagi penggenapan kehendak kekal Allah.
KRISTUS DAN ANAK ALLAH
Dalam Galatia 2:20 Paulus mengatakan tentang Kristus dan Anak Allah. Sebutan “Kristus” terutama mengacu kepada misi Kristus untuk merampungkan rencana Allah. “Anak Allah” mengacu kepada Persona Kristus untuk menyalurkan hayat Allah ke dalam kita. Karena itu, iman yang di dalamnya kita memperhidupkan hayat Allah ada di dalam Anak Allah, Yang menyalurkan hayat. Anak Allah mengasihi kita dan khusus menyerahkan diri-Nya bagi kita, supaya Dia dapat menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita.
Hayat yang kita perhidupkan sekarang dalam daging bukan hayat jasmani (bios), bukan pula hayat jiwa (psuche), melainkan hayat rohani dan ilahi (zoe).
IMAN YANG BEROPERASI DI DALAM KITA
Paulus berkata bahwa hidup yang sekarang kita hidupi dalam daging adalah hidup dalam iman, yakni iman Anak Allah. Kita memperhidupkan hayat ilahi, bukan berdasarkan penglihatan juga bukan berdasarkan perasaan seperti halnya kita memperhidupkan hayat jasmani dan hayat jiwa. Hayat ilahi, yang adalah hayat rohani dalam roh kita, kita perhidupkan melalui menggunakan iman yang ditimbulkan oleh penyertaan Roh pemberi hayat.
Dalam membicarakan iman, Paulus menyebut “iman dari Anak Allah” (Tl.). Apakah arti kata “dari” di sini? Kata ini menyiratkan iman yang disebut dalam ayat ini adalah iman milik Anak Allah, yakni iman yang dipunyai oleh Anak Allah sendiri. Tetapi, dalam menafsirkan ayat ini, kita dan banyak orang lainnya telah berkata bahwa frase tersebut sebenarnya berarti iman di dalam Anak Allah. Namun demikian, bahasa Yunaninya di sini tidak menggu-nakan kata penghubung “di dalam”. Saya telah menghabis-kan banyak waktu untuk berusaha memahami hal ini. Setelah memeriksa tulisan dari sejumlah tokoh yang berbobot, saya yakin sepenuhnya bahwa di sini Paulus tidak membicarakan iman Anak, melainkan iman yang ada di dalam Anak. Akan tetapi, kita masih perlu menjelaskan mengapa dalam ayat ini (dalam bahasa aslinya), seperti halnya dalam 2:16 dan 3:22, Paulus tidak memakai kata penghubung “di dalam”. Kita tidak dapat memperoleh satu pengertian yang tepat tentang hal ini hanya dengan mempelajari Alkitab dalam huruf hitam di atas kertas putih. Kita masih perlu merenungkan pengalaman kita.
Paulus menulis Kitab Galatia menurut kebenaran dan pengalamannya. Berdasarkan pengalaman kristiani kita, iman sejati yang hidup, yang beroperasi di dalam kita tidak saja di dalam Kristus juga dari Kristus. Jadi, maksud Paulus di sini sebenarnya ialah: “iman dari dan di dalam Kristus”. Pemikiran Paulus ialah bahwa iman itu adalah dari Kristus dan di dalam Kristus.
Kita telah menunjukkan bahwa iman merupakan apresiasi kita atas diri Tuhan dan atas apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Kita pun telah menunjukkan bahwa iman yang sejati adalah Kristus itu sendiri terinfus ke dalam kita menjadi kemampuan kita untuk percaya kepada-Nya. Setelah Tuhan terinfus ke dalam kita, dengan spontan Ia menjadi iman kita. Di satu pihak, iman ini dari Kristus, di pihak lain, iman ini di dalam Kristus. Namun terlalu sederhana, jika kita hanya berkata bahwa iman ini adalah Kristus. Kita harus berkata bahwa itulah Kristus yang diwahyukan kepada kita dan diinfuskan ke dalam kita. Iman tidak saja berkaitan dengan Kristus yang telah terinfus ke dalam kita, tetapi juga dengan Kristus yang sedang menginfuskan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Ketika Kristus beroperasi di dalam kita, Dia menjadi kita. Ketika Kristus beroperasi di dalam kita, Dia menjadi iman kita. Iman ini adalah dari Dia dan juga di dalam Dia.
ENGAPRESIASI TUHAN YESUS
Bukti bahwa iman dalam Galatia 2:20 adalah iman dari dan di dalam Kristus terdapat dalam perkataan Paulus pada akhir ayat ini. Ia menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa Anak Allah adalah Persona “yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Dalam menulis kata-kata ini, Paulus penuh dengan apresiasi atas Tuhan Yesus. Jika tidak, tentu ia tidak perlu membicarakan Kristus mengasihi dia dan menyerahkan diri-Nya untuk dia pada akhir ayat yang panjang ini. Ia dapat menutup ayat ini dengan perkataan “iman dari Anak Allah”. Tetapi ketika berbicara tentang cara hidupnya yang sekarang, hatinya penuh dengan syukur dan apresiasi. Iman berasal dari apresiasi terhadap Tuhan Yesus. Iman yang di dalam dan dari Kristus ini berasal dari apresiasi terhadap Kristus.
Dalam 2Korintus 5:14-15 Paulus berkata, “Sebab kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Ketika kita membahas ayat-ayat ini, kita dapat melihat bahwa iman Paulus berasal dari suatu apresiasi atas kasih Kristus yang menguasainya. Semakin mengapresiasi kasih Kristus yang menguasai ini, kita akan semakin memiliki iman. Iman ini bukan dihasilkan dari kemampuan atau kegiatan kita sendiri. Sebaliknya, iman dihasilkan dari Kristus yang bekerja dalam kita, yang kita apresiasi. Dalam apresiasi kita atas Tuhan Yesus, kita akan berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu dan aku memustikakan Dikau.” Ketika mengucapkan perkataan sedemikian kepada Tuhan, Dia akan beroperasi di batin kita dan menjadi iman kita. Iman ini akan mendatangkan suatu kesatuan organik yang di dalamnya kita benar-benar bersatu dengan Kristus.
Saya ingin mengisahkan sebuah kisah nyata yang dapat menegaskan bahwa iman yang beroperasi di dalam kita ini berasal dari apresiasi kita terhadap Tuhan Yesus. Selama masa pemberontakan Boxer (Pesilat) di China, ratusan orang Kristen telah mati sahid. Pada suatu hari, di Peking, ibu kota kuno China, para pesilat berparade di jalan-jalan. Seorang wanita Kristen muda duduk di bagian belakang sebuah kereta, ia sedang diarak-arak sebelum menjalani hukuman mati. Ia dikelilingi algojo-algojo yang memegang pedang. Suasana saat itu sangat mengerikan, di mana-mana penuh dengan teriakan-teriakan para pesilat. Namun, wanita Kristen itu bercahaya ketika ia sedang menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Toko-toko menutup pintu karena kerusuhan itu. Tetapi saat itu ada seorang pemuda mengamati peristiwa itu melalui celah pintu sebuah toko. Karena sangat terkesan dengan wajah yang bercahaya, kegembiraan, dan nyanyian puji-pujian wanita itu, pada saat itu juga ia memutuskan untuk mencari kebenaran iman kristiani. Kemudian ia benar-benar mempelajari kebenaran dan menjadi seorang beriman dalam Kristus. Akhirnya, ia meninggalkan usahanya dan menjadi seorang pengkhotbah. Pada suatu hari, ketika ia mengunjungi kampung halaman saya, ia mengisahkan kepada saya bagaimana ia bisa menjadi orang Kristen.
Butir pentingnya di sini: wanita muda itu bisa dipenuhi puji-pujian di tengah-tengah situasi yang demikian mengerikan itu, karena iman bekerja dalam batinnya. Ia dipenuhi dengan apresiasi terhadap Tuhan Yesus. Karena ia sangat mengasihi Tuhan, maka dengan spontan Tuhan menjadi iman dalam batinnya. Iman ini menghasilkan suatu kesatuan organik yang di dalamnya ia telah disatukan dengan Tuhan. Kesatuan organik ini adalah aspek yang mendasar dan sangat penting dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.
WAHYU EKONOMI ALLAH
Orang-orang Galatia telah berbalik dari ekonomi Allah dan kembali kepada hukum Taurat yang mereka coba pelihara dengan upaya daging. Namun, bila kita berusaha memelihara hukum Taurat dengan kekuatan daging kita, kita jauh dari Allah. Ekonomi Allah bukan menghendaki kita berusaha memelihara hukum Taurat dengan kekuatan daging kita. Ekonomi-Nya ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Allah Tritunggal telah menjadi Allah yang telah melalui proses. Melalui inkarnasi, Kristus datang dalam daging untuk menggenapkan hukum Taurat dan kemudian mengesampingkannya. Melalui kebangkitan-Nya, Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat, siap untuk masuk ke dalam kita. Ekonomi Perjanjian Baru Allah ialah menggarapkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam kita menjadi hayat dan seluruh diri kita. Jika kita nampak ini, kita akan dapat menyatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus dan kita tidak lagi hidup. Namun, Kristus hidup di dalam kita, dan kita hidup oleh iman yang di dalam dan dari Dia. Persona lama kita telah disalibkan, tetapi persona baru, “aku” baru tetap hidup. Sekarang kita hidup oleh iman dalam Anak Allah dan dari Anak Allah, yakni iman yang menghasilkan suatu kesatuan organik yang di dalamnya kita dan Kristus menjadi satu. Memelihara hukum Taurat tidak dapat dibandingkan dengan kesatuan organik yang sedemikian ini.
Galatia 2:20 adalah satu wahyu dari ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya kehendak Allah ialah menggarapkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam diri kita untuk menjadikan kita persona baru, “aku” baru. Persona lama, “aku” lama; “aku” yang tanpa Allah, telah berlalu; tetapi persona baru, “aku” baru, “aku” yang di dalamnya ada Allah Tritunggal, tetap hidup. Kita hidup dengan Kristus dan oleh Kristus. Tambahan pula, kita hidup oleh iman, yaitu sarana yang membawa kita ke dalam kesatuan dengan Dia. Dalam kesatuan organik ini kita bersatu dengan Tuhan, sebab kita memiliki satu hayat dan satu kehidupan dengan Dia. Ketika kita hidup, Dia juga hidup. Dia hidup di dalam kita, dan kita hidup bersama Dia.
VISI HIDUPNYA KRISTUS DI DALAM KITA
Saya percaya sekarang kita dapat mengerti apa yang dimaksud dengan Kristus hidup di dalam kita, dan kehidupan yang kita hidupi sekarang kita tempuh oleh iman dari Anak Allah yang mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya untuk kita. Pengalaman yang digambarkan dalam ayat ini menyiratkan bahwa Allah dalam Trinitas-Nya telah mengalami proses. Setelah Kristus berinkarnasi, Dia hidup di bumi dan kemudian disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan. Dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi hayat. Setelah kenaikan-Nya ke surga, Kristus diberi mahkota, dinobatkan, dan dijadikan Tuhan atas segala sesuatu. Pada hari Pentakosta, Dia turun lagi sebagai Roh ke atas Tubuh-Nya. Sejak waktu itu hingga kini, Dia senantiasa bekerja dan bergerak di bumi, mencari orang-orang yang mau mengapresiasi Dia dan menyeru nama-Nya. Setiap kali kita menyeru nama Tuhan Yesus yang timbul dari apresiasi kita terhadap Dia, Dia akan datang dan masuk ke dalam kita menjadi iman yang hidup yang beroperasi di dalam kita dan membawa kita ke dalam kesatuan organik dengan Dia. Dalam kesatuan ini kita dapat berkata dengan sesungguhnya, “Aku telah disalibkan bersama Kristus, kini bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidup yang sekarang aku hidupi dalam daging adalah dalam iman, iman dari Anak Allah, yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Inilah ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya harap visi ini terinfus ke dalam semua orang saleh.
Saya dapat bersaksi, karena saya telah nampak visi surgawi ini, tidak ada apa pun yang dapat menggoyahkan saya. Saya rela menyerahkan seumur hidup saya bagi visi ekonomi Allah yang sedemikian. Persona lama telah disalibkan bersama Kristus, dan sekarang Kristus hidup di dalam saya, persona yang baru. Kehidupan yang saya hidupi sekarang ini, saya tempuh oleh iman, iman dari Anak Allah dan di dalam Anak Allah, yang mengasihi saya dan menyerahkan diri-Nya untuk saya. Di sini kita mempunyai perbauran Allah Tritunggal dengan manusia tripartit. Alangkah ajaibnya!