TELAH BERAKAR DI DALAM KRISTUS DAN SEDANG DIBANGUN DI DALAM DIA (2)
Pembacaan Alkitab:
Kol. 2:7a, 19; 3:10-11; 1 Kor. 3:6, 9; 6:17; Ef. 2:21; 4:13b, 15-16
Ketika membaca dan mempelajari Alkitab, mudah se-kali kita menganggap semuanya memang seharusnya de-mikian. Mungkin kita membaca sebuah ayat seperti Kolose 2:7, yang mengatakan bahwa kita telah berakar di dalam Kristus dan sedang dibangun di dalam Dia, dan kita mengi-ra kita sudah memahaminya, padahal pemahaman kita sangatlah dangkal. Demikian pula dengan ayat-ayat seperti Yohanes 3:16. Di satu pihak, kita memang mempunyai se-dikit pemahaman atas ayat ini. Tetapi di pihak lain, kita mungkin menganggapnya memang seharusnya demikian. Tidak hanya demikian, ketika kita membaca Alkitab, kita mungkin memiliki kecenderungan untuk menghindari kesu-litan. Kita mungkin lebih suka untuk tidak menggali ayat-ayat tertentu, berdoa tentang ayat-ayat itu, dan meminta Tuhan membukanya untuk kita. Bila kita menelaah sejumlah ayat dari Kitab Kolose, 1 Korintus, dan Efesus, kita tidak boleh menganggap semuanya memang seharusnya demikian, dan janganlah menghindari kesulitan apa pun yang ditampilkan oleh ayat-ayat itu. Beban saya khusus untuk menunjukkan kepada kita makna yang tersirat dalam ayatayat tersebut.
BERAKAR, BERTUMBUH, DAN DIBANGUN
Dalam Kolose 2:7 Paulus mengatakan tentang telah berakar dan sedang dibangun di dalam Kristus. Kata berakar menyiratkan makna yang sangat kaya. Berakar benar-be-nar merupakan masalah hayat. Satu tanaman yang telah berakar dalam tanah, bertumbuh di dalam tanah, bahkan masuk ke dalam tanah. Inilah satu organisme hidup yang bertumbuh di dalam tanah. Sebaliknya, jika sebatang tong-kat mati ditancapkan ke dalam tanah, tongkat itu tidak dapat dikatakan berakar di dalam tanah.
Ketika akar-akar suatu tanaman berkembang ke dalam tanah, akar-akar itu menyerap kekayaan dari tanah. Ma-kanan yang diserap ke dalam tanaman menjadi unsur yang olehnya tanaman itu bertumbuh. Jika sebatang pohon ingin bertumbuh, pohon ini harus menerima zat atau unsur ter-tentu melalui akar-akarnya. Melalui zat-zat itulah pohon ini bertumbuh besar.
Sebagai kaum beriman, kita telah berakar di dalam Kristus. Ini menyiratkan bahwa kita adalah organisme yang hidup, bukan tongkat yang mati dan tanpa akar yang tertancap di dalam tanah. Karena kita telah berakar di dalam Kristus, maka kita sekarang dapat menyerap kekayaan Kristus ke dalam kita. Kekayaan ini diserap dari Kristus sebagai tanah, menjadi unsur yang memungkinkan kita bertumbuh.
Kolose 2:7 membicarakan tentang telah berakar di da-lam Kristus dan sedang dibangun di dalam Dia. Semakin sebuah tanaman bertumbuh, tanaman itu semakin memba-ngun dirinya sendiri. Sebagai contoh, sebatang pohon mem-bangun dirinya melalui menyerap makanan dari tanah ke dalam dirinya sendiri. Ini menyiratkan aktivitas organik. Melalui aktivitas ini, makanan dari tanah diserap ke dalam pohon.
Sangatlah bermakna bahwa dalam 2:7 Paulus menying-gung bersama masalah berakar dan dibangun. Alasannya ialah karena berakar untuk pertumbuhan, dan pertumbuh-an adalah pembangunan yang sejati. Pertumbuhan tidak saja untuk pembangunan, tetapi sebenarnya adalah pembangun-an itu sendiri. Pada waktu sebuah pohon bertumbuh, ia membangun dirinya sendiri. Demikian pula manusia. Para ibu memahami, semakin anak-anak diberi makan dengan makanan yang sehat, anak-anak semakin bertumbuh, dan melalui pertumbuhan mereka dibangun. Aktivitas organik yang terjadi di dalam mereka menyebabkan mereka ber-tumbuh. Pertumbuhan ini adalah pembangunan tubuh jas-mani mereka.
Berakar mendatangkan pertumbuhan, pertumbuhan ada-lah pembangunan. Jika kita tidak bertumbuh, kita tidak memperoleh pembangunan apa pun. Kita bertumbuh mela-lui menyerap unsur tanah yang kaya dan bergizi. Kita te-lah berakar di dalam Kristus, kini kita sedang dibangun di dalam Dia. Kita telah berakar di dalam Kristus, dan kita bertumbuh melalui menyerap kekayaan-Nya ke dalam kita. Hal ini membawa kepada pertumbuhan, yaitu pembangunan diri sendiri di dalam Kristus.
BERPEGANG TEGUH KEPADA KEPALA
Dalam Kolose 2:19 Paulus membicarakan tentang “Ber-pegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh dengan pertumbuhan Allah” (Tl.). Berpe-gang teguh kepada Kepala sama dengan berhuni di dalam Kristus. Tentu saja, berpegang kepada Kepala menyiratkan kita tidak terpisah atau terputus dari-Nya. Pada waktu Paulus menulis surat kepada orang-orang Kolose, mereka telah sedikit terpisah dari Kristus karena kebudayaan me-reka. Kebudayaan dapat menjadi sejenis isolasi yang men-jauhkan kita dari Kristus. Berpegang teguh kepada Kepala berarti menetap di dalam Kristus, tanpa isolasi apa pun di antara kita dengan Dia.
Kata “dari mana” dalam ayat 19 menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berasal dari Kepala yang menyebabkan Tubuh bertumbuh. Pertumbuhan Tubuh tergantung pada apa yang berasal dari Kristus sebagai Kepala, seperti hal-nya pertumbuhan sebuah tanaman tergantung pada apa yang masuk ke dalamnya dari tanah. Jika sebuah tanaman tidak menyerap zat-zat gizi dari tanah, ia tidak mungkin bertumbuh. Demikian pula, jika kita tidak menerima apa yang berasal dari Kristus sebagai Kepala, Tubuh tidak da-pat bertumbuh. Karena itu berpegang teguh kepada Kepala sama dengan berakar dalam Kristus sebagai tanah.
BERTUMBUH DENGAN PERTUMBUHAN ALLAH
Dalam Kolose 2:19 Paulus mengatakan bahwa Tubuh “bertumbuh dengan pertumbuhan Allah” (Tl.). Allah sendiri tidak perlu bertumbuh, sebab Dia selamanya lengkap dan sempurna. Namun, Tubuh tetap perlu bertumbuh dengan pertumbuhan atau pertambahan Allah di dalam kita. Se-makin banyak Allah bertambah di dalam kita, kita akan semakin bertumbuh. Inilah artinya bertumbuh dengan per-tumbuhan Allah.
Bagi organisme hidup mana pun, untuk bertumbuh perlu ada beberapa unsur yang menyebabkan ia bertumbuh. Kita harus mempunyai sesuatu yang dengannya dan oleh-nya kita bertumbuh. Sebagai contoh, jika anak-anak tidak mau makan, mereka tidak dapat bertumbuh. Jalan kita untuk pertumbuhan rohani ialah bertambahnya Allah di dalam kita. Ini berarti kita bertumbuh dengan pertambah-an atau perbanyakan Allah, yaitu dengan bertambahnya Allah ke dalam diri kita.
Kata “dengan” yang pendek dalam Kolose 2:19 sangatlah penting. Dengan apakah Tubuh dapat bertumbuh? Apakah ia bertumbuh dengan doktrin atau pengetahuan Alkitab? Tidak. Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Kita bertumbuh dengan pertambahan Allah di dalam kita. Allah lengkap dan sempurna dalam diri-Nya sendiri, tetapi Ia masih perlu bertambah di batin kita.
Ketika saya “mendoakan” Kolose 2:19, Tuhan menunjukkan kepada saya walaupun Dia selamanya sempurna dan lengkap, tetapi di dalam saya, kadarnya tidak terlalu banyak. Saya sadar bahwa Allah perlu bertumbuh di dalam saya, Allah perlu ditambahkan ke dalam saya. Pada waktu itu saya beroleh terang dan nampak makna ungkapan Paulus dalam 2:19 “bertumbuh dengan pertumbuhan Allah”. Kita semua perlu Allah ditambahkan ke dalam kita lebih banyak. Kita perlu Dia bertumbuh dan bertambah di dalam kita.
Sewaktu kita membahas 2:19, kita harus paham bahwa firman Allah bukan hanya sebuah istilah, dan Allah sendiri bukan hanya obyek penyembahan kita. Allah kaya dalam setiap aspek. Dia kaya dalam kemuliaan dan dalam segala atribut-atribut ilahi. Dia kaya dalam kasih, kebaikan hati, belas kasih, terang, hayat, kekuatan, dan kekuasaan. Oh, kekayaan Allah sungguh tidak ada habisnya! Kini Allah yang kaya ini sedang menambahkan diri-Nya ke dalam kita. Ini tersirat dalam frase “bertumbuh dengan pertumbuhan Allah”. Kekayaan Allah merupakan unsur dan substansi yang olehnya kita bertumbuh.
MANUSIA BARU
Dalam Kolose 3:10-11 Paulus membicarakan tentang manusia baru, “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersu-nat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merde-ka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesua-tu.” Dalam manusia baru Kristus adalah semua anggota, dan Dia berada dalam setiap anggota. Tidak ada tempat bagi manusia alamiah. Tidak ada tempat bagi orang Amerika atau China, Inggris atau Perancis, Anda atau saya. Dalam manusia baru Kristus adalah semua. Dalam gereja sebagai manusia baru, Kristus adalah segala sesuatu. Ini menyiratkan bahwa Dia adalah setiap saudara dan setiap saudari. Ini pun menyiratkan bahwa setiap saudara dan saudari harus disusun dengan Kristus. Dalam manusia baru tidak bisa ada anggota Yahudi dan anggota bukan Yahudi hanya bisa ada anggota Kristus. Jika kita ingin disusun dengan Kristus, Kristus harus ditambahkan ke dalam kita lebih banyak. Kita harus dijenuhi dengan Kristus, diresapi dengan Kristus dan mengalami Kristus tergarap secara or-ganik ke dalam diri kita. Akhirnya, kita akan digantikan oleh Kristus. Kemudian dalam realitasnya, Dia akan men-jadi semua dan di dalam segala sesuatu. Dia akan menjadi setiap anggota, setiap bagian dari manusia baru.
Manusia baru bukan terjadi melalui berkumpulnya orang-orang Kristen dari berbagai negara. Itu adalah satu organisasi baru, bukan manusia baru. Manusia baru terjadi setelah kita diresapi, dipenuhi, dan dijenuhi dengan Kristus dan digantikan oleh-Nya melalui suatu proses organik. Ma-nusia baru adalah Kristus yang di dalam semua orang ku-dus meresapi kita dan menggantikan kita sampai semua perbedaan alamiah itu terhapus dan setiap orang tersusun dengan Kristus.
Kristus sebagai semua dan di dalam segala sesuatu dalam manusia baru tidak boleh menjadi doktrin belaka. Sebaliknya, Kristus yang kaya dan nyata ini harus benarbenar tergarap ke dalam kita secara organik hingga Dia menggantikan diri alamiah kita dengan diri-Nya sendiri. Ini hanya dapat terjadi bila kita tetap berakar di dalam Dia dan menyerap kekayaan-Nya ke dalam kita. Kekayaan-kekayaan ini kemudian menjadi substansi, unsur yang akan menjenuhi kita secara organik. Kemudian, Kristus akan menjadi kita, dan kita akan tersusun dengan Kristus. Ini bukan hanya bertumbuh oleh Kristus, tetapi juga dibangun di dalam Kristus.
MENYERAP KEKAYAAN DARI TANAH
Baik pertumbuhan maupun pembangunan tergantung pada berakar. Itulah sebabnya Paulus menggunakan ben-tuk kala purna untuk mengatakan “telah berakar”. Kristus, tanah permai, adalah bagian, tanah, dari orang kudus. Se-bagai tanah permai, Dia sendiri kaya dan subur. Setelah kita berakar di dalam Dia, kita harus menyerap makanan Kristus yang kaya ke dalam kita dari hari ke hari menjadi unsur yang mempertumbuhkan kita. Sepanjang hari akar-akar yang lembut harus menyerap kekayaan Kristus seba-gai tanah. Semakin kita menyerap kekayaan-kekayaan ini, kita akan semakin dijenuhi oleh Kristus dan digantikan oleh-Nya secara organik. Inilah artinya bertumbuh dan di-bangun di dalam Kristus.
DITANAM KE DALAM KRISTUS
Dalam 1 Korintus 3:9 Paulus mengatakan bahwa kaum saleh adalah ladang Allah. Dalam 1 Korintus 3:6 dia berka-ta, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Ayat ini menunjukkan bahwa kaum ber-iman adalah ladang Allah dan Paulus adalah seorang pem-bantu dari Sang pengusaha ilahi. Allah adalah petani yang sejati, dan Paulus adalah salah satu rekan sekerja-Nya (2 Kor. 6:1). Paulus bekerja sama dengan Allah untuk menanam kaum beriman ke dalam Kristus. Kristus adalah tanah. Konteks Kitab 1 Korintus menunjukkan hal ini. Dalam 1 Korintus 1:9 dikatakan bahwa kita telah dipanggil ke da-lam persekutuan Anak Allah, dan dalam ayat 30 dikatakan bahwa oleh Allah kita kini berada dalam Kristus Yesus, yang menjadi hikmat bagi kita. Dia adalah kebenaran, un-tuk masa lampau, pengudusan untuk masa sekarang, dan penebusan untuk masa kelak. Melalui pemberitaan Injil dan ministri firman Paulus, banyak orang telah ditanam ke dalam Kristus. Karena itu, Paulus dapat mengatakan bahwa ia menanam. Kemudian, Apolos datang menyirami apa yang telah ditanam Paulus. Walaupun Paulus menanam, dan Apolos menyiram, tetapi Allahlah yang menumbuhkan.
BAGAIMANA ALLAH MENUMBUHKAN MANUSIA
Sekarang kita harus bertanya, bagaimana Allah me-numbuhkan manusia. Dia menumbuhkan manusia dengan cara masuk ke dalam manusia. Semakin banyak Allah ber-tambah ke dalam kita, semakin banyak pula pertumbuhan kita. Seperti telah kita lihat, tanpa pertambahan Allah di dalam kita, tidak mungkin ada pertumbuhan. Pertumbuh-an Tubuh tergantung pada pertumbuhan Allah, pertambah-an Allah, dan perbanyakan Allah di batin kita. Jadi, Allah menumbuhkan melalui memberikan diri-Nya sendiri ke da-lam kita dengan cara yang sangat subyektif.
Karena Allah menumbuhkan secara demikian, maka kita perlu mengeluarkan waktu untuk menyerap Dia. Sebuah kidung yang terkenal menganjuri kita untuk “mengeluarkan waktu untuk menjadi kudus”. Sebenarnya keperluan kita ialah mengeluarkan waktu untuk menyerap Allah. Setiap hari kita mengeluarkan waktu untuk makan, setiap hari kita pun harus menyerap Tuhan, mengeluarkan waktu untuk menyerap kekayaan Kristus. Kontak kita dengan Tuhan tidak boleh tergesa-gesa. Jika kita tergesa-gesa, kita tidak mungkin dapat menyerap banyak kekayaan-Nya. Kita perlu mempunyai waktu cukup banyak untuk berdoa. Ini akan memungkinkan kita menyerap kekayaan Allah kita lebih banyak.
Seperti telah kita tunjukkan, Allah bukan sekadar satu istilah atau satu obyek penyembahan. Dia itu riil, kaya, dan sungguh; kita perlu menyerap Dia. Allah kita hari ini ada-lah Roh yang almuhit yang telah melalui proses dan kita memiliki satu roh untuk menyerap Dia. Karena itu, kita harus melatih roh kita untuk tinggal di hadirat-Nya untuk menyerap Dia. Hal ini memerlukan waktu. Walau kita se-mua telah mengalami menyerap kekayaan Allah, tetapi pengalaman kita belum memadai. Karena alasan inilah kita harus memakai lebih banyak waktu untuk menyerap Dia. Jangan memakai waktu begitu banyak dalam pikiran, emo-si, dan tekad Anda, tetapi pakailah lebih banyak waktu da-lam roh Anda untuk menyembah, memuji, bersyukur, dan berbicara kepada-Nya dengan leluasa. Ketika Anda berse-kutu demikian dengan-Nya, Anda akan menyerap kekaya-an-Nya, dan Dia akan menambahkan diri-Nya ke dalam Anda. Semakin banyak Allah menambahkan diri-Nya ke da-lam kita, semakin banyaklah pertumbuhan yang Ia berikan kepada kita. Inilah cara Allah menumbuhkan.
Hanya Allah yang dapat menumbuhkan. Dalam ministri saya yang dapat saya lakukan paling banyak hanya menanam atau menyiram. Saya tidak dapat menumbuhkan siapa pun, sebab saya tidak dapat memberikan Allah. Hanya Allah yang dapat memberikan diri-Nya kepada Anda. Tanpa Dia, kita tidak dapat bertumbuh. Allah sendiri adalah ma-kanan kita, dan kita perlu mencari Dia di meja makan-Nya, di mana kita harus mengeluarkan waktu untuk me-makan Dia pelan-pelan. Kemudian Ia akan menambahkan diri-Nya lebih banyak ke dalam kita. Penambahan Allah ke dalam kita ini berarti pertumbuhan yang Dia berikan. Allah menumbuhkan kita sebenarnya berarti Dia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita.
SATU ROH DENGAN TUHAN
Salah satu ayat yang terbesar dalam Alkitab, yaitu 1 Korintus 6:17 mengatakan, “Siapa yang mengikatkan diri-nya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Makna yang terkandung dalam ayat ini sangat ajaib dan mendalam se-kali. Sebagai kaum beriman, kita menjadi satu roh dengan Tuhan. Alangkah ajaib! Ini menyiratkan bahwa kita berada di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Ini juga menyiratkan kita dan Dia telah berbaur, bercampur secara organik, men-jadi satu dalam hayat. Menjadi satu roh dengan Tuhan me-nyiratkan bahwa kita dengan Dia merupakan satu wujud hidup. Kita tidak memiliki perkataan untuk menjelaskan makna ayat ini. Mengatakan kita adalah satu roh dengan Tuhan sama sekali tidak berarti kita menjadi Allah. Akan tetapi, ini benar-benar menyiratkan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani. Dalam kidung No. 382 tercatat, “Maha kudus, Mahainsan, dalam rohku jadi (berkat) bah’gia”. Men-jadi satu roh dengan Tuhan berarti kita bercampur secara organik dengan Dia dan berbaur dengan Dia dalam hayat. Kita benar-benar memerlukan lebih banyak pengalaman atas hal ini. Kita perlu selalu berakar di dalam Kristus dan me-nyerap segala apa ada-Nya ke dalam kita. Kemudian, kita dengan Dia, Dia dengan kita, akan berbaur bersama-sama dalam hayat secara organik menjadi satu roh. Alangkah da-lam! Alangkah ajaib!
Ketika kita menjadi satu roh dengan Tuhan, kita tidak dapat terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Dosa, dunia, Iblis, dan alam maut tidak ada hubungannya lagi dengan kita, sebab kita menjadi satu roh dengan Allah Tritunggal. Ini tidak boleh menjadi doktrin belaka. Dalam pengalaman kita, hal ini harus hidup dan organik. Bagian kita yang ro-hani, yaitu manusia batiniah kita, roh yang telah dilahir-kan kembali harus diluapi dengan Tuhan dan berbaur dengan Dia, dan membentuk satu wujud yang tunggal dan hidup. Ini akan mendatangkan pertumbuhan dan pembangunan.
PERTUMBUHAN DARI PEMBANGUNAN
Dalam Kitab Efesus Paulus juga mengatakan tentang pertumbuhan dan pembangunan. Dalam Efesus 2:21 dia berkata, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi ter-susun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” Ayat ini ditujukan kepada gereja universal. Dalam pandangan Allah, gereja universal merupakan satu bangunan. Bangun-an ini bertumbuh melalui menyerap kekayaan Kristus.
MENCAPAI KEDEWASAAN PENUH
Dalam Efesus 4:13 Paulus mengatakan tentang mencapai kedewasaan penuh, mencapai ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Tubuh Kristus adalah kepenuhan-Nya. Kepenuhan ini mempunyai satu perawakan, dan perawakan ini mempunyai satu ukuran. Jadi, kepenuhan Kristus ialah Tubuh Kristus, ekspresi-Nya. Kita mencapai ukuran pera-wakan kepenuhan Kristus melalui pertumbuhan dan pem-bangunan yang berasal dari makan Kristus. Ketika kita makan Kristus, maka lebih banyak Kristus bertambah ke dalam kita bagi pertumbuhan dan pembangunan. Akhirnya, kita akan memiliki perawakan kepenuhan Kristus. Pera-wakan ini adalah kedewasaan penuh dari manusia baru. Karena alasan inilah Paulus mengatakan mencapai kedewa-saan penuh.
BERTUMBUH DAN DIBANGUN
Dalam Efesus 4:15-16 Paulus berkata lebih lanjut, “Se-baliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di da-lam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah (da-lam) Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan mem-bangun dirinya dalam kasih.” Konsepsi di sini mirip dengan di Kolose 2:19. Kita harus berpegang kepada kebenaran di dalam kasih agar kita dapat bertumbuh dalam segala hal ke dalam Kepala dalam segala hal. Dari Sang Kepala yang di dalam-Nya kita bertumbuh itu kita mendapat makanan, seperti yang ditunjukkan oleh kata “pelayanan”. Lewat pe-layanan (suplai) yang berasal dari Kepala, Tubuh bertumbuh dan membangun dirinya di dalam kasih. Makna yang terkan-dung di sini sangat kaya. Penekanan yang tersirat dalam Efesus 4:15-16 ialah kita harus berakar di dalam Kristus dan menyerap makanan-Nya ke dalam diri kita untuk men-jadi unsur dan zat yang mempertumbuhkan dan memba-ngun kita.
Mula-mula kita bertumbuh secara individual, kemu-dian secara korporat. Pertumbuhan individual menjadi per-tumbuhan korporat. Jadi, tidak saja anggota-anggota diba-ngun secara individual, tetapi Tubuh pun dibangun secara korporat. Tubuh jasmani kita dapat menerangkan hal ini. Tubuh Anda dibangun melalui pertumbuhan dari tiap-tiap anggota secara individual. Jika anggota-anggota tidak ber-tumbuh, tubuh pun tidak dapat bertumbuh. Tanpa pertum-buhan, anggota-anggota tubuh tidak dapat membangun diri-nya sendiri. Bila demikian, Tubuh tidak mungkin dibangun secara keseluruhan. Sebab itu, pembangunan tubuh tergan-tung pada pembangunan individual anggota-anggota tubuh. Jika semua anggota bertumbuh dan membangun dirinya secara individual, Tubuh akan terbangun secara korporat.
Setelah sebuah gereja berdiri di suatu lokal sejangka waktu lamanya, mungkin terjadi gesekan di antara kaum saleh, bahkan di antara para pemimpin. Bagaimana gereja dapat terbangun jika terdapat gesekan seperti itu? Di sam-ping ada gesekan, harus pula ada pertumbuhan. Pertumbuh-an akan melenyapkan efek gesekan itu. Saya dapat bersaksi bahwa selama bertahun-tahun dalam hidup gereja, banyak sekali gesekan yang ditimbulkan oleh musuh. Tetapi per-tumbuhan di dalam Kristus telah menghapus segala gesek-an tersebut. Sebab itu, kita dapat bergembira bersama dan benar-benar bersatu. Kelemahan-kelemahan atau kekurang-an di antara kita telah ditutupi oleh kekayaan Kristus. Ke-mudian, kita bertumbuh baik secara individual maupun korporat. Inilah pembangunan gereja yang sejati. Pemba-ngunan gereja tergantung pada pembangunan anggota seca-ra individual. Tidak hanya demikian, pembangunan tiap-tiap anggota tergantung pada pertumbuhan mereka masing-masing, yang juga tergantung pada berakar di dalam Kristus dan menyerap kekayaan Kristus untuk menjadi unsur yang olehnya tiap-tiap anggota bertumbuh.