← Daftar isi Kristus dan Kekristenan · bab 1/4

KRISTUS BERLAWANAN DENGAN DOKTRIN-DOKTRIN

Kepercayaan kristiani kita berasal dari wahyu Allah, berbeda dengan agama-agama lain yang diperoleh melalui pemikiran, meditasi, terkaan, dan pencarian. Kita percaya bahwa Alkitab adalah wahyu Allah kepada kita. Dengan kata lain, Alkitab adalah perkataan yang Allah ucapkan kepada kita. Kita pun percaya bahwa Allah telah menjadi manusia, yaitu Yesus dari Nazaret. Allah, Alkitab, dan Yesus Kristus merupakan titik tolak kepercayaan kita.

KEDUDUKAN KRISTUS

Kita mulai dengan melihat kedudukan Kristus di dalam kepercayaan kita, atau dapat Anda katakan, kedudukan Kristus dalam kekristenan. Namun, keadaan kekristenan hari ini telah berubah dan tidak mencerminkan keadaan yang seharusnya. Pada saat ini kita tidak akan menyebutkan bagaimana seharusnya kekristenan itu. Sebaliknya kita akan membandingkan kekristenan dengan agama-agama lain, supaya kita dengan mudah melihat kekhasan kepercayaan kita. Saya juga tidak senang terlalu menjunjung tinggi kekristenan dan merendahkan agama-agama lain. Kita hanya membuat perbandingan obyektif di antara agama-agama tersebut.

Pertama, kita akan melihat aliran Kong Hu Cu. Sebenarnya, para pengikut Kong Hu Cu tidak pernah secara resmi dan tegas menyatakan bahwa alirannya adalah suatu agama. Aliran ini hanya menerima pengaruh besar dari kebudayaan, pendidikan, etika, dan filsafat bangsa China. Yang sangat jelas dalam aliran ini adalah pentingnya ajaran dan doktrin Kong Hu Cu, sedang persona (manusia) Kong Hu Cu tidak begitu penting. Saya tidak mengatakan bahwa pengikut aliran ini tidak menghormati Kong Hu Cu; Kong Hu Cu memang luar biasa. Tetapi jika seseorang ingin masuk dalam aliran ini, asal ia memahami doktrin-doktrin Kong Hu Cu, mematuhi pengajaran-pengajarannya, dan benar-benar mengenal buku-bukunya, sudahlah cukup; tidak peduli orang ini mengenal manusia Kong Hu Cu atau tidak. Filsafat-filsafat, doktrin-doktrin, dan pengajaran-pengajaran Kong Hu Cu adalah intisari kepercayaan ini.

Berikutnya, kita akan melihat agama Budha. Pendirinya adalah Sidharta Gautama. Dia memberitakan kepada muridnya tentang reinkarnasi, yaitu bagaimana kalau orang-orang jahat yang bereinkarnasi sesudah mati; dan ini sangat diperhatikan oleh orang-orang. Tetapi dalam agama Budha, semua yang diberitakan dan dititikberatkan adalah doktrindoktrin dan pengajaran-pengajaran. Tentang manusia Sidharta Gautama, meskipun ada sejarah dan riwayat hidupnya, hal itu tidak begitu penting, dan juga bukan inti agama Budha. Inti agama Budha bukan pada manusia Sidharta Gautama. Entah ada orang semacam itu atau tidak, tidaklah penting bagi agama Budha hari ini. Yang diperlukan adalah doktrin-doktrin dan pengajaran-pengajarannya.

Agama-agama lain, sama prinsipnya. Setelah masing-masing pendiri agama membentuk suatu agama dan meninggalkan pengajaran-pengajaran, doktrin-doktrin, dan peraturan-peraturannya sebagai isi agamanya, sang pendiri agama tersebut terlepas dari agamanya, dirinya tidak lagi ada hubungan dengan agama tersebut.

DIBANGUN DI ATAS DIRI KRISTUS

Tetapi kepercayaan kita, kekristenan, berbeda dengan yang lainnya. Sejak semula sampai hari ini, kekristenan dibangun di atas manusia Kristus, bukan di atas doktrin-doktrin dan pengajaran-pengajaran Kristus. Yang menakjubkan adalah ketika Anda membuka Alkitab, Anda tidak akan menemukan terlalu banyak pasal doktrin-doktrin. Kutipankutipan yang menjadi dasar pemaparan doktrin pun tidak banyak dan tidak begitu dititikberatkan. Yang menjadi pokok perhatian adalah Dia ini adalah orang yang bagaimana. Semua orang yang telah membaca Alkitab tahu bahwa pengajaran-pengajaran Yesus dari Nazaret tidak begitu banyak, tetapi persona-Nyalah yang menarik perhatian. Dia sendiri adalah dasar kepercayaan kekristenan.

Kata “Kristus” berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “Yang Diurapi”. Jika seseorang diberi suatu amanat, maka ia diberi suatu surat mandat. Menurut cara orang Yahudi, yang sebanding dengan hal itu adalah pengurapan. Bila Allah memanggil seseorang untuk bekerja, Ia mengurapi orang itu dengan minyak sebagai meterai penugasan. Kristus adalah Allah sendiri yang disisihkan untuk datang ke bumi, menjadi manusia untuk menyatakan Allah, agar manusia dapat mengenal Allah. Kristus adalah Yang Diurapi. Dia menerima suatu amanat untuk satu pekerjaan.

KRISTUS MENUNTUT ORANG PERCAYA KEPADA-NYA

Berdasarkan perbedaan yang mendasar itu, Kristus berbeda dengan pendiri-pendiri agama. Pernah Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku?” Berkali-kali Ia menuntut murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Kata-Nya, “orang yang percaya kepada Anak mempunyai hidup yang kekal”. Ia pun berkata, “Kasihilah Aku lebih dari pada ayahmu, ibumu, istrimu, dan anak-anakmu.”, “Yang tidak mengasihi-Ku seperti itu, ia tidak layak menjadi murid-Ku.” Perkataan semacam itu diucapkan hanya oleh Dia. Tidak ada pemimpin agama lainnya yang pernah berkata seperti itu. Kong Hu Cu tidak pernah berkata kepada Yen Weh atau Tze Lu, “Percayalah kepadaku”, atau “Kasihilah aku”. Yang lain pun, seperti Sidharta Gautama atau Muhammad, tidak pernah menuntut murid-muridnya percaya kepadanya; yang dituntut dari murid-murid mereka adalah percaya kepada ajaran mereka.

SOALNYA ADALAH SIAPA YESUS

Jadi, kepercayaan orang Kristen yang sejati dibangun di atas satu persona, yaitu di atas diri Kristus, bukan pada doktrin-doktrin. Inti kepercayaan sejati orang Kristen adalah soal siapa Yesus itu? Adakah Ia seorang Yahudi belaka? Adakah Ia hanya seorang nabi? Atau apakah Yesus Putra Allah yang hidup? Seluruh persoalannya tergantung pada siapakah Yesus dari Nazaret itu. Perbedaan di antara orang Kristen yang sejati dan orang Kristen palsu tidak terletak pada pengenalan doktrin-doktrin Kristus, melainkan terletak pada pengenalan atas diri Yesus!

MENCARI JAWABANNYA DARI DALAM ALKITAB

Siapakah orang Nazaret itu? Karena pertanyaan itu penting dan erat hubungannya dengan kepercayaan kita yang mendasar, kita harus menemukan jawabannya dari Alkitab. Kita akan melihat beberapa bagian Alkitab, khususnya melihat Injil Yohanes. Akan Anda temukan bahwa hanya Kristus sendiri yang merupakan pusat (inti) Alkitab dan fokus seluruh kekristenan.

Sebelum melihat Injil Yohanes, kita perlu melihat latar belakang kitab ini. Sebelum Kristus datang, Allah terlebih dulu mengutus seorang perintis untuk menyiapkan jalan bagi Kristus, agar manusia siap mengenal Kristus. Perintis itu adalah Yohanes Pembaptis. Karena pemberitaannya sangat kuat, banyak orang bertobat, maka banyak yang mengira dia adalah Kristus yang akan datang.

Tetapi Yohanes 1:8 mengatakan, “Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.” Terang di sini mengacu kepada Kristus. Mengapa Ia disebut terang? Karena terang mewahyukan dan menyatakan sesuatu. Yohanes bukan Kristus, ia hanya bersaksi tentang Kristus.

Tentang terang ini, ayat 9 mengatakan, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,” Dalam dunia gelap ini, kalau seseorang memiliki Kristus, ia akan tahu hal-hal tentang Allah. Bila terang ini menyorot, orang akan berkata, “Ini Allah, di sini ada Allah.”

Membaca sampai di sini kita masih belum tahu, siapakah terang itu. Bacalah ayat 10 sampai dengan ayat 15, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anakanak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

“Orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran.” Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Sudahkah Anda lihat, setelah membaca ayatayat tersebut di atas bahwa semua yang tercantum di sini adalah fakta-fakta aktual, dan bukan doktrin-doktrin.

ADANYA YESUS

Apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis tentang Kristus? Ia berkata, Dia datang setelah Aku. Namun Dia yang datang setelah aku telah mendahului aku. Mengapa? Karena Kristus memang ada sebelum dia ada. Inilah awal kesaksian Yohanes Pembaptis yang bersaksi kepada kita siapakah Yesus! Meskipun Ia datang setelah aku, tetapi Ia telah mendahului aku.

Yohanes 1:27 mengatakan, “yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Permulaan kekristenan dimulai dari khotbah Yohanes. Ia datang untuk memberi tahu orang-orang, siapakah Yesus dari Nazaret itu. Menurut Yohanes, Kristus tidak hanya sudah ada sebelum Yohanes, Ia pun jauh lebih besar daripada Yohanes, sedemikian besar sehingga ia tidak layak membuka tali kasut-Nya, menjadi budak-Nya pun tidak.

Yohanes 1:29, “Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, ‘Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.’” Ayat 30, “Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus, ia berkata, “Lihatlah! Inilah Dia!” Kitab Injil dimulai dengan menunjukkan kepada kita siapa Yesus.

DOKTRIN KELAHIRAN KEMBALI

Yang di atas adalah perkataan sang perintis, akan tetapi bagaimana dengan Kristus? Apa yang dikatakan-Nya? Kita akui bahwa di dalam kekristenan memang ada beberapa doktrin yang mendasar. Misalnya, kelahiran kembali, adalah sebuah kebenaran dasar dan penting. Beberapa lain juga membicarakan kelahiran kembali. Dalam pengajaran mereka, mereka mengajarkan, apa saja yang sudah berlaku, dianggap mati kemarin, dan apa yang akan datang dianggap dilahirkan kembali hari ini. Akan tetapi apa yang Yesus katakan tentang kelahiran kembali? Mari kita baca Yohanes 3.

“Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus.” Nikodemus adalah pejabat, ia pun seorang yang terpelajar dan berumur. Ia menemui Yesus untuk membahas suatu persoalan. Yesus mengemukakan soal kelahiran kembali kepadanya.

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Yesus memperlihatkan perkara dilahirkan kembali kepada Nikodemus, sambil memberi tahu dia bahwa dia perlu dilahirkan kembali. Begitu Nikodemus mendengar hal ini, ia bingung, bagaimana seorang yang sudah tua dapat dilahirkan kembali? Apakah itu berarti ia harus masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi? Yesus memberi tahu dia bahwa yang dimaksudkan-Nya bukanlah kelahiran dari daging, tetapi kelahiran dari roh. Kalau seorang tidak dilahirkan dari roh, sekalipun ia dapat masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan sekali lagi, apa yang dari daging tetap daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Lihatlah, hal ini adalah perkara yang sangat penting, adalah perkara yang paling dasar dalam kekristenan; tetapi dalam hal ini pun Yesus tidak memberitakan banyak doktrin, Ia hanya menyebutkan satu fakta yang sangat sederhana — dilahirkan kembali.

KELAHIRAN ULANG ADALAH PERCAYA

Tidak heran Nikodemus bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” Yesus memberi tahu dia bahwa hal ini adalah soal surgawi, bukan soal duniawi, itulah sebabnya mereka tidak dapat percaya! Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan kembali? “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”Sudahkah Anda melihat hal ini? Inilah dilahirkan kembali!

Yang Yesus maksudkan adalah bahwa kelahiran kembali bukanlah doktrin, melainkan percaya kepada-Nya. Dilahirkan kembali tidak lain percaya kepada-Nya. Kalau seseorang tidak percaya kepada-Nya, ia tidak dapat dilahirkan kembali. Setelah berkata begitu banyak, akhirnya segalanya kembali kepada “Dia”.

Menurut kita apakah kelahiran kembali? Kita mengira jika kemarin seseorang mencuri, dan hari ini ia mengembalikan curiannya kepada pemiliknya, itulah kelahiran kembali. Atau, jika kemarin berangan-angan memiliki gundik, dan sekarang tidak, maka itulah kelahiran kembali. Kita mengira asalkan kita berhenti berbuat apa yang buruk di masa lampau, menganggapnya mati, dan sejak saat itu berusaha berbuat baik, lalu kita sudah dilahirkan kembali. Namun itu pandangan manusia, bukan kelahiran ulang dalam kekristenan.

Cara Yesus adalah, apakah Anda percaya kepada-Ku atau tidak? Siapa yang percaya kepada-Ku, memiliki hidup yang kekal! Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Siapa yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman. Ini bukan doktrin, melainkan perkara persona, Dia; perkara hubungan antara Dia dan manusia.

KEPUASAN BUKAN KECUKUPAN

Selain kelahiran kembali, masih ada satu butir lain yang sangat penting, yaitu yang kita sebut kepuasan orang Kristen. Seorang Kristen yang sejati merasa bahwa harapannya telah terpenuhi, cita-citanya tercapai; maka ia tidak lagi kekurangan; ia sepenuhnya puas. Akan tetapi kepuasan ini sangat berbeda dengan kecukupan yang dibicarakan orang-orang pada umumnya. Merasa cukup adalah memandang segalanya secara optimistis, membiarkan segala sesuatu datang dan pergi semaunya, tanpa mencoba memaksakan sesuatu. Mungkin tidak begitu kaya atau tidak berkedudukan. Mungkin tidak begitu dihormati atau termasyhur. Akan tetapi, asalkan seseorang dapat hidup tenang (damai) dan tidak terganggu, itu sudah cukup! Itulah cukup/kecukupan, tetapi bukan puas/kepuasan. Kecukupan adalah suatu perasaan menerima untuk damai; sangat berbeda dengan kepuasan. Seseorang yang puas, merasa ia sudah memiliki yang dia inginkan dan tidak lagi ada suatu tuntutan.

YANG MINUM AIR INI AKAN HAUS LAGI

Ada cerita yang baik dalam Yohanes 4. Apa yang Yesus katakan kepada seorang perempuan Samaria di sana? “Siapa saja yang minum air ini akan haus lagi.” Kalau Anda menginginkan kemuliaan, kemasyhuran, kekayaan, kedudukan dunia dan lain-lain, Anda tidak akan pernah puas. Bila Anda memiliki sepuluh juta rupiah, Anda akan ingin memiliki seratus juta, dan jika Anda sudah memperoleh seratus juta, Anda mulai berpikir hendak mendapatkan satu milyar, tidak akan pernah terpuaskan. Karena yang minum air ini akan haus lagi.

Bagaimana supaya rasa haus Anda terleraikan? Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Satu fakta yang menakjubkan bahwa perkataan sedemikian tidak pernah diucapkan oleh Kong Hu Cu atau para pemimpin agama lainnya. Pengajaran Kong Hu Cu dan Meng Tse hanya menyuruh Anda pasrah, merasa cukup dan tinggal bersama kemelaratan Anda. Tetapi persona Kong Hu Cu atau Meng Tse tidak ada hubungannya dengan kepasrahan Anda. Namun, di sini persona Tuhan Yesus erat hubungannya dengan peleraian haus Anda.

Tentunya perempuan itu ingin minum air pelerai haus tersebut, maka ia minta Yesus memberikan air hidup itu. Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia akan memberikan kepadamu air hidup.”

Lihatlah, apakah Yesus memberitakan suatu doktrin di sini? Tidak. Tidak ada doktrin di sana. Yang dilakukan-Nya hanyalah menunjuk kepada diri-Nya: “Jikalau engkau tahu siapakah Dia, betapa baiknya ini. Jikalau engkau mengenal Dia, pasti engkau akan segera meminta kepada-Nya, dan Ia akan memberikan air hidup kepadamu, sehingga engkau tidak haus lagi, engkau akan terpuaskan selama-lamanya.” Sudahkah Anda nampak bahwa persoalannya adalah siapakah Yesus, orang Nazaret itu?

Perempuan Samaria itu bukanlah perempuan yang baik. Fakta ia pernah memiliki enam suami menunjukkan perempuan macam apa dia. Tentunya ia tidak puas dengan yang ini dan yang itu. Satu suami tidak dapat memuaskan dia, yang lain juga tidak dapat memuaskannya. Akibatnya ia berganti-ganti suami. Dari yang pertama, kedua, lalu ketiga, keempat, sampai suami yang keenam. Suatu hari ia pun keluar untuk menimba air, lambang dirinya sebagai seseorang yang minum air ini dan tetap haus. Dan ajaib sekali, pada hari itu, hidupnya berubah, ia dipuaskan! Apa yang dilakukannya? Ia tidak melakukan apa-apa! Pada hari itu ia tahu siapa Yesus orang Nazaret itu dan ia beroleh selamat. Mari kita lihat kembali proses ia mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya.

MENGENAL SIAPA DIA

Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi.” Karena Kristus memberi tahu dia segala sesuatu yang pernah dilakukannya, ia sadar bahwa ini pasti bukan manusia biasa. Ia pasti seorang nabi. Yesus berkata lebih banyak lagi kepadanya, untuk menunjukkan bahwa Ia bukan hanya seorang nabi. Dia berkata, “Percayalah kepada-Ku.” Perempuan itu berkata, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Bagaimana Yesus menjawabnya? Kata-Nya, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” Bagi orang berdosa, hal pertama yang perlu dikerjakannya bukanlah bertobat dan mengubah tingkah lakunya, tetapi mengenal siapa Yesus. Segalanya akan beres jika ia mengenal siapa Yesus.

Kemudian perempuan itu kembali ke kota dan memberi tahu orang-orang, “Mari, lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia itu Kristus?” Saya tidak suka kata “mungkinkah” di sini. Karena dia tahu bahwa orang itu adalah Kristus, mengapa mengatakan “mungkinkah”! Namun bagaimanapun juga ia telah percaya dan pergi memberi tahu orang bahwa Kristus telah datang! Anda dapat melihat dengan jelas bahwa kekristenan bukanlah doktrin melainkan seorang Kristus ini! Perhatian kita tidak ditujukan kepada doktrin, melainkan pada melihat siapakah Yesus! Begitu kita memiliki Tuhan Yesus, kita memiliki kepuasan sejati; kita akan dipenuhi dengan perasaan telah memiliki segalanya.

Kita akan melihat lagi Yohanes 5. Kelihatannya dalam pasal 5 Tuhan Yesus berbicara tentang doktrin. Akan tetapi, sebenarnya tidak ada uraian tentang doktrin, melainkan sebuah undangan untuk mengenal siapakah Yesus orang Nazaret itu. Ia mengatakan beberapa perkataan, tetapi perkataan itu membimbing kita percaya kepada-Nya. Tercantum pula di sini bahwa orang-orang Yahudi menyelidiki kitab suci. Tetapi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Kitab Suci bersaksi tentang Aku, semua perkataan di dalamnya ditujukan kepada-Ku. Memang penting mengenal Kitab Suci, tetapi lebih penting lagi mengenal siapa Yesus orang Nazaret itu. Bukan bertanya ajaran apa yang diajarkan-Nya, tetapi bertanya siapakah Dia?

AKULAH

Sampai Yohanes 6, soal ini menjadi lebih jelas. “Kata Yesus kepada mereka, ‘Akulah roti kehidupan; Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguh pun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.’” Ia tidak memberitakan doktrin, Ia hanya berkata, “Akulah . . .” Sudahkah Anda melihat yang tersirat di sini? Kalau saya berkata bahwa saya adalah roti hidup dan siapa saja yang makan aku tidak akan lapar lagi, tentu Anda akan berkata bahwa Tuan Nee adalah orang gila dari Shanghai. Para pemimpin agama pun hanya dapat memberikan doktrin kepada orang lain. Mereka tidak dapat memberikan diri mereka kepada orang lain, tetapi Yesus berbeda dengan mereka. Dia adalah roti hidup, Dia pun air pelerai haus untuk selamanya. Soalnya adalah ketidakpercayaan orang kepada-Nya. Bila orang percaya kepada-Nya, segala sesuatu akan beres.

“Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah (mengacu pada diri-Nya sendiri) roti yang turun dari Surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Inilah perkataan yang tidak dapat diucapkan oleh orang lain. Hanya Yesus yang dapat mengatakannya. Dia bukan orang gila atau pembohong. Yang dikatakan-Nya selalu mengacu kepada diri-Nya. Manusia ini adalah roti hidup. Siapa saja makan Dia tidak akan mati!

Jadi, dasar kepercayaan kekristenan kita adalah soal siapakah Yesus, orang Nazaret itu! Kita tidak meluangkan waktu untuk mempelajari ajaran-ajaran-Nya, tetapi kita perlu menjawab satu pertanyaan: Siapakah Dia? Yang Kristus umumkan terus menerus di bumi bukanlah doktrin-doktrin-Nya melainkan diri-Nya. Fokusnya bukanlah doktrin tetapi persona. Kalau menyinggung doktrin, kitab-kitab Kong Hu Cu dan Meng Tse penuh dengan filsafat, etika dan moralitas yang jauh lebih banyak daripada yang ada di Alkitab. Hanya ada satu soal: Siapakah Yesus dari Nazaret itu? Tahukah Anda? Siapakah Yesus dari Nazaret itu?

DIA ADALAH ROTI HIDUP

Mari kita lanjutkan membaca Yohanes 6:51, “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Lihatlah, perkataan-Nya makin lama makin istimewa. Perkataan-Nya, bahwa Dialah roti hidup yang telah turun dari surga, ini saja sudah cukup istimewa. Ia berkata pula bahwa siapa yang makan Dia tidak hanya tidak akan mati, tetapi akan hidup sampai selama-lamanya, betapa lebih istimewanya perkataan ini. Bahkan lebih lagi Ia berkata, bahwa roti yang diberikan-Nya adalah daging-Nya sendiri. Tidak heran orang-orang Yahudi pada saat itu berkata bahwa perkataan-Nya itu keras. Siapa yang dapat menerimanya? Tidak salah! Kita tidak pernah mendengar perkataan semacam itu sebelumnya. Kita tidak pernah mendengarnya dari Kong Hu Cu, Meng Tse, Lao Tse, Chuan Tse, atau tokoh lainnya. Kita tidak pernah mendengarnya di China atau di negara lainnya. Tidak ada orang yang pernah mengucapkan perkataan semacam itu.

Karena itu, setelah Kristus mengucapkan perkataan itu, dalam 6:52 dikatakan, “Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, ‘Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?’” Doktrin apa yang Yesus beritakan? Tidak ada. Yang dikatakan-Nya adalah memakan daging-Nya. Ayat 55 dan 56 mengatakan, “Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Anda dapat melihat bahwa yang ditekankan-Nya adalah diri-Nya sendiri, bukan seperangkat doktrin, melainkan makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Orang yang memakan dan meminum-Nya akan hidup selamanya.

DIA ADALAH AIR HIDUP

Pada Yohanes 7, tercatat, pada hari terakhir, pada puncak perayaan itu, Yesus juga mengatakan beberapa patah kata di depan orang-orang yang hadir dalam pesta itu. Ayat 37-38, “Pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru, ‘Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.’” Cobalah Anda bayangkan, jika pada salah satu hari perayaan yang meriah, saya, Watchman Nee, juga berdiri di tengah-tengah orang banyak dan berseru, “Siapa yang haus, datanglah kepadaku dan minum. Siapa yang percaya kepadaku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Apa yang akan Anda katakan? Tentu Anda akan berkata bahwa ini orang gila yang tidak mempunyai otak dari Shanghai, ia sedang kumat. Namun itulah yang justru dilakukan dan dikatakan Yesus. Benar-benar tidak ada doktrin, hanya ada persona Kristus.

Pada hari itu, setelah Yesus mengucapkan perkataan itu, timbullah suatu pertengkaran di antara orang-orang Yahudi. Beberapa orang berkata bahwa Ia pasti Kristus. Yang lain beralasan, bagaimana mungkin Kristus berasal dari Galilea? Untuk menjawab siapa sebenarnya orang ini, timbullah suatu perdebatan di antara orang-orang Yahudi. Perdebatan ini berkisar pada satu hal: Siapakah Yesus orang Nazaret itu? Orang Kristen sejati adalah orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus.

DIA ADALAH TERANG HIDUP

Selanjutnya dalam Yohanes 8:12, Yesus memberi tahu orang banyak, “Akulah Terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan.” Lihatlah, perkataan-Nya lagi-lagi tidak doktrinal, penekanannya di sini adalah “terang” dan “Aku”. Bukan dengan melaksanakan ajaran-ajaran-Nya yang membuat orang menjadi Kristen, melainkan suatu hubungan dengan Kristuslah yang membuat kita menjadi orang Kristen. Percaya kepada-Nya, baru mendapatkan terang hidup. Hanya dengan mendapatkan Dia, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan.

DIA DATANG DARI ATAS

Dalam 8:21-22, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: “‘Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.’ Karena itu, kata para pemuka Yahudi itu, ‘Apakah Ia mau bunuh diri maka dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?’” Orang-orang Yahudi bingung kembali. Di manakah tempat yang dituju-Nya, yang tak dapat kami datangi? Karena itu mereka berpikir, barangkali Ia hendak bunuh diri. Sebenarnya, jika tempat itu dapat dicapai dengan jalan bunuh diri, orang-orang Yahudi juga akan mencapainya dengan membunuh diri mereka. Mengapa Tuhan dapat pergi ke tempat yang tidak dapat mereka datangi? Ayat 23 mengatakan, lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Karena hal itulah ke mana Tuhan pergi mereka tidak dapat mengikuti-Nya.

PERCAYA ATAU TIDAK BAHWA AKULAH DIA

Mereka tidak mati di dalam dosa karena membunuh atau berzina. Ayat 24 sangat penting, khususnya bagian akhir, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Versi Mandarin mencantumkan kata “Kristus” setelah “Akulah”. Mari kita lihat perkataan dari bahasa aslinya. Tuhan berkata, “Kamu akan mati dalam dosamu, jika kamu tidak percaya Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Persoalannya adalah Anda percaya atau tidak bahwa Ia adalah. Apakah maksud kata-kata ini? Maksudnya, dari jutaan orang manusia, Anda dapat menunjuk satu orang yang percaya dan berkata, “Inilah Dia! Dialah Allah!” Kita akan melihat Yesus dari Nazaret, apakah Ia memang adalah! Kalau kita percaya bahwa Dia adalah, kita tidak akan mati dalam dosa kita. Banyak orang percaya dalam agama Kristen yang telah berubah/menyimpang, tetapi kita ingin percaya menurut kekristenan yang sebenarnya. Persoalan pertama yang harus kita ajukan adalah: Yesus dari Nazaret itu adalah atau tidak.

Sekali lagi orang-orang Yahudi mendebat dengan bertanya, “Siapakah engkau?” Jawab Yesus kepada mereka, sejak semula Aku telah memberi tahu kalian, ini bukan pertama kalinya Aku memberitahukan siapa Aku. Mengenai siapa Aku, tidak pernah Aku mundur atau kendur. Aku adalah, Aku adalah Dia. Setiap kali Ia membuktikan kepada orang lain bahwa Dia adalah; Dia adalah Putra Allah.

HAKIKI KEPERCAYAAN KITA

Untuk apakah Kristus bekerja? Membawa manusia percaya bahwa Dialah Putra Allah. Dalam Yohanes 9, Kristus mencelikkan mata seorang yang lahir buta. Orang-orang Farisi kembali berdebat tentang hal itu. Mereka mendatangi orang yang disembuhkan dan bertanya kepadanya berbagai pertanyaan. Setelah tidak dipuaskan oleh jawaban-jawabannya, mereka mengusir dia. Kemudian Tuhan menemui dia. Ia hanya menanyakan satu persoalan saja kepada orang yang disembuhkan itu, “‘Percayakah engkau kepada Anak Manusia?’ Jawabnya, ‘Siapakah Dia, Tuan? Supaya aku percaya kepada-Nya.’ Kata Yesus kepadanya, ‘Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!’ Katanya, ‘Aku percaya, Tuhan!’ Ia pun sujud menyembah-Nya.” Tidak ada yang lebih jelas daripada ini. Inilah pekerjaan Tuhan Yesus. Pekerjaan-Nya adalah membawa orang mengenal siapa Dia. Ia tidak pernah keluar dari fakta bahwa Ia adalah Putra Allah. Inilah dasar kepercayaan kita bahwa Yesus adalah Putra Allah.

HANYA SATU HAL INI

Kalau Anda membaca seluruh Injil Yohanes, Anda akan menemukan bahwa setiap bagian menyinggung satu hal ini: Yesus adalah Kristus. Dalam pasal 10, orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Persoalannya masih berkisar pada satu hal ini.

Bagaimana Yesus menjawab? Ia berkata: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya.” Ia berkata pula, “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” Setiap orang yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah, tidak percaya bahwa Ia adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, bukanlah orang Kristen. Orang-orang yang tidak mengenal Dia sebagai Putra Allah, tidak memiliki hayat Kristus di dalam mereka, mereka bukan domba-domba-Nya. Inilah dasar kepercayaan orang Kristen.

Dalam Yohanes 11, Yesus berkata lagi, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Lihatlah, dapatkah orang pada umumnya mengucapkan perkataan itu?

SEGALA SESUATU TERGANTUNG PADA DIRI-NYA

Dalam Yohanes 12 Yesus berseru, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Anda dapat melihat bahwa yang mengutus Dia tergantung pada diri-Nya. Percaya kepada-Nya berarti percaya kepada Dia yang telah mengutus-Nya. Melihat Dia berarti melihat Dia yang telah mengutus-Nya. Terang juga tergantung pada diri-Nya. Berada dalam terang adalah percaya kepada-Nya. Segala sesuatu tergantung pada diri-Nya.

Dalam pasal 14, Tuhan berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ia menginginkan kita percaya kepada-Nya seperti halnya kita percaya kepada Allah. Percaya kepada-Nya adalah satu perkara yang selalu dituntut-Nya.

Dalam pasal 15, Tuhan berkata tentang siapa yang membenci diri-Nya. Ia berkata, “Siapa saja yang membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku.” Sekali lagi Ia menegaskan bahwa Ia dan Bapa adalah satu.

TIDAK PERCAYA KEPADA-NYA ADALAH SATU DOSA YANG SERIUS

Dalam Yohanes 16, Tuhan berkata, suatu hari Roh Kudus akan datang dan Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Mengapa mereka bisa menyalahkan diri sendiri karena dosa? Keterangannya ada pada ayat 9, “Akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku.” Karena mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Ini adalah dosa, dosa yang sangat serius. Ketika Roh Kudus datang, Ia akan menginsafkan mereka, dan mereka akan menyadari betapa seriusnya dosa tidak percaya kepada Yesus sebagai Putra Allah.

Kita lihat lagi satu bagian dalam Injil Yohanes. Yohanes 17:3, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Di sini memperlihatkan kepada kita, apakah hidup yang kekal itu. Definisi Tuhan tentang hidup kekal adalah mengenal Allah, percaya kepada Allah yang kekal, dan percaya kepada Yesus Kristus, yang telah diutus-Nya, inilah hidup yang kekal. Hidup kekal terdapat pada diri-Nya.

Harapan saya, semoga kita semua telah mengenal siapakah Yesus dari Nazaret itu. Dalam kekristenan seharusnya tidak ada doktrin yang kosong, kekristenan dibangun di atas Yesus yang adalah Kristus, Putra Allah. Menerima Yesus Kristus berarti menerima Allah.