MINISTER SURGAWI DENGAN MINISTRI YANG LEBIH AGUNG
Sekarang baiklah kita melihat masalah pelayan (minister) surgawi dengan pelayanan (ministri) yang lebih agung. Sesudah kita memahami penjelasan tentang imamat rajani dan imamat ilahi Kristus dalam berita-berita terdahulu, tentunya kita telah diperlengkapi dan disiapkan untuk menerima berita ini. Kita telah nampak bahwa ministri imamat Kristus mempunyai dua bagian: bagian Harun yang di bumi dan bagian rajani dan ilahi yang di surga. Bukanlah suatu hal yang kecil bila kita dapat memahami dengan jelas masalah ministri imamat Kristus yang beraspek dua ini. Dengan pengenalan ini sebagai latar belakang, maka tidak lagi sukar bagi kita untuk memahami masalah minister surgawi dengan ministri yang lebih agung ini.
Namun sebelum kita membahas hal ini, terlebih dulu, saya ingin membicarakan lebih lanjut tentang perbandingan antara Surat Ibrani dengan Surat Roma. Dosa dan maut telah disinggung dalam Roma 5 dan 8. Roma 8:2 mengatakan bahwa di dalam Kristus Yesus, hukum Roh hayat telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut. Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, dan Roma 8:6 mengatakan bahwa pikiran yang ditaruh di atas daging adalah maut. Ketika kita tiba pada pertengahan dan akhir Roma 8, dosa dan maut tidak lagi disinggung, yang disinggung ialah keluh kesah, kesiaan-siaan, kebejatan, dan perhambaan; kesemuanya itu merupakan produk sampingan maut. Menang atas dosa dan maut adalah satu hal, sedang pembasmian terhadap setiap produk sampingan maut adalah hal lain, yang juga merupakan hal yang sangat penting.
Dari Roma 3-8 kita nampak adanya tiga langkah dalam keselamatan menurut ekonomi Allah: pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Pembenaran berkaitan dengan kebenaran (keadilan) Allah, pengudusan berkaitan dengan kekudusan Allah, dan pemuliaan berkaitan dengan kemuliaan Allah. Kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah, semua mempunyai tuntutan terhadap kita. Maka bila kita ingin beroleh selamat secara menyeluruh dan sempurna, kita perlu memenuhi ketiga tuntutan Allah tersebut. Pembenaran Allah memenuhi tuntutan kebenaran-Nya, pengudusan Allah memenuhi tuntutan kekudusan-Nya, dan pemuliaan Allah memenuhi tuntutan kemuliaan-Nya.
Keselamatan yang sesuai dengan ekonomi Allah tidak hanya membenarkan dan menguduskan kita, tetapi juga memuliakan kita. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, dimuliakan berarti seluruh diri kita dijenuhi dengan imamat ilahi Kristus. Bila seluruh diri kita telah dijenuhi dan dipenuhi imamat ilahi-Nya, itulah pemuliaan kita, yaitu tahap terakhir keselamatan Allah. Pada saat itu kita akan menikmati hak keputraan dengan sepenuhnya, yang rampung dengan penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Pemuliaan bukan menyelamatkan kita dari dosa atau maut, melainkan dari produk sampingan maut: keluh kesah, kesiaan-siaan, kebejatan, perhambaan, dan kerusakan. Produk sampingan maut itu membuat kita perlu diselamatkan dengan sempurna, dan Kristus sanggup melakukannya. Keselamatan yang sempurna tidak hanya menyelamatkan kita dari dosa dan maut, bahkan mengikis dan menelan semua produk sampingan maut. Bila semua produk sampingan maut telah tertelan habis, itulah saatnya anak-anak Allah dinyatakan dalam kemuliaan (Rm. 8:19). Saat itu tidak saja anak-anak Allah, tetapi seluruh makhluk ciptaan akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan dan kesiaan-kesiaan, masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan (Rm. 8:21). Setelah kita diselamatkan dengan sempurna seperti ini, kita akan dibawa ke dalam kesempurnaan. Inilah makna pemuliaan yang sebenarnya.
Roma 8:30 mengatakan, “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Dari ayat ini kita nampak bahwa pemuliaan merupakan akhir keselamatan. Pemuliaan ini adalah definisi Ibrani 7:25, yang mengatakan bahwa Kristus sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna. Jadi, diselamatkan dengan sempurna ialah dimuliakan, dan dimuliakan berarti diselamatkan dari semua produk sampingan maut. Pada masa pemuliaan, setiap keluh kesah, perbudakan, kekangan, kesia-siaan, kebejatan, atau kerusakan sudah tidak ada lagi. Siapakah yang sedang melakukan usaha keselamatan yang sempurna ini? Melkisedek kita, Imam Besar yang rajani dan ilahi.
Dalam Alkitab hanya terdapat dua ayat, Ibrani 7:25 dan Roma 8:34, yang memberi tahu kita secara berpadanan satu sama lain bahwa Kristus kini sedang berdoa syafaat bagi kita. Menurut Roma 8 doa syafaat Kristus bukan ditujukan kepada pembenaran orang dosa yang kasihan (masalah pembenaran tercantum dalam Roma 4), melainkan untuk kita, yaitu agar kita dimuliakan. Ini sepadan dengan doa syafaat dalam Ibrani 7:25, sebab di situ pun Kristus berdoa syafaat bagi kita, agar kita diselamatkan dengan sempurna. Beroleh selamat dengan sempurna sama dengan dimuliakan. Jadi kedua pasal tersebut membicarakan hal yang sama. Tanpa Ibrani 7, tidak mungkin kita memahami bahwa Kristus yang berdoa syafaat adalah Imam Besar yang rajani dan ilahi. Tanpa Ibrani 7, kita akan mengira bahwa Kristus yang berdoa syafaat dalam Roma 8 hanya sebagai Juruselamat. Namun kini kita tahu, Kristus yang berdoa syafaat ini bukan hanya seorang Juruselamat, Ia pun Imam Besar yang rajani dan ilahi, seorang Minister surgawi. Kini kita tahu bahwa Minister surgawi ini tidak lain adalah Melkisedek kita.
Ministri Melkisedek bukanlah menyelamatkan orang dosa. Bila Anda masih sebagai orang dosa, Anda tentu perlu ministri Kristus seperti yang dilambangkan oleh Harun. Namun kita sekarang tidak lagi sebagai orang dosa yang kasihan, kita adalah pejuang-pejuang yang memerangi setiap produk sampingan maut. Kedorlaomer yang dibunuh Abraham bukan mewakili dosa, melainkan mewakili produk sampingan maut. Ketika Abraham mendengar kabar Lot tertawan, itu berarti ia tertawan oleh produk sampingan maut. Setiap penatua gereja seharusnya menjadi penatua yang membunuh musuh. Ketika para penatua datang ke dalam sidang dan melihat banyak saudara saudari yang terkasih tertawan oleh Kedorlaomer, mereka harus membunuh raja itu. Jangan menegur atau menyalahkan saudara saudari yang tertawan, tetapi bunuhlah Kedorlaomer itu, yaitu produk sampingan maut, yang membelenggu saudara saudari. Kalau Anda berbuat demikian, Melkisedek kita pasti datang dan Anda akan menikmati suplaian-Nya.
Banyak orang Kristen tidak mengerti Ibrani 7-8, karena mereka selalu berada pada kedudukan orang dosa yang kasihan. Hampir tidak seorang pun di antara mereka yang menjadi Abraham, si pembunuh musuh itu. Kita harus membunuh semua produk sampingan maut yang disebut dalam Roma 8, yakni keluh kesah, kesia-siaan, perbudakan, kekangan, kebejatan, dan kerusakan. Bagaimanakah kita dapat memberantas produk sampingan maut itu? Melalui doa syafaat Imam Besar kita. Ketika kita memberantas Ke dorlaomer dan semua produk sampingan maut, Ia akan berdoa syafaat bagi kita. Inilah ministri Imam Besar kita, Minister surgawi hari ini.
Dalam hal peperangan antara orang Israel dengan orang Amalek, kita dapat melihat sebuah lukisan ministri syafaat itu (Kel. 17:8-13). Musa mengangkat tangannya (berdoa) di puncak gunung, sedangkan Yosua berperang di tengah-tengah medan pertempuran. Ketika Musa sedang berdoa, maka Yosua membunuh musuh. Begitu pula, saya percaya, ketika Abraham membunuhi raja-raja itu, Melkisedek pun sedang mendoakannya. Ketika kita memberantas semua produk sampingan maut, Kristus, Minister surgawi kita dengan ministri-Nya yang lebih agung, berdoa syafaat bagi kita di surga.
Apakah ministri Kristus yang lebih agung hari ini? Berdoa syafaat bagi setiap pejuang. Doa syafaat Kristus seperti sebuah motor yang sangat kuat, yang menggerakkan mesin sehingga mesin dapat bergerak (hidup). Bagaimana kekuatan itu dapat terbawa ke dalam mesin? Melalui motor itu. Sewaktu motor berputar, maka tenaga pun mengalir ke dalam mesin. Begitu pula, Kristus, Jurusyafaat yang di surga sedang menyalurkan kekuatan surgawi ke dalam kita.
Perhatikan lagi kasus Abraham mengalahkan raja-raja. Misalkan, Anda adalah Abraham, begitu mendengar kabar Lot tertawan, apa yang akan Anda perbuat? Kalau hal itu terjadi atas diri kita, mungkin kita akan ketakutan setengah mati, dan kita pasti cepat-cepat masuk ke dalam kemah sambil berdoa, “O Tuhan, belas kasihanilah kami dan lindungi kami. Jangan biarkan raja-raja itu datang ke sini.” Namun, begitu Abraham mendengar kabar itu, ia seolah-olah berkata, “Apa? Mereka menawan saudaraku, Lot! Aku tidak peduli mereka mempunyai berapa banyak laskar, aku punya Allah yang Mahatinggi. Aku akan memerangi mereka dan menolong Lot.” Abraham beserta tiga ratus delapan belas orangnya berani melawan mereka, karena mereka telah dikuatkan oleh doa syafaat Melkisedek. Mereka diperkuat oleh suatu motor universal yang surgawi. Sewaktu Melkisedek menyambut Abraham dan memberkatinya, ia berkata, “Terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu” (Kej. 14:19b-20). Dengan perkataan lain, Melkisedek memberi tahu Abraham bahwa kemenangannya adalah berkat doa syafaatnya kepada Allah Yang Mahatinggi.
Kita perlu memiliki visi yang lebih tinggi tentang ministri yang lebih agung. Ministri ini bukan ministri yang rendah bagi orang dosa yang kasihan, melainkan suatu ministri yang tinggi yang ditujukan bagi pejuang-pejuang Allah yang menang, yaitu bagi keturunan Abraham yang sejati. Imamat ini bukanlah yang kita dapatkan dalam Kitab Imamat, tetapi kelanjutan imamat yang kita miliki dalam Kejadian 14.
Tuhan telah menyingkapkan firman-Nya kepada kita, agar kita dapat menjadi pejuang-pejuang seperti Abraham dan ketiga ratus delapan belas orangnya itu. Kita perlu berperang, yaitu memberantas setiap produk sampingan maut. Jangan lagi kita berpegang pada pandangan obyektif, yang mengira setelah melewati beberapa saat, kita semua akan dimuliakan dan setiap anak-anak Allah akan dinyatakan serta dibawa ke dalam kemerdekaan kemuliaan itu. Dalam Roma 8 kita nampak doa syafaat Kristus di surga, juga keluhan di alam semesta. Seluruh makhluk ciptaan sedang mengeluh karena ingin beroleh kemerdekaan, mereka mengeluh ingin terlepas dari gangguan produk sampingan maut. Demikianlah situasi pada hari ini: ada Melkisedek yang mendoakan kita di surga dan keluhan di alam semesta. Hari ini Allah harus mendapatkan sekelompok manusia di bumi, untuk menjadi “mesin” penggerak-Nya, yang membawakan kemerdekaan kemuliaan itu. Siapakah orang-orang yang akan dipakai Allah untuk mendatangkan pemuliaan tersebut? Kita!
Kemerdekaan kemuliaan ini harus didatangkan lebih dulu ke dalam diri kita. Ini dilakukan melalui doa syafaat Melkisedek. Motor dalam surga tingkat ketiga telah menggerakkan mesin di bumi, dan membuat roh kita berbunyi: pum, pum, pum. Kadang-kadang transmisi energi Tuhan dari motor di surga itu begitu kuat, sehingga saya hampir tidak dapat menahannya. Setiap kali saya berlutut berdoa dalam kamar, saya selalu merasa ada getaran pum, pum, pum dalam batin; inilah kekuatan atau energi dari doa syafaat Tuhan. Biarlah para agamawan menunggu dan melihat apa akibat dari kekuatan yang terpancar dari motor surgawi ini. Jangan mengira pemulihan Tuhan hanya pekerjaan kekristenan. Tidak, ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh pum, pum, pum yang kekuatannya berasal dari dinamo surgawi yang mengalir ke dalam kita. Setiap kali kita berdoa untuk pemulihan Tuhan, kita mempunyai suatu perasaan yang mendalam, yaitu doa syafaat Tuhan sedang menyuplaikan kekuatan ke dalam batin kita. Inilah sebabnya kita, mitra (teman sekutu) Tuhan dalam pemulihanNya, adalah orang-orang Kristen yang paling agresif di bumi ini. Ministri surgawi Kristus bukan untuk memperhatikan orang dosa yang kasihan, melainkan suatu ministri yang lebih agung, guna melaksanakan ekonomi Allah.
Saya yakin sepenuhnya bahwa Minister surgawi ini sedang menunaikan ministri-Nya bagi kita. Sering kali ketika saya menulis catatan untuk Versi pemulihan Surat Ibrani, arus listrik surgawi mengalir ke bolpoin saya, sehingga saya terus beroleh visi baru atas hal-hal yang tercantum dalam Alkitab. Walaupun Alkitab telah ada di bumi ini berabad-abad lamanya, namun sedikit sekali orang Kristen yang nampak hal-hal yang kita nampak hari ini. Apakah kita lebih pintar daripada mereka? Tidak. Kita bisa nampak semuanya karena doa syafaat Minister surgawi. Inilah sebabnya berita yang kita sampaikan selalu berlainan dengan yang terdapat dalam agama Kristen hari ini. Bila saya menahan apa yang Tuhan perlihatkan dan lakukan di dalam saya, saya pasti akan meledak. Maka mau tak mau saya harus memberi tahu umat Allah tentang ministri surgawi-Nya ini. Saya telah nampak imamat Tuhan yang rajani, dan saya tahu benar bahwa Ia sedang berdoa syafaat bagi kita serta menyuplai kita. Kita memiliki Minister surgawi dengan ministri-Nya yang lebih agung.
I. MINISTER SURGAWI
A. Imam Besar yang Duduk di atas Takhta yang Mahabesar di Surga
Ibrani 8:1 mengatakan bahwa kita mempunyai seorang “Imam Besar yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga.” Inilah Kristus yang surgawi, yaitu Imam Besar yang rajani dan ilahi, dan juga Melkisedek kita hari ini. Imam Besar kita hari ini bukan berdiri di bumi melakukan pekerjaan penebusan, melainkan duduk di atas takhta Yang Mahabesar di surga. Ia sedang duduk di sana, membuktikan bahwa Ia telah merampungkan pekerjaan penebusan, dan kini Ia sedang berada di dalam kemuliaan Yang Mahabesar di surga, sambil berdoa syafaat dengan tenang bagi kesempurnaan umat tebusan-Nya. Ini bukan pekerjaan imamat Harun, melainkan pelayanan imamat Kristus yang rajani dan ilahi. Ia kini bukan sebagai Harun yang berdiri menunaikan tugasnya di bumi, melainkan Melkisedek yang duduk di surga, bahkan bertakhta bersama Allah Yang Mahabesar itu.
B. Melayani di Dalam Kemah Sejati di Surga yang Berhubungan dengan Roh Kita
Dalam ekonomi Allah ada tiga hal yang selalu berhubungan: kemah (atau tempat kudus), imamat, dan hukum Taurat. Ketiga hal ini adalah satu, dan digabungkan untuk menggenapkan ekonomi Allah. Sejak zaman Perjanjian Lama tidak seorang pun dapat memisahkan ketiga hal ini. Demikian pula hari ini. Kita mempunyai tempat kudus (kemah sejati) yang ada di surga juga di dalam roh kita; imamat, dan hukum hayat yang lebih baik. Tempat kudus, imamat, maupun hukum yang kita nikmati hari ini jauh lebih indah daripada tempat kudus yang lama, imamat yang lama, dan hukum yang lama. Hal-hal yang lama itu hanya merupakan bayang-bayang, namun ketiga benda yang baru yang kita nikmati hari ini, adalah realitas dari bayang-bayang itu.
Ibrani 8:2 mengatakan bahwa Kristus “melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia”. Kristus melayani di dalam kemah sejati di surga yang berhubungan dengan roh kita. Sebagai Imam Besar di surga, Kristus membawa kita masuk ke surga, yaitu dari pelataran luar yang bumiah ke dalam tempat maha kudus yang surgawi yang berhubungan dengan roh kita oleh Dia sebagai tangga surgawi (Kej. 28:12; Yoh. 1:51). Jadi, kalau imam yang di bumi melayani bayangan (Ibr. 8:5), maka Minister di surga melayani realitasnya. Apa saja yang dilakukan para imam di bumi dalam Perjanjian Lama hanyalah suatu bayang-bayang dari hal sejati yang akan datang. Pekerjaan mereka di bumi ini tidak menghasilkan apa-apa. Apa yang mereka lakukan di bumi hanya melayani bayangan dari realitas tersebut. Namun, setiap hal yang dilakukan Minister Perjanjian Baru di surga ini ialah realitasnya. Dalam penyaluran ilahi Allah, ministri-Nya yang lebih agung di surga melayani realitas hal-hal surgawi.
II. MINISTRI YANG LEBIH AGUNG
Ministri para imam dalam Perjanjian Lama di bumi ini baik, akan tetapi ministri Kristus, Imam Besar kita, di surga, dalam Perjanjian Baru adalah lebih agung. Ministri-Nya lebih agung dalam beberapa aspek berikut ini:
A. Sebagai Pengantara Perjanjian yang Lebih Mulia yang Didirikan di atas Janji yang Lebih Mulia
1. Pengantara
Dalam imamat hari ini kita mempunyai seorang Pengantara, yaitu yang menengahi Allah dengan kita. Pengantara ini juga adalah Pelaksana, yang melaksanakan wasiat atau perjanjian tersebut. Kristus sebagai Pengantara adalah Pelaksana perjanjian yang baru dalam kebangkitan, yaitu untuk melaksanakan setiap wasiat yang Dia wariskan kepada kita melalui kematian-Nya.
2. Perjanjian yang Lebih Mulia
Perjanjian yang didirikan dan diberikan Kristus kepada kita sebagai wasiat adalah suatu perjanjian yang lebih mulia. Perjanjian yang lebih mulia ini bukan hanya dibuat berdasarkan janji yang lebih baik dari suatu hukum yang lebih baik, hukum hayat yang batiniah (8:10-12), melainkan juga telah dirampungkan dengan persembahan-persembahan Kristus yang lebih baik (9:23), yang merampungkan suatu penebusan yang kekal bagi kita (9:12), dan dengan darah Kristus yang lebih baik, yang menyucikan hati nurani kita (9:14). Bahkan lebih dari itu, Imam Besar dari perjanjian yang lebih baik ini, Putra kekal dari Allah yang hidup ini, melayani dengan suatu ministri yang jauh lebih agung (8:6) dan di dalam kemah yang lebih besar dan lebih sempurna (9:11).
3. Janji yang Lebih Baik
Perjanjian yang lebih baik ini diberlakukan berdasarkan janji yang lebih baik (8:6). Semua janji yang lebih baik yang diberikan dalam Yeremia 31:31-34, kemudian dikutip dalam Ibrani 8:8-12 dan 10:16-17, membicarakan dua hal: pengampunan dosa dan hukum hayat. Dalam Perjanjian Lama tidak ada pengampunan dosa, hanya ada penutupan dosa saja. Dalam Perjanjian Baru, dosa-dosa kita bukan hanya ditutupi, lebih-lebih diampuni. Dalam Perjanjian Baru hari ini kita mempunyai hukum hayat, bukan lagi hukum yang tertulis.
B. Merampungkan Perjanjian yang Lebih Baik
1. Mengefektifkan Fakta Perjanjian Baru
Sebagai Minister surgawi kita dengan ministri yang lebih agung, Kristus telah merampungkan perjanjian yang lebih baik. Ia berbuat demikian dengan mengefektifkan fakta Perjanjian Baru ini. Seperti akan kita lihat kemudian, setiap fakta dalam Perjanjian Baru ini diefektifkan oleh Minister surgawi dengan ministri-Nya yang lebih agung itu.
2. Melaksanakan Wasiat dalam Perjanjian Baru
Kristus, Minister surgawi ini juga melaksanakan wasiat Perjanjian Baru. Setiap fakta dalam Perjanjian Baru merupakan warisan dalam wasiat. Apakah perbedaan antara fakta dengan warisan? Fakta mengacu kepada hal-hal tertentu yang telah rampung, namun belum ditetapkan sebagai warisan. Setelah diwasiatkan, fakta itu segera menjadi wasiat atau warisan yang kita terima. Inilah perbedaan antara perjanjian dengan wasiat. Setiap hal yang tercantum dalam perjanjian adalah fakta, tetapi yang tercantum dalam wasiat adalah warisan. Semua fakta yang dahulu di dalam perjanjian, kini di dalam wasiat telah ditetapkan menjadi warisan yang sah bagi kita. Dalam Perjanjian Baru ada empat fakta yang kini telah menjadi warisan di dalam perjanjian (wasiat) yang baru: pendamaian terhadap ketidakbenaran dan pengampunan dosa; pemberian hukum hayat; mendapatkan Allah sebagai berkat serta menjadi umat-Nya; dan kemampuan batini untuk mengenal Tuhan. Keempat hal ini akan kita bahas lebih teliti dalam berita berikutnya.