Daftar isi Dua Belas Bakul (5) · bab 9/12

Harus Berjaga-jaga dan Waspada

Pembacaan Alkitab:

Matius 22:23-29; 1 Tesalonika 5:6

Pada suatu hari datanglah kepada Tuhan Yesus beberapa orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa mengatakan bahwa jika seseorang mati tanpa meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan istrinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristrikan dia.” Kalau kita yang ditanya dengan pertanyaan demikian, tentu kita akan merasa aneh, karena jarang ada pertanyaan demikian. Mana mungkin pernah terjadi di suatu tempat ada tujuh orang kakak beradik, berturut-turut memperistrikan seorang perempuan yang sama, kemudian ketujuhnya mati semua tanpa meninggalkan anak. Pertanyaan ini sungguh tidak masuk akal. Beberapa orang Saduki itu sebetulnya hanya bermaksud mempersulit Tuhan Yesus, mereka ingin meruntuhkan kebenaran tentang kebangkitan. Namun Alkitab memperlihatkan kepada kita, kalaupun ada kejadian yang demikian aneh, itu pun dapat mempersulit Tuhan. Dengan tegas Tuhan menjawab pertanyaan mereka, “Kamu salah! Sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!” (Tl.). Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka sudah salah! Orang-orang Saduki itu salah! Pendapat mereka salah! Pertanyaan mereka juga salah! Mengapa mereka bisa mempunyai pikiran yang bukan-bukan, dan dengan sok pintar mengeluarkan pertanyaan yang aneh itu? Mengapa mereka tidak percaya akan kebangkitan? Mengapa mereka salah? Tuhan dengan tegas menunjukkan “Sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”

Dalam pembahasan ini, kita tidak ingin mengartikan ayat-ayat tadi, tetapi kita ingin menemukan suatu prinsip yang sangat penting bagi kita. Meskipun di sini dibicarakan kesalahan orang-orang Saduki, namun di sini juga diungkapkan pengenalan yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang Kristen. Meskipun seseorang telah percaya kepada Tuhan, namun dirinya masih bisa salah. Ada dua penyebab utama seseorang bisa salah, dan meskipun sudah salah tetapi tidak merasakan kesalahannya, yaitu:

1. tidak mengerti Kitab Suci,

2. tidak mengenal kuasa Allah.

Dua Timotius 3:16-17 mengatakan, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Tidak ada orang Kristen yang baik dan yang mencari perkenan Tuhan, yang tidak mengerti firman Allah. Hari ini Allah berfirman kepada kita berdasarkan firman-Nya yang telah tertulis di dalam Alkitab. Boleh dikatakan bahwa kehendak Allah, maksud hati Allah, apa yang berkenan kepada-Nya, apa yang tidak berkenan kepada-Nya, telah diberitahukan kepada kita dengan jelas melalui Alkitab. Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Jika kita tidak ingin tersesat atau terjatuh sewaktu menempuh perjalanan rohani ini, kita perlu terang firman Allah. Kita harus menurut Alkitab, barulah kita tidak akan tersesat. Mazmur 119:11 mengatakan, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau”. Jika kita ingin menjadi orang yang tidak berdosa kepada Allah, hanya ada satu jalan, yaitu menaruh firman Tuhan dengan penuh kelimpahan di dalam hati kita. Jika anak-anak Allah mau mengeluarkan waktu dan dengan baik-baik membaca Alkitab, menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya petunjuk jalan, bersamaan dengan itu bersikap takwa dan hormat kepada firman Allah, mereka pasti akan terhindar dari segala kesalahan yang ekstrem.

Hari ini, kita tidak saja memiliki Alkitab juga memiliki Roh Kudus di dalam kita. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah telah menaruh hukum-Nya di dalam kita. Inilah yang dikatakan “Hukum Roh Hayat” dalam Roma 8:2; dan yang disebut “Pengurapan” dalam 1 Yohanes 2:27, pengurapan ini mengajar kita tentang segala sesuatu. Jika kita tidak memadamkan gerakan Roh Kudus dan mau belajar menurut pengajaran pengurapan yang ada di dalam kita, kita pasti tidak akan terjerumus ke dalam kesalahan. Banyak kesalahan terjadi di antara anak-anak Allah disebabkan mereka tidak mengerti Alkitab dan tidak mengerti kuasa Allah. Seperti yang terjadi di beberapa tempat, banyak anak Allah yang sangat mementingkan mujizat dan tanda ajaib, mereka khusus memberitakan hal itu dan banyak pula orang yang senang mendengar pemberitaan semacam itu. Ada lagi anak-anak Allah yang selalu memperhatikan apa yang dikatakan penglihatan dan mimpi. Mereka mengajar orang dengan itu, sedang dirinya sendiri seolah-olah adalah nabi besar yang diutus Allah. Orang-orang itu kadang-kadang juga memiliki kekuatan yang melebihi orang awam, yang bisa menunjukkan perkara-perkara tersembunyi dari orang. Karena itu, tidak sedikit anak-anak Allah yang masih hijau tertarik dan sungguh-sungguh menganggap mereka nabi besar. Banyak pula anak-anak Allah yang tertarik kepada karunia berbahasa lidah. Mereka tertarik demikian hebatnya sehingga melupakan perkara menuntut pertumbuhan hayat yang sebenarnya jauh lebih berharga dan berfaedah daripada berbahasa lidah itu. Banyak anak Allah karena hal-hal itu nyaris tertipu oleh muslihat roh jahat. Ada lagi anak-anak Allah yang entah berdasarkan ayat Alkitab yang mana mengajar orang berdoa dengan cara yang unik, yaitu berdoa hanya dengan satu perkataan, diucapkan berpuluh-puluh kali, terus diulang-ulang begitu saja. Bahkan ada orang yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus telah datang untuk kali kedua; ada pula yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang pada hari anu, bulan anu, dan tahun anu; dan sebagainya. Saudara saudari, bila kita memeriksa Alkitab baik-baik, kita akan tahu bahwa keadaan-keadaan seperti di atas itu ada penyakitnya. Di bawah ini kita akan melihat perkara-perkara itu satu demi satu secara ringkas.

MASALAH MUJIZAT DAN TANDA AJAIB

Kita percaya adanya mujizat dan tanda ajaib. Kita percaya Tuhan Yesus dapat menyembuhkan penyakit dan mengusir setan. Bagi Tuhan Yesus, Anak Allah, melakukan mujizat dan tanda ajaib adalah hal biasa. Ia adalah Allah pencipta alam semesta, maka menyembuhkan penyakit dan mengusir setan, bagi-Nya adalah perkara yang sangat kecil. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, ketika ada orang datang mencobai-Nya, meminta agar Ia mengadakan tanda ajaib, Tuhan sama sekali tidak menuruti permintaan mereka (Mat. 16:1-4). Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Ketika Tuhan berada di bumi, Ia sering menyembuhkan penyakit, Ia sering pula berpesan kepada orang-orang yang telah disembuhkan itu supaya jangan menyiarkannya (Mat. 8:4; Mrk. 5:43; 7:36). Sebab Tuhan tidak menghendaki orang mengikuti Dia karena perasaan yang tertarik oleh keajaiban. Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Lima ribu orang telah tampak tanda ajaib Tuhan yang dikisahkan dalam Yohanes 6, mereka sudah makan roti dan ikan yang dibuat Tuhan secara ajaib itu, tetapi akhirnya mereka tetap meninggalkan Tuhan. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, bukanlah berdasarkan perbuatan mujizat atau tanda ajaib yang di luar itu, tetapi berdasarkan firman Allah dan wahyu Roh Kudus.

Kita juga percaya bahwa ketujuh puluh murid Tuhan itu dapat membuat setan takluk kepada mereka (Luk. 10:17). Kita percaya Petrus, Yohanes, Stefanus, Paulus dan lainlainnya bisa mengadakan perbuatan mujizat dan tanda ajaib, bisa menyembuhkan penyakit dan mengusir setan (Kis. 3:2-8; 6:8; 9:36-41; 14:8-18; 16:16-18; 28:1-6). Kita pun percaya apa yang dikatakan dalam Injil Markus 16:17, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya.” Namun dilihat dari teladan dalam Alkitab, tidak sepatutnyalah kita menggunakan perbuatan mujizat atau tanda ajaib sebagai propaganda untuk menarik orang datang kepada Tuhan. Perkara-perkara itu bukanlah inti dari keselamatan Allah, maka tidak seharusnya menduduki tempat terlalu besar. Hanya nama Tuhan yang patut kita junjung tinggi.

Karena itu, jika ada orang yang khusus menuntut perbuatan mujizat dan khusus memberitakan tanda ajaib, itu tidaklah sesuai dengan firman Allah. Orang yang demikian mudah sekali terpedaya dan disesatkan oleh Iblis, nabi palsu dan kristus palsu yang juga bisa mengadakan mujizat dan tanda ajaib yang besar (Mat. 24:24; Mrk. 13:22; 2 Tes. 2:9-12). Karena itu saudara saudari, hendaklah kita memiliki pengenalan yang tepat terhadap kuasa Allah, jangan sekali-kali menghadapinya dengan perasaan yang aneh dan ingin tahu.

MASALAH PENGLIHATAN DAN MIMPI

Dalam Perjanjian Lama, kita memang tampak, adakalanya Allah melalui penglihatan atau mimpi mengajar umatNya, tetapi teladan itu tidak banyak. Dalam Perjanjian Baru, khususnya setelah pencurahan Roh Kudus, meskipun masih ada kejadian itu, namun setiap kali pasti memiliki alasanalasan yang istimewa. Sebab dalam zaman Perjanjian Baru, Roh Kudus sudah berdiam di dalam anak-anak Allah, dan Allah mengajar kita dalam segala perkara melalui pengurapan di dalam. Jadi, Allah menyuruh kita selain menurut Alkitab, juga menurut perasaan hayat yakni perasaan roh, agar kita dapat mengetahui kehendak-Nya. Dalam Perjanjian Baru, pernah beberapa kali terjadi perkara tersebut. Misalkan penglihatan yang dinyatakan Tuhan kepada Petrus di Yope. Dia melihat sebuah kain lebar, di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung (Kis. 10:9-12). Mengapa Tuhan harus memberi penglihatan ini kepada Petrus? Jelas sekali, maksud Tuhan adalah supaya Petrus mutlak percaya bahwa Allah juga menghendaki orang-orang kafir beroleh selamat. Hal ini di luar dugaan Petrus sehingga Tuhan perlu memberi penglihatan ini kepadanya. Setelah itu kita tampak Petrus membuka pintu Injil untuk orang-orang kafir.

Paulus juga pernah beberapa kali mendapatkan penglihatan. Dua kali di antaranya ketika ia dalam kesukaran dan bahaya. Melalui penglihatan itu, Allah menghibur dan menguatkan hatinya (Kis. 18:9; 27:23-24). Pernah sekali, dalam penglihatan ia tampak seorang Makedonia berdiri dan berseru kepadanya, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat penglihatan itu, ia ingin segera berangkat ke sana, tetapi ayat selanjutnya tertulis, “. . . kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana”. Kata-kata “kami menarik kesimpulan” ini berarti Paulus dan rekan-rekannya tidak menganggap penglihatan itu sebagai satu-satunya pimpinan Allah (Kis. 16:9-10).

Kita mengakui bahwa penglihatan dan mimpi dalam Alkitab mempunyai kedudukan tersendiri, tetapi itu tidak dapat dijadikan satu-satunya pimpinan. Meskipun kita telah mendapat penglihatan atau mimpi, itu pun harus sesuai dengan firman Alkitab, sesuai dengan pengajaran urapan di dalam kita, dan juga sesuai dengan pengaturan keadaan sekitar. Ketika Petrus mendapat penglihatan di Yope, ia segera mendapat bukti dalam keadaan sekitarnya, yaitu utusan Kornelius datang mencarinya. Sebab itu, setiap penglihatan dan mimpi baru boleh dipercaya bila sesuai dengan firman Alkitab, sesuai dengan pengajaran urapan di dalam, sesuai dengan keadaan sekitar, juga harus mengandung makna rohani dan mempunyai tujuan nyata. Ingatlah, dalam zaman Perjanjian Baru penglihatan maupun mimpi bukanlah cara yang sering digunakan Allah untuk memimpin anak-anak-Nya. Lagi pula, sekalipun kita mendapat penglihatan dan mimpi, hal itu belum tentu harus kita siarkan kepada orang lain. Paulus mempunyai pengalaman dinaikkan ke langit tingkat tiga, hal itu tidak disiarkannya kepada siapa pun, tetapi baru dikatakannya karena terpaksa, 14 tahun kemudian (2 Kor. 12:1-6). Jadi, orang yang mengatakan bahwa dirinya sering mendapat penglihatan dan mimpi, orang itu pasti berpenyakit dalam pikiran atau jiwanya.

Kita harus tahu, banyak pikiran yang timbul secara mendadak, sering kali berasal dari roh jahat yang dimasukkan ke dalam pikiran manusia. Roh jahat sering memasukkan pikiran-pikiran dengan tiba-tiba seperti kilat ke dalam kaum saleh, membuat mereka dapat mengerti suatu perkara yang istimewa dan ganjil, atau memberi suatu saran menyuruh mereka melakukan suatu perkara. Semua itu harus kita tolak dengan tegas, sebab semua itu bukan berasal dari Roh Kudus.

Roh jahat tidak saja bisa memasukkan pikiran-pikiran ke dalam kaum saleh, ia juga bisa menunjukkan berbagai macam gambar ke dalam pikiran mereka. Adakalanya gambar itu indah dan disukai mereka, adakalanya kotor dan dibenci oleh hati nurani mereka. Tetapi bagaimanapun gambar itu, baik yang indah atau yang kotor, baik disukai atau dibenci, jika mereka tidak dapat menolak agar semua itu tidak masuk ke dalam pikiran mereka, itu membuktikan bahwa mereka telah tertipu oleh roh jahat.

Mimpi, ada yang alamiah, ada yang supernatural; ada yang dari Allah, ada yang dari Iblis. Kecuali yang timbul dari mental dan pikiran manusia sendiri, maka yang lainnya adalah bersifat supernatural. Adakalanya seorang Kristen mendapat suatu rangsangan atau menderita suatu penyakit yang berat, karenanya urat sarafnya menjadi lemah, ditambah lagi karena tidak mengerti Alkitab, lalu pikirannya terbuka bagi roh jahat, sehingga ia sering bermimpi. Kita harus tahu, setiap mimpi yang berasal dari Allah selalu membuat orang biasa saja, normal, tenteram, tenang, dan penuh dengan rasio serta kesadaran. Tetapi mimpi yang datang dari roh jahat selalu mengakibatkan orang menjadi aneh, ganjil, merasa kosong tak menentu, menjadi bodoh, dan membuat orang kehilangan rasio.

Saudara saudari, jangan sekali-kali menganggap semua penglihatan dan mimpi itu pasti baik. Kita harus waspada. Banyak penglihatan dan mimpi tidak berasal dari Allah. Itu bukan hanya tidak patut kita terima, malah harus kita tolak mentah-mentah. Dengan demikian baru kita tidak akan tertipu.

Ada orang yang karena sarafnya tidak normal, atau karena telah tertipu oleh roh jahat, bahkan termasuk oleh roh jahat, maka dalam pikirannya timbul khayalan-khayalan. Orang-orang yang demikian kebanyakan menjadi orang-orang yang sangat sombong dan sangat subjektif. Mereka selalu menganggap dirinya nabi atau rasul besar yang diutus Allah. Kita harus tahu, setiap orang yang tertipu oleh roh jahat adalah orang yang paling percaya kepada dirinya sendiri, ia tidak mudah menerima nasihat orang lain, dan tidak mudah menerima perasaan anak-anak Allah lainnya. Karena dalam penglihatan atau mimpi itu terkandung unsur-unsur yang supernatural, maka ia dapat menarik kaum saleh yang bodoh, hijau, dan yang senang akan perkara-perkara ganjil. Mereka menganggap dirinya nabi besar, rasul besar utusan Allah, sedangkan kaum saleh yang masih hijau juga mengira mereka benar-benar nabi besar dan rasul besar; bahkan banyak orang datang menanyakan sesuatu kepada mereka, sama seperti orang bertanya kepada Allah. Ini sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab. Alkitab menerangkan kepada kita bahwa dalam Perjanjian Baru hanya ada nabi gereja. Allah selamanya tidak pernah mengizinkan anak-anak-Nya menjadi nabi secara perorangan. Dalam Perjanjian Baru, hukum Allah bukan ditulis di atas loh batu, melainkan ditulis di dalam hati kita (Ibr. 8:10). Setiap orang yang memiliki hayat Allah, pasti mempunyai kemampuan untuk memahami kehendak Allah. Dalam Perjanjian Baru, Allah tidak mengizinkan siapa pun menjadi nabi bagi anak-anak-Nya secara perorangan, yang mewakili orang lain mengetahui kehendak Allah. Karena itu, kita harus mohon kepada Allah supaya kita tertolong dari niat atau kesenangan akan perkara-perkara yang aneh-aneh, sehingga kita tidak tertipu.

MASALAH BERBAHASA LIDAH

Kita percaya adanya bahasa lidah dalam gereja, sebab hal itu tercantum dalam firman Tuhan (Mrk. 16; Kis. 2; 10; 19; 1 Kor. 12; 14). Namun bila kita dengan cermat meneliti ayat-ayat tersebut, kita tidak sulit menemukan makna dan fungsi berbahasa lidah.

Pertama, kita harus tahu, berbahasa lidah adalah suatu bukti diperkenan atau dibenarkannya perbuatan seseorang di hadapan Allah. Namun hal itu tidak harus terjadi pada setiap orang; hal itu sering terjadi dalam keadaan yang istimewa. Sebagai contoh: ketika Kornelius menerima keselamatan Tuhan, ia segera menerima Roh Kudus, lalu ia berkata-kata dengan bahasa lidah (Kis. 10:45). Hal ini, bagi Petrus maupun bagi seisi keluarga Kornelius adalah satu hal yang membuktikan bahwa Allah benar-benar berkenan menyelamatkan orang kafir. Dengan adanya bukti ini, maka Petrus tanpa ragu-ragu segera membaptiskan mereka dalam nama Yesus Kristus. Contoh kedua tercantum dalam Kisah Para Rasul 19. Karunia bahasa lidah di sini juga merupakan suatu buktiyang membenarkan kedua belas orang Kristen di Efesus, yang telah menerima anjuran Paulus yaitu dibaptiskan lagi demi nama Yesus Kristus; sebab mereka tidak cukup hanya menerima baptisan pertobatan Yohanes Pembaptis itu.

Mengenai berbahasa lidah yang tercatat dalam 1 Korintus 12 dan 14, yaitu yang bersifat gereja, itu tidak lain hanya salah satu dari sekian banyak karunia yang diberikan Roh Kudus menurut kehendak-Nya sendiri kepada Gereja (1 Kor. 12:8-11). Seperti karunia-karunia lainnya, berbahasa lidah haruslah untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7), dan untuk membangun Gereja (1 Kor. 14:5, 12). Keadaan ini baru bisa tercapai bila ada orang yang menerjemahkan bahasa lidah itu. Jika ada penerjemahnya, itu akan sama dengan bernubuat dengan kata-kata biasa; jika tidak ada, maka siasialah kata-kata itu, seperti membuang perkataan ke udara (1 Kor. 14:9), dan tidak mendatangkan faedah dalam akal budi orang (1 Kor. 14:14). Paulus dengan tegas menunjukkan berbahasa lidah yang demikian tidak perlu dinyatakan di dalam perhimpunan gereja, ditegaskannya pula bahwa orang itu harus berdiam diri (1 Kor. 14:28). Paulus bukan melarang orang berbahasa lidah, melainkan melarang orang yang hanya berbahasa lidah tetapi tanpa terjemahan, sekalipun bahasa lidah itu benar-benar berasal dari Roh Kudus.

Kecuali itu Alkitab juga menunjukkan kepada kita, bahwa berbahasa lidah bukan merupakan tanda keselamatan, juga bukan bukti dari baptisan Roh Kudus. Alkitab memberi cukup banyak contoh kisah pertobatan orang, tetapi dari kisah-kisah itu terbukti dengan jelas bahwa berbahasa lidah bukan merupakan tanda keselamatan. Banyak pula contoh orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus, tetapi berbahasa lidah bukan merupakan bukti yang mutlak dari baptisan Roh Kudus. Maka tidaklah benar jika ada orang mengatakan, “Tanpa berbahasa lidah berarti belum diselamatkan; tanpa berbahasa lidah berarti belum menerima baptisan Roh Kudus”. Juga tidak tepat jika orang menganggap berbahasa lidah adalah karunia tertinggi di antara karunia-karunia yang ada, dan merupakan tuntutan rohani terindah dalam pengalaman orang Kristen. Hal ini dapat kita buktikan dengan firman Alkitab. Roh Kudus selalu mencantumkan karunia berbahasa roh di belakang karunia-karunia lainnya (1 Kor. 12:8-11, 28). Urutan pencantuman ini adalah Roh Kudus sendiri yang menentukan, dan itu bukan tidak berarti sama sekali. Kita harus mengerti apa yang dikatakan Paulus ketika ia membahas persoalan ini, “Janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu” (1 Kor. 14:20). Kita perlu menjadi dewasa, bertumbuh dalam kehidupan rohani (1 Kor. 13:11), sehingga mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13-14). Dalam perkara rohani tidak saja ada perbedaan mengenai sejati atau palsu; juga ada perbedaan mengenai yang dalam atau yang dangkal; yang mustika atau yang hina; yang penting atau yang tidak penting. Semoga Allah membelaskasihani kita, agar kita dapat bertumbuh dalam hayat, menjadi dewasa, menuntut perkara-perkara yang lebih dan yang paling penting, tidak lagi seperti anak-anak yang diombang-ambingkan oleh ruparupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef. 4:14).

MASALAH BERDOA DENGAN SATU PERKATAAN

Ada orang Kristen, kalau berdoa hanya mengucapkan satu kata saja, misalnya dengan kata-kata: “Puji Tuhan, puji Tuhan, . . .” atau “Haleluya, haleluya, . . .” atau “Mulia, mulia, . . .” dan sebagainya. Kata-kata itu terus-menerus diucapkan dengan suara tinggi-rendah, berulang-ulang dari awal hingga akhir. Ketahuilah, keadaan demikian mudah sekali membuat pikiran orang menjadi kosong, sehingga menyebabkan terjadinya suatu keadaan yang luar biasa — termasuk dan tertipu oleh roh jahat, namun orang yang bersangkutan malah mengira dirinya dipenuhi Roh Kudus. Alkitab memberi tahu kita, jika kita datang ke hadirat Allah untuk berdoa, “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan” (Pkh. 5:1). Tuhan kita juga mengajar kita, “Dalam doamu itu janganlah kamu berulang-ulang mengucapkannya (berteletele)” (Mat. 6:7). Berdoa bukan menghafalkan Alkitab, berdoa bukan mengucapkan satu perkataan secara terus-menerus; berdoa adalah “menyatakan keinginan hati kita kepada Allah” (Flp. 4:6). Alkitab mengajar kita untuk “tenang, tidak kacau, dan segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Kor. 14:33, 40). Karena itu saudara saudari, kita harus benar-benar takut dan gentar, berdoa sambil berjaga-jaga. Jangan terlalu percaya kepada diri sendiri, melainkan dengan baik-baik belajar menerima pimpinan Roh Kudus yang di dalam, belajar mengenal Alkitab, belajar mematuhi pengajaran urapan Roh itu. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Alkitab, tidak patut diterima. Kita tahu, ketika Tuhan Yesus menerima cobaan di padang belantara, Ia telah mengalahkan Iblis dengan firman Allah. Karena itu kita harus mengeluarkan waktu untuk membaca Alkitab dan membiarkan firman Allah tersimpan dengan limpahnya di dalam kita, agar kita tidak disesatkan oleh berbagai macam ajaran yang aneh-aneh.

MASALAH KEDATANGAN KEMBALI TUHAN YESUS

Kita percaya pada kedatangan kembali Tuhan Yesus, dan ini adalah pokok kepercayaan kita. Tetapi Alkitab tidak pernah memberi tahu kita kapan atau pada hari apa Dia datang lagi. Mari kita membaca beberapa ayat Alkitab:

Injil Matius 24:36, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Ayat 4-5, “Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. Ayat 23-26, “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihatlah, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesiasmesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. . . . Jadi, apabila orang berkata kepadamu:Lihatlah, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihatlah, Ia ada di dalam kamar yang tersembunyi, janganlah kamu percaya”. Matius 25:13 mengatakan, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

Dalam Injil Markus pasal 13 juga terdapat perkataan yang serupa. Tuhan dengan tegas memberi tahu murid-murid, “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (ayat 5-6). “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu” (ayat 21-23). “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjagajagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (ayat 3233).

Dalam 2 Tesalonika 2:2-3 Paulus juga mengingatkan kita, “Supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga!” Ayat 9, “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu.”

Ketika Tuhan mengatakan tentang kedatangan-Nya kali kedua kepada murid-murid-Nya, Ia berkali-kali mengingatkan murid-murid supaya selalu “berjaga-jaga”, “hati-hati”, “waspada”. Karena itu saudara saudari, kita harus selalu waspada, hati-hati, dan berjaga-jaga; berdoa dan menantikan. Kita wajib setiap hari bahkan setiap saat bersiap-sedia menyambut kedatangan Tuhan kita. Alkitab tidak pernah mengizinkan kita melakukan perkara yang bodoh itu, yaitu menghitung-hitung atau mengira-ngira hari kedatangan-Nya, dan kemudian mengatakan Ia akan datang pada hari, bulan, dan tahun anu. Jika ada orang mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang pada hari, bulan, dan tahun anu, hendaklah kita waspada dan berjaga-jaga, supaya kita jangan disesatkannya.

Akhirnya, kita sungguh bersyukur kepada Allah, sebab di dalam gereja terdapat dua mustika yang besar. Pertama adalah Alkitab, kedua adalah Roh Kudus. Jika kita sungguh-sungguh menurut Alkitab dan benar-benar taat kepada Roh Kudus, kita pasti tidak akan salah atau tersesat. Saudara saudari, kita sangat mudah salah, mudah ditipu dan mudah disesatkan. Kita harus selalu ingat perkataan Paulus dalam 1 Tesalonika 5:6, yaitu “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” Jika kita tidak membaca Alkitab dengan baik dan menjadikannya sebagai pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita; jika kita tidak dengan takut dan gentar menaati kuasa Roh Kudus, berjaga sambil berdoa dan bersikap takut terjerumus ke dalam kesalahan; kita akan kasihan sekali dan gelap sekali!

Kita harus berlutut di bawah kaki Tuhan, mohon Tuhan menerangi kita, mohon Ia menjaga dan mengaruniai kita satu keinginan yang teguh untuk dapat mengeluarkan harga apa pun demi mencari perkenan-Nya, menolak setiap ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab, memelihara setiap hal yang sesuai dengan Alkitab, senantiasa tunduk di bawah kuasa Roh Kudus, tidak berani menurut pendapat dan kemauan sendiri, tidak berani menurut kesenangan tubuh daging sendiri mengajar orang atau melayani Allah. Semoga Tuhan membelaskasihani dan melindungi Gereja-Nya.