Berdoa dan Pekerjaan Allah
“Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus.”
Efesus 6:18
“Beginilah firman Tuhan Allah: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia.”
Yehezkiel 36:37
“Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi.”
Yesaya 62:6-7
I
Pekerjaan Allah mempunyai satu hukum, mempunyai satu prinsip. Meskipun Allah bisa menurut kehendak-Nya melakukan sesuatu, tetapi Dia tidak sembarangan melakukannya, Dia pasti melakukannya menurut hukum dan prinsip yang telah ditetapkannya. Sebenarnya, Allah melampaui segala hukum dan prinsip. Dia adalah Allah, Dia boleh mengikuti maksud-Nya sendiri melakukan sesuatu. Tetapi dalam Alkitab kita tampak satu hal yang sangat menakjubkan, yaitu meskipun Allah itu besar, agung, dan bisa melakukan sesuatu menurut maksud-Nya sendiri, namun Dia justru melakukan menurut hukum. Dia seolah telah meletakkan diri-Nya di bawah hukum, terkendali oleh hukum.
Lalu, apakah prinsip Allah bekerja? Allah bekerja berdasarkan satu prinsip utama, yaitu menghendaki orang berdoa, Dia menghendaki orang dalam doa bekerja sama dengan-Nya.
Dulu ada seorang Kristen yang mahir dalam doa. Dia berkata, “Semua pekerjaan rohani ada 4 langkah. Langkah pertama, Allah yang berkehendak, inilah kehendak Allah. Langkah kedua, Allah melalui Roh Kudus mewahyukan kehendak ini kepada anak-anak-Nya, supaya mereka mengerti bahwa Allah mempunyai satu kehendak, Allah mempunyai satu rencana, Allah mempunyai satu permintaan dan harapan. Langkah ketiga, anak-anak-Nya mendoakan kembali kehendak Allah ini kepada Allah. Doa adalah tanggapan manusia terhadap kehendak Allah. Kalau hati kita seluruhnya sama dengan hati Allah, dengan sendirinya kita bisa mengutarakan keluar pekerjaan yang ingin dikerjakan Allah. Hasilnya, langkah yang keempat, Allah pasti menggenapkan pekerjaan itu.”
Di sini kita bukan ingin melihat langkah pertama bagaimana, juga bukan melihat langkah kedua bagaimana, yang akan kita perhatikan adalah langkah ketiga. Bagaimana kita mendoakan kembali kehendak Allah kepada Allah. Perhatikan kata “kembali”, semua doa yang berharga adalah doa yang “kembali”. Kalau doa kita hanya untuk merampungkan rencana kita, harapan kita, di dalam dunia rohani itu tidak seberapa berharga. Haruslah Allah yang memulai dan kita yang menanggapi, demikian barulah doa yang berharga. Pekerjaan Allah justru dikendalikan oleh doa yang demikian. Banyak pekerjaan yang ingin dikerjakan oleh Allah, tetapi karena anak-anak Allah tidak berdoa, Dia lebih rela tidak melakukannya. Allah harus menunggu orang menyetujuinya baru dilaksanakan. Inilah prinsip yang besar dalam pekerjaan Allah. Inilah salah satu prinsip yang penting dalam Alkitab.
II
Perkataan dalam Yehezkiel 36:37 sangatlah menakjubkan. Allah berkata, Dia mempunyai satu kehendak yaitu akan “membuat orang Israel banyak seperti lautan manusia”. Ini adalah ketentuan Allah, yang Allah tentukan pasti akan dilakukan-Nya. Tetapi Allah masih menunggu, tidak bisa segera melakukannya. Allah menunggu apa? Allah berkata, “Aku menginginkan supaya kaum Israel meminta dari-Ku apa yang hendak Aku lakukan bagi mereka.” Perkataan ini boleh diterjemahkan “dalam hal ini Aku masih perlu permohonan orang Israel.” Allah telah menentukan bahwa jumlah kaum Israel akan bertambah banyak, tetapi Allah masih menunggu orang Israel bertanya kepadanya, menunggu orang Israel memohon kepada-Nya, baru melakukannya bagi mereka. Lihatlah, meskipun Allah sendiri telah berketetapan melakukan satu perkara, tetapi Dia tidak segera melakukannya, Dia masih menunggu orang mengatakan setuju, baru melakukannya. Setiap kali Allah bekerja, bukan karena Dia mempunyai kehendak lalu langsung melakukannya, melainkan Ia menunggu anak-anak-Nya menyatakan setuju baru melakukannya. Ini sungguh satu perkara yang sangat menakjubkan.
Kita harus ingat, semua pekerjaan rohani adalah Allah berkehendak dan anak-anak Allah menginginkannya; semuanya Allah yang memulai dan anak-anak Allah yang menyetujui. Inilah satu prinsip besar dalam pekerjaan rohani. Allah berkata, “dalam hal ini Dia masih perlu permohonan mereka.” Pekerjaan Allah perlu menunggu orang Israel memohon. Suatu hari, asal orang Israel benar-benar memohon kepada Allah, Allah pasti segera menggenapkan bagi mereka. Saudara saudari, lihatlah, inilah prinsip Allah bekerja! Allah berinisiatif melakukan sesuatu, tetapi Ia harus menunggu kita berdoa baru melakukannya. Sejak ada gereja, apa pun yang Allah kerjakan di bumi tidak ada yang tidak melalui doa anak-anak-Nya. Sejak Allah mempunyai anak-anak, semua pekerjaan dilakukan berdasarkan doa anak-anak-Nya; perkara apa pun ditaruh dalam doa anak-anak-Nya. Mengapa Allah berbuat demikian? Kita tidak tahu, tetapi kita tahu ini adalah satu fakta. Allah mau menaruh diri-Nya dalam kedudukan demikian, Allah senang melakukan demikian; Dia akan melalui doa anak-anak-Nya melaksanakan kehendak-Nya.
Ada satu contoh lagi yaitu Yesaya 62:6-7, “Di atas temboktembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintaipengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi.” Allah menghendaki Yerusalem menjadi kemasyhuran di bumi, lalu apa yang Ia lakukan? “Di atas tembok benteng Dia menempatkan pengintai-pengintai dan menghendaki mereka berseru, berseru kepada TUHAN.” Bagaimana caranya berseru? “Tidak berdiam diri sepanjang hari dan sepanjang malam.” Kita berseru, terus berseru tidak berhenti, tidak membiarkan Allah tenang. Kita berdoa terus sampai didengar oleh Allah, berdoa sampai Allah mengerjakan pekerjaan-Nya. Meskipun Allah sendiri sudah menetapkan Yerusalem menjadi kemasyhuran di bumi, tetapi Allah perlu menempatkan pengintai-pengintai di tembok kota Yerusalem untuk berdoa, setelah itu barulah Ia melakukannya. Allah menghendaki mereka berdoa bukan sekali saja, melainkan terus-menerus berdoa, berdoa sampai kehendak Allah tergenapi. Dengan kata lain, kehendak Allah telah terkendali oleh doa manusia. Allah sedang menunggu doa kita. Isi kehendak Allah mutlak adalah ketetapan Allah, bukan ketetapan kita; kita sama sekali tidak ada bagian dalam ketetapan isi kehendak Allah. Tetapi pelaksanaan kehendak Allah terkendali oleh doa kita.
Seorang saudara pernah berkata, “Kehendak Allah itu seperti kereta api, dan doa kita seperti rel. Kereta api bisa pergi ke mana saja, tetapi hanya bisa berjalan di atas rel. Kekuatan kereta api memang sangat besar, ia bisa pergi ke utara, selatan, timur, dan barat, tetapi hanya bisa mencapai tempat yang sudah ada relnya. Allah bukan tidak mempunyai kekuatan, tetapi Dia terkendali oleh doa manusia. Doa yang berharga adalah doa yang membuka jalan bagi kehendak Allah. Sebab itu, kalau kita tidak memikul tanggung jawab berdoa, kita akan menghalangi kegenapan kehendak Allah.
III
Ketika Allah menciptakan manusia, Ia memberi manusia satu tekad yang bebas. Demikianlah di dalam alam semesta ada tiga tekad yang berbeda: yang satu adalah tekad Allah, yang kedua tekad Iblis, yang ketiga adalah tekad manusia. Menurut pemikiran manusia, mengapa Allah tidak dalam satu menit saja memusnahkan Iblis. Allah tidak berbuat demikian. Allah menghendaki kerja sama manusia untuk membereskan Iblis. Allah mempunyai tekad Allah, Iblis mempunyai tekad Iblis, manusia juga mempunyai tekad manusia. Allah mau mendapatkan tekad manusia untuk bekerja sama dengan-Nya, Ia tidak mau sendirian memusnahkan Iblis. Kita tidak mengetahui mengapa demikian, tetapi kita tahu Allah senang berbuat demikian. Allah tidak berbuat sendirian, Allah menghendaki manusia bekerja sama dengan-Nya. Inilah kewajiban gereja di bumi.
Allah ingin melakukan satu perkara, untuk itu terlebih dulu Ia melalui Roh Kudus menaruh kehendak-Nya ke dalam kita. Setelah kita mengubah maksud itu menjadi doa, barulah Allah melaksanakan dan merampungkan pekerjaan itu. Allah bekerja harus melalui banyak prosedur, tidak bisa tidak demikian. Allah memerlukan manusia bekerja sama dengan Dia. Allah perlu ada satu tekad yang sehati dengan Dia, yang simpati kepada-Nya. Kalau Allah melakukan semua pekerjaan tanpa mempedulikan kita manusia, maka tidak perlu ada manusia di sini, dan kita tidak perlu mengetahui apakah kehendak Allah. Tetapi setiap kehendak Allah harus kita laksanakan. Allah menghendaki maksud kita bersatu dengan kehendak-Nya. Kita mendoakan kehendak Allah, berdoa hingga kehendak Allah terwujud, inilah langkah pertama melaksanakan kehendak Allah. Dari sini kita tampak bahwa berdoa adalah satu pekerjaan; tidak ada satu pekerjaan yang lebih penting daripada berdoa. Berdoa berarti mengutarakan kehendak Allah, berdoa berarti merampungkan kehendak Allah. Saudara saudari, kita harus tahu, kehendak Allah perlu diutarakan dari doa kita. Sebab itu, semua doa yang berasal dari kehendak ego manusia tidak ada gunanya. Semua doa yang sesuai dengan kehendak hati Allah berasal dari Allah, melalui Roh Kudus menyatakan maksud-Nya kepada kita, kemudian kita dengan doa mengembalikan maksud itu kepada Allah. Semua doa yang sesuai dengan maksud hati Allah, pasti bertitik awal dari kehendak Allah; manusia hanya sebagai perantara, manusia hanya menanggapinya saja. Semua doa yang berasal dari kita, yang dimulai dari kita, tidak ada nilai rohaninya.
Kalau kita membaca sejarah gereja, kita dapat melihat bahwa setiap kali ada kebangunan rohani yang besar, pasti berawal dari doa. Ini berarti doa membuat Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Kita tidak bisa memohon Allah melakukan perkara yang tidak Ia kehendaki, tetapi kita mungkin menunda pekerjaan yang ingin Ia kerjakan. Allah mutlak benar, kita tidak bisa mengubahnya, kita tidak bisa menyuruh Allah melakukan apa yang tidak Ia kehendaki. Kita juga tidak bisa menyuruh Allah tidak melakukan apa yang Dia kehendaki. Tetapi ketika Allah menyuruh kita menjadi satu saluran untuk melaksanakan kehendak-Nya, kalau di pihak kita tidak mau bekerja sama dengan Dia, pekerjaan-Nya akan terhalang oleh kita. Sebab itu doa kita bukan memohon Allah melakukan pekerjaan yang tidak Ia kehendaki, bukan memohon Allah mengubah kehendak-Nya, melainkan mendoakan kehendak Allah supaya Allah melakukan apa yang hendak Ia lakukan. Kalau kita memohon dengan mati-matian, ingin Allah melakukan perkara yang tidak Ia kehendaki, itu berarti membuang tenaga dengan sia-sia, sedikit pun tidak berguna. Kalau Allah tidak mau melakukan, siapa pun tidak bisa menyuruh Dia melakukan. Kita hanya bisa melakukan satu perkara, yaitu mendoakan pekerjaan yang Allah kehendaki. Karena kesehatian kita dengan-Nya, maka Allah merampungkan pekerjaan-Nya.
Misalnya saja tercurahnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Beratus-ratus tahun sebelumnya, pada zaman Yoel, Allah sudah mengatakannya, tetapi Ia harus menunggu murid-murid berdoa barulah Roh Kudus dicurahkan. Meskipun Allah telah menentukan, tetapi perlu ada orang berdoa baru bisa tergenap. Allah sendiri bisa melakukannya, tetapi Dia senang menunggu orang mengucapkan doa itu baru melakukannya. Banyak perkara bisa Allah lakukan, tetapi Allah menunggu persetujuan Anda; banyak perkara yang hendak Allah lakukan jauh-jauh hari, tetapi Allah menghendaki Anda juga mengingininya; banyak perkara, Allah sudah mau melakukannya, tetapi karena Anda tidak menyatakan setuju kepada-Nya, maka Ia harus menunggu. Saudara saudari, meskipun kita tidak bisa memaksa Allah melakukan apa yang tidak Ia kehendaki, tetapi kita bisa memohon Allah melakukan apa yang Ia kehendaki. Kita kehilangan berkat rohani, dikarenakan kita tidak dalam doa menyatakan kehendak-Nya. Sebab itu, kalau Anda bisa khusus melakukan pekerjaan berdoa, itu sangatlah baik. Allah sedang menunggu orang bekerja sama dengan Dia, supaya Dia bisa melakukan pekerjaan-Nya. Ada orang Kristen berkata, “Mengapa Allah tidak menolong lebih banyak orang, mengapa Allah tidak membuat setiap orang beriman menang?” Kita benar-benar percaya, Allah akan melakukannya kalau ada manusia mendoakannya. Allah bukan tidak mau melakukannya, tetapi Allah ingin terlebih dulu mendapatkan sekelompok orang bekerja sama dengan Dia. Bila ada orang bekerja sama dengan Dia, saat itu juga Allah akan bekerja. Terhadap pekerjaan rohani, Allah selalu menunggu pernyataan dari anak-anak-Nya. Kesuksesan atau kegagalan satu perkara tergantung pada doa anak-anak Allah. Sebab itu kita harus mempunyai satu pernyataan, mau bekerja sama dengan Allah. Allah sedang menunggu untuk memberi berkat kepada kita, tetapi masalahnya tergantung kepada kita memohon atau tidak.
Orang yang tidak mengenal Allah akan berkata, “Kalau Allah mau bekerja, bekerja saja. Mengapa harus menunggu kita berdoa? Allah pasti telah tahu semuanya, kalau banyak berdoa, Allah akan merasa jemu.” Ingatlah, manusia mempunyai tekad yang bebas. Allah tidak mau mengingkari tekad-Nya sendiri, juga tidak mau memaksa tekad manusia. Kalau maksud Allah belum didoakan oleh manusia, Dia akan menunggu. Lihatlah, Allah menghendaki kehendak-Nya terlaksana di bumi seperti di surga. Kalau Dia langsung melakukannya sendiri sudah bisa, mengapa harus menyuruh murid-murid berdoa, “Bapa kami yang di surga — jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”? Kalau Allah ingin mendatangkan kerajaan-Nya, dan kerajaan-Nya langsung datang, mengapa murid-murid harus berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu”? Kalau Allah menghendaki nama-Nya dikuduskan, dan Ia cukup melakukannya sendiri, mengapa harus menyuruh murid-murid-Nya berdoa “Dikuduskanlah nama-Mu”? Semua itu tak lain karena Allah tidak mau melakukannya sendirian, Dia menghendaki manusia bekerja sama dengan-Nya. Allah memang mempunyai kekuatan, tetapi Dia menghendaki kita meletakkan rel. Kalau rel-rel yang diletakkan lebih banyak, pekerjaan Allah akan lebih banyak. Sebab itu doa kita harus seperti jaringan rel kereta api yang banyak. Semakin banyak semakin baik.
IV
Bagaimana kita harus membangun rel untuk kehendak Allah? Efesus 6:18 mengatakan, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh.” Sebab itu doa kita harus dari berbagai aspek dan juga harus setiap waktu; harus ada doa secara umum dan harus ada doa secara khusus. Banyak doa kita yang terlalu renggang, banyak lubangnya, tidak begitu rapat, sehingga Iblis mempunyai banyak kesempatan untuk masuk. Kalau doa kita sangat halus, sangat rapat, berbagai aspek telah kita doakan, Iblis tidak bisa melakukan apa-apa.
Misalnya ada seorang saudara akan memberitakan Injil ke luar kota. Anda harus berdoa baginya, meletakkan rel supaya kehendak Allah bisa terjadi di atas dirinya. Kalau Anda hanya berdoa secara global, “Tuhan lindungilah dia, berkatilah dia, suplailah dia.” Jaringan doa ini terlalu renggang. Kalau Anda ingin mendoakan seseorang, Anda harus membentangkan satu jaringan doa yang rapat, supaya Iblis tidak bisa masuk dari aspek mana pun. Bagaimana Anda harus berdoa? Anda harus berdoa mulai dari dia keluar dari pintu, berdoa untuk tubuhnya, berdoa untuk barang bawaannya, berdoa untuk kereta apinya, berdoa untuk waktu dia naik kereta api, berdoa untuk waktu istirahatnya, makanannya, dan orang-orang yang ia jumpai di dalam kereta api. Juga berdoa untuk perkara-perkara setelah dia turun dari kereta api, berdoa bagi tempat yang akan ditujunya dan didiaminya, berdoa bagi tetangganya, berdoa bagi benda-benda yang akan dia pakai, berdoa untuk waktu dia bekerja di sana, juga berdoa bagi semua perkara yang bersangkutan dengannya. Kalau Anda berdoa demikian rapi, Iblis tidak mudah mencari satu lubang untuk menyerang dia. Sebab itu, pekerjaan berdoa adalah pekerjaan yang sungguh-sungguh. Orang yang malas, orang yang ceroboh, orang yang sembarangan, tidak bisa melakukan pekerjaan berdoa. Sering kali kalau kita dengan sungguh-sungguh mendoakan suatu perkara, dengan tekun mendoakan setiap aspeknya, hasilnya perkara itu sukses.
Masih ada satu perkara lagi yang harus kita ketahui, yaitu Iblis memiliki berbagai muslihat; bagaimanapun kita berpikir, tetap tidak keluar dari pikiran kita, sehingga tidak bisa satu per satu kita doakan. Kalau demikian, kita terpaksa hanya berdoa, “Tuhan, semua yang berasal dari Iblis, mohon Dikau dengan darah adi-Mu menjawabnya.” Kita harus tahu, darah adi adalah jawaban terhadap semua pekerjaan Iblis. Doa yang demikian adalah doa yang paling baik untuk menanggulangi Iblis. Iblis selamanya tidak bisa menembus darah adi untuk menyerang kita.
Setiap kali kita berdoa, kita harus tampak tiga aspek: yang pertama kita harus tampak kita berdoa kepada siapa; yang kedua, kita harus tampak kita berdoa untuk siapa; yang ketiga kita harus tampak kita berdoa untuk melawan siapa. Sering kali kita hanya ingat dua aspek, yaitu berdoa kepada Allah dan berdoa untuk manusia, tetapi kita lupa aspek Iblis. Dalam berdoa kita tidak saja harus tahu berdoa kepada siapa, juga harus tahu berdoa untuk melawan siapa. Kita tidak saja tahu berdoa untuk siapa, kita juga harus tahu bahwa musuh itu selalu mencelakai kita. Doa kita adalah doa terhadap Allah, doa untuk manusia dan perkara, juga doa untuk melawan Iblis. Kalau tiga aspek ini sudah kita lakukan, Allah pasti bekerja bagi kita.
Setiap orang yang ingin sungguh-sungguh bekerja bagi Tuhan, harus mempunyai satu jaringan doa, supaya Allah bisa melalui Anda bekerja. Allah bukan tidak mau melakukan pekerjaan-Nya, Allah perlu menunggu orang berdoa baru bekerja. Allah sedang mengharapkan orang mempunyai hidup berdoa, kehendak Allah sedang menunggu orang berdoa. Sering kali (belum tentu Anda sudah mengatur waktu untuk berdoa), di dalam Anda ada satu perasaan ingin berdoa, ini berarti dalam kehendak-Nya ada satu perkara yang perlu Anda doakan. Ketika Anda merasakan ada beban berdoa lalu berdoa, itu adalah doa yang sesuai dengan kehendak Allah. Inilah Roh Kudus di dalam Anda mendorong Anda berdoa bagi kehendak Allah. Ketika Roh Kudus mendorong Anda berdoa, Anda harus segera berdoa. Kalau Anda tidak mau berdoa, di dalam Anda akan terasa sebal, terasa ada satu perkara yang belum selesai dikerjakan. Kalau Anda masih tidak mau berdoa, Anda akan merasa lebih sebal. Kalau Anda tetap tidak berdoa, Anda akan membuat roh doa itu tumpul, membuat perasaan doa itu tumpul. Setelah itu Anda tidak akan mudah memiliki perasaan itu lagi, Anda tidak bisa mendoakan kehendak Allah.
Setiap kali Allah menaruh satu doa di dalam kita, terlebih dulu Roh Kudus menggerakkan kita sehingga kita berbeban mendoakan suatu perkara. Ketika Anda memiliki perasaan ini, Anda harus segera baik-baik berdoa untuknya, Anda harus mengeluarkan harga untuk berdoa. Begitu ada gerakan Roh Kudus, segera roh Anda ada beban, seolah ada satu perkara yang dibebankan kepada Anda; setelah Anda mendoakannya, baru terasa ringan, seperti ada sebuah beban telah terlepas dari diri Anda. Kalau Anda tidak baik-baik mendoakannya, Anda akan selalu merasakan ada satu perkara yang belum selesai Anda kerjakan. Kalau Anda tidak mendoakannya, Anda bukanlah orang yang sehati dengan Allah. Kalau kita setia dalam hal doa, begitu ada beban segera kita mendoakannya. Dengan demikian berdoa itu bukan beban berat, melainkan satu hal yang sangat ringan dan sangat menyenangkan.
Sayang sekali, banyak orang memadamkan gerakan Roh Kudus, memadamkan dorongan Roh Kudus yang mendesak mereka berdoa; akibatnya di kemudian hari, mereka tidak banyak memiliki perasaan itu lagi. Jika demikian, di hadapan Allah mereka sudah bukan lagi bejana yang berguna, di atas diri mereka Allah tidak bisa melakukan apa-apa, mereka tidak bisa mengutarakan kehendak Allah. Oh, saudara saudari, kalau Anda di hadapan Allah sudah jatuh sampai keadaan ini, yaitu tidak ada perasaan berdoa, mungkin Anda sudah jatuh ke dalam keadaan yang gawat, karena Anda sudah kehilangan persekutuan dengan Allah, dan Allah sudah tidak bisa memakai Anda untuk melakukan pekerjaan-Nya lagi. Sebab itu, di hadapan Allah kita harus sangat hati-hati menangani perasaan Roh Kudus yang diberikan kepada kita. Begitu ada beban berdoa, harus segera bertanya kepada Allah, “Ya Allah, Engkau menghendaki saya mendoakan apa? Sekarang Engkau mau melaksanakan apa sehingga perlu saya doakan?” Kalau Anda mendoakannya, Allah baru bisa mengamanatkan kepada Anda doa yang kedua. Kalau beban yang pertama belum Anda lepaskan, Anda tidak bisa memikul beban yang kedua.
Kita harus mohon Tuhan menjadikan kita orang yang setia dalam berdoa. Begitu ada beban, segera disalurkan, langsung dikeluarkan melalui berdoa. Kalau beban itu terlalu berat sehingga doa kita belum bisa melepaskannya, inilah saatnya bagi kita berdoa puasa. Apa yang tidak bisa kita lepaskan dalam doa, perlu ada doa puasa. Doa puasa bisa dengan cepat melepaskan beban doa, doa puasa bisa membantu Anda melepaskan beban yang sangat berat. Kalau Anda terus melakukan pekerjaan berdoa, Anda adalah satu saluran yang mengalirkan kehendak Allah. Begitu Allah ada pekerjaan, Ia akan mencari Anda untuk mendoakannya. Saudara saudari, kehendak Allah selalu mencari jalan keluar. Allah selalu akan memegang beberapa orang untuk menjadi pengutara kehendak-Nya. Kalau ada banyak orang bangkit melakukan pekerjaan ini, karena doa manusia Allah akan melakukan banyak pekerjaan.