Mencari Perkenan Allah
“Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, sekarang kukatakan sekali lagi: Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Jadi bagaimana sekarang: Apakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Ataukah kucoba menyenangkan manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
Galatia 1:6-10
“Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak sehingga Ia mempercayakan Injil kepada kami, maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita.”
1 Tesalonika 2:4
“Sebab itu juga kami berusaha, supaya kami berkenan kepada-Nya, baik kami tinggal di dalam tubuh ini, maupun kami tinggal di luarnya.”
2 Korintus 5:9
Mencari perkenan Allah adalah satu sikap utama yang harus dimiliki oleh seorang hamba Allah. Paulus mengatakan dalam Surat Galatia 1:10, “Jadi bagaimana sekarang: Apakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Ataukah kucoba menyenangkan manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Di satu pihak, Paulus mengatakan perkataan ini dengan perasaan yang sedih, sebab orang-orang beriman di Galatia telah dan cepat sekali meninggalkan kebenaran Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Di pihak lain, Paulus dengan serius menyatakan sikapnya terhadap Tuhan. Ketika kali pertama Paulus memberitakan Injil di Galatia, ia mengatakan kepada mereka bahwa orang beroleh selamat adalah karena kasih karunia Tuhan, karena iman, bukan karena melakukan Taurat. Pada saat itu banyak orang telah percaya kepada Tuhan, dan mereka sangat mengasihi Paulus; kasih mereka itu sedemikian rupa, sehingga mereka rela mencungkil biji mata mereka untuk diberikan kepada Paulus (Gal. 4:15). Akan tetapi tak lama kemudian, datanglah beberapa orang mengajar mereka bahwa mereka tidak cukup hanya demi kasih karunia dan demi iman, harus pula disempurnakan demi Taurat (Gal. 3:1-3). Karena itu, di sini Paulus dengan sangat serius memberitahukan kepada mereka, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Gal. 1:8). Orang-orang Galatia itu sudah disesatkan sangat dalam, maka ketika Paulus dengan sekuatnya mempertahankan kebenaran Injil, mereka tidak senang kepada Paulus. Maka Paulus berkata kepada mereka, “Jadi bagaimana sekarang: Apakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?” “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal. 1:10, 4:16).
Saudara saudari, seorang yang menjadi hamba Allah, harus mempunyai satu sikap yang mendasar, yakni mencari perkenan Allah. Kalau saat itu Paulus sedikit lunak, yaitu tidak begitu teliti terhadap Injil Tuhan, asal saja ia mengatakan, “Beroleh selamat memang demi iman, tetapi masih perlu bersandar kepada Taurat, juga bersandar kepada perbuatan sendiri,” tentu dengan mengalahnya terhadap kebenaran, ia bisa mendapatkan simpati orang-orang Galatia, tanpa mengorbankan sesuatu, sehingga ia tetap mendapat sambutan baik dari mereka. Akan tetapi Paulus tidak dapat dan tidak mau berbuat demikian. Ia tidak dapat tidak setia kepada Tuhan. Dengan tidak mempedulikan perasaan orang, ia menegur mereka dengan sikap yang serius, “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapa yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan pembenaran melalui hukum Taurat; kamu hidup di luar anugerah (kasih karunia)” (Gal. 3:1; 5:4).
Sikap Paulus yang demikian itu, seharusnya juga dimiliki oleh setiap hamba Allah. Siapakah sebenarnya yang menjadi hamba Allah? Banyak orang mengira mereka yang menjadi pemberita Injil, atau pengkhotbah itulah hamba Allah, sedangkan orang-orang beriman yang lain bukan hamba Allah. Namun Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang telah ditebus Allah semuanya adalah hamba Allah, jadi setiap anak-anak Allah adalah hamba Allah. Kitab Imamat 25:55 mengatakan, “Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir.” Di sini dikatakan dengan jelas sekali bahwa asalkan orang itu orang Israel yang telah dikeluarkan Allah dari tanah Mesir, dialah hamba Allah. Bukan Musa atau Yosua saja yang menjadi hamba Allah, melainkan segenap orang Israel yang telah dikeluarkan dari tanah Mesir. Jadi, asalkan Anda adalah seorang yang telah diselamatkan Allah, Anda sudah menjadi hamba Allah. Kita harus memiliki dua aspek pengenalan terhadap darah Tuhan. Darah-Nya tidak saja telah mencuci dosa kita, darah-Nya pun telah menebus atau membeli kita. Tuhan bukan saja menjadi Juruselamat kita, tetapi juga Tuan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan adalah Tuan kita, dan kita adalah hamba-Nya yang telah dibeli dengan darah-Nya. Kita harus memiliki pengenalan yang tegas dan jelas terhadap kekuasaan Tuhan di atas diri kita, dan kita harus hidup bagi Dia. Setiap orang yang benar-benar telah tampak kasih salib, sedikit banyak dalam hatinya pasti timbul kasih yang ditujukan kepada Tuhan. Seorang yang benar-benar mengasihi Tuhan, pasti dapat menyatakan suatu sikap yang konkret, yaitu mau mencari perkenan Tuhan.
Apakah yang menyebabkan banyak orang Kristen tidak dapat memperoleh perkenan Allah? Sebab yang utama ialah mereka lebih suka mendapat kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Dalam Injil Yohanes 12 kita tampak bahwa di antara banyak orang yang percaya itu terdapat beberapa pemimpin atau pembesar. Karena orang-orang Farisi, mereka tidak berani mengaku, takut kalau-kalau diusir dari Bait Suci orang Yahudi (Yoh. 12:42-43). Mereka tidak berani menjadi orang Kristen secara terang-terangan. Kesulitan mereka tidak lain karena mereka lebih suka mendapat kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Saudara saudari, apakah keadaan itu ada pada diri Anda? Apakah Anda lebih menyukai kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah? Ada orang tidak berani dengan terang-terangan mengaku nama Tuhan Yesus; ada yang tidak berani terang-terangan mengaku dirinya seorang Kristen; tidak berani bersyukur dengan terangterangan ketika hendak makan, bahkan ada yang sudah lama tidak menempuh kehidupan berdoa, membaca Alkitab, dan mengikuti sidang-sidang gereja. Hal itu antara lain dikarenakan mereka takut ditertawakan orang, takut dikatakan takhayul, fanatik, ketinggalan zaman. Pada hakikatnya, mereka itu lebih suka kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Saudara saudari, bila Anda benar-benar mengasihi Allah, Anda pasti memiliki satu hasrat untuk mencari perkenan Allah; dan jikalau Anda benar-benar ingin mencari perkenan Allah, maka tidak seharusnya Anda menyukai kemuliaan manusia lebih daripada kemuliaan Allah.
Seorang Kristen yang mencari perkenan Tuhan, seorang Kristen yang setia kepada Tuhan, juga akan setia terhadap kebenaran Tuhan. Demi mempertahankan kebenaran Injil, Paulus tidak menghiraukan segala tentangan orang, tidak takut kalau ia dimusuhi orang (Gal. 4:16). Ia lebih rela mengorbankan dirinya sendiri daripada mengorbankan kebenaran, ia lebih senang dirinya sendiri menderita kerugian daripada kebenaran dirugikan.
Di waktu-waktu yang lalu, banyak orang Kristen karena mau mencari perkenan Tuhan, dalam segala perkara mau bertindak sesuai dengan firman Tuhan, mau menerima segala yang sesuai dengan Alkitab dan menolak segala yang tidak sesuai dengan Alkitab, mengeluarkan banyak harga dan pengorbanan. Saudara saudari, jika Anda mengambil sikap lunak sedikit saja terhadap kebenaran, Anda pasti tidak begitu banyak menerima serangan, dan terhindar dari kecaman atau cemoohan. Namun jika Anda ingin berdiri tegak mempertahankan kebenaran, Anda tidak akan terhindar dari kesulitan-kesulitan dan tidak dapat tidak mengorbankan sesuatu.
Dulu ada seorang saudara karena tampak kebenaran mengenai baptisan, ia lalu bertekad untuk dibaptiskan. Tetapi hal itu tidak disetujui oleh ayahnya. Terjadilah pergumulan di dalam dirinya. Ia berpikir, jika ia tetap melakukan hal itu, pastilah ia melukai hati ayahnya, tetapi jika tidak menerima baptisan, ia merasa mengingkari firman dan kebenaran Alkitab. Tatkala ia sedang gelisah di atas pembaringan, tiba-tiba Tuhan memberikan sebuah firman kepadanya, “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:37). Di sini ia menjumpai perkara mengeluarkan harga. Mencari perkenan ayah atau perkenan Tuhan? Syukur kepada Tuhan, akhirnya ia tunduk di bawah kasih Tuhan, ia menerima pembaptisan. Pengalaman saudara ini menyatakan suatu perkara, yakni bila Anda ingin mencari perkenan Allah, Anda harus memiliki kepatuhan yang mutlak terhadap kebenaran-Nya. Jika saat itu Paulus mau berkompromi sedikit saja dengan orang-orang Galatia, agak lunak sedikit, tidak begitu teliti terhadap kebenaran, maka ia tetap mendapatkan hati mereka. Tetapi Paulus telah memperhitungkan segala risikonya, bagaimanapun ia tidak mau mencari perkenan manusia, ia hanya mau mencari perkenan Allah. Ia menyadari jika ia tidak demikian, ia bukan hamba Allah; lebih baik dimusuhi mereka, sekali-kali ia tidak dapat tidak memberi tahu mereka apa yang menjadi kebenaran Tuhan.
Amsal 23:23 mengatakan, “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.” Kebenaran harus dibeli, harus membayar harga untuknya. Jika Anda ingin mencari perkenan Allah, ingin berdiri mempertahankan kebenaran, Anda harus mengeluarkan harga. Jika Anda telah tampak dengan jelas akan kebenaran, maka hendaklah Anda mematuhinya sampai pada akhirnya. Sayang sekali, entah berapa banyak orang Kristen yang sudah membelokkan kebenaran Tuhan, karena mereka hanya ingin mendapatkan perkenan manusia, dan tidak berani membayar harga. Saudara saudari, kebenaran hanya boleh dibeli tidak boleh dijual. Kebenaran juga tidak boleh diubah. Kebenaran seperti tiang sebuah rumah, tidak boleh digeser, dipindahkan, direndah-tinggikan atau dimiringkan. Dengan perkataan lain, kebenaran mutlak tidak dapat diubah. Jika terhadap suatu kebenaran kita tidak dapat mematuhinya atau tidak berani membayar harga, maka lebih baik kita mengakui dosa diri sendiri, mengakui kelemahan diri sendiri. Jangan sekali-kali karena kita sendiri tidak bisa menjalankannya atau karena tidak bisa menanggung risikonya, lalu berusaha menurunkan atau mengubah kebenaran itu. Ini mengandung risiko yang sangat berat di hadapan Allah kelak.
Yohanes 15:20 mengatakan, “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.” Sebagaimana perjalanan Tuhan di dunia ini, begitu pulalah perjalanan kita. Jika kita mengakui diri kita adalah hamba Tuhan, hendaklah kita memiliki sikap yang mendasar ini — mencari perkenan-Nya. Tanpa sikap ini, cepat atau lambat kita pasti gagal. Entah berapa banyak orang terjatuh karena lebih menyukai kemuliaan manusia daripada kemuliaan Allah. Oh, saudara saudari, masalah kemuliaan manusia, entah telah berapa dalamnya tertanam di atas diri kita, entah harus melalui berapa banyak pelajaran dan pengalaman baru bisa terbongkar secara tuntas dari diri kita. Sejak manusia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, di atas diri manusia timbul satu kesulitan yang fatal, yaitu kemuliaan manusia. Kita masing-masing memiliki takhta, dan takhta itu berdiri di atas kemuliaan manusia. Jika kita ingin menjadi hamba Tuhan yang setia, kita harus turun dari atas takhta kita itu. Kalau tidak, kita tidak dapat melayani Tuhan.
Ibrani 12:2 memberi tahu kita bahwa Tuhan sudah mengabaikan kehinaan tekun memikul salib. Saudara saudari, salib bukan saja kematian bahkan sesuatu yang memalukan. Jika salib telah menghancurkan Anda, maka atas diri Anda akan muncul satu keadaan yang nyata, yaitu Anda tidak lagi takut dipermalukan. Banyak kegagalan orang-orang Kristen disebabkan takut malu, menyukai kemuliaan manusia, tidak mau turun dari takhtanya sendiri. Saudara saudari, jangan mengira Anda sudah rendah hati atau lemah lembut sejak dilahirkan. Kita ini sebenarnya entah betapa sombongnya! Entah harus menerima berapa banyak kasih karunia-Nya, baru kita bisa turun dari atas takhta kita dan baru bisa tertolong keluar dari kemuliaan manusia!
Semoga Allah mengaruniai kita, agar kita memiliki sebuah hati yang ingin mencari perkenan Allah. Melalui kasih karunia-Nya, kita bisa menjadi seorang hamba yang setia, yang selalu menantikan tibanya hari itu, agar kelak di hadapan takhta pengadilan-Nya kita mendengar Ia berkata kepada kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!” (Mat. 25:23).