Daftar isi Dua Belas Bakul (5) · bab 12/12

Menghitung Hari-hari Diri Sendiri

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Mazmur 90:12

“Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Efesus 5:16-17

“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu.”

Yoel 2:25

Dalam Kitab Mazmur tercantum doa Musa kepada Allah, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Hari-hari yang kita lalui, kalau dihitung dengan penanggalan umum, memang mudah sekali: sehari tentu terhitung sehari, setahun tentu terhitung setahun. Tetapi dalam pandangan Allah tidaklah demikian; hari-hari itu akan ada yang terhitung dan ada yang tidak terhitung. Hari-hari kita dalam dunia ini sangat terbatas. Bagaimanakah dalam hari-hari yang sangat terbatas ini kita bisa diperkenan Allah, agar sehari dapat terhitung sehari dan setahun dapat terhitung setahun? Masalah inilah yang akan kita perhatikan di sini.

I

Dalam Kitab Kejadian pasal 4 dan 5, tercatat dua silsilah dari dua keluarga. Dalam pasal 4 terdapat silsilah keluarga Kain, dalam pasal 5 terdapat silsilah keluarga Set. Cara Alkitab mencatat kedua silsilah ini sangatlah berbeda. Silsilah Kain sangat ringkas, umur Kain dan anak cucunya tidak tercatat. Tetapi silsilah Set sangat jelas, tercatat si anu hidup sekian tahun, lalu memperanakkan si anu dan kemudian hidup sampai sekian tahun, lalu mati, . . . dan seterusnya. Demikianlah umur anak cucu Set, satu keturunan demi satu keturunan tercatat dengan jelas. Dari catatan yang berbeda itu, kita bisa menemukan prinsip perhitungan Allah terhadap hari-hari kita. Silsilah Kain tercatat demikian ringkas, disebabkan Kain telah berdosa terhadap Allah, ia menjauhkan diri dari hadapan Allah, tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Sebaliknya, silsilah Set tercatat demikian jelas, karena Set seorang yang menggantikan Habel, yang memiliki persekutuan dengan Allah, diperkenan Allah. Jadi, perhitungan hari-hari kerohanian kita itu berdasarkan keadaan kita di hadapan Allah. Ketika kita menjauhkan diri dari Allah, kita mati dalam dosa dan pelanggaran, maka hari-hari kita tidak dihitung oleh Allah. Sampai kita bertobat dan berpaling kepada Allah, bersekutu dengan Allah, baru mulai saat itu hari-hari kerohanian kita dihitung oleh Allah.

Ketika bani Israel keluar dari Mesir, Allah berpesan kepada mereka, “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun” (Kel. 12:2). Bulan pertama adalah bulan permulaan dalam satu tahun, merupakan permulaan dari perhitungan sepanjang tahun. Pada bulan pertama itu, bani Israel telah menyembelih anak domba Paskah, keluar dari Tanah Mesir, terlepas dari perbudakan Raja Firaun, maka Allah berpesan kepada mereka, agar bulan itu mereka jadikan bulan pertama. Mulai bulan itu bani Israel mempunyai satu permulaan yang baru di hadapan Allah.

Saudara saudari, berapa lamakah sejarah kerohanian Anda? Ada orang meskipun sudah berusia lanjut, sudah berusia 50 atau 60 tahun, tetapi usia rohaninya mungkin baru satu tahun atau satu bulan saja. Usia rohani dihitung mulai dari saat Anda diselamatkan, yaitu saat Anda dilahirkan kembali. Hari ketika Anda menerima karunia keselamatan itulah hari permulaan dari sejarah kerohanian Anda. Sebelum hari itu, hari-hari Anda tidak terhitung di hadapan Allah. Bahkan setelah satu tahun Anda percaya kepada Tuhan, belum tentu itu berarti usia rohani Anda juga telah satu tahun. Mungkin, telah lima tahun lamanya Anda percaya kepada Tuhan, tetapi belum tentu Allah melihat Anda sebagai seorang Kristen yang sudah berusia lima tahun. Dengan kata lain, walaupun Anda telah menjadi orang Kristen, masih ada hari-hari Anda yang tidak terhitung di hadapan Allah. Dari Alkitab dapat kita ketahui, bahwa ada hari-hari yang dilalui tetapi tidak tercatat, karena hari-hari itu dalam pandangan Allah merupakan hari-hari yang kosong, tidak dapat dihitung. Ada pula hari-hari yang tercatat dalam Alkitab yang bisa menjadi peringatan bagi kita. Sekarang berdasarkan beberapa ayat Alkitab, marilah kita melihat hal-hal yang seharusnya kita pelajari.

II

Terlebih dulu mari kita lihat berapa lamanya sejak bani Israel keluar dari Mesir sampai saat Raja Salomo mulai mendirikan Bait Allah. Ini dapat kita ketahui melalui Kisah Para Rasul 13:18-22 yang mengatakan, “Empat puluh tahun lamanya Ia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di Tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka . . .” (Daud menjadi raja empat puluh tahun lamanya, 2 Sam. 5:4). Jadi, berapa tahun lamanya mulai mereka keluar dari Mesir sampai saat Salomo mulai mendirikan Bait Allah? (Salomo mulai mendirikan Bait Allah, pada tahun keempat pemerintahannya). Jadi, 40 tahun ditambah 450 tahun, ditambah dua kali 40 tahun dan ditambah lagi 3 tahun sebelum Salomo mendirikan Bait Allah, sama dengan 573 tahun. Tetapi dalam 1 Raja-raja 6:1 tercatat demikian, “Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari Tanah Mesir, pada tahun keempat sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi TUHAN”. Di sini tercatat 480 tahun, bukan 573 tahun. Ada selisih 93 tahun! Mengapakah hitungan kedua kitab itu bisa terpaut 93 tahun? Apakah satu di antara kedua kitab itu ada yang salah hitung? Tidak, kedua-duanya tidak salah hitung. Hitungan kedua kitab itu berlainan, karena di dalamnya terkandung prinsip rohani yang penting sekali. Kisah Para Rasul tidak salah menghitung lamanya bani Israel mengembara di padang gurun, yaitu 40 tahun; 40 tahun lamanya Saul menjadi raja; 40 tahun lamanya Daud menjadi raja; waktu Salomo mulai membangun Bait Allah adalah 3 tahun setelah ia menjadi raja. Hitungan-hitungan itu sama sekali tidak ada masalah. Jadi masalahnya tentu terdapat pada 450 tahun itu. Hitungan Kitab 1 Raja-Raja dengan hitungan Kitab Kisah Para Rasul terpaut 93 tahun, di manakah penyebab selisih 93 tahun itu? Bila kita memeriksa Kitab Hakim-hakim, di sana kita bisa tampak satu kenyataan, yaitu dalam kurun waktu tersebut bani Israel berkali-kali ditindas oleh bangsa lain sehingga kehilangan kebebasan. Baiklah sekarang kita hitung juga berapa lama sebenarnya mereka teraniaya.

Hakim-hakim 3:8, “Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia, dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya”. Masa penganiayaan pertama bagi bani Israel adalah 8 tahun. Ayat 14, “Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab.” Masa penganiayaan yang kedua adalah 18 tahun. Hakim-hakim 4:2-3, “Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim. Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kerata besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras.” Masa penganiayaan yang ketiga adalah 20 tahun. Hakim-hakim 6:1, “Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian tujuh tahun lamanya.” Inilah penganiayaan yang keempat, 7 tahun. Sekali lagi pada Hakim-hakim 13:1, “Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.” Inilah penganiayaan yang kelima, 40 tahun. Cobalah kita jumlah, berapa lamanya mereka mengalami lima kali penganiayaan dari bangsa lain itu? 8 tahun ditambah 18 tahun, ditambah 20 tahun, ditambah 7 tahun ditambah lagi 40 tahun. Tepat sekali 93 tahun; tidak kurang pun tidak lebih. Sekarang kita sudah menemukan kekurangan hitungan di antara Kitab 1 Raja-raja dengan Kitab Kisah Para Rasul. Jadi, 93 tahun itu terhitung dalam Kisah Para Rasul, disebabkan Paulus sedang mengisahkan sejarah mereka; sedang Kitab 1 Raja-raja menitikberatkan keadaan mereka di hadapan Allah, sebab itu 93 tahun tadi tidak terhitung, yang terhitung hanya 480 tahun.

Tidak terhitungnya 93 tahun itu mengandung arti yang sangat besar. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang hilang. Oh, ketika orang Israel kehilangan kebebasan mereka, mereka mengabdi kepada orang kafir dan tidak mempunyai hakim sendiri, maka tahun-tahun mereka tidaklah terhitung di hadapan Allah. Bangsa Israel adalah bangsa milik Allah, dan mereka sudah diselamatkan keluar dari Mesir, tetapi bila mereka berada di bawah pemerintahan musuh, menjadi hamba musuh, terbelenggu sehingga tidak dapat dengan bebas mengabdi kepada Allah, maka hari-hari itu sama sekali tidak terhitung. Saat mereka di luar Allah masih mengabdi kepada yang lain, itulah saat-saat yang hilang, hari-hari itu tidak dapat dihitung oleh Allah. Saudara saudari, kita harus menghitung hari-hari kita. Sejak kita beroleh selamat sampai sekarang, berapa banyakkah hari-hari kita yang terhitung oleh Allah? Boleh jadi Anda sudah 8 atau 10 tahun lamanya percaya kepada Tuhan, namun dalam tahun-tahun itu, berapa banyak yang telah Anda lalui dengan sembarangan dan sia-sia? Berapa banyak waktu yang terhilang? Oh, hari-hari yang kita sia-siakan itu terlalu banyak! Kalau hari-hari kita yang terhitung di hadapan Allah dijumlahkan, adakah genap satu tahun? Kita harus tahu, bahwa hari-hari yang kita lalui menurut kemauan diri sendiri, hari-hari yang menjauhi Allah, hari-hari yang gagal, hari-hari yang jatuh, itu semua sama sekali tidak terhitung di hadapan Allah. Baiklah kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri, telah sekian lama kita menjadi orang Kristen, berapa harikah yang kita lalui dengan sia-sia, berapa pula yang terhitung oleh Allah? Oh, hari-hari yang tanpa persekutuan dengan Allah, adalah hari-hari yang tidak terhitung oleh Allah. Saudara saudari, di antara kita tidak ada seorang pun yang boleh menyia-nyiakan waktunya.

III

Jangan mengira, bahwa hari-hari yang hilang itu tidaklah terlalu banyak, hanya sedikit saja. Kalau kita melihat perjalanan bani Israel di padang gurun, kita akan tampak betapa seriusnya kesia-siaan waktu itu. Setelah orang Israel keluar dari Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada bulan ketiga (Kel. 19:1). Mereka tinggal di padang gurun Sinai selama 10 bulan. Pada tahun kedua, bulan kedua, tanggal dua puluh, mereka meninggalkan Gunung Sinai menuju tempat yang dijanjikan Allah (Bil. 10:11-12). Ulangan 1:2 mengatakan, “Sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesy-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir.” Kadesy-Barnea terletak di perbatasan Tanah Kanaan. Ini berarti, dari Gunung Sinai sampai ke Tanah Kanaan, hanya memerlukan waktu perjalanan sebelas hari saja. Tetapi setelah mereka tiba di Kadesy-Barnea, mereka tidak percaya kepada Allah, sebab itu mereka tidak dapat masuk ke dalam Tanah Kanaan. Demikianlah mereka terlunta-lunta mengembara di padang belantara selama 38 tahun, barulah kemudian anak cucu mereka dapat masuk ke Tanah Kanaan. Betapa besar putaran yang mereka kelilingi itu! Bukan hanya 3 atau 5 tahun, tetapi 38 tahun! Sebenarnya perjalanan ke Tanah Kanaan itu tidak sampai dua tahun, namun kini mereka harus berjalan selama 38 tahun!

Dalam perjalanan kerohanian kita, entah sudah berapa banyak waktu yang hilang sia-sia. Ada masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan tiga atau lima hari, tetapi di atas orang-orang tertentu masalah itu masih juga belum terselesaikan setelah 3 atau 5 tahun lamanya. Ini sama dengan bani Israel terlunta-lunta, menyia-nyiakan banyak waktu di padang gurun. Kerugian ini adalah kerugian yang betapa besar! Jangan sekali-kali kita menganggap ini perkara sepele.

IV

Perkara ini juga dapat kita lihat pada diri Abraham. Dalam seumur hidup Abraham, kita dapat mengetahui hari-harinya yang terhitung dan hari-harinya yang tidak terhitung. Menurut Kisah Para Rasul 7:2-3, ketika Abraham berada di Mesopotamia (yakni Ur-Kasdim), Allah menyatakan diri dan bersabda kepadanya, “Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkkan kepadamu.” Bagaimana sikap Abraham terhadap firman Allah? Jika tidak taat, hatinya merasa tidak tenteram, tetapi ia pun tidak rela taat dengan mutlak. Akhirnya ia taat dengan setengah-setengah. Allah menghendaki Abraham meninggalkan kaum keluarganya, tetapi ia masih bersama keluarganya. Abraham tidak pergi sendirian, ia membawa Lot kemenakannya dan juga bersama Terah, ayahnya. Allah menghendakinya ke Kanaan, tetapi setelah ia tiba di Haran, ia tinggal di sana (Kej. 11:31). Inilah keadaan orang Kristen yang tidak patuh dengan mutlak. Ada orang Kristen, kalau kita katakan ia dingin, tetapi masih mempunyai sedikit rasa panas; kalau kita katakan ia panas, kepanasannya pun tidak riil. Demikianlah keadaan Abraham saat itu. Ia telah meninggalkan Tanah Ur-Kasdim, tetapi belum masuk ke Tanah Kanaan; dia sama dengan keadaan orang Kristen yang berada di tengah jalan.

Setelah Terah, ayahnya, meninggal, Allah sekali lagi memanggilnya (Kej. 12:1). Kali ini Allah memanggilnya dari Haran. Kehendak Allah takkan pernah berubah. Ia telah menetapkan sesuatu, Ia pasti akan menggenapinya. Allah menghendaki Abraham pergi ke Kanaan, tujuan ini takkan berubah oleh berdiamnya Abraham di Haran. Kali pertama Allah memanggil Abraham, Abraham hanya taat setengah, karena itu Allah sekali lagi memanggilnya. Ketika Abraham taat kepada panggilan Allah dan keluar dari Haran, Alkitab segera menyebut saat itu umur Abraham adalah 75 tahun (Kej. 12:4). Alkitab tidak pernah menyebut umur Abraham saat ia masih di Ur-Kasdim atau saat ia di Haran. Tetapi setelah ia meninggalkan Haran, barulah Alkitab mencatat usianya. Ini menyatakan kepada kita saat itu adalah satu permulaan yang lain dalam hidup Abraham. Hari-hari Abraham di Haran, hari-hari ia berhenti di tengah jalan, adalah hari-hari yang hilang dan tidak terhitung oleh Allah.

Saudara saudari, jika kita merenungkan kembali sejarah hidup kita, sungguh banyak waktu kita yang hilang! Ingatlah, seluruh waktu yang di Haran tidak diperhitungkan oleh Allah. Sering kali kita berlaku sesuka hati sendiri, malas, mencari kenyamanan hidup, dan berhenti di tengah jalan, itu semua sama dengan tinggal di Haran, yang demikian tidak terhitung. Jika Abraham ingin mendapat berkat Allah, ia harus keluar dari Haran. Pada waktu Abraham berumur 75 tahun, yaitu saat ia keluar dari Haran, barulah Allah menganggap hari itu perlu dicatat. Allah menghendaki manusia dengan mutlak taat kepada-Nya.

Tidak hanya sekali itu saja Abraham kehilangan hari-harinya, dalam hal memperoleh anak, ia juga pernah mengalami kerugian yang besar. Allah telah berjanji kepadanya bahwa ia akan mempunyai seorang anak. Tetapi Abraham malah mendengar anjuran istrinya, yaitu mengambil Hagar, hamba perempuan itu, menjadi gundiknya, perbuatan ini adalah satu dosa di hadapan Allah. Walaupun Hagar dapat melahirkan seorang anak baginya, tetapi anak itu bukan diperoleh berdasarkan janji Allah, melainkan berdasarkan usaha tubuh daging sendiri. Sebab itu, kalau kita membaca Kejadian 16, pada akhir pasal itu kita tampak Abraham berusia 86 tahun, tetapi begitu kita meneruskan membaca pasal 17 ayat pertama, kita tampak Abraham sudah berusia 99 tahun. Nyatalah ada kekosongan waktu 13 tahun lamanya. Selama 13 tahun itu tidak tercatat perkara apa yang telah dikerjakannya, tidak terlihat ia mendirikan mezbah untuk Allah, tidak terlihat Allah menyatakan diri kepadanya, juga tidak terlihat bahwa ia mendapat wahyu atau janji yang baru dari Allah. Hari-hari itu kosong, seolah-olah tidak ada hari-hari itu. Hari-hari itu adalah hari-hari bertambah besarnya Ismael, dan hari-hari itu bagi Abraham sama sekali kosong dan hilang.

Saudara saudari, dalam beberapa tahun ini, apakah Anda mendapat pengalaman yang baru, terang yang baru, dan berita-berita yang baru? Dalam beberapa tahun ini, adakah orang yang beroleh selamat karena Anda? Dalam beberapa tahun ini, adakah orang lain mendapatkan bantuan dari Anda? Dalam beberapa tahun ini, adakah pengenalan Anda terhadap Allah bertambah dalam? Terhadap janji Allah, apakah Anda mempunyai jaminan yang makin segar dan baru? Kepada Allah apakah Anda mempunyai persembahan yang baru? Kalau perkara-perkara di atas satu pun tidak ada pada Anda, itu membuktikan bahwa waktu Anda sudah hilang sia-sia. Pernah seorang saudari tua berkata, “Seorang Kristen hidup di dunia, waktu sehari haruslah terpakai semuanya, inilah jalan memperoleh pahala.” Namun sangat kasihan, adakalanya bahkan sering kali waktu sepuluh hari bagi kita ternyata tidak cukup terhitung satu hari! Saudara saudari, betapa baiknya jika tiap hari kita dapat melalui kehidupan kristiani kita dengan cermat dan teliti. Jika kita hidup dengan sembarangan, durhaka, berdosa kepada Allah, dan berlaku menurut kemauan sendiri, dalam pandangan Allah, hari-hari kita itu sama sekali telah terhambur dengan sia-sia. Menyia-nyiakan waktu adalah perbuatan yang sangat disayangkan!

Mengapa Alkitab mencatat lagi umur Abraham ketika ia berusia 99 tahun? Sebab pada tahun itu ia disunat. Satu tahun setelah ia disunat, Ishak, anaknya terlahir. Sunat berarti menyingkirkan tubuh daging. Hari-hari kita berbuat sesuatu demi tubuh daging, hari-hari itu adalah hari-hari yang sia-sia bagi kita. Kiranya mulai hari ini kita dapat menyingkirkan segala sesuatu yang dimiliki tubuh daging, dan mempersembahkan segenap diri kita di atas mezbah, agar tidak ada lagi hari-hari kita yang sia-sia. Jangan sampai setelah kita menempuh hidup selama 50 tahun, tetapi yang 49 tahun hilang sia-sia. Wajiblah kita hitung, berapa waktu yang telah sia-sia dan berapa yang tersisa. Jika kita ingin setiap hari menantikan kedatangan Tuhan, kita harus setiap hari memperhatikan waktu kita!

V

Dalam Matius 20, Tuhan mengatakan satu perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang berkali-kali memanggil orang bekerja di kebun anggurnya. Dalam perumpamaan ini harus kita perhatikan kata “menganggur”. “Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? . . . Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” Perumpamaan ini memberi tahu kita, bahwa Allah tidak senang melihat kita menganggur, Ia senang melihat kita bekerja. Perumpamaan ini juga memberi tahu kita, bahwa Allah memiliki satu lingkungan pekerjaan yang telah ditentukan-Nya — kebun anggur. Mungkin Anda berkata, bahwa Anda selalu sibuk bekerja, sedikit pun tidak menganggur. Tetapi di manakah Anda sibuk bekerja? Jika Anda bukan bekerja di dalam kebun anggur-Nya, tidakkah itu sama dengan Anda sedang menganggur? Tak peduli berapa banyak pekerjaan Anda, jika semuanya itu tidak berada dalam kehendak Allah, dalam pandangan Allah Anda sama seperti menganggur. Boleh jadi Anda sangat sibuk mengerjakan pekerjaan kerohanian, tetapi mungkin Allah akan berkata kepada Anda, “Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Pekerjaan yang kamu lakukan di luar kebun anggur, sama sekali bukan milik-Ku!” Meskipun Anda mengira bahwa Anda sangat sibuk bekerja, tetapi dalam pandangan Allah Anda sangatlah kosong. Pekerjaan yang diperkenan Allah adalah pekerjaan yang berada di dalam kebun anggur itu. Pekerjaan di dalam kebun anggur menyatakan bahwa pekerjaan yang Anda lakukan itu berasal dari Allah dan untuk Allah. Kalau pekerjaan Anda di luar kehendak Allah, maka semua waktu yang telah Anda gunakan sia-sia saja, dalam pandangan Allah sama dengan menganggur.

Tuan itu berkata kepada orang-orang itu (pada pukul lima petang), “Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?” Kata “sepanjang hari” ditujukan kepada “seumur hidup manusia”. Saudara saudari, bagaimana dengan Anda? Anda sedang menganggur atau sedang bekerja di dalam kebun anggur? Janganlah Anda salah mengerti, ini bukan berarti Anda harus meninggalkan pekerjaan Anda lalu pergi menjadi penginjil. Yang penting ialah sewaktu kita mengerjakan pekerjaan apa saja, kita harus jelas bahwa kedudukan kita sekarang adalah di dalam kehendak Allah. Bekerja di dalam kebun anggur berarti bekerja di dalam kehendak Allah. Di dalam kebun anggur itu ada bermacam-macam pekerjaan, mencangkul tanah, menanam benih, ada pula memotong dan merapikan daun-daun dan pepohonan. Tak peduli pekerjaan apa saja yang Anda lakukan dalam kebun itu, asal untuk faedah kebun itu, cukuplah. Sebab itu, janganlah kita berkeinginan bahwa kita harus seperti si anu, barulah terhitung mengerjakan pekerjaan Allah, atau kita harus mengerjakan pekerjaan tertentu baru terhitung mengerjakan pekerjaan Allah. Tidak! Bukan demikian. Asal waktu itu kita pergunakan di dalam kebun anggur, maka waktu kita sudah terhitung oleh-Nya.

Saudara saudari, mungkin Anda telah 3 atau 5 tahun lamanya beroleh selamat, bahkan mungkin sudah 10, 20 tahun, tetapi berapa banyak waktu yang benar-benar Anda gunakan untuk Allah? Memang, Anda sudah banyak bekerja, tetapi semua pekerjaan Anda itu untuk siapa? Asal Anda benar-benar tahu bahwa Anda sedang bekerja sesuai dengan kehendak Allah, maka pekerjaan apa saja yang Anda lakukan, itu semua baik. Allah tidak menghendaki semua orang Kristen meninggalkan pekerjaannya untuk khusus menjadi penginjil. Mungkin orang yang khusus menjadi penginjil justru tidak bekerja sesuai dengan kehendak Allah. Masalahnya tergantung kepada bagaimana hati Anda terhadap kehendak Allah. Sebab itu persembahan adalah satu perkara yang tidak boleh kurang. Sejak Anda beroleh selamat sampai sekarang, jika Anda sedikit pun tidak ada hati untuk Allah, maka Anda adalah seorang yang menganggur dalam seumur hidup Anda.

VI

Ketika Paulus menulis surat kepada orang-orang kudus di Korintus, ia mengatakan, “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi (milik daging) . . . “ (1 Kor. 3:2-3). Sesuai dengan yang kita ketahui, sejak kali pertama Paulus pergi ke Korintus memberitakan Injil, sampai saat ia menulis surat yang pertama kepada mereka, hanya terpaut beberapa tahun saja. Tetapi Paulus sudah merasa tidak ada kemajuan rohani atas diri mereka. Paulus tidak mengatakan, “Karena mereka belum berapa lama menjadi orang Kristen, maka wajarlah kalau masih kekanak-kanakan.” Maksud Paulus ialah mereka seharusnya sudah bertumbuh dewasa, namun mereka belum juga bertumbuh, mereka sudah banyak membuang waktu mereka dengan sia-sia. Seharusnya mereka sudah menjadi orang yang tegap perkasa, bisa makan makanan keras, tetapi mereka telah melewatkan hari-hari mereka dengan sia-sia; keadaan mereka tetap masih seperti kanak-kanak yang milik daging. Seharusnya mereka sudah mempunyai pengalaman dalam kepatuhan kepada Tuhan, bersandar kepada Tuhan dan menempuh jalan Tuhan, bahkan seharusnya sudah bisa memimpin orang lain, tetapi sampai sekarang mereka masih belum juga mengerti hal-hal itu. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi orang Kristen, tetapi keadaan mereka masih tetap seperti bayi. Rasul Paulus merasa hal ini tidak sepatutnya. Saudara saudari, jika Anda berpikir karena Anda hanya beberapa tahun menjadi orang Kristen, maka wajar jika Anda masih serupa dengan seorang bayi, pikiran demikian ini sangat keliru! Berapa lamakah umur hidup Anda? Berapa lamakah hari-hari Anda menjadi orang Kristen? Jika Anda sudah menjadi orang Kristen 8 tahun atau 10 tahun, tetapi keadaan Anda masih seperti ketika Anda baru dilahirkan kembali, masih milik tubuh daging, masih seperti bayi, itu berarti Anda sudah menyia-nyiakan banyak waktu Anda.

Oh, saudara saudari, berapa tahukah kita hidup di dunia ini? Tujuh puluh tahun? Delapan puluh tahun? Betapa pendek waktu itu! Dalam tahun-tahun yang sependek itu masih harus dipotong waktu-waktu kita belum beroleh selamat, masih ada berapakah sisanya? Tahukah Anda, berapa lama Anda bisa hidup di dunia ini? Anda sudah hidup selama 60 tahun, tetapi mungkin Allah berkata, “Hidupmu di hadapan-Ku tidak sampai 10 tahun.” Anda sudah hidup selama 50 tahun, namun mungkin Allah berkata, “Hidupmu di hadapanKu belum ada beberapa hari.” Kalau hari-hari Anda banyak yang hilang, sungguh sangat kasihan.

VII

Saudara saudari, betapa sedihnya hati ini jika teringat akan hari-hari yang kita lalui dengan sia-sia itu. Tetapi puji syukur kepada Allah, Ia masih memberi satu hiburan kepada kita, yaitu yang tersurat dalam Yoel 2:25, “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang . . . .” Puji syukur kepada Allah, Allah masih mempunyai satu jalan. Mungkin Anda sekarang sudah berusia 60 tahun, dan sudah menyia-nyiakan waktu sebanyak 30 atau 40 tahun, mungkin Anda berkata, “Ah, kesempatan sudah lewat, hari-hariku yang kuat dan perkasa itu sudah habis dimakan belalang, hari-hari yang lenyap itu tidak bisa didapat kembali, apa yang harus kulakukan sekarang?” Syukur kepada Allah, Ia dapat memulihkan tahun-tahun kita yang sudah dimakan habis oleh belalang itu. Jika kita menyia-nyiakan waktu kita, mungkin 10 tahun hanya bisa terhitung satu hari saja, tetapi jika kita menyayangi waktu kita, mungkin satu hari dapat menggantikan seribu hari. Daud berkata, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain . . . .” (Mzm. 84:11). Hari-hari di surga bukan dihitung dua puluh empat jam. Allah mempunyai hitungan yang lain. Jika pelayanan kita sesuai dengan kehendak-Nya, kita dapat menukar satu hari kita dengan banyak hari, bahkan bertahun-tahun.

Dulu ada seorang muda yang hidup dalam kesenangan dunia dan dosa. Suatu hari ia terkena penyakit paru-paru cukup parah, hampir meninggal dunia. Ada seorang hamba Tuhan yang sudah berusia lanjut memberitakan Injil Tuhan kepadanya. Ia memberi tahu bahwa Tuhan sudah menanggung segala dosanya, lalu menganjurkannya bertobat, mengaku dosa dan menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat. Pada mulanya orang muda itu merasa susah sekali, ia berpikir, “Seorang dosa seperti aku ini, masihkah Tuhan mau mengampuni?” Tetapi akhirnya ia sungguh-sungguh menerima Tuhan. Ia beroleh selamat dan merasa sangat gembira dan tenteram. Beberapa hari kemudian, hamba Tuhan itu datang lagi menjenguknya, tetapi terlihat olehnya orang muda itu bermuram durja, sangat risau. Ia bertanya, “Apa yang terjadi? Jangan membiarkan Iblis menipumu.” Orang muda itu menjawab, “Tidak, aku tahu bahwa dosaku sudah diampuni.” “Kalau begitu, apakah yang kaurisaukan?” Dengan sedih hati orang muda itu menjawab, hari-hariku di dunia ini sudah hampir habis. Kalau aku berdiri di hadapan Tuhan kelak, apakah yang dapat kubawa kepada Tuhan? Tanganku sama sekali kosong. Bagaimana aku bisa menjumpai Tuhan dengan hampa tangan?” Ternyata orang muda ini sedih dan risau karena ini. Orang tua itu berkata kepadanya, “Jangan khawatir! Saya akan mengarang sebuah nyanyian dengan memakai perkataanmu tadi. Semoga ada orang yang tergerak oleh nyanyian ini sehingga menjadi penginjil dan mendapatkan jiwa-jiwa, hasilnya akan terhitung sebagai hasilmu untuk Tuhan.” Nyanyian ini akhirnya menjadi salah satu nyanyian yang termasyhur, yang berjudul “Bolehkah dengan hampa tangan, kupulang jumpa Tuhan?” Kemudian benar-benar terjadi, banyak sekali orang yang tergerak karena nyanyian ini. Mereka bergairah bekerja untuk Tuhan. Orang muda itu, walaupun telah kehilangan hampir seluruh waktu dalam hidupnya, tetapi menjelang ajalnya, ia memiliki sedikit hati untuk Tuhan, dan Tuhan mau menggenapkan minatnya itu.

Saudara saudari, baiklah kita masing-masing menghitung hari-hari kita sendiri! Semoga hari-hari kita yang hilang dapat diperoleh kembali. Semoga hari-hari kita, sehari dapat ditukar dengan seribu hari. Semoga langkah kita setindak demi setindak tetap berjalan di dalam terang kehendak Allah!

DUA BELAS BAKUL