PERINGATAN (MENYIRATKAN ANUGERAH) (1)
Pembacaan Alkitab: Ul. 27
Kita telah menyelesaikan bagian Kitab Ulangan yang membahas pengulangan hukum Taurat (4:44—26:19), dan sekarang kita sampai pada bagian yang baru (27:1—28:68), yang membahas perkara peringatan dan membicarakan tentang kutuk dan berkat.
I. MUSA, BERSAMA PARA TUA-TUA ISRAEL, MEMERINTAHKAN BANGSA ITU
UNTUK BERPEGANG PADA SELURUH PERINTAH
YANG DIA PERINTAHKAN KEPADA MEREKA PADA HARI ITU
Dalam 27:1-26 Musa, bersama para tua-tua Israel, memerintahkan bangsa itu untuk berpegang pada seluruh perintah yang dia perintahkan kepada mereka pada hari itu. Hari itu adalah hari pengulangan hukum Taurat.
A. Bangsa Itu Menegakkan Batu-batu Besar di Gunung Ebal,
Mengapurnya, dan Menuliskan padanya Segala Perkataan Hukum Taurat
Ketika orang Israel menyeberang Sungai Yordan ke tanah yang dijanjikan Allah, mereka menegakkan batu-batu besar di Gunung Ebal (Ul. 27:2a, 4). Batu-batu itu adalah batu alam, bukan buatan manusia, melambangkan keadaan yang tidak dapat diubah. Batu-batu itu dikapur (Ul. 27:2b), dan padanya bangsa itu harus menuliskan dengan jelas “segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 27:3, 8). Saya percaya bahwa perkataan ini mengacu kepada Sepuluh Perintah.
B. Mendirikan bagi TUHAN Allah Mereka
suatu Mezbah dari Batu, Mempersembahkan
Kurban Bakaran di Atasnya bagi Allah,
Juga Mempersembahkan Kurban Pendamaian,
Dimakan di Sana, dan Bersukaria di Hadapan TUHAN
Di tanah yang diberikan Allah, orang Israel harus mendirikan bagi TUHAN Allah mereka suatu mezbah dari batu yang tidak boleh diolah dengan perkakas besi (Ul. 27:56a). Sungguh bermakna bahwa ketika berkat dan kutuk hendak disampaikan, Musa memerintahkan bangsa itu mendirikan suatu mezbah. Mezbah ini menyiratkan anugerah. Sebelum bangsa itu memperhatikan berkat atau ku-tuk, mereka mendirikan mezbah. Mendirikan mezbah adalah perkara besar, sebab setelah kejatuhan manusia, yang terlebih dulu kita perlukan berkenaan dengan Allah adalah satu mezbah, salib Kristus. Kita bersyukur kepada Allah bahwa sebelum Dia menanggulangi kita terkait dengan berkat atau kutuk, Dia merampungkan keselamatan melalui penebusan Kristus di atas salib. Puji Tuhan bahwa satu mezbah telah didirikan!
Di atas mezbah, yang melambangkan salib Kristus, orang Israel harus mempersembahkan kurban bakaran (Kristus) kepada Allah (Ul. 27:6b). Bangsa itu juga harus memper-sembahkan kurban pendamaian (Kristus) dan makan di sana dan bersukaria di hadapan TUHAN Allah mereka (Ul. 27:7). Di salib, Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban bakaran untuk kepuasan Allah. Dia juga mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban pendamaian untuk kita supaya kita dapat dipuaskan. Sekarang di hadirat Allah, kita dapat menikmati Kristus sebagai kurban pendamaian untuk persekutuan kita dengan Allah.
Kurban bakaran dan kurban pendamaian dalam ayat 6 dan 7 menunjukkan bahwa orang yang ingin memegang perintah-perintah Allah harus mempersembahkan dirinya sebagai kurban bakaran kepada Allah untuk kepuasan-Nya, agar dia dapat mempersembahkan kurban pendamaian kepada Allah untuk kenikmatannya dengan Allah dalam persekutuan. Ini berarti jika kita bermaksud melakukan sesuatu di hadapan Allah, mula-mula kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran untuk kepuasan Allah. Lalu, khusus untuk keperluan diri kita dan kepuasan kita, kita juga harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban pendamaian. Kemudian kita akan memiliki kenikmatan dengan Allah dalam persekutuan ilahi.
C. Setelah Menjadi Umat TUHAN Allah Mereka,
Orang Israel Harus Mendengarkan Suara-Nya, Melakukan Perintah-Nya dan Ketetapan-Nya
Musa, bersama imam-imam orang Lewi, berbicara kepada segenap orang Israel bahwa sejak hari itu mereka telah menjadi umat TUHAN Allah mereka; karena itu mereka harus mendengarkan suara-Nya dan melakukan perintah-Nya dan ketetapan-Nya (Ul. 27:9-10).
D. Musa Memerintahkan Enam Suku Berdiri di
Gunung Gerizim untuk Memberkati Bangsa Itu
dan Enam Suku Berdiri di Gunung Ebal untuk Mengutuk
Musa memerintahkan enam suku Israel, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf, dan Benyamin, harus berdiri di Gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu (Ul. 27:11-12). Musa juga memerintahkan enam suku, Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan, serta Naftali, harus berdiri di Gunung Ebal untuk mengutuk (Ul. 27:13). Mengenai kelompok mana yang akan mereka masuki, suku-suku itu tidak ada pilihan, tetapi harus menerima penetapan Allah.
E. Orang-orang Lewi Merespons
Orang-orang Lewi harus merespons dan berkata kepada bangsa itu dengan suara yang keras, harus mengucapkan kutuk yang dicatat dalam ayat 15-26.
F. Orang-orang yang Harus Dikutuk
Kepada setiap kutuk dalam 27:15-26, bangsa itu harus berkata, “Amin.” Orang-orang yang dikutuk adalah sebagai berikut: orang yang membuat berhala (Ul. 27:15); orang yang tidak menghormati orang tuanya (Ul. 27:16); orang yang yang menggeser batas tanah sesamanya (Ul. 27:17); orang yang membawa orang buta ke jalan yang sesat (Ul. 27:18); orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim, atau janda (Ul. 27:19); orang yang tidur dengan istri ayahnya (Ul. 27:20); orang yang tidur dengan binatang (Ul. 27:21); orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak perempuan ayah dan ibunya (Ul. 27:22); orang yang tidur dengan ibu mertuanya (Ul. 27:23); orang yang membunuh sesamanya secara tersembunyi (Ul. 27:24); orang yang menerima suap untuk membunuh sesamanya yang tidak bersalah (Ul. 27:25); dan orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan (Ul. 27:26).
G. Orang Israel, dengan Sifatnya yang Jatuh,
Tidak Berdaya Memegang Perintah, Ketetapan, dan Peraturan Allah Mereka
Orang Israel, dengan sifatnya yang jatuh, tentunya tidak berdaya memegang perintah, ketetapan, dan peraturan Allah mereka; maka, mereka bisa berada di bawah semua kutuk yang tercantum dalam ayat 15-26. Namun, tepat di samping batu yang ditulisi perintah-perintah Allah ada mezbah, di sana mereka dapat mengambil Kristus sebagai kurban bakaran mereka untuk Allah bagi kepuasan-Nya dan mengambil Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban pendamaian mereka untuk Allah bagi kepuasan Allah dan kenikmatan mereka bersama Allah. Inilah alasannya mezbah disiapkan sebelum kutuk diumumkan.
Sebelum kita percaya kepada Kristus dan beroleh selamat, kita dikutuk di bawah perintah, ketetapan, dan peraturan Allah. Melalui Kristus kita telah ditebus keluar “dari kutuk hukum Taurat” (Gal.3:13). Allah menyiapkan satu mezbah, salib Kristus, dan pada salib kita mengambil Kristus sebagai kurban bakaran yang dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Kita juga mengambil Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban pendamaian kita untuk kepuasan Allah dan kenikmatan kita bersama Allah. Kurban pendamaian adalah makanan untuk Allah dan kita, dan kita menikmati makanan ini di hadirat Allah ketika kita bersekutu dengan Dia.
Dulu, kita dikutuk di bawah hukum Taurat. Tetapi puji Tuhan untuk salib! Di alam semesta ini bukan hanya ada satu kitab hukum Taurat yang di bawahnya kita dikutuk, juga ada salib yang melaluinya Allah telah merampungkan anugerah-Nya menurut kebenaran Allah. Karena kita telah datang ke salib, kita sekarang berada di bawah salib dan tidak lagi di bawah hukum Taurat. Sebagai orang yang ada di bawah salib, kita dapat memuaskan Allah, dan juga menemukan kepuasan untuk diri sendiri, melalui Kristus, Penebus dan Pengganti kita. Melalui Kristus, yang adalah damai sejahtera kita, kita memiliki damai sejahtera dengan Allah. Hukum Taurat telah berlalu, dan salib teguh selama-lamanya.