TIGA HAL YANG MERUSAK GEREJA
Pembacaan Alkitab:
Ef. 1:5-7, 13, 17, 22-23; 2:4, 5, 15, 18, 22;
3:8, 16-17, 19, 21; 4:4-6, 15;
5:18, 26-27; 6:11, 18
Dalam berita ini kita akan membahas bagaimana gereja merosot. Sebelum kita membahas hal ini, marilah kita melihat beberapa ayat penting dalam tiap pasal Kitab Efesus ini.
SASARAN ALLAH YANG TERAKHIR
Dalam Efesus 1:5 Paulus berkata bahwa kita telah ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah. Dalam pen-ciptaan, Allah adalah Pencipta, bukan Bapa kita. Tidak seorang pun di antara kita yang dilahirkan dari Dia dalam penciptaan. Fakta bahwa Allah telah menentukan kita, atau memberi tanda pada kita sebelumnya untuk menjadi anak-anak-Nya, berarti kita telah ditentukan untuk dilahirkan oleh-Nya. Hal ini menyiratkan bahwa Allah harus masuk ke dalam kita dan kita harus menerima hayat-Nya serta memiliki satu hubungan dengan-Nya dalam hayat. Karena itu, ditentukan untuk menjadi anak-anak berarti ditentukan untuk dilahirkan oleh Allah, agar Ia dapat menjadi Bapa kita, dan agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya.
Dalam Efesus 1:6-7 kita nampak bahwa Allah telah mengaruniai kita dalam Putra-Nya yang terkasih dan menebus kita di dalam-Nya. Setelah menjadi sasaran anugerah Allah, kita diperkenan di dalam Kristus, dan menerima penebusan melalui darah Kristus.
Efesus 1:13 mengatakan bahwa kita telah dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan. Pada hari kita percaya Tuhan Yesus, Allah memeteraikan kita dengan diri-Nya sendiri sebagai Roh itu.
Dalam Efesus 1:17 Paulus membicarakan keperluan kita akan satu roh hikmat dan wahyu. Roh ini ditujukan kepada roh kita yang dilahirkan kembali yang telah dihuni oleh Roh Allah.
Kata penutup dalam Efesus 1 menyinggung soal gereja. Gereja ialah Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dalam segala sesuatu (ayat 22-23).
Dengan menggabungkan semua ayat ini kita dapat nampak Efesus 1 dalam pandangan yang baru. Kita telah ditentukan, kita telah dimeteraikan, dan kita telah menerima satu roh hikmat dan wahyu, hingga kita dapat mengenal Tubuh Kristus. Pemilihan, penentuan semula, penebusan, dan pemeteraian bukanlah tujuannya, semuanya itu adalah untuk Tubuh Kristus. Kita dipilih, ditentukan, diperkenan, dianugerahi, ditebus, dan dimeteraikan bagi Tubuh Kristus. Tidak hanya demikian, untuk Tubuh ini, kita telah diberi satu roh hikmat dan wahyu. Dalam Efesus 1 Tubuh Kristus merupakan sasaran akhir Allah.
Di masa-masa yang lalu banyak di antara kita yang pernah mendengar khotbah tentang penentuan dan penebusan. Kita juga telah mendengar tentang kita dianugerahi dan dimeteraikan dengan Roh. Namun, pernahkah Anda mendengar bahwa pemilihan, penentuan, perkenan, penebusan, dan pemeteraian Allah itu semua untuk Tu-buh Kristus?
TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Dalam Efesus 2:4-5 kita melihat, bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran, Allah menghidupkan kita bersama Kristus. Kita dulu tidak saja berdosa, juga mati. Tetapi Allah datang menghidupkan kita. Jika Allah menebus kita dan mengampuni kita tanpa menghidupkan kita, Allah akan memiliki banyak orang yang tertebus yang tetap dalam keadaan mati. Puji Tuhan, selain menebus kita, Ia juga menghidupkan kita!
Allah pun menciptakan kita menjadi satu manusia baru (2:15). Lagi pula, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa di dalam Roh (ayat 18). Terakhir, kita dibangun menjadi satu tempat kediaman Allah di dalam roh kita (ayat 22). Jika pasal 1 berakhir pada Tubuh Kristus, maka pasal 2 berkesimpulan pada pembangunan tempat kediaman Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kita telah dihidupkan tidak hanya untuk dihidupkan, tetapi untuk pembangunan tempat kediaman Allah. Dengan kata lain, Allah menghidupkan kita untuk gereja. Perkataan-Nya yang terakhir, baik dalam pasal 1 maupun pasal 2 semua adalah mengenai gereja. Pada akhir pasal 1, kita memiliki gereja sebagai Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu, dan pada akhir pasal 2, kita memiliki gereja sebagai tempat kediaman Allah di dalam roh.
BUKAN KEROHANIAN INDIVIDUAL,
MELAINKAN GEREJA
Dalam Efesus 3:8 Paulus berkata bahwa ia memberitakan kekayaan Kristus yang tidak terduga itu sebagai Injil. Paulus tidak memberitakan doktrin, termasuk doktrin tentang kekayaan Kristus. Yang dia beritakan adalah kekayaan Kristus. Selain itu, dalam pasal ini Paulus berdoa agar kita dikuatkan oleh Roh ke dalam manusia batiniah kita, supaya Kristus berumah dalam hati kita (ayat 16-17). Sasaran dari penguatan dan penghunian di batin ini adalah agar kita dapat dipenuhi ke dalam segala kepenuhan Allah (ayat 19). Hasilnya ialah kemuliaan bagi Allah di dalam gereja (ayat 21). Karena itu, pasal 3, sebagaimana pasal-pasal sebelumnya, berakhir dengan gereja. Hal ini berarti pemberitaan kekayaan Kristus yang tidak terduga, penguatan manusia batiniah kita, Kristus berumah di hati kita, dan dipenuhi ke dalam segala kepenuhan Allah, semua itu bukan untuk kerohanian individual kita, melainkan untuk gereja.
BERTUMBUH BAGI TUBUH KRISTUS
Dalam Efesus 4:4-6 kita memiliki Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — dan Tubuh. Menurut Efesus 4:15, kita harus bertumbuh ke dalam Kristus dalam segala perkara. Pertumbuhan ini adalah bagi Tubuh Kristus, yakni gereja.
DIPENUHI DAN DIBASUH BAGI GEREJA
Dalam Efesus 5:18 Paulus menyuruh kita agar dipenuhi di dalam roh. Pemenuhan ini sesungguhnya berkaitan dengan dipenuhinya ke dalam segala kepenuhan Allah. Melalui pemenuhan di batin ini kita mempunyai air dalam firman untuk membasuh cacat dan kerut kita (ayat 26-27). Hasil dari pembasuhan ini ialah kita akan dikuduskan secara korporat. Pengudusan terutama bukan merupakan masalah individual, melainkan masalah korporat, yakni masalah bagi Tubuh Kristus. Lagi pula, dalam pasal ini kita nampak bahwa Kristus sedang merawat dan memelihara Tubuh-Nya (ayat 29).
MENGENAKAN PERSENJATAAN
SEBAGAI LASKAR ALLAH
Terakhir, dalam pasal 6, Paulus menyuruh kita me-ngenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 11). Kita perlu menerima pedang Roh, yaitu firman Allah, me-lalui segala doa, berdoa setiap waktu dalam roh (ayat 18). Ini adalah untuk gereja, sebagai laskar Allah.
MELIHAT VISI GEREJA
Ketika kita merenungkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa dalam gereja yang sejati tidak terdapat agama, tradisi, peraturan, bentuk, atau tata-cara. Sebaliknya, ada Allah Tritunggal sebagai Roh almuhit yang sedang bekerja dalam roh kita untuk menghasilkan Tubuh Kristus, yakni manusia baru. Saya harap kita semua dapat mendoa-bacakan ayat-ayat ini, hingga kita nampak visi gereja. Kemudian kita akan paham bahwa Allah telah menentukan kita untuk hal ini. Kita telah dihidupkan bagi tempat kediaman Allah, dan kita menikmati kekayaan Kristus untuk menjadi bagian dari gereja. Gereja dihasilkan melalui perbauran Allah Tritunggal dengan umat manusia yang telah ditebus. Hidup gereja justru adalah perbauran korporat dari Roh ilahi dengan roh insani. Bila kita memiliki Kristus sebagai realitas kita, kita tidak akan memiliki peraturan atau bentuk tertentu lagi, tetapi kita hanya akan memiliki pengalaman atas Kristus yang hidup di dalam roh kita.
AGAMA YAHUDI MENJADI
PENYEBAB KEMEROSOTAN
Jika kita mempelajari sejarah gereja, kita akan tahu bagaimana gereja merosot. Pertama, Iblis memperalat agama Yahudi, satu agama yang didirikan menurut firman Allah, untuk merusak gereja. Dengan kelicikannya, Iblis menyuruh agama Yahudi menyusup ke dalam gereja. Kita telah nampak bahwa gereja adalah suatu wujud yang dihasilkan melalui perbauran Roh Ilahi dengan roh insani. Dalam wujud ini tidak ada tempat bagi peraturan, organisasi, bentuk, atau doktrin. Dalam gereja hanya ada tempat bagi Allah Tritunggal sebagai Roh almuhit yang telah berbaur dengan roh kita secara korporat. Demikianlah keadaan gereja pada hari Pentakosta. Pada waktu itu, tidak ada apa yang disebut kebaktian atau cara penyembahan. Saat itu kaum saleh masih belum dipengaruhi oleh pengetahuan yang doktrinal, dan mereka belum berada di bawah organisasi apa pun. Pada hari Pentakosta, tidak ada agama, yang ada hanya sekelompok orang yang hidup dalam roh yang telah berbaur, dan mengalami hidup gereja yang sejati.
Akan tetapi, tidak lama kemudian, agama Yahudi menyusup masuk dengan bentuk-bentuk, dan peraturan-peraturannya, teristimewa peraturan tentang sunat, hari Sabat, dan makanan. Paulus menulis Kitab Galatia justru untuk menanggulangi kerusakan yang disebabkan oleh agama Yahudi, yakni oleh agama.
PENGETAHUAN MERUPAKAN
SUMBER KERUSAKAN
Kedua, Iblis memperalat filsafat, teristimewa campuran dari beberapa filsafat yang disebut Gnostik, untuk merusak gereja. Ada beberapa bentuk Gnostik mencakup unsur-unsur agama Yahudi dan kekristenan. Yang ingin saya tekankan ialah Iblis memperalat pengetahuan dan penggunaan pikiran alamiah untuk merusak gereja. Kitab Kolose ditulis untuk menanggulangi hal ini, seperti hal-nya Kitab Galatia ditulis untuk menanggulangi agama. Kelicikan musuh ialah mengalihkan gereja dari roh yang telah berbaur kepada pikiran alamiah, yaitu mengalihkan kaum saleh dari pohon hayat kepada pohon pengetahuan. Pada mulanya, orang-orang yang berada dalam hidup gereja diberi makan dari pohon hayat. Kemudian Iblis datang menyelewengkan kaum saleh dari pohon hayat kepada pohon pengetahuan. William Law, yang seangkatan dengan John Wesley, pada masa itu sudah menyadari hal ini. Dalam sebuah buku yang berjudul “Kuasa Roh Kudus” (The Power of the Spirit), William Law menulis kata-kata sebagai berikut:
“Suatu keyakinan akan hikmat manusia dan huruf dari Alkitab telah menyebabkan gereja merosot dari keadaan Injil yang semula, sebagaimana Adam jatuh melalui memakan pohon pengetahuan yang sama. Pengajar-pengajar Alkitab dan tokoh-tokoh agama yang menduduki posisi gerejani melalui pencapaian intelektual dan ketrampilan berkhotbah, berbeda dengan orang-orang yang tidak dapat menyamai mereka, sama seperti perbedaan antara ular dengan binatang buas lain di ladang — jauh lebih licik.”
Lagi pula, berbicara tentang beralih dari pohon hayat ke pohon pengetahuan, William Law berkata demikian:
“Pada masa gereja rasuli pertama, hikmat perkataan lebih sedikit dicari daripada persahabatan dengan dunia yang menjadi seteru Allah. Dalam gereja yang baru lahir, pohon hayat yang bertumbuh di tengah-tengah Firdaus kembali berakar dan bertumbuh lagi, dan ketika orang memakannya, ia menyebarkan kemuliaan dan budi pekerti. Tetapi dalam gereja masa kini, pohon hayat dicemooh sebagai makanan khayalan kaum ekstremis, dan pohon kematian, yang disebut pohon pengetahuan, malah telah mengambil hati dan menarik perhatian para pendeta dan umat, dan lagi dianggap berfaedah banyak bagi orang Kristen, sebanyak ia mencelakakan sepasang penduduk pertama di Firdaus itu.”
Pada akhir Kejadian 3, jalan menuju pohon hayat telah tertutup bagi manusia yang telah jatuh. Akan tetapi, melalui penebusan Kristus, gereja telah dibawa kembali ke pohon hayat ini. Namun, Iblis datang mengganggu lagi, dan mengalihkan gereja dari pohon hayat ke pohon pengetahuan itu.
PERBANTAHAN TENTANG PERSONA KRISTUS
Pengalihan ke pohon pengetahuan ini ternyata dalam perbantahan tentang Kristus yang umum terjadi selama abad-abad pertama dalam sejarah gereja. Perdebatan dan perbantahan ini berkaitan dengan persona Kristus. Kebanyakan perdebatan ini berasal dari pengaruh Gnostik, yang mengajarkan bidah tentang persona Kristus, yang mengatakan bahwa Ia sebenarnya bukan Allah yang berinkarnasi sebagai manusia. Banyak guru Kristen yang sehat bangkit menentang bidah Gnostik itu. Namun, aki-batnya ialah berbagai opini tentang Kristus telah timbul dan diperdebatkan. Ada yang mengatakan Kristus hanya seorang manusia, bukan Allah, sedangkan lainnya mengatakan Kristus hanya Allah, bukan manusia. Lainnya lagi mengajarkan bahwa Kristus memiliki sifat insani, tetapi sifat ini tidak riil dan komplit. Beberapa yang berpen-dapat demikian mengatakan bahwa Kristus memiliki satu jiwa dan satu tubuh, tetapi tidak memiliki satu roh. Ada lagi yang mengajarkan bahwa Kristus adalah seorang manusia yang pada akhirnya berubah menjadi Allah. Ada pula yang mengatakan Kristus tidak saja mempunyai dua sifat, tetapi juga dua persona. Lainnya lagi menganggap bahwa sifat Kristus itu berbaur sedemikian rupa sehingga melahirkan sifat ketiga. Semua opini yang berbeda-beda itu menyebabkan banyak perdebatan di antara para bapa gereja di abad permulaan. Perpecahan gereja sebagian besar disebabkan oleh perdebatan-perdebatan tersebut. Ini merupakan gambaran bagaimana musuh dengan liciknya mengalihkan kaum saleh dari roh ke penggunaan pikiran alamiah untuk menganalisis doktrin dan mensistematiskannya.
Dari hal ini kita harus belajar dengan sederhana menerima firman Allah yang murni, tanpa mencoba mensistematiskannya. Kita harus percaya apa saja yang dikatakan Alkitab, dan mengaminkannya. Sebagai contoh, Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ayat ini mengatakan Firman itu bersama-sama dengan Allah, juga mengatakan Firman itu adalah Allah. Kita mengatakan amin terhadap kedua pernyataan ini. Perjanjian Baru juga mewahyukan bahwa Kristus adalah Anak Allah pun Anak manusia. Kita percaya kedua fakta ini dan mengaminkannya.
TIDAK ADA PERBANTAHAN,
HANYA ADA KENIKMATAN
Alangkah bodohnya jika orang mengira Kristus dapat dianalisis! Diri kita sendiri saja tidak dapat kita analisis dengan memadai dan tuntas, apalagi Tuhan Yesus Kristus. Jika Kristus dapat kita pahami sepenuhnya, itu berarti Ia bukanlah Kristus. Kita sama sekali tidak dapat sepenuhnya memahami siapakah dan apakah Kristus itu. Daripada kita memperdebatkan Persona Kristus, lebih baik kita menerima dengan sederhana apa saja yang Alkitab wahyukan tentang Dia. Bagi kita, zaman perdebatan itu telah berlalu, kita hanya menikmati Kristus yang ajaib.
Kekristenan dewasa ini telah diduduki oleh doktrin, namun kekurangan kenikmatan atas Kristus yang almhit. Hampir setiap sekte atau denominasi telah dibangun orang menurut doktrin tertentu. Misalkan, denominasi Baptis didirikan di atas doktrin pembaptisan selam. Beberapa kelompok Baptis telah menyimpang jauh sehingga memaksa setiap orang dibaptis dengan air mereka saja, mereka tidak mengakui baptisan lainnya. Karena itu, denominasi Baptis ini adalah satu perpecahan yang di-akibatkan oleh ajaran pembaptisan. Dengan ini kita nampak gereja pada hari ini juga telah dirusak dan dipecah-belah oleh pengetahuan. Banyak yang memperhatikan doktrin tertentu, tetapi tidak memperhatikan Tubuh Kristus.
MEMELIHARA KEESAAN
Karena Iblis telah memperalat agama dan pengetahuan untuk merusak gereja, maka kita yang berada dalam pemulihan Tuhan harus bersaksi dengan perkasa bahwa kita bukan untuk agama atau pengetahuan. Iblis sungguh licik, pertama-tama ia memperalat pohon pengetahuan merusak ciptaan lama. Kemudian dengan pohon itu juga ia merusak gereja sebagai ciptaan baru Allah. Pekerjaannya hari ini tetap sama. Karena itu, jangan sekali-kali menempuh jalan pengetahuan, bahkan jangan menerima pengetahuan Alkitab secara harfiah. Jika kita diselewengkan dari pohon hayat kepada pengetahuan yang doktrinal, kita akan kehilangan keesaan.
Banyak orang yang pernah mengunjungi gereja di Los Angeles terkesan oleh keesaan itu. Bagi mereka, ini adalah aspek yang paling meyakinkan dari hidup gereja. Di antara kita terdapat satu alasan atau penyebab keesaan, yaitu kita menghukum dan mengesampingkan pohon pengetahuan. Sejak semula, ketika dasar hidup gereja diletakkan di tempat ini, kita telah putus hubungan dengan pohon pengetahuan. Inilah sebabnya kita terpelihara dan terlindung di dalam keesaan.
ORGANISASI SEBAGAI PENYEBAB KERUSAKAN
Sepanjang sejarah gereja, hal ketiga yang merusak gereja ialah organisasi. Unsur perusak ini mulai muncul pada abad kedua, sebagian besar melalui pengaruh seorang tokoh rohani, yakni Ignatius, yang mengajarkan bahwa uskup berbeda dengan penatua. Tetapi berdasarkan Alkitab, penatua dan uskup mengacu kepada kelompok orang yang sama. Istilah penatua ditujukan kepada orangnya, sedang uskup atau penilik ditujukan kepada pekerjaannya. Dalam Perjanjian Baru para penatua menilik atau mengawasi berbagai aspek dari hidup gereja. Ajaran yang mengatakan bahwa uskup berada di atas pe-natua memberikan jalan bagi perkembangan suatu hie-rarki, yang disusun dengan organisasi ketat yang mencakup para uskup, uskup agung, kardinal, dan Paus. Hal ini mengakibatkan Roh Kudus kehilangan kedudukan di dalam apa yang disebut “gereja” itu. Untuk mempertahankan organisasi, maka perlu ada peraturan, bentuk, dan upacara. Itulah sebabnya perkara-perkara tersebut sangat diperlukan dalam apa yang disebut “gereja” itu.
Agama, pengetahuan, dan organisasi benar-benar telah merusak gereja. Bahkan orang Kristen gadungan juga memiliki beberapa bentuk agama, walau mereka tidak ada pengalaman atas Kristus yang hidup. Selain itu, hampir semua orang Kristen, baik orang Kristen sejati atau palsu, memiliki pengetahuan tentang doktrin. Tidak hanya demikian, organisasi sangat banyak dalam kekristenan hari ini. Tetapi sedikit sekali orang Kristen yang mengenal Roh pemberi-hayat atau realitas Tubuh Kristus. Seakan-akan dalam kamus yang dimiliki kebanyakan orang Kristen tidak terdapat istilah-istilah ini, hanya ada istilah-istilah yang berkaitan dengan agama, pengetahuan, organisasi, peraturan, bentuk, dan upacara belaka.
Puji Tuhan, kita telah terlepas dari semuanya itu! Jika kita jelas akan faktor-faktor yang merusak gereja, kita akan terhindar dari menempuh jalan kekristenan yang usang, dan kita tidak akan memberi tempat bagi agama, pohon pengetahuan, atau organisasi.
ROH TUJUH GANDA
Dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita bukan untuk organisasi yang menekankan posisi atau pangkat. Membicarakan para penatua dan diaken memang tidak salah, tetapi dalam Kitab Wahyu istilah-istilah ini tidak disebut. Sebaliknya, Kitab Wahyu mengatakan tentang tujuh Roh, yaitu Roh yang diperkuat tujuh ganda untuk menanggulangi gereja yang telah jatuh dan merosot. Kita tidak untuk doktrin, tata cara, atau pangkat, melainkan untuk Roh tujuh ganda ini. Setiap perkara yang terpisah dari Roh yang almuhit ini adalah sampah (Flp. 3:8)!
Akhir-akhir ini, ketika saya bersekutu dengan Tuhan, saya merasa bahwa saya telah dicelup di dalam Roh. Dalam batin saya dipenuhi Roh, dan secara lahiriah saya mengenakan Dia. Hidup gereja tergantung pada pengalaman atas Roh perbauran secara korporat, bukan agama, doktrin, atau organisasi berikut gelar, pangkat, dan kedudukannya. Seperti sikap Paulus dalam Filipi 3, kita pun menganggap segala sesuatu yang di luar Kristus sebagai sampah, dan Kristus adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit.
DIBONGKAR DAN DIBEBASKAN
Di hadapan Tuhan saya mengetahui apa beban saya pada hari ini. Saya tidak tertarik untuk mengajar kaum saleh. Beban saya ialah menghendaki kita semua “dibongkar” bagi Kristus dan gereja, dan agar kita dibongkar dari perkara-perkara kekristenan yang usang. Dalam pemulihan Tuhan kita harus sepenuhnya kembali kepada keadaan yang semula, di mana terdapat perihal makan pohon hayat. Pada permulaannya hanya ada firman yang merawat kita, tanpa agama, pohon pengetahuan, dan organisasi. Betapa kita perlu dibongkar dari ketiga faktor jahanam yang merusak gereja itu! Demi rahmat Tuhan, banyak di antara kita yang telah dibongkar, dan ada lainnya yang sedang dibongkar melalui sidang demi sidang. Ketika saya berkontak dengan kaum saleh, saya mengetahui banyak yang telah dilepaskan sepenuhnya dari agama, pengetahuan, dan organisasi. Karena kita telah dibongkar dan dibebaskan, maka kita dapat hidup dan agresif bagi Kristus dan gereja ke mana saja kita pergi. Setelah dibongkar, kita menjadi satu, dan kita memiliki realitas kasih persaudaraan, bukan sebagai doktrin.
Ada orang bertanya kepada kita apakah kita berbahasa lidah, atau apakah kita juga menggunakan karuniakarunia Roh. Kita dapat bersaksi bahwa kita dipenuhi, diresapi, dan dimiliki oleh Roh itu. Dalam pengalaman atas Roh inilah kita memiliki hidup gereja.
HIDUP GEREJA DALAM ROH ALMUHIT
Semoga kita semua dapat terkesan secara mendalam bahwa hidup gereja tidak ada sangkut pautnya dengan agama, pengetahuan, atau organisasi. Dalam gereja tidak ada tempat bagi peraturan, bentuk, atau tata cara. Kita bahkan tidak memperhatikan pengetahuan Alkitab secara harfiah. Bagi kita, setiap perkataan dalam Alkitab harus menjadi roh dan hayat (Yoh. 6:63). Demikian, gereja akan menjadi hidup dan terpelihara dalam keesaan. Roh pemberi-hayat adalah keesaan kita. Setiap perkara yang kita perlukan bagi hidup gereja berada dalam Roh yang almuhit ini. Ketika kita membaca firman suci, kita harus melatih roh kita untuk berdoa, agar firman itu menjadi Roh dalam pengalaman kita, sehingga kita bisa memiliki hidup gereja yang sejati. Selama kita memiliki hidup gereja, kita akan memiliki segala-galanya: keselamatan, penebusan, pengudusan, hayat kemenangan, pengangkatan, dan kerajaan. Dalam hidup gereja, segala sesuatu, baik dalam waktu maupun dalam kekekalan, adalah milik kita.
?