HAK ILAHI MANUSIA-MANUSIA ALLAH – BERBAGIAN DALAM KEILAHIAN ALLAH
Pembacaan Alkitab :
Yoh. 3:15; Kol. 3:4; Ef. 1:4; 2 Ptr. 1:4; Ef. 4:23; Flp. 2:5;
2 Kor. 3:18b; Ef. 3:8; 2 Kor. 3:18a; Rm. 8:29-30;
Ibr. 2:10; Ef. 1:5; Rm. 8:23, 19; 1 Yoh. 3:2; Yoh. 1:12; Rm. 8:14, 16
GARIS BESAR
I. Berbagian dalam hayat Allah (Yoh. 3:15; Kol. 3:4).
II. Berbagian dalam sifat Allah (Ef. 1:4; 2 Ptr. 1:4).
III.Berbagian dalam pikiran Allah (Ef. 4:23; Flp. 2:5).
IV.Berbagian dalam apa adanya Allah (2 Kor. 3:18b; Ef. 3:8).
V. Berbagian dalam gambar Allah (2 Kor. 3:18a; Rm. 8:29).
VI.Berbagian dalam kemuliaan Allah (Rm. 8:30; Ibr. 2:10).
VII. Berbagian dalam keputraan Allah (Ef. 1:5; Rm. 8:23).
VIII. Berbagian dalam manifestasi Allah (Rm. 8:19).
IX.Sama seperti Allah (1 Yoh. 3:2).
X. Menjadi jenis Allah — spesies Allah (Yoh. 1:12; Rm. 8:14, 16).
Pada hari-hari ini, saya berbeban untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran tingkat tinggi dalam firman Allah, dan saya menggunakan setiap kesempatan untuk melakukannya. Salah satu dari kebenaran tingkat tinggi ini adalah perkara berbagian dalam keilahian Allah. Dalam berita ini, saya ingin memberikan perkataan singkat mengenai hak manusia-manusia Allah untuk berbagian dalam keilahian Allah.
Kidung nomor 355 dalam kidung kita dimulai dengan tingkat yang paling dasar, yaitu mendorong kita untuk menjadi orang yang mutlak bagi Allah. Ini baik, tetapi hanyalah tingkat dasar. Namun, kidung ini maju terus ke tingkat yang jauh lebih tinggi dengan satu baris pada stanza ketiga yang mengatakan, "bahkan Dia kau esa." Betapa menakjubkan, kita, umat manusia yang jatuh, dapat menjadi satu dengan Tuhan! Pemikiran yang demikian tentu saja sangat tinggi. Sekarang, kita perlu melihat sesuatu yang bahkan lebih tinggi — sebagai manusia-manusia Allah, kita memiliki hak ilahi untuk berbagian dalam keilahian Allah.
Frase "berbagian dalam" tidak hanya berarti ikut serta, tetapi juga ikut serta untuk kenikmatan. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki sesuatu dan juga menikmati apa yang kita miliki. Kita, manusia-manusia Allah, memiliki hak ilahi untuk berbagian bukan dalam surga, tetapi dalam keilahian Allah. Kita semua perlu nampak bahwa kita dapat berbagian dalam keilahian Allah, yaitu berbagian dalam Allah.
Kita, umat manusia, diciptakan oleh Allah untuk tujuan ini. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Kita diciptakan bukan hanya menurut gam-bar dan rupa manusia, tetapi juga menurut gambar danrupa Allah. Jadi, manusia memiliki gambar dan rupa Allah. Tetapi, pada waktu penciptaan, manusia tidak memiliki hayat Allah. Namun sekarang, sebagai manusia-manusia Allah, orang-orang yang telah dilahirkan oleh Allah menjadi anak-anak Allah, kita memiliki hak untuk berbagian dalam apa adanya Allah, bahkan menjadi Allah dalam hayat, dalam sifat, dan dalam ekspresi, tetapi bukan dalam ke-Allahan.
BERBAGIAN DALAM HAYAT ALLAH
Pertama, sebagai manusia-manusia Allah, kita memiliki hak ilahi untuk berbagian dalam hayat Allah. Yohanes 3:15 memberi tahu kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus akan memiliki hayat kekal. Hayat kekal adalah hayat ilahi, hayat Allah. Kita adalah manusia, tetapi kita dapat memiliki hayat Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi tanpa hayat Allah. Melalui kelahiran kembali, Allah menganugerahkan hayat ilahi kepada kita. Melalui kelahiran kembali, Ia telah meletakkan, menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita.
Kolose 3:4 membicarakan "Kristus yang adalah hayat kites". Karena Kristus adalah perwujudan Allah, maka Kristus menjadi hayat kita, berarti Allah adalah hayat kita.
BERBAGIAN DALAM SIFAT ALLAH
Sebagai manusia-manusia Allah, kita juga memiliki hak ilahi untuk berbagian dalam sifat Allah. Efesus 1:4 mengatakan, "Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus." Di sini, kits melihat bahwa di dalam Kristus, Allah memilih kita dengan tujuan khusus untuk membuat kita menjadi kudus. Kudus tidak hanya berarti dikuduskan, disisihkan untuk Allah, tetapi juga berbeda, lain dari segala sesuatu yang umum. Allah adalah kudus, tetapi kita umum. Hanya Allah yang berbeda, lain dari segala sesuatu. Karena itu, Ia adalah kudus; kekudusan adalah sifat-Nya. Allah bermaksud agar kita menjadi kudus, bahkan seperti Dia yang kudus (1 Ptr. 1:15-16). Menjadi kudus adalah berbagian dalam sifat kudus Allah. Setelah memilih kita untuk menjadi kudus, Allah membuat kita menjadi kudus dengan menyalurkan diri-Nya sendiri, Sang kudus, masuk ke dalam diri kita, sehingga seluruh diri kita dapat diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus Allah. Bagi kita, orang-orang pilihan Allah, menjadi kudus adalah berbagian dalam sifat kudus Allah (2 Ptr. 1:4). Jadi, kita dapat berbagian bukan hanya dalam hayat Allah, tetapi juga dalam sifat Allah.
III. BERBAGIAN DALAM PIKIRAN ALLAH
Karena kita telah menjadi manusia-manusia Allah melalui kelahiran kembali, kita juga memiliki hak untuk berbagian dalam pikiran Allah. lni berarti meskipun kita adalah manusia, tetapi kita dapat memiliki pikiran ilahi. Filipi 2:5 mengatakan, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." Kita perlu membiarkan pikiran Kristus menjadi pikiran kita. Dengan demikian, kita dapat memiliki pikiran Kristus.
Efesus 4:23 mengatakan, "Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu (roh pikiranmu Tl)." Roh di sini adalah roh kelahiran kembali dari kaum beriman yang telah berbaur dengan Roh Allah yang menghuni. Roh perbauran yang demikian menyebar ke dalam pikiran kita, dan menjadi roh dari pikiran kita. Semakin roh perbauran ini meresapi pikiran kita, menjenuhi pikiran kita, dan menduduki pikiran kita, pikiran kita semakin menjadi seperti pikiran Allah. Ini adalah untuk membuat pikiran-Nya menjadi pikiran kita, dan ini adalah berbagian dalam pikiran Allah.
IV. BERBAGIAN DALAM APA ADANYA ALLAH
Selanjutnya, manusia-manusia Allah memiliki hak ilahi untuk berbagian dalam apa adanya Allah. Dasar kita mengatakan hal ini adalah perkataan Paulus dalam 2 Korintus 3:18, yaitu mengenai diri kita yang akan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Tuhan, "dari Tuhan yang adalah Roh". Ini menunjukkan bahwa pekerjaan transformasi dilakukan bukan oleh sesuatu yang berasal dari Tuhan Roh, melainkan oleh Tuhan Roh itu sendiri. Jadi, kita ditransformasi dengan diri Allah itu sendiri.
Dalam Efesus 3:8 Paulus membicarakan kekayaan Kristus yang tidak terduga, menunjukkan bahwa kekayaan ini telah disalurkan ke dalam kita. Kekayaan Kristus yang tidak terduga adalah kekayaan dari apa adanya Kristus. Kekayaan Kristus yang tidak terduga disalurkan ke dalam kita, berarti kita berbagian bukan hanya dalam hayat, sifat, dan pikiran Allah, tetapi juga dalam apa adanya Allah.
V. BERBAGIAN DALAM GAMBAR ALLAH
Sebagai manusia-manusia Allah, kita memiliki hak untuk berbagian dalam gambar Allah. Dua Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita "diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya". Ini adalah gambar dari Kristus yang dibangkitkan dan dimuliakan. Dalam penciptaan Allah, manusia diciptakan menurut gambar Allah secara luaran, tetapi sekarang kita diubah (ditransformasi) untuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, dan gambar ini adalah sesuatu yang di batin. Ditransformasi menjadi serupa dengan gambar-Nya adalah diserupakan dengan Kristus yang bangkit dan dimuliakan sebagai Putra sulung Allah, dibuat menjadi sama seperti Dia (Rm. 8:29).
Transformasi adalah sejenis metabolisme. Proses metabolisme yang tercakup dalam transformasi dapat dibandingkan dengan yang terjadi dalam tubuh fisik kita setelah kita makan, mencerna, mengasimilasi makanan. Transformasi adalah fungsi metabolis dari hayat ilahi dalam kaum beriman. Kita, orang-orang Kristen, yang adalah manusia-manusia Allah, semuanya memiliki Tuhan Roh di dalam kita, dan Tuhan Roh ini ada di dalam proses pelaksanaan pengubahan metabolis dalam diri kita, mentransformasi kita menjadi serupa dengan gambar Kristus. Ditransformasi secara metabolis menjadi serupa dengan gambar Kristus yang dibangkitkan dan dimuliakan adalah berbagian dalam gambar Allah.
VI. BERBAGIAN DALAM KEMULIAAN ALLAH
Pada akhirnya, kita akan dibawa ke dalam kemuliaan Allah untuk berbagian dalam kemuliaan-Nya. Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Allah sedang memimpin banyak orang ke dalam kemuliaan. Paulus menyebutkan hal ini dalam Roma 8:30, "Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." Kemuliaan adalah langkah dalam keselamatan lengkap Allah yang di dalamnya Allah akan sepenuhnya menjenuhi seluruh tubuh kita dengan kemuliaan hayat dan sifat-Nya. Dengan demikian, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita, menyerupakannya dengan tubuh Putra-Nya yang bangkit dan mulia (Flp. 3:21). Ini adalah langkah akhir dalam keselamatan organik Allah, saat itu Allah mendapatkan ekspresi penuh, yang akan dinyatakan dengan sempurna dalam Yerusalem Baru.
VII. BERBAGIAN DALAM KEPUTRAAN ALLAH
Aspek lain dari hak ilahi manusia-manusia Allah untuk berbagian dalam keilahian Allah adalah hak untuk berbagian dalam keputraan Allah (Ef. 1:5; Rm. 8:23). Kita dapat memiliki hayat Allah, sifat Allah, pikiran Allah, apa adanya Allah, gambar Allah, dan kemuliaan Allah, karena kita adalah putra-putra Allah. Sama seperti putra manusia memiliki hayat, sifat, pikiran, apa adanya, dan gambar dari ayah insaninya, demikian pula dengan putra-putra Allah, mereka memiliki hayat, sifat, pikiran, apa adanya, dan gambar dari Bapa ilahi mereka. Selain itu, sebagaimana anak-anak manusia berbagian dalam kemuliaan dan martabat ayahnya, putra-putra Allah pun berbagian dalam kemuliaan Bapa ilahi mereka.
Efesus 1:5 memberi tahu kita bahwa Allah menentukan kita "kepada keputraan (untuk menjadi anak-anak-Nya; LAI)". Istilah Yunani untuk menentukan dalam ayat ini dapat juga diterjemahkan "ditandai sebelumnya". Sebelum dunia dijadikan, yaitu dalam kekekalan yang lampau, Allah menentukan kita, menandai kita, kepada keputraan. Sebelum waktu dimulai, Allah bermaksud dan telah memutuskan agar kita berbagian dalam keputraan-Nya.
VIII. BERBAGIAN DALAM MANIFESTASI ALLAH
Sebagai manusia-manusia Allah, kita juga akan berbagian dalam pernyataan (manifestasi) Allah (Rm. 8:19). Ketika Kristus yang adalah hayat kita dimanifestasikan, kita akan dimanifestasikan bersama dengan Dia dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Hari ini, Allah tersembunyi, tetapi suatu hari Ia akan dimanifestasikan kepada seluruh alam semesta. Roma 8:19 menunjukkan bahwa ketika Allah dimanifestasikan, ditampilkan, kita, anak-anak Allah, akan berbagian dalam manifestasi, penampilan tersebut. Allah akan dimanifestasikan bersama putra-putra-Nya, yang akan menjadi sama seperti Dia dalam hayat, dalam sifat, dalam pikiran, dalam apa adanya, dalam gambar, dan dalam kemuliaan.
IX. SAMA SEPERTI ALLAH
Hak ilahi manusia-manusia Allah untuk berbagian dalam keilahian Allah meliputi hak sama seperti Allah. Satu Yohanes 3:2 mengatakan, "Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." Ayat ini dengan jelas mewahyukan bahwa kitaakan sama seperti Allah. Kita tidak hanya akan berbagian dalam hayat dan sifat Allah, tetapi juga akan sama seperti Allah. Sama seperti Allah akan menjadi berkat dan kenikmatan yang luar biasa.
X. MENJADI JENIS ALLAH — SPESIES ALLAH
Terakhir, manusia-manusia Allah memiliki hak ilahi untuk menjadi jenis Allah — spesies Allah (Yoh. 1:12; Rm. 8:14, 16). Kita telah dilahirkan kembali untuk menjadi jenis Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita adalah jenis Allah, spesies Allah.
Yohanes 1:12 mengatakan, "Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." Kita telah menerima Tuhan Yesus melalui percaya ke dalam Dia, dan Allah telah memberi kita kuasa, hak, untuk menjadi anak-anak Allah. "Roh itu bersaksi bersamasama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Rm. 8:16). Kesaksian yang demikian mempersaksikan kepada kita dan menjamin kita bahwa kita adalah anak-anak Allah yang memiliki hayat-Nya. Kita perlu menyadari hal ini dan mengingatnya. Di mana saja kita berada, kita perlu mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia Allah yang memiliki hak ilahi untuk berbagian dalam keilahian Allah.
BAGAIMANA
MENJADI SEKERJA DAN PENATUA
DAN BAGAIMANA
MENUNAIKAN KEWAJIBAN MEREKA
BAB
1 2 3 4 5 6
PRAKATA
Buku ini adalah terjemahan dari berita-berita yang disampaikan dalam bahasa Mandarin oleh saudara Witness Lee di Anaheim, Kalifornia dalam konferensi internasional sekerja dan penatua pada tanggal 1-3 Oktober 1996.