← Daftar isi Filipi (1) · bab 20/20

MELAKUKAN SEGALA SESUATU DALAM NAMA TUHAN MELALUI DIJENUHI DENGAN KEKAYAAN-NYA

Pembacaan Alkitab:

Kol. 3:16—4:2; Ef. 5:18-25; 6:17-18a; Flp. 4:13

Dalam Kolose 3:17 Paulus menyuruh kita melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus. Dalam Filipi 4:13 ia bersaksi, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Untuk mengerti arti “dapat menanggung segala hal di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” agak mudah, tetapi untuk mengerti arti “melakukan segala sesuatu di dalam nama Tuhan” agak sukar. Nama tentu menunjukkan persona. Ketika kita menyebut atau memanggil nama seseorang, orang itu akan menjawab. Jadi, nama menunjukkan personanya. Tanpa personanya, nama akan hampa dan tidak berarti. Karena nama menunjukkan personanya, maka melakukan segala hal di dalam nama Tuhan pasti berarti melakukan segala hal di dalam persona-Nya.

BERDOA DALAM NAMA TUHAN

Kebanyakan orang Kristen pasti menambahkan perkataan “dalam nama Tuhan Yesus, amin” pada akhir doa mereka. Mereka memakai nama Tuhan seperti meterai, stempel, atau tanda tangan untuk mengabsahkan doa mereka. Akan tetapi, menurut Alkitab, makna berdoa dalam nama Tuhan bukanlah demikian. Dalam Yohanes 15:16 Tuhan berkata, “Apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Di sini Tuhan berbicara tentang meminta kepada Bapa dalam nama Tuhan. Yohanes 14:13-14 mengatakan, “Dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Kalau kita meminta sesuatu kepada Bapa dalam nama Anak, boleh jadi permintaan kita memakai nama Anak sebagai tanda tangan pengabsahan. Tetapi, bila kita meminta sesuatu langsung kepada Anak, tentu kita tidak dapat memakai nama Tuhan secara demikian. Berdasarkan kebenaran dasar yang diwahyukan dalam Yohanes 14 dan 15, dalam nama Tuhan berarti bersatu dengan Tuhan, hidup oleh Tuhan, dan membiarkan Tuhan hidup dalam kita. Tuhan datang dalam nama Bapa dan melakukan segala hal dalam nama Bapa (Yoh. 5:43; 10:25). Ini berarti Dia bersatu dengan Bapa (Yoh. 10:30) dan hidup oleh Bapa (Yoh. 6:57), dan Bapa bekerja di dalam Dia (Yoh. 14:10). Dalam keempat kitab Injil, selaku ekspresi Bapa, Tuhan melakukan segala hal dalam nama Bapa. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, para murid sebagai ekspresi Tuhan bahkan melakukan hal yang lebih besar (Yoh. 14:12) dalam nama-Nya. Karena itu, dalam nama Tuhan berarti bersatu dengan Dia secara hakiki.

Dalam Yohanes 5:43 Tuhan Yesus berkata, “Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku.” Datangnya Tuhan Yesus dalam nama Bapa bukan berarti Dia memakai nama Bapa sebagai stempel. Fakta bahwa Tuhan datang dalam nama Bapa berarti Dia datang bersama Bapa dan di dalam Bapa. Ketika Dia datang, Bapa pun datang. Selain itu, menurut Yohanes 10:25, Tuhan Yesus berkata, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku.” Bekerjanya Tuhan dalam nama Bapa berarti Dia bersatu dengan Bapa dan bekerja dalam persona Bapa. Karena alasan inilah maka Tuhan Yesus dapat berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). Dalam Yohanes 6:57 Tuhan Yesus berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa . . .” Di sini pe-nekanannya ialah Tuhan Yesus dan Bapa adalah satu, maka Ia berada di dalam persona Bapa dan di dalam nama Bapa. Semua ayat tadi menunjukkan bahwa menurut tata bahasa Alkitab, di dalam nama seseorang berarti di dalam orang itu sendiri. Jadi, nama bukan hanya sebuah stempel, meterai, atau tanda tangan yang dipakai sebagai pengabsahan untuk menyimpulkan suatu doa.

MENGALAMI KRISTUS SECARA SUBYEKTIF

Kebanyakan orang Kristen tidak mengetahui bahwa sebagai kaum beriman kita harus mengalami Kristus secara subyektif. Alkitab mewahyukan bahwa kehendak dan keinginan Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita. Apakah yang bisa lebih subyektif daripada digarapkannya Kristus ke dalam kita? Ketika Paulus mengatakan Kristus berumah di dalam kita, perkara inilah yang ia maksudkan (Ef. 3:17). Sebagai persona yang alwasi, almuhit, dan yang diurapi Allah, Kristus tidak saja ingin tinggal di dalam kita, tetapi juga berumah di dalam kita. Ini benar-benar merupakan perkara yang subyektif. Kata dasar Yunani yang diterjemahkan “tinggal” dalam Efesus 3:17 sama dengan “rumah”. Mengatakan Kristus tinggal di dalam kita saja tidak cukup, karena itu tidak dapat mengungkapkan arti sepenuhnya dari istilah Yunani tersebut. Kita harus berkata bahwa Kristus ingin “berumah”, “bersemayam” di dalam kita. Pengalaman atas Kristus berumah di dalam kita sungguh sangat subyektif. Namun demikian, pada umumnya, pengalaman ini telah diabaikan oleh orang-orang Kristen dewasa ini.

Ajaran-ajaran di antara orang Kristen terutama menekankan Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat kita, sebagai Allah, Kristus harus menjadi obyek penyembahan kita, dan orang Kristen harus memperbaiki perilakunya. Kita percaya sepenuhnya bahwa Kristus adalah Penebus dan Juruselamat kita, Dia adalah Allah, dan kita harus menyembah Dia. Tetapi, berdasarkan Alkitab, perihal orang Kristen memperbaiki perilakunya masih harus dipertanyakan. Apakah artinya perilaku yang baik? Kita tidak setuju dengan perilaku baik yang hanya merupakan hasil upaya seseorang dari dirinya sendiri. Namun, kita pasti setuju bahwa kita perlu perilaku baik yang merupakan hasil kehidupan kristiani yang diubah oleh Kristus. Ketika Alkitab mengatakan perilaku yang baik, itu tidak ditujukan kepada yang berasal dari hayat alamiah. Sebaliknya, ditujukan kepada kehidupan atau perilaku yang tepat dari hayat yang telah mengalami transformasi. Yang harus diperhatikan ialah banyak orang Kristen yang telah meleset dari sasaran dan inti ekonomi Allah. Mereka tidak nampak dari firman Allah bahwa Allah Tritunggal damba masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat kita, suplai hayat kita, dan segala sesuatu kita, bahkan persona kita, agar kita boleh menjadi satu dengan Dia.

SALING HUNI

Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa di dalam nama Tuhan bukan sekadar memakai nama-Nya sebagai stempel atau tanda tangan untuk penutupan suatu doa, melainkan berarti di dalam persona Tuhan Yesus. Ketika Kristus Sang Anak datang di dalam nama Bapa, Dia tidak memakai nama Bapa sebagai tanda tangan atau stempel. Sebaliknya, Dia datang dalam persona Bapa. Jangan mengira ketika Tuhan Yesus datang, hanya Anaklah yang datang, dan Bapa tidak datang. Tidak, ketika Anak datang, Bapa pun datang di dalam Dia dan bersama-sama dengan Dia. Yohanes 14:23 membuktikan hal ini: “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Di satu pihak, di sini Tuhan mengatakan Bapa mengasihi kita; di pihak lain, Ia mengatakan Bapa dan Anak datang kepada kita dan tinggal bersama-sama kita. Menurut ayat ini, jika kita mengasihi Anak, Bapa akan mengasihi kita. Lalu, Bapa dan Anak akan tinggal bersama-sama dengan kita. Ini menunjukkan ketika Anak datang kepada kita, Bapa pun datang. Namun, ini tidak berarti Bapa datang menyusul Anak. Bapa datang di dalam Anak, yaitu secara saling huni, saling mendiami. Yohanes 14:11 mengatakan bahwa Anak di dalam Bapa dan Bapa di dalam Anak. Istilah kecil “di dalam” ini sangat penting, sebab istilah ini menunjukkan perihal saling huni. Tuhan datang di dalam Bapa dan dengan Bapa di dalam-Nya. Inilah artinya Anak datang dalam nama Bapa.

Pikiran kita harus diperbarui dalam memahami makna berdoa di dalam nama Tuhan dan melakukan segala sesuatu dalam nama-Nya. Jangan lagi menganggap ungkapan “dalam nama Tuhan Yesus” sebagai stempel pengesahan. Kita sangat perlu nampak bahwa di dalam nama Tuhan Yesus berarti kita menjadi satu dengan Dia, kita berada di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Seperti halnya Anak di dalam Bapa dan Bapa di dalam Anak secara saling huni, kita pun harus menjadi satu dengan Tuhan sedemikian. Kita dan Tuhan Yesus harus saling huni; yakni, kita perlu berada di dalam Dia dan memiliki Dia di dalam kita. Kemudian kita benar-benar berada di dalam nama Tuhan.

DIJENUHI DENGAN FIRMAN

Dalam Kolose 3:17 Paulus berkata, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.” Melakukan segala sesuatu di dalam nama Tuhan Yesus berkaitan dengan membiarkan perkataan Kristus menjenuhi kita dan meresapi kita. Kita akan dipenuhi, diresapi, dan dijenuhi dengan firman melalui berdoa, bernyanyi, dan bermazmur dengan firman, dan mengucap syukur kepada Allah Bapa atas firman. Dengan cara inilah seluruh diri kita, pikiran, tekad, emosi, dan roh kita akan dibangkitkan.

Namun, kebanyakan orang Kristen tidak saja tidak dibangkitkan oleh firman, malah tidak bergairah terhadap firman; mereka dingin sekali ketika berkontak dengan firman. Kita tidak boleh membaca Alkitab dengan cara demikian. Sebaliknya, kita harus membiarkan perkataan Kristus tinggal dalam kita melalui bernyanyi, berdoa, bermazmur, dan bersyukur. Semakin kita berlatih demikian, manusia batiniah kita akan semakin bangkit, dan perkataan Kristus tidak saja semakin menjenuhi kita, bahkan berbaur dengan kita. Dengan cara inilah seluruh manusia batiniah kita akan dijenuhi dengan perkataan Kristus. Perkataan Kristus sebenarnya adalah perwujudan Kristus. Jadi, bila firman yang adalah perwujudan Kristus ini berbaur dengan manusia batiniah kita, kita akan menjadi satu secara batiniah dengan Kristus. Pada saat demikianlah baru kita dapat dengan spontan melakukan segala hal dalam nama Tuhan. Karena Tuhan telah meresapi, menjenuhi, dan membaurkan diri-Nya dengan kita, memanunggalkan kita dengan Dia, maka kita dapat melakukan segala hal dalam nama-Nya. Melakukan segala hal dalam nama Tuhan berarti melakukan segala hal dalam Dia.

Kolose 3:17 berkaitan dengan Filipi 4:13, di mana Paulus berkata bahwa ia dapat melakukan segala hal di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Kalau kata “di dalam Dia” tidak sekadar istilah tetapi suatu hal yang praktis dan riil bagi kita, maka kita perlu membiarkan perkataan Kristus menjenuhi seluruh diri kita. Bila perkataan Kristus masuk ke dalam kita dan membangkitkan kita secara batiniah, kita akan benar-benar menjadi satu dengan Kristus. Kita akan ada di dalam Dia dengan sesungguhnya dalam pengalaman. Lalu, sebagaimana kita hidup dengan makanan yang kita makan, cerna, dan serap, kita pun akan melakukan segala hal dalam nama Dia, yakni yang telah menjenuhi, meresapi, dan berbaur dengan kita, dan yang telah menjadi satu secara riil dengan kita.

SATU DENGAN TUHAN

Dalam Kolose 3:18—4:1 Paulus memberikan pesan atau petunjuk kepada para istri, para suami, anak-anak, bapak-bapak, hamba-hamba, dan tuan-tuan. Para istri harus tunduk kepada suami mereka, para suami harus mengasihi istri mereka, anak-anak harus menaati orang tua mereka, bapak-bapak tidak boleh menyakiti anak-anak mereka, para hamba harus patuh kepada tuan mereka, dan para tuan harus adil dan jujur terhadap hamba mereka. Namun, bagaimanakah seorang istri tunduk kepada suaminya, atau seorang suami mengasihi istrinya? Cara satu-satunya untuk tunduk dan mengasihi ialah berada di dalam nama Tuhan, menjadi satu dengan Tuhan.

Perhatikan bahwa Kolose 3:18—4:1 adalah kelanjutan langsung dari perkataan Paulus dalam ayat 16 dan 17. Ini berarti, jika kita tidak di dalam nama Tuhan Yesus, dan menjadi satu dengan Dia melalui dihuninya kita dengan perkataan Kristus secara limpah, kita tidak mungkin tunduk dan mengasihi. Semua petunjuk yang diberikan Paulus dalam bagian Surat Kolose ini tergenap “di dalam nama Tuhan Yesus”. Jika seorang saudari berbaur dengan Tuhan dan bersatu dengan Dia, dengan spontan ia akan tunduk kepada suaminya. Demikian pula, kalau seorang suami berbaur dengan Tuhan, dengan otomatis ia akan mengasihi istrinya. Begitu juga, seorang anak akan menghormati orang tuanya, seorang bapak akan tidak menyakiti anak-anaknya, seorang hamba akan patuh kepada tuannnya, dan seorang tuan akan adil dan jujur terhadap hambanya. Ini berarti seorang istri harus tunduk kepada suaminya dalam nama Tuhan, dan seorang suami harus mengasihi istrinya juga di dalam nama Tuhan. Selain itu, anak-anak harus menaati orang tua mereka, orang tua harus memperhatikan anak-anak mereka, hamba harus patuh kepada tuannya dan tuan harus adil terhadap hambanya; semuanya di dalam nama Tuhan.

Dalam Kolose 4:2 Paulus melanjutkan, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Setelah bersatu dengan Tuhan melalui bernyanyi, bermazmur, berdoa, dan bersyukur, kita perlu memelihara kesatuan ini dengan bertekun dalam doa. Kita memelihara kesatuan ini, yaitu perbauran kita dengan Tuhan, melalui berdoa. Tekun dalam doa berarti berdoa terus-menerus, tidak henti-hentinya. Ini diperlukan bila kita ingin memperhidupkan Kristus.

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN YANG NORMAL

Dalam Efesus 5:18 Paulus menyuruh kita dipenuhi di dalam roh. Dengan apakah roh kita dipenuhi? Kita perlu dipenuhi dengan perkataan Kristus yang kaya di dalam roh kita. Bila kita membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita, perkataan ini akan menjenuhi kita dan menghasilkan kepenuhan batiniah. Kita akan dipenuhi dengan kekayaan Kristus yang terkandung dalam firman, bahkan dipenuhi hingga menjadi seluruh kepenuhan Allah. Bila seorang saudara telah dipenuhi sedemikian, Allah akan mengasihi istrinya melalui dia. Demikian pula, bila anak-anak telah dipenuhi sedemikian, sikap hormat atau ketaatan mereka terhadap orang tua mereka akan disertai dengan kepenuhan Allah.

Sebagian besar orang Kristen hari ini telah diajarkan untuk hidup menurut etika. Mereka mengabaikan Allah Tritunggal yang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kaum beriman, dan membaurkan diri-Nya dengan mereka agar mereka dapat memperhidupkan Dia. Bahkan ada beberapa yang malah menentang wahyu ini. Mereka menuduh kita merendahkan Allah dan meninggikan manusia, memfitnah kita mengajarkan panteisme dan evolusi menjadi Allah. Alangkah buta dan bebalnya orang-orang itu! Alkitab mengajarkan bahwa Allah telah berinkarnasi, bahkan Ia merendahkan diri sedemikian rupa sehingga dilahirkan di palungan. Akhirnya, setelah Kristus dipaku di atas salib, Ia dikuburkan dalam makam, bahkan turun ke dalam alam maut untuk mempersiapkan jalan masuk ke dalam kita. Bukan kita yang meninggikan manusia, tetapi Kristuslah yang meninggikan kita. Berdasarkan Perjanjian Baru, ketika Ia dinaikkan, kita pun dinaikkan. Jika tidak, mana mungkin kita duduk bersama-sama dengan Dia di surga (Ef. 2:6)?

Banyak sekali kebenaran ilahi yang diabaikan oleh orang-orang Kristen hari ini, hal ini sungguh menyedihkan. Namun, dalam rahmat-Nya, Tuhan telah memperlihatkan kebenaran-kebenaran itu kepada kita. Kita telah nampak dalam Alkitab bahwa Allah Tritunggal ingin masuk ke dalam kita, membaurkan diri-Nya dengan kita, dan meninggikan kita ke surga, agar kita boleh hidup bersama-sama dengan Dia, dan menjadi satu dengan Dia. Jika ini menjadi pengalaman kita, segala hal yang kita lakukan pasti berada di dalam nama Tuhan Yesus. Alangkah bahagianya bila kita nampak kebenaran yang ajaib ini! Kita perlu waktu sepanjang kekekalan untuk mengetahui betapa kita telah diberkati oleh Tuhan dalam memahami hal ini. Oh, alangkah bahagianya kita dapat melakukan segala hal dalam nama Allah Tritunggal! Kalau seorang saudari tunduk kepada suaminya dalam nama Allah Tritunggal, maka ketundukannya ini adalah ketundukan yang ajaib, ilahi, dan sama sekali berbeda dengan ketundukan yang berasal dari ajaran etika. Ketundukannya bukan berasal dari hayat insan alamiah, melainkan dari hayat ilahi yang telah tergarap ke dalamnya.

Ini benar-benar satu fakta yang ajaib, yakni sebagai kaum beriman, kita memiliki sifat ilahi. Dalam 2Petrus 1:4 dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Cara untuk memperluas wawasan sifat kodrat dalam kita ini ialah menerima perkataan Kristus, bukan hanya melalui membaca, tetapi juga melalui berdoa, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur. Jika perkataan Kristus ingin tinggal dengan limpahnya di dalam kita, kita perlu membuka seluruh diri kita dan menggunakan roh kita. Dengan demikian firman akan masuk ke dalam kita, membangkitkan kita, berbaur dengan kita, serta membuat kita menjadi satu dengan Tuhan secara riil dan sejati. Hasilnya, kita akan melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus. Kita akan dengan spontan memperhidupkan Kristus. Kita akan menjadi satu dengan Kristus dalam perbuatan dan perkataan kita.

Karena itu, melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan berarti melakukan segala sesuatu dalam keesaan dengan Tuhan melalui membaca, berdoa, bernyanyi, dan bermazmur dengan firman, serta menggunakan roh kita untuk berbaur dengan firman, dan karenanya menjadi satu dengan Kristus dalam pengalaman. Dengan demikian kita akan memperhidupkan Kristus, melakukan segala sesuatu dalam nama-Nya. Inilah kehidupan orang Kristen yang normal.

?