RAJIN
“Justru karena itu, kamu harus dengan rajin berusaha menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan … dan kepada kasih terhadap saudara-saudara seiman, kasih terhadap semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
2Petrus 1:5-8 (Tl).
“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”
Yohanes 5:17
1. RAJIN BARU BISA ROHANI DAN BERBUAH
Dua Petrus 1:5-8 mengatakan, "Justru karena itu kamu harus dengan rajin berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan . . . dan kepada kasih terhadap saudara-saudara seiman, kasih terhadap semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita" (Tl.). Jika ingin rohani dan berbuah, harus rajin menuntut, tidak boleh malas. Amsal 24:30 mengatakan, "Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh." Orang yang malas, kerohaniannya pasti kersang, penuh dengan kedagingan; tidak ada sesuatu yang rohani, yang ada hanya daging dan hawa nafsu.
Dalam Kejadian 1 dan 2, selain dikatakan Allah telah menciptakan sayur mayur dan pepohonan, dikatakan pula, ketika itu belum muncul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, "sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang yang mengusahakan tanah itu." Di sini kita tampak, menurunkan hujan adalah pekerjaan Allah, sedang mengusahakan tanah adalah pekerjaan manusia. Untuk memperoleh hasil hayati, perlu ada manusia yang bekerja sama dengan pekerjaan Allah.
Ada tanaman yang bisa dituai dua kali dalam satu tahun, namun untuk itu terlebih dahulu harus ada orang yang membajak dan menabur. Kalau petani-petani malas, tidak giat membajak, menabur, dan menyiram, pasti tidak ada yang dituai. Rasul Paulus berkata, "Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah." Ladang harus digarap, dan bangunan harus dibangun. Orang yang benar-benar mengenal karunia Allah, barulah benar-benar orang yang rajin; dan orang yang rajin di hadapan Allah, barulah orang yang benar-benar mengenal karunia Allah.
Paulus berkata, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan" (1 Kor. 3:6). Setelah ada yang menanam dan menyiram, barulah Allah menumbuhkan. Rajin menyiram, tanaman pasti bertumbuh dengan baik. Amsal 20:4 mengatakan, "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." Tanpa membajak dan menanam, niscaya tidak mendapatkan apa-apa.
Pada tahun 1978, dalam suatu sidang istimewa di Surabaya, seorang saudara menganjuri semua saudara saudari untuk mengeluarkan (membayar) harga guna mengalami Kristus. Ia berkisah : "Di Penang, ada seorang saudara yang berdagang barang-barang antik. Ketika saya berkunjung ke tokonya, ia mengambil sebuah pot dan sebuah piring untuk diperlihatkan kepada saya, sambil berkata, 'Pot ini sudah ditawar orang $ 18,000.00 tapi tidak kulepas. Dan piring ini bernilai $ 40,000.00.' Kemudian ia meneruskan penjelasannya tentang bagaimana indahnya seni lukis yang terdapat pada kedua benda antik tersebut. Setelah saya mengerti, barang-barang antik itu dibawanya pergi dan disimpan dalam lemarinya. Lihatlah, walaupun saya sudah mengenalnya, tetapi saya belum memperolehnya, sebab saya tidak sanggup mengeluarkan harga yang sebesar itu."
Misalnya lagi, saudari-saudari yang membeli daging di pasar, tentu tahu baik tidaknya daging itu, namun mereka harus mengeluarkan harga dulu, baru bisa memperoleh daging itu. Setelah memperolehnya, masih harus dicuci, dipotong-potong, dan juga dimasak dulu baru bisa dihidangkan untuk dimakan. Kemudian, harus lewat empat jam dicema dalam perut baru bisa menjadi gizi dan kekuatan tubuhnya. Jika kita ingin mengalami Kristus dengan kita harus mengeluarkan banyak harga dan banyak tuntutan, karena itu, kita tak dapat tidak rajin.
Allah hanya memberkati orang yang rajin, tidak memberkati orang yang malas. "Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa" (Ams. 12:24). "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga" (Ams. 12:27).
Pernah seorang saudara meminta kepada saudara Watchman Nee untuk memimpin saudara saudari mengkaji kitab Wahyu. Saudara Nee menjawabnya, "Baik, baca dulu kitab Wahyu seratus kali, kemudian baru kita mengkajinya bersama." Maksud saudara Nee : Banyak dan rajin-rajinlah membaca Alkitab, dengan sendirinya akan beroleh terang sehingga memahami setiap kitab.
Tuhan berkata, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat. 7:7). Ingin diberi, harus meminta; ingin mendapat, harus mencari; dan ingin dibukakan pintu, harus mengetuk pintu. Kalau malas, tidak meminta, tidak mencari, atau tidak mengetuk pintu, mustahil mendapatkan! "Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi tidak juga mengembalikannya ke mulut" (Ams. 19:24), dan "tidak akan menangkap buruannya" (Ams. 12:27). Jika demikian, bagaimana ia bisa memperoleh sesuatu agar bisa dikenyangkan?
2. ORANG RAJIN BARU BISA MELAYANI TUHAN
Setiap pelayan Allah wajib rajin (2 Kor. 6:3-5; Rm. 12:11). Semua orang yang dipakai Allah, pasti melayani Allah dan bekerja bagi Allah dengan tekun dan rajin. Allah akan bekerja, harus ada orang yang mau bekerja sama dengan-Nya. Kita tidak pernah melihat Allah bekerja di suatu tempat, namun orang-orang yang dipakai-Nya adalah orang-orang yang malas. Sebaliknya, kita melihat di mana saja, orang-orang yang Allah pakai secara besar-besaran pasti adalah orang-orang yang rajin.
Tuhan sendiri rajin. Pagi-pagi buta Ia sudah pergi ke padang gurun untuk berdoa (Mrk. 1:35). Ia berdoa sepanjang malam kepada Allah demi menetapkan dua belas rasul yang pertama (Luk. 6:12). Pernah karena sibuk, sampai-sampai Ia tidak ada waktu untuk makan (Mrk. 3:20). Ia penat karena berjalan jauh demi menyelamatkan manusia yang berdosa (Yoh. 4:6). Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis (Kis. 10:38).
Paulus berkata, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya ..." (2 Tim. 4:2). Tak peduli baik atau tidak baik waktunya, harus tetap memberitakan firman dengan rajin. Paulus memberitakan Injil dengan sekuat tenaganya, baik berdebat dengan orang, baik berkhotbah, atau menulis surat, bahkan ketika dalam penjara pun, ia tetap menulis surat. Dirinya sendiri boleh terbelenggu, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.
Seorang saudara berkata, "Janganlah kita hanya membicarakan perkataan rohani, termasuk memberitakan Injil. Kita harus sering berlutut berdoa, dan keluhan kita harus sering sampai ke hadirat Allah, kemudian memberitakan Injil, bahkan sampai mengucurkan keringat sekujur tubuh. Dengan demikian, barulah banyak orang akan beroleh selamat." Jangan Anda hanya berkata, "Ya, menengadahlah kepada Allah, berdoalah agar Allah bekerja!" Jika Anda demikian, adakah orang yang beroleh selamat? Tidak. Ada kewajiban yang harus kita tunaikan, karena itu kita harus rajin.
Saudara Watchman Nee adalah orang yang rajin. Nyonya Nee pernah mengatakan bahwa dalam memanfaatkan waktunya, Saudara Nee tidak pernah melewatkan lima menit pun dengan sia-sia. Dalam keadaan sakit parah, ia tetap menulis buku "Manusia Rohani". Pernah seorang saudara berkata kepadanya, "Jika Anda terus demikian bekerja keras, Anda pasti jatuh sakit." Saudara Nee menjawab, "Saya tidak ada waktu untuk sakit."
Saudara Witness Lee mulai membahas Pelajaran-Hayat Perjanjian Baru ketika ia berusia 70 tahun, dan baru selesai 11 tahun kemudian, yaitu ketika ia berusia 81 tahun. Ia senantiasa bekerja keras, tidak kendur sedikit pun. Akhir-akhir ini ia menerima pujian sebagai penulis yang paling rajin.
Martin Luther, seorang Jerman, hidup di dunia ini selama 62 tahun. Ia mulai menulis sejak berumur 34 tahun, dan terus menulis selama 29 tahun. Pada waktu peringatan 400 tahun hari kelahirannya, ada orang yang mengumpulkan tulisantulisannya dan menyerahkannya kepada perpustakaan di kota Wurm di Jerman; memakai huruf-huruf cetak timah yang diatur sebagai klise waktu itu. Buku-buku yang telah dicetak berjumlah 68 buku, tiap buku rata-rata 750 halaman. Masih ada 27 buku yang belum dicetak. Sedikitnya berjumlah 65.000 halaman. Saat itu belum ada mesin ketik, masih memakai pena dan tinta air untuk menulisnya; pena yang dipakainya adalah semacam pena bulu bangsa. Bersamaan dengan itu ia adalah seorang Gembala Sidang, juga seorang dosen di sebuah sekolah teologia. Ditambah lagi, ia masih harus berkeliling ke banyak tempat untuk berkhotbah; tubuhnya lemah dan sering sakit, sehingga sering membuatnya terhenti menunaikan pekerjaannya. Namun kini, jika kita meneliti lagi karya-karyanya, masih terasa bobot nilainya. Dipandang dari seorang yang super sibuk, yang tubuh jasmaninya lemah, namun bisa menghasilkan karya sedemikian, ia sungguh adalah seorang teladan yang rajin melayani Tuhan.
Alkitab tidak memakai kuda untuk mewakili pelayanan, melainkan memakai sapi, sebab pekerjaan sapi tidak pernah kendur, ia menanggung kuk baik hari ini, esok, maupun lusa. Dalam melayani Tuhan, kita harus senantiasa menanggung kuk Allah, tanpa kendur sehari pun. Demikian baru ada harapan. Hanya orang yang rajin yang bisa dipakai Allah.
Kemalasan bisa membuat orang yang paling berguna menjadi prang yang paling tidak berguna; kemalasan bisa membuat orang kaya menjadi orang yang hanya tersisa sepertiga, seperlima, dan sepersepuluh. Begitu seseorang menjadi pemalas, ia akan menjadi separuh, dan tak lama kemudian akan menjadi sepersepuluh. Melayani Tuhan harus rajin: satu orang bisa dianggap sepuluh orang, bahkan seratus orang.
Orang yang malas, dalam pandangan Tuhan tidak berguna. Tuhan mencela hamba yang jahat dan malas. Jahat, karena ia mengira Tuhan itu kejam; pikirannya jahat. Malas, karena ia tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia menyembunyikan talentanya ke dalam tanah. Orang semacam ini, hari ini tidak bisa dipakai Tuhan, kelak akan dicampakkan ke luar, ke dalam kegelapan.
Amsal 10:26 mengatakan, "Seperti cuka bagi gigi dan asap bagi mata, demikian si pemalas bagi orang yang menyuruhnya." Tidak bisa dicicipi, tidak bisa dipandang, pendeknya, tidak bisa dipakai lagi. Mempercayakan urusan kepada orang yang malas, jika bukan dibengkalaikan, tentu ditunda-tunda atau bahkan dirusak. Lain kali, tidak mungkin ada orang yang mau mempercayainya lagi. Amsal 22:29 mengatakan, "...orang yang rajin dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri" (Tl.). Raja akan mengutusnya melakukan perkara yang besar.
Seorang saudara berkata, "Adakalanya saya berjumpa dengan saudara dalam gereja yang demikian : Kalau saya mengatakan, bahwa tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu perlu ada sidang gereja, ia segera mengerutkan dahinya dan berkata, 'Jangan, nanti saudara saudari keberatan.' Saya jawab, 'Bukan saudara saudari yang keberatan, Anda sendiri yang keberatan. Kalau Anda merasa seminggu tiga kali berhimpun terlalu banyak, sekali saja sudah cukup. Lalu, untuk sidang apa yang hanya sekali itu? Untuk berdoa? Membaca Alkitab? Atau bersekutu?' Bagi pemalas, pasti ada saja cara untuk menyederhanakan sesuatu. Pemalas akan berkata, 'Satu jam setengahterlalu panjang, cukup satu jam saja, yang setengah jam untuk berdoa, sisanya untuk membaca Alkitab. Jadi, berdoa dan membaca Alkitab dilakukan sekaligus; demikian akan menghemat waktu saudara saudari.' Perkataan ini kedengarannya memang baik, namun ketika saya mendengar usul seperti ini, dalam batin saya menggeleng-gelengkan kepala, saya rasa, gereja lokal ini sangat tidak beruntung, sebab saudara yang melayani adalah orang yang malas."
Namun, tidak sedikit juga saudara-saudara yang rajin. Misalkan Anda mengusulkan supaya sidang gereja diadakan setiap hari Selasa dan Kamis, dua kali seminggu. Mereka segera bertanya, "Kalau begitu, hail Sabtu dimanfaatkan untuk apa?" Kalau Anda berkata, "Tidakkah terlalu banyak jika ditambah hari Sabtu?" Mereka akan menjawab, "Sama sekali tidak. Malahan kalau mungkin kita adakan sidang bap malam." Dari sini kita melihat, terhadap kasus yang sama, komentar orang yang malas dengan orang yang rajin pasti berbeda. Orang yang malas memiliki wawasan malas, orang yang rajin memiliki wawasan rajin.
Adakalanya saudara atau saudari menganjuri saya agar saya lebih sederhana dalam membaca Alkitab. Saya lalu bertanya kepada mereka, "Apa kalian ingin menyuruh saya menjadi orang yang malas? Saya bisa sederhana sedikit, kitab Bilangan boleh diselesaikan dalam seperempat jam; pasal pertama membahas masalah penyusunan, pasal terakhir membahas masalah peraturan pengalihan warisan kaum wanita di sebelah timur Sungai Yordan. Setelah penyusunan, lalu mewarisi pusaka, itulah isi kitab Bilangan."
Saudara Witness Lee berkata : "Suatu kali, seorang pengurus perumahan pekerja berkata kepada orang lain di hadapan saya, 'Siapa saja yang mengurus perumahan pekerja, pasti tidak tahan terhadap saudara Lee. Kalau saudara Lee datang, ia pasti memeriksa semua tempat tidur dan meja, dan semua kasur dibalik-balik.' Saya terus terang berkata, ini bukan masalah tahan atau tidak tahan, melainkan masalah malas atau rajin. Kalau Anda pemalas, terhadap urusan yang lebih ringan pun, Anda akan merasa tidak tahan. Sebaliknya kalau Anda rajin, terhadap urusan yang lebih berat pun, tidak menjadi masalah."
Jika Anda mengunjungi suatu gereja lokal, Anda bisa mengetahui apakah orang-orang yang melayani di sana rajin atau malas. Seharusnya menginjil, tidak menginjil; seharusnya membina, tidak membina; seharusnya menjenguk, tidak menjenguk; seharusnya mencari orang-orang yang telah undur, tidak mencarinya. Namun orang-orang tersebut tetap dapat menjadi "orang-orang yang melayani" dengan damai sejahtera setiap hari. Mereka paling setuju kalau waktu sidang hanya satu jam saja. Orang-orang semacam ini tidak beda dengan pekerja upahan. Orang yang bekerja di toko atau perusahaannya sendiri tentu rajin bekerja dan bahkan ada yang bekerja belasan jam seharinya. Begitulah yang terlihat di antara saudara-saudara pengusaha di Asia Tenggara. Pagi, sebelum karyawan datang, ia sudah mulai bekerja; sore, setelah karyawan pulang, ia masih tetap bekerja, kadang-kadang malah sampai larut malam. Tidak heran, usaha mereka begitu sukses.
Kalau urusan gereja ditangani oleh orang-orang yang berkarakter malas, pasti tidak akan berhasil. Sekalipun Anda memberi kebenaran, prinsip dan metode yang paling baik, tetap tidak ada gunanya. Karakter malas akan merugikan segalagalanya. Karena itu, setiap orang yang melayani harus berlatih menjadi orang yang rajin; bukan sekadar bekerja, bahkan berusaha menciptakan pekerjaan. Orang yang melayani harus bekerja keras tanpa menghitung jam. Setiap pekerjaan yang Anda tangani, harus ditangani dengan rajin. Jika demikian, gereja pasti dapat Anda asuh menjadi tertib dan berjalan pada rel normal. Sebaliknya, jika orang yang melayani tidak rajin, bagaimanapun rohaninya dia, tetap tidak berguna. Gereja, jika dipimpin oleh orang yang malas, pasti akan kersang. Harus seperti "istri yang cakap, rajin bekerja siang dan malam, sehingga seisi keluarganya mengenakan pakaian rangkap" (Ams. 31:10-31).
3. ORANG YANG RAJIN TIDAK SENANG
MENGANGGUR, TAPI MENCARI PEKERJAAN
Orang yang rajin pasti selalu mencari pekerjaan. Ia pasti selalu berpikir, berdoa, menengadah, dan mempertimbangkan di hadapan Allah; begitu ada urusan, segera dikerjakan. Makin ada pekerjaan, makin senang mengerjakan. Tabiat dan sifatnya pun rajin. Bukan tangan dan kakinya saja yang senang bekerja, hatinya pun gemar bekerja. Tuhan berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17). Bukan "Bapa-Ku istirahat sampai sekarang, maka Aku pun istirahat juga." Tuhan terus-menerus bekerja, bukan terus-menerus istirahat.
Pada suatu kali, ada seorang saudara berkata, "Saudara Anu sungguh tidak semestinya, coba pikir, begitu banyak saudara datang dari luar kota, dia tidak mau meluangkan sedikit waktunya untuk bersekutu dengan mereka." Saudara lain berkata, "Mengapa Anda tidak memberi tabu dia?" Ia menjawab, "Masa hal seperti ini perlu diberi tabu!" Jawaban ini sangat tepat. Setiap pelayan Allah harus selalu menunggu di hadapan Allah, selalu mencari pekerjaan untuk dilakukan.
Ada seorang petani yang sudah berumur 70 tahun. Setiap hari ia bekerja sebagaimana halnya masih muda, giat bekerja di ladang, tidak mengenal lelah; sungguh tidak mengenal istilah pensiun menjelang tua. Ada orang berkata kepadanya, "Anda sudah tua, anak cucu pun banyak, sudah boleh pensiun. Buat apa masih berjerih lelah di sini?" Dia menjawab, "Hidup manusia bagaikan sebilah pisau potong. Ada dua cara yang membuat pisau ini habis : Pertama, tidak menggunakan dan membiarkannya berkarat hingga habis. Kedua, menggunakannya terus-menerus, dipakai, diasah, hingga habis. Di antara dua pilihan ini, aku lebih rela habis karena diasah dan dipakai, tidak rela habis karena berkarat." "Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? ... Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku." (Mat. 20:6-7).
4. ORANG YANG RAJIN AKfIF, TIDAK PASIF
Jangan pasif seperti jam putar, yang harus diputar baru bisa berjalan. Wajib aktif, selalu : "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang" (Yoh. 4:35). Adakah tuaian yang sudah menguning/masak. Lihatlah, pasti ada pekerjaan. Bukan menunggu orang lain datang mencari Anda baru bekerja, melainkan Anda sendiri yang berbeban untuk bekerja.
Paulus hanya sekali mendapat visi Makedonia, pekerjaan selanjutnya, semua dilakukan menurut beban yang ia pikul di hadapan Allah.
5. ORANG YANG RAJIN TIDAK TAKUT URUSAN,
TIDAK TAKUT REPOT
Banyak saudara saudari menjadi tidak berguna dalam hal melayani Allah, dikarenakan begitu menjumpai urusan, mereka segera merasa takut, merasa direpotkan.
Orang yang malas takut urusan, enggan repot; urusan besar "disulap" menjadi urusan kecil, dan urusan kecil "disulap" menjadi tidak ada urusan sama sekali. Dulu, ada sebuah kisah : Ada seorang penjaga pintu yang tugasnya membuka pintu bila ada tamu yang membunyikan bel pintu. Pada suatu hari, ada orang menekan tombol bel, tapi penjaga itu tidak segera membukakan pintu. Orang lain bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tidak membukakan pintu?" Ia menjawab, "Ah, alangkah baiknya kalau orang itu tidak menekan tombol bel itu." Lihatlah, orang mengetuk pintu, tapi ia mengharap tidak ada orang yang mengetuk pintu. Banyak orang bersikap demikian dalam pekerjaan Allah, yakni mengharap tidak ada urusan. Sekalipun urusan sudah terbentang di depannya, ia tetap mengharap tidak ada urusan.
Semua hamba Allah adalah orang-orang yang banyak urusan, selalu sibuk, selalu mencari urusan, mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri. Bila ada tanggung jawab, ia sendiri yang memikul; bila ada masalah, ia sendiri yang menanggulangi; bukan malah menghindari urusan. Kita harus dengan serius menanggulangi sifat yang takut urusan dan takut repot. Menyembunyikan diri bila ada masalah, itu adalah kebiasaan buruk. Kita wajib melatih sampai tidak takut repot, senang melayani, senang mengorbankan harta dan tenaga bagi umat Allah, senang rajin bekerja. Paulus berkata, "Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (Kis. 20:34). Sepasang tangan Paulus itu sungguh baik, sedikit pun tidak malas; baik siang maupun malam senantiasa bekerja. Ia pun berkata, "Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam ... memberitakan Injil Allah kepada kamu" (1 Tes. 2:9).
6. ORANG RAJIN PASTI TIDAK TERLAMBAT,
TIDAK MENGULUR WAKTU, DAN TIDAK BIMBANG
Malas juga mengandung makna "lambat", "tunda", dan "bimbang". Orang yang malas selalu mengulur-ulur waktu, baginya makin lama makin baik. Bekerja pun sangat lambat. Pekerjaan yang bisa diselesaikan sehari, diperpanjang menjadi sepuluh hari; yang bisa rampung sebulan, tiga bulan baru rampung. Bimbang berarti juga tidak cepat-cepat memutuskan. Ingin mengerjakan, namun tidak mengerjakan; tidak melakukan, namun ingin juga melakukan; plin-plan, tidak bisa mengambil keputusan. Tidak demikian dengan orang yang rajin. Bila ia ingin melakukan sesuatu, ia segera melakukannya dan tidak berhenti sebelum pekerjaan itu rampung.
7. ORANG RAJIN SELALU MERASA TIDAK CUKUP
Petrus berkata bahwa kita harus semakin giat bekerja, ditambah dan semakin banyak lagi. Rajin juga berarti sudah ada, namun terus ditambahkan; selalu merasa kurang, dan selalu tidak berkesudahan. Paulus berkata, "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh ha1 ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya ..." (Flp. 3:12). Paulus merasa masih kurang, maka ia mengejar. Jika tidak, ia pasti sudah berhenti.
Saudara Watchman Nee, setelah untuk terakhir kali dari Hongkong kembali ke Shanghai, pada sekali kesempatan berkata kepada rekan-rekan sekerja, "Tidak seorang pun hamba Allah yang boleh merasa puas dengan kesuksesan yang ia miliki sekarang. Kalau demikian, ia akan menjadi seorang yang kehilangan kesempatan. Saya yakin bahwa apa yang Allah berikan kepada kita jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita pahami. Setiap hari Allah pasti memberi kita banyak kesempatan, dan banyaknya tidak terbilang. Hari ini adalah 7 Juli 1950. Menyayangi waktu berarti memegang kesempatan yang hari ini Allah berikan kepada kita. Bila gereja memendam sebuah talenta (karunia), itu adalah satu kerugian yang serius, (demikian juga dengan kehilangan sekali kesempatan). Jangan kalian kira, sesudah balai sidang di jalan Nan Yang rampung, kita sudah boleh tenang seumur hidup. Jika kita menginjil hanya mendapatkan sepuluh atau dua puluh jiwa, apakah kita sudah merasa berhasil baik? Kalau Tuhan ingin mendapatkan seribu jiwa, tapi kita hanya mendapatkan seratus, itu berarti kehilangan yang sembilan ratus jiwa. Ketika Allah ingin maju ke depan, kita pun harus maju ke depan. Ketika pintu terbuka sedikit, kita harus cepat-cepat masuk ke dalam, sebab kesempatan tidak bisa menunggu kita."
John Wesley tidak pernah melewatkan waktunya sekalipun satu jam secara sia-sia. Tiap hari, dia bangun jam 4 pagi, lalu menggunakan satu jam pertama untuk berdoa. Sering kali sekitar jam 5 pagi dia sudah berkhotbah, ada kalanya sehari lima kali ia harus keluar rumah untuk berkhotbah. Buku-buku yang ia edit dan tulis ada sekitar 340 macam. Karena dia mempunyai satu hati yang membara, maka meskipun dia telah melakukan banyak hal, dia tetap menganggapnya sedikit. Suatu kali, seorang nyonya bertanya kepadanya, "Seandainya Anda tahu bahwa besok malam pukul 12 Anda akan meninggal dunia, bagaimana Anda akan menggunakan waktu Anda yang tersisa?" Wesley menjawab, "Bagaimana menggunakannya? 0, aku akan tetap menggunakannya sebagaimana jadwalku sekarang. Malam hari ini aku akan berkhotbah di Glasgow, besokpagi pukul 5 tetap berkhotbah di sana. Kemudian aku akan pergi ke Trafalgar Square, dan sore harinya berkhotbah di sana. Malam harinya aku akan berkhotbah ke penduduk kota, kemudian pergi ke rumah Martin, karena ia telah berjanji mengundangku makan bersama, berbincang-bincang dengan keluarganya, dan bersama berdoa sebagaimana biasa. Pukul 10 aku pulang ke rumah, menyerahkan diriku kepada Bapa di surga, kemudian dengan tenang beristirahat tidur. Lalu, bangun kembali di dalam kemuliaan."
8. ORANG RAJIN SADAR
BAHWA TANGGUNG JAWABNYA BERAT
Jika kita ingin melayani Tuhan, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab kita berat, kebutuhan sangat mendesak, waktu sangat pendek, dan masa hidup kita sangat terbatas. Jika kita mempunyai kesadaran demikian, kita pasti akan giat, tidak malas. Kita tabu bahwa waktu kita sangat singkat, kebutuhan di luar sangat besar dan Iblis semakin merajalela, karena itu kita tidak dapat tidak giat bekerja, tidak boleh berhenti.
9. ORANG RAJIN
PASTI TIAP HARI BANGUN PAGI-PAGI
Orang yang malas pasti senang tidur, lebih baik tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk berbaring; seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya, bolak-balik, enggan bangun, akhirnya menderita miskin dan lapar (Ams. 6:9-10; 19:15; 20:4, 13; 26:14).
Orang yang rajin pasti pagi-pagi sudah bangun mencari Allah, bersekutu dengan Allah, memungut manna, menikmati kekayaan Tuhan. Pada tahun pertama Saudara Watchman Nee percaya Tuhan, pada suatu hari ia mengunjungi saudari Barber. Saudari Barber bertanya kepadanya, "Setiap hari, pada pukul berapa kamu bangun pagi?" Saudara Nee menjawab, "Pukul 06.00 pagi." Saudari Barber berkata, "Kamu baru berumur 19 tahun, saya sudah 50 tahun lebih, dan selama 30 tahun, tiap hari saya bangun pukul 04.00 pagi, hingga sekarang tidak berubah." Saudara Nee bertanya, bagaimana bisa demikian. Saudari Barber berkata, "Jika kita selalu berolah raga, maka otot-otot kita secara otomatis demikian." Ia pun berkata, "Jika kamu bangun terlambat, manna akan mencair dan lenyap!" Sejak saat itu, saudara Nee giat melatih bangun pagi-pagi, membaca Alkitab dan berdoa.
10. ORANG RAJIN SUKA RAPI, BERSIH, TIDAK RAKUS,
TIDAK MENCARI ALASAN MENGHINDARI PEKERJAAN
a. Orang Malas Suka Kotor
Pemalas pasti suka kotor dan berantakan (Ams. 24:30-31; 15:19). Pakaiannya tidak bersih, tidak rapi, rambutnya tidak disisir rapi, selimutnya tidak dilipat, kamamya tidak disapu, mejanya tidak dibersihkan, barang-barangnya berantakan, segalanya kacau dan kotor. Orang muda harus berpakaian bersih dan rapi, bangun tidur harus melipat selimut, kamarharus disapu dan ditata rapi, meja dan kursi harus dilap bersih, barang-barang setelah dipakai dikembalikan ke tempatnya semula, rambut harus disisir dan dicukur rapi. Ini untuk melatih karakter rajin. Sepatu pun harus digosok hingga mengkilap; semua ini bukan untuk pamer, melainkan untuk rajin.
Seorang saudara berkata, "Kalau Anda ingin mengikis kemalasan Anda, dan membina kebiasaan rajin, Anda harus memulainya dari urusan-urusan kecil atas diri Anda sendiri. Saya pernah berkata kepada kaum remaja, jika hari ini saya melihat sepatu kalian tidak digosok bersih, saya dapat memastikan bahwa kalian adalah pemalas. Kalian berkata karena waktu tidak cukup, itu alasan belaka. Menggosok sepatu tidak sampai 5 menit, tidak mungkin tidak cukup. Benar seperti kata peribahasa : "Malas dan kotor adalah saudara kembar." Di mana ada kekotoran, di situ pasti ada kemalasan. Apakah kotor itu? Kotor berarti segalanya dibiarkan begitu saja. Adakalanya Anda menyaksikan keadaan kotor di suatu gereja lokal (yang saya maksud bukan kenajisan atau kecemaran, tetapi keberantakan, tidak dirapikan, dan tidak diatur), keadaan demikian membuktikan bahwa orang-orang yang melayani di situ malas.
b. Orang Malas Pasti Rakus
Alkitab berkata, "...baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri" (Ef. 4:28) dan dikatakan pula, "Supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri" (2 Tes. 3:12); dan "Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes. 3:10). Siapa tidak mau menggerakkan tangan dan kaki, ia tidak boleh menggerakkan mulutnya juga. Setiap kita wajib rajin-rajin bekerja, tidak boleh seperti pemalas yang senang makan tapi malas bekerja. "Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap (rakus) yang malas" (Tit. 1:12). Mulut orang di Kreta sangat jelek, sering berbohong dan pelahap, tapi tangan mereka tidak mau digerakkan, tidak mau bekerja. Ini bukan hal sepele, dalam pandangan Tuhan, ini bagai binatang buas.
c. Orang Malas Selalu Mencari Alasan
agar Bebas dari Pekerjaan
"Si pemalas berkata : Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan" (Ams. 22:13; 26:13). Orang yang malas paling gemar duduk sambil mengobrol di rumah. Orang yang malas, pada musim panas mengatakan, tidak bisa bekerja karena cuaca terlalu panas, dan pada musim dingin mengatakan, tidak tahan bekerja karena cuaca terlalu dingin. Kalau turun hujan, pemalas berkata, nanti saja bekerja kalau hujan sudah berhenti. Banyak perkataan dan banyak alasan, yang terutama adalah karena malas. Orang rajin tidak demikian, jika ada pekerjaan, ia bekerja, jika tidak ada pekerjaan, ia mencari pekerjaan; tanpa membuat alasan ini atau itu. Orang yang rajin tidak berkata, "Tetapi ..., namun ..."
11. ORANG RAJIN BEKERJA
DENGAN PRAKTIS DAN SUNGGUH-SUNGGUH
Orang yang malas senang akan perkataan atau urusan yang tidak penting dan tidak berguna, pekerjaan yang wajar malah tidak dilakukan. Dua Tesalonika 3:11 mengatakan, "Ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna." Satu Timotius 5:13 mengatakan, "...dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalasmalas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas." Pemalas, walaupun banyak berbicara, tetapi sama sekali tidak bekerja. Bisa berbicara, tidak bisa melakukan. Orang yang rajin tidak hanya berbicara, juga mengerjakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Amsal 14:23 mengatakan, "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja."
Hanya mulut berbicara tetapi tidak menggerakkan tangan atau kaki, tidaklah berguna; hanya ada niat tetapi tidak melakukan dengan sungguh-sungguh, juga tidak berguna. "Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja" (Ams. 21:25). "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan" (Ams. 13:4). "Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak" (Ams. 19:15). Bila Anda menggerakkan tangan, pasti tidak mungkin tidur nyenyak.
Seorang ahli biologi di Inggris pernah mengadakan riset mengenai kehidupan lebah. Ia membuat catatan sebagai berikut : Satu pon madu berasal dari sari bunga yang dihisap dari sekitar 62.000 bunga. Dengan kata lain, untuk mendapatkan satu pon madu, lebah harus mengeluarkan waktu terbang bolak-balik ke bunga-bunga sebanyak 2.700.000 kali, dengan jarak terbang 5.000.000 mil. Setiap kali mencari madu ia harus menggunakan belalai kecilnya yang kuat, itu pun perlu 3.720.000 kali menyesapi bunga-bunga. Demikian baru bisa menghasilkan satu pon madu. Bahkan, setelah mengeluarkan begitu banyak tenaga, ia sendiri tidak memakannya. Orang Kristen yang ingin kaya di hadapan Tuhan harus rajin. Setiap orang yang rajin pasti bangun pagi; begitu bangun segera menghampiri Tuhan untuk mendapatkan makanan rohani.
12. BELAJAR RAJIN DENGAN MENGAMATI SEMUT
Semut tidak pasif, tanpa panglima, tanpa pembesar pun tanpa raja. Semut giat mencari, menyediakan, dan menyimpan makanan (Ams. 6:6-8). Semut pun selalu berkelompok, tidak menyendiri. Berjerih lelah, bekerja, dan menikmati bersama. Kita harus bersama kaum saleh berada dalam gereja, juga bersama melayani dan menikmati Kristus. Orang yang malas tidak bekerja tetapi ingin menikmati makanan yang dihasilkan oleh jerih lelah orang lain.
13. WAJ1B TIAP HARI MENANGGULANGI
DENGAN KERAS
Kebiasaan malas terbentuk melalui waktu yang sangat lama, karakter ini tidak dapat diubah dalam sehari, dua hari. Karena itu, kita harus setiap hari membasmi hama pemalas, menanggulangi dengan keras. Kalau tidak, ia akan bercokol pada diri kita seumur hidup.