Daftar isi Karakter · bab 3/30

KETAT

"Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku."

Mazmur 63:9

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,

selama masih siang; akan datang malam

di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja."

Yohanes 9:4

1. ALLAH MENGHENDAKI MANUSIA KETAT

Hasrat dan minat hati kita dalam mencari dan mengikuti Tuhan hams ketat, demikian pula terhadap segala perkara yang berkaitan dengan Tuhan. Karakter ketat sangatlah penting, sebab karakter ini berhubungan dengan kebahagiaan kekal, kemuliaan kita.

Allah berpesan kepada bani Israel, ketika mereka melakukan perayaan Paskah, mereka hams berikat pinggang, mengenakan kasut pada kaki, memegang tongkat di tangan, buru-buru makan daging domba, dan keluar dari Mesir pada malam itu juga (Kel. 12:11, 42). Allah juga berpesan kepada mereka, agar jangan lalai mempersembahkan hasil gandum dan anggur mereka (Kel. 22:29). Boas menyuruh Rut mengikuti pengerjapengerjanya dengan ketat untuk memungut bulir-bulir gandum (Rut 2:21). Allah memilih ketiga ratus pengikut Gideon yang menghirup air dengan membawa tangannya ke mulutnya, karena mereka adalah orang-orang yang ketat (Hak. 7:6-7). Orang-orang Yehuda tetap berpaut dengan ketat kepada raja mereka (2 Sam. 20:2). Daud berkata bahwa jiwanya melekat kepada Allah (Mzm. 63:9). Petrus pernah tidak ketat mengikuti Tuhan, melainkan mengikuti-Nya dari jauh, sehingga ia jatuh, yakni tiga kali menyangkal Tuhan (Mat. 26:58). Paulus berpesan kepada Timotius agar ia segera datang kepadanya (2 Tim. 4:9); ia juga berpesan kepada Titus untuk segera datang ke Nikopolis menjumpainya, dan menghendakinya dengan sebaik-baiknya mengantarkan perjalanan Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos (Tit. 3:12-13).

Setiap anak Allah harus mencari dan mengikuti Tuhan dengan ketat. Setiap pelayan Allah harus ketat dalam melakukan pekerjaan Allah. Kita semua wajib membina karakter ketat, baru bisa berguna dalam tangan Tuhan.

2. KETAT BERLAWANAN DENGAN KENDUR

Kendur berarti menghamburkan atau memboroskan dengan sembarangan. Ketat berarti tidak memboroskan waktu, harta, perkataan, kekuatan jasmani maupun rohani, semuanya dipakai untuk Tuhan dan gereja. Tuhan menyuruh murid-murid mengumpulkan remah-remah roti dan terkumpul sebanyak dua belas bakul, ini berarti tidak memboroskannya. Bila kita kendur, maka banyak waktu, harta, dan kekuatan akan terbuang dengan sia-sia. Hari-hari, harta, dan kekuatan kita sangatlah terbatas, jangan menyia-nyiakannya, melainkan pakailah untuk Tuhan dan gereja. Kita perlu meniru Maria, yaitu mengambil kesempatan menuangkan minyak narwastu ke atas kepala Tuhan (Mat. 26:7).

Tuhan Yesus berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" (Yoh. 9:4). Lawrence berkata, "Jika Anda tidak memanfaatkan hari ini untuk mengasihi Tuhan, Anda akan kehilangan hari ini."

3. KETAT DENGAN BERENCANA

Mengerjakan pekerjaan Tuhan wajib ketat dengan berencana, jangan tanpa tujuan, tanpa perasaan, tanpa target. Jangan santai, lamban, semrawut.

"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Tuhan Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana" (Mrk. 1:35). Tuhan Yesus pada tengah hari duduk di pinggir sumur memberitakan Injil kepada seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:4-7); menerima Nikodemus pada malam hari (Yoh. 3:2). Setelah membagi-bagikan roti dan ikan kepada lima ribu orang, Tuhan segera memerintahkan murid-murid naik ke perahu, mendahului-Nya ke seberang dan menyuruh orang banyak pulang, setelah itu Ia naik ke atas bukit untuk berdoa seorang (Mat. 14:19-23). Dari contoh-contoh itu dapat kita ketahui, betapa ketatnya karakter Tuhan.

Setelah daratan China dikuasai komunis, semua saudara saudari dalam gereja mempunyai firasat akan datangnya aniaya hebat. Saudara Watchman Nee lalu mengambil keputusan untuk berusaha sekuat tenaga menerbitkan buku-buku rohani, agar walaupun kelak manusianya terbatas, namun buku-buku tetap bisa beredar ke mana-mana. Saudara Watchman Nee menyuplai bahan, Saudari Lee Yuan Ru menyunting, dan dibantu lagi oleh beberapa saudara saudari, maka tak lama kemudian banyak buku dapat diterbitkan. Pada saat-saat yang genting itu mereka berlomba-lomba memanfaatkan kesempatan, dari pagi hingga malam bekerja keras, dan selama tiga bulan, setiap malam hanya tidur tiga jam. Ini adalah satu bukti karakter ketat dengan berencana dari Saudara Watchman Nee selaku hamba Tuhan.

Saudara Witness Lee berkisah, "Ketika saya menggembalakan gereja di Cheefoo di tahun 1940-1945, dalam saku saya selalu berisi kertas-kertas catatan tentang rencana seluruh gereja, yaitu sesuatu yang siap dilakukan pada hari itu, ada selembar catatan lagi yang mencatat barang-barang yang diperlukan dalam rencana itu, ada pula catatan tentang lokasi-lokasi sebagai target perluasan, dan ada satu lagi catatan nama-nama orang. Begitu ada waktu luang, saya lalu mencocokkan orang-orang dalam daftar ini, sesuai dengan kemampuan mereka demi koordinasi pelayanan. Adakalanya setelah bangun pagi, mendadak timbul perasaan bahwa orang anu kurang tepat, maka segera saya ralat. Dan untuk mengisi kekosongannya, saya mencari-cari dalam daftar tadi. Kalau tidak ada dalam daftar, saya lalu mencari di antara saudara saudari." Ini juga merupakan satu teladan karakter ketat dengan berencana.

4. KETAT JUGA BERARTI ADA AWAL ADA AKHIR,

TIDAK BERHENTI SEBELUM MENCAPAI SASARAN

Orang yang berkarakter kendur selalu ada awal tetapi tanpa akhir. Pada awalnya mungkin masih lumayan, lambat laun jadi kendur, akhirnya tanpa kelanjutan dan tanpa hasil. Kita wajib ketat, jangan kendur, jangan hangat-hangat tahi ayam. Seorang saudara berkata, "Jika kita telah menetapkan di hadapan Allah, wajiblah kita mengawasi diri sendiri, dan lakukanlah walau hams bertahan sepuluh tahun lamanya; jangan baru melakukan sepuluh hari sudah berhenti." Jangan sekali-kali kita menjadi santai dan ceroboh, belajarlah menjadi orang yang disiplin.

5. KEKETATAN HARUS DIMULAI

DARI ROH DAN HATI

Hati harus mengikuti Tuhan dengan ketat, roh harus senantiasa terbuka terhadap Tuhan. Hams mengenakan ikat pinggang, menyalakan pelita (Luk. 12:35), berdiri di sisi Tuhan. Bila Tuhan memberi pimpinan atau perintah, laksanakan segera.

Injil Markus mengisahkan Tuhan Yesus sebagai Hamba-Penyelamat. Pelayanan-Nya sungguh rajin lagi ketat. Dalam kitab ini istilah "segera" tercatat sebanyak 41 kali; ada versi yang mencatat 43 kali.

Seorang tuan menghendaki hambanya sekembali dari membajak atau menggembalakan temak, segera menyediakan makanan untuk tuannya dan melayaninya sambil mengikat pinggang (Luk. 17:7-8). Sekembali dari membajak dan menggembalakan temak, masih hams segera melayani tuannya.

Dalam hal menerima baptisan dan memulai sidang pemecahan roti, Saudara Watchman Nee selalu berprinsip, "Daripada memilih hari lain lebih baik hari ini juga." Saudara Watchman Nee sudah menerima baptisan di gereja Metodis ketika ia masih kecil. Kemudian ia menyadari bahwa baptisan terhadap dirinya di masa kecil itu kurang tepat, sebab menurut teladan Alkitab kita harus dibaptis dengan cara selam; ibu Saudara Nee juga menyadari hal itu. Ketika mereka berdua bersekutu tentang hal itu, ibunya bertanya, "Di mana kita bisa dibaptis selam?" "Di tempat Miss Barber di Ma Wei," jawab Saudara Nee. "Sebaiknya kapan?" Saudara Nee berkata, "Daripada memilih hari lain lebih baik hari ini juga." Kemudian, mereka berdua pada hari itu juga pergi ke Ma Wei dan dibaptis selam oleh Miss Barber.

Setelah tiga tahun beroleh selamat, Saudara Watchman Nee menghabiskan banyak waktu untuk mengkaji Alkitab, dan ia menemukan bahwa perjamuan suci yang diselenggarakan empat kali setahun dan dipimpin oleh seorang pendeta, itu tidak sesuai dengan Alkitab. Menurut Alkitab, kaum beriman wajib memecahkan roti memperingati Tuhan. la lalu mempersekutukan hal ini dengan Saudara Leland Wang. Saudara Leland Wang memegang tangan Saudara Nee sambil berkata, "Pimpinan Allah memang sama, kemarin malam sebelum tidur, aku memeriksa Alkitab dan berdoa, aku pun tidak tampak dalam Alkitab bahwa perjamuan suci hanya boleh dipimpin oleh pendeta. Jadi hal itu tidak hams dipimpin oleh seorang pendeta." Mendengar ini, Saudara Watchman Nee bersyukur kepada Tuhan dan berkata, "Daripada memilih hari lain, lebih baik hari ini juga." Maka pada minggu itu juga, mereka bertiga, yakni Saudara Watchman Nee, Saudara Leland Wang dan Nyonya Leland Wang mulai memecahkan roti memperingati Tuhan di rumah Saudara Leland Wang. Suasana pemecahan roti mereka hari itu sungguh tidak terlupakan selamanya, di bumi bagaikan di surga.

Ketaatan yang tuntas adalah ketaatan yang dilakukan segera. Ketaatan yang ditunda-tunda bukan ketaatan yang sejati. Jika ingin taat, laksanakanlah pada hari ini juga, jangan ditunda-tunda. Kita wajib menjadi orang yang ketat. Begitu ada pimpinan Tuhan, lakukanlah segera. Jangan menunggu hari lain.

Begitu beroleh wahyu, Maria segera memanfaatkan kesempatan untuk mengurapi Tuhan dengan minyak narwastu (Mat. 26:7). Jangan seperti perempuan-perempuan lain yang baru membawa rempah-rempah ke kuburan setelah Tuhan mati, dikubur dan bangkit, sebab pada saat itu tubuh Tuhan Yesus sudah tidak ada di sana (Luk. 23:55-56; 24:1-2), kesempatan baik telah lewat.

Begitu Paulus berjumpa dengan Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik, ia segera menerima baptisan, tanpa menundanunda. Dan segera pula ia memberitakan Yesus sebagai Anak Allah, dan mempersaksikan bahwa Dia adalah Kristus (Kis. 9:18, 20-22; 22:16).

Menyelamatkan jiwa orang pun wajib seperti "merampas mereka dari api" (Yud. 23), dan ibarat menarik puntung dari api (Za. 3:2); jangan terlambat, melainkan harus cepat-cepat. Begitu kendur sedikit, kandaslah jiwa-jiwa itu. Betapa seriusnya hal ini.

Pada tanggal 2 Februari 1790, rumah orang tua John Wesley terbakar, kedua orang tua John cepat-cepat menyelamatkan seisi keluarga dari kobaran api, namun si kecil John tertinggal di lantai atas. Ketika itu ia baru berusia enam tahun, dan belum bangun dari tidur. Tatkala ia bangun, api telah menjilat tangga loteng. Karena tidak dapat turun dari tangga, ia segera berlari menuju sisi jendela dan naik ke atas sebuah peti. Ayahnya ingin menerjang api naik ke loteng menolongnya, tetapi tidak berdaya karena tangganya telah terbakar api yang sangat ganas. Semua orang mengira John pasti terkena musibah. Ayah John segera memanggil seisi keluarga berlutut berdoa, menyerahkan John sepenuhnya ke dalam tangan Allah. Pada saat-saat demikian, terlihat ada seorang berdiri di atas bahu orang lain dan menyelamatkan John keluar dari dalam jendela, dan tak lama kemudian seluruh atap rumah itu pun runtuh. Dengan rasa syukur yang meluap-luap ayah John berseru kepada orang-orang yang membantunya, "Para tetangga, mari kita berlutut mengucap syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan kedelapan anak saya, seorang anak pun tidak ada yang celaka. Biarkanlah rumah itu terbakar habis, saya sudah cukup ada." Karena John terhindar dari musibah kali itu, orang tuanya percaya bahwa Allah pasti akanmengamanatkan sesuatu yang istimewa untuk ia lakukan kelak. Setelah dewasa, John sendiri juga menyadari bahwa tertolongnya ia dari bahaya itu adalah penyelamatan Allah yang istimewa. Ia lalu membuat sebuah lukisan yang melukiskan sebuah rumah yang sedang terbakar api, dan di bawahnya diberi tulisan : "Bukankah ini sebatang kayu yang ditarik dari api?"

Carrey, seorang penginjil, pernah bercerita, "Pada suatu hari, pagi-pagi, saya merasa hams keluar mengunjungi seorang wanita yang pernah mendengar khotbah saya. Tetapi karena belum berkenalan dengannya, saya lalu berkata kepada diri sendiri, nanti saja, beberapa hari lagi. Tengah harinya ada dorongan lagi yang menyuruh saya mengunjunginya untuk berbincang-bincang dengannya tentang firman Tuhan. Ketika itu saya sedang bersantap siang. Saya kira tidak terlambat kalau nanti sore pergi melihatnya. Sampai sore hari, karena ada tamu datang, hal itu pun terlupakan. Setelah makan malam saya istirahat, lalu tidur. Keesokan harinya saya terkejut mendengar kabar bahwa wanita itu mati bunuh diri tadi malam. Oh, alangkah menyesalnya saya saat itu, dan kasus itu tidak terlupakan seumur hidup saya."

Memberi persembahan juga tidak boleh terlambat (Kel. 22:29). "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan ..." (Pkh. 12:1).

Ada seorang saudari muda, ia tinggal di pedesaan; tidak pernah mendapatkan pembinaan rohani yang memadai, juga tidak tahu apakah konsikrasi itu. Suatu pagi hari, ia mengamatamati dan mengapresiasi sekuntum bunga mawar di halaman rumahnya. Karena terlihat elok, ia ingin memetik bunga yang masih kuncup itu, menyisipkannya pada dirinya, (karena setelah beberapa hari kemudian, kuncup itu akan mekar, wanginya akan hilang, layu, wamanya pudar, dan kemudian rontok). Ketika ia sedang berdiri di depan bunga itu, di dalam batinnya timbul suatu bisikan yang lembut mengatakan, "Aku mau masa mudamu, sebagaimana kamu menyukai bunga ini. Jangan menunggu sampai kamu tua, wajah berkeriput, sempoyongan, baru mempersembahkan diri kepada-Ku. Maukah kamu sekarang juga mempersembahkan dirimu kepada-Ku?" Saudari ini, karena menerima dorongan kasih Tuhan, segera menjawab Tuhan, "Ya, Tuhan! Aku rela sejak kini mempersembahkan masa mudaku mutlak kepada-Mu, agar Engkau mengecap dan menikmatinya, dipakai oleh-Mu. Demikianlah saudari ini kemudian melayani Tuhan hingga beberapa puluh tahun, menjadi seorang yang sangat berguna di tangan Tuhan.

Seorang saudari menganjuri saudari yang lain untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan. Saudari itu tidak mau dan menjawab, "Tunggu sampai aku sudah tua, mata sudah kabur, tidak bisa lagi nonton film, tangan sudah gemetaran, tidak bisa lagi main kartu (judi), barulah saat itu mau mempersembahkan diri." Suatu hari, saudari itu jatuh sakit. Saudari yang menganjurinya membeli bunga segar, menaruh bunga-bunga itu di rumah selama tiga hari, kemudian baru mengirim bunga tersebut untuk saudari yang sakit itu. Begitu menerima, saudari itu tidak senang, ia menggerutu mengapa dikirimi bunga-bunga yang sudah layu: Saudari yang pertama menjawab, "Tadinya bunga-bunga ini segar, indah, tetapi sengaja ditaruh di rumah selama tiga hari, menunggu sampai layu dan kering, baru diberikan kepadamu." Saudari itu berkata, "Ini sungguh tidak patut! Bagaimana mungkin bisa memberi bunga yang layu dan kering kepada orang?" Jawabnya, "Kamu menghendaki orang memberimu bunga yang segar. Ini seperti Tuhan menghendaki kamu mempersembahkan masa segarmu. Mengapa kamu memakai masa-masa yang paling baik untuk dirimu sendiri, dan menunggu kalau sudah tua, layu, baru mempersembahkan diri?" Saudari itu tergugah dan tercelik, kemudian dengan mencucurkan air mata mempersembahkan diri kepada Tuhan.

Dalam hal mempersembahkan harta juga harus demikian, wajib melakukannya sedini mungkin.

Dulu, banyak kisah yang cukup berharga untuk dikemukakan yang terjadi di kalangan The Brethren. Misalnya, di suatu pulau di lautan Pasifik tinggallah sejumlah saudara. Pada suatu hari, terjadilah bencana angin topan; banyak rumah yang rubuh, berantakan. Banyak rumah saudara yang rubuh dan bahkan balai sidang gereja. Namun hanya dalam selang waktu beberapa jam, dari kalangan Saudara di Inggris telah mengirimkan bantuan sebesar dua ratus ribu poundsterling, lebih cepat daripada bantuan pemerintah.

"Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem dan Antiokhia. Salah seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan bahwa seluruh dunia akan ditimpa kelaparan besar. Hal itu terjadi pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara seiman yang tinggal di Yudea. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus" (Kis. 11:27-30).

Saudara Watchman Nee belajar menurut pimpinan Roh Kudus tanpa berlambat-lambat. Pada suatu hari ia merasa terdorong untuk memberi uang kepada seorang sekerja. Hal itu segera dilakukannya, dan ternyata waktu itu tepat ketika pekerja itu kehabisan uang untuk membeli makanan pokok yang diperlukan sekeluarganya.

Seorang saudara bersaksi : Suatu hari, ia menerima uang sebesar tujuh ratus ribu. Roh Kudus menggerakkan dia agar mempersembahkan dua ratus ribu. Dia berkata, "Sekarang masih pukul empat pagi, bukan waktu untuk mempersembahkan." Demikian berlalu hingga malam hari. Malam itu, Roh Kudus kembali menggerakkan dia. Dia berkata, "Sekarang telah terlambat; juga bukan waktunya untuk mempersembahkan, ditunda saja." Keesokan harinya dia kecopetan di kendaraan umum. Tujuh ratus ribu melayang lenyap. Segera dalam hatinya dia menyadari bahwa semua itu terjadi ada penyebabnya. Dia tidak menyalahkan pencopetnya, juga tidak menggerutu kepada Allah; sebaliknya menyalahkan diri sendiri. Sambil mengaku dosa, ia memuji kepada Allah.

6. WAJIB MENGUASAI TUBUH,

AGAR IA PATUH KEPADAKU (1 KOR. 9:23-27)

Orang yang berkarakter kendur selalu memanjakan tubuhnya dengan keenakan dan kenyamanan. Namun kita wajib menguasainya dengan ketat, jangan sekali-kali memanjakannya. Kalau perlu tidak tidur, tidak tidur; kalau perlu tidak makan, tidak makan; dan kalau perlu menderita, menderita; tetapi tetap bekerja. Bagaimanapun tubuh ini hams menuruti kemauan kita. Paulus adalah orang yang ketat; ia selalu melatih tubuhnya, agar tubuhnya tunduk kepada pengaturannya untuk memberitakan Injil dan melayani Tuhan.

Menguasai tubuh berarti menghajamya supaya ia dapat diatur atau dipakai seturut kehendak kita. Su Ching, seorang sarjana China kuno sering belajar sambil bergantungan diri dengan di bawahnya terdapat bangku yang dipasangi benda-benda tajam seperti paku, yang dapat menusuk pantat. Ini mirip dengan maksud Paulus. Hanya saja, itu adalah upaya manusia, sedang kita adalah bersandar kepada kuasa kebangkitan yang menghidupkan tubuh kita yang fana ini (Rm. 8:11).

Tubuh jasmani Saudara Watchman Nee sangat lemah, ia mengidap penyakit jantung dan lambung. Ia pun pernah terserang penyakit paru-paru sampai stadium ketiga, nyaris mati. la sering berkata bahwa dirinya bisa meninggal sewaktu-waktu. Beberapa kali terlihat Saudara Watchman Nee menopang dirinya dengan sebatang tongkat, sangat menderita. Ia juga pernah berkata bahwa ia sering mengeluarkan keringat dingin ketika sedang berkhotbah. Pernah ketika mengadakan sidang istimewa, ia hanya bisa bangun dan berdiri untuk menyampaikan berita; sebelum dan sesudahnya, ia senantiasa berbaring di atas ranjang, sebab fisiknya terlalu payah. Buku "Manusia Rohani" ditulisnya dalam keadaan sakit berat. Pada saat penyakitnya gawat, membaringkan diri pun ia tidak bisa. Ketika menulis, ia harus duduk di sebuah kursi yang bersandaran tinggi, lalu menekankan dadanya pada meja tulis, supaya tubuhnya tertekan dari depan dan belakang, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri pada bagian dadanya.

Walaupun tubuhnya begitu lemah, namun pekerjaan Tuhan yang dapat ia lakukan di bumi jauh lebih banyak daripada yang dilakukan oleh orang yang bertubuh sehat. Ini tidak lain adalah hasil dari bersandamya ia kepada kuasa kebangkitan untuk menguasai tubuhnya.

7. ORANG YANG KETAT

TIDAK MENGULUR-ULUR WAKTU

Pekerjaan hari ini hams diselesaikan hari ini juga, tidak ditinggalkan sampai besok. Saudara Faithful Luke berkisah, ketika ia tinggal di Shanghai, pada suatu larut malam Saudara Watchman Nee datang mengunjunginya, dan di tangannya ada sebuah Alkitab. Saudara Luke bertanya, "Hari sudah larut malam, Anda mau berkhotbah di mana?" "Tidak," jawab Saudara Watchman Nee, "Saya hanya ingin menyelesaikan beberapa pasal yang belum selesai saya baca hari ini." Dari sini kitadapat tampak bahwa ia adalah orang yang berkarakter ketat, tidak menunda-nunda waktu dan pekerjaan. Bagian Alkitab yang hams dibaca hari ini, bagaimanapun hams diselesaikan hail ini juga, tidak disisakan sampai besok.

Nehemia bangun pada malam hari untuk memeriksa tembok Yerusalem (Neh. 2:11-13), tanpa menunggu sampai esok pagi.

Dulu, di sebuah desa di negeri Prancis, hidup seorang petani yang rajin dan berhasil. Pada suatu hail dalam perjalanan pulang sehabis menjual hasil buminya, ia mengunjungi seorang pengacara terkenal untuk mendapatkan nasihat-nasihat yang berharga. Pengacara itu lalu menulis catatan pada secarik kertas, selesai ditulis lalu dimasukkan ke dalam amplop dan berkata kepada si petani, "Bawalah pulang amplop ini dan sewaktu-waktu Anda ada kepentingan mendesak, bukalah dan bacalah catatan di dalamnya, dan turuti saja apa yang dikatakan dalam tulisan ini." Setelah membayar 5 Frank kepada si pengacara, ia pulang. Sampai di rumah, hari sudah malam. Namun terlihat olehnya pekerja-pekerjanya sedang ramai mempersoalkan perlu tidaknya gandum yang telah disabit itu dimasukkan ke dalam lumbung malam itu juga, sebab ada yang menyarankan agar gandum itu tidak perlu dimasukkan, karena cuaca baik, tidak perlu kawatir turun hujan. Untuk memutuskan masalah itu, si petani teringat secarik kertas catatan dari pengacara tadi, maka dibukanya amplop itu dan kemudian ia meminta istrinya membacakan isinya kepada semua pekerja, bunyinya : "Pekerjaan hari ini janganlah ditinggal dan dikerjakan esok hari." Maka petani itu segera memerintahkan semua pekerja untuk memasukkan gandum itu ke dalam lumbung. Di luar dugaan, malam itu mendadak turun hujan yang luar biasa lebatnya, selain hasil tanaman si petani ini, semua petani lain menderita kerugian yang sangat besar. Keesokan paginya, si petani ini dengan seisi keluarganya bersyukur kepada Tuhan sambil memuji hikmat sang pengacara itu.

Melakukan pekerjaan hams rajin juga hams ketat, jangan malas dan jangan mengulur-ulur waktu. Pekerjaan hari ini, selesaikan hari ini juga. Jangan ditunda besok atau lusa. Tiap hari pasti ada esoknya, jika kita selalu menangguhkan pekerjaan sampai esok, kapan pekerjaan itu selesai. Terlebih pula pekerjaan Tuhan, pekerjaan yang paling penting, janganlah ditunda-tunda. Jangan mengira "empat bulan lagi tibalah musim menuai", tunggu saja nanti, pelan-pelan tidak mengapa. Kita harus mempunyai satu perasaan, yaitu "tuaian sudah masak, dan sudah boleh menuai sekarang." Dan kerjakanlah segera! (Yoh. 4:35).

8. KETAT BARU BISA SUKSES

Benar ditambah dengan tepat ialah kebenaran yang tangguh dan pelaksanaannya ialah ketat. Setelah benar dan tepat, ditambah dengan ketat, baru menghasilkan sesuatu. Orang yang ketat pasti mempunyai waktu, dan apa yang dilakukannya akan sukses.