← Daftar isi Yesaya · bab 36/54

SATU TEMPAT KUDUS BAGI ORANG-ORANG YANG POSITIF DAN SATU BATU SENTUHAN, BATU SANDUNGAN, JERAT, DAN PERANGKAP BAGI ORANG-ORANG YANG NEGATIF

Pembacaan Alkitab:

Yes. 8:14-15; Yoh. 1:14; 2:19, 21; Why. 21:2-3, 22; Mat. 21:44a; 1 Ptr. 2:7-8; 1 Kor. 1:22-23

Dalam berita sebelumnya, kita telah melihat wahyu tentang Kristus di dalam Yesaya 7:14 dan 9:5. Dalam ayat-ayat itu Dia diwahyukan sebagai seorang bayi dengan sifat ilahi dan insani yang dilahirkan dari seorang dara insani dan sebagai seorang putra dalam sifat ilahi yang diberikan oleh Bapa yang Kekal. Dalam berita ini kita akan melihat wahyu tentang Kristus dalam Yesaya 8:14-15. Dalam ayat-ayat ini Kristus diwahyukan sebagai satu tempat kudus bagi orang-orang yang positif. Dia juga terlihat seperti sebuah batu sentuhan, batu sandungan, jerat, dan perangkap bagi orang-orang yang negatif.

I. SATU TEMPAT KUDUS BAGAI ORANG-ORANG YANG POSITIF

Kristus adalah satu tempat kudus bagi orang-orang yang positif (Yes. 8:14a). Untuk masuk ke dalam wahyu ini, kita perlu melihat bahwa Allah Tritunggal adalah tempat kediaman kita. Dalam Mazmur 90:1, Musa berkata, “Tuhan, Engkau adalah tempat perteduhan kami turun temurun.” Allah kita adalah tempat kediaman kita yang kekal. Karena Dia adalah tempat kediaman kita, maka kita dapat beristirahat di dalam Dia. Juga ada makanan dan minuman di dalam Dia. Terang, udara, dinding bagi perlindungan orang yang menghuninya dan jalan masuk juga ada pada satu tempat kediaman yang tepat. Allah kita adalah tempat kediaman yang dapat dimasuki demikian bagi kita dengan semua aspek ini.

Perjanjian Lama memperlihatkan bahwa Allah ingin mendapatkan satu kelompok orang, yaitu bangsa Israel. Dia membawa mereka ke Gunung Sinai dan memerintahkan mereka untuk membangun sebuah kemah. Akhirnya, ketika mereka masuk ke tanah permai itu, mereka membangun bait untuk menggantikan kemah. Kemah dan bait ini bukan hanya tempat kediaman Allah melainkan juga tempat kediaman orang-orang yang melayani-Nya, yaitu para imam. Mereka hidup dan melayani dalam bait Allah. Mereka hidup bersama dengan Allah. Allah adalah “teman sekamar mereka.” Kita harus sadar bahwa Allah itu bukan hanya Penyelamat kita, Penebus, Tuan, Tuhan, dan hayat kita melainkan juga adalah tempat kediaman kita. Dia juga adalah salah satu penghuni, maka Dia adalah teman sekamar kita. Allah yang kepada-Nya kita percaya adalah teman sekamar kita, yang bersama-Nya kita hidup setiap hari.

A. Bait yang Bathini bagi Tempat Kediaman Allah

Kita harus melihat pokok pikiran Allah terhadap orang-orang yang positif, yaitu umat pilihan-Nya. Orang-orang yang positif adalah orang-orang yang dipilih, dipanggil, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah, yaitu orang-orang yang telah dilahirkan kembali dan yang sedang ditransformasi ke dalam gambar ilahi. Bagi mereka Allah bukan sekedar satu tempat kediaman yang biasa saja. Bagi mereka Allah adalah satu tempat kudus, dan tempat kudus ini adalah bait yang bathini bagi kediaman Allah. Bagian yang paling dalam dari bait ini adalah Ruang Mahakudus, tempat kediaman Allah. Kediaman Allah ini menjadi kediaman kita. Wahyu tentang Allah sebagai tempat kudus kita ini seharusnya membuat kita memiliki ilham untuk menempuh satu kehidupan bersama dengan Allah sebagai teman sekamar kita sepanjang waktu. Kita perlu memiliki waktu yang tepat, intim dan manis bersama dengan Allah sebagai teman sekamar kita. Kita harus hidup, tinggal dan berhuni sepanjang waktu bersama dengan Allah dan di dalam Allah.

B. Tempat Kudus bagi Imam-imam untuk Tinggal dan Melayani Allah

Kristus adalah tempat kudus, Ruang Kudus, bagi kita sebagai imam-imam untuk tinggal dan melayani Allah.

C. Kristus yang Berinkarnasi Adalah Kemah bagi Umat Allah

Ketika Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia, Dia bertabernakel di antara umat manusia di bumi. Kristus yang berinkarnasi ini adalah satu kemah bagi umat Allah (Yoh. 1:!4). Dia adalah kemah Allah.

D. Manusia-Allah, Kristus Adalah Bait Bathini Allah

Ketika Yesus keluar untuk melayani, Dia memberi tahu orang-orang Yahudi bahwa Dia adalah bait Allah (Yoh. 2:19, 21). Manusia-Allah, Kristus, adalah bait bathini Allah. Dalam Yohanes 1 Dia adalah kemah Allah; dalam Yohanes 2 Dia adalah bait Allah. Kitab Yesaya, yang ditulis kira-kira tujuh ratus tahun sebelum inkarnasi Kristus ini, menubuatkan bahwa Dia yang akan datang ini akan menjadi tempat kudus bagi umat pilihan Allah agar mereka dapat hidup bersama dengan Allah, dan mengambil Allah sebagai teman sekamar mereka.

Ketika kita menikmati Dia sebagai tempat kediaman kita dan sebagai teman sekamar kita, maka kita akan memiliki cahaya, udara, air, makanan, dan segala sesuatu yang kita perlukan. Ketika saya jauh dari rumah saya, meskipun tempat di mana saya tinggal itu mungkin memiliki banyak hal, tetapi tidak seperti yang saya miliki di rumah yang dapat memenuhi kebutuhan saya. Tidak ada tempat di bumi ini yang sebaik rumah kita. Kapan saja saya pulang, maka saya memiliki perasaan “home, sweet home.” Rumah kita hari ini adalah satu persona—Kristus, yang juga adalah tempat kediaman Allah.

E. Kristus dengan Semua Anggota Tubuh-Nya akan Rampung sebagai Kemah dan Bait Allah yang Diperbesar—Yerusalem Baru

Dalam Yerusalem Baru, kita dibuat menjadi satu bagian dari tempat kudus ini, maka dalam surat-surat Rasul kita diberi tahu bahwa kita adalah bait Allah (1 Kor. 3:16). Kristus sebagai Kepala dan kita sebagai anggota-anggota tubuh-Nya adalah bait Allah. Akhirnya, bait ini akan rampung dalam Yerusalem Baru, yaitu tempat kudus Allah yang diperluas dan diperbesar. Kristus dengan semua anggota tubuh-Nya akan rampung sebagai kemah dan bait Allah yang diperbesar—Yerusalem Baru (Why. 21:2-3, 22).

Dalam Wahyu 21, Yohanes mengatakan bahwa ia tidak melihat bait dalam Yerusalem Baru, karena Allah dan Anak Domba itu adalah baitnya. Dalam langit baru dan bumi baru, Yerusalem Baru akan menjadi satu tempat kediaman bagi Allah dan kita sampai selama-lamanya. Kota kudus sebagai kemah Allah ini adalah agar Allah dapat tinggal, dan Allah dan Anak Domba itu adalah agar kita dapat tinggal di dalamnya. Allah tinggal di dalam kita. Allah adalah tempat kediaman kita, sinar matahari kita, udara kita, air kita, makanan kita, perhentian kita, dan segala sesuatu kita. Kita juga menjadi kenikmatan-Nya, kepuasan dan perhentian-Nya. Dalam Yerusalem Baru, semua anak Allah di sepanjang abad akan menjadi teman sekamar-Nya sampai selama-lamanya. Semua orang yang mengikuti Satan akan menjadi teman sekamarnya dalam telaga api. Kehidupan gereja adalah satu kehidupan di mana kita mengambil Allah kita, Tuhan kita, dan Kristus kita sebagai tempat kudus kita dan sebagai teman sekamar kita.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:5). Kata tinggal bukan hanya berarti tetap tinggal melainkan juga berhuni. Dalam Yohanes 14:23 Tuhan berkata, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Tempat tinggal adalah tempat kediaman. Ini merupakan satu tempat tinggal bagi Allah Tritunggal untuk tinggal di dalam kaum beriman dan bagi kaum beriman untuk tinggal di dalam Dia. Dalam Efesus 3 Paulus berdoa agar Bapa menguatkan kita ke dalam manusia bathiniah kita, sehingga Kristus dapat membuat rumah-Nya di dalam hati kita (ay. 16-17). Ini adalah Kristus yang akan membuat kita menjadi rumah-Nya agar kita dapat mengambil Dia sebagai rumah kita. Jika Kristus mengambil kita sebagai rumah-Nya, maka kita yakin bahwa kita akan memiliki Dia sebagai rumah kita. Kemudian Dia akan hidup bersama dengan kita dan kita pun akan hidup bersama dengan-Nya. Ini adalah Allah dan manusia hidup bersama-sama seperti teman sekamar. Akhirnya, kesimpulan dari wahyu ilahi ini adalah Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah keseluruhan Allah dan manusia yang hidup bersama. Allah akan mengasihi manusia sampai selama-lamanya, dan manusia akan mengasihi Allah, dan Allah dan manusia akan hidup bersama-sama seperti teman sekamar.

Sungguh mengherankan bahwa tujuh ratus tahun sebelum Kristus lahir, Yesaya telah menubuatkan bahwa Dia ini, yang adalah Tunas Yehova untuk mengembangkan Yehova, dalam keilahian-Nya ke dalam keinsanian, akan menjadi tempat kudus bagi semua umat pilihan-Nya. Bila kita berada dalam Allah sebagai tempat kudus kita, maka kita akan menikmati Dia sebagai teman sekamar kita, dan kita akan melihat Dia di mana-mana. Dia adalah sinar matahari kita, air minuman kita, makanan kita, dan udara kita untuk kita hirup. Sungguh ajaib bahwa kita dapat menarik nafas Allah dalam-dalam sebagai udara segar kita. Kita akan menikmati Allah dalam semua aspek ini bila kita tinggal di dalam-Nya sebagai tempat kudus kita, tempat kediaman kita.

II. SATU BATU SENTUHAN, BATU SANDUNGAN, JERAT, DAN PERANGKAP BAGI ORANG-ORANG YANG NEGATIF

Yesaya sangat tulus dan setia untuk memperlihatkan kepada kita apa adanya Kristus terhadap orang-orang yang positif dan orang-orang yang negatif. Kristus begitu ajaib bagi orang-orang yang positif, tetapi Dia tidak menyenangkan bagi orang-orang yang negatif. Bagi orang-orang yang positif, Dia adalah satu tempat kudus yang almuhit. Bagi orang-orang yang negatif, Dia adalah batu sentuhan, batu sandungan, jerat, dan perangkap (Yes. 8:14b-15).

A. Batu Sentuhan dan Batu Sandungan

Orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi diremukkan oleh Kristus sebagai batu (Mat. 21:44a), dan orang-orang yang tidak percaya tersandung pada Kristus sebagai batu (1 Ptr. 2:7-8; 1 Kor. 1:22-23). Kristus diremehkan oleh orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi. Karena mereka meremehkan Dia, maka mereka menimpa Dia tetapi tidak dapat menggerakkan-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi batu sandungan bagi mereka (Rm. 9:33), dan mereka jatuh kepada-Nya (Mat 21:44a). Banyak orang negatif sepanjang abad telah disandung oleh Kristus.

Ada banyak hal tentang Kristus yang dapat menyandung orang. Perjanjian Lama menubuatkan bahwa Dia akan berasal dari keturunan Daud (2 Sam. 7:12-14a). dan bahwa Dia akan keluar dari kota Daud, yaitu Betlehem (Mik. 5:2). Ibu-Nya Maria adalah keturunan Nathan, anak Daud (Luk. 3:31b), dan Yusuf adalah keturunan dari Salomo, anak-anak Daud lainnya (Mat. 1:6b). Yusuf dan Maria adalah orang-orang miskin yang hidup di wilayah Galilea yang hina di kota Nazaret. Karena sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus, maka Yusuf harus kembali ke kota Daud, Betlehem, karena ia berasal dari rumah dan keluarga Daud (Luk. 2;1-5). Melalui sensus ini Maria dan Yusuf dibawa dari Nazaret ke Betlehem agar Penyelamat dapat lahir di sana bagi penggenapan bagi nubuat tempat kelahiran-Nya. Setelah Dia lahir, Dia dibaringkan di sebuah palungan karena tidak ada tempat baginya di penginapan (Luk. 2:7). Kemudian Yusuf dan Maria kembali ke Nazaret, di mana Yesus dibesarkan sebagai seorang Nazaret (Mat. 2:3). Ini adalah batu sandungan bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya, yang mengira bahwa Dia akan berasal dari Nazaret (Yoh. 7:41-42, 52). Dia lahir di Betlehem sebagai satu sandungan.

Bahkan hari ini pun banyak hal tentang Kristus yang merupakan satu sandungan bagi orang-orang yang negatif. Sepanjang abad ada ribuan orang yang telah disandung oleh Kristus. Kebanyakan orang-orang yang sangat bijak, pandai, berkuasa, dan kelas atas tidak mempedulikan Kristus (Mat. 11:25; 1 Kor. 1:26-29). Gereja Allah terutama bukan terdiri dari orang-orang kelas atas, melainkan dari orang-orang dunia yang rendah dan yang diremehkan. Mengapresiasi kelas atas itu berlawanan dengan pemikiran Allah dan satu hal yang memalukan bagi gereja. Karena Saudara Nee menyadari hal ini, maka ia mengunjungi rumah kaum saleh yang miskin, bukan yang kaya. Allah kebanyakan memilih orang-orang yang bodoh, lemah, rendah, dan yang hina, agar tidak ada seorang pun yang dapat bermegah di hadapan-Nya.

B. Jerat dan Perangkap

Kristus juga diwahyukan dalam Yesaya 8:14 sebagai jerat dan perangkap. Dia adalah jerat bagi orang-orang yang negatif sebagai binatang buruan dan perangkap bagi orang-orang yang negatif seperti unggas yang terbang. Seekor singa tidak dapat diperangkap; melainkan harus dijerat. Di pihak lain, seekor burung harus diperangkap. Orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi ini dapat disamakan dengan binatang buruan yang dijerat oleh Tuhan Yesus. Mereka berusaha untuk menjerat Tuhan Yesus, tetapi sebaliknya Dia malah menjadi jerat bagi mereka. Matius 22 mencatat bagaimana orang-orang Farisi, orang-orang Herodian, dan orang-orang Saduki bekerja sama untuk mencari kesalahan dengan pertanyaan-pertanyaan, berusaha sebaik mungkin untuk menjerat Dia. Mereka itu seperti pemburu yang berburu bersama untuk menjerat Yesus. Setelah menjawab semua pertanyaan mereka, dan menghindari jerat mereka, Yesus mengajukan satu pertanyaan kepada mereka. Melalui satu pertanyaan itu, Dia menjerat mereka semua (ay. 41-46). Kristus merupakan satu jerat bagi orang-orang ini.

Kitab Kisah Para Rasul mencatat bahwa orang-orang Yahudi mengikuti Paulus dalam penentangan mereka terhadapnya. Kita dapat mengatakan bahwa orang-orang Yahudi yang menentang dan menganiaya Paulus ini memasang jerat untuknya. Karena Paulus begitu cakap, maka ia dapat memakai hikmatnya untuk menyelamatkan diri dari jerat mereka. Ia memiliki satu Penyelamat yang selalu melepaskannya dari tangan penentang-penentang ini. Mereka bukannya menjerat Paulus, Kristus malah menjadi jerat bagi mereka.

Siapa saja yang menyangka bahwa ia lebih pandai dan lebih bijak dari pada Yesus pada akhirnya akan menderita. Bagi orang-orang yang negatif, yaitu bagi orang-orang yang tidak percaya, Kristus adalah batu sentuhan dan batu yang meremukkan. Dia adalah batu sandungan bagi orang-orang yang tidak menganggap-Nya. Dia juga adalah jerat dan perangkap untuk menangkap orang-orang yang negatif. Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri dari Kristus. Setiap orang memiliki sesuatu dengan Kristus dan berhubungan dengan Kristus. Kita bisa menjadi orang yang positif terhadap-Nya atau menjadi orang yang negatif terhadap-Nya. Kita mungkin mengatakan bahwa kita tidak mempedulikan Dia, tetapi Dia mempedulikan kita. Dia adalah Tuhan dan Pencipta semua manusia. Bahkan di antara orang-orang Kristen pada hari ini, ada yang positif dan ada yang negatif. Banyak orang yang mungkin mengenal Yesus adalah Tuhan mereka, Penyelamat mereka, dan Penebus mereka, tetapi mereka mungkin acuh tak acuh terhadap-Nya, dan tidak mempedulikan Dia. Namun, Dia memperhatikan kita dan berhubungan dengan kita.

Bagi orang-orang yang positif Dia adalah satu tempat kudus. Kita dapat hidup di dalam Dia sebagai tempat kudus kita, dan di dalam Dia kita dapat menerima Dia sebagai persediaan yang limpah lengkap dan suplaian yang almuhit. Namun, bagi orang-orang yang negatif, yaitu bagi orang-orang yang tidak percaya, Dia adalah batu sentuhan, batu sandungan, jerat dan perangkap. Pada satu hari setiap orang harus berdiri di hadapan-Nya untuk melalui penghakiman-Nya (Why. 20:11-15). Kita orang-orang Kristen pun akan tampil di hadapan takhta penghakiman Kristus setelah kita diangkat ke udara (2 Kor. 5:10). Pada hari itu kita harus memberikan perhitungan kepada-Nya mengenai kehidupan dan pelayanan kita.

Kita mengharap bahwa kita adalah orang-orang yang positif dalam persekutuan kita dengan Kristus. Kita mau tinggal di dalam Dia dan menikmati Dia sebagai tempat kediaman kita, bahkan sebagai Tempat Mahakudus kita. Dia adalah tempat kudus kita di mana kita dapat menikmati semua kekayaan ilahi. Di dalam Dia kita dapat menikmati Dia sebagai sinar matahari ilahi kita, udara ilahi kita, air ilahi kita, dan makanan ilahi kita. Semua persediaan yang kaya di dalam Dia sebagai tempat kudus kita ini ilahi. Ini berarti bahwa Allah ada di sini sebagai segala sesuatu bagi kita untuk kita nikmati. Satu-satunya cara agar kita dapat menikmati Allah dalam setiap hal adalah dengan hidup di dalam Dia, mengambil Dia sebagai tempat kudus kita dan hidup bersama dengan Dia sebagai teman sekamar kita.