← Daftar isi Wahyu (2) · bab 5/17

PERANG DI SURGA

Saya mempunyai beban yang sangat berat agar kita semua bisa melihat visi dalam Wahyu 12. Jangan mengang-gap pasal ini hanya satu gambaran sederhana dengan per-kara-perkara yang tidak bermakna. Tidak demikian, ini adalah suatu visi yang besar tentang apa yang sedang ber-langsung di alam semesta. Perempuan dalam visi ini mewa-kili umat Allah sejak kejatuhan manusia dalam Kejadian 3. Perempuan itu bukan saja mewakili umat Allah, juga mewakili diri Allah sendiri. Di depan perempuan itu ada seekor naga, yang melambangkan musuh Allah. Sepanjang abad, perang terus berlangsung antara perempuan dengan ular (naga) itu.

Visi ini menyingkapkan situasi sesungguhnya dalam alam semesta ini. Orang-orang duniawi hanya mampu me-lihat perkara-perkara luaran yang kasat mata, misalnya: perdagangan, politik, industri, pendidikan, peperangan, dan lainnya. Jika Anda bertanya kepada mereka makna dari se-muanya itu, mereka akan mengatakan tidak tahu. Mereka hanya tahu perlu mendapatkan pendidikan agar mereka bisa memperoleh pekerjaan yang baik dan kehidupan yang layak. Mereka tidak mempunyai visi terhadap apa yang se-dang berlangsung di alam semesta ini. Tetapi kita tahu jelas apa yang sedang terjadi. Seorang perempuan yang melam-bangkan umat Allah dan mewakili Allah. Dalam pengertian yang positif, istri selalu mewakili suaminya. Jika istri An-da tidak mewakili Anda dengan semestinya, Anda akan di-permalukan. Karena itu, alangkah baiknya memiliki istri yang bisa mewakili Anda dengan sebaik-baiknya. Ini menun-jukkan bahwa kita, umat Allah, adalah istri-Nya dan kita perlu mewakili Dia secara layak. Tetapi Allah memiliki musuh. Dulu, musuh ini adalah seekor ular yang kecil. Na-mun, akhirnya ular kecil itu menjadi seekor naga besar yang sekarang berdiri di hadapan kita. Jika Anda tidak me-miliki visi ini, Anda akan buta, tidak tahu apa yang tengah berlangsung di bumi atau di alam semesta ini. Puji Tuhan! Ini bukan hanya perkara pendidikan, industri, perdagang-an, diplomasi, dan lain-lain, tetapi juga perkara peperangan antara umat Allah dengan musuh Allah. Peperangan ini telah berlangsung sepanjang abad dan terus berkecamuk sampai hari ini.

Kita semua harus memperhatikan peperangan antara perempuan dengan naga itu. Sesungguhnya, bukan perem-puan itu yang berperang, melainkan bagian yang lebih kuat di dalam perempuan itu. Dalam pemulihan Tuhan, ada orang-orang yang termasuk dalam bagian yang lebih kuat, mere-kalah yang memikul tanggung jawab untuk berperang; dan cara berperang adalah melalui berdoa. Melalui empat berita yang lalu, naga itu telah tersingkap dan sekarang ia dite-lanjangi. Haleluya! Kita tahu apa dan siapa dia itu, dan kita juga tahu nasibnya kelak. Kita semua perlu memberitakannya kepada Iblis, dan ini akan membuatnya gemetar ketakutan.

Kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui bahwa manusia telah jatuh; Allah mengasihi isi dunia ini sehingga mengutus Putra Tunggal-Nya menjadi Juruselamat; orang-orang berdosa perlu mendengarkan Injil, bertobat, dan men-dapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka sehingga beroleh selamat; suatu hari mereka akan naik ke surga. Tetapi kita harus melihat sesuatu yang lebih tinggi. Kitab Wahyu membentangkan satu pemandangan yang universal, visi universal. Visi ini bukan hanya tentang kejatuhan ma-nusia, bahkan tentang musuh Allah yang berperang mela-wan Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah telah memilih seke-lompok orang untuk dijadikan seorang perempuan yang mulia. Dulu kita adalah orang-orang berdosa, namun sekarang kita adalah bagian dari perempuan yang mulia itu. Sebe-lum saya diselamatkan, saya adalah seorang dosa yang kasihan. Tetapi setelah dilahirkan kembali, saya menjadi bagian dari perempuan yang mulia itu. Perhatikan betapa terangnya dia. Padanya tiada kegelapan sedikit pun. Pada-nya, segalanya adalah terang — terang matahari, bulan, dan bintang-bintang. Di hadapan perempuan yang mulia ini ada naga penumpah darah, naga pembunuh. Kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali berperang melawannya. Tetapi menurut visi ini, bukan perempuan itu yang berpe-rang, melainkan bagian yang lebih kuat dari perempuan itu yang berperang melawan naga.

I. KARENA ANAK LAKI-LAKI

DIANGKAT KE SURGA

Terjadinya peperangan di surga dikarenakan anak laki-laki diangkat ke surga. Kebanyakan orang Kristen mempu-nyai konsepsi yang kurang tepat terhadap pengangkatan ini. Mereka mengira pengangkatan hanya bertujuan mem-beri mereka saat-saat yang bahagia, membawa mereka ke tempat yang menyenangkan. Pengangkatan bukan hanya untuk kita, melainkan untuk ekonomi Allah dan untuk strategi Allah. Musuh Allah saat ini masih ada di surga. Meskipun musuh telah dihakimi dan hukuman telah dipu-tuskan, namun selama sembilan belas abad ini Allah masih belum mendapatkan sekelompok orang yang bisa melaksa-nakan penghukuman-Nya atas musuh. Iblis, musuh Allah, telah dihakimi oleh Tuhan Yesus di salib (Yoh. 12:31; 16:11). Tetapi masih diperlukan kaum beriman pemenang untuk melaksanakan penghakiman tersebut, mengeksekusi peng-hukuman yang telah diputuskan. Peperangan yang dilaku-kan oleh kaum beriman pemenang terhadap Iblis sesungguh-nya merupakan pelaksanaan penghakiman Tuhan kepadanya. Terakhir, melalui peperangan itu, Iblis akan dilemparkan dari surga (ayat 9). Siapakah yang akan pergi ke surga untuk melaksanakan penghakiman Allah dan menyuruh pergi musuh yang sudah dihakimi itu? Para malaikat tidak akan melakukannya, karena mereka tidak layak. Para ma-laikat tidak berkedudukan melaksanakan hal itu, karena malaikat-malaikat itu setingkat dengan Iblis yang dahulu juga termasuk di antara mereka. Allah memerlukan seorang manusia untuk menggenapkan hal itu. Manusia Yesus, Dia-lah Kepala manusia itu. Dia adalah Kepala dari anak laki-laki, juga Pelopor dari semua pemenang. Allah memerlukan manusia seperti itu untuk melaksanakan penghakiman-Nya atas Iblis. Allah telah menunggu lama sekali. Meskipun Allah belum memperolehnya pada hari ini, namun suatu hari, Ia pasti memperolehnya.

Kita harus diangkat ke surga untuk menggenapkan apa yang diinginkan Allah. Janganlah terlalu memperhati-kan kebahagiaan diri sendiri. Hanya memperhatikan keba-hagiaan diri sendiri adalah konsepsi Babel, juga merupakan konsepsi kekristenan tertentu yang mengambilnya dari agama Babel, mirip pula dengan agama tertentu. Agama ada-lah untuk kebahagiaan manusia; dengan harapan setelah mati akan menempuh hidup yang baik di suatu wilayah yang penuh sukacita. Namun celaka, konsepsi ini telah me-resapi kekristenan. Banyak orang Kristen hanya memper-hatikan kebahagiaan diri mereka sendiri. Mereka berkata, “Kami ingin memiliki hidup yang bahagia dan penuh suka-ria. Setelah mati, kami akan pergi ke surga, di sana kami akan bahagia.” Dalam kekristenan, mungkin Anda tidak pernah mendengar bahwa Allah mempunyai satu tujuan yang kekal dan kita harus melaksanakan tujuan Allah ini. Kita perlu diangkat ke surga, bukan untuk kebahagiaan kita, melainkan untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita harus diangkat ke sana untuk melaksanakan penghakiman Allah atas musuh-Nya. Allah sedang menantikan hal ini.

A. Para Pemenang Berperang Sampai Mati Melawan Iblis di Bumi

Ayat 7 mengatakan, “Kemudian timbullah peperangan di surga.” Segera setelah anak laki-laki diangkat ke surga, Mikhael dan para malaikatnya mulai berperang melawan Iblis. Hal ini menyatakan bahwa anak laki-laki, yaitu bagi-an yang lebih kuat di antara umat Allah, selalu terlibat dalam perang melawan Iblis, musuh Allah. Di bumi mereka tidak henti-hentinya berperang melawan Iblis. Kini surga sedang menunggu mereka ke sana, untuk melaksanakan peperangan, demi melemparkan Iblis dari surga.

Tuhan telah menunjukkan kepada kita jalan yang pa-ling efektif untuk mengalahkan musuh. Yang perlu kita la-kukan ialah memegang perjanjian Allah, firman Allah, dan mengkhotbahkan kepada Iblis apa yang telah Tuhan ram-pungkan bagi kita. Sebagai contoh, di masa yang lalu, se-tiap kali kita dipersulit oleh tabiat sendiri, yang kita la-kukan pertama-tama adalah mengakuinya, kemudian mohon Tuhan mengampuni kesalahan kita, mohon Tuhan meno-long kita, dan terakhir membereskan pikiran kita agar kita jangan marah-marah lagi. Saya sering mengalami hal itu. Namun jangan lakukan lagi hal itu. Bila amarah kita timbul, lupakanlah hal itu dan khotbahilah Iblis. Pergilah kepada sumber masalahnya, yaitu Iblis, dan beritakanlah kepadanya, “Iblis, kamu telah disalibkan.” Semakin Anda mengkhotbahi Iblis, Anda akan semakin terbebaskan.

Ketika anak laki-laki dilahirkan dan diangkat ke takhta, ia akan berkata, “Iblis, kamu telah kukalahkan ketika di bumi. Apakah kamu masih akan terus bersembunyi di surga? Sekarang aku datang ke sini untuk mengkhotbahimu. Ti-dakkah kauingat berita-berita yang kusampaikan kepadamu ketika di bumi?” Saya bukan bercanda. Bila kita menjum-painya di sana, demikianlah situasi sesungguhnya. Kemu-dian anak laki-laki akan berkata, “Iblis, kamu tidak boleh lebih lama lagi di sini! Enyahlah!” Begitu kata-kata itu se-lesai diucapkan oleh anak laki-laki, Mikhael, penghulu ma-laikat segera memimpin semua malaikatnya berperang me-lawan naga itu. Setelah komandan memberikan aba-aba, para polisi segera menjalankan tugasnya. Allah di surga se-dang menunggu untuk mendapatkan pelaksana atau ko-mandan ini. Siapakah yang akan menjadi ‘pelaksana’ ini? Kita, anak laki-laki! Semoga kita semua bisa ke sana meng-khotbahi Iblis. Namun, sebelum itu, sewaktu kita masih di bumi, kita harus mengalahkan dia. Kita harus berperang dan mengalahkan Iblis hingga ke surga, kemudian kita akan turun lagi ke bumi dan sekali lagi memeranginya. Se-karang sewaktu kita berhadapan dengan Iblis, kita harus mengkhotbahinya. Kelak kita akan pergi ke surga, mene-muinya di sana, dan kembali kita mengkhotbahinya. Sete-lah ia dilemparkan ke bumi dan merusak bumi, kita akan turun lagi dan berkata kepadanya, “Hai Iblis, kamu masih di sini? Dengarkan khotbahku yang lain. Sekarang sudah saatnya engkau masuk ke jurang maut.” Setelah Kerajaan Seribu Tahun, khotbah yang keempat akan kita sampaikan kepada Iblis. Pada saat itu, Iblis akan menghasut umat manusia untuk memberontak melawan Allah. Tetapi kita akan berkata, “Hai Iblis, dengarlah. Inilah khotbah ter-akhir untukmu. Sekarang kamu harus pergi ke tempatmu yang terakhir — lautan api!”

Jika Anda ingin menjadi orang yang layak berbagian di dalam hal ini, mulai sekarang Anda harus menjadi orang yang berperang. Janganlah bersikap masa bodoh. Saya ber-harap, setelah Anda membaca berita ini Anda bisa dengan kuat dan tegas berkata kepada musuh, seperti, “Iblis, kamu telah menipuku selama bertahun-tahun. Tetapi, demi mem-baca berita-berita ini, mataku tercelik dan aku mengerti, aku tidak boleh bersikap masa bodoh lagi. Iblis, kamu bu-kan saja musuh Allah, kamu juga musuhku. Mulai seka-rang, aku akan mutlak bagi Tuhanku, aku tidak sudi men-dengarkanmu lagi.” Lebih panjang kata-kata Anda, itu lebih baik. Sebaiknya hal itu kita lakukan secara pribadi. Asal Anda mau mengkhotbahi Iblis secara demikian, Anda akan menjadi seorang yang lain, mungkin tidak lama lagi akan berbagian dalam bagian yang lebih kuat dari perem-puan itu. Mulai sekarang, jadilah orang yang layak, yang diperlengkapi dan disempurnakan, menjadi salah satu di antara orang-orang yang akan diangkat ke surga untuk me-laksanakan penghakiman atas Iblis. Kita harus memberi tahu musuh, “Iblis, hari ini di bumi aku akan mengkhot-bahimu. Aku juga akan menyampaikan khotbah kepadamu di surga. Setelah itu, aku akan mengkhotbahimu kembali di bumi. Terakhir, aku akan memberimu satu khotbah, dan selanjutnya kamu akan dilemparkan ke lautan api.”

Saya ulangi, pengangkatan bukanlah untuk kebahagia-an kita, melainkan untuk tujuan Allah. Allah sedang me-nunggu pemenang-pemenang, anak laki-laki, yang akan ke surga untuk melaksanakan penghakiman-Nya atas musuh. Betapa istimewanya hak yang kita peroleh! Malaikat-ma-laikat tidak memiliki hak itu, kitalah yang memilikinya. Kita boleh dengan penuh keberanian berkata, “Puji Tuhan! Aku mempunyai kedudukan menjadi seorang pemenang!”

Kita telah nampak, begitu anak laki-laki diangkat ke surga, perang pun dimulailah. Semasa muda, saya ingin memahami mengapa perang itu segera dimulai setelah anak laki-laki diangkat ke takhta. Saya juga ingin tahu mengapa bukan anak laki-laki yang berperang, melainkan Mikhael dan malaikat-malaikatnya. Alasannya adalah anak laki-laki itu adalah ‘pelaksana’, maka ia tidak perlu berperang. Jadi, ia hanya perlu memberikan perintah. Setelah kita, sebagai komandan, memberikan aba-aba, malaikat-malaikat yang melayani kita akan berperang bagi kita. Malaikat-malaikat adalah pembantu kita. Bila kita katakan, “Iblis, enyahlah!” Mikhael segera memimpin perang melawannya. Begitu ko-mandan memberikan perintah, semua polisi segera melak-sanakannya. Maukah Anda berada di dalam bagian yang lebih kuat dari perempuan itu? Jika ya, Anda harus belajar mengkhotbahi Iblis. Iblis selalu mempersulit Anda, tetapi setelah Anda mengambil keputusan untuk mengkhotbahi-nya, ia akan lari, karena ia tahu apa yang akan Anda la-kukan. Jadi Anda harus berkata, “Iblis, jangan pergi dulu. Kamu tidak kuizinkan pergi sebelum aku memerintahkan-mu. Tinggallah di sini sampai aku selesai berbicara.”

Malaikat-malaikat telah siap berperang melawan naga itu. Mikhael mungkin berkata, “Anak laki-laki, datanglah ke mari, berilah perintah kepada kami. Kami akan melak-sanakannya.” Tetapi jika kita ingin ke surga untuk melak-sanakan penghukuman atas Iblis, kita harus mulai melak-sanakan penghakiman atas Iblis sewaktu kita di bumi. Katakanlah, “Iblis, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku akan mengikat dan mengalahkanmu.”

B. Berjuang Melawan Kuasa

Roh-roh Jahat di Udara

Paulus juga mengatakannya dalam Efesus 6:12, “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, te-tapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, me-lawan roh-roh jahat di udara.” Penguasa-penguasa itu tidak lain adalah malaikat-malaikat Iblis. Iblis adalah perampas kuasa, menobatkan dirinya sendiri sebagai raja. Di bawah-nya, terdapat banyak malaikat sebagai pemerintah-pemerin-tah, penguasa-penguasa, dan penghulu-penghulu di angkasa. Menurut Alkitab, pemerintah-pemerintah, penguasa-pengua-sa, dan penghulu-penghulu di bawah Iblis itu, memerintah dan menguasai negera-negara di bumi ini. Misalnya, Daniel 10:20 membicarakan “pemimpin orang Persia” dan “pemim-pin orang Yunani”. Semua negara penyembah berhala ber-ada di bawah pemerintahan pemimpin-pemimpin setani di udara ini. Dalam Daniel 10, Daniel berdoa selama tiga minggu. Meskipun ia mempunyai beban berdoa, namun ia tidak menerima jawaban. Sampai akhirnya, seorang utusan surgawi datang dan berkata kepada Daniel, “Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu. Pemimpin kera-jaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku” (Dan. 10:12-13a). Utusan surgawi ini telah diutus kepada Daniel, namun ia dihalangi oleh pemimpin setani. Meskipun demikian, selanjutnya Daniel 10:13b me-ngatakan, “Tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku.” Ne-gara Persia dan Yunani kuno ada di bawah penghulu-peng-hulu kegelapan di udara. Namun bangsa Israel, tidak berada di bawah pemimpin setani, melainkan di bawah Mikhael, pembela Israel. Sementara Daniel berdoa selama tiga ming-gu, perang berkecamuk di angkasa. Jika kita ingin menjadi pemenang, yaitu menjadi bagian yang lebih kuat dari pe-rempuan itu, kita harus berdoa. Semua desas-desus, kritik, dan tentangan bukan berasal dari manusia mana pun, me-lainkan berasal dari Iblis, yang ada di belakang mereka. Jika Anda berdoa, Anda bersyarat menjadi pemenang. Jangan membuang waktu untuk membereskan tabiat Anda ataupun dosa yang melelahkan Anda. Semuanya itu hanya-lah “hama-hama” kecil belaka. Sebaliknya Anda harus ber-kata kepada Iblis, “Iblis, aku telah kaubingungkan selama bertahun-tahun dengan terus memperhatikan tabiatku dan dosa-dosa yang melelahkanku. Sekarang aku tinggalkan semua itu. Aku tidak mau mempedulikan hal-hal itu, aku akan mengkhotbahimu. Aku tidak punya waktu mendoakan tabiatku, tetapi untuk mengkhotbahimu aku ada waktu.” Kita semua telah tertipu karena kita berkata, “Oh tabiatku dan dosa-dosa yang melelahkanku! Jika aku tidak bisa me-ngalahkannya, bagaimana aku bisa menjadi kudus, bagai-mana aku bisa melihat wajah Tuhan, dan menempuh hidup gereja yang normal?” Tinggalkanlah dosa yang melelahkan Anda, dan khotbahilah Iblis. Menurut pengalaman saya, saya bisa membuktikan, semakin kita berusaha mengalah-kan tabiat buruk kita, tabiat buruk itu justru makin ber-kembang. Janganlah berdoa agar kita bisa menang atas tabiat buruk, berdoalah agar kita bisa mengalahkan “pe-mimpin orang Persia” dan “pemimpin orang Yunani”. Ber-doalah agar terbuka jalan bagi Mikhael, berdoalah agar di dalam pemulihan Tuhan banyak orang saleh tidak hanya menjadi bagian dari perempuan itu, melainkan juga berbagian dalam anak laki-laki. Jika kita berdoa demikian, maka suatu hari anak laki-laki akan terwujud, dan penghulu malaikat, Mikhael, akan memimpin perang di surga melawan naga itu dan melemparkannya ke bumi.

C. Dibangkitkan dan Diangkat ke Surga,

Tidak Membiarkan Iblis Tinggal di Surga

Setelah anak laki-laki dibangkitkan dan diangkat ke surga, ia tidak bisa membiarkan Iblis ada di sana. Hari ini, kita juga tidak seharusnya membiarkan Iblis ada di dalam gereja, kita harus memeranginya. Jika hari ini Anda memerangi Iblis, kelak Anda akan layak memeranginya di surga. Sete-lah kita diangkat ke takhta Allah, kita akan melihat Iblis ada di sana, dan ia merasa gemetar melihat kita. Saat itu kita tidak membiarkannya di sana, kita akan berkata, “Iblis, kamu masih ingin tinggal di tempat kudus Allah kami? Ini bukan tempatmu, enyahlah!” Segera, Mikhael akan bertindak sesuai dengan perkataan kita dan mulai memerangi Iblis.

II. PENGHULU MALAIKAT MIKHAEL

DAN MALAIKAT-MALAIKATNYA

BERPERANG MELAWAN NAGA ITU

Mengapa saat ini Mikhael dan malaikat-malaikatnya tidak memerangi naga itu? Karena mereka bukan pelak-sana yang sah dan layak. Mereka hanya sebagai polisi. Ki-ta, anak laki-laki, akan menjadi pelaksana yang sah dan layak. Telah kita ketahui, setelah kita memberikan aba-aba untuk melaksanakan, maka pemimpin beserta polisinya akan memerangi musuh.

A. Bertengkar dengan Iblis mengenai Tubuh Musa

Alkitab mewahyukan nama dua orang malaikat — Mikhael dan Gabriel. Gabriel adalah penyampai berita yang membawa kabar untuk umat Allah (Dan. 8:16; 9:21-22; Luk. 1:19, 26), sedangkan Mikhael adalah pejuang yang berperang untuk umat Allah (Dan. 10:13, 21; 11:1; 12:1; Yud. 9; Why. 12:7). Yudas 9 mewahyukan bahwa Mikhael, penghulu malaikat, bertengkar dengan Iblis mengenai tu-buh Musa. Terhadap tubuh Musa, Allah mempunyai satu tujuan. Musa harus hadir di Gunung Pengubahan dan da-lam Wahyu 11, ia harus datang kembali sebagai salah satu dari kedua saksi. Karena itu, Allah harus melindungi tu-buhnya. Sebaliknya, Iblis ingin memusnahkannya. Tetapi Mikhael bertengkar melawan Iblis tentang hal itu.

B. Memerangi Pemerintah (Pemimpin)

Iblis bagi Umat Israel

Daniel 10:13, 21 dan 11:1 menyatakan bahwa Mikhael berperang melawan pemerintah Iblis bagi umat Israel. Mikhael selalu menjadi pejuang untuk kepentingan Allah.

C. Memerangi Naga Itu untuk

Melemparkannya dari Surga ke Bumi

Mikhael terus berperang sepanjang abad. Ketika anak laki-laki diangkat ke surga dan memberikan aba-aba kepa-da Mikhael, sekali lagi ia memerangi naga itu dan melem-parkannya dari surga ke bumi. Saya ingin ada di sana saat itu dan menyaksikan hal itu; memberikan aba-aba, dan me-lihat Mikhael melaksanakannya. Saya berharap di antara kita banyak yang ada di sana.

III. NAGA ITU DAN MALAIKAT-MALAIKATNYA

BERPERANG

A. Tidak Dapat Bertahan

Ayat 7-8 mengatakan, “Dan naga itu dibantu oleh ma-laikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan.” “Malaikat-malaikatnya” tentu adalah malaikat-malaikat ja-tuh yang mengikuti Iblis memberontak kepada Allah (Mat. 25:41). Iblis tidak akan pernah bisa menang melawan Mikhael dan malaikat-malaikatnya. Ia pasti dikalahkan.

B. Tidak Mendapat Tempat Lagi di Surga

Ayat 8 juga mengatakan, naga dan malaikat-malaikat-nya “tidak mendapat tempat lagi di surga”. Setelah dika-lahkan, tidak ada tempat lagi di surga bagi naga dan malai-kat-malaikatnya.

C. Dilemparkan ke Bumi Bersama dengan Malaikat-malaikatnya

Ayat 9 mengatakan, “Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” Dalam ayat ini kita nampak bahwa naga itu dengan malaikat-malaikatnya akan dilemparkan ke bumi. Itu terjadi pada awal sangkakala kelima.

Wahyu 9:1 mengatakan, “Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lubang jurang maut.” “Bintang” dalam ayat ini mengacu kepada Iblis. Setelah ia dilemparkan dari surga ke bumi, ia akan menggunakan anak kunci yang diberikan ke-padanya untuk membuka pintu jurang maut, pada sangka-kala kelima, untuk melakukan penyiksaan. Saat itu, bela-lang-belalang milik si jahat akan keluar dari lubang itu. Kita telah menunjukkan bahwa belalang-belalang itu akan menyiksa manusia selama lima bulan. Ingatlah, sangka-kala kelima menandakan dimulainya tiga setengah tahun yang terakhir. Setelah Iblis, bintang surgawi, dilemparkan ke bumi, saatnya sudah sangat singkat, hanya tiga se-tengah tahun.

IV. DATANGNYA KERAJAAN ALLAH

Setelah naga itu dan malaikat-malaikatnya dicampak-kan ke bumi, maka terdengarlah suatu pernyataan yang nyaring di surga. Wahyu 12:10 mengatakan, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, ‘Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.’” Kaum beriman pemenang berperang melawan Iblis untuk mendatangkan Kerajaan Allah. Tuhan mengajar kita berdoa untuk kedatangan kerajaan (Mat. 6:10). Bersa-ma doa kita untuk kedatangan kerajaan, kita perlu berpe-rang untuk kerajaan.

Pengangkatan anak laki-laki ke surga, terlemparnya Iblis ke bumi, dan pernyataan di surga menandakan bahwa anak laki-laki akan mendatangkan kerajaan ke bumi. Ketika anak laki-laki diangkat ke surga dan Iblis dilemparkan ke bumi, saat itulah Kerajaan Allah tiba. Bukan saja kerajaan yang datang, karunia keselamatan Allah pun akan datang. Memang hari ini kita memiliki karunia keselamatan Allah, namun kita belum menikmatinya dengan seutuhnya dan sepenuhnya. Tetapi saat Kerajaan Allah tiba, kita akan me-nikmati karunia keselamatan Allah dengan sepenuhnya. Demikian pula dengan kekuatan Allah dan kuasa Kristus. Hari ini kita sudah berbagian dalam kekuatan Allah dan kuasa Kristus, tetapi pada zaman kerajaan yang akan da-tang, barulah kita bisa menikmatinya dengan sempurna.

Kita telah melihat, Kerajaan Allah memiliki dua aspek: pertama adalah realitas kerajaan (Mat. 5:3), yang berada dalam hidup gereja yang wajar pada hari ini (Rm. 14:17); kedua adalah manifestasi kerajaan dalam Kerajaan Seribu Tahun, yang akan didatangkan melalui kaum beriman pe-menang, akan tiba setelah anak laki-laki diangkat ke sur-ga. Kata-kata, “Sekarang telah tiba . . . pemerintahan Allah kita” menunjukkan manifestasi Kerajaan Allah. Jika kita adalah pemenang-pemenang, maka hari ini kita hidup dalam realitas kerajaan, dan tentu kita akan berada dalam manifestasi kerajaan di zaman mendatang. Untuk memiliki manifestasi kerajaan, kita perlu berada di dalam realitas kerajaan.

Dalam berita-berita ini kita melihat satu visi tentang apa yang sedang berlangsung di alam semesta ini, sehingga kita tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Kita tidak me-mandang berbagai perkara itu dari bumi, kita memandang-nya dari surga. Kita melihat seorang perempuan terang yang mewakili Allah dan seekor naga yang melambangkan musuh Allah. Kita juga melihat keduanya sedang berpe-rang. Puji Tuhan, kita bukan hanya bagian dari perempuan itu, tetapi juga bagian dari anak laki-laki, bagian yang le-bih kuat dari perempuan itu, yang berperang melawan naga. Hari ini, kita di sini memerangi naga, suatu hari kita akan ada di surga, menyuruh naga itu meninggalkan surga. Tidak ada pikiran manusia yang bisa menerangkan gambaran seperti ini.

Sekali lagi, kita tidak bisa tidak mempercayai bahwa ini adalah wahyu ilahi. Siapakah yang bisa menuliskan ca-tatan seperti itu? Tidak ada seorang pun, termasuk Plato atau Konghucu. Catatan ini cukup sederhana tetapi ajaib, dalam, rahasia, dan almuhit. Catatan ini memberi kita suatu pandangan yang universal tentang apa yang sedang terjadi di alam semesta. Mulai sekarang, tidak seorang pun dari kita yang dapat mengatakan bahwa kita tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kita semua harus berkata, “Aku telah melihat visi ini dan aku tahu apa yang sedang terjadi.” Ha-leluya atas visi ini! Saya girang karena di antara banyak perkara penting dalam bagian kedua Kitab Wahyu, yang terutama adalah visi perempuan universal yang cemerlang dengan anak laki-laki yang berperang melawan naga. Visi ini harus menjadi visi yang mengendalikan kita. Asal kita nampak visi ini, kita akan tahu di mana kita berada, apa yang harus kita lakukan, dan di mana kita akan berada. Kita ada di dalam gereja, kita harus berada di dalam anak laki-laki, dan nasib kita adalah terangkat ke surga. Di sa-na kita akan menyuruh Mikhael melemparkan Iblis beserta malaikat-malaikatnya dari surga. Jika kita nampak visi ini, kita pasti akan lupa diri karena sukacita.