← Daftar isi Wahyu (2) · bab 1/17

PEREMPUAN TERANG UNIVERSAL

Bagian pertama dari Kitab Wahyu terdiri atas sebelas pasal pertama, membicarakan segala sesuatu yang terjadi sejak kenaikan Kristus sampai kekekalan. Bagian kedua, terdiri atas sebelas pasal yang terakhir, dengan jelas mem-berikan rincian segala hal yang penting dan perkara yang menentukan yang terjadi pada tiga setengah tahun terakhir zaman ini, yaitu masa kesusahan besar, sampai langit yang baru dan bumi yang baru pada zaman yang kekal. Hal pen-ting dan perkara menentukan yang pertama yang diwahyu-kan dalam bagian ini adalah perempuan yang melahirkan anak laki-laki (12:1-17).

Kesebelas pasal pertama dari Kitab Wahyu ini menyinggung tentang ketujuh meterai dan ketujuh sangkakala. Ketujuh meterai dan ketujuh sangkakala memberi kita suatu gambaran (sketsa) yang ringkas namun mencakup seluruh isi kitab ini. Keempat meterai yang pertama (6:1-8) meliputi hampir dua ribu tahun dari sejarah, mulai dari Kristus terangkat hingga akhir zaman ini. Kita sekarang hidup pada akhir zaman ini, dekat sekali dengan zaman meterai kelima. Meterai kelima (6:9-11) terdiri atas doa-doa kaum saleh martir. Ketika meterai ini dibuka, ribuan orang saleh martir, yang telah terbunuh bagi kesaksian Tuhan, akan berseru dengan suara nyaring kepada Allah agar membalaskan mereka, memohon Dia agar campur tangan dan menanggulangi manusia pemberontak. Meterai keenam (6:12-17) merupakan jawaban Allah terhadap seruan kaum saleh tadi. Berbagai malapetaka adikodrati dalam meterai ini merupakan peringatan bagi penduduk bumi. Keenam meterai ini membawa kita kepada akhir zaman ini.

Meterai ketujuh, yang mencakup ketujuh sangkakala, bersifat almuhit. Karena ketujuh sangkakala merupakan isi dari meterai ketujuh, maka meterai ketujuh sama dengan ketujuh sangkakala. Keempat sangkakala yang pertama (8:7-12) merupakan malapetaka adikodrati, yaitu pengha-kiman Allah atas bumi, laut, sungai-sungai, matahari, bu-lan, dan bintang-bintang. Keempat sangkakala itu akan merusak langit dan bumi, membuat bumi tidak lagi meru-pakan tempat kediaman yang cocok dan nyaman bagi umat manusia. Langit adalah untuk bumi, bumi adalah untuk didiami umat manusia. Namun, karena manusia terus-me-nerus mengecewakan Allah, memberontak melawan Allah, akhirnya Allah menyatakan bahwa Ia tidak dapat mentole-rir lagi hal tersebut. Gempa bumi yang dahsyat serta gun-cangnya langit dalam meterai keenam akan menjadi pe-ringatan bagi penduduk bumi. Peringatan itu merupakan pendahuluan dari berbagai malapetaka adikodrati lainnya yang akan mengikutinya. Setelah keempat sangkakala yang pertama ditiup, kesusahan besar pun tibalah. Meterai ke-enam dan keempat sangkakala yang pertama dari meterai ketujuh akan menjadi pendahuluan dari kesusahan besar. Sangkakala kelima (9:1-11), yang akan mengakibatkan kehancuran langsung bagi manusia, akan menjadi awal ke-susahan besar. Sangkakala kelima merupakan celaka per-tama di antara ketiga celaka yang tercantum dalam 8:13. Sangkakala keenam (9:12-21), yaitu penghakiman lanjutan terhadap manusia, akan menjadi celaka yang kedua. Celaka yang ketiga (11:14), bagian dari isi negatif sangkakala ke-tujuh, terdiri atas ketujuh cawan murka Allah yang di-tuangkan ke atas Antikristus beserta umatnya dan keraja-annya (16:1-12, 17-21). Ketujuh cawan ini termasuk dalam sangkakala ketujuh yang akan mengakhiri kesusahan be-sar. Setelah itu, Tuhan Yesus akan turun ke bumi untuk memerangi Antikristus dalam perang Harmagedon. Anti-kristus akan dikalahkan, lalu bersama nabi-nabi palsu, di-lemparkan ke dalam lautan api (19:19-21). Berikutnya, Ke-rajaan Seribu Tahun, yang akan berlangsung selama seribu tahun, akan datang. Terakhir akan datang langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru sampai kekal. Sangka-kala ketujuh akan berlangsung sampai selama-lamanya. Inilah sketsa ringkas dari Kitab Wahyu.

Untuk membuka seluruh gulungan kitab ekonomi Allah, yang telah dibuka oleh Kristus, diperlukan waktu hingga kekal. Hari ini, kita hanya dapat melihat sebagian saja. Ke-tika kita memasuki langit baru dan bumi baru serta hidup di Yerusalem Baru, kita akan nampak visi yang jauh lebih sempurna daripada yang kita nampak sekarang ini. Gu-lungan kitab yang akan kita lihat di dalam kekekalan sam-pai kekal panjangnya. Sangkakala ketujuh, yang terus ber-lanjut hingga kekekalan, meliputi banyak perkara yang penting: bagian terakhir kesusahan besar; kebangkitan dan keterangkatan mayoritas kaum beriman; pahala bagi kaum saleh; kejatuhan Babel besar; pernikahan Anak Domba; ketu-juh cawan; turunnya Kristus ke bumi bersama para peme-nang-Nya, sebagai pasukan Tuhan untuk berperang mela-wan Antikristus di Harmagedon; pengikatan Iblis; Kerajaan Seribu Tahun; pemberontakan terakhir dari umat manusia; Iblis dilemparkan ke dalam lautan api; penghakiman di takhta putih besar; langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru.

Semasa mudanya, Saudara Watchman Nee pernah me-mimpin mengkaji (mempelajari) Kitab Wahyu. Sejak peng-kajian itu, terang yang ia nampak atas kitab ini kian lama kian banyak. Pada tahun 1933, kami memintanya membe-rikan pelajaran yang tuntas mengenai Kitab Wahyu. Ia memberi tahu kami bahwa ia akan memberikan pelajaran yang kami minta itu jika kami telah membaca Kitab Wahyu itu berkali-kali sampai kami mengetahui setiap pasal dan bisa mengulangi seluruh kitab tersebut. Pada waktu itu sa-ya pikir permintaan itu terlalu tinggi. Tetapi lewat bebe-rapa tahun saya berangsur-angsur mengerti bahwa jika kita ingin memahami Kitab Wahyu, kita harus benar-benar mengenal semua butir dan rincian yang terkandung di da-lamnya. Kita harus benar-benar mengenal setiap pasal di dalamnya.

Kita telah melihat bahwa kesebelas pasal yang pertama dari Kitab Wahyu merupakan sketsa umum, sedang kesebelas pasal yang terakhir memberi kita rincian dari berbagai perkara yang penting dan krusial (menentukan). Jangan menganggap kesebelas pasal yang terakhir itu sebagai lanjutan dari kesebelas pasal yang pertama. Dipandang dari satu pihak, kesebelas pasal yang terakhir ini menelu-suri kembali kesebelas pasal yang pertama. Membaca Kitab Wahyu itu sama dengan membaca peta sebuah kota. Perta-ma-tama kita memperhatikan jalan-jalan utama serta melihat sketsa umum kota itu. Kemudian kita kembali memperha-tikan jalan-jalan yang lebih kecil, gang-gang, dan rincian lainnya. Setelah memperoleh pengertian umum peta itu, kita maju lagi untuk memperhatikan bagian demi bagian.

Rincian penting dan masalah krusial yang pertama dari bagian kedua Kitab Wahyu adalah perempuan yang tercantum dalam 12:1. Ayat itu mengatakan, “Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepa-lanya.” Di sini, perempuan ini tertampak di langit dan dise-but “suatu tanda besar”. Tanda besar ini bukanlah laki-laki yang perkasa, melainkan seorang perempuan. Perempuan dalam tanda yang besar ini bukan berada di bumi, melain-kan di langit. Tubuh perempuan ini berselubungkan mata-hari, kakinya menginjak bulan, kepalanya bermahkotakan dua belas bintang. Ia berada di bawah sinar dua belas bin-tang, di atas sinar bulan, dan diselubungi dengan sinar ma-tahari. Karena itu, ia benar-benar unggul (melampaui). Apa saja yang berada di dalam kegelapan, terikat dan terpen-jara, tetapi apa saja yang berada di dalam terang, bebas dan unggul.

Inginkah Anda menjadi bagian dari perempuan ini? Saya akan bertanya, “Anda laki-laki atau perempuan?” Sudah tentu, semua saudari merasa mudah menjawabnya. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh para saudara? Jika mereka berkata bahwa mereka adalah laki-laki, maka mereka tidak berbagian dalam perempuan dalam tanda ini. Apakah pe-rempuan ini juga mencakup Anda? Jika ya, maka dalam pandangan Allah, Anda adalah seorang perempuan.

Dari awal hingga akhir Alkitab, dalam pandangan Allah, umat Allah dianggap sebagai seorang perempuan. Yesaya 54:5 mengatakan, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau.” Dalam Yeremia 3:14 TUHAN memberi tahu umat-Nya bahwa Ia menikahi mereka, dan dalam Yeremia 31:32 Ia berkata bahwa Ia adalah Suami me-reka. Selain itu, dalam Hosea 2:19-20 Tuhan berkata bah-wa Ia akan menunangkan umat-Nya kepada diri-Nya untuk selama-lamanya. Meskipun, seperti yang kita ketahui, Tuhan Yesus datang sebagai Juruselamat dan sebagai Anak Dom-ba, namun suatu hari Ia berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Ia datang sebagai Mempelai Laki-laki (Mat. 9:15; Yoh. 3:29). Berikutnya, dalam 2 Korintus 11:2 Paulus ber-kata, “Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Saudara-saudara, apakah kalian memiliki suami? Puji Tuhan, suami kita adalah Kristus. Secara alamiah, kita para saudara adalah laki-laki, namun secara rohaniah, dalam pandangan Allah, kita adalah perempuan. Dalam ekonomi kekal Allah hanya ada satu laki-laki yang unik — Kristus. Adam adalah lambang, contoh, atau model dari Kristus sebagai Mempelai Laki-laki, sedang Hawa, istri Adam, merupakan lambang, contoh, atau model dari umat Allah sebagai pasangan, istri Kristus. Karena itu, dalam ekonomi-Nya, umat tebusan Allah selalu dipandang-Nya se-bagai istri-Nya, dan Allah memandang diri-Nya sebagai Suami mereka. Dalam Wahyu 12 kita melihat perempuan itu dengan anaknya, namun kita tidak diberi tahu siapa suaminya. Namun, pasal ini mewahyukan bahwa ia sedang hamil dan akan melahirkan anaknya. Dengan siapa ia me-ngandung, dan siapakah sumber anaknya itu? Dengan mem-baca seluruh Alkitab, kita nampak bahwa suaminya adalah Allah yang di dalam Kristus.

I. LAMBANG SELURUH UMAT ALLAH

Untuk memahami Kitab Wahyu tidaklah mudah. Jika kita ingin menafsirkan kitab ini dengan benar, kita memer-lukan semua kitab dalam Alkitab, yaitu keenam puluh lima kitab lainnya. Karena itu, untuk memahami siapakah pe-rempuan itu, kita memerlukan semua kitab dalam Alkitab. Beberapa guru Kristen berpendapat bahwa perempuan itu adalah Maria, ibu Yesus, dan anak laki-laki itu adalah Yesus. Namun konsepsi demikian tidak cocok dengan kon-teks pasal ini, karena Yesus telah naik ke surga hampir dua ribu tahun yang lalu. Pula dalam 12:5-6 kita diberi ta-hu bahwa anak laki-laki itu akan diangkat ke takhta Allah dan setelah itu, perempuan tersebut akan dipelihara sela-ma “seribu dua ratus enam puluh hari” (ayat 6). Seribu dua ratus enam puluh hari sama dengan tiga setengah ta-hun atau empat puluh dua bulan (12:14; 11:2-3; 13:5), yang merupakan masa kesusahan besar. Ini membuktikan bah-wa anak laki-laki itu bukan Tuhan Yesus dan perempuan itu bukan Maria. Maria hanyalah satu perempuan tunggal di bumi, tetapi perempuan itu korporat dan universal dan diwahyukan di surga.

Orang-orang lainnya berkata bahwa perempuan itu adalah bangsa Israel, yaitu orang-orang Yahudi. Dasar me-reka berkata demikian adalah Kejadian 37:9. Menurut ayat itu, Yusuf dalam mimpinya melihat “matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembah” kepadanya. Karena pe-rempuan itu berselubungkan matahari dan kedua belas bin-tang serta berdiri di atas bulan, kelihatannya sesuai dengan mimpi Yusuf tentang keluarganya. Karena itu mereka me-ngatakan bahwa perempuan dalam Wahyu 12 pasti melam-bangkan bangsa Israel, orang-orang Yahudi. Tetapi 12:17 membuktikan bahwa perempuan itu bukan hanya terdiri atas orang-orang yang “menuruti hukum-hukum Allah”, te-tapi juga orang-orang yang “memiliki kesaksian Yesus”. Orang-orang yang “menuruti hukum-hukum Allah” adalah orang-orang Yahudi. Namun, orang-orang yang “memiliki kesaksian Yesus” pastilah kaum beriman Perjanjian Baru, bukan orang-orang Yahudi. Ini merupakan bukti kuat bah-wa perempuan itu bukan saja terdiri atas orang-orang Yahudi, tetapi terdiri atas dua golongan orang: orang-orang Yahudi yang menuruti hukum-hukum Allah, dan kaum beriman yang memiliki kesaksian Yesus. Karena itu, me-ngatakan perempuan itu hanya bangsa Israel, tidaklah co-cok dengan seluruh konteks pasal ini.

Perempuan dalam pasal ini adalah seluruh umat Allah. Menurut visi ini, seluruhnya ada tiga bagian: bagian kepa-lanya dengan kedua belas bintang, bagian tubuhnya yang berselubungkan matahari, dan bagian kakinya yang berada di atas bulan. Karena itu, perempuan itu bersifat universal, terdiri atas dua belas bintang, bulan, dan matahari. Dalam mimpi Yusuf, matahari, bulan, dan sebelas bintang ditambah Yusuf sendiri melambangkan komposisi utuh umat Allah di bumi. Berdasarkan prinsip mimpi itu, matahari, bulan, dan kedua belas bintang di sini tentu melambangkan segenap umat Allah di bumi, yaitu yang di dalam pasal ini dilambangkan oleh seorang perempuan.

Tubuh perempuan ini sebagian besar berselubung mata-hari. Matahari ini melambangkan umat Allah dalam zaman Perjanjian Baru. Zaman sebelum Kristus datang ke dunia adalah malam gelap zaman Perjanjian Lama. Ketika Kristus sebagai matahari yang terbit datang dari tempat yang ting-gi (Luk. 1:78 Tl.), maka zaman matahari telah tiba. Sebe-lum ini adalah zaman bulan, yang melambangkan umat Allah dalam zaman Perjanjian Lama. Bulan berada di ba-wah kaki perempuan itu, sebab zaman bulan adalah zaman hukum Taurat, tidak seharusnya ditinggikan seperti bin-tang. Bintang melambangkan nenek moyang, yaitu umat Allah sebelum hukum Taurat diberikan, berada di atas ke-pala perempuan sebagai mahkota. Seluruh umat Allah pada ketiga zaman tersebut telah membentuk perempuan itu, semuanya memancarkan terang. Karena itu, dia adalah pe-rempuan yang cemerlang, yang bersinar sepanjang zaman.

A. Dua Belas Bintang Mewakili para Nenek Moyang

Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita akan nampak bahwa umat Allah dikelompokkan menjadi tiga ba-gian. Pertama, adalah nenek moyang, yang hidup dari za-man Adam hingga zaman Musa. Kedua, adalah orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat, dari Musa hingga kedatangan Kristus kali yang pertama. Ketiga, adalah orang-orang dari zaman kedatangan Kristus kali pertama sampai kedatangan-Nya kali kedua, yaitu kaum beriman yang mem-bentuk gereja. Orang-orang dalam kategori ketiga adalah mayoritas umat Allah di alam semesta. Para nenek moyang dilambangkan oleh kedua belas bintang (Dan. 12:3), yang bersinar secara individual pada malam hari dengan terang surgawi. Semua nenek moyang adalah bintang-bintang indi-vidual. Mereka hidup pada malam hari, karena pada zaman mereka, Kristus masih belum datang dan fajar belum me-nyingsing. Sebagai bintang-bintang individual, mereka ada-lah mahkota bagi perempuan universal itu, yang melambang-kan dijunjung tingginya kemuliaan anugerah Allah dan ekonomi-Nya. Angka dua belas melambangkan kelengkapan dalam ekonomi kekal Allah. Para nenek moyang, yang ber-ada dalam prinsip anugerah Allah, tidak berada di bawah hukum Taurat; karena itu, mereka adalah sebuah mahkota yang dijunjung tinggi di atas kepala perempuan itu. Semua nenek moyang, seperti Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub dianggap sebagai mahkota.

B. Bulan Mewakili Bani Israel

Setelah nenek moyang, kita mempunyai bani Israel, yang dilambangkan oleh bulan yang memantulkan matahari (Kristus) dan bersinar secara kolektif di dalam terang Kristus. Bani Israel berada pada malam hari di bawah hu-kum Taurat. Meskipun hukum Taurat itu baik, namun tidak dijunjung tinggi, dan dalam pasal ini digambarkan sebagai bulan yang berada di bawah kaki perempuan itu. Bulan itu terang dan bersinar, tetapi berada di bawahnya. Ini berarti prinsip hukum Taurat di mata Allah tidaklah ditinggikan.

C. Matahari Mewakili Gereja yang Terbentuk dari Seluruh Kaum Beriman

Perempuan itu berselubungkan matahari, yaitu berse-lubungkan Kristus. Menurut Lukas 1:78-79, ketika Kristus datang, saat itulah matahari terbit. Matius 4:13-16 menga-takan bahwa Kristus datang sebagai terang yang besar untuk menyinari orang-orang yang di dalam kegelapan. Ini berarti, sebelum Kristus datang adalah malam hari. Gereja tersusun dari seluruh kaum beriman yang dilambangkan oleh matahari yang bersinar secara kolektif, pada siang ha-ri, dengan kemuliaan Allah (Flp. 2:15; 2 Kor. 3:18). Gereja adalah bagian terbesar dari umat Allah. Hal itu ditunjuk-kan oleh fakta bahwa matahari menyelubungi tubuh pe-rempuan itu. Karena Kristus telah datang, kita hidup di siang hari. Meskipun pada satu aspek kita hidup dalam za-man malam hari, dan kita akan memiliki siang yang lebih besar ketika Tuhan datang kembali; tetapi sejak hari yang dimulai pada saat kedatangan Kristus kali pertama setidak-tidaknya merupakan siang hari yang kecil. Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi siang hari yang lebih besar karena pada saat itu terang matahari akan menjadi tujuh kali lebih kuat daripada hari ini (Yes. 30:26). Kita yang hidup pada siang yang kecil ini mengharapkan datangnya siang hari yang lebih besar. Kita yang hidup dalam sinar mata-hari yang hanya satu kali lipat ini mengharapkan suatu hari dengan sinar matahari yang tujuh kali lipat. Mungkin ada orang yang menentang saya, dengan menunjukkan Roma 13:12 yang mengatakan bahwa hari sudah jauh malam dan Wahyu 22:16 mengatakan bahwa Kristus adalah bintang timur yang cemerlang. Saya tahu ayat-ayat itu. Namun ingatlah, kebenaran-kebenaran di dalam Alkitab mempunyai dua aspek. Kita harus mempertimbangkan kedua aspek ter-sebut. Karena Kristus telah datang, kita bukan lagi di da-lam malam hari — kita berada di siang hari. Lalu apakah kita ini — sebuah bintang atau bagian dari matahari? Di satu pihak, kita adalah bintang-bintang pada malam hari (1:20); namun di pihak lain, kita adalah bagian dari ma-tahari yang bersinar di siang hari.

Betapa menakjubkan tanda yang besar ini! Ini adalah bukti lain yang menunjukkan bahwa Alkitab diilhami dan ditulis oleh Allah sendiri. Selain Dia, tidak ada satu orang pun bisa memiliki hikmat sedemikian, yang menggunakan seorang perempuan sebagai lambang yang mewakili seluruh umat Allah. Musa, Daud, Salomo, Yesaya, Yeremia, Daniel, dan yang lain, semuanya adalah bagian dari bulan. Tetapi puji Tuhan, kita, kaum beriman Perjanjian Baru, adalah bagian dari matahari, sebab kita adalah bagian dari Kristus. Inilah visi dari perempuan universal yang cemerlang itu.

II. UNIVERSAL

Perempuan dalam pasal ini bersifat universal, baik da-lam waktu maupun ruang. Ia universal dalam waktu, dari penciptaan Adam hingga kekal. Ia juga universal dalam ruang, di bumi dan di surga. Ini adalah satu bukti yang kuat bahwa ia bukan Maria; tetapi Maria tercakup di dalamnya, seperti juga kita semua. Bagaimana orang-orang bisa me-ngatakan bahwa perempuan terang universal ini adalah Maria? Maria terlalu kecil. Ia tidak begitu terang, ia jelas tidak universal. Maria tidak bermahkotakan dua belas bintang. Perempuan ini juga bukan hanya bangsa Israel, karena Israel dilambangkan oleh bulan. Perhatikan perem-puan ini sekali lagi. Di atas kepalanya terdapat dua belas bintang bersinar yang melambangkan nenek moyang. Su-dah tentu, Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub, semuanya adalah bintang-bintang. Bangsa Israel dilambang-kan oleh bulan. Biarpun keadaan mereka itu kadang-ka-dang jahat dan gagal, namun mereka adalah umat yang berada di atas bulan. Hanya bani Israellah yang berdiri di atas bulan yang bersinar, bukan bangsa kafir, juga bukan penyembah berhala. Apakah orang-orang Mesir, Babel, Yunani, Romawi, China, berdiri di atas bulan? Sudah pasti tidak! Mereka mungkin berdiri di atas tumpukan batu ba-ra, namun bukan di atas bulan yang bersinar. Semua bang-sa lainnya telah dan masih berdiri di atas hal-hal yang gelap. Di antara umat manusia, hanya sekelompok orang, yaitu umat Israel, yang berdiri di atas bulan. Namun, mereka ti-dak menyadari bahwa bulan merupakan suatu tanda bahwa matahari, Kristus, akan datang. Puji Tuhan, karena kita hari ini adalah matahari. Meskipun ada beberapa orang Yahudi di antara kita, mereka tidak lagi merupakan bagian dari bulan, melainkan bagian dari matahari. Gereja adalah matahari karena Kristus adalah matahari dan kita adalah bagian dari Kristus. Kristus adalah kepala matahari, se-dang kita adalah tubuh matahari tersebut. Puji Tuhan, ki-ta ada di dalam bagian terbesar dari perempuan terang uni-versal ini.

III. CEMERLANG DALAM TERANG SURGAWI

Perempuan dalam pasal 12 bukan hanya universal dalam waktu dan ruang, tetapi juga cemerlang dalam terang sur-gawi. Ia berdiri di atas bulan yang terang dan di bawah bin-tang-bintang terang serta berselubungkan matahari yang terang. Ia seluruhnya terang, tanpa kegelapan sedikit pun. Kecemerlangannya itu surgawi, dari atas. Kita, gereja, seba-gai bagiannya yang paling besar, haruslah menjadi seperti itu.

IV. PERANG UNIVERSAL

Dalam Kejadian 3, ular kecil itu masuk melalui perem-puan. Sepanjang abad, para penafsir Alkitab mengatakan bahwa ular masuk melalui perempuan, karena perempuan lebih lemah daripada laki-laki. Pada awal ministri saya, saya juga mengatakan hal yang sama. Tetapi sekarang sa-ya menyadari bahwa untuk menggenapkan ekonomi Allah kita terlebih dulu harus menjadi perempuan, bukan laki-laki. Ular, si licik itu, tahu siapa yang harus diracuninya. Hari ini, kita bukan bagian dari Adam, melainkan bagian dari perempuan terang universal. Iblis datang untuk meru-sak perempuan, karena ia tahu perempuan itu akan di-pakai oleh Allah untuk menggenapkan rencana-Nya. Setiap orang yang tidak terlebih dulu mengakui dirinya perempuan di pandangan Allah, tidak mungkin dapat menggenapkan ekonomi Allah. Anda terlebih dulu harus mengakui diri An-da seorang perempuan, dengan berkata, “Ya Tuhan, aku bu-kanlah laki-laki. Tuhan, Engkaulah laki-laki, dan aku adalah bagian dari perempuan ini. Karena Engkau laki-laki dan aku bagian dari perempuan ini, maka aku harus menganggap-Mu sebagai suami dan Kepalaku, aku harus taat kepada-Mu.”

Setelah ular merusak perempuan itu, Allah turun tangan menghakimi ular itu, kata-Nya, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Wahyu 12 harus ditafsirkan melalui Kejadian 3. Dalam Kejadian 3:15 ada perempuan, ular, dan keturunan perempuan. Dalam Wahyu 12 ada tiga hal yang sama, meskipun dalam skala yang jauh lebih besar. Perempuan itu sekarang jauh lebih besar, sedang ular itu telah menjadi seekor naga besar, dan keturunan perempuan juga berkem-bang menjadi anak laki-laki. Perempuan dalam Wahyu 12 dimulai dengan perempuan dalam Kejadian 3:15. Untuk melihat tanda yang besar di alam semesta ini, kita perlu suatu visi. Tanda itu adalah seorang perempuan besar yang cemerlang dan universal sedang menderita sakit bersalin, hendak melahirkan seorang anak. Di hadapan perempuan itu berdiri seekor naga menentangnya dan berusaha mene-lan anak yang akan dilahirkannya. Permusuhan ini, yang kali pertama tertampak dalam Kejadian 3:15, adalah dari Allah; Allahlah yang mengadakan permusuhan antara ular dengan perempuan itu. Dalam alam semesta hari ini perang yang sedang berkecamuk sesungguhnya hanya satu — pe-rang antara umat Allah sebagai perempuan itu dengan ular sebagai naga. Sudahkah Anda nampak visi ini? Hari ini, ki-ta semua adalah bagian terbesar dari perempuan itu, dan di hadapan kita berdiri seekor naga.

Bagaimanakah ular dalam Kejadian 3 bisa menjadi naga dalam Wahyu 12? Karena dia telah banyak makan. Melalui makan, ular itu terus bertambah besar. Banyak orang telah dimakannya, dan sekarang ia berusaha menelan kita. Tetapi kita tidak mungkin bisa ditelannya; sebaliknya, kita akan memberinya pukulan maut. Ketika Tuhan mengutuk ular itu, Ia mengganjarnya makan debu tanah seumur hi-dupnya (Kej. 3:14). Selama kita bersifat debu, bumiah, kita adalah santapan si ular. Tetapi jika kita bersifat surgawi, si ular tidak akan mampu menelan kita. Kita tidak bersifat debu atau bumiah; kita adalah bagian dari perempuan yang cemerlang dan surgawi itu.

Kita harus nampak visi bahwa di alam semesta ini peperangan yang sedang berkecamuk sesungguhnya adalah antara perempuan dengan naga. Siapa saja yang meng-aniaya gereja berarti bersekutu dengan naga itu. Karena gereja yang murtad menganiaya pencinta-pencinta Tuhan, ia bersekutu dengan naga itu. Dalam pasal 17, kita nampak seekor binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepu-luh. Angka-angka itu sama dengan yang dimiliki oleh naga itu (12:3; 17:3). Di atas binatang itu duduk seorang perem-puan yang memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara (17:3-4). Gereja yang murtad, si pelacur yang menunggangi binatang itu, bersekutu dengan Iblis sebagai naga itu dalam menganiaya perempuan yang cemerlang itu. Ketika Rasul Paulus masih sebagai Saulus dari Tarsus, ia menganiaya gereja. Pada saat itu, apakah ia merupakan bagian dari bulan, bagian dari Israel? Dengan tegas kita mengatakan bahwa ia bukan bagian dari bulan atau bagian dari bangsa Israel. Demikian pula orang-orang Farisi. Meskipun mereka adalah orang-orang Yahudi, mereka bukan bagian dari bulan. Tuhan Yesus menyebut mereka itu “bangsa ular” dan “keturunan ular beludak” (Mat. 23:33). Mereka itu “keturunan ular itu”, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 3:15, demikian juga dengan Saulus dari Tarsus. Mereka menjadi bagian dari naga besar itu. Tetapi puji Tuhan, Saulus akhirnya bertobat dan berubah!

Masalahnya bukanlah Anda itu agamawi atau tidak. Asal Anda menganiaya gereja, Anda telah berbagian dengan naga itu atau setidak-tidaknya bersekutu dengan naga itu. Bangsa Yahudi kuno mengira mereka berperang bagi Allah. Tetapi mereka tidak sadar kalau mereka itu berperang ber-sama naga itu untuk menganiaya umat Allah, merusak dan berusaha menggagalkan ekonomi Allah. Umat kristiani hari ini harus berhati-hati. Sikap mereka terhadap gereja me-nentukan siapakah mereka dan di mana mereka berada. Se-tiap orang Kristen yang menganiaya gereja berarti berse-kutu dengan naga itu, berpihak kepadanya, dan menentang ekonomi Allah. Jika kita nampak visi ini, kita akan nampak tidak ada daerah yang netral. Yang ada hanya dua kelom-pok — perempuan atau naga. Milik kelompok manakah Anda? Memihak ke manakah Anda? Ada orang yang me-namakan dirinya Kristen namun membenci gereja dan ingin sekali melihat gereja runtuh. Mereka berkata dusta tentang gereja dan menyebarkan desas-desus yang jahat. Mereka menentang gereja dan berusaha sekuat tenaga untuk meng-gagalkan dan merusak gereja. Hal itu berasal dari roh ja-hat naga itu. Orang-orang itu bersekutu dengan naga itu. Kalau mereka bukan bagian dari naga itu, setidak-tidaknya mereka berpihak kepada naga itu. Mungkin Anda akan ber-tanya, “Bukankah mereka itu orang-orang Kristen?” Saya akan menjawab, “Bukankah orang-orang Farisi adalah aga-mawan Yahudi?” Tentu. Mereka berpegang kepada Alkitab mereka. Menurut opini mereka, segala yang mereka lakukan, termasuk menghukum mati Kristus, sesuai dengan Alkitab mereka. Tetapi sesungguhnya apakah mereka? Mereka itu tidak lain ular, ular beludak, bagian dari naga besar, yang melakukan berbagai perkara untuk merusak ekonomi Allah. Sebelum Tuhan yang berdaulat turun tangan, yaitu ketika Saulus sedang menuju Damaskus, Saulus juga secara ak-tif merupakan satu bagian dari naga. Ketika Tuhan me-nampakkan diri kepadanya, memukulnya rebah ke tanah, Ia seolah-olah berkata, “Saulus, apa yang sedang kauper-buat? Aku, Yesus, datang mengunjungimu.” Saat itulah Saulus bertobat dan pindah dari kegelapan Iblis ke dalam kerajaan terang Allah. Pada saat ia berpaling, Tuhan me-nyuruh Saulus membuka mata orang-orang “supaya mere-ka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepa-da-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat ba-gian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (Kis. 26:18). Dengan mengambil contoh Saulus dari Tarsus, kita nampak bahwa siapa saja yang meng-aniaya gereja hari ini, mereka itu merupakan bagian dari naga atau sedikitnya mereka bersekutu dengannya.

Naga itu sekarang sedang menganiaya gereja dan be-rencana merusaknya. Golongan oposisi sedang aktif di selu-ruh negeri ini. Di mana saja, di bumi ini, naga itu selalu berusaha menelan apa saja yang akan dilahirkan gereja. Sudahkah Anda nampak wahyu ini? Ini bukan perkara ke-cil. Kita adalah untuk pemulihan Tuhan. Kita menghadapi serangan naga, tetapi siapakah yang akan menang? Hale-luya, naga itu akan dilemparkan, dan kita akan menang. Mula-mula, naga itu akan dilemparkan dari surga ke bumi, kemudian dari bumi ke jurang tak berdasar, dan terakhir dari jurang tak berdasar dilemparkan ke lautan api. Kita bisa menyatakan, “Iblis, pergilah ke tempatmu di telaga api. Jangan tinggal di bumi lebih lama lagi. Bumi adalah untuk Kristus, bukan untukmu. Kristus sedang datang untuk mengambil alih bumi, dan kamu harus pergi. Iblis, kamu tidak ada pilihan — pergilah ke lautan api!”

Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, membeber-kan nasib Iblis. Di antara semua perkara penting dalam bagian terakhir Kitab Wahyu, yang pertama adalah perem-puan terang universal dalam pasal 12. Kita adalah butir yang paling krusial, juga perkara yang paling penting. Se-karang bukan waktunya untuk tidur, melainkan waktu un-tuk berperang. Di mana pun kita berada, kita harus berka-ta kepada para penentang dan penganiaya, “Pergilah ke lautan api!” Kita adalah perempuan itu, dan Iblis ada di dalam lautan api.