Daftar isi Tanda Ajaib Terjadi dengan Sendirinya · bab 1/1

Tanda Ajaib Terjadi dengan Sendirinya

Pembacaan Alkitab :

Markus 16:17-18; Mazmur 72:18

Dalam Injil Markus 16:17-18 Tuhan Yesus berkata kepada kesebelas, muridNya, "Tanda-tanda ini akan menyertai orang yang percaya : Mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Kedua ayat di atas membicarakan perbuatan mujizat atau tanda ajaib. Bagaimana seharusnya kita memandang masalah tersebut?

Di sini ada satu perkara yang perlu kita perhatikan yaitu tidak ada satu bagianpun dari Firman Allah yang boleh digunakan orang untuk didemonstrasikan atau dipertontonkan, dan memang tidak seorang pun bisa mempertontonkannya. Bukan saja firman Allah dalam Markus 16 tadi tidak bisa dipertontonkan, bahkan setiap firman Alkitab yang manapun tidak bisa dipertontonkan. Allah mau mengabulkan doa Elia di atas gunung Karmel untuk menurunkan api, itu membuktikan hanya TUHAN (Yehova) adalah Allah; Baal bukan Allah (I Raja 18:30-39). Allah mau demi tanda ajaib membuktikan diriNya sendiri membuktikan bahwa Dialah Allah, tetapi Allah tidak mau manusia mempertontonkan atau mendemonstrasikan tanda ajaib. Banyak orang ingin mempertontonkan firman Allah yang tercantum dalam Markus 16 tersebut, namun Allah tidak menanggapi mereka, Allah membiarkan mereka gagal. Anda tidak bisa mengatakan, mereka gagal karena mereka tidak percaya terhadap ayat-ayat itu. Mereka benar-benar percaya, tetapi Allah tidak menyatakannya bagi mereka, Allah tidak membuktikannya bagi mereka. Karena Allah adalah Allah, Dia hanya mau melakukan apa yang dikehendakiNya sendiri, Dia tidak mau melakukan menurut kemauan manusia.

Kita harus ingat satu prinsip rohani, yakni iman adalah sesuatu yang sangat wajar, iman tidak memerlukan kekuatan. Ketika seorang Kristen belum mengenal kebenaran tentang iman, baginya jawaban Allah seolah-olah harus diperoleh melalui berdoa dengan sekuat tenaga. Setiap kali ingin memperoleh jawaban Allah, Ia harus mengeluarkan banyak iman, ia harus memiliki iman yang sangat benar, sehingga nyaris ia berseru, "Ya Tuhan, aku sungguh-sungguh percaya! Ya Tuhan, aku benar-benar percaya!" Meskipun kemudian Ia memperoleh jawaban Allah, tetapi ia sudah cukup letih untuk percaya. Setelah ia mendapatkan pelajaran yang cukup banyak, ia tetap berdoa, juga percaya dan memperoleh jawaban Allah, namun kini ia tidak perlu mengeluarkan tenaga yang begitu besar lagi. Dia dengan sangat wajar berdoa, dan Allah juga dengan sangat wajar mengabulkan doa-doanya. Dulu ia harus percaya dengan sekuat tenaga yang sangat berat sehingga ia merasa letih, tetapi kini imannya sangat wajar, tanpa bersusah payah lagi.

Iman itu wajar adanya, demikian pula perbuatan mujizat. Orang yang melakukan tanda ajaib itu tidak merasa kalau. ia sedang melakukan tanda ajaib. Perbuatan mujizat bagi seorang yang percaya adalah perkara yang biasa sekali. Orang yang berjauhan dengan Allah barulah merasa hal itu aneh atau mengherankan. Setiap orang yang hidup di hadirat Allah, yang dekat dengan Allah, tidak akan merasa bahwa tanda ajaib itu suatu perkara yang mengherankan.

Saudara-saudari, Anda pasti pernah membaca kisah bani Israel menyeberangi Laut Merah! Pertama kali kita membacanya, kita merasa kagum sekali. Begitu banyak orang menyeberangi Laut Merah, sungguh satu peristiwa yang bukan main hebatnya! Tetapi kita dapat membaca bagaimana keadaan orang-orang Israel pada waktu itu. Alkitab tidak mengatakan, bahwa mereka melewati laut itu sambil berteriak-teriak, "Oh, alangkah ejaibnya, air laut terbelah!" atau berkata, "Lihatlah, ini sungguh satu mujizat yang besar sekali!" Setelah mereka sampai di seberang laut itu, barulah mereka membuat syair dan bernyanyi-nyanyi, ketika mereka menoleh ke belakang, barulah mereka merasa, itu sungguh satu mujizat yang besar. Hari ini, orang-orang yang percaya kepada Tuhan seharusnya juga demikian. Ketika Allah sedang menyatakan tanda ajaib di atas diri mereka, mereka tidak merasakannya sebagai suatu keajaiban. Tetapi ketika mereka menoleh ke belakang, barulah mereka merasakan bahwa itu adalah satu mujizat. Saudara saudari, cobalah renungkan, beberapa kali Allah telah menyembuhkan sakit Anda, tetapi ketika itu Anda tidak merasakannya sebagai suatu peristiwa yang besar. Bukankah demikian? Beberapa kali Anda menjumpai kesulitan, Anda mendapatkan penyelesaian dari Allah, apakah pada saat itu, Anda merasa telah terjadi suatu perkara yang besar? Tentu tidak. Tetapi ketika Anda menoleh ke belakang dan mengenangnya, barulah Anda merasa telah terjadi satu peristiwa yang besar di atas diri Anda. Dalam hal menoleh ke belakang atau mengenang kembali sedemikian inipun adalah wajar, bukan sengaja terus-menerus menoleh ke belakang.

Ada orang menyalah-artikan firman dalam Markus 16 tersebut. Mereka memandang ayat-ayat itu dari pihak manusia, maka mereka merasa semua itu sangat istimewa dan mengherankan. Namun bila Anda teringat akan Allah, perkara itu sedikitpun tidaklah aneh. Kalau perkara itu kita bandingkan dengan perkara bani Israel menyeberangi Laut Merah, tentu sangat kecil. Itu tidak berarti setiap orang yang percaya Tuhan, meskipun setiap hari minum racun, ia tidak akan mati. Bukan demikian. Kalau orang dengan sengaja minum racun, ia tentu akan mati. Jika Anda mengenal Allah, jika Anda mengenal kuasa Allah, Anda akan tampak bahwa bagiNya tiada perkara yang mustahil. Mujizat bukan terjadi karena manusia telah percaya dengan sekuat tenaga, mujizat adalah ekspresi kuasa Allah. Allah adalah Allah yang melakukan tanda ajaib dengan sendirinya; ketika Ia menggerakkan tanganNya, saat itulah mujizat terjadi. Ketika Allah menggerakkan tanganNya atas diri Anda, sedikitpun Anda tidak merasa bahwa tanda ajaib itu sulit dilakukan. Kesulitan manusia hari ini ialah memandang tanda ajaib dari tempat yang jauh terpisah dari Allah, karena itu mereka merasa itu adalah perkara yang bukan main hebatnya. Namun orang yang dekat dengan Allah akan tampak bahwa tanda ajaib dan mujizat di dalam rumah Allah adalah perkara yang sangat wajar.

Dahulu ada seorang gadis yang tinggalnya di tepi laut; keluarganya adalah keluarga nelayan. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki yang tinggalnya di pegunungan. Orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan, karena transportasi tidak mudah, sering kekurangan benda-benda material dan bahan-bahan makanan, sehingga hidupnya cukup sulit. Suatu hari mertua laki-lakinya marah-marah kepada perempuan itu, karena ia dianggap boros sekali, tidak bisa berhemat; sebab dalam tiga hari saja ia sudah menghabiskan seekor kepiting. Dengan menahan amarah, si mertua pergi ke rumah ayah perempuan itu dengan maksud mengadukan perkaranya. Tetapi setelah ia tiba di rumah besannya dan diundang makan bersama, ternyata di atas meja tersedia banyak kepiting rebus yang lezat sekali. Setelah selesai makan, ia malah melihat banyak kulit/batok kepiting di belakang rumah itu, bertumpuk-tumpuk entah berapa puluh buah banyaknya. Melihat kenyataan ini, ia tidak jadi mengadukan "keborosan" menantunya itu, ia pulang tanpa mengatakan apa-apa. Banyak orang memandang tanda ajaib seperti halnya mertua dari gunung itu memandang kepiting laut. Mereka mungkin baru mengalaminya sekali dalam 10 tahun, bahkan mungkin 30 tahun sekali, sebab itu mereka menganggap tanda ajaib itu sangat aneh dan sangat mengherankan. Bagi orang yang senantiasa hidup di hadapan Allah, tanda ajaib adalah sangat biasa. Tangan Allah adalah sumber tanda ajaib dan Allah terus-menerus melakukan tanda ajaibNya.

Karena itu, tanda ajaib tidak perlu kita lakukan dengan mengerahkan segenap kekuatan kita. Begitu kuasa Allah dinyatakan di atas diri kita, segera tanda ajaib itu terjadi. Ketika Paulus di pulau Malta, ia pernah digigit ular berbisa. Tapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api (Kisah Para Rasul 28:3-5). Anda dapat tampak bagaimana tanda ajaib telah terjadi pada hari itu di atas diri Paulus. Paulus tidak berkata kepada orang-orang Malta, "Mari Lihat, aku akan menyatakan suatu tanda ajaib yang besar." Tidak. Ia hanya dengan diam-diam mengibaskan ular berbisa itu ke dalam api. Sedikitpun ia tidak menggembar-gemborkan perbuatannya itu. Hanya orang-orang yang tidak mengenal Allah baru menggembar-gemborkan tanda ajaib, (Tentu ini bukan berarti orang yang tidak menggembar- gemborkan tanda ajaib adalah orang yang mengenal Allah. Orang yang tidak percaya kepada Allah, dengan sendirinya tidak percaya pada tanda ajaib). Orang yang mengenal Allah pasti tidak mau menggembar-gemborkan tanda ajaib, sebab tanda ajaib baginya adalah sangat wajar. Saudara-saudari, jika doa Anda mendapat jawaban Allah, lalu Anda merasa sudah melakukan suatu perkara yang sangat besar, ini membuktikan bahwa iman Anda masih terlalu hijau. Bila Anda benar-benar percaya kepada kuasa Allah, Anda akan secara tanpa disadari telah menerima pengabulan doa, tanpa disadari Allah telah menyatakan suatu tanda ajaib di atas diri Anda. Dalam keadaan demikian, tanda ajaib terjadi dengan sendirinya, sedikitpun tidak perlu memeras tenaga dan tidak terasa aneh atau mengherankan.

Kita harus ingat, tanda ajaib itu terjadi tanpa terasa oleh kita. Bila kita merasakan bahwa kita sedang melakukan tanda ajaib, pasti akan gagal. Dengan perkataan lain, saat kita bertekad ingin melakukan tanda ajaib, tanda ajaib itu akan menjauh dari kita, sama seperti saat kita bertekad melakukan kebajikan, kita tidak berdaya melakukannya. Tetapi ketika kita hidup di hadapan Allah, dan kita mempercayai Allah, saat itulah tanda ajaib terjadi dengan sendirinya, di luar kesadaran kita. Demikianlah keadaan Paulus ketika ia menyatakan tanda ajaib tidak mengalami bahaya sedikitpun oleh gigitan ular berbisa itu. Kalau ada orang menyuruhnya menyatakan tanda ajaib tersebut sekali lagi, tentu ia tidak dapat mengulanginya. Kalau ada orang menyuruh saya belajar melakukannya menurut teladan Paulus, itupun tidak mungkin. Kita tidak dapat mencontoh perbuatan orang lain, kitapun tidak dapat mempertunjukkan kembali pengalaman kita.

Kita telah menjamah satu prinsip penting dalam pengalaman orang Kristen. Di dalam pengalaman kita sebagai orang Kristen, ada satu prinsip utama bagi pengabulan doa dan tanda ajaib dari Allah, yakni hal itu terjadi di luar pengetahuan dan perasaan kita, terjadi dengan sendirinya. Memang, pada mulanya kita merasa diri kita memiliki kekuatan yang lebih, kita merasa diri kita mempunyai iman yang cukup, tetapi kalau kita telah mendapat sedikit kemajuan rohani, kita tidak lagi terlalu merasakannya. Anda pun tidak mengetahui bagaimana Anda percaya, Anda hanya tahu menyerahkan semuanya ke dalam tangan Allah, dan perkara itu terjadi atas diri Anda.

Banyak tanda ajaib yang terjadi di atas diri Paulus, namun Paulus mengatakan, bahwa ia "lemah, sangat takut dan gentar" (I Korintus 2:3). Allah mau bekerja melalui manusia, namun Ia tidak menghendaki manusia merasa bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu. Orang yang tidak mengenal Allah baru mengatakan bahwa ia dapat melakukan perkara ini dan dapat melakukan itu. Orang yang benar-benar mengenal Allah hanya akan mengatakan, "Aku tak tahu aku bisa berbuat apa." Orang yang benar-benar dapat dipakai Allah tidak merasa dirinya bisa melakukan ini atau melakukan itu, ia hanya dengan wajar melakukannya. Oh, syukur kepada Allah! KuasaNya begitu besar sehingga perkara apa saja dapat dilakukanNya sendiri. Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Semakin lama kita menjadi orang Kristen, kita akan makin menjadi sederhana. Barangsiapa menjadi rumit atau ruwet, ia pasti berpenyakit rohani. Semakin kita mengenal Allah, kita akan semakin sederhana, sampai beriman pun tidak lagi harus ngotot seperti dulu. Kita hidup di hadapan Allah, sehari lepas sehari, kita akan menjadi makin sederhana, akhirnya kita akan berkata dari dalam hati, "Allahlah segala-galanya, bukan aku." Saudara-saudari, jika Anda benar-benar mengenal Allah, niscaya perbuatan dan pekerjaanNya di atas diri Anda akan ternyata dengan sendirinya.