Daftar isi Strategi Iblis Merusak Gereja · bab 1/1

STRATEGI IBLIS MERUSAK GEREJA

Hasrat hati Allah adalah menggarapkan Kristus ke dalam sejumlah orang, membaurkan Kristus dengan mereka, dan membuat mereka menjadi Tubuh yang hidup bagi Kristus. Inilah tujuan dan rencana Allah. Setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan, Allah memulai pekerjaan ini, sehingga di sini dan di sana, di semua komunitas di mana orang hidup, bisa terdapat ekspresi yang hidup dari Kristus. Inilah tujuan kekal Allah, dan hal ini perlu diwujudkan di bumi ini dan di zaman ini. Jika kita tidak dikuasai oleh hal lain, visi dari Alkitab ini tentulah jelas bagi kita.

Namun segera setelah Allah memulai karya ilahi ini, Iblis (Satan), si musuh, berusaha untuk menggagalkan dan merusak rencana-Nya. Gereja sekarang memiliki sejarah hampir dua ribu tahun. Selama ini Iblis telah sangat aktif dalam banyak aktivitas. Aktivitas-aktivitas ini dapat dirangkum dalam tiga kategori:

1. MENGGANTIKAN KRISTUS

Kategori pertama aktivitas Iblis adalah menghasilkan banyak hal untuk menggantikan Kristus. Tujuan Allah adalah menggarapkan Kristus ke dalam umat pilihan-Nya. Ia ingin agar Kristus menjadi inti, realitas, hayat, dan segala sesuatu mereka. Tetapi Iblis telah membawa masuk banyak pengganti yang licik, benda-benda palsu yang sangat mirip dengan aslinya.

Mengapa Kitab Kolose ditulis? Karena pada saat itu di antara kaum saleh di Kolose, filsafat manusia dibawa masuk sebagai pengganti Kristus. Filsafat manusia adalah yang terbaik dari peradaban dan kebudayaan manusia, dan si musuh menggunakannya untuk menarik kaum saleh dari Kristus. Karena itu, Paulus menulis kepada orang-orang di Kolose dan memberi tahu mereka bahwa Kristus adalah "bagian yang ditentukan untuk orang-orang kudus" (Kol. 1:12), dan Kristus harus menjadi segalanya dan di dalam segala sesuatu bagi kaum saleh (Kol. 3:11). "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus" (Kol. 2:8).

Mengapa Kitab Ibrani ditulis? Karena Iblis menggunakan agama yang dibentuk menurut wahyu Allah untuk menggantikan Kristus. Agama Yahudi berasal dari Allah, ditetapkan oleh Allah, dan bahkan digunakan oleh Allah. Tetapi tujuan Allah bukanlah untuk menggarapkan agama Yahudi ke dalam umat-Nya. Seorang ibu mungkin ingin memberikan obat kepada anaknya, tetapi si anak dengan kenakalannya tidak mau bekerja sama. Bukannya mengambil obat, si anak malah mengambil botol tempat obat itu dan bermain dengannya, tetapi ia tidak mau minum obatnya. Agama Yahudi hanya merupakan tempat, menyingkapkan Kristus kepada umat pilihan Allah, tetapi musuh yang licik membuat mereka lebih menghargai tempatnya daripada Kristus. Agama, bahkan agama yang ditunjuk Allah, telah menjadi pengganti di tangan Iblis untuk menggantikan Kristus. Karena itu, penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa Kristus di atas segala sesuatu dan lebih baik daripada segala sesuatu. Kristus adalah sasaran, bukan agama Yahudi atau apa pun yang agamawi.

Kitab Galatia ditulis untuk menyingkapkan pengganti lain yang dibuat oleh musuh. Orang Yahudi pada saat itu digunakan si musuh untuk membuat hukum Taurat menggantikan Kristus. Hukum Taurat diberikan secara ilahi dan "kudus, benar, dan baik" (Rm. 7:12), bahkan dari sudut pandang Allah. Namun hal seperti itu telah digunakan sebagai alat oleh si musuh untuk menggantikan Kristus. Jadi, kita tampak bahwa filsafat, agama, dan hukum Taurat, semuanya telah digunakan Iblis untuk mengalihkan orang dari Kristus.

Dalam Kitab 1 Korintus kita melihat tarikan dan penggantian yang lebih jauh lagi. Bahkan karunia zaman Perjanjian Baru dipakai musuh untuk menggantikan Kristus. Rasul berkata, "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus . . ." (1 Kor. 1:22-23). Tanda-tanda dan hikmat dapat menjadi pengganti Kristus. Semua hal ini digunakan Iblis di abad pertama gereja untuk menggeser Kristus.

Kalau kita membaca sejarah gereja, dari abad kedua sampai saat ini, kita melihat banyak pengganti lain. Salah satu yang telah banyak digunakan adalah berbagai tata cara. Alangkah banyaknya bentuk dan ritual dalam kekristenan, dan betapa hal-hal itu telah menggantikan kedudukan Kristus! Pengganti yang lain adalah pengajaran; bahkan pengajaran mengenai Kristus. Pengajaran yang baik, masuk akal, alkitabiah, dan bahkan yang rohaniah telah diperalat oleh musuh sebagai pengganti diri Kristus sendiri. Banyak kelompok kekristenan tidak berdiri bagi Kristus, tetapi bagi pengajaran mereka. Teologi juga merupakan pengganti yang lain. Teologi mengambil tempat Theos -- Allah. Teologi menggantikan realitasnya, yang adalah Kristus sendiri.

Si musuh benar-benar sangat licik. Ia memasukkan sesuatu yang sangat mirip dengan barang aslinya, tetapi bukan barang itu sendiri. Banyak yang telah diracuni oleh hal ini. Mereka mengambil "umpan" ini tanpa menyadarinya, dan mereka terkait. Mereka telah disimpangkan dari Kristus oleh sesuatu yang sangat mirip atau dekat dengan Kristus, tetapi bukan Kristus sendiri.

Ada banyak pengganti, kita tidak dapat menyebutkannya satu per satu. Betapa kasihannya situasi hari ini! Ada banyak hal, yang baik atau yang buruk, rohani atau sekuler, yang telah menggantikan kedudukan Kristus. Iblis tidak peduli apa pengganti yang ia pakai selama ia dapat mengalihkan Anda dari Kristus. Jika ia dapat melakukan hal ini, ia puas.

2. SISTEM PADERI-AWAM

Kategori kedua dari aktivitas Iblis terdapat dalam sistem paderi dan awam. Bacalah sejarah gereja. Setelah Iblis mulai menggunakan banyak pengganti untuk menggeser Kristus, ia menciptakan sistem paderi. Apa tujuannya melakukan hal ini? Untuk membunuh seluruh fungsi anggota Tubuh. Sebenarnya, semua anggota tanpa kecuali adalah anggota yang normal dan berfungsi. Tetapi secara bertahap, si musuh mendirikan sistem paderi untuk membatasi fungsi kepada sejumlah kecil kaum saleh. Karena sebagian besar telah dihentikan fungsinya, Tubuh pun menjadi lumpuh.

Oh, betapa liciknya si musuh! Langkahnya yang pertama adalah menggantikan hayat. Ia melakukannya dengan segala sesuatu selain Kristus. Langkahnya yang kedua adalah membunuh fungsi. Ia telah melakukan hal ini dengan cara menempatkan sistem paderi-awam.

Saudara saudari, kita harus melihat strategi jahat dari Iblis, si musuh, di belakang pergerakan ini. Kita telah menganggap sistem paderi-awam itu sangat biasa. Kita telah sangat terpengaruh oleh latar belakang kita dalam kekristenan, kita terjerumus sangat dalam, sehingga sistem yang jahat ini ada dalam pembuluh darah kita. Seharusnya tidak boleh ada golongan paderi dalam gereja, dan juga tidak boleh ada golongan awam. Kita semua menentang paderi, dan kita bahkan lebih menentang awam. Setiap orang saleh harus menjadi anggota yang berfungsi di dalam Tubuh. Iblis telah bergerak untuk mencekik dan membunuh fungsi yang normal dari semua anggota dengan sistem paderi-awam.

3. PERPECAHAN

Apakah Anda pikir Iblis sudah merasa puas dengan dua aktivitasnya? Tidak. Ia bahkan telah mengambil langkah lain lagi dengan menimbulkan sekte, denominasi, dan perpecahan dalam Tubuh Kristus. Ia bukan hanya menggantikan hayat dan membunuh fungsi anggota Tubuh, lebih-lebih telah memotong-motong Tubuh sampai berkeping-keping. Ia telah bergerak sedemikian rupa sampai secara total menghapus ekspresi Kristus. Hayat telah digantikan, fungsi telah sangat dirusak, bahkan akhirnya, seluruh Tubuh dipecah-belah. Ini adalah pukulan yang telak. Iblis sangat pintar.

Saya percaya ada sekitar 50.000 orang Kristen sejati di kota Los Angeles. Coba bayangkan, 50.000 orang ini tidak terbagi, melainkan semua bersama-sama sebagai satu gereja di Los Angeles. Alangkah hebat dampaknya! Coba bayangkan. Jika ada kesaksian seperti itu, sangat mudah menaklukkan seluruh bumi untuk Kristus. Apakah Anda melihat apa yang telah musuh lakukan dan betapa suksesnya dia? Oh, ia telah membuat kerusakan dan reruntuhan! Melalui tiga kategori inilah Iblis telah merusak hidup gereja.

Di Amerika Serikat, di manakah terdapat gereja yang belum dipengaruhi oleh ketiga kategori ini? Amerika Serikat adalah negara Kristen yang sudah kawakan, didirikan oleh bapa-bapa negara bagi iman Kristen. Tetapi hari ini di manakah dapat kita jumpai ekspresi gereja yang riil? Hampir tidak ada. Patut disesali, gereja telah didominasi oleh pengganti-pengganti Kristus, sistem paderi-awam, dan perpecahan. Itulah sebabnya kita sangat menekankan bahwa Kristus harus menjadi hayat kita, isi kita, dan segala sesuatu kita. Itulah sebabnya kita selalu membantu dan mendorong semua saudara saudari agar tampak kewajiban mereka dan fungsi mereka sebagai anggota Tubuh yang normal. Itu pula sebabnya kita sangat menaruh perhatian pada masalah keesaan tumpuan -- inilah satu-satunya cara untuk menangani perpecahan.

Kita telah melihat sisi yang gelap, sisi yang kacau, hasil pekerjaan perusakan Iblis. Tetapi puji Tuhan, ada sisi yang lain. Pergerakan Allah hari ini adalah untuk memulihkan. Apakah jalan pemulihan-Nya? Saya percaya banyak di antara kita yang ingin berada di jalan ini, yaitu yang berhubungan dengan tiga hal ini:

1) pemulihan Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu bagi kita,

2) pemulihan fungsi semua anggota, dan

3) pemulihan keesaan yang tepat.

Sebelum ketiga hal ini dipulihkan di antara kita, kita belum memiliki hidup gereja yang normal dan lengkap. Harus ada sekelompok orang Kristen yang tampak dan mengalami Kristus sebagai hayat dan isi mereka, yang tidak menggantikan fungsi yang lain. Tidak ada seorang pun anggota dalam kelompok ini yang akan menjadi paderi atau awam. Mereka semua adalah anggota Kristus yang hidup dan berfungsi; dan semuanya telah meninggalkan denominasi, sekte, dan perpecahan, dan berkumpul bersama di atas tumpuan keesaan untuk mempraktikkan kesatuan yang tepat. Jika ada kelompok seperti ini, inilah pemulihan Tuhan, di sinilah terdapat ekspresi riil dari Tubuh Kristus, dan di sinilah si musuh dan seluruh pekerjaannya dipermalukan.

PRINSIP ORANG NAZIR

"TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, mengucapkan nazar khusus, yakni nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur dan minuman yang memabukkan, jangan meminum cuka anggur atau cuka minuman yang memabukkan dan jangan meminum sesuatu minuman yang dibuat dari buah anggur, dan jangan memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang kering. Selama waktu kenazirannya janganlah ia makan sesuatu apa pun yang berasal dari pohon anggur, dari bijinya sampai kepada pucuk rantingnya. Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang. Selama waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, janganlah ia dekat kepada mayat orang; bahkan apabila mati ayahnya ataupun ibunya, saudaranya laki-laki ataupun saudaranya perempuan, janganlah ia menajiskan dirinya kepada mereka, sebab tanda kenaziran bagi Allahnya ada di atas kepalanya. Selama waktu kenazirannya ia kudus bagi TUHAN. Tetapi apabila seseorang mati di dekatnya dengan sangat tiba-tiba, sehingga ia menajiskan rambut kenazirannya, maka haruslah ia mencukur rambutnya pada hari pentahirannya, yaitu pada hari yang ketujuh haruslah ia mencukurnya. Pada hari yang kedelapan haruslah ia membawa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati kepada imam, ke pintu Kemah Pertemuan. Maka haruslah imam mengolah yang seekor menjadi kurban penghapus dosa dan yang lain menjadi kurban bakaran, dan mengadakan pendamaian bagi dia, oleh karena dia telah berdosa dengan berada dekat mayat. Pada hari itu juga ia harus menguduskan kepalanya dan mengkhususkan waktu kenazirannya bagi TUHAN. Ia harus membawa seekor domba jantan berumur setahun menjadi kurban penebus salah. Hari-hari yang sudah lewat dianggap batal, karena rambut kenazirannya telah menjadi najis" (Bil. 6:1-12).

"Kemudian bernazarlah ia (ibu Samuel), katanya: 'TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya" (1 Sam. 1:11).

"Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN. Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN" (1 Sam. 1:28).

"Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya" (Luk. 1:15).

TAMBAHAN ALLAH KEPADA KEIMAMAN

Dalam Kitab Keluaran dan Imamat, Tuhan menetapkan dan menunjuk berbagai macam orang untuk melayani-Nya. Kemudian, pada permulaan Kitab Bilangan, Tuhan memberi tahu Musa bagaimana menyatukan orang-orang yang berbeda ini menjadi satu pasukan untuk berperang. Sewaktu Ia memberi tahu Musa bagaimana menyatukan orang-orang ini, Tuhan memberikan kepada Musa tambahan dalam Bilangan 6. Tambahan ini adalah penyediaan khusus-Nya dalam menghadapi kemerosotan pada jabatan imam. Tuhan telah menunjuk dan menetapkan hanya keluarga Harun, dari suku Lewi, menjadi imam. Orang Lewi yang lain yang melayani di Kemah Pertemuan, bukanlah imam.

Tetapi keluarga Harun bisa saja tidak setia kepada Tuhan dan bahkan meninggalkan Dia. Pikiran seperti ini mungkin aneh bagi kita, tetapi tidak bagi Alkitab. Abraham dipilih oleh Allah setelah ras ciptaan jatuh. Dari Abraham muncul umat Israel, yang melaluinya Allah ingin mendapatkan kerajaan imam. Menurut Alkitab, imam adalah orang yang membuka dirinya sendiri kepada Tuhan sehingga Tuhan dapat berbaur dengan dia. Tuhan adalah isinya, dan ia adalah ekspresi Tuhan -- inilah imam. Tujuan Allah adalah membuat seluruh umat Israel menjadi kerajaan imam; tetapi, karena kegagalan Israel, Tuhan memilih suku Lewi untuk menggantikan bangsa imam Israel. Tetapi bukan seluruh suku Lewi dipilih Tuhan. Hanya orang-orang dari keluarga Harun yang bisa menjadi imam.

Percayakah Anda bahwa keluarga Harun tidak mungkin jatuh? Keluarga Harun akhirnya jatuh sampai kepada titik yang paling rendah pada masa anak-anak Eli (1 Sam. 2:12-17).

Tetapi, Tuhan sudah mengetahui hal ini lebih dahulu. Di samping ketetapan-Nya tentang keluarga Harun sebagai imam, Ia menyediakan tambahan dalam Bilangan 6. Tambahan ini berarti 'seandainya'. Seandainya keluarga Harun gagal, Tuhan membuka pintu samping sebagai penyediaan darurat. Ketika pintu depan rusak, perlu ada pintu samping. Karena itu, kita memiliki nazar orang nazir.

Nazir itu tidak dibatasi hanya bagi orang-orang tertentu, karena semua orang boleh menjadi nazir. Entah Anda orang Lewi, anggota keluarga Harun, laki-laki atau perempuan, Anda bisa masuk melalui pintu samping ini. Bahkan saudari-saudari tidak perlu sungkan mengetahui kenyataan bahwa seluruh imam dalam Perjanjian Lama adalah laki-laki; pintu samping ini terbuka untuk laki-laki maupun perempuan. Dalam keadaan normal, pintu utama sudah cukup, tetapi ketika keadaan tidak normal, perlu ada pintu samping. Prinsip nazar orang nazir adalah pintu ini terbuka bagi siapa saja. Tidak ada yang terkecuali.

PERSEMBAHAN DIRI SECARA SUKARELA

Apakah yang dimaksud dengan prinsip nazir? Prinsip nazir ialah persembahan diri secara sukarela. Ini bukan masalah ditunjuk, ditetapkan, atau bahkan dipilih oleh Tuhan, tetapi masalah mempersembahkan diri secara sukarela kepada-Nya. Dalam perkataan Hana, ibu Samuel, Anda hanya "meminjamkan" diri Anda. Jika saya kaya, Anda tidak perlu meminjamkan apa-apa kepada saya. Hanya bila saya miskin, saya perlu meminjam sesuatu dari Anda. Pada zaman Eli, Tuhan benar-benar "miskin" dalam masalah imamat; jadi Hana "meminjamkan" Samuel kepada-Nya. Ia memberi tahu Tuhan bahwa jika Tuhan memberinya seorang anak laki-laki, ia akan meminjamkannya kepada Tuhan. Ketika keadaan sedang tidak normal, sehingga Tuhan menjadi miskin dalam administrasi-Nya, seseorang perlu secara sukarela meminjamkan dirinya sendiri kepada Tuhan.

Sebenarnya Samuel termasuk suku apa? Kelihatannya Samuel adalah suku Lewi, tetapi sebenarnya ia termasuk suku Efraim (1 Sam. 1:1-2). Samuel sama sekali tidak termasuk keluarga Harun, tetapi ia menjadi imam melalui dipersembahkan, disisihkan, dan dipinjamkan kepada Tuhan. Samuel menjadi seorang imam melalui pintu samping, bukan melalui pintu utama. Ia menjadi imam menurut penyediaan tambahan dalam Bilangan 6, bukan menurut penunjukan atau penetapan.

Samuel juga bukan hanya imam, tetapi juga hakim. Semua hakim berada dalam garis kekuasaan. Ia adalah orang yang berada dalam jabatan imam dan raja. Selain itu, Samuel juga seorang nabi, yang mengalihkan zaman menjadi zaman kerajaan dengan jabatan raja. Betapa banyak yang terkait dengan satu orang ini! Ada keimaman, kekuasaan, kenabian, dan mengalihkan zaman kemerosotan menjadi zaman kerajaan. Samuel bukan dipilih oleh Allah, juga bukan ditetapkan atau ditunjuk oleh Tuhan. Orang yang demikian ajaib ini masuk ke dalam administrasi Allah hanya melalui prinsip nazir. Ketika keimaman merosot, Allah menyediakan pintu samping persembahan diri secara sukarela.

Meskipun Yohanes Pembaptis adalah anak imam, dan karenanya adalah imam melalui penunjukan dan penetapan, ia berfungsi sebagai imam yang aneh. Ia berfungsi bukan menurut kelahiran, tetapi menurut prinsip nazir. Ketika keadaan merosot dan tidak normal, imam menurut kelahiran, penetapan, dan penunjukan tidaklah cukup. Karena itu, tambahan ini diperlukan.

Menurut Anda, keimaman saat ini normal atau tidak? Tak dapat disangkal, keimaman saat ini berada dalam kondisi yang abnormal; karena itu, kita harus menyadari bahwa keimaman melalui penunjukan atau kelahiran tidaklah cukup. Karena pintu utama tidak cukup, maka pintu samping diperlukan. Jangan berdebat dengan mengatakan bahwa kita adalah imam dan raja melalui kelahiran. Meskipun itu benar, situasi hari ini tidaklah normal. Karena pintu utama telah rusak, kita perlu prinsip nazir sebagai pintu samping. Semua orang Kristen sejati dilahirkan sebagai imam dan raja, tetapi sayangnya, mereka tidak berfungsi sebagai imam dan raja. Kita harus menerapkan prinsip nazir. Tak peduli kita telah dilahirkan sebagai imam dan raja, kita harus mengambil kedudukan sebagai nazir dan mempersembahkan serta menyisihkan diri kita kepada Tuhan. Tak peduli seberapa banyak kita menyadari bahwa kita dilahirkan sebagai imam dan raja, jika kita tidak bersedia memisahkan diri kita kepada Tuhan, kita tidak mungkin dapat berbagian dalam keimaman yang sejati. Pintu utama dalam situasi yang tidak normal hari ini tidak cukup. Kita harus menggunakan pintu samping dengan menerapkan prinsip nazir untuk memisahkan diri kita kepada Tuhan.

PERSEMBAHAN DIRI EMPAT GANDA SEORANG NAZIR

Dipisahkan dari Kenikmatan Duniawi

Dalam persembahan diri seorang nazir, ada empat butir pemisahan. Pertama, seorang nazir tidak boleh minum atau makan sesuatu yang berasal dari anggur, dari buahnya sampai kulitnya. Dalam perlambangan, anggur atau segala sesuatu yang berasal dari anggur melambangkan kesenangan bumiah atau kenikmatan duniawi. Jika kita ingin berbagian dalam keimaman yang sejati, kita harus dipisahkan dari semua kesenangan bumiah. Dipisahkan dari kenikmatan duniawi itu sangat sulit karena negara ini adalah negara yang penuh dengan kenikmatan duniawi. Orang muda di Amerika Serikat sangat sulit mengenal keimaman yang sejati karena terlalu banyak godaan, kesenangan bumiah, dan hiburan duniawi. Begitu kita meminum sesuatu yang berasal dari anggur, kita telah terusak terhadap keimaman. Melalui kelahiran kembali, semua orang Kristen telah menjadi imam dan raja, tetapi hampir semua telah dirusak oleh anggur kenikmatan duniawi. Ini adalah perkara yang sangat serius.

Kita semua harus menyadari bahwa kekristenan hari ini telah merosot. Untuk mengambil kedudukan keimaman, kita harus dengan sukarela dipisahkan sepenuhnya dari anggur. Pemulihan Tuhan dapat kuat hanya dengan keimaman yang sepenuhnya terpisah dari kesenangan bumiah dan kenikmatan duniawi. Begitu kita berbagian dengan sesuatu dari dunia ini, kita tamat dalam keimaman. Orang lain tidak perlu memberi tahu kita; kita sudah mengetahuinya di batin. Kita masih tetap anak-anak Tuhan, tetapi kita bukan lagi imam-imam dalam realitasnya. Oh, kesenangan bumiah dan kenikmatan duniawi benar-benar telah merusak keimaman!

Anda mungkin bertanya, "Apa yang Anda maksudkan dengan kesenangan bumiah?" Jangan bertanya kepada saya, tanyalah diri Anda sendiri. Anda tahu! Anda tidak dapat berkata bahwa Anda tidak tahu. Anda tahu jelas kesenangan bumiah dan kenikmatan duniawi yang mana yang menjauhkan Anda dari keimaman. Dalam kemerosotan hari ini, Tuhan perlu mereka yang akan merintis jalan dalam persembahan diri yang mutlak. Persembahan diri ini harus tanpa syarat.

Dipisahkan dari Kemuliaan Diri Sendiri

Perkara kedua dari persembahan diri seorang nazir adalah rambutnya tidak boleh dicukur. Mereka yang berada dalam keimaman harus menjadi orang yang khusus. Kita harus agak aneh dan tidak umum. Jika saya mengatakan bahwa Anda aneh, Anda mungkin tidak senang. Tetapi kalau Anda mengatakan kepada saya bahwa saya aneh, saya akan amat senang. Menjadi aneh dalam hal ini adalah tepat bagi orang Kristen.

Apa artinya melarang seorang nazir mencukur rambutnya? Satu Korintus 11:14 mengatakan bahwa rambut panjang adalah kehinaan bagi laki-laki. Itu bukan kemuliaan, tetapi kehinaan. Rambut panjang adalah kemuliaan bagi perempuan, tetapi kehinaan bagi laki-laki. Seorang nazir adalah orang yang bersedia memikul kehinaan bagi Tuhan. Memiliki rambut panjang berarti dipisahkan dari kemuliaan diri sendiri. Diri kita telah diletakkan dalam kematian; karena itu, tidak ada kesadaran diri sendiri, kebenaran diri sendiri, atau kemuliaan diri sendiri. Asalkan kita memiliki sedikit kemuliaan diri sendiri, kita tidak mungkin berbagian dalam keimaman. Kita harus memikul kehinaan bagi kesaksian Tuhan dan untuk tujuan Tuhan. Jangan menjadi pencari kemuliaan; jadilah pemikul kehinaan. Jika kita mau menjadi imam, kita harus belajar memikul kehinaan.

Ibrani 13:13 mengajak kita keluar dari perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya, yaitu memikul rasa malu-Nya. Jangan takut akan nama buruk atau dicela. Jika kita tidak cukup berani menanggung kehinaan, kita tidak bisa berbagian dalam keimaman. Seorang imam adalah orang yang berambut panjang; yaitu orang yang tidak memiliki kemuliaan diri sendiri. Sebagai seorang imam yang sejati, Anda harus siap diremehkan orang. Di negara yang penuh dengan hiburan dan pemburu kemuliaan ini, Anda dapat membicarakan apa pun kepada orang-orang Kristen kecuali pemisahan dari dunia dan penyangkalan kemuliaan diri. Begitu Anda berbicara mengenai hal-hal ini, mereka akan tersinggung. Ada harga yang harus dibayar bagi keimaman. Kita harus memikul kehinaan, menyangkal semua kemuliaan diri sendiri bagi kepentingan-Nya.

Dipisahkan dari Kasih Alamiah

Perkara ketiga dari persembahan diri seorang nazir adalah ia tidak boleh dicemari oleh sesuatu yang mati, terutama oleh kematian kerabat terdekatnya. Kerabat terdekat kita, yang mewakili kasih alamiah kita, dapat menjadi sarana yang mematikan kita. Kita harus dipisahkan dari kasih alamiah kita, yang sangat mudah mematikan. Kita dapat dengan mudah dimatikan oleh kematian orang lain. Kita harus mengatasi kasih alamiah kita dan tidak terpengaruh oleh ibu, ayah, saudara perempuan, atau bahkan istri atau suami kita. Urusan kita dengan Tuhan harus tidak dilibatkan dengan apa saja yang berasal dari kasih alamiah kita. Kalau tidak, kita akan segera mati. Kita dilahirkan sebagai imam dan raja, tetapi bagaimana hubungan kita dengan orang tua, saudara laki-laki, dan saudara perempuan kita? Semuanya tidak lain berarti kita harus mengatasi kasih alamiah kita.

Banyak orang Kristen yang telah dilahirkan sebagai imam dan raja, tetapi tidak berfungsi pada hari ini karena ketiga hal ini: kesenangan atau hiburan bumiah, kemuliaan diri sendiri, dan kasih alamiah. Kalau kita ingin mewujudkan posisi keimaman yang riil, kita harus dengan sukarela mempersembahkan diri kita kepada Tuhan untuk dipisahkan dari hal-hal tersebut.

Dipisahkan dari Kematian Rohani

Selain itu, firman Tuhan jauh lebih jelas lagi mengenai kematian rohani. Bilangan 6:9 mengatakan bahwa jika seseorang mati secara tiba-tiba di dekat Anda, Anda akan tercemar. Bukan hanya kematian kerabat kita, tetapi kematian siapa saja dapat mempengaruhi kita. Jika kita dimatikan oleh mereka, semua hari pemisahan kita akan hilang. Kita mungkin telah mengatasi kasih alamiah kita, tetapi misalkan suatu hari dalam hidup gereja seorang saudara yang berdiri di dekat kita tiba-tiba mati. Maksud saya bukanlah ia mati secara fisik, tetapi secara rohani. Jika hal ini terjadi, kita harus hati-hati, jangan terpengaruh olehnya. Jangan biarkan ia menularkan kematiannya kepada Anda. Iblis adalah sumber kematian, dan ia selalu senang menyebarkan kematian kepada orang lain. Banyak saudara dan saudari dalam hidup gereja telah dimatikan oleh satu atau dua orang anggota yang mati. Kapan saja kita merasakan atau mencium bau kematian rohani, kita harus menyingkir.

Senangkah Anda memandangi tempat sampah? Tak peduli betapa bagusnya sebuah rumah, rumah itu pasti memiliki tempat sampah. Bahkan istana raja memiliki tempat sampah. Jika Anda datang ke rumah saya, apakah Anda datang untuk mencium dan menikmati tempat sampah? Kadang-kadang sewaktu Anda mengunjungi satu gereja lokal, Anda tidak pergi ke ruang tamu, tetapi ke tempat sampah. Anda tidak berusaha menikmati hal-hal yang baik, tetapi menikmati tempat sampah -- gosip-gosip, kritik-kritik, sungut-sungut. Akhirnya, Anda dimatikan. Semakin bersentuhan dengan hal-hal itu, Anda semakin tidak mampu berdoa. Anda dimatikan. Anda mungkin punya seratus alasan untuk mendengarkan perkataan yang negatif, tetapi Anda dimatikan. Jika ada orang yang mati secara tiba-tiba di dekat Anda, Anda harus menyingkir. Menyingkirlah dari anggota yang mati, atau roh Anda akan dimatikan.

Kesenangan bumiah, kemuliaan diri sendiri, kasih alamiah, dan kematian rohani yang tiba-tiba dalam diri orang lain harus ditanggulangi; jika tidak, keimaman akan rusak. Kita semua harus menyadari bahwa situasi hari ini tidaklah normal. Jika situasinya normal, tidak perlu menerapkan prinsip nazir. Kita harus dengan sukarela menjadi nazir, seperti Samuel, yang mengalihkan zaman yang merosot kepada zaman kerajaan. Seorang nazir yang lain, Yohanes Pembaptis, mengalihkan zaman Perjanjian Lama kepada zaman Perjanjian Baru dan mendatangkan Tuhan Yesus Kristus.

Di hari-hari terakhir ini harus ada orang yang mengalihkan zaman. Hanya orang nazir yang dapat membawa Tuhan Yesus kembali. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh kekristenan hari ini, tetapi oleh mereka yang secara sukarela memisahkan diri mereka dari kesenangan bumiah, kemuliaan diri sendiri, kasih alamiah, dan kematian rohani yang tiba-tiba pada diri orang lain. Mereka akan menjadi orang nazir hari ini yang akan mengalihkan zaman kemerosotan menjadi zaman kerajaan. Mereka akan membawa Tuhan kembali.

Kita harus berdoa mengenai prinsip nazir ini. Jangan mengatakan kita telah dilahirkan sebagai imam dan raja. Penentuan melalui kelahiran tidak berguna di bawah kemerosotan hari ini. Perlu ada pintu samping yaitu nazar orang nazir. Kita semua harus meminjamkan diri kita kepada Tuhan. Ditinjau dari sumber daya rohani, Tuhan sangat miskin hari ini. Kita harus mempersembahkan diri kita kepada-Nya sehingga Ia dapat meminjam kita bagi tujuan-Nya. Hanya nazar orang nazir yang dapat memenuhi keperluan yang mendesak hari ini. Tuhan sedang memanggil orang yang mau memisahkan diri mereka sepenuhnya dari semua kenikmatan bumiah, kemuliaan diri sendiri, kasih alamiah, dan kematian rohani. Siapakah yang mau menjadi sukarelawan?

KUNCI UNTUK MENGALAMI KRISTUS —

ROH MANUSIA

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”

(Kol. 2:6).

Menerima Kristus adalah perkara yang sangat menakjubkan; tetapi itu hanyalah suatu permulaan, hanyalah pencicipan atas kekayaan-kekayaan Kristus. Banyak orang Kristen damba untuk mengalami segala adanya Kristus dan hidup oleh-Nya dalam segala hal. Kami percaya bahwa buklet ini akan membantu membawa mereka ke dalam pengalaman kehidupan sehari-hari dengan “Kristus menjadi hayat kita” (Kol. 3:4).

Marilah kita memulainya dengan sebuah contoh. Sebelum memasuki suatu ruangan yang terkunci, kita harus tahu kuncinya dan cara menggunakan kunci tersebut. Demikian pula sebelum kita dapat memasuki realitas pengalaman atas segala kepenuhan Kristus, kita harus tahu kuncinya dan cara menggunakannya. Karena itu, tujuan dari buklet ini adalah untuk menunjukkan kuncinya. Jika kita tahu kunci dan cara menggunakannya, kita akan memiliki kiat yang dengannya kita dapat membuka pintu untuk menuju pengalaman atas segala kepenuhan kekayaan Kristus yang adalah hayat kita. Jadi, kunci ini adalah sesuatu yang sangat penting.

Satu ayat yang sangat penting dalam Perjanjian Baru adalah 1 Tesalonika 5:23, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Manusia terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Inilah tiga bagian yang berbeda dan terpisah dari seorang manusia.

Tidaklah sulit membedakan tubuh dengan jiwa; setiap orang tahu bahwa bagian-bagian ini berbeda. Tetapi tidaklah mudah bagi orang-orang Kristen untuk membedakan jiwa dengan roh. Faktanya, banyak orang yang mengira bahwa roh dan jiwa adalah sama. Tetapi dalam ayat di atas, Roh Allah menyatakan dengan jelas dalam firman-Nya bahwa manusia terdiri atas tiga bagian. Bagian-bagian ini dihubungkan dengan dua kata sambung: “roh dan jiwa dan tubuh” (terjemahan langsung).

Ayat lain yang menunjukkan perbedaan antara roh dan jiwa adalah Ibrani 4:12, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh.” Jiwa dan roh bukanlah satu, karena ayat ini menunjukkan bahwa keduanya dapat dipisahkan. Jiwa adalah jiwa dan roh adalah roh, dan keduanya harus dipisahkan.

Dalam alam semesta terdapat tiga alam yang berbeda: jasmani, jiwani, dan rohani. Karena manusia terdiri atas tiga bagian, maka manusia dapat berkontak dengan tiga alam yang berbeda ini. Pertama-tama, ada alam jasmani dengan begitu banyak benda material. Kita berkontak dengan alam jasmani melalui kelima indra tubuh jasmani kita: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan perasa. Kemudian ada alam rohani. Apakah mungkin kita berkontak dengan alam rohani melalui kelima indra tubuh kita? Tentu saja tidak. Alam rohani hanya dapat dijamah dengan roh kita. Dalam roh kita, kita memiliki perasaan rohani yang membuat kita dapat merasakan Allah.

Ada juga alam jiwani (psikologis), suatu alam yang bukan jasmani dan juga bukan rohani. Misalnya, seseorang memberi Anda sejumlah besar uang dan Anda merasa sangat gembira. Kegembiraan ini termasuk dalam alam jasmani atau rohani? Kegembiraan, kesenangan, dan bahkan penderitaan termasuk dalam alam jiwani. Kata jiwani (psikologis) dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani psuche yang diterjemahkan sebagai jiwa dalam Perjanjian Baru. Secara sederhana psikologi justru berarti “ilmu yang mempelajari tentang jiwa”. Jadi, ada alam jiwani yang di dalamnya terdapat penderitaan dan kesenangan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki tiga bagian — roh (Za. 12:1), jiwa (Yer. 38:16), dan tubuh (Kej. 2:7) — agar dia dapat berkontak dengan tiga alam yang berbeda - rohani, jiwani, dan jasmani.

Jiwa juga terdiri atas tiga bagian. Salah satu dari ketiga bagian jiwa adalah emosi (Ul. 14:26; Kid. 1:7; Mat. 26:38); dalam emosi inilah kita mengasihi, mendambakan, membenci, dan bersukacita atau menderita. Bagian lain dari jiwa adalah pikiran (Yos. 23:14; Mzm. 139:14; Ams. 19:2). Dalam pikiran kita memiliki pemahaman, pertimbangan, ide, dan konsepsi. Bagian ketiga dari jiwa adalah tekad (Ayb. 7:15; 6:7; 1 Taw. 22:19) yang melaluinya kita membuat keputusan. Kesenangan dan penderitaan kita adalah sesuatu yang berasal dari emosi. Ketika kita memikirkan atau mempertimbangkan sesuatu, kita menggunakan pikiran. Dan ketika kita membuat keputusan untuk melakukan hal tertentu, tekad kita bekerja. Karena itu, pikiran, tekad, dan emosi adalah tiga bagian dari jiwa. Dengan pikiran kita berpikir; dengan tekad kita memilih; dan dengan emosi kita menyenangi atau tidak menyenangi, mengasihi atau membenci.

Ketika berkontak dengan alam jiwani kita menggunakan jiwa, bagian jiwani dari diri kita. Prinsip yang sama juga berlaku dengan alam rohani. Jika kita hendak berkontak dengan sesuatu yang rohani, kita harus menggunakan roh kita. Izinkanlah saya memberi contoh dengan cara ini. Misalnya, seseorang sedang berbicara dengan bersuara. Suara itu riil; namun Anda menutup telinga dan mencoba menggunakan mata untuk melihat suaranya, Anda tidak akan dapat mendengarnya, karena Anda memakai organ yang salah. Jika kita ingin mendengar suaranya, kita harus memakai organ pendengaran. Prinsip yang sama juga berlaku dalam hal membedakan warna. Anda mengenal warna biru, hijau, ungu, merah, dan warna indah yang lain. Namun, jika Anda memakai telinga untuk mendengarkan warna-warna tersebut, Anda tidak akan pernah dapat menikmati keindahannya. Hakikinya ada di sana, tetapi Anda tidak dapat melihatnya karena Anda menggunakan organ yang salah.

Kemudian, bagaimana kita dapat berkontak dengan Allah? Organ apa yang akan kita gunakan? Pertama-tama kita harus melihat apakah jenis hakiki Allah. Satu Korintus 15:45; 2 Korintus 3:17; Yohanes 14:16-20; dan Yohanes 4:24 memberi tahu kita bahwa Allah adalah Roh. Dapatkah kita berkontak dengan Allah melalui tubuh jasmani kita? Tidak! Karena itu adalah organ yang salah. Dapatkah kita berkontak dengan Allah melalui organ psikologis, jiwa? Tidak! Karena itu juga adalah organ yang salah. Kita dapat berkontak dengan Allah hanya dengan roh kita, karena Allah adalah Roh. Yohanes 4:24 mengatakan, “Allah itu Roh, dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh . . .” Inilah ayat yang sangat penting! Kata “Roh” yang pertama berhuruf besar, mengacu kepada Roh ilahi, yaitu diri Allah sendiri. Kata “roh” yang kedua tidak berhuruf besar, karena mengacu kepada roh manusia. Allah adalah Roh, dan kita harus menyembah-Nya dalam roh kita. Kita tidak dapat menyembah atau berkontak dengan-Nya melalui tubuh atau jiwa. Karena Allah adalah Roh, kita harus berkontak dengan-Nya, menyembah-Nya, dan bersekutu dengan-Nya dalam roh dan dengan roh kita.

Sekarang, marilah kita melihat ayat lain yang menyebutkan tentang kedua roh ini. Yohanes 3:6 mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.” Kita semua tahu bahwa kita telah dilahirkan lagi atau dilahirkan kembali, tetapi apakah artinya? Secara sederhana itu berarti bahwa roh kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah. Apa yang dilahirkan dari Roh (Roh Allah) adalah roh (roh manusia). Ayat ini memberi tahu kita di bagian mana kita dilahirkan kembali. Kita bukan dilahirkan kembali dalam tubuh atau dalam jiwa, tetapi dalam roh. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, Roh Allah masuk ke dalam roh kita. Roh Kudus menghidupkan dan memberikan hayat untuk melahirkan kembali roh kita. Pada saat kita percaya kepada Tuhan Yesus, Roh Kudus datang dengan Kristus sebagai hayat untuk menghidupkan dan melahirkan kembali roh kita, dan sejak saat itu Dia berhuni dalam roh kita (Yoh. 4:24; Rm. 8:16; 2 Tim. 4:22; 1 Kor. 6:17).

Yesus Kristus datang ke bumi dan hidup sebagai seorang manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian Dia disalibkan karena dosa-dosa kita; Dia mati, bangkit, dan menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Dua Korintus 3:17 mengatakan bahwa “Tuhan (Kristus) adalah Roh”. Kita harus sangat bersyukur karena Kristus, Roh pemberi-hayat itu, telah masuk ke dalam kita. Kita telah diciptakan sebagai bejana atau wadah, tersusun dari tubuh, jiwa, dan roh. Ke dalam roh kita inilah Kristus datang sebagai Roh pemberi-hayat. Ayat-ayat di depan dengan jelas menerangkan bahwa sekarang Allah berhuni dalam roh kita. Tetapi ingatlah bahwa Allah yang ada di dalam kita bukan hanya Allah, bahkan Yesus Kristus. Apa adanya Kristus, apa yang dilakukan-Nya, dan apa yang dicapai serta diperoleh-Nya, semuanya telah tercakup dalam Roh pemberi-hayat ini. Sekarang Roh pemberi-hayat ini telah masuk ke dalam roh kita dan berbaur dengan roh kita, dengan demikian menyatukan kita dengan-Nya menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Terpujilah Dia, kita menjadi satu dengan Tuhan dalam roh kita. Jika kita tahu bagaimana “berpaling ke roh kita”, kita dapat berkontak dengan Kristus. Inilah rahasianya! Inilah kuncinya!

Orang-orang yang tidak percaya hanya memiliki kehidupan jasmani dalam tubuh dan kehidupan insani atau jiwani dalam jiwa. Mereka tidak memiliki hayat Allah yang kekal dalam roh mereka, karena mereka tidak menerima Kristus sebagai hayat kekal ke dalam roh mereka. Karena itu orang-orang yang tidak percaya hanya dapat hidup dengan jiwa atau tubuh. Sebelum diselamatkan, kita semua hidup, berjalan, dan berperilaku dalam jiwa. Tetapi sekarang setelah diselamatkan, kita memiliki hayat lain dalam kita yang adalah Kristus itu sendiri dan kita harus belajar hidup dengan hayat ini. Hari ini keperluan kita adalah berpaling untuk hidup dalam arah yang lain — yaitu dari jiwa ke roh. Sebelum diselamatkan, kita hidup oleh hayat manusia dalam jiwa. Sejak diselamatkan, kita harus hidup oleh hayat ilahi dalam roh.

Sekarang, apakah Anda melihat keperluan untuk selalu berpaling ke dalam roh kita? Kristus ada dalam roh kita, dan jika kita mau bertemu dengan Kristus, kita harus berpaling ke dalam roh. Sebelum kita melakukan apa pun, pergi ke mana pun, atau mengatakan apa pun, kita harus berpaling ke dalam roh. Jika kita belajar melakukan hal ini, kita akan melihat banyak perubahan dalam kehidupan kita.

Ini sungguh menakjubkan! Kristus adalah Roh, kita memiliki roh, dan kedua roh ini digabungkan menjadi satu. Sekarang melalui berpaling ke dalam roh kita dan melatih atau menggunakan roh kita, kita memiliki jalan untuk mengalami realitas dari segala adanya Kristus bagi kita. Dalam 1 Timotius 4:7-8, Rasul Paulus menyuruh kita untuk melatih diri kita beribadah. Beberapa saudara setiap hari berolahraga atau bersenam untuk tubuh mereka. Ini baik; bahkan Paulus mengatakan bahwa latihan jasmani memiliki beberapa faedah. Itu baik namun terbatas. Tetapi Paulus menggambarkan jenis “latihan” lain yang berfaedah untuk selamanya — baik untuk hari ini atau untuk kekekalan! Karena itu kita seharusnya lebih memperhatikan latihan jenis ini, yaitu latihan roh kita.

Bagaimana kita tahu bahwa melatih diri beribadah berarti melatih roh kita? Pertama, mari kita mempertimbangkannya dari sudut pandang yang logis. Paulus membicarakan dua jenis latihan: yang satu adalah latihan tubuh, tetapi apakah latihan yang lain? Apakah itu adalah latihan pikiran, latihan psikologis atau kejiwaan? Kelihatannya kita telah memiliki cukup banyak latihan ini dalam Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Perguruan Tinggi. Sejak permulaan masa kanak-kanak, kita telah belajar melatih pikiran. Kita telah belajar melatih bagian diri kita ini dengan sangat baik. Selain latihan tubuh dan pikiran, jenis latihan lain apakah yang benar-benar kita perlukan? Secara spontan kita harus menjawab, “Latihan roh kita.”

Kita harus menyadari bahwa sebagai orang Kristen, yang penting bukanlah perkara apa yang akan kita lakukan, tetapi bagaimana kita akan melakukannya. Apakah kita bertindak oleh tubuh, oleh jiwa, atau oleh roh? Banyak saudara dan saudari yang mudah sekali gagal dalam mempergunakan roh mereka karena mereka terus-menerus mempergunakan pikiran, emosi, dan tekad mereka, atau tubuh jasmani mereka, tetapi tidak mempergunakan roh mereka. Kita berdoa, berbicara, berargumentasi, membaca Alkitab, mempertimbangkan, berdebat, dan berunding — sebagian besar adalah melatih jiwa kita. Kita bahkan dapat mengutip Kitab Suci dari jiwa kita! Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk berpaling ke roh kita. Kita harus berpaling!

Sebagai contoh, ketika kita datang kepada Tuhan dalam doa atau datang kepada firman Allah untuk berkontak dengan Dia, kita harus menolak hayat jiwa (pemahaman kita, perasaan kita, keinginan kita) dan berpaling ke dalam roh untuk berkontak dan bersekutu dengan-Nya. Kita tidak pernah dapat bertemu dengan Kristus melalui melatih kemampuan jiwa kita. Kristus ada dalam roh kita, bukan dalam jiwa kita. Hanya dengan mempergunakan roh kita itulah kita dapat bertemu dengan-Nya. Tentu saja kita tidak seharusnya berpikir bahwa Tuhan menghendaki kita membuang kemampuan pikiran, emosi, dan tekad kita. Tidak. Pikiran, emosi, dan tekad diciptakan oleh Allah untuk kemuliaan-Nya. Tetapi kehendak Tuhan adalah supaya kita membuang pikiran, emosi, dan tekad yang jahat, yang berasal dari Adam, sebagai inti kehidupan kita dan membiarkan hayat Kristus dalam roh kita menguasai diri kita. Pikiran, emosi, dan tekad kita telah dirusak sedemikian rupa sehingga manusia alamiah tidak mungkin dapat berkontak dengan Allah atau bersekutu dengan-Nya, “Tetapi manusia jiwani tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah” (1 Kor. 2:14). Inilah sebabnya kita perlu kelahiran baru dalam roh kita (Yoh. 3:6-7).

Sebelum diselamatkan, kita benar-benar jatuh. Kita hidup dalam dan oleh hayat yang jatuh dan jiwani ini, yang sepenuhnya berlawanan dengan Allah. Kita harus belajar tidak lagi melakukan apa pun dengan hayat yang jatuh ini, tetapi sepenuhnya hidup oleh hayat ilahi yang ada dalam roh kita. Mulai sekarang, kita tidak seharusnya mengambil hayat yang jatuh dalam jiwa sebagai sumber kehidupan kita, melainkan hayat ilahi dalam roh kita. Karena itu, kita harus tahu bahwa bukan pikiran, emosi, dan tekad yang harus ditolak dan dibinasakan, melainkan, hayat dari jiwalah yang harus kita buang. Kita perlu tahu bahwa hayat alamiah, hayat dari jiwa ini telah disalibkan (Gal. 2:20; Rm. 6:6) dan bahwa sekarang kita harus menerima Kristus sebagai hayat kita. Tetapi kemampuan jiwa kita tetap tinggal sebagai alat yang dipakai oleh Roh untuk mengekspresikan diri Tuhan sendiri.

Kita juga harus sangat jelas bahwa latihan roh bukan hanya dalam doa dan menjamah firman Allah, tetapi juga dalam segala sesuatu. Jika Anda tidak memiliki penegasan dan perasaan dalam roh, maka hentikanlah apa yang akan Anda katakan, tidak peduli apakah hal itu baik atau jelek. Kita tidak seharusnya mempertimbangkan, “Apakah itu baik atau jelek?” Orang Kristen tidak seharusnya hidup secara demikian! Satu-satunya pertimbangan kita seharusnya adalah: “Apakah aku berada di dalam roh atau di dalam jiwa? Apakah aku melakukan hal ini berdasarkan diri sendiri atau kehendak Tuhan?” Jika kita mengatakan berdasarkan Tuhan, kita tidak membicarakan Tuhan secara objektif, tetapi secara subjektif. Kita mengacu kepada-Nya sebagai Roh pemberi-hayat yang berbaur dengan roh kita. Kita harus melatih roh setiap saat dan di setiap tempat.

Untuk mengetahui perbedaan antara tubuh dengan jiwa itu mudah, tetapi untuk membedakan roh dengan jiwa agak sulit. Ilustrasi berikut ini sangat membantu. Misalnya, kita ingin membeli sesuatu barang. Semakin kita mempertimbangkannya, semakin kita merasa ingin memilikinya. Pada akhirnya, kita memutuskan untuk membelinya. Emosi digunakan sejak kita menyenanginya, pikiran digunakan karena kita mempertimbangkannya, dan tekad digunakan karena kita telah memutuskan untuk membelinya. Karena itu seluruh jiwa kita digunakan. Tetapi ketika kita pergi untuk membelinya, sesuatu di dalam kita menentang dan melarangnya. Inilah roh kita. Roh adalah bagian yang paling dalam dari diri kita, bagian yang paling dalam dari seluruh diri kita. Dalam setiap aspek kehidupan kita, kita harus mengikuti perasaan yang paling dalam yang ada di dalam kita.

Tidakkah terbukti kepada kita bahwa kebanyakan orang Kristen benar-benar telah mengabaikan sasaran ini? Kita selalu mempertimbangkan apa yang benar dan apa yang salah. Kita mengira bahwa jika sesuatu itu salah, kita tidak seharusnya melakukannya; tetapi jika sesuatu itu benar, kita harus melakukannya. Itu bukanlah jalannya. Benar atau salah adalah ajaran agama. Jika kita bertindak menurut agama, maka Kristus tidak akan ada nilainya. Hal mengalami Kristus dan keselamatan Allah benar-benar berbeda dengan agama. Itu bukan hal benar atau salah, tetapi hidup dan melakukan sesuatu dalam jiwa atau dalam roh. Sasaran ini telah diabaikan dan bahkan telah dihilangkan oleh kekristenan. Hari ini Tuhan akan memulihkan sasaran ini karena ini adalah kunci dari segala sesuatu.

Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah membedakan apakah kita berada dalam roh atau dalam jiwa dalam segala hal yang kita lakukan atau katakan. Itu bukanlah perkara benar atau salah, baik atau jahat, tetapi perkara Kristus atau diri sendiri, roh atau jiwa. Kita harus melihat apakah seluruh kehidupan dan jalan kita sehari-hari berada dalam roh kita.

Dalam keempat kitab Injil — Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes — Tuhan Yesus berkali-kali menyuruh kita menyangkal diri dan kehilangan nyawa beserta hayat jiwanya (Mat. 16:24-26; Mrk. 8:35; Luk. 9:23-25; Yoh. 12:25). Kemudian, dalam Surat-surat Rasuli, kita berkali-kali dianjuri untuk berjalan, hidup, berdoa, dan melakukan segala sesuatu dalam roh (Kis. 17:16; Rm. 1:9; Rm. 12:11; 1 Kor. 16:18; 1 Ptr. 3:4; Ef. 6:18; Why. 1:10). Karena itu kita harus terus-menerus tinggal dalam roh.

Ketika seseorang melatih rohnya, Roh Kudus bebas bergerak dan mengalir. Tetapi ini benar-benar adalah suatu peperangan, karena Iblis tahu bahwa jika kita semua membebaskan roh kita, maka ia akan dikalahkan. Ia dengan tersembunyi melakukan sesuatu yaitu menghambat roh orang-orang kudus. Selama ia dapat menghambat roh kita, kita tamat dan ia berhasil. Karena itu, kita harus berjuang dalam peperangan ini. Kita harus belajar membebaskan roh setiap saat di setiap tempat. Tidak peduli kita sendirian atau di tempat umum, kita harus terus-menerus melatih roh kita.

Sebagai kesimpulan, pertama kita harus tampak bahwa Kristus adalah Roh dalam roh kita. Kemudian kita harus mengetahui perbedaan antara roh dengan jiwa melalui menyangkal hayat jiwa dan hidup bersama dengan Tuhan dalam roh kita. Ketika kita bekerja sama dengan roh kita dalam cara ini, Kristus akan mendapat tempat pertama dalam segala sesuatu. Kemudian kita akan mengalami Kristus dalam roh kita serta belajar menerapkan dan mengalami Dia dalam segala sesuatu.

W.L.

BERDOALAH DEMIKIAN

"Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat. (Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

(Mat. 6:5-15)

Biasanya sewaktu membicarakan doa, kita memperhatikan jawaban doa. Tetapi di sini Tuhan Yesus tidak menekankan pada jawaban doa, melainkan upah doa, "doa yang mendapat upahnya". Berdasarkan apa berkata demikian? Berdasarkan perkataan "mendapat upahnya" yang terdapat dalam ayat 5, kata-kata yang sama seperti yang digunakan dalam ayat 2 tentang memberi sedekah, dan ayat 16 tentang berpuasa. Kalau "mendapat upahnya" itu berarti jawaban doa, lalu apa arti mendapat upahnya dalam memberi sedekah dan berpuasa? Kalau dilihat dari konteksnya, "upah" di sini mengacu kepada upah yang akan diperoleh seseorang pada zaman Kerajaan. Di sini diperlihatkan bahwa masalah terjawabnya doa itu nomor dua, sedangkan yang utama adalah doa yang mendapat upahnya. Kalau doa kita sesuai dengan kehendak Allah, doa kita bukan hanya akan terjawab, tetapi juga akan diingat dan diberi upah kelak di depan takhta penghakiman Kristus. Jadi, doa yang disebutkan di sini bukan hanya memberi jawaban hari ini, tetapi juga akan memberi kita kebenaran. Dengan perkataan lain, doa kita adalah kebenaran kita.

Akan tetapi, kebenaran doa itu tidak bisa diperoleh melalui doa yang sembarangan, doa yang di mulut tetapi tanpa hati, doa yang mengarang cerita, atau doa yang berasal dari motivasi yang tidak murni. Di sini, di satu pihak, Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak meniru doa-doa dari dua jenis orang. Di pihak lain, Dia juga memberi kita pola (contoh) doa. Terlebih dulu mari kita membahas dua jenis doa yang seharusnya tidak kita ikuti.

JANGANLAH SEPERTI ORANG MUNAFIK

YANG BERDOA SUPAYA DILIHAT ORANG

Tuhan Yesus berkata, "Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang." Pada pokoknya berdoa adalah berkomunikasi dengan Allah, untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Tetapi orang-orang munafik menggunakan doa yang seharusnya memuliakan Allah itu untuk memuliakan diri sendiri; karena itu mereka senang berdoa dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya. Mereka berbuat demikian dengan maksud supaya dilihat orang, sebab rumah ibadat dan tikungan jalan adalah tempat-tempat umum, di mana orang-orang berkumpul atau melintas. Mereka berdoa bukan agar didengar Allah, tetapi agar dilihat orang. Maksud mereka adalah menonjolkan diri mereka sendiri. Doa-doa seperti ini sangat dangkal, tidak dapat dianggap sebagai doa kepada Allah atau bersekutu dengan Allah. Karena motivasi doa seperti ini adalah untuk menerima kemuliaan dari manusia, dan karena tidak ada suplai yang tersimpan di hadapan Allah, maka mereka tidak akan menerima apa pun dari Tuhan. Mereka telah menerima upahnya, yaitu pujian dari manusia, jadi dalam kerajaan yang akan datang, tidak akan ada apa-apa lagi untuk dikenang.

Kalau begitu, bagaimana seharusnya kita berdoa? Tuhan Yesus berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Di sini frase "dalam kamarmu" mempunyai makna kiasan. "Rumah-rumah ibadat" dan "tikungan-tikungan jalan raya" mewakili tempat-tempat terbuka (umum), sedangkan "dalam kamar" mewakili tempat yang tersembunyi. Saudara saudari, Anda bisa mendapatkan "kamar" walaupun di tikungan-tikungan jalan raya dan di tempat-tempat ibadat, di jalan-jalan umum maupun dalam mobil. Kamar adalah tempat Anda berkomunikasi dengan Allah secara diam-diam, tempat Anda tidak memamerkan doa Anda dengan sengaja. "Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu" maksudnya mengurung diri sendiri dan menolak dunia. Dengan kata lain, kita harus mengabaikan segala suara di luar dan dengan diam-diam berdoa sendiri kepada Allah.

"Berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Perkataan ini sungguh menghibur. Berdoa kepada Bapamu yang tersembunyi itu perlu iman. Walaupun Anda tidak merasa apa-apa secara luaran, tetapi Anda harus percaya bahwa Anda sedang berdoa kepada Bapa yang ada di tempat yang tersembunyi. Dia ada di tempat tersembunyi, tidak terlihat oleh mata, namun Dia benar-benar ada di sana. Dia tidak meremehkan doa Anda, Dia yang ada di tempat tersembunyi itu melihat. Semua ini adalah tanda yang menunjukkan betapa besar perhatian-Nya terhadap doa Anda. Dia tidak hanya melihat lalu pergi, tetapi Dia akan membalasnya kepada Anda. Percayakah Anda? Kalau Tuhan berkata "akan membalasnya", Dia akan membalasnya. Tuhan menjamin bahwa doa Anda di tempat tersembunyi itu tidak akan sia-sia. Kalau Anda berdoa dengan benar, Bapa akan membalas Anda. Walaupun hari ini kelihatannya tidak ada balasan apa pun, akan tiba harinya saat Anda menerima upah. Saudara saudari, apakah doa Anda di tempat yang tersembunyi itu lulus penyaringan Bapa di tempat yang tersembunyi? Percayakah Anda bahwa Bapa yang melihat Anda di tempat yang tersembunyi akan membalasnya kepada Anda?

JANGANLAH SEPERTI BANGSA-BANGSA YANG TIDAK MENGENAL ALLAH

Tuhan Yesus tidak hanya mengajar kita untuk tidak memamerkan diri sendiri, tetapi juga mengajar kita: "Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele (mengulang-ulang dengan sia-sia) seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." "Bertele-tele" atau mengulang-ulang dengan sia-sia dalam bahasa Yunaninya berarti mengulang-ulang secara monoton seperti orang gagap berbicara. Beberapa orang mengulang-ulang kata-kata yang sama secara monoton dalam doa mereka. Doa demikian tidak lebih dari suara-suara tanpa arti. Kalau Anda di dekat mereka dan mendengarkan doa-doa mereka, Anda akan mendengar bunyi yang monoton berulang-ulang seolah-olah Anda sedang berada dekat sungai sambil mendengarkan riak-riak air yang menimpa batu-batuan atau berdiri dekat jalan berbatu-batu dan mendengarkan gilasan terus-menerus dari roda pedati yang melaluinya. Mereka melantunkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, maka doanya akan dikabulkan. Namun doa yang demikian adalah sia-sia dan tidak berkhasiat. Kita tidak boleh berdoa seperti itu.

Saudara saudari, doa-doa Anda tidak seharusnya hanya berupa suara yang tanpa arti. Banyak doa orang-orang dalam sidang doa tidaklah berarti. Bila Anda tidak mengatakan "amin" atas doa mereka, mereka akan menuduh Anda tidak sehati dengan mereka. Tetapi kalau Anda mengaminkan doa mereka, mereka akan terus mengulangi perkataan tersebut. Mereka berdoa bukan untuk mencapai suatu tujuan, tetapi untuk membangkitkan pendukung. Doa mereka bukan untuk melepaskan beban, tetapi untuk menyelesaikan satu pidato. Ada banyak doa yang dipengaruhi manusia, ada banyak ucapan yang jauh melebihi keinginan hati. Sekali lagi saya katakan bahwa doa seperti itu mirip dengan bunyi riak-riak air yang menimpa batu atau roda pedati yang tak henti-hentinya menggilas jalan yang berbatu-batu. Doa itu mempunyai suara, tetapi tidak mempunyai arti. Kita tidak boleh berdoa seperti itu.

Tuhan berkata, "Janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." Ayat ini menunjukkan bahwa didengar atau tidaknya doa kita itu oleh Tuhan tergantung pada sikap kita di hadapan-Nya dan juga apa keperluan kita, tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya kata-kata kita. Kalau kita berdoa untuk apa yang tidak kita perlukan, doa kita tidak akan dijawab, walaupun mungkin kata-kata yang kita ucapkan itu sangat banyak. Kalau meminta bukan karena keperluan, itu adalah ketamakan, adalah salah minta. Allah senang memenuhi segala keperluan kita, tetapi Dia tidak akan memuaskan keinginan egoistis kita. Betapa bodoh orang-orang yang berkata bahwa mereka tidak perlu berdoa karena Tuhan mengetahui segala keperluan mereka, sebab tujuan berdoa di sini bukan untuk memberi tahu Tuhan, melainkan untuk menyatakan sandaran, kepercayaan, penghargaan, dan keinginan kita. Karena itu, kita harus berdoa. Tetapi dalam doa kita, keinginan hati kita harus melebihi perkataan kita, percayanya kita harus lebih kuat daripada perkataan kita.