← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 20/20

LAYAK DENGAN KRISTUS SEBAGAI ABJAD, MENULIS SURAT-SURAT YANG HIDUP DENGAN ROH

PEMBERI-HAYAT DARI

ALLAH YANG HIDUP

(2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 3:3-6

Dalam 3:3 Paulus berkata, “Karena telah ternyata bahwa kamulah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Di sini Paulus membicarakan tentang surat Kristus yang diministrikan oleh para rasul. Surat yang demikian ini ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup. Semua orang yang adalah sekerja-sekerja dan orang-orang yang memimpin dalam gereja harus menengadah kepada Tuhan untuk belas kasihan-Nya dan kasih karunia-Nya guna melaksanakan pekerjaan penulisan Kristus ke dalam orang-orang kudus. Kita tidak seharusnya hanya mengajarkan doktrin kepada orang lain atau hanya mengajarkan Alkitab, kita harus melakukan pekerjaan yang unik untuk menulis surat-surat Kristus yang hidup dengan Roh dari Allah yang hidup.

KRISTUS DALAM PENGALAMAN KITA

Jika kita ingin menulis Kristus ke dalam orang lain, pertama-tama kita harus memiliki Kristus di dalam pengalaman kita. Jika kita tidak memiliki Kristus secara pengalaman, dengan apakah kita menulis sepucuk surat Kristus? Tentunya kita tidak memiliki apa-apa untuk dituliskan. Jika kita berusaha untuk melakukan penulisan itu, maka hal itu akan seperti mencoba menulis dengan mesin tik yang memiliki pita mesin tik yang telah kering. Pada satu hari saya sedang mengetik dan menemukan bahwa tidak ada apa-apa di atas kertas itu. Kemudian saya temukan bahwa pitanya telah kering. Tidak ada tinta pada pita itu untuk mentransfer huruf-huruf kepada kertas itu. Saya memakai ini untuk menggambarkan fakta bahwa untuk menulis surat Kristus yang hidup, pertama-tama kita sendiri harus memiliki pengalaman terhadap Kristus.

TINTA SURGAWI

Surat-surat Kristus yang hidup ini ditulis dengan Roh pemberi hayat dari Allah yang hidup. Roh pemberi hayat adalah tinta surgawi. Jika kita ingin memiliki tinta semacam ini, kita perlu mengalami Kristus dan dipenuhi dengan Kristus. Ini berarti bahwa kita harus sepenuhnya dijenuhi dengan Roh pemberi hayat. Jika kita adalah orang-orang yang penuh dengan Kristus, dijenuhi dengan Roh pemberi hayat, maka kita akan memiliki kelimpahan Kristus untuk dipakai dalam menulis Kristus ke dalam orang lain. Kita juga akan memiliki Roh pemberi hayat dari Allah yang hidup sebagai tinta surgawi. Tintanya adalah Roh itu, esens dari tinta ini adalah Kristus, dan kita adalah penanya.

Tinta apa pun pasti memiliki esens tertentu. Tinta berbeda dengan air yang jernih. Menulis surat dengan memakai air saja itu tidak mungkin. Harus ada substansi tertentu yang ditambahkan ke dalam air untuk membuat tinta. Puji Tuhan, tinta surgawi adalah Roh itu, dan esens dari tinta (Roh ini) adalah Kristus dengan semua kelimpahan-Nya. Untuk memiliki tinta ini di dalam kita, kita harus menikmati Kristus, memiliki Kristus, dipenuhi dengan Kristus, dijenuhi dengan Kristus, dan ditutupi dengan Kristus.

Orang lain harus selalu menemukan kita berada dalam Kristus. Di dalam Filipi 3:9 Paulus membicarakan tentang ditemukan dalam Kristus. Ia ingin ditemukan oleh orang lain di dalam Kristus, bukan di dalam hal lainnya selain Kristus. Paulus tidak ingin ditemukan di dalam dirinya sendiri, di dalam kebudayaannya, atau di dalam cara hidupnya.

Kita juga harus mendambakan untuk ditemukan di dalam Kristus, menjadi satu dengan Kristus, dijenuhi Kristus, bahkan disusun dengan Kristus dan dibentuk ulang Kristus. Demikian, dengan diurapi oleh Roh itu dan dipenuhi oleh Roh pemberi hayat, kita akan memiliki Roh itu sebagai tinta untuk menulis Kristus ke dalam orang lain. Sewaktu kita berbicara dengan orang lain, dengan spontan kita akan menulis dengan Roh pemberi hayat dari Allah yang hidup ke atas mereka. Elemen kelimpahan Kristus akan diinfuskan ke dalam mereka, disalurkan ke dalam diri mereka. Dengan cara ini, Kristus akan dituliskan ke dalam mereka. Menulis Kristus ke dalam orang lain dengan cara ini sesungguhnya adalah memperhidupkan Kristus bagi gereja.

MENGALAMI ALLAH TRITUNGGAL

Judul berita ini adalah “Layak dengan Kristus sebagai Abjad, Menulis Surat-surat yang Hidup dengan Roh Pemberi-hayat dari Allah yang Hidup.” Judul ini membicarakan Allah Tritunggal: Kristus, Roh pemberi hayat, dan Allah yang hidup. Pertama kita layak (memiliki syarat) karena kita memiliki Kristus, Sang Putra. Karena kita memiliki Kristus, maka kita dapat menulis surat-surat yang hidup dengan Roh pemberi hayat. Jadi, kita memiliki Putra dan Roh itu. Surat-surat yang hidup ini adalah dari Allah yang hidup, yaitu, dari Bapa. Maka, dalam menulis surat-surat yang hidup ini, kita memiliki pengalaman terhadap Allah Tritunggal dengan riil.

Wahyu yang murni tentang Trinitas di dalam Alkitab sangat berbeda dengan konsep triteistik (tiga Allah) yang secara tidak sadar dipegang oleh beberapa orang Kristen pada hari ini. Di dalam kelompok kaum beriman fundamental tertentu diajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah Persona-persona yang terpisah dan berbeda. Sebenarnya, ini adalah triteisme, kepercayaan bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah. Tentunya, sulit orang mengajarkan dengan jelas bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah. Namun, ada beberapa kaum beriman yang meme-gang konsep ini secara tidak sadar.

ADA BERSAMA-SAMA DAN SALING HUNI

Beberapa tahun yang lalu ada orang-orang tertentu mengeluarkan satu pernyataan tertulis yang di dalamnya mereka mengatakan bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Persona yang berbeda dan terpisah. Dalam sanggahan kita, kita menunjukkan bahwa tiga dari Allah Tritunggal ini berbeda, tetapi Mereka itu tidak terpisah. Hasilnya, ada beberapa dari antara mereka yang hati-hati untuk tidak memakai kata terpisah dalam hubungannya dengan tiga Persona dari Trinitas itu.

Mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu terpisah adalah bidah. Menurut Alkitab, memisahkan Bapa dari Putra, atau Putra dari Roh itu tidak mungkin. Dalam Yohanes 14:10 Tuhan Yesus berkata, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Di sini firman Tuhan dengan jelas menunjukkan bahwa Bapa dan Putra itu tidak dapat dipisahkan. Dalam ayat 11, Tuhan selanjutnya berkata, “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” Di sini kita bukan hanya memiliki Bapa dan Putra itu ada bersama-sama, tetapi juga melihat saling huni Mereka. Tiga dari Ke-Allahan itu Bapa, Putra, dan Roh ada bersama-sama dan saling huni. Kita semua harus kenal dengan istilah saling huni (coinherence).

Bapa, Putra, dan Roh itu semuanya ada pada waktu yang sama. Ini adalah ada bersama-sama (coexistence). Lagi pula, Bapa ada di dalam Putra dan Roh itu; Putra ada di dalam Bapa dan Roh itu; dan Roh itu ada di dalam Bapa dan Putra. Ini adalah saling huni. Karena itu, jika kita ingin memiliki pemahaman yang tepat mengenai Trinitas, kita bukan hanya harus mengakui bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu ada bersama-sama, tetapi juga harus percaya atas saling huninya Mereka.

ALLAH TIGA-SATU

Kita tidak percaya kepada triteisme; sebaliknya, kita percaya kepada Allah Tritunggal. Kata “tritunggal” berarti tiga-satu. Kata ini tersusun dari dua akar kata Latin: tri-, yang berarti tiga, dan une, yang berarti satu. Maka, tri-tunggal berarti tiga-satu. Kita tidak dapat memahami bagaimana Allah dapat menjadi tritunggal, yaitu, menjadi tiga-satu. Matematika kekal, yang ilahi ini jauh di atas kemampuan pemahaman kita. Meskipun demikian, menurut matematika ilahi ini, Allah itu tiga-satu.

Perkara Allah menjadi tritunggal ini dapat digambakan dengan fakta bahwa Alkitab membicarakan tentang Roh Allah dan juga tujuh Roh. Roh Allah itu satu atau tujuh? Mungkin jawaban yang terbaik adalah dengan mengatakan bahwa Roh Allah itu tujuh-satu atau satu-tujuh. Di satu pihak, kita semua tahu bahwa Roh Allah itu secara unik adalah satu. Di pihak lain, dalam kitab Wahyu, di mana kita memiliki wahyu akhir dan rampung tentang Allah Tritunggal, kita membaca tentang tujuh Roh. Wahyu 1:4-5 mengatakan, “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus.” Tidak diragukan lagi bahwa tujuh Roh di sini adalah Roh Allah, karena Mereka digolongkan di antara Allah Tritunggal dalam ayat-ayat ini, yang disinggung di antara Bapa (Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang) dan Putra, Yesus Kristus. Dalam substansi dan keberadaannya, Roh Allah itu satu. Dalam fungsi dan pekerjaan operasi Allah yang diperkuat (yang dilambangkan dengan angka tujuh), Roh Allah itu tujuh ganda. Dalam Wahyu 4:5 dan 5:6 kita juga membaca mengenai tujuh Roh.

Namun, dalam Kredo Nicea yang disusun pada tahun 325 M di Konsili Nicea yang diadakan di bawah kekuasaan Konstantin Agung, tidak disinggung mengenai tujuh Roh Allah. Pada waktu konsili itu rapat, ada tujuh kitab dari Perjanjian Baru termasuk Wahyu dan Ibrani yang belum diakui dengan sah. Mungkin inilah sebabnya mengapa Kredo Nicea tidak mengatakan apa-apa mengenai tujuh Roh. Inilah satu alasannya kita mengatakan bahwa Kredo Nicea itu tidak lengkap. Orang Kristen lainnya mungkin menuruti keputusan-keputusan konsili itu, dan mengikuti kredonya, tetapi kita mengikuti seluruh Alkitab, firman Allah yang murni. Berperang bagi kebenaran yang diwahyukan dalam firman Allah adalah satu perkara yang serius dan penting.

Kita telah menunjukkan bahwa ada orang Kristen yang secara tidak sadar tidak percaya kepada Allah tiga-satu, tetapi percaya kepada tiga Allah. Yang lainnya berusaha menjelaskan perihal Trinitas itu dengan mengatakan bahwa tiga Persona itu adalah satu dalam esensnya, tetapi terpisah dalam personanya; yaitu, dalam substansinya mereka adalah satu, tetapi dalam unit mereka adalah tiga. Hal ini dapat dibandingkan dengan mengatakan bahwa tiga meja kayu adalah satu dalam substansi, atau esens, karena semuanya terbuat dari jenis kayu yang sama, tetapi berbeda dalam bentuknya. Meja kayu itu tiga atau satu? Sesungguhnya meja itu tiga. Ilustrasi itu menunjukkan bahwa membicarakan Trinitas dengan cara itu berarti mengajarkan triteisme.

Banyak orang beriman secara tidak sadar berpegang kepada konsepsi tiga Allah. Kita percaya kepada Allah yang unik, yang tritunggal. Dalam menulis surat-surat yang hidup dengan Roh pemberi hayat, kita mengalami Allah tiga-satu ini. Kita layak karena Kristus, kita menulis surat-surat itu dengan Roh itu, dan Roh itu adalah dari Allah yang hidup. Haleluya, inilah Allah Tritunggal!

DI ATAS SEMUA, MELALUI SEMUA,

DAN DI DALAM SEMUA

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa gambaran tentang Bapa dalam Efesus 4:6 menunjukkan Allah Tri-tunggal? Ayat ini mengatakan, “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Ini menunjukkan bahwa Bapa sendiri pun adalah tiga ganda. Frase “di atas semua” menunjukkan Bapa sebagai sumber; frase “melalui semua,” menunjukkan Putra sebagai aliran; dan frase “di dalam semua,” menunjukkan Roh itu sebagai yang berhuni. Karena itu, gambaran tiga ganda dari Bapa sebagai yang di atas semua, melalui semua, dan di dalam semua ini menunjukkan Allah Tritunggal.

BUKAN TEOLOGI SISTEMATIK

Teologi yang tradisional dan fundamental telah menjadi satu teologi yang disistematiskan atau sistematik. Banyak orang Kristen yang mengagumi teologi sistematik yang demikian. Namun, saya tidak dapat setuju dengan teologi sistematik ini, karena wahyu ilahi dalam Alkitab tidak da-pat disistematiskan. Mensistematiskan wahyu ilahi itu seperti berusaha mensistematiskan satu organisme yang hidup.

Jika Anda berusaha untuk mensistematiskan sesuatu yang hidup, hal itu pasti akan mati. Dapatkah Anda men-sistematiskan kehidupan jasmani manusia Anda? Dapatkah Anda secara sistematik mengatur pikiran, emosi, tekad, jiwa, hati, hati nurani, dan roh Anda? Dapatkah Anda mengatakan di mana jiwa Anda? Dapatkah Anda melacak pikiran atau roh Anda? Dapatkah Anda mengatakan di mana hati psikologis Anda? Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita tidak dapat mencari bagian-bagian dari batin kita ini. Jika kita tidak mampu mensistematiskan diri kita sendiri yang terbatas, bagaimana kita dapat bermaksud mensistematiskan Allah yang tidak terbatas, dan yang tidak terhingga dengan mentalitas insani kita yang terbatas? Ini menggelikan! Saya percaya bahwa Agustinuslah yang mengatakan bahwa berusaha menganalisis Allah Tritunggal itu sama seperti memakai gayung untuk menakar samudra.

Jangan berusaha mensistematiskan Allah Tritunggal, kita harus percaya kepada apa saja yang diwahyukan Alkitab mengenai Dia. Meskipun kita tidak dapat mensistematiskan Allah, namun kita dapat menjadi layak karena Kristus untuk menulis surat-surat yang hidup dengan Roh dari Allah yang hidup. Ini berarti dalam pengalaman kita, kita menikmati Allah Tritunggal dalam menulis surat-surat yang hidup ini.

Kita adalah surat-surat Kristus yang hidup. Paulus adalah orang yang menulis surat-surat yang demikian. Sekarang kita juga harus mengikuti Paulus untuk menuliskan Kristus ke dalam orang lain dan dengan demikian menulis surat-surat Kristus yang hidup. Ke mana saja kita pergi, kita harus menuliskan Kristus ke dalam orang lain. Sejumlah orang telah lelah terhadap teologi dan agama. Keperluan mereka adalah memiliki Kristus yang dituliskan ke dalam mereka. Marilah kita berdoa agar banyak dari antara kita yang mau pergi untuk menulis surat-surat yang hidup dengan Roh pemberihayat dari Allah yang hidup.

?