← Daftar isi Keluaran (7) · bab 5/17

TIRAI UNTUK PINTU KEMAH (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 26:36-37; 36:37-38; 40:5, 28

Dalam berita ini kita akan merenungkan Keluaran 26:36 dan 37. Boleh jadi kita mengira bahwa ayat-ayat ini mudah dipahami. Ayat 36 mengatakan, “Juga haruslah kaubuat tirai (screen) untuk pintu kemah itu dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi, dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang berwarna-warna.” Ayat ini berbicara tentang tirai untuk pintu kemah. Tetapi ayat 37 menyinggung tentang tirai. “Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai (screen) itu dan kausalutlah itu dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, dan untuk itu haruslah kautuang lima alas dari tembaga.”

PENUDUNG, TABIR, DAN TIRAI

Tirai untuk pintu kemah dibuat dari bahan yang sama dengan penudung (penutup) rangkapan pertama dan tabir (veil) yang memisahkan tempat maha kudus dengan tempat kudus. Jadi, langit-langit, tabir dalam, dan tirai untuk pintu kemah, dibuat dari bahan yang sama; warna, desain, dan tenaga ahli juga sama. Kapan saja seorang imam memasuki Kemah Suci, akan terlihat di atas, di depan, dan di belakang, tirai-tirai biru, ungu, kirmizi, dan lenan pintalan halus. Tirai yang dalam disebut tabir (veil), sedangkan tirai untuk pintu kemah disebut tirai (screen).

Dalam menerjemahkan ayat 36, J.N. Darby mengungkapkan, “Juga haruslah kaubuat tirai untuk jalan masuk kemah.” Darby menggunakan istilah jalan masuk sebagai pengganti pintu. Mungkin Anda menganggap tak ada perbedaan antara pintu dengan jalan masuk. Kata-kata ini memang mengandung arti yang sama, namun jalan masuk menandakan sesuatu yang lebih khusus daripada pintu. Pintu bisa digunakan untuk keluar atau masuk, sedangkan jalan masuk tidak demikian. Jalan masuk hanya untuk masuk, bukan untuk keluar. Pintu dalam ayat 36 berfungsi sebagai pintu masuk maupun pintu keluar. Tetapi, tujuan utamanya adalah sebagai pintu masuk, bukan pintu keluar.

Saya setuju dengan terjemahan Darby. Sesungguhnya bagian depan Kemah Suci kelihatannya tidak mirip pintu. Tidak ada ambang dan jenang pintu, kecuali sebuah tirai yang dibentangkan pada lima tiang agar berfungsi sebagai jalan masuk. Itulah alasan saya lebih condong kepada sebutan tirai sebagai jalan masuk daripada sebagai pintu. Telah kita tunjukkan bahwa tabir pemisah tempat maha kudus dengan tempat kudus adalah sama bahan dan karya dengan tirai yang terletak di jalan masuk Kemah Suci. Walaupun sama desain dan sama corak, namun yang satu disebut tabir, sedang yang lain disebut tirai.

Sangatlah bermakna bahwa hal-hal yang berhubungan dengan Kemah Suci dijelaskan dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Sebagai contoh, keempat rangkapan penudung Kemah Suci dijelaskan dari rangkapan yang paling dalam, yaitu lenan pintalan halus, sampai ke bagian yang paling luar, yaitu kulit lumba-lumba. Demikian pula, mengenai kedua tirai, tabir yang di dalam dan tirai. Catatan ilahi lebih dulu menyebutkan tabir yang di dalam, baru kemudian tirai pada jalan masuk Kemah Suci. Memahami makna tabir dan tirai adalah penting.

Tabir (tirai) selalu menghalangi sesuatu dari pandangan kita, sehingga kita tidak melihat barang tersebut. Sering juga tabir digunakan untuk menutupi barang-barang yang sangat berharga. Ketika sesuatu ditutupi dengan tabir, niscayalah kita dipisahkan dengan benda itu. Bukan karena benda itu tidak kasat mata, melainkan ada tabir yang menutupi pandangan kita. Dalam Kemah Suci, benda-benda tertentu ditutupi dengan tabir, sehingga manusia yang telah jatuh tak dapat melihatnya. Tabut dalam tempat maha kudus adalah benda berharga pertama yang disembunyikan dari umat Allah. Kita telah melihat bahwa tabut melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah. Tabut ini berkaitan dengan sejarah Allah. Sejarah Allah meliputi seluruh apa adanya Dia, dan apa yang telah Dia genapkan, Dia jangkau, dan Dia capai. Semua ini terwujud di dalam Kristus sebagai tabut. Selain itu, di atas Kristus yang sebagai tabut terdapat tutup pendamaian, yang dari sana Allah bisa bertemu dengan kita dan berbicara kepada kita. Inilah tempat kemuliaan Allah diekspresikan, sebagaimana dilambangkan oleh kerub. Selain itu, darah penebusan dipercikkan ke atas tutup pendamaian ini, yaitu tutup tabut. Jadi, pada tabut kita melihat Allah berikut sejarah-Nya, perwujudan-Nya, ekspresi kemuliaan-Nya, dan penebusan Kristus. Alangkah mustikanya tabut ini dan segala benda yang ada hubungannya dengannya!

Dalam tempat kudus kita memiliki meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Dari meja kita menerima suplai hayat untuk perawatan kita; dari kaki pelita kita menerima sorotan cahaya; dan dari mezbah ukupan kita memiliki Kristus sebagai ukupan, yang melambangkan Kristus adalah ukupan yang harum bagi perkenan Allah terhadap kita. Jadi, di tempat kudus kita memiliki suplai, terang, dan perkenan Allah. Kini, kita harus maju lagi dan melihat isi tabut loh hukum, manna yang tersembunyi, dan tongkat yang bertunas. Ketiga benda ini berpadanan dengan ketiga benda di dalam tempat kudus. Di tempat kudus ada roti, sedang di tempat maha kudus ada manna; ini menunjukkan bahwa roti dalam tempat kudus menjadi manna yang tersembunyi dalam tempat maha kudus. Selain itu, di tempat kudus ada kaki pelita dengan sorotan terangnya, sedang di tempat maha kudus ada hukum Taurat sebagai kesaksian Allah. Karena itu, di satu aspek, di tempat kudus kita diterangi oleh kaki pelita; sedang di aspek lain, di tempat maha kudus kita diterangi oleh hukum Taurat yang sebagai kesaksian Allah. Selanjutnya, di tempat kudus ada ukupan di mezbah ukupan bagi perkenanan kita; di tempat maha kudus kita memiliki tongkat yang bertunas yang melambangkan hayat kebangkitan menjadi tanda diperkenannya kita. Jadi, ukupan di tempat kudus menjadi tongkat bertunas di tempat maha kudus. Tongkat bertunas maupun ukupan mengibaratkan Kristus yang telah bangkit.

Perpaduan antara manna, hukum Taurat, dan tongkat bertunas dengan roti, kaki pelita, dan mezbah ukupan, dapat dijelaskan dengan perpaduan antara anugerah dengan kebenaran dalam Injil Yohanes dan kasih dengan terang dalam Surat 1Yohanes. Di pihak kita adalah anugerah (kasih karunia), tetapi di pihak Allah adalah kasih. Demikian pula, di pihak kita adalah kebenaran (realitas), tetapi ketika kita telusuri hingga pada sumbernya, pihak Allah, kebenaran ini adalah terang. Jadi, di pihak kita adalah anugerah dan kebenaran; di pihak Allah adalah kasih dan terang. Sama halnya, roti berpadanan dengan manna; kaki pelita berpadanan dengan loh-loh batu; dan ukupan berpadanan dengan tongkat yang bertunas. Di tempat kudus kita memiliki suplai hayat Kristus, terang Kristus, dan ukupan, yaitu perkenan dari Kristus. Namun di tempat maha kudus, Kristus sendirilah sebagai suplai hayat, terang, dan perkenan terhadap kita. Akan tetapi, selama kita masih tinggal di dalam sifat yang jatuh, niscaya tabut dengan isinya yang berharga itu akan tertutup, kita tidak bisa melihatnya, juga tidak bisa menghampirinya.

Ayat 37, tirai yang di luar, yaitu tirai pada pintu Kemah Suci disebut tirai (screen). Ini sangat bermakna. Fungsi tirai di satu aspek adalah untuk udara masuk, dan di aspek lain untuk menghadang serangga dan hama-hama lainnya. Tanpa dipasang tirai pada jendela-jendela, niscaya akan terbuka jalan bagi lalat dan nyamuk. Sebagaimana akan kita lihat bahwa tirai pada jalan masuk Kemah Suci berguna untuk mencegah hal-hal negatif masuk ke tempat kediaman Allah.

Kita telah melihat, walaupun rangkapan pertama dari penudung Kemah Suci, tabir, dan tirai, dibuat dari bahan, warna, rancangan, dan tenaga ahli yang sama, tetapi disebut dengan tiga istilah yang berbeda: Penudung, tabir, dan tirai. Bahan, warna, dan bordiran yang sama ini mempunyai tiga fungsi. Pertama, menutupi papan-papan penegak; kedua, menutupi kemustikaan Allah Tritunggal yang telah melalui proses; dan ketiga, menghadang masuknya hal-hal negatif ke dalam tempat kediaman Allah. Kita telah jelas bahwa penudung maupun tabir adalah Kristus. Berdasarkan pengertian ini (terhadap penudung dan tabir), kita takkan keliru menyimpulkan bahwa tirai juga ditujukan kepada Kristus.

MEMASUKI KEMAH SUCI

Rangkapan pertama dari penudung Kemah Suci tidak ada sangkut pautnya dengan masuknya kita ke dalam tempat kediaman Allah. Tetapi, tabir dan tirai berkaitan dengan hal memasuki Kemah Suci. Jika tak ada jalan bagi kita untuk memasuki tempat kediaman Allah, maka tak mungkinlah kita memiliki pengalaman apa-apa terhadap tempat kediaman Allah. Berarti Kemah Suci sedikit pun tidak ada hubungannya dengan pengalaman kita, keberadaannya hanyalah obyektif dan terpisah dengan kita. Tetapi jika kita masuk ke dalam Kemah Suci, Kemah itu akan terkait dengan pengalaman kita dan subyektif terhadap kita. Bukan saja kita akan masuk ke dalam tempat kediaman Allah, lebih-lebih akan bersatu dengannya. Karena itu, tatkala kita masuk ke dalam Kemah Suci, kita akan menjadi satu dengannya. Persoalan terpenting yang kita hadapi ialah bagaimana memasuki tempat kediaman Allah.

Bagaimanakah kita bisa memasuki tempat kediaman Allah yang kudus dan benar, pula Allah Sang kasih dan terang? Jika kita memeriksa diri kita, pasti menyadari bahwa kita ini tidaklah kudus juga tidak benar. Bersama Yesaya kita akan mengatakan, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” (Yes. 6:5). Karena kita adalah orang-orang yang najis bibir, maka kita tidak memenuhi syarat memasuki tempat kediaman Allah. Allah itu kudus, sedang kita ini cemar; Allah itu benar, sedang kita ini tak benar sama sekali; Allah itu terang, sedang kita ini gelap. Lalu bagaimana mungkin kita masuk ke dalam tempat kediaman Allah yang kudus dan benar itu? Bagaimana mungkin kita memasuki tempat kediaman Allah Sang kasih dan terang? Mustahillah bagi kita sebagai manusia yang telah jatuh masuk ke dalam tempat kediaman Allah.

Kristus adalah “tirai ganda” yang mencegah kita masuk ke dalam tempat kediaman Allah. Bila kita ingin masuk ke dalam Kemah Suci, wajiblah kita serasi dengan tirai yang terdapat di pintu masuk. Di dalam Kemah Suci tinggallah Allah yang kudus dan benar, Allah Sang kasih dan terang, seperti yang diibaratkan oleh lenan halus pintalan, yang berwarna biru surgawi, ungu rajani, dan emas yang melambangkan ekspresi Allah. Jika kita tidak bisa serasi dengan tirai, tak mungkin kita berpadanan dengan Allah. Tirai itu benar-benar menakjubkan dalam menyatakan Allah dan apa adanya Dia. Namun, tirai ini telah menjadi penghalang yang mencegah kita masuk ke tempat kediaman Allah. Selain itu terdapat penghalang ganda, karena baik tabir maupun tirai membuat kita tidak bisa masuk ke hadapan Allah.

Bagaimanakah kita menerobos penghalang ganda ini sehingga kita bisa masuk ke dalam tempat kediaman Allah? Bandingkan diri Anda dengan tirai di jalan masuk, yakni tirai yang adalah keterangan akan Allah. Tirai ini menunjukkan bahwa Allah itu halus, surgawi, rajani, kudus, dan mulia. Sebenarnya, tirai ini mengacu kepada Kristus di dalam keinsanian-Nya sebagai keterangan akan Allah. Berhubung kita ini berdosa, maka tirai ini atau keterangan ini, menjadilah penyekat antara kita dengan Allah, atau sebuah pemisah antara kita dengan Dia. Apabila membandingkan diri kita dengan tirai, kita akan menemukan bahwa bagaimanapun, kita tidak dapat berpadanan dengannya. Kita sedikit pun tidak surgawi, tidak rajani, kita adalah orang dosa yang kasihan, najis, dan tidak benar. Bagaimana kita dapat menerobos penyekat ini dan masuk ke dalam tempat kediaman Allah yang kudus dan benar?

Tidak perlu diragukan, Allah menghendaki kita masuk ke dalam Kemah Suci. Tempat kediaman-Nya hanya memakai dinding papan kayu pada tiga sisi. Satu sisinya tidak diberi papan penegak, kecuali ditutup dengan selembar tirai. Ini menandakan bahwa Allah ingin umat-Nya dapat masuk ke dalam tempat kediaman-Nya. Namun, seperti yang telah kita lihat, jika kita ingin masuk ke dalam Kemah Suci, kita harus berpadanan dengan keterangan akan Allah, kita harus berpadanan dengan apa adanya Dia.

KRISTUS MATI KARENA DOSA-DOSA KITA

Karena kita berdosa, kita perlu diadili oleh Allah yang kudus dan benar. Kita yang penuh kedengkian dan kegelapan ini perlu diadili oleh Allah Sang kasih dan terang. Penghakiman ini terjadi ketika Kristus mati karena dosa-dosa kita. Dalam 1Korintus 15:3, Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita. Inilah aspek pertama dari kebenaran atau hakiki Injil. Kita pernah mencuri, kita pernah membenci orang lain, kita pernah banyak berdusta, dan sering melakukan kejahatan. Tetapi, Kristus telah diadili oleh Allah karena kita; Ia telah mati karena dosa-dosa kita.

Kristus dihakimi karena kita, ditunjukkan oleh kelima alas tembaga di bagian bawah kelima tiang yang menopang tirai. Tembaga melambangkan penghakiman Allah yang adil, yang dilaksanakan terhadap para pemberontak (Bil. 16:38-39). Dua ratus lima puluh orang yang memberontak terhadap Allah telah dihakimi oleh-Nya. Allah berkata kepada Musa agar mengambil perbaraan-perbaraan tembaga milik pemberontak-pemberontak itu serta menempanya tipis-tipis menjadi salut mezbah yang di atasnya kurban-kurban dipersembahkan kepada Allah bagi penghakiman-Nya atas orang-orang dosa yang tertebus. Kasus lain yang menunjukkan bahwa tembaga melambangkan penghakiman Allah ialah ditinggikannya ular tembaga di atas tiang (Bil. 21:9). Karena umat Israel berdosa terhadap Allah, mereka dijatuhi hukuman mati. Namun Allah memerintah Musa agar membuat seekor ular tembaga dan menaruhnya di atas sebatang tiang, yang menandakan bahwa ular itu akan dihukum oleh Allah bagi mereka. Kelima alas tembaga menunjukkan bahwa Kristus telah dihakimi karena dosadosa kita.

Kristus yang mati karena dosa-dosa kita, setelah dihakimi menggantikan kita, telah menjadi tirai di pintu Kemah Suci. Di satu pihak, Kristus ini merupakan sehelai tirai yang memisahkan kita; di pihak lain, Ia merupakan jalan masuk yang mengizinkan orang-orang dosa yang telah tertebus masuk ke dalam tempat kediaman Allah. Dulu kita dicegah dari Kemah Suci, kita dipisahkan di luar tirai. Namun karena Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita serta telah dihakimi oleh Allah untuk kita, maka kita kini dapat masuk ke dalam tempat kediaman Allah. Alangkah baiknya!

KRISTUS MATI BAGI KITA

Setelah kita masuk ke dalam Kemah Suci, kita akan berada dalam tempat kudus, tempat itu jauh lebih baik daripada pelataran luar. Hari ini banyak orang Kristen masih berada di pelataran luar; mereka belum juga masuk ke dalam tempat kudus. Puji Tuhan, melalui kematian Kristus kita telah masuk ke dalam tempat kudus, di sini menikmati suplai, penyorotan terang, dan perkenan Kristus. Akan tetapi, walaupun kita menikmati semua ini, belum berarti kita menikmati diri Kristus sendiri. Sebaliknya malah berarti kita menikmati sesuatu dari Kristus, misalnya, hanya menikmati perawatan Kristus. Menikmati sesuatu dari Kristus berbeda dengan menikmati diri Kristus sendiri sebagai barang tersebut. Contohnya, menikmati perawatan dari Kristus tidaklah sama dengan menikmati Kristus sebagai perawatan. Memang, tempat kudus adalah tempat yang baik, dan kita pun wajib bersyukur kepada Tuhan bahwa kita bisa berada di sini. Akan tetapi, tempat kudus bukanlah tempat yang paling baik. Masih ada sebuah tempat yang lebih dalam, yakni tempat maha kudus, yang jauh lebih baik daripada tempat kudus.

Sudahkah Anda memasuki tempat maha kudus? Seperti kebanyakan orang Kristen, Anda mungkin harus mengakui bahwa Anda belum memasuki bilik yang lebih dalam. Alasan Anda belum masuk ke dalam tempat maha kudus adalah walaupun dosa-dosa Anda telah diampuni, namun daging Anda belum terjamah, masih tetap seperti semula. Maka Anda memerlukan kematian Kristus bukan hanya karena dosa-dosa Anda, melainkan juga untuk diri Anda. Menurut 1Korintus 15:3, Kristus mati karena dosa-dosa kita. Tetapi menurut 2Korintus 5:14, Kristus mati untuk semua orang, bukan hanya karena dosa-dosa semua orang. Ayat ini dengan jelas mengungkapkan bahwa Kristus mati bagi kita. Kristus mati karena dosa-dosa kita agar kita diampuni; sedangkan Ia mati bagi kita, agar kita hidup terhadap Dia. Besar sekali perbedaan antara mendapat pengampunan dosa dengan hidup terhadap Tuhan.

Dua Korintus 5:21 mengatakan bahwa Kristus menjadi dosa karena kita. Dari Roma 8:3 kita tahu bahwa dosa bercokol di dalam daging kita. Ayat ini menyatakan, “. . . Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Lagi pula, menurut 2Korintus 5:21, Kristus menjadi dosa supaya kita dapat menjadi kebenaran Allah.

DUA ASPEK KEMATIAN KRISTUS

Bila kita ingin memahami hal ini, kita harus jelas bahwa kematian Kristus beraspek dua. Di satu aspek, Ia mati karena dosa-dosa kita sehingga kita diampuni; di aspek lain, Ia mati bagi kita sehingga kita diakhiri. Penghakiman Allah atas kita ditunjukkan oleh alas tembaga yang di bawah lima tiang penyangga tirai. Tabir yang terkoyak pada saat kematian Kristus menandakan bahwa Kristus mati bagi kita, sehingga daging kita terkoyak, dan kita dapat memperhidupkan Dia. Di satu pihak, Kristus mati karena dosa-dosa kita di bawah penghakiman Allah. Di pihak lain, Ia mati bagi kita sehingga kita diakhiri.

Telah kita tunjukkan bahwa wahyu tentang Kemah Suci bukan berdasarkan doktrin semata, tetapi juga berdasarkan pengalaman rohani. Pertama-tama kita mengalami Kristus sebagai Dia yang mati karena dosa-dosa kita. Setelah memahami aspek kematian Kristus ini, kita memasuki tempat kudus. Di sana kita bisa mendapatkan perawatan dan penerangan, kita juga berdoa mempersembahkan Kristus sebagai ukupan kita. Untuk jangka waktu yang panjang, mungkin bertahun-tahun kita merasa dipuaskan. Namun, akhirnya kita akan menyadari bahwa kita tidak seharusnya merasa puas hanya di dalam tempat kudus. Ada lagi tempat yang lebih dalam yang harus kita masuki. Namun, kita masih di dalam daging, karena itu kita tidak dapat masuk ke dalam tempat maha kudus. Saat kita menyadari bahwa kita ini masih di dalam daging, kita harus melihat bahwa Kristus mati bukan hanya karena dosa-dosa kita, bahkan mati bagi kita. Sewaktu Ia mati untuk semua, kita pun mati bersama Dia. Tatkala Ia diakhiri di atas salib, kita pun diakhiri.

Sekarang kita jelas mengapa ada dua tabir di dalam Kemah Suci. Kedua tabir tersebut mengacu kepada Kristus yang unik, yaitu Kristus yang mati karena dosa-dosa kita dan juga mati bagi kita. Ia telah diadili oleh Allah karena kita, serta telah diakhiri bersama kita. Karenanya, melalui Dia, kita telah diadili. Allah mengampuni mereka yang telah diadili. Allah mengampuni kita agar kita boleh masuk ke dalam tempat kudus dari tempat kediaman-Nya. Di samping itu, Allah memandang kita sebagai orang-orang yang telah diakhiri, sebagai orang-orang yang telah dimatikan supaya bisa menempuh hidup yang lain di dalam tempat maha kudus pada tempat kediaman-Nya.

Misalnya, seorang berdosa mendengar Injil, ia mendatangi mezbah di pelataran luar. Pada mezbah itulah ia menerima Kristus sebagai Penebusnya, sebagai Dia yang mati karena dosa-dosanya. Saat itu pula ia bisa menembus tirai yang ditopang oleh tiang-tiang yang menancap di alas-alas tembaga. Berarti ia telah menerobos melalui Kristus yang ditopang oleh penghakiman Allah. Sekarang, orang dosa yang tertebus ini boleh masuk ke dalam tempat kudus sambil menikmati suplai Kristus, hayat Kristus, dan kemanisan Kristus sebagai perkenan-Nya. Kemudian, setelah sejangka waktu, ia menyadari bahwa Kristus bukan hanya mati karena dosa-dosanya, bahkan mati untuk dirinya. Kini ia paham bahwa Kristus di atas salib bukan hanya dihakimi oleh Allah untuknya, tetapi juga dibunuh dan diakhiri bersamanya. Ini berarti, ketika Kristus mati, orang tebusan pun mati bersama Dia. Selain itu, sebagai orang yang telah diakhiri, ia harus mengalami pengoyakan dagingnya. Sesuai dengan Galatia 5:24, ia harus menyalibkan daging, yaitu tabir terkoyak dan dengan itu mengalami kematian Kristus yang subyektif dalam menanggulangi daging.

Tabir di luar melambangkan kematian Kristus yang obyektif. Kristus mati karena dosa-dosa kita secara obyektif. Tabir yang di dalam melambangkan kematian Kristus yang subyektif. Di saat Kristus mati, Ia mati bersama kita, dan kita mati bersama Dia. Kini kita wajib menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang telah diakhiri. Dengan demikian, kita tidak lagi hidup terhadap diri kita, melainkan hidup terhadap Kristus. Demikian, segera kita tidak tinggal lebih lama lagi di dalam tempat kudus; kita akan masuk ke dalam tempat maha kudus. Dalam tempat maha kudus kita tidak hanya menikmati sesuatu dari Kristus, lebih-lebih menikmati Kristus sendiri sebagai segala sesuatu. Kita mengalami Kristus sebagai Allah sendiri yang terwujud di dalam sifat insani yang memancarkan sifat ilahi.

TIGA JALAN MASUK

Sekarang mari kita meneliti jalan masuk. Ada lima tiang yang menopang tirai. Tentunya ada satu tiang yang di samping papan di sebelah utara, dan yang satu lagi di samping papan di sebelah selatan. Sisa tiga tiang yang berjarak seimbang sepanjang tirai. Ini akan membuat empat jalan masuk. Berdasarkan prinsip yang sama, empat tiang penyangga tabir, pasti ada dua yang diletakkan di ujung dekat papan penegak, dan dua lagi yang membentang di sepanjang tabir, sehingga membentuk tiga jalan masuk. Jadi, pada tirai terdapat empat jalan masuk, dan pada tabir terdapat tiga jalan masuk. Ini berhubungan dengan dua belas pintu gerbang pada Yerusalem Baru. Pada empat sisi kota tersebut, masing-masing terdapat tiga pintu. Itu berarti bahwa Allah Tritunggal sendiri merupakan jalan masuk bagi umat tebusan ke tempat kediaman-Nya, bahkan masuk ke dalam diri-Nya. Seperti telah disinggung dalam berita terdahulu, hal ini dilukiskan oleh tiga perumpamaan dalam Lukas 15. Menurut perumpamaan-perumpamaan ini, Anak mencari domba yang hilang, Roh menerangi, dan Bapa menerima kembali anak yang hilang. Efesus 2:18 menuliskan bahwa melalui Putra, kita menemukan jalan di dalam Roh yang menuju kepada Bapa. Sekali lagi kita melihat bahwa Allah Tritunggal adalah jalan masuk.

Di satu aspek, jalan masuk berjumlah tiga karena berkaitan dengan Allah Tritunggal; di aspek lain, berjumlah empat, karena berkaitan dengan makhluk ciptaan yang dilambangkan oleh angka empat. Fakta bahwa tirai mempunyai empat jalan masuk menunjukkan bahwa tempat kediaman Allah terbuka kepada semua orang dari empat penjuru bumi. Wahyu 5:9 mengatakan bahwa umat tebusan Allah berasal dari setiap bangsa, bahasa, suku, dan kaum. Kata “setiap” di sini diulangi empat kali, bukan lima atau enam kali. Alasannya adalah angka empat melambangkan makhluk ciptaan Allah secara positif. Kita datang dari keempat penjuru bumi sebagai ciptaan yang tertebus untuk memasuki tempat kediaman Allah, untuk menikmati diri-Nya. Menerobos melalui empat jalan masuk, kita bisa masuk ke dalam tempat kudus. Akhirnya, kita harus “menerobos” Allah Tritunggal, yakni Putra, Roh dan Bapa, yang dilambangkan oleh ketiga jalan masuk, serta masuk ke dalam tempat maha kudus.

DUA MACAM TIANG

Sekarang tiba pada masalah yang sulit dipahami: lima tiang dengan tirai yang di luar adalah satu; dan empat tiang dengan tabir yang di dalam adalah satu. Kita telah melihat bahwa tabir dan tirai digantungkan pada tiang-tiang. Penggantungan ini menyatakan kesatuan. Tabir satu dengan tiang, dan tiang satu dengan tabir. Telah kita tunjukkan bahwa tabir adalah Kristus. Tetapi, tiang-tiang yang menopang tabir bukanlah Kristus sendiri, karena tiang-tiang itu jamak, sedangkan Kristus itu tunggal. Begitu pula tirai dengan kelima tiangnya. Kelima tiang maupun keempat tiang mengacu kepada kaum beriman. Ini berarti, Kristus satu dengan kita dan kita satu dengan Kristus. Saat kita bergantung pada Kristus dan disatukan dengan Dia, niscayalah kita menjadi tiang-tiang.

Kita semua percaya bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita dan juga mati bagi kita. Tetapi, dalam pengalaman, mungkin kita belum bersatu sepenuhnya dengan Kristus. Bisa saja kita berkata, “Ya, aku percaya bahwa Kristus mati bagiku. Puji Tuhan! Haleluya! Terima kasih Tuhan.” Setelah itu, kita kembali sibuk dengan urusan sehari-hari kita. Namun ada sejumlah orang Kristen justru tertangkap oleh hal ini. Mereka menyebarkan Injil siang dan malam, memberi tahu orang bahwa Kristus telah mati bagi mereka. Orang yang berkobar-kobar menginjil seperti ini, bahkan seolah sudah “gila”, adalah tiang yang melekat pada tirai. Demikianlah D.L. Moody. Setelah ia beroleh selamat, ia menjadi tiang seperti itu. Ia tergila-gila dalam penginjilan;

D.L. Moody benar-benar tiang yang melekat pada Kristus Sang Penebus.

Tiang-tiang yang melekat pada tirai adalah para penginjil, pengabar Kristus yang berani, berdiri di depan gereja. Tiang yang lain berdiri di dalam gereja, di dalam bilik yang lebih dalam. Inilah orang-orang seperti para penatua, yang mengalami Kristus lebih dalam. Dari hari ke hari, melekat pada tabir yang terkoyak, terobek, yaitu Kristus yang telah diakhiri dalam daging-Nya. Berhubung mereka melekatkan diri pada Kristus yang telah diakhiri ini, maka mereka bersaksi bahwa mereka sendiri juga telah diakhiri dan daging mereka telah disalibkan di kayu salib. Karena itu, mereka menjadi tiang-tiang yang bukan di depan gereja, melainkan di dalam gereja.

Hari ini dalam pemulihan Tuhan, kita memerlukan dua macam tiang ini. Kita memerlukan penginjil yang berdiri di depan hidup gereja, sambil memberitakan Kristus dengan berapi-api, mengatakan kepada semua orang bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa mereka. Kita pun memerlukan tiang-tiang yang di dalam, yang menyadari bahwa Kristus mati bukan hanya karena dosa-dosa mereka saja, melainkan juga bagi mereka dan bersama mereka, dan pula memberikan kesaksian bahwa mereka telah terpaku bersama Kristus dan daging mereka telah koyak, robek.

Ingin memiliki pertambahan jumlah orang di dalam gereja memang tidak mudah. Tetapi jika ada beberapa penginjil pemberani, yang hanya tahu memberitakan Kristus dan kematian-Nya karena dosa-dosa manusia, saya yakin ada banyak orang dosa akan diselamatkan serta dibawa masuk ke dalam gereja. Kurangnya penginjil semacam ini membuat kurangnya tiang-tiang di depan. Dan kurangnya orang-orang seperti Paulus, Petrus, Yohanes membuat kurangnya tiang-tiang di dalam gereja. Kita memerlukan orang-orang yang disatukan dengan Kristus yang telah dihakimi dan juga orang-orang yang disatukan dengan Kristus yang telah diakhiri. Asalkan kita memiliki tiang-tiang yang di depan dan tiang-tiang yang di dalam bilik yang lebih dalam, tentulah tempat kediaman Allah akan mempunyai jalan masuk. Demikian, terbukalah jalan memasuki hidup gereja.

DISATUKAN DENGAN KRISTUS

Tahukah Anda mengapa tidak banyak orang yang masuk ke dalam hidup gereja? Karena kita kekurangan tiang-tiang yang melekat pada dan disatukan dengan Kristus yang dihakimi, juga kekurangan tiang-tiang yang melekat pada dan disatukan dengan Kristus yang disalibkan, yang diakhiri. Kita memerlukan tiang yang mengemban kesaksian bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita, pula tiang yang mengemban kesaksian bahwa Kristus mati bagi kita. Bila kita memiliki kedua macam tiang ini, niscaya akan ada jalan masuk bagi orang-orang dosa yang beroleh selamat ke dalam tempat kediaman Allah, dan kemudian diakhiri agar bisa masuk ke dalam tempat maha kudus, sambil menikmati diri Allah di dalam kepenuhan-Nya. Dengan demikian kita akan memiliki hidup gereja sebagai Kemah kesaksian Allah.

Kita semua perlu melekatkan diri kita kepada Kristus yang dihakimi dan Kristus yang disalibkan, sehingga kita tidak hanya menjadi papan-papan, tetapi juga menjadi tiang-tiang. Baik papan maupun tiang, mempunyai fungsinya masing-masing. Jika kita ini hanya papan, maka tidaklah terlalu perlu melekat rapat-rapat pada Kristus yang diadili dan disalibkan. Namun jika kita ingin menjadi tiang, kita harus lebih melekat kepada Kristus yang diadili maupun yang disalibkan. Gereja terbangun dari papan-papan dan tiang-tiang. Tetapi tiang-tianglah yang membentuk jalan masuk bagi orang lain untuk masuk ke dalam hidup gereja, tabernakel Allah, tempat kediaman Allah.