PERSIAPAN MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEINSANIAN-NYA DENGAN KEILAHIAN-NYA (1)
Pembacaan Alkitab: Luk. 1:5-38
Dalam dua berita sebelumnya kita telah membahas pendahuluan Injil Lukas (1:1-4). Dengan berita ini kita sam-pai kepada bagian utama yang kedua dari Injil ini, bagian yang berkenaan dengan persiapan Manusia-Penyelamat da-lam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya (1:5—4:13). Bagi-an ini meliputi sejumlah hal: keterkandungan pelopor Manu-sia-Penyelamat (1:5-25), keterkandungan Manusia-Penyela-mat (1:26-56), kelahiran dan masa kecil pelopor-Nya (1:57-80), kelahiran Manusia-Penyelamat (2:1-20), masa kecil-Nya (2:21-52), penobatan-Nya (3:1-22), status-Nya (3:23-38), dan pengujian terhadap-Nya (4:1-13). Dalam bagian yang panjang dari Injil Lukas ini kita nampak satu gambaran yang penuh yang memperlihatkan bagaimana Manusia-Penyelamat ini dipersiapkan bagi ministri-Nya. Dalam berita ini pertamatama kita akan membahas keterkandungan Yohanes Pem-baptis dan kemudian keterkandungan Manusia-Penyelamat.
KETERKANDUNGAN PELOPOR-NYA
Dikandung dari Seorang Bapa Insani
dalam Seorang Ibu Insani
Lukas 1:5-6 mengatakan, ”Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rom-bongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” Zakharia dan Elisabet adalah umat pilihan Allah, yang dipelihara dalam pengawalan hukum Taurat Perjanjian Lama. Mereka dibawa oleh hukum Taurat agar menjadi berguna bagi Allah untuk permulaan Injil dalam Perjanjian Baru.
Dalam 1:6 kita nampak bahwa Zakharia dan Elisabet hidup benar di pandangan Allah. Hal ini tidak berlawanan dengan Roma 3:20. Di sini ”benar” berarti menjadi benar, tidak bercela dalam pandangan Allah menurut perintah-perin-tah dan ketentuan-ketentuan Perjanjian Lama (Luk. 2:25; Flp. 3:6). Ini bukan berarti bahwa orang-orang yang benar ini tidak berdosa, tanpa sifat dosa, dan tanpa dosa-dosa. Mereka tak bercela, tetapi bukan sempurna. Dalam lambang, mereka tetap memerlukan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah yang tidak bercacat (Im. 4:28; 5:15) untuk pendamaian mereka sehingga mereka dapat berhu-bungan dengan Allah.
Bukan oleh Kekuatan Alamiah
Pelopor Manusia-Penyelamat, Yohanes Pembaptis, bukan dikandung oleh kekuatan alamiah orang tuanya, karena mereka sudah terlalu tua. Mengenai hal ini, 1:7 mengatakan, ”Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.” Ini adalah kedaulatan Tuhan. Jadi mereka memberi kesempatan kepada Allah untuk mulai membawa masuk Injil-Nya bukan dengan kekuatan alamiah manusia tetapi dengan tindakan ilahi-Nya.
Oleh Kuat Kuasa Ilahi dengan Cara yang Ajaib
Zakharia adalah seorang imam dari rombongan Abia. Ini adalah rombongan kedelapan dari kedua puluh empat rombongan pelayanan imamat yang ditetapkan oleh Daud (1 Taw. 24:10). ”Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelom-poknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk un-tuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ” (ay. 8-9). Zakharia membakar dupa di mezbah pembakaran dupa di dalam tempat Kudus (1:11; Kel. 30:6-8; 1 Sam. 2:28; 1 Taw. 23:13; 2 Taw. 29:11).
Lukas 1:10 mengatakan, ”Pada waktu pembakaran du-pa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang.” Doa umat Allah memberi-Nya jalan untuk melaksanakan ren-cana-Nya.
Menurut 1:11-12, ada seorang malaikat Tuhan yang me-nampakkan diri kepada Zakharia. Malaikat itu berkata ke-padanya, ”Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yoha-nes” (ay. 13). Ini menunjukkan bahwa Zakharia telah berdoa agar istrinya melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Hal ini juga menunjukkan bahwa doa kita melaksanakan dispensi Allah, menyiratkan bahwa kekuatan alamiah kita harus diakhiri agar operasi Allah dapat dimulai dengan tin-dakan ilahi-Nya. Hal ini diwahyukan dalam kasus Abraham dan Sara (Kej. 17:15-19) dan dalam kasus Hana (1 Sam. 1:5-20).
Allah datang untuk membuat Zakharia dan Elisabet melahirkan seorang anak dengan cara yang ajaib. Maka, keterkandungan Yohanes Pembaptis adalah oleh kuat kuasa ilahi dengan cara yang ajaib (ay. 19-20). Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berbuat demikian dalam melahirkan Ishak dan Samuel. Sekarang dalam hal Yohanes Pembaptis, lahir dari orang tua yang secara alamiah tidak dapat melahirkan seorang anak, Allah datang agar mereka mendapat-kan seorang anak laki-laki oleh kuasa-Nya.
Dalam 1:13 kita nampak anak yang dilahirkan bagi Zakharia dan Elisabet akan dinamai Yohanes. Bahasa Yunani untuk Yohanes adalah Ioannes, yang berarti Yehova berkenan, Yehova memperlihatkan kasih karunia, atau Yehva adalah Sang Pemberi yang murah hati. Nama ini berasal dari bahasa Ibrani, Yehohanan yang disingkat menjadi Yohanan (2 Raj. 25:23; 1 Taw. 3:24; 2 Taw. 28:12).
Disisihkan bagi Allah sebagai Seorang Nazir dan Telah Dipenuhi dengan Roh Kudus Mulai dari Rahim Ibunya
Mengenai Yohanes Pembaptis, Lukas 1:15 mengatakan, ”Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh de-ngan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya.” Firman mengenai tidak minum anggur atau minuman keras di sini menunjukkan bahwa Yohanes akan menjadi seorang Nazir (Bil. 6:1-4). Dia tidak akan minum anggur, tetapi akan dipenuhi Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menggantikan anggur (Ef. 5:18).
Yohanes Pembaptis lahir sebagai seorang imam, orang yang dipilih Allah. Tetapi imam pilihan Allah ini menjadi seorang Nazir. Menurut Bilangan 6, seorang Nazir bukanlah seorang yang dipilih, melainkan seorang sukarelawan. Kare-na itu, Yohanes Pembaptis memiliki status ganda. Di satu pihak, sebagai seorang imam, ia dipilih oleh Allah; di pihak lain, sebagai seorang Nazir, ia adalah seorang sukarelawan. Yohanes merelakan dirinya untuk melayani Allah.
Lukas 1:15 mengatakan bahwa Yohanes akan dipenuhi dengan Roh Kudus bahkan sejak dari rahim ibunya. Roh Ku-dus adalah gelar ilahi pertama bagi Roh Allah dalam Per-janjian Baru. Gelar yang demikian tidak digunakan dalam Perjanjian Lama. (”Roh Kudus” dalam Mzm. 51:13 dan Yes. 63:10-11 seharusnya diterjemahkan ”Roh kekudusan”). Pada waktu inilah sebutan ilahi dari Roh Allah digunakan, yaitu demi membawa masuk permulaan Injil, untuk menyiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat dan menyiapkan suatu tubuh manusia bagi Dia. Penyiapan jalan bagi kedatangan Penyelamat menuntut pelopor-Nya dipenuhi oleh Roh Kudus bahkan sejak dari rahim ibunya, supaya dia dapat memi-sahkan orang kepada Allah dari segala sesuatu yang bukan Allah, menjadikan mereka kudus kepada-Nya untuk tujuan-Nya. Penyiapan tubuh manusia bagi Penyelamat menuntut Roh Kudus menyalurkan sifat ilahi ke dalam keinsanian, menjadikan manusia kudus bagi perampungan rencana penebusan Allah.
Yohanes Pembaptis adalah orang pertama dalam Perjanjian Baru yang dipenuhi dengan Roh Kudus. Karena ia dipenuhi dengan Roh Kudus, maka ia dapat menggenapkan perkataan-perkataan yang dikatakan mengenai dia dalam ayat 16 dan 17: ”Ia akan membuat banyak orang Israel ber-balik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan menda-hului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Ini adalah penggenapan Maleakhi 4:5. Ayat itu menubuatkan bahwa Elia akan datang. Ayat itu mengatakan tentang Yohanes Pembaptis bahwa ia akan berjalan menda-hului Tuhan di dalam roh dan kuasa Elia. Karena itu, di sa-tu pihak, Yohanes dapat dianggap ”Elia, yang akan datang” (Mat. 11:14). Namun, nubuat dari Maleakhi 4:5 ini sebenar-nya akan digenapkan pada masa kesusahan besar, ketika Elia yang sebenarnya, salah satu dari kedua saksi itu, da-tang untuk menguatkan umat Allah (Why. 11:3-12).
KETERKANDUNGAN MANUSIA-PENYELAMAT
Dikandung dari Roh Kudus
dalam Seorang Dara Manusia
Manusia-Penyelamat ini dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi (ay. 35) dalam seorang dara manusia dengan esens insani (ay. 27-28, 31). Dalam 1:26-56 terdapat catatan tentang keterkandungan-Nya.
Ayat 26-27 mengatakan, ”Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.” Galilea adalah sebuah daerah yang tidak terkenal, dan Nazaret adalah sebuah kota yang diremehkan orang (Yoh. 7:52; 1:46). Dara Maria hidup di sebuah kota yang diremehkan di suatu wilayah yang tidak memiliki ketenaran, namun Maria adalah keturunan keluar-ga raja dari Raja Daud (Luk. 1:31-32; Mat. 1:16).
Menurut 1:28-30, malaikat itu memberi tahu Maria bahwa ia adalah orang yang dikaruniai, orang yang disertai dengan kasih karunia, dan bahwa ia dikaruniai, beroleh kasih karunia, di hadapan Allah.
Kemudian dalam ayat 31 malaikat Gabriel itu me-lanjutkan berkata, ”Sesungguhnya engkau akan mengan-dung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” ”Yesus” adalah bahasa Yunani yang sama dengan Yosua dalam bahasa Ibrani (Bil. 13:16), yang berarti Yehova Juruselamat, atau, keselamatan Yehova. Maka, Yesus bukan hanya seorang Manusia melain-kan Yehova, dan bukan hanya Yehova, melainkan Yehova menjadi keselamatan kita. Jadi, Dia adalah Penyelamat kita. Dia adalah Yosua kita yang membawa kita masuk ke dalam perhentian (Ibr. 4:8; Mat. 11:28-29), yang adalah diri-Nya sendiri sebagai tanah permai bagi kita.
Dalam Lukas 1:35 kita nampak dengan jelas bahwa Manusia-Penyelamat dikandung dari Roh Kudus: ”Roh Ku-dus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahir-kan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Seperti naungan awan di atas gunung pengubahan (Mat. 17:5) dan di atas Kemah Pertemuan (Kel. 40:34, 38). Menurut ayat ini, nam-paknya Roh Kudus berada di atas diri Maria hanya sebagai suatu kuat kuasa yang menyebabkan dia dapat mengandung anak yang kudus. Namun, Matius 1:18 dan 20 memberi tahu kita bahwa Maria ”mengandung dari Roh Kudus”, dan ”anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. Ini menunjukkan bahwa esens ilahi yang berasal dari Roh Kudus telah terkandung dalam rahim Maria sebelum dia me-lahirkan bagi Yesus. Keterkandungan dari Roh Kudus dalam anak dara manusia, yang digenapkan dengan esens ilahi dan insani, menyusun satu pembauran antara sifat ilahi dengan sifat insani, menghasilkan seorang Manusia-Allah, yaitu seorang yang adalah Allah yang lengkap juga manusia yang sempurna, memiliki sifat ilahi dan sifat insani secara nyata, tetapi tidak menghasilkan sifat ketiga. Inilah Persona Yesus yang paling ajaib dan paling unggul — Yehova Sang Penye-lamat.
Keterkandungan Yohanes Pembaptis dan keterkandung-an Yesus Penyelamat itu sangat berbeda dalam esensnya. Keterkandungan Yohanes Pembaptis adalah mujizat Allah, digenapkan dengan esens insani yang telah lanjut usia, hanya dengan kuasa ilahi, tanpa keterlibatan esens ilahi. Karena itu hanya menghasilkan seorang manusia yang di-penuhi Roh Kudus (1:15), tetapi tidak memiliki sifat Allah. Keterkandungan Penyelamat merupakan inkarnasi Allah (Yoh. 1:14), yang tersusun bukan hanya dengan kuat kuasa ilahi, tetapi juga esens ilahi yang ditambahkan kepada esens insani, maka menghasilkan manusia-Allah yang memiliki dua sifat, ilahi dan insani. Dengan demikian menghasilkan manusia-Allah menyatukan diri-Nya sendiri dengan keinsanian agar Dia dapat dinyatakan dalam daging (1 Tim. 3:16) dan dapat menjadi seorang Manusia-Penyelamat (Luk. 2:11).
Kita telah menekankan dengan tegas bahwa Manusia-Penyelamat dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi dalam dara manusia dengan esens insani. Di sini kita nam-pak dua sumber dari dua esens Tuhan. Jelas sekali bahwa keterkandungan Tuhan Yesus melibatkan dua sumber — Roh Kudus dan dara manusia — dan dua esens — esens ilahi dan esens insani.
Keterkandungan Manusia-Penyelamat ini melibatkan satu pembauran antara esens ilahi dengan esens insani. Sebenarnya, setiap keterkandungan adalah hal pembauran. Pada keterkandungan Manusia-Penyelamat esens ilahi itu bukan hanya ditambahkan kepada esens insani; lebih-lebih esens ilahi ini berbaur dengan esens insani.
Pada zaman dulu terjadi satu perdebatan mengenai kata ”pembauran”. Beberapa orang yang tidak memahami perkara pembauran antara esens ilahi dengan esens insani dalam Persona Yesus Kristus mengajarkan bidah bahwa pembauran ini berarti Kristus bukan Allah maupun manusia, melainkan makhluk jenis ketiga yang memiliki sifat ketiga, sesuatu yang bukan Allah atau manusia. Ini adalah bidah yang sangat besar!
Karena pengajaran bidah mengenai pembauran ini, tidak banyak guru Alkitab yang berani memakai istilah dalam hubungannya dengan Tuhan Yesus. Namun, sekalipun kata ini telah dipakai secara salah, Alkitab mewahyukan kebenaran bahwa Kristus Tuhan kita adalah pembauran Allah dengan manusia. Tetapi pembauran ini tidak menyebabkan Dia kehilangan sifat ilahi atau sifat insani, dan tidak menghasilkan sifat ketiga. Sebaliknya, dalam pem-bauran ini esens ilahi dan esens insani tetap dapat di-bedakan, dan tidak dihasilkan sifat ketiga, tidak ada esens ketiga.
Beberapa orang menentang kita dan dengan salah menuduh kita mengajarkan bidah karena kita mengajarkan kebenaran alkitabiah tentang pembauran esens ilahi dengan esens insani dalam Kristus. Penentangan ini membuat kita mempelajari hal ini lebih jauh. Semakin kita mempelajari, semakin kita ditegaskan dalam kebenaran mengenai pembauran ini.
Seperti yang telah kita tunjukkan dalam Berita Kesatu dari Pelajaran-Hayat ini, kita setuju dengan definisi pertama dari kata ”berbaur” yang tercantum dalam Kamus Webster`s Unabridged: ”mengkombinasikan atau menggabungkan (satu benda dengan benda lainnya, atau dua benda atau lebih dari dua benda), khususnya supaya elemen-elemen asalnya dapat dibedakan dalam kombinasi itu.” Maka, berbaur ada-lah mengkombinasikan dua benda atau lebih dari dua benda supaya elemen-elemen asalnya tetap dapat dibedakan.
Inilah sesungguhnya keadaan Persona Tuhan Yesus Kristus. Dia dikandung dari dua esens, ilahi dan insani. Ma-ka, Dia adalah satu pembauran antara Allah dengan manu-sia. Baik esens ilahi maupun esens insani tetap ada dan da-pat dibedakan. Esens-esens ini berbaur dalam satu Persona tanpa menghasilkan sifat ketiga. Tuhan memiliki dua sifat, dan dalam Dia setiap sifat itu dapat dibedakan. Kita perlu terkesan dalam-dalam oleh hal ini, karena ini adalah elemen dasar bagi pengetahuan kita terhadap Persona Tuhan Yesus yang ajaib.
Lahir sebagai Anak Allah dan Keturunan Daud
Karena Tuhan Yesus dikandung dari Allah Roh, Dia adalah Putra Allah. Mengenai Dia Lukas 1:32 mengatakan, ”Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha tinggi.” Yang Mahatinggi adalah satu gelar ilahi. Dalam bahasa Ibrani, Yang Mahatinggi adalah Elyon (Kej. 14:18), yang menyatakan (Allah) Yang Mahatinggi; maka, tidak ada artikelnya. Yesus itu agung, karena Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, Allah yang Tertinggi.
Lukas 1:35 mengatakan bahwa ”anak yang kudus” yang lahir dari Maria akan disebut Anak Allah. Karena keter-kandungan itu berasal dari Roh Kudus, maka apa yang di-lahirkan dari keterkandungan itu adalah hal yang kudus, sesuatu yang kudus secara mendasar. Inilah Yesus Penyelamat kita.
Bagian belakang Lukas 1:32 mengatakan tentang Manusia-Penyelamat, ”Tuhan Allah akan mengaruniakan ke-pada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya.” Yesus, yang di-kandung dari Roh Kudus dan lahir dari seorang dara ma-nusia, adalah Anak Allah yang Mahatinggi, dan pada waktu yang sama Dia adalah anak seorang bangsawan, Raja Daud (Mat. 1:1; 22:45). Status-Nya adalah ilahi dan insani.
Lukas 1:33 melanjutkan, ”Dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kera-jaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Ayat sebelumnya menyingkapkan keluarga Yesus dan ayat ini menyingkapkan kerajaan-Nya. Yesus akan mendapatkan keluarga Yakub, yaitu bangsa Israel, sebagai pusat pemerintahan-Nya (Kis. 1:6; 15:16), yang melaluinya Dia akan memerintah atas seluruh dunia sebagai kerajaan-Nya (Why. 11:15), pertamatama dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6) dan kemudian dalam langit baru dan bumi baru sampai selamalamanya (Why. 22:3, 5).
Dalam firman yang singkat yang dikatakan kepada Maria oleh malaikat itu terdapat satu wahyu yang jelas bahwa Dia yang akan lahir dari Maria adalah Allah dan manusia. Karena Dia dikandung dari Roh Kudus, maka Dia adalah Anak Allah. Karena Dia juga dikandung dari dara manusia, maka Dia adalah Anak Manusia. Pada aspek ilahi, Dia adalah Anak Allah; pada aspek insani, Dia adalah Anak Manusia. Menurut aspek insani, Dia adalah keturunan Daud untuk mewarisi takhta Daud dan untuk memerintah atas keluarga Yakub selama-lamanya dalam kerajaan kekal-Nya.
Karena Tuhan Yesus adalah Anak Allah dan Anak Manusia, kadang-kadang Dia menunjukkan kepada orang lain bahwa Dia adalah Anak Allah, dan pada waktu lainnya, menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Manusia. Karena Dia di-kandung dari dua esens — ilahi dan insani — Dia adalah Anak Allah dan Anak Manusia.