← Daftar isi Lukas (1) · bab 1/26

PENDAHULUAN, SUBYEK, DAN ISI INJIL LUKAS (1)

Pembacaan Alkitab: Luk. 1:1-4

Dengan berita ini kita memulai Pelajaran-Hayat Injil Lukas. Secara luaran, Injil ini sangat sederhana. Tampaknya Injil Lukas tidak sedalam Injil Matius atau semisterius Injil Yohanes. Alasannya adalah Lukas memaparkan satu catatan tentang Penyelamat kita, Tuhan Yesus, sebagai seorang Manusia. Seorang manusia tentu tidaklah dalam bila dibandingkan dengan Allah.

Meskipun Injil Lukas bukan yang paling dalam atau misterius di antara keempat kitab Injil, tetapi Injil ini ada-lah Injil yang paling manis dan paling menyenangkan di an-tara kitab-kitab Injil. Memang, Allah itu dalam. Tetapi ke-tika Dia menjadi seorang manusia, Dia menjadi manis dan menyenangkan.

Dalam Injil Matius kita nampak Raja; dalam Injil Markus, kita nampak Hamba; dan dalam Injil Yohanes, kita nampak Allah itu sendiri. Dalam Injil Lukas, kita nampak Manusia. Pengisahan Lukas mengenai Tuhan Yesus sebagai Manusia-Penyelamat sangat manis dan menyenangkan. Baik cerita maupun pengisahannya manis dan menyenangkan.

PENDAHULUAN

Lukas 1:1-2 mengatakan, ”Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peris-tiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula ada-lah saksi mata dan pelayan Firman.” Kata ”banyak” dalam ayat 1 menunjukkan bahwa yang menulis riwayat hidup Penyelamat di bumi lebih dari empat orang. ”Peristiwa-pe-ristiwa” dalam ayat ini adalah peristiwa-peristiwa tentang kelahiran, ministri, dan kemartiran Yohanes Pembaptis, ju-ga kelahiran, kehidupan, ministri, pengajaran, kematian, ke-bangkitan, dan kenaikan Yesus untuk menggenapkan pene-busan Allah agar orang-orang dosa dapat diselamatkan oleh kasih karunia.

Ayat 2 menunjukkan bahwa penulis kitab Injil ini tidak berada di antara murid-murid yang bersama Penyelamat se-lama hidup-Nya di bumi. Dengan perkataan ”yang dari se-mula adalah saksi mata dan pelayan Firman,” Lukas menunjukkan kelompok pertama kaum beriman Perjanjian Ba-ru, yang bersama-sama dengan Sang Penyelamat dalam ministri-Nya di bumi. Mereka disebut ”pelayan Firman”; dalam bahasa Yunani berarti pegawai negeri, pelaksana perintah, yang bertugas melayani seorang pejabat atau yang berwewe-nang, untuk menjalankan perintah-perintahnya. Kata ini di-pakai dalam Lukas 4:20, Matius 5:25, Markus 14:54, Kisah Para Rasul 26:16, dan 1 Korintus 4:1. Firman dalam 1:2 adalah Firman Injil yang diministrikan dan diberitakan kepada orang-orang (Kis. 6:4; 8:4).

Satu Catatan yang Berurutan

Lukas 1:3-4 mengatakan, ”Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” Di sini Lukas menunjukkan bahwa ia menuliskan satu catatan yang berurutan. Catatan yang berurutan ini berkenaan dengan kehidupan, ministri, dan kemartiran Yohanes Pembaptis; kehidupan, ministri, pengajaran, kematian, ke-bangkitan, dan kenaikan Yesus, Manusia-Penyelamat. Injil ini dapat dianggap sebagai riwayat hidup dari kedua persona ini. Tentunya, Injil Lukas terutama adalah riwayat hidup Penyelamat.

Ditulis oleh Lukas

Gereja sebermula mengenal Lukas sebagai penulis kitab Injil ini dan kitab Kisah Para Rasul. Kepenulisan Lukas di-buktikan dari gaya susunan kedua kitab tersebut. Lukas ada-lah orang bukan Yahudi (Kol. 4:14, cf. 11), mungkin seorang Yunani Asia, dan seorang tabib (Kol. 4:14). Mulai di Troas, ia bergabung dengan Paulus dalam ministri Paulus dan mendampinginya dalam ketiga perjalanan ministrinya yang terakhir (Kis. 16:10-17; 20:5—21:18; 27:1—28:15). Ia adalah teman setia Paulus sampai saat Paulus mati martir (Flm. 24; 2 Tim. 4:11). Karena itu, Injilnya mewakili pandangan Paulus, seperti Injil Markus mewakili pandangan-pandangan Petrus.

Kepada Teofilus

Dari Lukas 1:3-4 kita tahu bahwa Injil ini ditulis kepada Teofilus. Ini adalah satu nama Yunani yang berarti dikasihi Allah, atau teman Allah. Teofilus mungkin adalah seorang beriman bukan Yahudi yang menduduki jabatan yang cukup penting di bawah pemerintahan Kekaisaran Romawi. Maka, Injil ini ditulis oleh seorang tabib bukan Yahudi kepada se-orang pejabat bukan Yahudi.

SUBYEK — MANUSIA-PENYELAMAT

DAN PENYELAMATAN-NYA DALAM STANDAR

MORALITAS YANG TERTINGGI

Injil Lukas, Matius, dan Markus bersifat sinopsis sehubungan dengan keinsanian Penyelamat, mewahyukan Allah di antara umat manusia dalam kasih karunia keselamatan-Nya yang diberikan kepada umat manusia yang jatuh. Tujuannya adalah untuk menampilkan Penyelamat sebagai manusia se-jati, normal, dan sempurna. Kitab ini memberikan silsilah yang lengkap tentang Manusia Yesus, dimulai dari orang tua-Nya menelusur kembali ke Adam, generasi pertama umat manusia. Ini memperlihatkan bahwa Dia adalah ke-turunan manusia yang sejati — yaitu anak manusia. Catat-an Injil tentang kehidupan Manusia ini memberikan kesan terhadap kelengkapan dan kesempurnaan keinsanian-Nya. Karena itu, kitab ini menekankan Tuhan sebagai Manusia-Penyelamat. Berdasarkan prinsip-prinsip moralitas yang ber-laku bagi semua orang, kitab ini menyampaikan berita-berita Injil seperti dalam 4:16-21; 7:41-43; 12:14-21; dan 13:2-5; perumpamaan-perumpamaan Injil seperti dalam 10:30-37; 14:16-24; 15:3-32; dan 18:9-14; dan kasus-kasus Injil seperti dalam 7:36-50; 13:10-17; 16:19-31; 19:1-10; dan 23:39-43. Tidak satu pun dari catatan-catatan di atas terdapat dalam kitab-kitab Injil lainnya. Berlainan dengan Injil Matius, ki-tab ini tidak menekankan aspek zaman atau latar belakang orang Yahudi. Injil Lukas adalah Injil yang ditulis kepada manusia pada umumnya, dan memberitakan kabar baik ke-pada semua orang (2:10). Ciri-ciri khas kitab ini sama sekali bukan bangsa Yahudi, melainkan bangsa-bangsa lain (4:25-28). Kitab ini adalah Injil untuk semua orang dosa, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Dengan demi-kian, urutan catatannya adalah berdasarkan moralitas, bu-kan berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah.

Subyek dari Injil Lukas ini menakjubkan: Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya dalam standar moralitas yang tertinggi. Di sini ada Manusia-Penyelamat, penyela-matan-Nya, dan standar moralitas yang tertinggi. Saya per-caya bahwa kebanyakan pembaca Injil ini akan menyadari bahwa kitab ini membicarakan seorang Manusia yang adalah Penyelamat kita. Maka, kita dapat menyebut-Nya Manusia-Penyelamat. Juga, lebih mudah untuk mengenal bahwa ki-tab ini memperlihatkan penyelamatan dari Manusia-Penyelamat. Namun, tidak banyak pembaca Injil ini yang menya-dari bahwa Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya berada dalam standar moralitas yang tertinggi.

Ketika beberapa orang mendengar bahwa Lukas menyajikan Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya dalam standar moralitas yang tertinggi, mereka mungkin berkata, ”Kami tidak menemukan kata ’moralitas’ dalam kitab ini. Kami bahkan tidak melihat pemikiran tentang moralitas.” Tampaknya, memang demikian. Tetapi, jika kita menyelidiki ke dalam lubuk kitab ini, kita akan nampak bahwa kitab ini memang berisi standar moralitas yang tertinggi. Menurut Injil Lukas, Penyelamat kita hidup, berperilaku, dan bekerja dalam standar moralitas tertinggi. Selain itu, penyelamatan-Nya dilaksanakan dalam standar moralitas yang tertinggi. Karena itu, kita perlu selalu ingat bahwa subyek dari Injil Lukas adalah Manusia-Penyelamat dan penyelamatan-Nya di dalam standar moralitas yang tertinggi.

Manusia-Penyelamat

Dikandung dari Roh Kudus dengan Esens Ilahi

Kita perlu nampak bahwa Tuhan Yesus adalah Manusia-Penyelamat. Sebagai Manusia-Penyelamat, Dia dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi. Tidak seperti ri-wayat hidup lainnya, Lukas juga mencatat keterkandungan-Nya saat ia menulis riwayat hidupnya. Riwayat hidup lain-nya mungkin membicarakan kelahiran seseorang, tetapi tidak membicarakan keterkandungannya. Dalam perkara ini, Lukas itu unik. Ia memberi tahu kita bagaimana Ma-nusia-Penyelamat ini dikandung. Dia bukan dikandung dari seorang manusia, melainkan dari Roh Kudus dengan esens ilahi.

Roh Kudus adalah Allah itu sendiri yang mencapai manusia. Ini berarti, ketika Allah mencapai manusia, Dia adalah Roh Kudus. Dengan keterkandungan Manusia-Penyelamat ini, Roh Kudus masuk ke dalam keinsanian.

Kita telah menunjukkan bahwa Manusia-Penyelamat ini dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi. Di sini kita memakai kata ”esens” dengan tegas untuk menyatakan sesuatu yang bahkan lebih intrinsik daripada sifat. Esens ini adalah penyusun intrinsik dari suatu substansi. ManusiaPenyelamat ini dikandung dari Roh Kudus bukan hanya dengan sifat ilahi melainkan dengan esens ilahi. Penting sekali kita nampak hal ini.

Lahir dari Seorang Dara Manusia dengan Esens Insani

Manusia-Penyelamat ini lahir dari seorang dara manusia dengan esens insani. Dalam 1:27 dan 31 kita melihat bahwa seorang dara bernama Maria mengandung dan melahirkan seorang Putra yang bernama Yesus.

Karena Manusia-Penyelamat ini dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi dan lahir dari seorang dara ma-nusia dengan esens insani, maka Dia memiliki dua esens, ilahi dan insani. Pada-Nya ada perbauran esens ilahi dengan esens insani.

Berkebalikan dengan Manusia-Penyelamat ini, kita ha-nya memiliki satu esens, esens insani, karena kita dikandung dari laki-laki dan lahir dari perempuan. Penyelamat kita berbeda, karena Dia dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari seorang dara manusia. Pada Roh Kudus ada esens ilahi dan pada dara manusia ada esens insani.

Pembauran antara Esens Ilahi dengan Esens Insani

Dua esens Tuhan ini bukan hanya ditambahkan; melainkan dibaurkan. Sebenarnya, keterkandungan adalah suatu pembauran, bukan hanya suatu penambahan. Yang terjadi pada Manusia-Penyelamat bukanlah penambahan esens ilahi kepada esens insani, melainkan esens ilahi dibaurkan dengan esens insani.

Beberapa pelajar Alkitab dan bahkan beberapa guru Alkitab tidak memahami hal pembauran ini. Sejak zaman dulu telah terjadi suatu perdebatan mengenai pembauran esens ilahi dengan esens insani dalam Persona Tuhan Yesus. Beberapa orang yang salah paham terhadap pembauran ini mengatakan bahwa pembauran ini menghasilkan sifat ketiga, sesuatu yang bukan ilahi maupun insani. Adalah bidah bila mengatakan bahwa pembauran esens ilahi dengan esens insani pada diri Tuhan Yesus menghasilkan sifat ketiga, suatu sifat yang bukan sepenuhnya insani atau ilahi. Namun, kita ingin menjelaskan bahwa pemahaman kita ten-tang kata ”berbaur” bukanlah demikian. Kita setuju dengan definisi yang pertama dari kata ini yang tercantum dalam Kamus Webster`s Unabridged: berbaur — ”mengkombinasi-kan atau menggabungkan (satu benda dengan benda lainnya, atau dua benda atau lebih dari dua benda), khususnya supa-ya elemen-elemen asalnya dapat dibedakan dalam kombinasi itu.” Menurut definisi ini, bila dua benda atau lebih dibaurkan bersama, maka sifat asal keduanya tidak hilang melain-kan tetap dapat dibedakan.

Kita dapat menggunakan teh sebagai satu ilustrasi pembauran. Bila teh dibaurkan dengan air untuk membuat minuman, esens teh dan esens air itu tidak hilang. Sebalik-nya, kedua esens itu masih tetap ada. Kedua esens itu di-baurkan bersama untuk menghasilkan minuman, tetapi ke-dua esens itu tidak menghasilkan sifat ketiga, sesuatu yang bukan teh maupun air.

Penyelamat kita dikandung dari esens ilahi dan lahir dari esens insani. Karena itu, Dia adalah Persona dengan dua esens — ilahi dan insani — dibaurkan bersama tanpa menghasilkan sifat ketiga. Meskipun Tuhan memiliki dua esens, Dia masih tetap adalah satu Persona yang lengkap, yang adalah Allah dan manusia.

Memiliki Sifat Ilahi dengan Atribut Ilahi dan Sifat Insani dengan Kebajikan Insani

Sebagai Manusia-Penyelamat, Tuhan Yesus memiliki sifat ilahi dengan atribut ilahi dan sifat insani dengan kebajikan insani. Atribut ilahi berhubungan dengan hakiki Allah dan apa yang Allah miliki. Kita tidak dapat mem-bicarakan dengan tuntas mengenai atribut Allah. Tetapi kita dapat mengatakan bahwa Tuhan Yesus memiliki sifat Allah dengan semua atribut ilahi.

Saya harap kalian memperhatikan satu fakta bahwa di sini kita memakai istilah ”atribut” dalam hubungannya dengan Allah dan istilah ”kebajikan” dalam hubungannya dengan manusia. Karena Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi, maka Dia memiliki sifat ilahi dengan atribut ilahi. Karena Dia lahir dari seorang dara manusia dengan esens insani, maka Dia memiliki kebajikan insani. Karena itu, sewaktu Dia di bumi, Dia menempuh suatu kehidupan yang insani dan ilahi. Dia adalah seorang Manusia yang menempuh suatu kehidupan insani, tetapi dalam kehidupan insani itu atribut ilahi diekspresikan.

Dalam Injil Yohanes kita nampak Allah mengekspresikan diri-Nya sendiri di dalam manusia. Menurut Yohanes 1:1 dan 14, pada mulanya adalah Firman, Firman itu adalah Allah, dan Firman ini, yang adalah Allah, menjadi daging. Allah menjadi daging untuk menempuh suatu kehidupan yang mengekspresikan diri-Nya dalam keinsanian. Dalam Injil Yohanes penekanannya adalah Allah mengekspesikan diri-Nya di dalam manusia. Tetapi dalam Injil Lukas pene-kanannya adalah seorang Manusia yang menempuh suatu kehidupan untuk mengekspresikan Allah. Kelihatannya, dua hal ini mirip sekali; namun ada satu perbedaan. Yohanes menekankan aspek Allah, dan Lukas menekankan aspek manusia. Dalam Injil Yohanes kita nampak Allah mengeks-presikan diri-Nya dalam keinsanian; dalam Injil Lukas kita nampak seorang Manusia yang mengekspresikan Allah dalam kehidupan insani-Nya. Sewaktu Manusia ini hidup di bumi, dalam kehidupan-Nya atribut Allah diekspresikan.

Kita tahu bahwa Penyelamat kita memiliki esens ilahi dan esens insani. Namun, walaupun memiliki esens insani, Dia tidak memiliki apa-apa yang berhubungan dengan sifat manusia yang telah jatuh. Menurut Yohanes 1:14, Allah menjadi daging. Tetapi dari perkataan Paulus dalam Roma 8:3 kita nampak bahwa Tuhan memiliki rupa daging dosa. Ini menunjukkan bahwa Dia lahir dengan semua kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah, tetapi pada-Nya hanya ada rupa daging dosa.

Sebagai orang-orang yang telah jatuh, kita tidak dapat merasakan betapa manis dan betapa menyenangkan manusia yang diciptakan oleh Allah itu. Bayangkan betapa manis dan menyenangkannya Adam dan Hawa sebelum kejatuhan. Mereka memiliki semua kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah. Tetapi karena kejatuhan, kebajikan ini rusak.

Ketika Tuhan Yesus lahir dari seorang dara manusia dengan esens insani, Dia memiliki kebajikan insani. Namun, esens insani Tuhan Yesus tidak mencakup sifat manu-sia yang telah jatuh. Esens insani-Nya adalah yang dicip-takan oleh Allah. Dia memiliki penampilan manusia yang telah jatuh, serupa daging dosa, tetapi esens insani-Nya, yang diciptakan oleh Allah itu murni, manis, dan menyenangkan.

Pembentukan Manusia-Penyelamat ini, susunan-Nya, adalah satu susunan dari atribut ilahi dan kebajikan insani. Betapa menakjubkan bahwa di alam semesta ini ada Seorang dengan susunan yang demikian! Dalam Manusia-Penyela-mat ini manusia dan Allah, Allah dan manusia, dibaurkan untuk membentuk satu susunan yang penuh dengan atribut ilahi dan kebajikan insani.

Kita perlu memiliki pandangan yang demikian tentang Manusia-Penyelamat sewaktu kita membaca Injil Lukas. Pada tahun-tahun yang lalu saya tidak memiliki pandangan yang demikian tentang Injil Lukas. Tetapi akhirnya Tuhan membuka mata saya dan saya mulai nampak bahwa dalam pengisahan Lukas kita memiliki Seorang yang adalah susun-an Allah dan manusia. Pemahaman ini telah dikuatkan oleh tulisan-tulisan orang lain.

Dalam Injil Lukas kita nampak manusia-Allah, satu Persona yang adalah pembauran keilahian dengan keinsanian. Dalam Persona ini kita nampak semua atribut Allah dan semua kebajikan insani.

Atribut Ilahi Memperkuat dan Memperkaya

Kebajikan Insani

Jika kita membaca Injil Lukas dengan teliti, kita akan nampak bahwa atribut ilahi memperkuat dan memperkaya kebajikan insani. Misalnya, Alkitab dengan jelas mewahyu-kan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8) dan bahwa Allah mengasihi (Yoh. 3:16). Alkitab juga mengatakan bahwa sebagai orang-orang yang diciptakan oleh Allah, kita harus mengasihi orang lain (Rm. 13:9). Allah mengasihi, dan kita juga harus mengasihi. Namun, kita mungkin mengasihi tanpa memiliki kasih Allah yang memperkuat dan memperkaya kasih kita. Kong Hu Cu mengatakan bahwa kita harus mengasihi orang lain. Tetapi ia tidak menunjukkan bahwa kasih manusia dapat diperkuat dan diperkaya oleh kasih ilahi. Dalam Injil Lukas kita nampak seorang Manusia, Ma-nusia-Penyelamat, yang sangat pengasih. Namun dalam ka-sih-Nya ada kasih ilahi yang memperkuat dan memperkaya kasih insani.

Kehidupan Tuhan adalah kehidupan satu Persona yang adalah satu susunan yang ajaib dari keilahian dan ke-insanian. Sebagai Persona yang demikian, Tuhan disusun dengan atribut ilahi dan kebajikan insani.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Injil Lukas ada sejumlah berita Injil, perumpamaan-perumpamaan Injil, dan kasus-kasus Injil. Jika kita masuk ke dalam lubuk pengi-sahan Lukas, kita akan nampak bahwa ketiga kelompok dari hal-hal ini mewahyukan bahwa kehidupan Tuhan Yesus di bumi sepenuhnya diperkuat dan diperkaya oleh atribut ilahi. Akibatnya, Dia hidup dalam standar moralitas yang tertinggi. Di dalam berita selanjutnya kita akan membahas le-bih rinci arti dari standar moralitas yang tertinggi yang di-gambarkan dalam Injil Lukas.