Daftar isi Menyembah Allah · bab 1/1

MENYEMBAH ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Kej. 24:26-27, 52-53; Kel. 4:30-31; 12:27; 1 Sam. 1:27-28; 2 Sam. 12:18-20

MENGENAL JALAN ALLAH

Dalam Alkitab, di satu pihak kita diberi tahu harus mengenal diri Allah, di samping itu kita juga diberi tahu harus mengenal jalan Allah. Diri Allah hanya bisa diketahui melalui wahyu; jalan Allah hanya bisa diketahui melalui taat. Karena wahyu kita mengenal diri Allah; karena mau menerima penanggulangan, mau taat, kita mengenal jalan Allah.

Apa yang disebut jalan Allah? Jalan Allah adalah cara Allah menanggulangi kita. Jalan Allah adalah perkara yang dilakukan menurut ketentuan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang Allah pilih di atas diri kita. Jalan Allah lebih tinggi daripada jalan kita. Allah mempunyai pilihan-Nya sendiri, tidak ada orang yang bisa menggantikan Allah memilih jalan-Nya. Allah suka memperlakukan orang ini begini, Allah suka memperlakukan orang itu begitu; Allah suka berbuat ini, Allah suka berbuat itu, inilah yang disebut jalan Allah. Jalan Allah berarti Allah suka begini, ya begini, suka begitu, ya begitu.

JALAN MENYEMBAH ALLAH

Begitu manusia mendapatkan wahyu, begitu manusia mengenal Allah, begitu manusia mengetahui Dia adalah Allah, sebagai manusia, mau tidak mau harus menundukkan kepala menyembah Allah; tetapi tidak bisa berhenti sampai di sana, karena itu terlalu abstrak. Anda harus segera berkata, "Ya Allah, aku menyembah-Mu, aku juga menyembah jalan-Mu; aku tidak hanya menyembah-Mu, aku juga menyembah jalan-Mu." Hati Anda dipimpin Allah sedemikian rupa sehingga Anda sujud di hadapan Allah, berkata kepada Allah, "Aku tidak hanya melihat Engkau layak disembah, karena Engkau Allah, aku juga menyembah semua milik-Mu dan apa yang Engkau senang kerjakan; aku menyembah perkara yang Engkau pilih; aku menyembah semua perkara yang Engkau tetapkan untuk diriku, apa yang Engkau pandang baik untuk diriku. Aku juga menyembah perkara yang Engkau tidak suka kutuntut." Semua penyembahan yang sesungguhnya berasal dari wahyu, berasal dari melihat siapakah Allah itu. Syukur kepada Allah, saya telah mengenal Dia, hasilnya saya bersujud di hadapan Allah dan berkata, "Apa saja yang Engkau kerjakan, benar; Engkau tidak mungkin berbuat salah." Dengan demikian Anda menerima jalan Allah.

Kita belajar jalan selangkah demi selangkah. Kalau Anda ingin berjalan di hadapan Allah, namun Anda tidak belajar menyembah jalan Allah -- tidak saja menyembah Allah, juga menyembah jalan Allah, maka dalam perkara rohani Anda tidak mempunyai hari depan. Hari depan rohani kita tergantung pada apakah kita bisa menyembah jalan Allah. Semua orang yang mengenal Allah harus dipimpin sampai bisa berkata, "Aku menyembah jalan Allah, aku menyembah apa yang Allah tentukan di atas diriku, aku menyembah apa yang Allah kerjakan di atas diriku, aku menyembah apa yang Allah senangi di atas diriku, aku menyembah apa yang Allah rampas dari diriku. Aku menyembah ini."

Kita akan melihat bagaimana cara penyembahan semua orang yang menyembah Allah dalam Perjanjian Lama. Kita akan melihat jalan Allah dari diri orang-orang yang menyembah Allah dalam Perjanjian Lama.

Karena Jalannya Lancar Menyembah Allah

Apakah jalan Allah? Artinya ialah apa yang Allah kerjakan di atas diri kita. Kita mencari contoh yang pertama, yaitu dalam Kejadian 24. Apakah Anda ingat kisahnya? Yaitu Abraham berkata kepada hambanya yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya, "Engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang istri bagi Ishak, anakku" (ayat 4). Ini adalah perkara yang sangat sulit. Saat itu Abraham berada di Kanaan, dengan Mesopotamia terpisah oleh Sungai Yordan dan Sungai Efrat; di antara Sungai Yordan dan Sungai Efrat masih ada padang gurun. Menyuruh seorang hamba menempuh jalan yang sejauh itu, pergi ke tempat yang asing, untuk menganjuri seorang gadis muda menerima satu pernikahan, ini sangatlah sulit. Sepertinya ia harus pergi ke ujung bumi mencari keluarga Abraham, mencari seorang gadis; tetapi dia menengadah kepada Allah. Ajaib sekali, Alkitab mencatat, ketika ia berjalan, ia sampai ke Kota Nahor, yaitu kota asal Abraham, lalu ia berdoa, "TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum -- dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak" (ayat 12-14). Doa ini boleh jadi sulit tergenapi, tetapi dia justru berdoa demikian. Sebentar kemudian, datanglah Ribka.

Kita mengetahui kisah ini, semua yang ditentukan oleh hamba itu, persis seperti yang dia doakan. Tetapi kalau gadis ini bukan sanak keluarga Abraham, bagaimana selanjutnya? Kita mengetahui bahwa ini melambangkan gereja dan Kristus adalah satu keluarga, Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu (Ibr. 2:11). Ishak berasal dari mana, Ribka juga berasal dari mana. Kalau bangsa yang lain, orang Sinear, orang Babel yang melakukan ini, apa yang akan terjadi? Tetapi begitu hamba tua ini bertanya, segera ia mengetahui bahwa gadis ini adalah keluarga Abraham, sebab itu dia segera berlutut menyembah TUHAN (ayat 23-27). Tampakkah Anda? Inilah yang disebut jalan TUHAN. Ketahuilah, kalau Anda belajar mengakui Tuhan dalam jalan Anda, seperti mengakui Tuhan dalam Amsal 3:6, yaitu dalam jalan Tuhan mengakui Tuhan, mohon kepada Tuhan, "Berilah aku anugerah, aku di sini, mohon Engkau melakukan ini; aku di sini, aku percaya Engkau melakukan ini; aku di sini menengadah, mohon Engkau melakukan ini." Bagaimana hasilnya? Hasilnya, Tuhan pun melakukan ini, maka Anda menyembah Tuhan. Jadi, menyembah Allah bukan hanya karena Dia adalah Allah, tetapi juga karena perbuatan Allah. Karena itu hamba itu segera menundukkan kepala berkata, "Aku mengetahui Engkau menganugerahi aku, Engkau memberkati tuanku Abraham, Engkau juga memberkati aku, Engkau telah menuntun aku dalam perjalanan."

Tampakkah Anda apa yang disebut menyembah? Menyembah adalah memuliakan Allah, menyembah adalah kemuliaan yang didapatkan oleh Allah. Bukan berarti Anda berjumpa dengan satu perkara, setelah berdoa, perkara ini lancar, lalu Anda berkata, "Kali ini kebetulan lancar, kali ini kebetulan sekali, kali ini nasibku baik sekali, untuk kali ini aku berbuat demikian." Orang yang mengenal Allah, yang berjumpa dengan Allah, melihat Allah berbuat satu perkara, dia tidak bisa melakukan yang lain, dia hanya bisa segera berlutut menyembah Allah. Hamba itu tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan Ribka, perkara pertama yang ia perbuat adalah menyembah Allah; dia tidak merasa malu, dia segera menundukkan kepala berkata, "Ya Allah, aku menyembah Engkau!"

Apa yang disebut menyembah? Menyembah adalah demikianlah jalan Allah bekerja di atas diri saya, lalu saya memuliakan Allah. Memberikan kemuliaan kepada Allah, inilah penyembahan. Kemuliaan yang saya berikan kepada Allah adalah penyembahan. Kemuliaan yang kita berikan kepada Allah tidak lebih dari penyembahan. Kita bersujud di hadapan Allah adalah penyembahan yang Allah peroleh dari diri kita, Anda bisa berlutut tunduk dan berkata kepada Allah, "Aku tunduk kepada-Mu." Orang yang sombong tidak bisa menyembah Allah. Orang yang sombong selamanya tidak bisa memberikan kemuliaan kepada Allah; ia selalu mengira dirinya yang hebat, ini adalah kebetulan, untung aku berbuat demikian, untung aku berkata begitu, untung aku bertemu dengan orang itu. Orang yang demikian selamanya tidak bisa memuliakan Allah, karena dia tidak menyembah Allah. Menyembah Allah perlu ketika masih di atas jalan sudah memuliakan Allah, berkata, "Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu, aku memuji-Mu, inilah pekerjaan-Mu; aku bersyukur kepada-Mu, aku memuji-Mu, inilah yang Engkau berikan kepadaku." Ketahuilah, sering kali kita tidak bisa tidak menundukkan kepala memberikan kemuliaan kepada Allah; tidak bisa tidak menundukkan kepala berkata, "Ya Allah, aku menyembah-Mu."

Hamba itu datang ke rumah Ribka, menceritakan perkara ini kepada Laban, Betuel, dan anggota keluarga mereka, dan memberi tahu akan membawa Ribka pergi (Kej. 24:34-49). Betuel, Laban, dan yang lain-lain mendengarkan perkataan ini lalu menjawab, "Semuanya ini datangnya dari TUHAN, kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya dan buruknya, kalau Ribka mau pergi, bolehlah dia pergi" (ayat 50-51). Kalau kita, mungkin kita akan berkata, "Orang ini nasibnya baik, pandangan orang ini baik, perkara kali ini sangat lancar." Berkata demikian menunjukkan bahwa kita tidak mengenal Allah, menunjukkan bahwa kita tidak tampak Allah. Di sini ada seorang yang mengenal Allah, dia telah tampak perbuatan Allah. Dia mempunyai satu keistimewaan, meskipun jalannya begitu lancar, tetapi dia tidak bergembira karena itu, dia tidak berterima kasih kepada mereka, dia justru bersujud kepada TUHAN (ayat 52). Inilah yang disebut menyembah.

Kita harus menyembah Allah, juga menerima cara penanggulangan Allah terhadap kita. Memang, perkara yang ditangani hamba tua Abraham sangatlah lancar. Tetapi dia mempunyai satu keistimewaan, yaitu dia segera menyembah TUHAN. Kalau kita benar-benar mau menyembah Allah, kita akan tampak sekali demi sekali Dia akan memberi kita lebih banyak kesempatan menyembah Dia. Hamba tua itu baru sampai pintu desa, pintu rumah Laban, dia segera menyembah. Dia masuk ke dalam, menyembah lagi. Anda telah menyembah Allah untuk kali pertama, maka Allah akan memberi Anda kesempatan kali kedua untuk menyembah Dia. Karena Dia akan bekerja untuk membuat Anda menyembah Dia, supaya Anda tidak dapat berkata apa-apa; Allah melakukan pekerjaan lagi, supaya Anda mau tidak mau menyembah Dia. Sering kali jalan yang Allah berikan kepada kita benar-benar sangat lancar, pada saat ini Anda harus mengakui, "Bukan tanganku sendiri, bukan ketetapanku sendiri, bukan aku yang mempunyai kemampuan mengerjakan itu, melainkan TUHAN yang mengerjakan semuanya, TUHAN yang memimpin aku, maka selayaknya TUHAN yang mendapatkan semua kemuliaan."

Karena Allah Melihat Kesengsaraannya lalu Menyembah Allah

Potongan Alkitab yang kedua adalah Keluaran 4. Saat itu Allah mengutus Musa memberi tahu orang Israel bahwa Dia sekarang mengindahkan orang Israel, akan menyelamatkan mereka keluar dari Mesir, tidak lagi menjadi budak, tidak perlu membakar batu bata, tidak perlu membakar bahan yang dulu dipakai untuk membangun Menara Babel. Ayat 31: "Ketika mereka mendengar bahwa TUHAN telah mengindahkan orang Israel dan telah melihat kesengsaraan mereka, maka berlututlah mereka dan sujud menyembah." Lihatlah, di sini ada sekelompok orang lain lagi yang karena jalan Allah datang menyembah Allah. Sering kali kelihatannya Allah memimpin jalan kita, sama seperti memimpin hamba Abraham, melakukan pekerjaan dengan lancar; saat itu kita tentunya mau tidak mau menyembah Allah. Namun di sini ada corak yang lain, penyembahan di sini dikarenakan Allah mengindahkan mereka, dikarenakan Allah melihat kesengsaraan mereka. Di sini Allah tidak melakukan apa-apa, Allah hanya melalui Musa dan Harun memberi tahu orang Israel bahwa meskipun telah lewat 430 tahun, Allah masih mengingat mereka, masih mengindahkan mereka, Allah melihat kesengsaraan mereka. Allah melihat semua kesengsaraan yang mereka alami. Orang Israel melihat Allah mengingat mereka, mengindahkan mereka, melihat mereka, lalu mereka menundukkan kepala menyembah Dia.

Sering kali, saudara saudari di tengah-tengah kita yang menerima pengujian tidak bisa menyembah Allah, karena mereka mengira Allah telah melupakan mereka. Banyak keluarga yang mengalami kesulitan, tetapi tidak sampai 430 tahun, bagaimana bisa mengatakan Allah telah melupakan mereka? Kalau mereka berkata, "Kami telah menjadi budak sekian lama, tetapi Allah tidak mempedulikan kami"; kalau orang berkata, "Aku sudah sakit sekian lama, namun Tuhan belum menyembuhkan aku"; "Aku sudah kehilangan pekerjaan sekian tahun, mengapa Allah tidak membuka jalan"; "Sampai sekarang suamiku belum percaya Tuhan"; "Kesulitan dalam keluargaku masih tetap seperti dulu"; "Sepertinya Allah telah melupakan aku"; "Sepertinya Allah lupa terhadap kesulitanku"; "Sepertinya Allah lupa kesengsaraanku"; dan lain-lain. Kalau demikian, Anda tidak bisa menyembah Allah, mulut Anda tersumbat, Anda semakin lama semakin tidak bisa mengucapkan perkataan penyembahan. Pada suatu hari Anda melihat Allah, Anda mengenal Allah, Anda mengenal jalan Allah, Anda tampak Allah tidak melupakan perkara Anda; Anda akan berkata kepada Allah, "Semua yang kualami adalah untuk kebaikanku." Anda akan menundukkan kepala berkata, "Ya Allah, aku menyembah-Mu." Ketahuilah, sering kali karena bersyukur, kita tidak bisa tidak menyembah Allah dan berkata, "Ya Allah, aku mau menyembah-Mu, karena anugerah dan berkat yang demikian banyak yang Engkau berikan kepadaku."

Karena Pertolongan Allah lalu Menyembah Allah

Dalam Keluaran 12:27 Allah memerintahkan orang Israel untuk memberi tahu anak-anak mereka asal usul hari raya Paskah, "Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Apa yang dilakukan orang-orang Israel setelah mendengarkan perkataan yang demikian? "Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah." Bangsa Israel menyembah Allah. Ingatlah, kurban Paskah dalam Perjanjian Lama bukan kurban penebus dosa, melainkan kurban peringatan, kurban peringatan ini membuat Anda mau tidak mau harus menyembah Allah. Allah membunuh anak sulung orang Mesir, tetapi telah melewati rumah orang Israel. Mereka ingat akan perbedaan antara mereka dengan orang dunia, ingat mereka kelak akan pergi ke tempat yang berbeda dengan orang dunia, mereka mau tidak mau harus menyembah Allah.

Kurban hari raya Paskah sama seperti pemecahan roti pada hari Tuhan, adalah kurban peringatan, adalah perjamuan peringatan, adalah pekerjaan memperingati Tuhan, memperingatkan bahwa kita berbeda dengan orang dunia, sehingga mau tidak mau dari dalam kita timbul hati yang menyembah. Bagaimana Allah bisa memilih kita! Karena pemilihan Allah ini, kita mau tidak mau harus menyembah Allah. Sering kali anugerah Allah hanya membawa kita bersyukur, tidak bisa membuat kita menyembah, tetapi ketika kita tampak jalan Allah, mau tidak mau kita menyembah Allah. Ketika orang Israel tampak jalan Allah, mau tidak mau mereka berkata, "Ya Allah, ada sekian banyak orang tinggal di Mesir, mengapa Engkau bisa melewati rumah Israel, dan tiba di rumah orang Mesir? Anak sulung orang Mesir tidak ada yang tidak terbunuh, mengapa anak sulung orang Israel terlindungi? Ya Allah, bagaimana Engkau bisa melakukan ini?" Anda tampak Allah melakukannya, Anda tampak Allah memilih Anda, lalu Anda menyembah Allah. Bagaimana caranya Allah bekerja, itulah jalan Allah. Allah tidak hanya memberi anugerah kepada Anda, Allah juga melakukan demikian, Allah memilih Anda, sebab itu Anda menyembah Allah.

Misalnya, ketika pemecahan roti pada hari Tuhan, saat Anda mengenang bagaimana Allah merahmati Anda, bagaimana menyelamatkan Anda, meskipun Anda orang berdosa, tetapi Allah menyelamatkan Anda; bagaimana Anda dibenarkan, dilahirkan kembali, bagaimana mendapatkan hayat Allah sehingga menjadi anak Allah, lalu Anda bersyukur kepada Allah. Tetapi ketika Anda mengenang bagaimana Allah mengampuni dosa Anda, dengan berbagai macam cara, melalui berbagai macam prosedur, supaya Anda menjadi orang yang dibenarkan; Allah memakai banyak usaha, dari antara ribuan rumah menarik Anda, dari dalam tumpukan kecemaran, dari lumpur, menyelamatkan Anda, Anda tidak tahu bagaimana bisa berjalan ke tempat sidang ini, Anda tidak tahu bagaimana bisa mendengarkan Injil, Anda tidak tahu bagaimana secara kebetulan khotbah kali itu disampaikan oleh orang itu, Anda tidak tahu bagaimana kali itu bisa begitu mendengarkan Injil segera menerimanya, o, ketika Anda ingat jalan Allah, Anda tidak hanya bersyukur, Anda juga menyembah. Anda menyembah Allah yang mengatur semua jalan itu, begitu Anda mengenal jalan Allah, Anda mau tidak mau akan menyembah Allah.

Karena Anak yang Diberikan oleh Allah lalu Menyembah Allah

Mari kita melihat 1 Samuel 1. Bagian ini benar-benar menjamah roh penyembahan. Anda ingat, Hana tidak mempunyai anak. Suaminya mempunyai dua istri, istri yang lain mempunyai anak, dia tidak mempunyai anak, sebab itu dia menderita, lalu dia memohon Allah memberi dia seorang anak. Ternyata, Allah memberi dia seorang anak. Setelah anaknya disapih, dia membawa anaknya ke Silo, ke bait TUHAN, dia berkata, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya (meminjamkannya) kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah (dipinjamkanlah) ia kiranya kepada TUHAN. Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN" (ayat 27-28). Perhatikan kedua kalimat ini! Saya rasa kedua kalimat ini sangat berharga! Kalau Anda menggandengkan kedua kalimat ini menjadi satu: TUHAN telah memberikan kepadaku . . . aku pun menyerahkan (meminjamkan) kepada TUHAN. TUHAN memberikan anak kepadaku, sebab itu aku meminjamkan anak ini kepada TUHAN. Ketahuilah, tidak ada satu doa yang didengarkan Allah yang lebih baik daripada ini. Yang dia minta di hadapan Allah adalah ini. Hatinya telah bertahun-tahun disakiti, dia terus mengharapkan mendapatkan anak ini. Bagaimana kesudahannya? Apa yang Engkau berikan kepadaku, aku kembalikan kepada-Mu; bagian yang Engkau berikan kepadaku, kukembalikan kepada-Mu. Tampakkah Anda, hanya orang yang demikian baru bisa melakukan yang di bawah ini -- "sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN". Di sana Hana menyembah Allah. Hanya orang yang tidak berhenti pada pemberian Allah, hanya orang yang menuntut Allah, adalah orang yang menyembah Allah. Hana memperlihatkan kepada kita, "yang berharga bukanlah pemberian Allah kepadaku, yang berharga bukanlah doaku didengar, yang berharga bukanlah Samuel yang Allah berikan kepadaku, tetapi yang berharga adalah Allah dengan demikian memberikan Samuel kepadaku."

Allah memberikan Samuel kepadaku, lalu aku memberikan Samuel kepada Allah. Ingatlah, begitu Samuel keluar, penyembahan juga keluar. Ingatlah, orang yang tidak mempersembahkan diri tidak bisa menyembah Allah. Saya rasa di tengah-tengah kita ada orang mengetahui hal ini. Yaitu pada suatu hari ketika kita mempersembahkan semuanya kepada Allah, sampai "Samuel" juga kita persembahkan kepada Allah, hari itu kita mulai belajar menyembah. Pada hari kita tampak mezbah, pada hari itu juga kita belajar menyembah.

Dalam Kejadian 22, semua perkataan Abraham kepada hambanya sangatlah berharga. Ketika ia membawa Ishak dan hampir sampai ke gunung itu, ia berkata kepada hambanya, ". . . Aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang (menyembah), sesudah itu kami kembali kepadamu" (ayat 5). Bukan mempersembahkan kurban, tetapi pergi menyembah. Menyembah adalah mempersembahkan Ishak kepada Allah. Yang Allah perbuat itu adalah yang terbaik, karena itu aku menyembah. Saya tidak percaya, orang yang tidak benar-benar mempersembahkan diri bisa mempunyai penyembahan yang sejati. Kalau tidak ada persembahan diri, tidak bisa menyembah Allah. Sampai suatu hari, sungguh-sungguh tampak bahwa di atas diri kita tidak ada apa-apa, kita hanya mempunyai satu pengharapan, yaitu Samuel, semuanya ada di sini, begitu Samuel keluar ke tempat Allah, penyembahan kita juga mengikuti dia. Hana mengetahui jalan Allah; karena Allah memberikan anak ini kepadaku, aku berikan anak ini kepada Allah; bukan satu kali diberikan kepada Allah, melainkan seumur hidup diberikan kepada Allah. Dia berada pada kedudukan ini menyembah Allah.

Penyembahan selalu mengikuti salib, penyembahan selalu mengikuti mezbah. Di mana ada salib, ada mezbah, di sana ada konsikrasi, ada jalan taat kepada Allah, ada penyembahan. Di mana ada tidak untuk diri sendiri, tidak memegang sesuatu untuk diri sendiri, di sana ada penyembahan. Penyembahan berarti bukan aku sebagai sentral; arti penyembahan adalah Allah sebagai sentral. Arti penyembahan adalah aku berdiri di samping, Allah yang berdiri pada semua kedudukan, karena itu Samuel harus keluar.

Karena Penjelasan (Pernyataan) Allah lalu Menyembah Allah

Jalan Allah belum tentu selalu mendengarkan doa; jalan Allah sering kali bukanlah mendengarkan doa. Jalan Allah belum tentu selalu lancar; jalan Allah sering kali tidak lancar. Jalan Allah adakalanya demikian, lalu bagaimana sikap kita? Dalam 2 Samuel 12, kita lihat peristiwa Daud berbuat dosa. Batsyeba hamil, melahirkan seorang anak, Allah melalui nabi Natan berbicara kepada Daud bahwa anak itu akan mati. Daud berdosa, tetapi Daud mengasihi anaknya. Meskipun berasal dari dosa, tetapi Daud mencintainya. Daud seperti seorang ayah pada umumnya. Apa yang dia lakukan? Dia terus berdoa di hadapan Allah, mengharapkan Allah menyembuhkan penyakit anak itu. Tetapi Allah berkata, "Karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati"(ayat 14). Kita tahu, Daud adalah seorang yang pandai berdoa, lihatlah dalam Kitab Mazmur, betapa Daud mahir dalam doa. Pada saat itu Daud sekuatnya berdoa, bahkan berdoa puasa, semalam-malaman ia berbaring di tanah, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya, anak itu tetap mati.

Orang yang tidak mempersembahkan diri, orang yang tidak mengenal Allah, orang yang hatinya belum ditundukkan oleh Allah, ketika berdoa puasa, bahkan berbaring di tanah berdoa seharian dari pagi sampai malam, berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan sangat mahir dalam doa, tetapi sampai waktunya, Allah tetap tidak mengabulkan doanya, ia akan berkata, "Allah benar-benar terlalu keras, terlalu serius, sejak hari ini aku tidak mau bersidang lagi, kali lain tidak mau pemecahan roti, tidak mau meminta kepada Allah, tidak lagi berdoa." O, banyak orang berselisih dengan Allah, banyak orang jalannya berbeda dengan jalan Allah, lalu bergumul dengan Allah, berdebat dengan Allah. Ia akan berkata, "Mengapa Allah berbuat demikian terhadapku?" Banyak orang tidak menaati jalan Allah dan berkata, "Allah, Engkau berbuat demikian, Engkau menjamah aku, aku tidak bisa menerima semuanya ini." Mungkin di mulut ia tidak berkata apa-apa, tetapi hatinya tidak terima, merasa Allah terlalu keras.

Tetapi heran sekali, ketika orang lain kemungkinan bisa berontak, tetapi Daud tidak berontak; orang lain boleh menggerutu, tetapi Daud tidak. Begitu dia mendengar anaknya mati, pegawai-pegawainya merasa kerepotan. Sebab ketika Daud mendengar anaknya sakit, tidak saja ia berpuasa, bahkan berbaring di tanah; sekarang anak itu mati, entah apa yang akan terjadi? Tetapi begitu Daud mendengar anak itu mati, bagaimana reaksinya? "Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan" (ayat 20). Apa yang disebut menyembah? Menyembah berarti aku tunduk di bawah jalan Allah. Bukan putus asa, bukan menggerutu, bukan sejak hari ini menjadi negatif, bukan sejak hari ini berselisih dengan Allah, melainkan berkata, "Ya Allah, Engkau berbuat ini tidak salah." Inilah menyembah jalan Allah.

Sering kali atas diri kita Allah melakukan banyak perkara untuk "menjelaskan" diri-Nya. Apakah Anda mengetahui penjelasan Allah? Sering kali Allah ingin menjelaskan diri-Nya. Sering kali Allah perlu menjelaskan kepada malaikat, Iblis, orang dunia, dan semua anak-anak-Nya bahwa Dia tidak ada bagian dengan dosa umat-Nya. Karena kita telah gagal, jatuh, melakukan suatu perkara, maka tangan pendisiplinan Allah datang untuk menjelaskan kepada semua malaikat, Iblis, orang dunia, dan gereja bahwa Allah tidak berbagian dengan perkara itu. Karena itu, Allah akan menaruh kita ke dalam api, tangan pendisiplinan Allah akan berada di atas diri kita, Allah tidak membiarkan kita lewat. Saya bertanya kepada Anda, pada saat demikian, apa yang akan Anda katakan kepada Allah? Orang yang mengenal Allah, mengasihi Allah, mendapatkan wahyu dari Allah, begitu tampak penjelasan diri Allah, akan segera sujud di hadapan Allah dan berkata, "Kalau aku menderita bisa menyatakan kesucian-Mu, aku akan berkata, amin. Kalau aku bertemu dengan kesulitan dan itu bisa menjelaskan keadilan-Mu, aku akan berkata: Apa yang Allah kerjakan tidak salah. Kalau aku menemui penderitaan dan itu bisa menyatakan sifat-Mu, ya Allah, aku dengan senang mau menerimanya." Inilah yang disebut jalan menyembah Allah.

Ingatlah, pengalaman Daud di sini bukanlah mengatakan bahwa dia bukan manusia. Saya sering merasa bahwa firman Allah memperlihatkan kepada kita perasaan manusia. Apa yang dialami Daud bukan menunjukkan bahwa dia seorang yang tidak mengasihi anak, tidak berdoa untuk anak. Dia mengasihi anak, berdoa baginya; dia bukan tidak mempunyai perasaan, dia sama dengan orang dunia pada umumnya. Banyak orang rohani sepertinya hidup dalam surga, sepertinya tidak pernah hidup di bumi, tidak seperti seorang manusia, semuanya istimewa. Tetapi Daud benar-benar adalah seorang manusia, dia mempunyai perasaan manusia, mempunyai kasih manusia. Tetapi di sini dia tampak bahwa Allah telah menetapkan untuk berbuat demikian, dia bisa tunduk dan berkata, "Ya Allah, aku menyembah-Mu."

Semoga Allah menyelamatkan kita terlepas dari mempertahankan pendapat diri sendiri, terlepas dari perselisihan. Kita harus tampak, banyak pengharapan tidak tercapai, banyak ketetapan tidak terlaksana, banyak permintaan tidak terpenuhi, kalau kita tampak, kita akan berkata, "Ya Allah, inilah jalan-Mu. Aku tunduk, aku menyembah-Mu! Aku tahu, Engkau tidak salah." Saudara saudari, tidak ada orang yang dapat menyembah Allah yang tidak tunduk di bawah jalan Allah. Karena itu, wahyu adalah syarat dasar menyembah Allah; taat kepada Allah adalah syarat dasar menyembah jalan Allah. Kalau tidak ada penampakan diri Allah, tidak bisa menyembah diri Allah; kalau tidak ada ketaatan, tidak bisa menyembah jalan Allah. Perlu dipimpin oleh Allah sampai bisa berkata, "Ya Allah, aku mau taat kepada-Mu, meskipun Engkau mengambil sesuatu yang paling kusenangi, meskipun Engkau membawa pergi barang yang kuanggap paling mustika, ya Allah, aku tunduk kepada-Mu." Ketaatan ini adalah penyembahan. Ya Allah, Engkau adalah Allah, Engkau tidak salah, jalan-Mu juga tidak salah, aku memuji-Mu.

Satu kebahagiaan dalam seumur hidup saya adalah saya bisa mengenal Miss Barber. Dalam doanya, ada puluhan kali atau ratusan kali ia berkata, "Tuhan, aku memuji jalan-Mu." Saya tahu ini adalah doa yang sangat dalam, ini adalah doa yang sangat kuat. Puluhan kali ia berdoa, "Ya Allah, aku memuji jalan-Mu." Ingatlah, jalan Allah belum tentu lancar, jalan Allah belum tentu sangat menguntungkan, Allah belum tentu mendengarkan doa Anda. Setelah Anda berdoa, berpuasa, anak masih tetap mati, pada saat itu Anda harus berkata, "Ya Allah, aku menyembah-Mu." Pada saat itu Anda tetap menyembah jalan Allah.

Karena "Dirampas" oleh Allah lalu Menyembah Allah

Terakhir, kita akan tampak, belum tentu dihancurkan seperti Daud, belum tentu karena penjelasan kesucian Allah, menjelaskan diri Allah sendiri sehingga tidak mendengarkan doa. Di sini ada satu orang benar yang bernama Ayub; dia memiliki kawanan lembu, kawanan domba, dan anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada suatu hari, ada seorang pesuruh datang memberi tahu dia bahwa orang-orang Syeba datang menawan semua lembu sapinya. Datanglah orang lain dan berkata, api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaganya. Datanglah orang lain dan berkata bahwa ia telah dirampas, semuanya habis. Datanglah orang lain dan berkata bahwa angin ribut bertiup dari seberang padang gurun, rumah dilanda pada empat penjurunya dan roboh menimpa anak-anaknya, sehingga mereka semua tewas. Empat pesuruh yang berlainan memberi tahu kepadanya, semuanya habis (Ayb. 1:13-19). Kemudian Allah berkata bahwa Ayub yang sabar yang mengenal Dia, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujud dan menyembah Allah. Inilah perkara pertama yang ia lakukan. Dia tidak hanya menyembah diri Allah sendiri, dia lebih-lebih menyembah jalan Allah. Ingatlah, di sini tidak menjelaskan apa-apa, di sini berbeda dengan perkara Daud. Di sini tidak ada yang lain; Allah suka berbuat demikian. Di sini sedikit pun tidak ada kelancaran, di sini ada penderitaan. Dalam satu hari, semuanya habis; dalam beberapa menit, semuanya tidak ada. Ayub adalah seorang yang tunduk di bawah jalan Allah, dia bisa berkata, "Ya Allah, apa yang Engkau kerjakan, tidak ada yang salah."

Saya tidak tahu apa yang Anda alami, tetapi saya tahu di atas banyak orang, Allah melakukan pekerjaan perampasan, membuat mereka kehilangan banyak, membuat jalan mereka tidak lancar. Bagaimana dengan Anda? Banyak orang karena tidak mendapatkan "berkat" lalu terus meronta-ronta, terus merasa tidak adil, terus bertanya, mengapa orang lain tidak ada kesulitan yang demikian, mengapa kesulitan hanya menimpa diriku saja? Semua orang mendapatkan keuntungan, hanya aku yang menderita kerugian; apa saja yang ada di tanganku, pasti rusak. Anda tidak mengerti, mengapa orang lain semuanya baik, hanya Anda yang tidak baik. Orang lain menjadi orang Kristen selalu lancar, hanya Anda yang tidak lancar. Mungkin Anda lebih baik sedikit daripada orang lain, tetapi pengalaman Anda tidak sama. Anda boleh berkata banyak, tetapi Anda harus belajar taat kepada Allah, Anda harus belajar tunduk di bawah Allah, Anda harus belajar menerima jalan Allah. Allah berada dalam jual beli Anda, Allah berada dalam teman Anda, Allah berada dalam lingkungan Anda, jalan yang diatur untuk Anda semuanya baik, meskipun itu penderitaan juga baik, yang gembira baik, apa saja semuanya baik. Ketika Anda taat kepada jalan Allah, Anda bisa menyembah.

Ingatlah, tidak ada satu penyembahan yang bisa dikritik. Ayub 1:20 menghendaki kita dalam lingkungan yang baik, atau lingkungan yang tidak baik, harus selalu menerima jalan Tuhan. Itu adalah satu penyembahan yang sejati. O, saya tidak tahu bagaimana jalan Tuhan terhadap Anda. Ingatlah, ada alasan atau tidak ada alasan, Allah selalu baik. Terhadap Daud, Allah mempunyai alasan, karena dia berdosa, kita bisa menjelaskannya. Tetapi sering kali, tidak ada alasan, tidak ada dosa, Anda tidak lebih jelek daripada orang Kristen yang lainnya, mungkin lebih baik sedikit daripada orang Kristen yang lainnya, mengapa bertemu dengan kesulitan yang demikian? Di sini Anda harus memuji Allah, Anda harus dari hati memuji Allah, Anda harus tunduk kepada jalan Allah. Anda harus berkata, "Ya Allah, apa yang Engkau lakukan, adalah terbaik. Ya Allah, aku bersujud menyembah-Mu, apa yang Engkau lakukan adalah yang terbaik."

Semoga Allah menganugerahi kita, supaya kita benar-benar tidak saja karena memiliki wahyu lalu menyembah Allah; sejak hari ini, ada ketaatan, ada konsikrasi, datang menyembah Allah. Kita mempunyai dua jalan untuk menyembah, satu melalui wahyu menyembah Allah sendiri; yang lain, melalui ketaatan kita menyembah jalan Allah. Kita harus memohon Allah memperlihatkan kepada kita dua aspek ini: Menerima wahyu supaya kita menyembah Allah sendiri dan ketaatan supaya kita menyembah jalan Allah. Kita akan berkata bahwa apa yang Allah kerjakan di atas diri kita semuanya tidak salah, apa yang Allah lakukan di atas kita selamanya benar.

DOA

Ya, Allah kami, kami benar-benar mau sujud menyembah di hadapan-Mu. Semua perkara yang Engkau atur, tidak ada satu pun yang tidak baik. Sering kali kami bisa memilih jalan kami, tetapi Engkau menghalangi kami, Engkau tidak memberi kelancaran, Engkau membawa kami seperti membentur tembok. Kami akan berkata: Kalau Engkau senang, itulah yang terbaik, kami tidak bisa berkata mengapa memperlakukan saudara saudari kami dengan begitu, tetapi memperlakukan kami begini. Kami tidak bisa berkata mengapa Engkau berlaku baik kepada saudara saudari, tidak berlaku baik kepada kami? Kami harus menerima jalan-Mu. Yang beralasan kami terima, yang tidak beralasan kami juga terima; yang berfaedah kami terima, yang tidak berfaedah juga kami terima; supaya kami belajar melihat jalan kami, supaya kami belajar melihat jalan Allah. Ya Allah, tidak perlu memberi tahu kami alasan mengapa demikian, asal yang Engkau lakukan, semuanya tidak salah. Ya Allah, semua yang Engkau lakukan, benar. Supaya kami dalam segala perkara tidak meronta, tidak bertanya mengapa. Selamatkan kami terlepas dari semua "mengapa". Selamatkan kami terlepas dari segala permasalahan. Kami menengadah mohon penyelamatan-Mu. Mohon Engkau memimpin hati kami sampai satu tingkat, supaya kami semua menjadi tumpuan kaki di depan takhta-Mu, untuk Engkau injak, supaya kami bisa tunduk, bisa menyembah. Berkati saudara saudari kami. Semoga Engkau di tengah-tengah kami merahmati kami. Demi nama Tuhan Yesus, amin.