Tutup Dada Pernyataan Keputusan
Pembacaan Alkitab :
Keluaran 28:6-7,9,12,15-21,29-30; II Korintus 11:28-29; 7:3;
Ibrani 13:7; 1 Petrus 5:1-3, 5-6
Yang Allah pilih di bumi pertama-tama adalah satu orang. Dari satu orang menjadi satu keluarga, dari satu keluarga menjadi satu negara/ kerajaan. Satu orang itu adalah Abraham, satu keluarga itu adalah keluarga Yakub dan satu kerajaan itu adalah kerajaan Israel. Ketika satu orang, Allah menyatakan diri kepada orang itu, memberi wahyu kepada orang itu, berbicara kepada orang itu. Ketika satu orang itu berubah menjadi satu keluarga/rumah, Allah masih menyatakan diri kepada kepala keluarga itu, memberi wahyu kepada kepala keluarga itu, berbicara kepada kepala keluarga itu. Ketika orang Israel terlepas dari kedudukan sebagai budak, kembali kepada otoritas Allah, kembali ke bawah nama Allah, diperintah oleh Allah, menjadi kerajaan milik Allah, Alkitab memperlihatkan kepada kita, cara Allah mewahyukan sesuatu kepada mereka sudah berubah; tidak seperti dulu, ketika menyatakan diri kepada satu orang dan berbicara kepada satu orang. Terhadap umatNya, Ia dengan cara yang khusus memberi wahyu dan berbicara.
Apakah cara itu? Cara itu adalah dengan tutup dada pernyataan keputusan memberi wahyu kepada mereka, berbicara kepada mereka. Dulu, Allah berbicara kepada satu orang. Sekarang Allah melalui satu benda berbicara kepada satu kerajaan; Allah melalui tutup dada pernyataan keputusan berbicara. Kalau di tengah umat Allah ada urusan, ada kesulitan, mereka akan melalui tutup dada pernyataan keputusan datang kepada Allah, mohon pimpinan Allah, mohon wahyu Allah. Ketika umat pilihan Allah menjadi satu kerajaan, Allah mengubah cara bicaraNya kepada mereka. Kiranya saudara-saudari bisa mengingat ini. Ketika Anda masih seorang diri, sama seperti Abraham, seorang diri melayani Tuhan, Tuhan berbicara kepada Anda. Tetapi pada suatu hari, ketika di sekitar Anda ada umat Allah, Anda menjadilah salah satu bagian dari umat Allah. Ingatlah, cara Allah memberi wahyu kepada Anda sudah berubah.
Ini bukan mengesampingkan persekutuan pribadi Anda dengan Allah, juga tidak mengesampingkan Allah menyatakan diri, memberi wahyu kepada perorangan. Maksud perkataan ini ialah ketika Anda seperti Abraham, seorang diri mengikuti Allah, Allah berbicara kepada Anda secara perorangan, menyatakan diri kepada Anda secara perorangan, memberi wahyu kepada Anda secara perorangan. Pada suatu hari, di sekitar Anda ada umat Allah. Saat itu hubungan pribadi Anda dengan Allah bukannya dikesampingkan, tetapi ada satu hal yang penting, yaitu saat itu Anda bukan seorang diri lagi, melainkan dengan umat Allah berbaur menjadi satu kelompok. Sebab itu, wahyu Allah, pembicaraan Allah, tidak hanya ditujukan kepada Anda pribadi, melainkan jugs. ditujukan kepada seluruh umat Allah. Sampai saat ini, cara Allah berbicara kepada umatNya, cara Allah memberi wahyu kepada umatNya, sudah berubah.
Saudara-saudari, Anda harus jelas melihat hal ini, yaitu Anda telah berbaur dengan kaum saleh menjadi satu Tubuh di hadapan Allah. Kini, cara Allah memberi wahyu, cara Allah berbicara, cara Allah menyatakan diri, telah berubah. Kalau Anda tidak melihat hal ini, mungkin persekutuan Anda dengan Tuhan tidak terputus, tetapi pelayanan Anda terhadap Allah pasti salah. Kalau Anda ingin melayani Tuhan, kalau Anda ingin melayani keperluan anak-anak Allah, Anda harus melihat bahwa cara Allah memberi wahyu dan menyatakan diriNya kepada perorangan berbeda dengan cara Allah memberi wahyu dan menyatakan diri kepada satu kelompok. 0, saudara-saudari, Anda harus tampak, Allah memberi wahyu kepada Abraham dengan satu cara, Allah memberi wahyu kepada kerajaan Israel dengan cara yang lain, melalui tutup dada pernyataan keputusan.
Tutup dada pernyataan keputusan adalah benda yang harus dikenakan Imam Besar ketika ia menghadap Allah. Tutup dada itu dikenakan pada baju efod yang dikenakan oleh Imam Besar. Bentuk tutup dada itu empat persegi, lipat dua. Di atasnya tertatah permata tatahan empat jajar. Setiap jajar terdiri dari tiga macam permata. Pada permata-permata itu terukir nama kedua belas suku Israel. Selain itu, di atas tutup bahu baju efod, terdapat dua permata yang berukiran nama kedua belas suku Israel. Nama kedua belas suku Israel mewakili rakyat Israel, yaitu mewakili seluruh umat Allah. Ketika Imam Besar masuk ke hadirat Allah, bukan ia seorang diri yang masuk. Di bahunya, ia memikul kedua belas suku Israel. Di dadanya juga terdapat dua belas suku Israel. Ia membawa kedua belas suku Israel itu ke hadapan Allah. Imam Besar melambangkan Tuhan Yesus dengan bahunya memikul kita, dengan dadanya merawat dan mengasihi kita. Ketika masuk melayani Allah Imam Besar harus memakai baju efod; ia harus memikul dan memeluk seluruh orang Israel, datang ke hadapan Allah.
Ketika orang Israel menghadapi kesulitan yang tidak bisa diselesaikan, Imam Besar harus memakai baju efod, mengenakan tutup dada, datang ke hadapan Allah, mohon wahyu, mohon sabda Allah. Sebab itu, tutup dada ini disebut tutup dada pernyataan keputusan, melaluinya orang bisa menyelesaikan kesulitan. Ketika Musa mohon Allah mengangkat seorang untuk memimpin umat Allah, Allah menjawab, "Ambilah Yosua bin Nun, seorang yang penuh Roh ... suruhlah ia berdiri di depan Imam Eleazar ... supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan Tuhan" (Bilangan 27:16,18-21). Orang Amalek menyerang Ziklag, menawan perempuan-perempuan dan orang-orang yang ada di sana, tua dan muda ditawan mereka. Daud melalui efod bertanya kepada Allah, "Haruskah aku mengejar musuh?"Allah berkata, "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan." Mereka mengejar, dan mendapatkan orang-orangnya kembali. (I Samuel 30:1-8,18-19). Kejadian-kejadian di atas memperlihatkan kepada kita, ketika umat Allah dari satu orang berubah menjadi satu kerajaan, cara Allah berbicara kepada umatnya adalah melalui satu benda, yaitu tutup dada pernyataan keputusan.
Dalam tutup dada pernyataan keputusan ada Urim dan Tumim. "Urim", dalam bahasa Ibraninya berarti "Terang." "Tumim", dalam bahasa Ibrani berarti "sempurna" Ketika Imam besar membawa tutup dada pernyataan keputusan datang ke hadapan Allah, dan saat terang Allah memancar, kehendak Allah dengan sempurna dinyatakan.
Saudara-saudari, meskipun ini adalah cerita dari Perjanjian Lama, meskipun secara lahiriah Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru, tetapi menurut prinsip cara kerja Allah, Perjanjian Baru sama dengan Perjanjian Lama. Perjanjian Lama adalah bayang-bayang, Perjanjian Baru adalah realitasnya. Perkara-perkara realitas ini, pada prinsipnya sama dengan Perjanjian Lama. Sebab itu, cara Allah memberi wahyu di tengah-tengah bani Israel seprinsip dengan cara Allah memberi wahyu dalam gereja kepada anak-anakNya. Di tengah anak-anak Allah ada satu, dua, tiga atau lima orang yang sungguh-sungguh rendah hati di hadapan Allah, sungguh-sungguh takwa kepada Allah. Ketika mereka tampak di tengah anak-anak Allah ada kesulitan, ketika mereka melihat kebenaran Allah di tengah anak-anak Allah tidak nyata, apa yang mereka perbuat? Mereka harus belajar satu perkara : dengan bahu memikul dan dengan dada memeluk anak-anak Allah, datang ke hadapan Allah, bertanya.
Sama seperti Paulus. Lihatlah, bahunya memikul anak-anak Allah, dadanya memeluk gereja Allah (II Korintus 11:28-29). Ketika ia dengan mengenakan tutup dada pernyataan keputusan, datang ke hadapan Allah, terang Allah menyinarinya. Oh, ia tampak seorang berdosa di Korintus; ia tahu ada beberapa kata rohani yang misteri yang harus ditulis kepada gereja di Efesus. Mengapa Paulus bisa dengan sangat jelas membentangkan jalan Allah kepada gereja Allah? Bukannya Paulus sedikitpun tidak mengetahui perkara anak-anak Allah, sedikitpun tidak memperhatikan kesulitan anak-anak Allah; atau ia hanya mengunci diri, seperti seorang pertapa, berdoa di suatu rumah doa, lalu datang satu terang kepadanya. Paulus tidak demikian. Yang dipikul di atas bahunya, yang tergantung di dadanya adalah gereja-gereja Allah, adalah anak-anak Allah. Ia dengan hati yang takwa datang kepada Allah. Allah sebagai Bapa segala terang meneranginya, sehingga ia mengetahui apa yang diperlukan oleh gereja-gereja yang dipikul dan diperhatikannya itu. Kemudian melalui sepucuk surat ia menulis kepada gereja di Korintus tentang apa yang diperlukan oleh gereja di Korintus. Ia menulis sepucuk surat kepada gereja di Efesus tentang apa yang diperlukan gereja di Efesus.
Prinsip Paulus menulis surat kepada gereja-gereja, sama dengan Imam. Besar di Perjanjian Lama yang membawa tutup dada pernyataan keputusan, datang ke hadapan Allah, mohon penerangan. Yang dipikul oleh bahu Paulus, yang tergantung pada dada Paulus adalah urusan gereja-gereja Allah. Bukannya Paulus tidak memperhatikan urusan gereja-gereja; atau ia hanya berdoa di hadapan Allah dengan tujuan yang tak jelas, lalu tiba-tiba keluar beberapa kata supaya ia menulis surat ke gereja anu; berdoa lagi, keluar beberapa kata, supaya ia menulis surat ke gereja anu. Paulus tidak demikian. Kaum saleh pun tidak demikian. Kita harus mengerti prinsip ini, yaitu membawa kaum saleh Tuhan datang ke hadapan Allah. Paulus membawa anak-anak Allah menengadah ke hadapan Allah, entah memerlukan berapa banyak waktu. Pada suatu hari, di dalam terang Allah, ia melihat sedikit, lalu melalui terang itu ia menulis sepucuk surat. Di lain hari, ia melihat terang lagi; lalu berdasarkan terang itu ia menulis lagi.
Saudara-saudari, hari ini kalau mau mengerti kehendak Allah di tengah-tengah umatNya, kalau mau mengerti jalan Allah di tengah-tengah umatNya; kalau mau mengerti kehendak Allah di dalam gereja, kalau mau mengerti jalan Allah di dalam gereja; harus ada orang yang memikul dan memeluk anak-anak Allah, lalu membawa anak-anak Allah ke hadapanNya. Di dalam terang Allah, sekali demi sekali membaca keadaan saudara- saudari, lalu menulis firman yang didapat dari hadapanNya. Inilah cara Allah memberi wahyu kepada anak-anakNya di dalam gereja.
Urusan-urusan gereja harus diputuskan berdasarkan prinsip tutup dada pernyataan keputusan. Umat Allah yang senior, yang takwa kepada Allah, memikul dan memeluk anak-anak Allah, datang ke hadapan Allah; di dalam terang Allah membaca keadaan umat Allah, kemudian baru mengambil keputusan. Urusan gereja di satu tempat bukan satu atau dua orang memberi perintah harus berbuat begini, lalu melaksanakan begini. Itu bukan maksud Allah. Mungkin Anda bertanya, Pada zaman rasul-rasul, bukankah gereja mendengar perkataan rasul-rasul? Memang, tetapi rasul-rasul itu terlebih dulu. membawa umat Allah ke hadapan Allah, mohon wahyu Allah. Bukan seperti majikan memberi perintah kepada pembantunya.
Kalau keputusan di satu gereja lokal bukan karena satu atau dua orang memberi perintah, menyuruh semua orang melakukannya, lalu apakah semua orang bersama-sama mengangkat tangan, memberi suara untuk memutuskan? Juga bukan demikian. Itu bukan cara Allah. Lalu bagaimana baiknya? Penatua-penatua gereja harus membawa keadaan anak-anak Allah ke hadapan Allah dan bertanya. Penatua adalah orang senior di antara anak-anak Allah. Bukan usianya lanjut, lalu menjadi penatua, melainkan pengalaman dan keadaan rohaninya menyatakan ia adalah penatua. Penatua haruslah orang yang sangat takwa kepada Allah, juga sangat mengenal keadaan saudara-saudari. Kalau gereja di satu lokal menghadapi suatu urusan, timbul pertanyaan, bukanlah satu orang yang memutuskan, bukan juga semua orang mengangkat tangan, mengadakan pemungutan suara, melainkan penatua-penatua membawa keadaan saudara saudari datang ke hadapan Allah, bersama membicarakan, bersama menerima satu bimbingan. Memutuskan perkara secara demikian, meskipun tidak berani mengatakan 100% benar, tetapi boleh dikatakan tidak mudah salah. Saudara-saudari ingatlah, ketika umat Allah menjadi satu yang korporat, cara Allah memberi wahyu kepada mereka sudah berubah. Saat ini Allah memberi wahyu melalui umat Allah. Kehendak Allah ialah menggarapkan diriNya ke dalam umatNya, sebab itu, gema firmanNya berada di tengah-tengah umatNya.
Sebelum penatua berbicara, Allah sudah menaruh kehendakNya ke dalam anak-anakNya. Penatua memikul saudara saudari, membawa mereka ke hadapan Allah, di dalam roh membaca keadaan saudara saudari sekali demi sekali membaca, lalu tampaklah Allah yang ada di dalam saudara saudari; muncul satu dua perkataan. Satu dua perkataan itulah keperluan saudara saudari saat itu, juga keperluan Allah di tengah anak-anakNya. Hanya demikian baru bisa menjamah Allah, hanya demikian baru bisa menjamah anak-anak Allah, hanya demikian baru bisa menjamah Allah yang ada di dalam setiap orang. Allah melalui anak-anakNya mewahyukan diriNya. Jadi, gereja bukan berdasarkan satu orang memberi perintah, juga bukan semua orang mengangkatangan memberi suara menyelesaikan urusan, melainkan melalui sekelompok penatua dengan sehati, takwa kepada Allah, membawa umat Allah datang ke hadapan Allah, mohon Allah menerangi mereka, memberi wahyu kepada mereka. Inilah cara Allah membawa anak-anakNya di dalam gereja. Penatua-penatua gereja harus belajar memahami maksud Allah, harus belajar mengenal keadaan anak-anak Allah, sering memikul mereka. Begitu ada kesulitan, segera membawa anak-anak Allah dalam dekapannya datang kepada terang Allah, membaca maksud Allah untuk menyelesaikan kesulitan itu. Surat-surat rasuli dalam Perjanjian Baru ditulis berdasarkan prinsip ini. Orang-orang yang menulis surat rasuli mengerti kehendak Allah, mengerti keadaan gereja-gereja, hati mereka memperhatikan setiap urusan dari gereja-gereja. Mereka datang ke hadapan Allah, menerima terang, lalu menuliskannya kepada gereja. Sebab itu, tidak ada satu patah kata pun yang tidak diperlukan. Semua yang ditulis itu menjadilah wahyu Allah, firman Allah.
Bila kita mengambil keputusan tidak berdasarkan prinsip ini, 80% sampai 90% pasti salah. Terang-terang yang dilihat oleh hamba Allah, kebenaran-kebenaran yang dilihat oleh hamba Allah, sering kali diperoleh melalui saudara saudari. Sering kali hamba-hamba Allah mendapatkan wahyu melalui orang-orang yang bersekutu dengan mereka. Ketika ada saudara saudari di samping Anda, Anda memiliki firman Allah, jika tidak ada saudara saudari di samping Anda, Anda tidak memiliki firman Allah. Memutuskan perkara di dalam gereja harus berdasarkan prinsip ini, barulah terjaga tidak sampai salah.
Saudara-saudari, apakah Anda merasa topik ini tidak begitu berarti? Ketahuilah, ini bukan masalah prosedur, Ini adalah satu pelajaran rohani, ini perlu. peremukan salib. Kalau Anda hidup dalam prinsip yang kita bicarakan di atas, Anda benar-benar memerlukan peremukan salib. Tidak hanya para penatua yang memerlukan peremukan salib, setiap saudara saudari juga perlu peremukan salib. Di suatu gereja lokal, kalau tidak setiap hari belajar menerima pemberesan salib, Allah tidak akan ada jalan untuk berbicara di dalam gereja tersebut. Baik penatua, baik rasul-rasul, baik yang tua, baik yang muda, setiap anak Allah harus belajar membiarkan salib meremukkan mereka, barulah Allah bisa berkata dengan jelas kepada mereka. Lebih-lebih penatua, harus menerima pemberesan salib. Tingkah laku para penatua, tutur kata para penatua, bisa mempengaruhi saudara saudari. Para penatua tidak hanya mengamati keadaan saudara saudari, juga harus membawa perkara saudara saudari ke hadapan Bapa segala terang, berdoa dan berdoa, membicarakan dan membicarakan lagi, kemudian baru mengambil keputusan. Prinsip ini adalah prinsip yang sangat sulit; prinsip ini bisa meremukkan pandangan diri pribadi. Di tengah anak-anak Allah, tidak saja penatua yang harus berpegang pada prinsip ini, saudara yang paling kecil pun, saudari yang paling kecil pun, harus berpegang pada prinsip ini. Karena Allah juga ada di dalam Anda, maka Anda bisa mempengaruhi -- menyatakan atau menutupi -- kehendak Allah di tengah anak-anak Allah. Sebab itu, setiap saudara saudari harus belajar membiarkan Allah mengendalikan tingkah lakunya, tutur katanya, dan membiarkan semua itu diremukkan oleh salib. Kalau setiap saudara saudari di satu gereja lokal demikian, tempat itu adalah tempat yang memberi keleluasaan bagi Allah untuk berbicara.
Dalam gereja, tidak seorang pun boleh meremehkan orang lain. Bahkan orang yang sering merepotkan Anda pun, jangan Anda remehkan pendapatnya. Kalau Anda menginjak-injak pendapatnya, suatu hari Anda akan menyesal. Saudara-saudari, perkataan ini adalah pelajaran yang di peroleh saudara saudari yang berpengalaman dari penderitaan. Anda tidak boleh meremehkan satu orang pun, Anda tidak boleh menghina satu orang pun. Sampai-sampai gerutuan mereka, tentangan mereka, harus Anda bawa ke hadapan Allah dan membacanya di hadapan Allah, Anda masih perlu memikul mereka pada bahu Anda datang ke hadapan Allah. Anda tidak boleh bersikap otoriter. Seperti Daud, dia membawa caci maki orang terhadapnya kepada Allah dan membacanya di hadapan Allah. Saudara- saudari, jangan mengira orang setuju dengan Anda, lalu Anda bisa mengerti kehendak Allah. Sering kali sebaliknya, justru orang-orang yang menentang Andalah yang membuat Anda mengerti kehendak Allah. Kalau Anda menghendaki jaminan bahwa langkah Anda tidak salah, hanya satu prinsip inilah yang bisa menjamin. Kalau Anda mau tidak melanggar maksud hati Allah, tidak melukai hati saudara saudari, Anda harus secara mutlak berada di bawah prinsip ini. Hanya prinsip inilah yang bisa menyingkirkan pendapat Anda sendiri, bisa mengenyahkan pandangan Anda. Hanya prinsip ini yang bisa membuat Anda membawa maksud hati saudara saudari ke hadapan Allah dan membacanya di hadapan Allah. Akhirnya, kata-kata yang Anda baca menjadi firman Allah yang dikatakanNya kepada anak-anakNya. Hanya prinsip ini baru bisa membiarkan Allah di tengah anak-anakNya menyatakan maksud hatiNya. Hanya prinsip ini yang bisa memuaskan hati Dia yang di surga, juga yang memuaskan hati yang di bumi.
Misalnya, di dalam gereja ada satu perkara. Hanya beberapa penatua menetapkan demikian, lalu melaksanakan demikian. Ada saudara lain memiliki pandangan yang tidak sama, tetapi karena takut kepada Allah, tidak berani sembarangan berkata apa-apa. Apa akibatnya? Dalam perkara itu, fungsi Tubuh Kristus menghambatan. Lalu, bagaimana menanggulanginya? Sebelum melakukan sesuatu, Allah sudah beroperasi di dalam anak-anakNya. Sebelum penatua memutuskan perkara itu, seharusnya membawa keadaan saudara saudari ke hadapan Allah untuk dibaca. Jika demikian, apa yang mereka lihat bisa mendatangkan perasaan mesra pada semua orang dan semua orang pun merasa itu benar. Penatua harus menurut prinsip ini mencari kehendak Allah. Kalau tidak, keputusan untuk menyelesaikan perkara itu tidak sesuai dengan operasi Allah di dalam saudara saudari. Akibatnya, begitu keputusan ditetapkan, di dalam saudara saudari tidak bergerak; Roh Allah di dalam anak-anak Allah tidak memberikan konfirmasi. Akhirnya fungsi Tubuh Kristus mengalami hambatan. Kalau di dalam terang Allah membaca keadaan anak-anak Allah, membaca sampai tembus, kemudian mengambil keputusan, keputusan itu bisa membuat roh anak-anak Allah bergejolak, bisa membuat anak-anak Allah mengalami urapan minyak, bisa menyebabkan batin saudara saudari bergerak. Saudara-saudari, kita harus mohon Tuhan memberi kita suatu penyelamatan, tidak saja mempunyai konstruksi Tubuh Kristus, juga mempunyai fungsi anggota Tubuh. Prinsip ini harus dimiliki oleh setiap saudara saudari. Setiap saudara saudari harus tampak prinsip ini.
Ada satu hal lagi yang akan kita bicarakan di sini, yaitu masalah otoritas. Apa yang disebut otoritas? Dari lahirnya, otoritas berdasar kedudukan. Ada kedudukan, ada otoritas. Menurut apa yang dibicarakan dalam Alkitab, kelihatannya demikian, tetapi sebenarnya tidak demikian. Otoritas tidak dititikberatkan pada kedudukan. Otoritas dititikberatkan pada hayat. Bani Israel karena tampak tongkat Harun bertunas, lalu mengakui otoritas Harun. Tanpa hayat kebangkitan, otoritas tidaklah berguna. Di dalam gereja, otoritas tidak dititikberatkan pada kedudukan, melainkan pada hayat. Bukan karena orang lain memilih Anda, lalu Anda memiliki otoritas. Siapa pun tidak bisa di dalam gereja berdasarkan kedudukan tertentu menganggap dirinya memiliki otoritas. Daud, karena takwa kepada Allah, tunduk kepada otoritas Saul, tetapi Saul karena murtad kepada Allah, dibuang oleh Allah. Dia hanya mempunyai kedudukan sebagai raja, tetapi telah kehilangan hayat sebagai raja, karena itu Allah tidak mengkonfirmasi otoritaspya. Otoritas Saul adalah berdasarkan kedudukan, bukan berdasarkan hayat, sebab itu Allah tidak memberikan konfirmasi. Pada satu hari Allah akan mengesampingkan Saul.
Otoritas di dalam gereja berdasarkan hayat. Berapa banyak hayat kebangkitan Allah di dalam Anda, sebanyak itu juga otoritas Anda. Berapa banyak Anda membiarkan hayat kebangkitan Allah di dalam Anda berkurang, sebanyak itu pula otoritas Anda yang berkurang. Alkitab berkata, "Yang menjadi penatua bukanlah menguasai atau memerintah kawanan domba, melainkan menjadi teladan kawanan domba." Teladan adalah sesuatu yang keluar dari hayat. Jangan dengan muka yang serius berkata, "Aku adalah penatua, aku memiliki otoritas." Kalau ada orang mengandalkan gertakan memaksa orang lain tunduk pada otoritannya, terhadap orang itu kita perlu memberi tanda tanya besar. Di dalam gereja, saudara saudari harus saling merendahkan diri, saling menaati. Otoritas adalah dalam kasih menampilkan teladan, sehingga saudara saudari menaatinya dari dalam hati. Semoga Allah membelaskasihani kita, memberi kita teladan yang terbaik.