Daftar isi Orang Baik Masuk Neraka, Orang Jahat Masuk Surga · bab 1/1

ORANG BAIK MASUK NERAKA, ORANG JAHAT MASUK SURGA

Pembacaan Alkitab: Lukas 18:9-14

"Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah orang Farisi dan yang lain adalah pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Dalam perumpamaanNya, Tuhan Yesus mengisahkan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai, yang kedua-duanya pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi ialah orang yang paling baik, sedang pemungut cukai orang yang sangat jahat. Tetapi Tuhan mengatakan, bahwa akibat dari doa kedua orang itu berbeda; pemungut cukai yang jahat dibenarkan, tetapi orang Farisi yang baik tidak dibenarkan. Apakah artinya dibenarkan? Dibenarkan berarti seseorang dinyatakan tidak berdosa sewaktu selesai diadili, dan tidak dibenarkan berarti dinyatakan berdosa dan harus dihukum.

Bagi orang Kristen, kata "dibenarkan" dan kata "diselamatkan" itu mempunyai arti yang sama; sebaliknya "tidak dibenarkan" juga berarti "dibinasakan dalam neraka." Jadi di sini Tuhan mengatakan, bahwa orang baik masuk neraka dan orang jahat masuk surga. Mengenai hal ini, ada perbedaan pendapat antara manusia pada umumnya dengan Tuhan Yesus. Manusia umumnya berpendapat, bahwa orang baik masuk surga dan orang jahat masuk neraka. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa orang baik masuk neraka, sedangkan orang jahat masuk surga.

Jangan menganggap hal ini hanya isapan jempol belaka! Sungguh! Orang yang masuk surga hanyalah orang yang berdosa. Tidak ada satu pun orang baik di dalam surga. Sebaliknya di dalam neraka banyak sekali orang baik atau yang menyangka dirinya baik. Jangan sekali-kali menyangka, bahwa Anda seorang yang amat baik, tidak mungkin masuk neraka! Dengan tegas saya katakan, bahwa di dalam neraka banyak sekali orang baik yang serupa dengan Anda; bahkan yang lebih baik daripada Anda pun tidak sedikit. Sebetulnya, kalau kita hanya mengandalkan pribadi kits sendiri, baik atau jahat tentu masuk neraka. Hanya dengan percaya dan bersandar kepada Tuhan Yesus, barulah kita bisa masuk surga. Bagi mereka yang menyangka diri mereka lebih baik daripada orang lain, dengarlah sabda Tuhan Yesus yang mengatakan, bahwa orang baik pun dapat masuk neraka! Anda yang dengan rendah hati menganggap diri Anda adalah orang dosa yang tidak patut beroleh keselamatan, janganlah putus asa. Orang jahat dapat masuk surga.

Sekarang mari kita lihat orang baik yang binasa, dalam perumpamaan Tuhan Yesus itu; sampai di mana kebaikannya dan mengapa ia harus binasa, serta dimasukkan ke dalam neraka.

Dalam ayat 10 kita tampak, bahwa orang yang baik itu ialah orang Farisi. Pada umumnya kita berpendapat, bahwa orang Farisi itu jahat dan suka berpura-pura, tetapi sebetulnya banyak kebaikan–kebaikan yang terdapat dalam diri orang-orang Farisi. Mereka menaati hukum Taurat dengan sebulat hati (Filipi 3:5). Mereka tidak seperti orang-orang Saduki yang suka berkhayal, dan tidak percaya segala sesuatu. Mereka percaya kepada firman Allah, juga taat kepada hukum Allah, tanpa berani meragukan sepatah kata pun dari isinya. Walaupun demikian, Tuhan Yesus masih berkata, "Binasalah orang Farisi ini!"

Banyak orang Kristen merasa malu dan takut ditertawakan orang, atau takut dianggap sebagai orang yang takhayul, kalau membawa sejilid Alkitab yang besar. Kalau demikian, tidakkah lebih baik Alkitab itu disimpan saja di dalam lemari, lalu datang ke perhimpunan orang Kristen dengan tangan hampa, atau bawa saja Kitab Suci Perjanjian Baru yang kecil, sehingga dapat disembunyikan di dalam saku, supaya orang-orang tidak mengetahuinya? Orang-orang Farisi tidak takut ditertawakan dan diejek orang. Mereka bahkan menyulam ayat-ayat Alkitab pada jubah mereka dan dengan berani mengaku akan adanya Allah di hadapan umum.

Banyak orang Kristen yang takut dan malu berdoa mengucap syukur kepada Allah sewaktu hendak makan di rumah orang yang belum percaya kepada Tuhan. Karena merasa kurang enak kalau hendak makan tanpa berdoa, terpaksa hanya berdoa dalam hati tanpa bersuara atau memejamkan mata. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang Farisi, mereka dengan berani dan dengan suara yang lantang berdoa di persimpangan jalan raya. Tentang motivasi, kita tidak bisa mengatakannya, tetapi dari perbuatan atau tingkah laku dan cara mereka beribadah, tak dapatlah kita (umat Kristen) menandingi mereka. Tetapi sayang sekali, terhadap orang yang begitu baik, Tuhan Yesus berkata, bahwa orang Farisi ini akan binasa kelak dan patut masuk neraka! Pada zaman itu, orang-orang Farisi termasuk golongan yang pertama. Meskipun mereka itu beradab, berbudi luhur dan berpendidikan tinggi, akan tetapi Allah tidak menghiraukan semuanya itu. Demi keadilanNya, Allah tidak akan segansegan mencampakkan orang semacam itu ke dalam neraka. Janganlah bertanya-tanya dalam hati Anda., "Apakah di dalam neraka itu ada orang semacam aku?" "Adakah orang yang secantik aku?" "Adakah orang yang sopan seperti aku?" "Adakah orang yang kaya seperti aku?" Ketahuilah, di dalam neraka, banyak sekali orang yang seperti Anda, bahkan yang lebih pandai, lebih cantik, lebih sopan atau lebih kaya daripada Anda.

Tidak ada satu pun manusia yang terlalu baik, sehingga tidak patut masuk ke dalam neraka! Tuhan Yesus mengatakan, bahwa orang Farisi itu akan binasa, meskipun di dalam masyarakat ia termasuk golongan yang pertama. Sebab itu, janganlah mengandalkan kedudukan Anda dalam masyarakat.

Orang Farisi yang "baik" ini, datang ke Bait Allah serta berdoa, katanya, “Ya Allah" (ayat 11). Pembaca sekalian, dari seruannya, “Ya Allah" ini, kita tahu, bahwa orang Farisi ini tidak termasuk dalam golongan atheis, yakni orang-orang bodoh yang tidak percaya bahwa Allah itu ada; juga bukan orang yang bertipu daya; tidak pula melakukan perkara kejahatan (Mazmur 14:1). Meski Allah itu tidak terlihat olehnya, tetapi dari benda-benda hasil ciptaanNya, ia percaya bahwa Allah ada (Roma 1:19-20).

Meskipun demikian, semuanya itu tidak dapat mendatangkan keselamatan baginya, bahkan keadaan itulah yang menjerumuskannya ke dalam neraka. la adalah ahli agama yang beribadah, sering datang ke hadapan Allah untuk berdoa. Jadi ia adalah orang saleh yang baik budi; tetapi Tuhan Yesus mengatakan, bahwa orang yang sebaik itu dan yang rajin beribadah, kelak akan masuk neraka. Camkanlah! Orang baik yang percaya akan adanya Allah juga masuk neraka. Apa lagi orang yang tidak percaya.

Orang Farisi itu berdoa, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain . . ." Selanjutnya ia menyebutkan banyak dosa dan kejahatan orang lain. Ia berkata kepada Allah, bahwa ia bukan seperti orang lain yang berbuat banyak dosa. Ia orang yang unggul di antara umat manusia. Ia tidak seperti orang lain. la benar-benar orang yang baik dan luhur, jarang sekali orang yang demikian di dunia. Akan tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa orang baik yang jarang terdapat di dunia seperti itu, harus masuk neraka serta binasa selama-lamanya.

Mungkin Anda akan berkata, "Orang Farisi ini mungkin orang munafik, tentu saja harus masuk neraka. Orang yang sungguh-sungguh baik, pasti dapat masuk surga." Dari mana Anda tahu, bahwa orang ini adalah orang munafik? Ketahuilah, memang benar orang semacam ini jarang sekali terdapat di antara umat manusia - tetapi orang yang segolongan dengan dia banyak juga - ia benar-benar orang yang tinggi budi pekertinya. Dari doanya ternyata, bahwa dirinya tidak seperti orang lain yang berdosa. Sesudah ia menunjukkan banyak kebaikannya, kita tampak Tuhan Yesus tidak menyangkal apa yang sudah dikatakannya itu, atau menimbang-nimbang benar tidaknya. Jadi pastilah ia orang yang baik Bahkan menurut apa yang tertera dalam ayat 9, ia adalah orang yang benar. Terbuktilah sudah, bahwa ia sungguh-sungguh benar dan baik. Akan tetapi, orang baik masuk neraka! Orang baik masuk neraka!

Orang Farisi itu berkata, bahwa dia, "Tidak seperti orang lain." Ucapannya itu ditujukan kepada Allah. Seringkali, sewaktu saya memberitakan Injil secara perseorangan, saya bertanya, "Tahukah Anda, bahwa Anda orang yang berdosa dan memerlukan seorang Juruselamat untuk menyelamatkan Anda dari hukuman dosa?" Kebanyakan, mereka menjawab, "Saya tidak pernah membunuh orang dan tidak pernah membakar rumah. Dosa apakah yang pernah saya perbuat? Saya bekerja dengan tidak pernah menyalahi kata hati saya, bahkan saya lebih baik daripada teman-teman saya, lebih baik daripada tetangga saya atau kebanyakan orang." Kalau kebetulan yang saya tanyai itu orang yang tidak percaya kepada Tuhan, ia akan menyambung pula, "Banyak sekali orang-orang Kristen yang lebih buruk daripada saya! Saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Saya lebih baik daripada mereka." Benar, Anda dapat berkata demikian kepada saya, tetapi Anda tidak dapat mengucapkan kata-kata seperti kata-kata orang Farisi itu kepada Allah, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, sebab aku tidak seperti orang lain yang berbuat dosa. Aku lebih baik daripada kebanyakan orang!" Mungkin banyak hal yang Anda anggap benar itu, berani Anda katakan kepada saya, namun tidak berani Anda katakan kepada Allah. Anda berani memegahkan diri di muka umum, tetapi Anda tidak berani memegahkan diri di hadirat Allah, bahwa Anda benar-benar lebih baik daripada orang lain. Anda dapat menipu manusia, tetapi tidak dapat menipu Allah. Anda dapat menyombongkan diri kepada saya, menipu orang tua, suami atau istri, anak-anak, kawan-kawan, mungkin juga seluruh umat manusia; tapi Anda tidak dapat menipu Allah.

Hal-hal yang berani Anda katakan kepada manusia, tidak berani Anda katakan kepada Allah, karena Anda tahu, bahwa Allah itu penyelidik hati Anda. Orang Farisi ini bekerja menurut kata hatinya. Ia bukan hanya berani mengatakan kepada Anda, bahwa ia orang yang sempurna, yang benar dan tidak seperti orang lain yang berdosa, melainkan berani pula ia menyatakan amalnya kepada Allah, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah." Tidak ada sedikit pun tuduhan dalam hatinya, karena itu ia berani menyatakan amal dan kebajikannya kepada Allah. Tidaklah salah kalau ia lebih baik daripada kebanyakan orang, termasuk Anda dan saya. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa orang sebaik ini, yang jarang sekali terdapat di antara manusia, harus binasa di dalam neraka. Jika orang yang sedemikian baiknya masih harus masuk neraka, bagaimanakah dengan orang-orang dosa yang tidak lebih baik daripadanya? Tidakkah pasti masuk neraka serta menerima hukuman yang lebih berat? Jika orang yang lebih baik harus masuk neraka, apa lagi orang-orang dosa? Sebab itu, jangan membela diri. Sekalipun baik, Anda tidak mungkin dapat menghindar dari api neraka. Wahai orang-orang yang membenarkan diri, janganlah menghibur diri sendiri, karena kebenaran dan amal Anda itu tidak dapat mendatangkan keselamatan.

Dia (orang Farisi) bukan seorang "perampok". Merampok adalah memperoleh atau merebut sesuatu milik orang lain dengan paksaan dan ancaman. Dengan pengaruh mereka, sebetulnya mereka dapat merampas sesuka hatinya. Tetapi mereka tidak berbuat demikian. Saya tak tabu apakah di antara pembaca ada orang yang menggunakan pengaruhnya untuk mengambil milik orang lain? Hanya Anda dan Allah yang mengetahuinya. Berbuat tidak semena-mena dengan mengandalkan pengaruh, sudah menjadi tabiat bawaan manusia! Akan tetapi orang Farisi ini tidak berbuat demikian dan tidak pula merampas barang-barang orang lain. Walaupun demikian, Tuhan Yesus berkata, bahwa ia tidak luput dari kebinasaan dalam neraka, orang baik - sekalipun sebaik orang Farisi - masuk neraka, apa lagi seorang perampok/perampas?

Dia (orang Farisi) juga bukan orang yang "lalim." Suatu hal yang menyimpang dari keadilan ialah kelaliman. Lalim itu merupakan dosa yang juga umum pada zaman ini. Kita tidak usah memeriksa perbuatan atau pekerjaan. Pada barang-barang atau harta material sudah terlihat kelaliman untuk memperoleh benda-benda itu. Adakah di dalam kamar tidur, kamar belajar, kamar tamu, ruang kantor dan tempat-tempat lain dalam rumah Anda, sesuatu yang sebenarnya bukan milik Anda, tetapi sekarang telah berubah menjadi milik Anda? Periksalah kamar tidur, kamar-kamar lainnya, peti, kopor atau saku baju Anda, mungkin ada sesuatu yang Anda peroleh dengan lalim. Cobalah Anda ingat-ingat, pernahkah Anda memperoleh sesuatu dengan lalim? Sesuatu - besar atau kecil - yang Anda peroleh dengan cara tidak jujur; dengan agak halus kita katakan, bahwa barang itu diperoleh dengan lalim; kalau dikatakan dengan agak terus terang dan tegas, barang-barang itu ialah barang curian. Jadi lalim sederajat dengan mencuri. Pernahkah Anda mencuri uang atau barang-barang lain? Pernahkah Anda meminjam barang orang lain tanpa Anda kembalikan? Itu adalah perbuatan yang lalim.

Di sebuah kota, seorang murid perempuan telah mencuri uang gurunya sebanyak lima keping. Ketika saya mengabarkan Injil di kota itu, kebetulan anak perempuan itu hadir dalam perhimpunan itu. Ia sadar, bahwa perbuatannya itu adalah suatu dosa. Karena Roh Kudus menggerakkan hatinya, ia lalu menuturkan perbuatannya kepada ibunya dan minta uang sebagai pengganti uang yang telah dicurinya. Uang itu segera dikembalikannya sendiri kepada gurunya. Ada pula seorang murid perempuan yang telah mencuri dua butir buah-buahan milik seorang temannya yang sangat bengis. (Karena bengisnya, anak-anak pun jarang sekali yang suka berbicara atau bermain dengannya). Setelah anak perempuan itu percaya Tuhan dan memperoleh rahmatNya, sadarlah ia, bahwa perbuatannya dulu itu adalah perbuatan yang lalim. Kelaliman itu harus segera dibereskan. Dengan tidak takut akan kebengisan temannya itu, ia mengakui perbuatannya yang kotor itu, serta mengharap agar temannya mau memaafkannya. Dua minggu kemudian, sewaktu saya berada di sebuah perpustakaan di suatu pulau, pengurus perpustakaan itu menceritakan kepada saya, bahwa ia telah menerima sepucuk surat dan sejilid kamus. Dalam surat itu, pengirimnya menjelaskan bahwa ia telah mengambil buku itu tanpa memberitahukan atau membayarnya lebih dulu. Karena ia sadar bahwa hal itu tidak halal, maka kamus itu dikembalikan. Saya tidak tahu, apakah di antara teman-teman masih ada yang memiliki barang yang bukan hak Anda. Saya khawatir, kalau-kalau Anda tak luput dari perbuatan yang lalim, atau bahkan masih menyimpan kelaliman itu. Orang Farisi itu tidak lalim, bahkan dengan berani ia menyatakan hal itu kepada Allah. Meskipun ia tidak lalim dan baik sekali, namun Tuhan Yesus berkata, bahwa ia tidak dibenarkan dan takkan beroleh keselamatan. Orang baik masuk neraka! Jika orang yang tidak lalim masih dibinasakan, apa lagi orang yang lalim? Tidakkah ia lebih-lebih dibinasakan di dalam neraka? Bahwa kita yang sedemikian keadaannya, akan dibinasakan dalam neraka, tidak dapat kita sangkal lagi.

Dia (orang Farisi) tidak 'berzina". Saya tak tahu di antara teman-teman sekalian, berapa banyak orang yang pernah berzina? Hanya Allah dan Andalah yang tahu. Zinah merupakan suatu dosa yang amat najis. Tapi, tidak sedikit orang yang sudah menajiskan tempat tidur mereka! Jika berzina di dalam hati saja sudah berdosa, barangkali di dunia ini tidak ada orang yang sempurna! Tuhan Yesus berkata, "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Matius 5:28). Pada zaman ini, orang-orang yang man menjaga kebersihan lahirnya amat sedikit, apa lagi yang mau menjaga kesucian batinnya, boleh dikata hampir tidak ada. Barangsiapa berbuat dosa semacam itu, pasti akan dijatuhi hukuman oleh Allah. Allah pasti menghukum dosa. Orang Farisi ini orang baik dan tak pernah berzina. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa orang Farisi yang tidak pernah berzina ini harus binasa di dalam neraka! Jika demikian akibatnya bagi orang yang sedemikian baiknya, bagaimanakah dengan orang-orang yang jahat? Tidakkah orang-orang yang berzina itu lebih-lebih harus masuk neraka?

Orang Farisi ini bukan saja tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan dalam pekerjaan sosial, besar pula jasanya. Mereka berpuasa dua kali seminggu (ayat 12). Saya pikir, banyak orang Kristen yang belum pernah berpuasa; bahkan mungkin, mereka belum tahu arti dan tujuan berpuasa. Orang Farisi ini benar-benar rela menderita dengan sering menyiksa diri, agar nafsunya tidak berkobar, sehingga ia dapat melakukan perkara sosial dan dapat melayani Allah dengan sebulat hati. Meskipun hukum Taurat tidak mengharuskan seseorang berpuasa dua kali seminggu, tetapi orang Farisi ini sudah rela melakukannya; jadi ia sudah melampaui tuntutan hukum Taurat. Perbuatan demikian sungguh baik, namun Tuhan Yesus masih berkata, bahwa ia harus binasa di dalam neraka. Jika ia demikian, apa lagi orang-orang yang tidak dapat berbuat menurut tuntutan hukum Taurat, tidakkah mereka harus menerima hukuman yang lebih berat? Kalau hal ini kita pikir dengan cermat, mungkinkah kita mempunyai pengharapan mendapatkan keselamatan?

"la (orang Farisi) membayar zakat sepersepuluh dari segala penghasilannya." Jadi, ia bukan orang yang diperbudak oleh harta benda, melainkan menjauhkan diri dari harta benda dan mendekati kebajikan. Sepersepuluh itu sudah menjadi dasar baginya. Orang-orang pada zaman ini, jangan dikata memberikan sepersepuluh, mungkin memberikan seperseribu saja sudah jarang yang rela. Waktu mereka hendak mempersembahkan zakat, uang pecahan ribuan dianggap terlalu besar, uang pecahan ratusan agak terlalu kecil, maka dipersembahkan saja uang pecahan ratusan sebagai zakat mereka. Orang Farisi ini tidak demikian. la berhasrat sekali menimbun harta bendanya di dalam surga. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa ia harus masuk neraka. Kalau orang yang demikian bermurah hati, rela menyumbangkan tenaga dan rela pula mempersembahkan uang, masih harus binasa, hukuman macam apakah nanti yang akan dijatuhkan kepada orang yang sebaliknya?

Dari uraian di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa orang Farisi ini adalah seorang yang "sempurna". Menurut pendapat umum, ia adalah orang yang sangat baik, lebih-lebih menurut pendapatnya sendiri, tentu tak ada sedikit pun cacat celanya. Meskipun kita tidak menjunjungnya sebagai orang suci, tapi cocoklah baginya kalau disebut "orang yang baik", yang jarang sekali terdapat di zaman ini. Tapi Tuhan Yesus sudah menegaskan, bahwa orang semacam ini tidak dibenarkan dan masih belum memperoleh keselamatan, bahkan ia harus binasa!

Kalau di antara teman-teman sekalian masih ada yang berpendapat, bahwa dengan melakukan kebaikan, tentu kalian akan mendapat keselamatan; atau dengan kata lain, keselamatan adalah upah kebaikan manusia, ingatlah orang Farisi ini, betapa sempurnanya, namun ia tetap takkan memperoleh keselamatan. Mungkinkah perbuatan kita dapat sebanding dengan perbuatan orang Farisi ini? Mungkin kita bisa menjadi orang baik, tetapi kita tidak mungkin memperoleh keselamatan berdasarkan perbuatan baik kita semata.

Orang-orang yang baik hati dan berbuat baik, janganlah menyangka diri mereka sudah patut diselamatkan. Ketahuilah putusan Tuhan Yesus, "Engkau masih terhitung sebagai anak jahanam!" Hai orang-orang dosa, janganlah menyangka bahwa demi mengamalkan kebajikan itu, Anda akan diselamatkan kelak. Saya katakan dengan tegas, itu adalah "injil Iblis!" Anda yang tidak dapat beramal dan berbuat baik tidak perlu dikata, sekalipun dapat berbuat dan menyaingi orang Farisi ini, tetap masih akan binasa! Apakah manfaatnya bagi mereka yang hanya beramal dan berkebajikan itu? Untuk hal ini, Tuhan Yesus sudah mengambil contoh orang yang sungguh baik, tetapi masih binasa. Maksud Tuhan ialah, agar manusia yang mengandalkan kebenaran dirinya, akan menyesal dan sadar, bahwa kebenarannya itu tak dapat menyelamatkan dirinya. Memperoleh keselamatan itu, tidak ada hubungannya dengan usaha manusia (Efesus 2:8-9).

Bagi seseorang yang ingin mendapatkan keselamatan, jangan mengambil jalan yang salah, yaitu dengan mengubah diri menjadi baik lebih dulu, kemudian mencari keselamatan. Hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus, barulah kita bisa mendapatkan keselamatan.

Mengapa orang Farisi yang begitu baik, akhirnya masih dimasukkan ke dalam neraka? Apakah alasannya? Mari kita dengan saksama menyelidiki sebab musabab yang menjadikan orang baik ini masuk neraka.

Pertama: Ia menyangka dirinya benar (ayat 9). Memang, kalau ditinjau perihal budi pekertinya, ia lebih baik daripada kebanyakan orang. Sebab itu, ia puas dan yakin, bahwa ia tentu akan beroleh keselamatan. "Kalau orang lain boleh masuk surga, apa lagi aku, tentu tidak akan ketinggalan", demikian sangkanya. "Menyangka" dengan kata "menyandarkan" mempunyai arti yang berkaitan. Ia bersandarkan kebenaran dan kebajikan yang ada pada dirinya, lalu menyangka dirinya sudah cukup untuk dibenarkan (diselamatkan). Ia tidak tahu, bahwa manusia itu "najis juga”; segala kebenaran manusia hanya seperti sehelai kain kotor (Yesaya 64:6), tidak cukup untuk menudungi tubuh dan menutup malunya. Lagi pula, ia tidak tahu hukuman Allah yang sudah ditetapkan baginya. Dalam pandangan Allah, tidak seorang pun yang benar di bumi ini (Roma 3:10).

Orang Farisi ini berkata, bahwa dirinya tidak seperti orang lain. Jadi ia berpendapat, bahwa dalam hal kebajikan, ia tak ada duanya di dunia. Karena ia sudah menggenapi segala hukum Taurat, bahkan melebihi; maka sangkanya, pastilah ia akan dibenarkan. Hal ini sama dengan pendapat atau sangkaan kebanyakan orang. Mereka menyangka, bahwa keselamatan itu didapat karena berbuat amal dan kebajikan. Maklumlah, karena mereka tidak ingat, atau tidak tahu isi nas Alkitab yang berbunyi demikian: "Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat" (Roma 3:20), dan "kami yakin, bahwa manusia dibenarkan . . . bukan karena ia melakukan hukum Taurat" (Roma 3:28); ". . . tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat . . . kami dibenarkan . . . bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab, tidak ada seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat" (Galatia 2:16), dan "bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat . . ." (Galatia 3:11), pula "Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan" (Titus 3:5). Melakukan hukum Taurat adalah berbuat kebenaran. Tidak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat. Jadi berbuat kebenaran tidak mendatangkan keselamatan, seperti yang sudah berulang-ulang dijelaskan di dalam Alkitab. Walaupun kebenaran orang Farisi ini tak dapat disangkal, tetapi tidak diketahuinya, bahwa segala perbuatannya yang benar itu tidak mendatangkan keselamatan baginya. Ia melakukan kebenaran, agar dapat diterima di surga; tetapi diluar dugaan, akibat perbuatannya yang benar itu dia akan dicampakkan ke dalam neraka sebagai anak durhaka. Karena ia sudah menyangka dirinya benar, maka ia tidak lagi membutuhkan kebenaran yang sejati dan yang kekal, yaitu yang sudah disediakan di dalam Tuhan Yesus Kristus oleh Allah. Dengan demikian, tak dapat tidak ia harus dimasukkan ke dalam kebinasaan. Kebenaran manusia sekali-kali tidak dapat memuaskan hati Allah. Jadi bukan karena Allah hendak mengukuhi kebenaranNya sendiri, lalu la tak sudi menyelamatkan manusia. Orang Farisi ini, "Oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri; maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah" (Roma 10:3). "Tidak takluk" berarti "melawan". Di hadirat Allah, orang semacam ini adalah "pemberontak". Kalau demikian, apakah ia masih ada harapan untuk diselamatkan?

Pada masa ini banyak sekali benih orang Farisi. Banyak orang menyangka dirinya orang baik, yang tentunya akan beroleh keselamatan. Banyak orang masih berangan-angan hendak berbuat kebajikan, berbuat amal, supaya kelak diselamatkan. Mereka tidak tabu, bahwa Tuhan Yesus sudah mengatakan, orang yang baik sekali pun, akan masuk neraka juga. Jika Anda seperti orang itu, berbaliklah dari jalan yang sesat dan percayalah kepada Tuhan Yesus. Sadarlah, bahwa perbuatan amal dan kebajikan itu tidak mendatangkan keselamatan.

Di dunia ini tidak ada suatu barang yang dapat disandari melebihi kebenaran diri. Meskipun demikian, orang Farisi ini yang bersandar pada kebenaran dirinya sendiri, harus masuk neraka. Ini sudah menjadi contoh bagi orang-orang yang menuntut keselamatan berdasarkan amal dan kebajikan mereka. Mengapakah Anda mau mengulangi jejak mereka?

Tidak saja ia berpegang pada kebenaran dirinya, bahkan ia juga meninggikan dirinya. Orang yang meninggikan dirinya pasti masuk neraka. Sebagai seorang pemberita Injil, belum pernah saya melihat orang yang meninggikan dirinya dapat diselamatkan. Barangsiapa ingin mendapatkan keselamatan, harus mau mengakui bahwa dirinya orang berdosa yang tidak berpengharapan untuk mendapat keselamatan, mengetahui dirinya tak dapat diandalkan, masuk ke dalam neraka adalah bagiannya yang seharusnya; karena itulah ia harus bersujud di hadapan salib Tuhan, memohon belas kasihanNya; percaya kepada Yesus, orang Nazaret, yang sudah mati tersalib sebagai Juruselamat yang mati menggantikan dirinya. Inilah kerendahan hati yang sejati! Jika bukan kerendahan hati, siapakah yang sudi berbuat demikian? Percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat menyatakan suatu perbuatan yang rendah hati yang tiada taranya di dunia. Setiap orang tentu tidak mau disuruh mengaku, bahwa dirinya tak dapat berbuat kebajikan. Orang demikian tentu tidak sudi pula mencari keselamatan dari salib yang sudah dicemooh orang banyak itu. Orang yang meninggikan dirinya tidak akan beroleh keselamatan. Orang yang meninggikan dirinya suka berkata, bahwa kebaikannya dapat menebus dosa-dosanya yang lampau, dan kalau ia tidak dapat melaksanakan kebajikannya dengan sempurna, akibatnya hanya akan menimpa dirinya seorang, tentu ia kuat menanggungnya.

Betapa sukarnya kita menyuruh seseorang untuk mengakui dirinya sebagai orang dosa dan mengaku Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Janganlah meninggikan diri Anda! Jika Anda masih tetap meninggikan diri, maka tinggi diri Anda itu akan mencampakkan Anda ke dalam api neraka! Bukan hanya tinggi diri yang dapat menyebabkan manusia masuk neraka, satu sebab lain lagi, yaitu tidak mau memohon rahmat Allah. Disangkanya, orang yang berderajat tinggi tidak perlu memohon rahmat Allah. Orang benar seperti dia merasa dirinya sudah cukup, bahkan berlebih-lebihan untuk memperoleh keselamatan. Untuk apa ia harus menanggung malu dengan memohon belaskasihan Allah? Meskipun ia sudah berdoa di dalam Bait Allah, tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa doanya itu hanya untuk memegahkan dirinya belaka. Coba Anda baca ayat 11 dan 12. Apakah ia sungguh-sungguh berdoa? Ia bukan berkata, bahwa ia mempunyai kekurangan ini atau itu, serta mohon digenapi. Ia juga tidak berkata, "Ya Allah, hamba tak dapat menyelamatkan diri, maka mohon Engkau yang menyelamatkan." Tetapi ia seolah-olah berkata, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, sebab aku tidak perlu meminta bantuanMu. Aku tidak berbuat ini atau itu. Aku sudah baik, serta banyak berbuat amal." Itu bukan doa dan bukan permohonan. Ia menyangka dirinya paling sempurna, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya. Ia bukan datang untuk berdoa, melainkan hendak menyampaikan laporan saja.

Ia datang ke hadirat Allah untuk menyampaikan laporannya, agar Allah tabu kebaikan-kebaikan yang diperbuatnya. Ia juga seolah-olah berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, sebab aku tidak pernah berbuat dosa, sebaliknya banyak beramal, jangan sampai Engkau tidak mengetahuinya. Sekarang aku datang ke hadapanMu, khusus untuk menyampaikan laporan, agar Engkau mengetahuinya." Ia tidak mau memohon rahmat Allah, ia merasa dirinya sudah benar. Sangkanya, orang banyak tentu sudah tahu, bahwa ia adalah orang yang baik. Tetapi sebetulnya ia hanya menjadi orang suci yang ada di luar pintu; ia tidak pernah tampak Allah, serta tidak mengenal Allah, sehingga ia berani meninggikan dirinya di hadapan Allah yang Mahasuci. Jika ia bukan orang yang mata hatinya sudah buta, niscaya doanya tidak demikian. Meskipun ia sendiri dan orang banyak mengakui, bahwa ia adalah orang yang baik, akan tetapi pada pandangan Allah, ia tetap orang dosa yang belum dibenarkan dan perlu diselamatkan. Kalau tidak, ia tetap binasa di dalam neraka. Karena dosa manusia, Allah menyediakan satu Juruselamat sebagai ganti mereka, untuk menebus dosa serta menerima hukuman karena dosa manusia, termasuk orang-orang yang menyebut diri mereka benar. Orang Farisi ini belum pernah mengenal Allah dan tidak mengetahui rahmat Allah, maka ia tidak menyangka bahwa di hadapan Allah ia juga terbilang sebagai orang dosa yang memerlukan seorang Juruselamat. Ia sudah merasa puas akan dirinya, bahkan bersandar kepada dirinya. Tetapi saat ia masuk neraka kelak, pasti ia akan terperanjat dan masih akan menyangka, bahwa tentu ia salah masuk. Ternyata, tempat itu memang benar-benar rumah kekal baginya.

Orang Farisi yang binasa ini dapat menjadi contoh dan peringatan bagi kita. Dalam caranya mencari keselamatan terdapat dua kesalahan besar. Pertama, ia menyangka bahwa keselamatan itu diperoleh demi perbuatan amal. Kedua, ia merasa dirinya sudah sempurna, maka sudah pasti akan beroleh keselamatan. Ia tidak tahu, bahwa semua itu angan-angan yang semu. Dalam surat Efesus 2:8-9 tersurat, bahwa beroleh keselamatan itu bukan hasil perbuatan amal, melainkan karena percaya kepada rahmat Tuhan Yesus. Seseorang beroleh keselamatan atau binasa dapat dilihat dari percaya atau tidaknya ia kepada Tuhan Yesus, atau apakah ia menerima penebusan yang sudah disempurnakan di kayu salib oleh Tuhan Yesus. "Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman" (Yohanes 3:18). Jadi bukan tergantung pada baik atau jeleknya perbuatan seseorang. Kalau keselamatan itu diperoleh bukan demi perbuatan amal, tentu orang baik sekalipun tidak akan beroleh keselamatan. Maka teman-teman sekalian, janganlah menyangka, bahwa dengan menimbun perbuatan amal, Anda akan diselamatkan oleh Allah; dan saya pun tahu, Anda tak dapat berbuat amal dengan sempurna. Andaikata dapat, Allah yang Mahaamal itu pun tidak akan memperhitungkan amal Anda. Kebaikan Anda sekali-kali tidak dapat menyelamatkan Anda. Kita tidak dapat membeli rahmat Allah dengan perbuatan amal. Seharusnya kita beroleh keselamatan dulu, kemudian baru berbuat amal. Jadi, hal ini jangan diputarbalikkan, yaitu berbuat amal lebih dulu, kemudian baru diselamatkan. Sekarang terimalah Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, agar Anda segera beroleh keselamatan!

Mari kita tinjau sampai di mana kejelekan orang jahat yang sudah beroleh keselamatan itu. Kemudian kita tinjau, mengapa orang sejahat itu dapat masuk surga.

Orang ini seorang "pemungut cukai" (ayat 10). Dalam masyarakat Yahudi pada masa itu, pemungut cukai ialah golongan yang terhina. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa orang yang dihina dan dibenci oleh masyarakat itu, sudah dibenarkan oleh Allah dan beroleh keselamatan serta masuk surga.

Pada zaman itu, negara Yahudi dijajah oleh pemerintah kerajaan Romawi. Kekuasaan untuk memungut pajak atau cukai oleh pemerintah Romawi diserahkan kepada orang-orang yang dapat menyerahkan suatu jumlah tertentu dalam suatu masa. Dengan sendirinya setiap orang yang diserahi kekuasaan itu, tentu akan berusaha sedapat mungkin memungut pajak yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah yang ditentukan oleh pemerintah, agar ia bisa mengambil keuntungan dari kelebihan itu. Untuk mendapatkan jumlah pajak yang melebihi jumlah yang sudah ditentukan, ia tak segan-segan melakukan kekejaman, pemerasan dan bermacam-macam tipu daya. Sebab itu, pemungut cukai dianggap sebagai sampah masyarakat pada masa itu. Kalau Anda bertanya kepada orang Yahudi, "Golongan apakah yang terhina dalam masyarakat?", Anda pasti mendapat jawaban, bahwa pemungut cukailah yang terhina. Akan tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa pemungut cukai itu boleh masuk surga. Jika orang yang besar dosanya seperti pemungut cukai ini, bisa diselamatkan, apa lagi orang-orang yang dosanya lebih ringan daripada pemungut cukai ini?

Pemungut cukai ini ialah "orang berdosa" (ayat 13), sehingga hati kecilnya menegur dirinya sendiri, karena merasa bahwa segala perbuatannya bertentangan sekali dengan hukum Taurat Allah. Ia bukan hanya tidak dapat melakukan hukum Taurat, bahkan pikirannya penuh dengan kekejian; matanya gemar melihat apa-apa yang. tidak patut dilihat; mulutnya suka mengucapkan kata-kata yang tidak patut diucapkan; tangannya berbuat kelaliman; kakinya berjalan di jalan yang sesat; hatinya penuh dengan nafsu dan perkara yang tidak senonoh. Ia tahu, bahwa segala yang dilakukannya itu hanya menguntungkan diri sendiri dan menyengsarakan orang lain. Ia sudah menjadi hamba uang. Jika sakunya padat, ia tidak sudi menghiraukan urusan lain, lebih-lebih soal keluhuran budi atau jalan yang benar. Ia sudah menutup telinganya, tidak mau mempedulikan jeritan anak-anak piatu serta ratap tangis janda-janda. Asalkan dapat untung sehingga menjadi jutawan, biarpun menempuh pergumulan dalam lumpur kecemaran, ia tidak keberatan. Ia tidak menyembah Allah. Segala perbuatannya dan angan-angan hatinya semata-mata bermusuhan dengan Allah. Dikatakan secara ringkas, ia adalah orang dosa. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa pemungut cukai ini sudah dibenarkan. Orang dosa dapat masuk surga! Sebagai orang dosa, Anda tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri, tak patut diselamatkan dan tak mungkin beroleh keselamatan. Kalau Anda menyelidiki perbuatan dan buah pikiran Anda sendiri, maka hati kecil Anda tentu akan menyalahkan diri Anda sendiri dan menentukan, bahwa diri Anda akan binasa. Hai orang-orang dosa yang tercinta, ketahuilah, bahwa orang dosa dapat masuk surga! Hai orang-orang yang menderita dalam penghidupan, janganlah putus asa! Injil sudah tersedia. Meskipun Anda orang yang berdosa, tetapi Anda dapat masuk surga! Biarpun Anda tak dapat menyelamatkan diri, tapi Anda bisa diselamatkan! Tuhan Yesus ialah jalan keselamatan! Terimalah karunia keselamatanNya!

Orang Farisi berkata, "Aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini" (ayat 11). Dari kata-kata yang telah diucapkan oleh orang Farisi ini, dapat disimpulkan bahwa pemungut cukai itu tentunya pemeras dan lalim, lagi pezinah, lengkap dengan segala macam dosa. Pemungut cukai sering memakai pengaruhnya untuk melakukan penipuan dan dengan kekejamannya melakukan perampasan, sehingga apa yang diperbuatnya itu semata-mata kelaliman belaka. Di dalam rumah pemungut cukai ini terdapat banyak barang yang sebenarnya bukan hak miliknya, yaitu yang diperolehnya dengan jalan tipu daya. Ia berzina, berdosa kepada tubuhnya. la gemar melakukan segala kenajisan. Ia tidal( segan pula melakukan segala macam kejahatan. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, bahwa pemungut cukai semacam ini boleh masuk surga.

Dalam pandangan dunia, pemungut cukai semacam ini harus dibinasakan. Hanya orang baik sajalah yang boleh masuk surga, orang jahat harus masuk neraka. Jika hal ini yang berlaku, tentu orang baik beroleh keselamatan, sedang orang jahat harus binasa. Menurut pendapat kita, tentu orang Farisi itu yang seharusnya mendapatkan hidup kekal dan sebaliknya, pemungut cukai harus dihukum. Syukurlah! Tuhan Yesus sudah menjatuhkan putusan yang berlawanan dengan putusan kita. Orang benar harus masuk neraka dan orang jahat boleh masuk surga. Dengan demikian, kits yang berdosa ini bisa memperoleh keselamatan. Karena orang yang "baik" di dalam dunia ini tidak seberapa (Roma 3), maka kalau hanya orang "baik" saja yang patut beroleh selamat, berapa orangkah yang akan memperoleh keselamatan itu? Tidakkah dengan cara demikian, umat manusia akan binasa seluruhnya? Sungguh, kita mujur sekali, sebab Tuhan Yesus sudah menetapkan, bahwa orang dosa dapat masuk surga, orang dosa ada harapan akan beroleh keselamatan. Puji Tuhan!

Suatu kali, sewaktu saya naik kapal dari Shanghai menuju provinsi Hokkian, saya memberitakan Injil kepada seorang saudagar besar yang tinggal di provinsi Hokkian Tengah. Saya mengatakan, bahwa Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa umat manusia. Ia segera berkata, "Perkataan Konghuculah yang terbaik, yaitu dosa kepada surga tidak bisa diampuni." Saya bertanya, "Kalau demikian, menurut pendapat tuan, orang yang tidak pernah berdosa kepada surga sebenarnya ada berapa?" Setelah berpikir sejenak, ia pun menjawab, "Barangkali seorang pun tidak ada!" Maka kata saya, "Seluruh umat manusia telah berdosa kepada surga, itu memang benar. Kalau tidak bisa diampuni, tentu tidak seorang pun bisa selamat; dengan demikian tak dapat lagi kits perbincangkan. Kita hanya menunggu hukuman." Mendengar kata-kata saya itu, saudagar itu pun tak dapat berkata-kata lagi. Memang benar, semua manusia berdosa dan harus binasa; akan tetapi Allah mempunyai karunia dan Injil. Meskipun manusia telah berdosa kepada surga dan tidak bisa diampuni, akan tetapi Allah memberikan karuniaNya kepada semua orang yang berdosa kepada surga, menyediakan seorang Juruselamat yang mati menggantikan mereka, serta menebus dosa mereka, agar mereka berkesempatan untuk memperoleh keselamatan dan masuk surga. Lekaslah datang kepada Tuhan untuk menerima karunia penebusan! Orang jahat dapat masuk surga! Inilah Injil!

Pemungut cukai ini orang yang sangat jahat dan besar pula dosanya; tetapi ia sudah beroleh keselamatan. Kalau demikian, apakah orang harus berbuat dosa atau boleh berbuat dosa, agar bisa beroleh keselamatan dan dapat masuk surga kelak? Bukan! Sekali-kali bukan! Tuhan Yesus hanya berkata, bahwa orang dosa itu dapat diselamatkan. Jadi, bukannya orang dosa itu beroleh keselamatan karena perbuatan dosanya! Orang dosa itu selayaknya dibinasakan, tetapi orang dosa itu dapat beroleh keselamatan karena bersandar pada pihak ketiga.

Sekarang mari kita selidiki sebab musabab pemungut cukai yang berdosa itu beroleh keselamatan, agar kita semua yang berdosa ini mengetahui jalannya serta mau menirunya, untuk memperoleh karunia keselamatan dan masuk surga.

Pemungut cukai ini tahu, bahwa dirinya telah "terjual" kepada dosa, sehingga di hadapan Allah ia sama sekali tidak berani menyombongkan diri atau menganggap dirinya memiliki sesuatu yang boleh diandalkan. Tuhan Yesus berkata, bahwa ia rendah hati (ayat 14) di hadapan Allah. Alkitab mengatakan, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (Yakobus 4:6). Ia tahu segala perbuatannya, ia juga tahu, bahwa pada dirinya tidak ada sesuatu yang bisa dimegahkan, hanya kepapaan saja yang ada. Ia tahu dirinya harus dihukum, sehingga ia mau merendahkan diri di hadapan Allah.

Ia datang, masuk ke Bait Allah, "berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit", karena ia tahu bahwa Allah itu Mahasuci dan Mahaadil. Ia tahu, bahwa ia tak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Maka datanglah ia menghadap ke hadirat Allah untuk memohon rahmatNya.

"Allah memberi karunia kepada orang yang rendah hati." Jika Anda sombong dan menyangka, bahwa diri Anda sudah memiliki sesuatu dan tidak kekurangan apa pun; saya sangat mengharapkan semoga Roh Kudus mencelikkan mata hati Anda, agar Anda mengetahui kekurangan diri Anda dan mau datang ke hadapan Allah, memohon karuniaNya. Jika Anda tahu kepapaan diri Anda, janganlah menyombongkan diri. Karena dengan berbuat sombong, berarti Anda telah menipu diri Anda sendiri dan akibatnya hanyalah kebinasaan belaka. Kesombongan itu sudah menjerumuskan orang yang tidak mau percaya kepada Juruselamat. Akibatnya mereka binasa. Semoga Anda tidal sampai terjerumus karena kesombongan itu.

Ia berdoa kepada Allah, katanya, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (ayat 13). Ia tidak seperti orang Farisi - yang menganggap remeh orang lain dan menyebut-nyebut dosa orang lain - tetapi ia mengaku dirinya berdosa. ". . . aku, orang berdosa ini" – Inilah perkataan yang sukar diucapkan! Biasanya orang suka mengatakan, "Semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23), tetapi tidak senang mengaku, "Saya telah berbuat dosa." Orang mau mengaku, bahwa semua orang adalah orang dosa (Roma 3:10-12); tetapi tak senang mengaku, bahwa dirinya sendiri adalah "orang dosa", sebab pengakuan ini sungguh memalukan! Pemungut cukai ini sudah menaruh dirinya pada kedudukan orang dosa. Kedudukan inilah yang akan membawanya ke surga. Ketahuilah, setiap orang yang beroleh keselamatan itu pasti orang yang berdosa. Tidak ada satu pun orang yang tidak berdosa, yang dipilih untuk masuk surga. Andaikata Anda diizinkan masuk surga, untuk menanyakan demi jasa-jasa apa mereka dapat masuk ke tempat itu, tentu Anda akan mendapat jawaban, bahwa tak ada satu jasa pun pada diri mereka. Mereka ialah orang-orang yang penuh dengan dosa belaka. Di dalam surga hanya terdapat orang-orang yang telah dikaruniai keselamatan. Tak ada keistimewaan sedikit pun pada mereka. Surga itu hanya disediakan bagi orang-orang berdosa. Barangsiapa tidak mengakui dirinya sebagai orang dosa, ia tidak berhak masuk surga! Surga itu khusus disediakan bagi mereka yang "sederajat" dengan pemungut cukai, penyamun dan pelacur. Semua orang dosa, asal mau percaya kepada Tuhan Yesus, boleh masuk surga!

Tuhan Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Matius 9:13). Lagi kataNya, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Maka kalau Anda adalah orang yang benar, kedatanganNya itu bukan hendak memanggil, mencari atau menyelamatkan Anda. Tetapi jika Anda mengaku, bahwa Anda adalah orang yang berdosa dan tersesat, maka Ia akan menyelamatkan Anda. Menempatkan diri dalam kedudukan berdosa ialah langkah pertama menuju keselamatan. Meskipun pemungut cukai ini adalah orang dosa yang seharusnya dibinasakan, ia telah diselamatkan karena ia tidak berpura-pura menjadi orang yang tak berdosa, tetapi mengaku dirinya adalah orang dosa.

Spurgeon, seorang pemberita Injil bangsa Inggris yang termasyhur itu, pernah bermimpi. Dalam mimpinya, ia tampak dari luar pintu surga sebaris orang-orang saleh, yang bercahaya dengan kemuliaan, sedang memasuki pintu surga sambil melambai-lambaikan panji kemenangan dan bernyanyi-nyanyi dengan riuh rendah. Sementara itu, terdengarlah penyambutan yang penuh dengan puji-pujian. Salah seorang malaikat berkata kepadanya, bahwa orang-orang itu ialah nabi-nabi zaman kuno. Mendengar keterangan itu Spurgeon kecewa, karena ia bukan nabi, sehingga tidak patut bersama mereka masuk surga. Sejenak kemudian, datang pula sebaris; sedang penyambutan juga meriah. Orang-orang itu ialah orang-orang saleh zaman dulu. Spurgeon merasa tak patut pula masuk bersama mereka; karena mereka adalah orang-orang yang pernah berjasa dan telah mengorbankan diri untuk Tuhan. Akhirnya datang pula orang dalam jumlah yang amat besar. Di antaranya ada dua orang yang dikenalnya, yaitu seorang perempuan yang pernah mengurapi Tuhan dengan minyak wangi dan si penyamun yang disalib bersama Tuhan. Ia menduga, pasti kelompok ini takkan mendapat sambutan selayaknya. Tetapi diluar dugaan, sambutan untuk mereka begitu riuh rendah, gegap gempita, penuh dengan nyanyian-nyanyian dan puji-pujian. Orang-orang ini ialah orang-orang dosa yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Dengan demikian ia bersukacita sambil berseru, katanya, "Patutlah Tuhan Yesus mendapat pujian selama-lamanya! Kelompok ini ialah saudara-saudara yang sederajat dengan aku"!

Meskipun ini hanya satu mimpi, namun sesungguhnya memang demikian. Tuhan Yesus dengan segala senang hati menyambut orang– orang dosa.

Langkah pertama Allah menyelamatkan orang-orang dosa, adalah mengutus Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati manusia, agar mereka sadar akan dosa mereka, sehingga mereka mau menyesali diri.

Suatu kali, ketika saya mengabarkan Injil di suatu kota, ada beberapa murid merasa terharu karena gerakan Rob Kudus. Mereka benar-benar yakin, bahwa mereka ialah orang-orang dosa. Selesai bersidang, mereka mengajak saya berdialog tentang Injil. Ternyata mata mereka masing-masing tidak ada yang kering; basah karena air mata. Mereka menyesal dan khawatir akan akibat dosa mereka. Takut kalau-kalau dosa mereka takkan mendapat pengampunan, sehingga mereka harus masuk neraka dan takkan beroleh keselamatan. Saya katakan, kalau mereka bisa mengetahui bahwa diri mereka adalah orang-orang dosa, ini sudah menyatakan bahwa Roh Kudus sudah bekerja di dalam hati mereka. Kemudian saya bacakan ayat-ayat dari Injil Yohanes 3:16, 5:24 dan ayat-ayat lain. Saya juga menerangkan, bahwa kalau mereka sudah sadar akan dosa-dosa mereka, percaya dan mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat mereka, tak peduli berapa besar dosa mereka, mereka akan memperoleh hidup kekal, yaitu keselamatan. Roh Kudus membuka mata rohani mereka, sehingga mereka jelas tentang keselamatan kayu salib. Mereka bersukacita atas keselamatan itu. Hingga kini mereka tetap bersukacita di dalam Tuhan.

Saat ini, kalau Roh Kudus menyadarkan Anda akan dosa-dosa Anda, maka dapat dipastikan, Tuhan menghendaki Anda beroleh keselamatan.

Pemungut cukai ini bukan dengan semaunya saja menempatkan dirinya pada kedudukan orang dosa, melainkan sungguh-sungguh sedih karena dosanya. la memukul-mukul dadanya, ini sudah menyatakan kebenciannya kepada dirinya sendiri. Orang yang menganggap dosanya ringan dan tak bersedih karena dosanya, selanjutnya pasti mudah berbuat dosa pula. Dalam Alkitab tercantum, ". . . dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan" (II Korintus 7:10). ". . . Aku bersemayam juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk" (Yesaya 57:15). "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah" (Mazmur 51:19). Teman-teman sekalian yang saya kasihi! Saya tidak khawatir berapa pun besarnya dosa Anda. Saya hanya khawatir kalau-kalau Anda tidak mau mengaku, bahwa Anda orang dosa, serta bersedih karena dosa Anda. Jika Anda menyangka dosa Anda itu ringan, serta tidak mau menempatkan did Anda pada kedudukan orang dosa, Anda pasti tidak akan sudi mencari seorang Juruselamat. Sekalipun Juruselamat itu sudah sampai di depan pintu hati Anda, Anda tentu akan menolakNya. Meskipun sebetulnya merendahkan diri, menempatkan diri pada kedudukan orang dosa dan bersedih hati karena dosa tidak bisa menyelamatkan orang, tetapi kalau orang tidak mau berbuat demikian, pasti ia juga tidak mau seseorang, yaitu Yesus Kristus, menjadi Juruselamat. Kerendahan hati, pengakuan dosa dan kesedihan (karena dosa) pemungut cukai tidak dapat menyelamatkannya dan tidak dapat menyebabkannya beroleh hidup yang kekal. Tindakan-tindakan itu hanyalah persiapan dalam hati untuk menerima keselamatan. Percaya kepada karunia keselamatan yang sudah tergenap di atas salib barulah satu-satunya jalan untuk memperoleh keselamatan. Jadi, orang dosa dapat beroleh keselamatan hanya demi penebusan yang sudah disempurnakan di atas salib oleh Tuhan Yesus.

Ia (pemungut cukai) berdoa, "Ya Allah, kasihanilah aku, orang dosa ini." Sebetulnya perkataan ini dalam bahasa aslinya berbunyi, "Ya Allah, tebuslah hamba, orang dosa ini", atau "Ya Allah, ijinkanlah hamba, orang dosa ini, menebus dosa." Inilah salib! Tiada seorang pun yang beroleh keselamatan bukan karena salib. Mungkin sewaktu pemungut cukai ini berdoa di dalam Bait Allah, Roh Kudus menggerakkan hatinya agar ia menyadari dosanya. Ia memohon kepada Allah, katanya, "Ya Allah, tebusl Oh hamba, orang dosa ini." Ia tahu, ia telah berdosa. Dosa tentu ada hukumannya. Orang dosa tidak mungkin dibenarkan dan tidak mungkin dapat masuk surga. Kalau tidak ada seorang Juruselamat yang dapat menggantikannya, ia pasti binasa. Hatinya mengharap kepada Juruselamat. Hatinya mengharapkan suatu korban penebusan. Ia membuka suara, memohon kepada Allah. Dengan demikian, keselamatan pun didapatnya dan sudah menjadi jaminan baginya untuk masuk surga.

Ia memohon bantuan kepada Allah, bukan setelah ia berubah menjadi baik. Ia tahu, bahwa dirinya berdosa. Kalau tidak ada yang menggantikan hukuman dosanya, tentu ia akan binasa. Maka ia mengharapkan seorang Juruselamat yang bisa menggantikannya. Dengan demikian ia pun beroleh keselamatan. Pembaca yang tercinta, kita semua adalah orang dosa yang tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Karena itu, Tuhan Yesus datang khusus untuk menyelamatkan kita. KedatanganNya bukan hanya menjadi teladan kita, melainkan mati untuk menggantikan kita - Anda dan saya. Yesus datang serta mati untuk menggantikan kita - yang berdosa dan harus binasa ini - maka kita pun tak usah mati. "la sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib" (I Petrus 2:24). "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, la yang benar untuk orang-orang yang tidak benar" (I Petrus 3:18). "Dan la adalah pendamaian untuk segala dosa" (I Yohanes 2:2). Inilah suatu hal yang paling panting, yaitu Tuhan Yesus sudah mati untuk menggantikan kita, serta menjadi penebus kita, maka kita tak usah mati lagi. Dengan demikian terwujudlah sudah keselamatan itu. Jika Tuhan Yesus tidak menebus dosa kita, maka kita akan menanggung dosa kita sendiri sampai mati. Meskipun pemungut cukai itu orang dosa, tetapi karena ia mempunyai seorang Juruselamat sebagai sandarannya untuk menggantikan dosanya, maka tertebuslah dosanya. Ia tak usah mati lagi dan tak usah masuk neraka: Pemungut cukai itu dapat masuk surga bukan karena jasa-jasanya sendiri, melainkan jasa pihak ketiga, yaitu Juruselamat. Begitu pula semua orang dapat masuk surga bukan karena kebajikan mereka, melainkan karena jasa Tuhan Yesus di kayu salib.

Pemungut cukai itu berseru kepada Allah. Ini menyatakan, ia sudah percaya kepada Allah. "Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?" (Roma 10:13-14). la beroleh keselamatan, karena ia percaya bahwa Allah menebus dosanya. Demikian pula barangsiapa percaya, dapat dibenarkan dan diselamatkan.

Tentang karunia penebusan, ia sudah mengerti dengan jelas. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman" (Efesus 2:8). Ia tahu bahwa kekurangankekurangan yang ada pada dirinya itu, selain bersandar pada belaskasihan Allah, tak ada jalan kedua yang dapat menolongnya. Karena ia sadar, bahwa keselamatan itu hanya tergantung pada karunia Allah, maka ia memohon belas kasihan Allah. "Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya . . ." (Titus 3:5). Ia mohon rahmat Allah serta penebusan bagi dosanya, karena ia tahu bahwa rahmat Allah itu diberikan dengan perantaraan Juruselamat yang mati menggantikan dirinya, guna menebus dosanya. Begitu ia mohon dengan segenap hati serta imannya, ia segera beroleh keselamatan.

Pemungut cukai ini dapat masuk surga, bukan karena ada keistimewaan pada dirinya, melainkan karena belas kasihan Allah, yaitu dengan dikaruniakanNya seorang Juruselamat menjadi penggantinya. Orang-orang dosa masuk surga tanpa membayar harga, karena Tuhan Yesus di atas salib sudah membayar harga itu untuk mereka.

Orang Farisi itu binasa, karena ia tidak mempunyai seorang Juruselamat; sedang pemungut cukai itu beroleh selamat karena ia mempunyai seorang Juruselamat. Jadi jelaslah sudah, bahwa selamat atau binasa itu sedikit pun tidak ada hubungannya dengan diri kita atau perbuatan-perbuatan kita. Meskipun kita sebaik orang Farisi, kita tidak akan terhindar dari api neraka; sebaliknya, meskipun kita selalim pemungut cukai, kita dapat juga masuk surga. Jadi seseorang masuk neraka bukan karena kelaliman atau kejahatannya; sebaliknya, orang dapat masuk surga bukan karena kebajikannya. Ini hanya karena percaya atau tidak percaya kepada Tuhan Yesus yang sudah mati di atas salib; karena, "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal. Tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya" (Yohanes 3:36). Jadi kepastian tentang hidup yang kekal atau binasa kekal hanya tergantung pada percaya atau tidaknya Anda. Saya hanya menganjurkan dan mengharap, agar Anda percaya kepada kematian Tuhan Yesus sebagai pengganti Anda. Dengan demikian, Anda pasti beroleh keselamatan. Barangsiapa ingin beroleh keselamatan, ia harus benar-benar percaya, bahwa keselamatan itu bukan suatu perdagangan dan tidak dapat diperoleh demi perbaikan - dari yang jahat berubah menjadi yang baik - lalu beroleh pahala yang berupa anugerah penebusan sebagai balas budi. Anugerah penebusan itu diberikan oleh Allah dengan cuma-cuma kepada semua orang dosa yang percaya. Allah tidak memandang besar kecilnya kebaikan Anda. Begitu Anda menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, serta percaya kematianNya itu sebagai pengganti Anda, Anda pasti beroleh keselamatan. Sebab hukuman dosa yang semestinya Anda tanggung sendiri, sudah ditanggung Tuhan Yesus. Satu dosa pun tidak ada yang dapat dijadikan suatu tuduhan terhadap Anda pada hari penghakiman, karena Anda sudah beroleh keselamatan dengan sempurna. Allah tidak memperhatikan kebajikan Anda sampai di mana. Jika Anda tidak percaya, bahwa kematianNya menggantikan Anda, Anda pasti binasa. Kebajikan Anda tak dapat menutup kelaliman Anda. Kalau Anda tetap tidak mau percaya, Anda akan tetap di dalam lumpur kebinasaan. Allah sudah mengatakan, bahwa barangsiapa percaya Tuhaa Yesus, pasti diselamatkan; sebaliknya, yang tidak percaya, dihukum. Orang baik yang tidak percaya itu binasa, orang dosa yang percaya boleh masuk surga.

Teman-teman yang baik! Jangan sombong! Kebaikan Anda tidak dapat menyelamatkan Anda. Tenian-teman yang jahat! Jangan putus asa! Dosa Anda bisa tidak mendatangkan hukuman bagi Anda. Puji syukur bagi Allah! Anugerah penebusanNya amat ajaib! Meskipun kits sama seperti pemungut cukai, yaitu orang dosa yang tidak mempunyai sandaran dan yang akan menerima hukuman kekal, tetapi Ia sudah mengutus Tuhan Yesus mati di salib, menggantikan kita, agar kita yang percaya kepada-Nya, serta menerimaNya sebagai Juruselamat, beroleh selamat. Ini benar-benar suatu anugerah yang besar!

Hai orang-orang dosa! Tirulah pemungut cukai ini, yang mengakui segala dosanya di hadirat Allah, dan memohon dengan iman, "Ya Allah, kasihanilah hamba, orang dosa ini! Selamatkanlah hamba, karena Tuhan Yesus sudah mati di atas salib menggantikan hamba!" Allah pasti menyelamatkan Anda!

Puji syukur kepadaNya, karena Ia mengaruniakan keselamatan yang demikian sempurna!