← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (2) · bab 6/9

MENCIPTAKAN PERASAAN PERLU DAN PERASAAN BERDOSA PERASAAN PERLU DAN PERASAAN BERDOSA DALAM ORANG BERDOSA

Dalam bab ini kita akan melihat perasaan perlu dan perasaan berdosa. Terhadap hal ini, Saudara Verls berkata banyak dan rinci, marilah kita mengutip perkataannya untuk melihat hal ini.

Dalam Matius 11:28 Tuhan Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Tuhan memanggil orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk mendapatkan kelegaan, inilah menciptaan perasaan perlu di dalam manusia. Ada orang asalnya merasaan puas terhadap kehidupan manusianya, tidak merasa perlu diselamatkan; tetapi kita akan menciptakan perasaan perlu baginya, supaya dia merasa tidak puas, supaya dia merasakan perlu diselamatkan.

Lukas 4:18-19 mengatakan, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Inilah pernyataan Tuhan Yesus ketika baru keluar menunaikan ministri-Nya. Di sini Tuhan berkata bahwa sasaran pemberitaan Injil-Nya ada dua macam; orang yang mempunyai keperluan dan orang yang berdosa.

Dalam Roma 1:29-32 Paulus membicarakan tentang dua puluh satu macam dosa. Di satu aspek manusia mempunyai keperluan, di aspek yang lain manusia mempunyai dosa, tetapi manusia tidak merasakan kedua aspek ini. Karena itu, orang yang memberitakan Injil harus menciptakan perasaan perlu, juga supaya orang timbul perasaan berdosa. Di China, menciptakan perasaan perlu lebih mudah daripada menciptakan perasaan berdosa. Terhadap orang yang mengerti Injil, kalau dia belum beroleh selamat, ketika Anda memberitakan Injil lagi kepadanya, boleh membuat dia merasa berdosa. Karena orang yang demikian lebih mudah merasa berdosa.

Orang China umumnya menyukai keuntungan yang nyata. Mereka menyembah berhala bukan bertujuan beroleh pengampunan dosa, melainkan ingin beroleh keuntungan dari berhala itu. Karena itu Anda memberitakan Injil kepada orang China, sulit sekali membuat mereka mempunyai perasaan berdosa. Tetapi kalau Anda tidak membuat mereka merasa berdosa di hadapan Allah, mereka tidak mudah beroleh selamat dengan baik. Ketika Anda memberitakan Injil kepada mereka, terlebih dulu buatlah mereka mempunyai perasaan berdosa kepada Allah, bukan hanya membuat mereka merasa berdosa. Ketika kita memberitakan Injil, bukan hanya supaya orang merasa berdosa, tetapi juga merasa berdosa kepada Allah. Kalau seseorang hanya mempunyai perasaan berdosa, namun tidak mempunyai perasaan berdosa kepada Allah, jangan-jangan ia sama seperti seekor anjing atau babi, apa yang mereka muntahkan, kembali dimakan lagi, sudah keluar dari lumpur, bergulung-gulung kembali ke dalam lumpur. Orang China sejak zaman Sung Ru, mulai ada ajaran rasio bertentangan dengan nafsu. Tetapi mereka hanya mengetahui keadaan dosa di dalam manusia, tidak mengetahui tentang berdosa kepada Allah, lebih-lebih tidak ada perasaan itu. Sebab itu, mereka bisa mengerti khotbah yang Anda sampaikan kepada mereka tentang terlepas dari dosa, tetapi tidak mengerti khotbah yang Anda sampaikan kepada mereka tentang pengampunan dosa dari Allah. Kalau seseorang beroleh selamat, namun tidak nampak dirinya adalah orang yang berdosa besar, yang berdosa kepada Allah, keselamatan mereka tidak kukuh.

Sebab itu memberitakan Injil di China, tidak saja perlu membuat orang merasakan berdosa, harus maju selangkah lagi, supaya mereka nampak mereka berdosa kepada Allah, dengan demikian mereka baru beroleh selamat. Pemberitaan Injil semacam ini tidak mudah, kita perlu memakai berbagai macam cara, supaya Roh Kudus bisa bekerja di dalam manusia. Asal Roh Kudus bekerja, perasaan berdosa kepada Allah di dalam manusia akan timbul. Meskipun seseorang sebelum beroleh selamat, tidak mempunyai perasaan berdosa kepada Allah, tetapi asal Roh Kudus bekerja, dengan sendirinya mereka mempunyai perasaan yang demikian.

BAGAIMANA SUPAYA ORANG MEMPUNYAI PERASAAN PERLU

Sekarang marilah kita terlebih dulu melihat beberapa cara untuk menghasilkan perasaan perlu.

1. Tentang Mendapatkan Perhentian

Matius 11:28 adalah ayat yang sering dipakai dalam pengabaran Injil, ayat ini telah menyelamatkan banyak orang di banyak tempat, juga di luar negeri. Dengan ayat Alkitab ini kita bertanya kepada orang-orang, apakah beban Anda berat? Apakah Anda letih lesu? Apakah Anda mendambakan perhentian? Kita akan membuat orang merasakan beban berat dalam kehidupan manusia, memperlihatkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan beban. Hari ini manusia sepanjang hari cemas terhadap perkara dunia, penuh beban berat. Kehidupan manusia benar-benar tidak ada perhentian. Orang yang tidak mempunyai uang khawatir, orang yang mempunyai uang lebih khawatir. Orang yang tidak mempunyai uang merasakan penderitaan dalam kekurangan, orang yang mempunyai uang takut uangnya dirampok. Tidak mempunyai barang, banyak khawatir; barang terlalu banyak, lebih banyak khawatir. Manusia benar-benar menderita. Tetapi Tuhan berkata, asal Anda mau datang, Dia akan memberi perhentian kepada Anda.

Setelah membacakan ayat-ayat ini, Anda boleh langsung bersaksi kepada mereka, "Sejak saya percaya Tuhan, beban berat telah tertanggal, saya sudah mendapatkan perhentian." Tidak saja Anda sendiri bersaksi, Anda juga boleh mengundang tujuh, delapan orang bersama-sama bersaksi. Dengan demikian akan membuat orang merasa perlu. Sebagian besar orang perlu perasaan demikian. (Meskipun belum tentu semua orang perlu demikian). Orang yang diselamatkan oleh ayat Alkitab ini, tidak kalah dengan orang yang diselamatkan oleh Yohanes 3:16. Ini adalah satu jalan atau cara pemberitaan Injil yang baik.

2. Tentang Sukacita dan Kepuasan

Selain perhentian, juga boleh memakai keperluan tentang sukacita dan kepuasan untuk pemberitaan Injil. Mengenai hal ini, Anda boleh memakai Yohanes 4:13-14, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal." Ada semacam orang yang selalu merasa tidak puas, selalu merasa kehidupan manusia ini sia-sia. Harta manusia boleh bertambah, tetapi kepuasan manusia tetap tidak bisa bertambah. Harta, anak, teman, dan lain-lain, semuanya tidak bisa memuaskan orang. Dunia selalu sia-sia. Sebelum seseorang mendapatkan sesuatu, ia ingin mendapatkannya; tetapi setelah mendapatkannya, dengan cepat merasa haus lagi. Orang di dalam dunia sebelum mendapatkan Tuhan, terus menuntut kepuasan. Tetapi begitu mendapatkan kepuasan, hanya beberapa hari saja sudah habis, haus lagi. Sama seperti anak kecil, sebelum mempunyai mainan, ingin mendapatkan mainan; setelah mendapatkan mainan, tidak mau mainan itu lagi. Segala sesuatu yang bisa diberikan oleh dunia kepada manusia, hanya memberi kepuasan yang sementara saja; setelah Anda minum akan haus lagi. Sama seperti perempuan Samaria, sudah memiliki lima suami, masih merasa tidak puas. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi."

Setelah Anda menyampaikan berita Injil, undanglah beberapa saudara saudari bersaksi. Setelah mereka percaya Tuhan, sama seperti minum air hidup, di dalam merasakan kepuasan yang sejati, tidak merasa haus lagi. Anda memakai jalur ini memberitakan Injil, yaitu di dalam orang menciptakan perasaan perlu akan sukacita, perlu akan kepuasan; memperlihatkan kepada mereka, orang lain mempunyai sukacita, tetapi mereka tidak memiliki sukacita. Dengan demikian, Anda merasakan ada keperluan. Kita menaruh orang yang bersukacita di tengah-tengah orang yang tidak bersukacita, sehingga mereka mendambakan sukacita. Orang Jepang bisa beroleh selamat kebanyakan karena orang yang memberitakan Injil memiliki sukacita. Kita juga akan memberitakan Injil dengan cara yang demikian. Untuk pemberitaan Injil semacam ini, kita harus terlebih dulu minum dengan sepuas-puasnya, terlebih dulu karena Tuhan mendapatkan air hidup, mendapatkan sukacita, barulah bisa membuat orang lain mempunyai rasa perlu terhadap sukacita.

3. Tentang Kematian

Kematian juga satu judul yang baik dalam pemberitaan Injil. Kematian sangat menakutkan, takut terhadap kematian adalah keadaan yang umum. Di China, hampir semua orang muda takut terhadap kematian, tetapi kebanyakan orang tua tidak takut mati. Inilah ciri khas orang China. Karena orang tua menganggap kematian itu adalah peristiwa yang wajar, yang pasti akan terjadi, sebab itu kebanyakan mereka tidak takut mati. Takut mati adalah ciri khas orang muda. Sebab itu memberitakan Injil kepada orang muda, menyinggung kematian juga satu jalur yang baik. Ketika Anda memberitakan Injil, kalau sering bertemu orang muda, Anda boleh membicarakan masalah kematian. Anda boleh bersaksi, orang Kristen tidak takut terhadap kematian, karena kita mempunyai Juruselamat yang membuat kita bisa mengalahkan kematian; tetapi Anda adalah orang berdosa yang tidak memiliki Juruselamat, kalau Anda mati, Anda harus bagaimana? Orang Kristen memiliki satu kesaksian yang besar, yaitu tidak takut menghadapi kematian. Dalam sejarah gereja, entah berapa banyak orang Kristen ketika akan mati, tetap bisa menyanyi memuji Tuhan. Mereka tahu ada malaikat yang menjemput mereka. Sebab itu ketika kaum beriman mati, harus berkata, "Aku bukan mati, hanya dalam sementara waktu ini meninggalkan rumah di bumi ini untuk bertemu dengan Tuhan." Ini adalah kesaksian yang baik.

Manusia pasti akan mati (Ibr. 9:27), orang yang belum beroleh selamat akan bertanya, "Aku bisa mati, lalu bagaimana baiknya?" Siapa pun tidak bisa menembus pos ini. Orang muda takut mati; mereka tidak tahu bagaimana menghadapinya, kalau kematian itu datang. Karena itu, ketika memberitakan Injil, boleh menyinggung kematian, untuk menciptakan satu keperluan di dalam manusia. Tidak saja mengetengahkan kematian, perlu juga memberitakan kepada mereka kebenaran tentang Tuhan Yesus telah mati bagi kita. Beri tahu mereka bahwa Tuhan Yesus telah mengecap maut bagi semua orang (Ibr. 2:9), sudah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (ayat 14). Hari ini orang yang percaya kepada-Nya sudah terlepas dari kematian, tidak diperhambakan oleh maut (ayat 15), boleh dengan lantang memproklamirkan, "Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Kor. 15:55). Anda harus memberitakan cita rasa Tuhan Yesus menyingkirkan maut kepada orang; supaya mereka merasakan perlu terlepas dari belenggu maut.

4. Mengenai Penghukuman di Kemudian Hari

Membicarakan tentang penghukuman di kemudian hari juga satu jalur pemberitaan Injil. Tetapi di China, tentang penghukuman di kemudian hari adalah pemikiran Taoisme, juga pemikiran yang menggabungkan Taoisme dengan Budhisme. Di China, pemikiran orang pada umumnya menganggap Allah mendirikan agama. Meskipun mereka juga membicarakan tentang neraka, tetapi neraka hanya alat untuk menakuti orang supaya berbuat baik; orang-orang tidak menganggap neraka adalah fakta yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi Alkitab memberi tahu kita, "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibr. 9:27). Jadi, penghukuman adalah fakta yang pasti terjadi. Ketika kita memberitakan Injil macam ini, boleh memberi tahu orang keadaan yang riil di kemudian hari. Kita boleh menjelaskan kepada mereka tentang alam maut yang ada pada hari ini, sampai kesusahan besar, penghakiman takhta putih, serta lautan api dalam kekekalan, penghakiman yang terjadi pada zaman yang berbeda-beda yang tercatat dalam Alkitab secara berurutan.

Kita juga perlu percaya, ketika kita memberitakan Injil, Roh Kudus juga berbicara melalui kita. Kita harus dengan berani berkata, kelak pasti ada penghakiman! Setiap orang pasti akan mati, setelah mati akan menerima penghakiman. Anda boleh memakai Wahyu 20:11-15, di sana menceritakan penghakiman terakhir Allah di depan takhta putih, yang akan melemparkan setiap orang yang tidak percaya ke dalam lautan api. Kalau memungkinkan Anda boleh menyinggung juga pasal 21 sebagai perbandingan, supaya orang damba tidak dihukum, sebaliknya mendapatkan hidup yang kekal. Kunci dalam pemberitaan Injil adalah percaya Roh Kudus bisa mengucapkan perkataan yang demikian kepada orang. Setelah Allah berbicara, kita juga boleh berbicara, jangan merasa sungkan. Ini juga salah satu jalur pemberitaan Injil yang baik. Jangan takut menyampaikan masalah penghukuman, jangan takut menyampaikan masalah penghukuman yang kekal. Banyak juga orang diselamatkan oleh berita tentang penghukuman. Kita bekerja sama dengan Roh Kudus, orang begitu bertemu dengan berita penghukuman, segera merasakan perlu anugerah keselamatan.

Mengenai Makna Hidup Manusia

Mengenai makna hidup manusia juga merupakan satu jalur pemberitaan Injil. Ada orang mengira hidup manusia adalah satu teka-teki, mereka tidak mengetahui apa makna hidup manusia. Apakah manusia hanya untuk makan, minum, dan tidur saja? Ada sejumlah orang yang mengajukan pertanyaan ini. Sebab itu kita boleh dari judul ini memberitakan Injil, memberi tahu orang, kalau manusia hanya untuk makan, minum, dan tidur, maka hidup manusia sungguh tidak berarti; kalau manusia mengenal Allah, barulah hidupnya berarti. Kalau orang mengenal maksud hati Allah, barulah merasakan hidupnya berarti. Kita akan berdasarkan Alkitab memberi tahu orang, bagaimana Allah menciptakan manusia, bagaimana manusia jatuh, lalu Allah datang menyelamatkan manusia. Kalau seseorang tidak beroleh selamat, ia kekurangan inti, kehilangan makna hidup manusia. Allah menciptakan langit, bumi, dan manusia adalah untuk diri-Nya; Allah adalah inti segala sesuatu, lebih-lebih adalah inti manusia. Sebab itu kalau manusia meninggalkan Allah, akan menjadi mesin yang makan dan tidur saja. Kalau manusia mempunyai Allah, manusia mempunyai makna, mempunyai makna dan tujuan hidup manusia, tidak merasakan hidup manusia sia-sia.

Lima hal yang di atas, boleh dikatakan adalah keperluan manusia yang paling besar. Kebanyakan orang mempunyai kelima macam keperluan ini. Karena itu, memberitakan lima macam Injil tersebut, hampir bisa menghadapi semua macam orang. Kita harus belajar menyampaikan salah satu dari lima macam Injil ini kepada orang, supaya mereka nampak keperluannya, juga nampak cara untuk memuaskan keperluan ini. Kita tahu keperluan ini, tetapi orang dosa tidak mengetahuinya, maka, kita sebagai orang yang tahu hal ini, harus memberitakan kepada mereka.

Hal yang paling dikhawatirkan dalam memberitakan Injil adalah hanya membicarakan doktrin, tetapi tidak membuat orang merasa "perlu". Karena doktrin tidak bisa membuat orang meneteskan air mata, doktrin tidak bisa menusuk hati orang, doktrin tidak bisa menyulut api membakar hati orang, keramaian tidak bisa menyelamatkan orang. Hanya membuat orang merasa "perlu", baru mudah membuat orang menerima Injil. Karena itu, khotbahnya baik atau tidak baik tidak masalah, asal bisa menyelamatkan orang sudah cukup. Ingin menyampaikan khotbah yang baik adalah satu godaan yang paling besar bagi orang yang memberitakan Injil. Dokter bukan untuk memberi resep yang baik, tetapi untuk menyembuhkan penyakit orang. Menyampaikan khotbah yang baik hanya membuat mukanya agak lebih baik sedikit, tetapi tidak bisa menyelamatkan jiwa orang, ini adalah kesalahan yang paling besar.

BAGAIMANA SUPAYA ORANG MEMPUNYAI PERASAAN BERDOSA

Aspek lain dari pemberitaan Injil adalah supaya orang merasa berdosa. Mengenai hal ini, kita juga akan melihat beberapa jalur pemberitaan Injil.

1. Mengenai Kekuatan Dosa

Perasaan orang terhadap dosa dimulai dari yang dangkal sampai yang dalam. Dalam memberitakan Injil, kita berusaha supaya orang yang tidak percaya bisa memiliki perasaan terhadap dosa. Untuk ini pertama kita harus membawa orang nampak kekuatan dosa. Karena kekuatan dosa paling mudah dirasakan oleh orang yang tidak percaya. Kita boleh bertanya kepada mereka beberapa pertanyaan ini: Apakah Anda pernah bertekad berbuat baik? Yang menjadi pelajar apakah pernah bertekad sekolah dengan baik-baik? Yang menjadi anak-anak pernahkah bertekad tidak membuat orang tua marah? Yang menjadi istri pernahkah bertekad akan tunduk kepada suami? Menghendaki yang baik memang ada pada Anda, tetapi melakukan apa yang baik, tidak (Rm. 7:18). Kita boleh bertanya kepada orang-orang muda yang suka berjudi, mengisap ganja, mengisap rokok, atau minum bir, inginkah mereka berhenti dari perbuatan itu? Kita perlu memperlihatkan kepada mereka hal-hal tersebut seperti memiliki kekuatan menangkap mereka. Semakin ingin terlepas dari kekuatan itu, semakin tidak berdaya. Misalnya, orang yang ingin melompat tinggi, semakin merasakan kekuatan gaya tarik bumi. Orang yang semakin ingin tidak berbohong, semakin merasakan begitu sulit untuk tidak berbohong; orang yang semakin bertekad tidak marah, semakin mengetahui begitu sulit untuk tidak marah. Kalau orang ingin tidak berbuat dosa, semakin menemukan kekuatan dosa; mereka semakin ingin tidak berbuat dosa, semakin berbuat dosa. Dengan demikian kita bisa mengetahui betapa besar kekuatan dosa. Betapa sulitnya untuk berbuat baik, tetapi betapa mudahnya kita berbuat dosa. Namun orang yang mempunyai hayat Kristus akan mempunyai kekuatan berbuat baik, mempunyai kekuatan mengalahkan dosa. Banyak orang beroleh selamat melalui ini. Kalau orang mengenal kekuatan dosa, dia akan mempunyai perasaan terhadap dosa, sehingga dia merasa perlu anugerah keselamatan.

2. Mengenai Penyebaran Dosa

Banyak orang mempunyai pemikiran masyarakat umum, yaitu kalau mereka sendiri berdosa tidak merasa apa-apa, tetapi bereaksi terhadap perbuatan dosa orang lain. Mereka tidak senang melihat orang lain berbuat dosa. Terhadap orang semacam ini, kita harus memberi tahu mereka: Anda sendiri berdosa akan merugikan orang lain, yang paling dirugikan adalah anak-anak Anda. Generasi manusia yang di belakang selalu lebih maju daripada generasi yang sebelumnya. Kalau Anda berbuat dosa, dosa generasi yang di belakang akan mengikuti Anda. Anda sendiri mengisap candu, anak-anak Anda akan ikut mengisap candu; Anda berjudi, anak-anak juga belajar berjudi; Anda minum arak, anak-anak akan ikut minum arak. Anda tidak mempunyai perasaan berdosa, akibatnya anak-anak Anda "tertular" oleh dosa. Anda sendiri tamak akan uang, suka marah-marah, itu dengan mudah sekali menular kepada orang lain, khususnya kepada anak-anak Anda. Orang yang demikian meskipun tidak banyak, tetapi selalu ada orang semacam ini. Kita boleh memberi tahu mereka, dosa dapat menular, khususnya menular kepada anak-anak mereka, sehingga mencelakakan diri mereka.

3. Mengenai Akibat Dosa

Dosa paling merugikan diri sendiri, karena upah dosa adalah maut (Rm. 6:23a). Amsal 8:36 juga berkata, "Siapa yang berdosa kepada Allah, merugikan jiwanya" (Tl.). Orang berbuat dosa akan makan buah dosanya. Surat Galatia 6:8 berkata, "Siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya." Jangan mengira berbuat dosa tidak ada akibatnya, upah dosa adalah maut. Ayat Alkitab ini juga menyelamatkan banyak orang. Berbuat dosa akan makan buah dosanya, akibat dari dosa selalu jatuh ke atas dirinya sendiri. Ada orang harus sampai taraf ini baru merasakan kejahatan dosa. Memberitakan Injil sampai taraf ini, boleh membacakan satu per satu dosa dalam Roma 1:28-31, dan ditambah penjelasannya. Ini seperti melukis gambar seseorang, menampilkan semua keadaannya yang sesungguhnya. Orang selalu suka melihat fotonya sendiri, sebab itu memberitakan Injil adalah melukis foto orang, supaya mereka melihat keadaannya yang sebenarnya. Jika Anda menguraikan dosa dengan rinci, Roh Kudus akan menerangi dosa di dalam manusia, supaya orang insaf terhadap dosanya. Ada cukup banyak orang dari sini mendapatkan perasaan terhadap dosa. Memberitakan Injil sampai taraf ini, orang sudah mengetahui dirinya tidak benar. Akan tetapi jika Anda ingin memberitakan mengenai dosa, diri Anda sendiri harus hidup di hadapan Allah dan harus mempunyai terang. Kita sendiri terlebih dulu mendapatkan terang, lalu baru bisa membuat orang lain mendapatkan terang. Ketika orang nampak bagaimana dosa mengendalikan dia, hatinya akan berpaling mencari Juruselamat.

4. Mengenai Berdosa kepada Hukum Allah

Orang mungkin merasa kesombongan dirinya adalah dosa, tetapi belum tentu merasakan bahwa kesombongan berarti juga berdosa kepada hukum Allah. Bagi orang pada umumnya, berdosa adalah satu hal, berdosa kepada hukum Allah adalah satu hal yang lain. Tetapi bagi orang Kristen, berdosa dan berdosa kepada hukum Allah adalah satu hal yang sama. Misalnya, kita berdosa kepada saudara, kita segera merasa juga berdosa kepada Allah. Tetapi orang pada umumnya mengira berdosa tidak ada hubungan dengan berdosa kepada hukum Allah. Alkitab memperlihatkan kepada kita, Daud berbuat dosa berzina, membunuh orang, tetapi dia menganggap itu berdosa kepada Allah. Dia tidak saja berbuat dosa, lebih-lebih berdosa kepada Allah (Mzm. 51:6). Sebab itu, kalau seseorang hanya mempunyai perasaan berdosa, tetapi tidak menganggap berdosa terhadap hukum Allah, belum cukup sebagai orang Kristen. Tuhan lebih tinggi daripada segalanya, semua kuasa di bumi dan semua hubungan antara manusia, semua berasal dari Tuhan. Sebab itu, hari ini kita berdosa kepada orang lain, itu berarti berdosa kepada hukum Tuhan. Misalnya, saya memelihara sepuluh ekor anjing dan sepuluh ekor kambing, kalau anjing-anjing itu menggigit kambing-kambing sampai mati, mereka bukan berdosa kepada kambing saja, sesungguhnya mereka berdosa kepada saya. Semua orang yang tidak mengenal Allah hanya mengetahui dosa, tetapi tidak mengetahui berdosa kepada hukum Allah. Banyak orang Kristen hanya mengetahui dosa, tidak mengetahui berdosa kepada hukum Allah. Keselamatan yang demikian pasti mengalami masalah. Sebab itu, kita perlu memohon Allah bekerja lebih dalam. Ketika seseorang mempunyai perasaan yang cukup dalam terhadap dosa, baru mengetahui berdosa bukan hanya berdosa saja, tetapi juga berdosa kepada hukum Allah. Kita memberitakan Injil, harus membawa orang yang mendengarkan Injil sampai taraf ini, tidak saja mengetahui dirinya berdosa, juga dia berdosa adalah berdosa terhadap hukum Allah. Inilah butir yang penting dalam pemberitaan Injil.

5. Mengenai Berdosa terhadap Diri Allah Sendiri

Manusia berdosa tidak saja berdosa kepada hukum Allah, juga berdosa kepada diri Allah. Butir keempat mengatakan manusia berdosa adalah berdosa terhadap hukum Allah, ketentuan Allah; tetapi di sini mengatakan, manusia berdosa adalah berdosa terhadap diri Allah sendiri, berdosa terhadap hati Allah. Butir keempat mengatakan berdosa terhadap hukum keadilan yang di luar, di sini mengatakan berdosa terhadap hati Allah yang di dalam. Lukas 15 mengatakan bahwa anak yang hilang di luar berbuat dosa, ketika sadar, ia tidak berkata dia berbuat dosa apa, dia ingin pulang berkata kepada bapanya, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa (ayat 18). Di sini mengatakan berdosa terhadap bapa, adalah melukai hati bapa; ia meninggalkan kasih bapa, menolak perlindungan bapa, menolak air mata bapa. Butir keempat mengatakan berdosa terhadap hukum Allah, administrasi Allah, ketentuan Allah; tetapi di sini mengatakan langsung berdosa terhadap diri Allah, kasih Allah, perlindungan Allah, anugerah Allah. Orang meninggalkan Allah adalah dosa yang paling besar.

Kisah anak hilang pulang ke rumah adalah kisah yang paling baik dalam Alkitab, juga paling banyak menyelamatkan orang. Anak yang hilang tidak mengatakan dia bagaimana berdosa, hanya dalam hatinya berpikir bagaimana berkata kepada bapa, aku telah berdosa kepada bapa. Anak yang hilang bukan karena berdosa lalu menjadi anak yang hilang, tetapi pada saat meninggalkan bapa, telah menjadi anak yang hilang. "Karena Allah begitu mengasihi (orang) dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal" (Yoh. 3:16). Sepertinya Allah mengasihi (orang) dunia lebih daripada mengasihi Anak-Nya, kasih Allah kepada (orang) dunia lebih banyak daripada kasih Allah kepada Anak-Nya yang tunggal. Betul, ditinjau dari kasih, Allah adalah Bapa orang dunia. Hubungan Allah dengan orang dunia sepertinya melampaui Anak-Nya yang tunggal. Sebab itu, orang dunia berdosa, sangat melukai hati Bapa yang di surga. Ada orang mengira Allah tidak rela menyelamatkan manusia, sebaliknya senang manusia binasa. Orang yang demikian berdosa terhadap kasih Allah, melakukan dosa yang terbesar, karena telah menyalahpahami hati Allah. Pernah ada seorang janda tua yang tidak mempunyai anak, ingin memberikan banyak harta kepada keponakannya; tetapi keponakan ini tidak tahu. Karena ingin mendapatkan hartanya, keponakannya malah membunuh janda tersebut. Kemudian hari dia melihat wasiatnya, mengetahui janda tua itu menulis memberikan semua hartanya kepadanya, lalu ia menyesal sekali. Karena tidak saja telah melakukan dosa membunuh orang, bahkan melakukan dosa membunuh orang yang mengasihinya. Ini adalah dosa yang terbesar. Sebab itu tidak menerima Tuhan adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. Karena ini melanggar kasih Allah. Allah mengasihi orang dunia, sebab itu mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada kita; kalau kita tidak menerima, berarti menolak persediaan Allah, menolak kasih Allah. Ini adalah dosa yang paling besar.

PENERAPANNYA

Ketika Anda memberitakan Injil, asal memilih salah satu butir dari kesepuluh butir yang disebut di atas, sudah bisa membawa orang ke hadapan Tuhan, supaya orang beroleh selamat. Tetapi kalau Anda memakai salah satu dari delapan butir yang pertama, harus ditambah butir kesembilan atau kesepuluh, dengan demikian, keselamatan orang baru terhitung sempurna. Artinya, orang dosa masuk dari jalur yang mana saja, harus membawa dia nampak, dia telah berdosa terhadap hukum Allah, atau telah berdosa terhadap diri Allah sendiri. Ada orang begitu beroleh selamat, Roh Kudus segera bekerja, supaya dia mengetahui dirinya telah berdosa terhadap Allah. Kalau Roh Kudus tidak bekerja demikian, kita perlu membawa orang sampai taraf ini, supaya dia mengetahi dirinya telah berdosa terhadap Allah. Kalau tidak, cepat atau lambat keselamatannya akan timbul masalah.

Pekerjaan memberitakan Injil justru supaya orang memiliki sepuluh macam perasaan perlu ini, kemudian memberi jalan supaya dia beroleh selamat. Kalau Anda dengan baik-baik belajar melakukan ini, bisa membawa banyak orang beroleh selamat.