ENAM JALUR PEMBERITAAN INJIL
Allah membentangkan Injil di hadapan manusia terdiri atas beberapa jalur; karena itu, ketika kita membentangkan Injil ke hadapan orang berdosa, kita juga harus mengikuti jalur-jalur tersebut. Dalam sejarah gereja yang telah berlangsung berabad-abad, para penginjil yang dipakai Allah juga memiliki beberapa jalur untuk mendapatkan jiwa orang-orang berdosa. Bila kita menganalisis jalur-jalur dalam Alkitab dan jalur-jalur para penginjil yang dipakai Allah, sedikitnya dapat dibagi menjadi enam jalur. Marilah kita melihat enam jalur ini. Bagi orang yang telah memberitakan Injil atau yang akan memberitakan Injil, hendaknya memohon Allah memberi mereka salah satu di antara jalur-jalur itu. Pada umumnya, setiap orang boleh memilih satu jalur, atau memilih beberapa jalur, namun tetap harus dengan satu jalur sebagai yang utama, yang lainnya dipakai sebagai yang sekunder. Ketika Anda ke suatu tempat, Anda boleh mengganti jalur yang akan dipakai sesuai dengan situasi dan kondisi tempat itu. Enam jalur pemberitaan Injil dapat dibagi menjadi dua kategori, kategori pertama adalah yang negatif, kategori yang lainnya adalah yang positif. Jalur yang negatif ada tiga jalur, jalur yang positif juga ada tiga jalur.
Aspek negatif adalah:
(1) Tentang dosa;
(2) Tentang penghukuman
(3) Tentang dunia.
Aspek positf adalah:
(1) Tentang kasih Allah
(2) Tentang kebenaran Allah;
(3) Tentang iman yang hidup.
Kita terlebih dulu melihat tiga jalur aspek negatif.
I. TENTANG DOSA
Ada orang memperhatikan "kebencian" dosa dan "kejahatan" dosa. Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa dosa itu sangat membencikan, dosa juga sangat jahat. Inilah satu jalur yang sering dipakai oleh banyak hamba Allah ketika memberitakan Injil. Titik berat pemberitaan Injil dengan jalur ini ialah memberitakan kejahatan dosa, supaya orang dosa bisa mempunyai perasaan terhadap dosa, sehingga menyesal, menyalahkan diri sendiri. Tujuan utama jalur ini ialah supaya orang mengetahui dosa. Orang yang memakai jalur ini perlu mempunyai kiat, harus melihat terang tentang dosa. Orang yang memberitakan Injil perlu mempunyai bentuk pembicaraan, perlu mempunyai keahlian, harus banyak bergumul di atas jalur ini. Kalau Anda memakai jalur ini, Anda perlu membuat orang lain merasa ada dosa, perlu membuat orang lain mempunyai perasaan berdosa, supaya orang lain nampak kenajisan dosa, supaya orang lain merasakan tekanan dosa. Anda tidak saja membicarakan istilah dosa, lebih-lebih membuat orang lain merasakan kesengsaraan dosa, merasakan bahwa dosa itu sangat membencikan. Kalau Anda memakai jalur ini, Anda hanya perlu memiliki satu kemampuan, supaya orang mempunyai perasaan terhadap dosa, itu sudah cukup, tidak perlu mempunyai jalur yang lain lagi. Asal Anda bisa membuat orang begitu teringat akan dosa segera menangis, Injil pasti bisa masuk ke dalamnya, jalur Anda sudah benar.
Sebab itu, orang yang menempuh jalur ini harus memperhatikan bagaimana membuat orang lain timbul perasaan menyesal terhadap dosanya. Kalau Anda memilih jalur ini, perlu mengeluarkan banyak waktu dan tenaga merenungkan di hadapan Tuhan, mohon Tuhan memperlihatkan kepada Anda, bagaiman supaya orang timbul perasaan terhadap dosa. Anda sendiri harus terlebih dulu mempunyai pengalaman merasakan penderitaan dosa, terlebih dulu mempunyai pengalaman mengaku dosa, barulah bisa membuat orang mempunyai perasaan yang dalam terhadap dosa. Kalau Anda menempuh jalur ini, dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berpikir, membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, mencari cerita, semuanya mengarah ke aspek ini. Dalam setiap hal Anda perlu berpikir, bagaimana supaya orang menyesal akan dosanya. Anda harus menaruh hal ini di dalam hati Anda. Kalau demikian, ketika Anda memberitakan Injil, barulah bisa membentangkan kejahatan dosa, kengerian dosa ke hadapan orang, supaya begitu orang lain melihat dosa, langsung mengetahui anugerah keselamatan Tuhan.
II. TENTANG PENGHUKUMAN
Begitu manusia berdosa, segera dijatuhi hukuman mati oleh Allah, karena upah dosa adalah maut (Rm. 6:23); lagi pula setelah mati, manusia bukan tidak ada urusan lagi, setelah manusia mati, masih ada penghakiman (Ibr. 9:27)! Orang yang tidak percaya, setelah mati, akan dihakimi, hukumannya adalah kebinasaan yang kekal, mereka akan mengalami penderitaan dalam lautan api sampai selama-lamanya. Kitab Injil juga mencatat tentang api neraka yang menyala-nyala (Mat. 5:22). Lukas 16:19-31 mencatat kisah Lazarus dengan hartawan, menyinggung orang yang tidak percaya setelah mati akan menderita sengsara dalam nyala api di alam maut. Jadi, hari ini sudah ada api alam maut; orang yang tidak percaya, begitu mati, segera masuk ke dalam api alam maut menderita sengsara. Alkitab dengan jelas mencatat perkara tentang mati, penghakiman, alam maut, dan lautan api; bukan mencatat dengan samar-samar, tidak konkret. Sebab itu ketika kita memberitakan Injil, tidak boleh memberitakan dengan samar-samar; karena pemberitaan yang samar-samar akan membuahkan hasil yang samar-samar juga. Setiap orang yang memberitakan Injil harus mempunyai keistimewaannya masing-masing. Kalau seseorang memberitakan tentang penghukuman, ia harus memberitakan sampai orang lain merasakan ngerinya penghukuman. Paulus adalah teladan yang baik, ia benar-benar tahu kengerian penghukuman, juga bisa supaya orang lain merasakan kengerian penghukuman (Kis. 24:25).
Ada orang memberitakan tentang kejahatan dosa, membuat orang lain bisa menerima Tuhan; ada orang memberitakan kengerian hukuman api neraka, juga bisa membuat orang lain menerima Tuhan. Jarang sekali orang mempunyai kemampuan yang serba bisa. Anda jangan mengira diri Anda serba bisa; Anda harus mencari cara untuk mengembangkan satu jalur keistimewaan Anda. Asal Anda mempunyai keistimewaan, bisa mengembangkannya, pasti akan membuat orang lain beroleh selamat. Ada orang memberitakan api neraka, dapat membuat orang merasa takut, membuat orang gemetar. Sama seperti George Whitefield pada suatu kali pemberitaan Injil, membuat orang yang mendengar takut, sampai memeluk tiang gedung pertemuan itu, sebab khawatir saat itu tergelincir ke dalam api neraka. Keistimewaan Whitefield adalah memberitakan kengerian penghukuman. Kalau kita ingin mencungkil sesuatu, harus memakai alat yang tipis, lancip, dan halus, baru bisa berhasil. Memberitakan Injil juga demikian, asal mempunyai satu keahlian, keistimewaan, sudah cukup, jangan terlalu melebar ke semua jalur. Sebab itu ketika Anda belajar memberitakan Injil, tidak perlu belajar semua jalur. Kalau seseorang ingin menguasai setiap jalur, akhirnya tidak ada satu jalur pun yang ia kuasai dengan baik. Kalau ada saudara yang khusus mahir memberitakan tentang penghukuman, ini adalah suatu hal yang baik sekali.
III. TENTANG DUNIA
Apakah dunia itu? Kesenangan dosa, itulah dunia. Sebab itu, kesenangan dari dosa yang dibicarakan dalam Surat Ibrani mengacu kepada kenikmatan Mesir yang melambangkan dunia (Ibr. 11:25). Banyak orang khawatir setelah percaya Tuhan akan kehilangan kesenangan dan kenikmatan dunia. Sebab itu, orang yang memberitakan Injil, ketika menyinggung tentang dunia, harus memperlihatkan kepada orang apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apa yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 16:26). Dalam Injil Lukas Tuhan Yesus juga mengatakan satu perumpamaan yang sangat baik: Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya; ia berencana membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan semua makanan dan barang-barangnya, sesudah itu ia berkata kepada jiwanya, "Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" Tetapi firman Allah kepadanya, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (12:16-20).
Dalam Yohanes 4:13 Tuhan berkata kepada perempuan Samaria, "Sipa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi." Haus adalah tidak puas. Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa di dunia ini, setelah seseorang satu kali mendapatkan kepuasan, lain kali masih tidak puas. Orang selalu tidak bisa mendapatkan kepuasan, inilah kesia-siaan dunia. Setelah Anda meminum sesuatu yang dari dunia ini, Anda akan haus lagi; Anda dari dunia menerima satu kali, hanya membuat Anda kali lain akan meminta lagi. Air dunia selamanya tidak bisa membuat manusia puas; karena itu, menerima Tuhan masih lebih beruntung daripada menerima dunia. Ini adalah satu kiat, bisa mengangkat orang, mencungkil orang, membawa orang ke hadapan Tuhan.
Hartawan dalam Lukas 16 setiap hari bersukaria dalam kemewahan, tetapi akhirnya masuk ke dalam nyala api alam maut. Dunia ini benar-benar sia-sia. Ketika Anda memberitakan kesia-siaan dunia, harus bisa menyajikan Kitab Pengkhotbah, supaya orang merasakan dunia benar-benar sia-sia. Orang yang hidup untuk dunia yang sia-sia ini sungguh rugi. Sama seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi." Tetapi di pihak lain, Tuhan Yesus kita mempunyai air yang lain, air ini adalah "air hidup", yang akan masuk ke dalam manusia, meleraikan kehausan manusia. Air yang diberikan oleh Tuhan bisa memuaskan batin manusia. Begitu batin manusia puas, dengan sendirinya di luar tidak ada tuntutan lagi. Kita harus memperlihatkan kepada orang bahwa banyak orang yang asalnya merasakan sia-sia, haus, begitu mendapatkan Allah, air hidup ini, perasaan kesia-siaan dan kehausan dalam batinnya berubah menjadi kepuasan, sukacita. Air hidup Allah meleraikan kehausan batin mereka, mereka tidak perlu menikmati sukacita duniawi lagi.
Di dunia ini jarang ada orang yang sebobrok perempuan Samaria. Sudah memiliki seorang suami masih tidak puas, lalu memilih suami yang lain; setelah memilih yang satu lagi, masih tidak puas, lalu memilih suami yang lain lagi, terus memilih, tetap tidak puas. Ia ingin mencari kepuasan dalam hidup manusia. Berganti-ganti suami adalah pernyataan yang paling mencolok dalam pencarian kepuasan hidup manusia. Asalnya ia menikah dengan seorang suami, mengira sudah bisa puas, tetapi ternyata tidak puas, lalu ganti suami yang lain, sampai ganti lima suami, tetap tidak puas. Ini seperti yang dikatakan oleh Tuhan, "Siapa yang minum air ini, ia akan haus lagi." Ia selalu tidak puas. Yang dinikmati oleh manusia dalam dunia ini hanya memuaskan beberapa menit saja, tidak ada kepuasan yang sejati, yang kekal. Dalam dunia, tidak ada orang yang benar-benar puas, benar-benar sukacita. Bagi seorang perempuan, suami boleh dikatakan yang paling bisa disandari, tetapi masih tetap tidak bisa memuaskannya, yang lain lebih-lebih tidak bisa memuaskannya. Yang diberikan oleh dunia kepada manusia, sama seperti air garam, membuat orang yang meminumnya semakin haus. Orang yang menikmati benda dan kesenangan dunia masa kini, hanyalah seperti orang yang minum air garam untuk meleraikan haus. Tetapi begitu seseorang menerima Tuhan, batinnya segera merasa puas, batinnya tidak haus lagi.
Kalau Anda dapat memakai jalur ini memberitakan Injil, tidak perlu berusaha untuk menguasai jalur-jalur yang lain. Orang yang memberitakan Injil, tidak bisa menguasai setiap jalur. Kalau Tuhan menghendaki Anda memakai satu jalur, Anda harus menghargai jalur tersebut. Anda perlu banyak merenungkan jalur ini, perlu lebih banyak berkembang dalam jalur ini. Setiap orang harus mencari jalur yang cocok untuk dirinya, tidak bisa belajar yang dikuasai oleh orang lain. Jangan berjerih lelah pada jalur yang tidak cocok dengan diri Anda, itu membuang-buang tenaga. Kita memberitakan Injil tidak tergantung telah belajar berapa banyak cara, asal bisa menyelamatkan orang sudahlah cukup. Sebab itu Anda harus mengembangkan keistimewaan Anda. Setiap orang harus mempunyai jalurnya sendiri. Demikian, kalau kita berkoordinasi, akan memberitakan Injil yang sempurna. Memberitakan Injil adalah urusan seluruh gereja, perorangan tidak bisa sempurna. Kita hanya sebagai anggota Tubuh Kristus, sebab itu setiap orang harus memiliki keistimewaannya sendiri. Keistimewaan setiap orang dijumlah menjadi satu, adalah Injil yang sempurna.
IV. TENTANG KASIH ALLAH
Selanjutnya marilah kita melihat tiga butir aspek positif. Mengenai tiga aspek negatif, ketika Anda memberitakan, boleh menjamah sedikit, sampai orang mempunyai perasaan yang dalam, itu sudah cukup. Di aspek positif Anda boleh terus menjamah. Terhadap dosa, penghukuman, dunia, boleh dijamah sedikit; tetapi terhadap aspek positif, seperti kasih Allah, Anda boleh terus-menerus menceritakannya. Kasih adalah masalah hati. Allah adalah kasih, Allah mengasihi dunia; hati Allah mengasihi orang berdosa, menghendaki orang berdosa beroleh selamat; sayang, banyak orang tidak mau beroleh selamat. Tuhan berkata kepada orang Farisi, "Namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu" (Yoh. 5:40). Bukan Allah yang tidak mau memberikan hayat kepada manusia, bukan Allah yang tidak mau menyelamatkan manusia, melainkan manusia sendiri yang tidak mau beroleh selamat! Tuhan juga berkata kepada Yerusalem, "Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau" (Mat. 23:37). Tuhan sangat ingin melindungi mereka, menyelematkan mereka, tetapi mereka tidak mau. Hari ini banyak orang mengira tujuan Allah adalah menghakimi manusia. Mereka berpikir: Aku mau beroleh selamat, tetapi Allah tidak senang saya beroleh selamat. Ini adalah pikiran manusia, ini adalah salah paham yang sangat besar terhadap Allah. Banyak orang mengira beroleh selamat adalah perkara yang sulit, mengira Allah tidak dengan senang hati menyelamatkan kita; namun Allah itu kasih, Allah mencari manusia, menghendaki manusia beroleh selamat. Tuhan Yesus berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Luk. 19:10). Sebab itu, bukan kita yang ingin beroleh selamat, bukan kita yang mengetuk pintu surga, menunggu apakah Allah mengizinkan kita masuk; tetapi Allah sendiri yang ingin menyelamatkan kita, Dia sendiri yang datang menyelamatkan kita. Allah tidak membenci kita, Dia sangat ingin menyelamatkan kita. Ada seorang yang sakit kusta datang memohon kepada Tuhan Yesus, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku." Lalu Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah engkau tahir" (Mrk. 1:40-41). O, Allah mau! Allah mencari! Apakah kita mau, apakah kita damba? Allah menghendaki, apakah Anda juga menghendaki?
Memberitakan Injil dengan cara yang demikian, bisa membuat banyak orang beroleh selamat. Ini juga satu jalan raya. Manusia benar-benar mempunyai pikiran setan, mengira, "Aku benar-benar mau beroleh selamat, benar-benar mau naik ke surga, namun apakah Allah mau menerimaku?" Manusia selalu mengira masalah beroleh selamat adalah masalah yang sulit. Tetapi Anda harus memberi tahu orang dosa yang demikian, "Allah menghendaki, apakah Anda menghendaki juga?" Allah menghendaki semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:4). Inilah hati Allah: Allah demikian mengasihi kita, menghendaki kita semua beroleh selamat. namun manusia menyalahpahami hati Allah! Allah menghendaki semua orang diselamatkan, inilah kasih Allah. Jauh-jauh hari Allah sudah ingin menyelamatkan kita, jauh-jauh hari Dia telah mengutus Anak-Nya datang, supaya kita karena Dia, mendapatkan penebusan dosa, dan bisa mendekati Allah. Sebab itu bukan kita yang ingin diselamatkan, tetapi Allah yang mau menyelamatkan kita. Lukas 15 memperlihatkan kepada kita, bukan anak yang hilang yang mau diselamatkan, tetapi Bapa yang mengasihi anak yang hilang. Anak yang hilang sedang berusaha di tempat yang jauh, ingin mengajukan alasan, ingin dengan alasan menggerakkan hati bapanya; tetapi dia tidak mengetahui bapanya adalah kasih, bapa sudah lama, siang malam menunggu dia pulang (17-20). Orang yang beralasan adalah orang yang tidak mengetahui Allah mengasihi manusia, sebab itu Anda jangan beralasan, jangan mempertimbangkan apakah Allah mau menerima Anda. Manusia berharap Allah mempunyai kasih, tetapi sebenarnya Allah itu kasih. Kita tidak perlu mengubah Allah, tidak perlu merangsang Allah, Allah adalah kasih. Manusia mengira Allah itu bengis, menakutkan, keras hati, tetapi Allah sendiri berkata, "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" (Kel. 34:6). Ia mengatakan pula, "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya" (Mzm. 34:9). Semoga semua orang bisa mengenal kasih-Nya, bisa mengecap kebaikan-Nya, juga berlindung pada-Nya.
Jadi, ini juga satu jalur. Memberitakan Injil seharusnya mempunyai satu jalur. Kalau seseorang memakai semua jalur, hasilnya pasti tidak baik. Dalam keadaan yang khusus, boleh juga memakai jalur yang lain, tetapi bagaimanapun seseorang harus mempunyai satu jalur sendiri.
V. TENTANG KEBENARAN ALLAH
Kebenaran Allah mengacu kepada pekerjaan yang telah Tuhan Yesus rampungkan di atas salib. Kasih adalah masalah hati, kebenaran adalah masalah prosedur Allah, masalah jalan Allah. Ada orang memberitakan Injil tidak menitikberatkan kasih Allah, tetapi menitikberatkan apa yang dirampungkan Tuhan di atas salib, ini menitikberatkan kebenaran Allah. Allah telah menyuruh Tuhan Yesus mati tersalib bagi dosa kita; sejak itu, Allah tidak bisa lagi berdasarkan kehendak-Nya, kesenangan-Nya, memilih manusia, menyelamatkan manusia, Dia harus berdasarkan kebenaran-Nya, berdasarkan salib menyelamatkan orang. Allah terikat oleh salib. Sebelum Tuhan Yesus tersalib, Allah masih boleh berdasarkan kehendak-Nya, berdasarkan kesenangan-Nya menyelamatkan manusia. Tetapi sekarang, setelah ada salib, begitu manusia menerima penebusan salib, Allah akan kehilangan kebebasan-Nya memilih orang beroleh selamat. Penebusan salib sudah rampung, siapa yang bersandarkan salib datang ke hadapan Allah, harus dibenarkan oleh Allah. Tuhan Yesus telah mati bagi kita di atas salib, hari ini saya bersandarkan salib Tuhan datang ke hadapan Allah, Allah mau, saya beroleh selamat; Allah tidak mau, saya juga beroleh selamat. Inilah kebenaran Allah.
Satu Yohanes 1:9 mengatakan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Tuhan Yesus telah berdarah bagi kita, sebab itu kalau kita bersandar darah Tuhan datang ke hadapan Allah, Dia tidak bisa tidak menyelamatkan kita. Allah tidak bisa berbuat banyak lagi kepada kita, Dia mengasihi kita, kita bisa beroleh selamat, Allah tidak mengasihi kita, kita tetap bisa beroleh selamat. Allah itu kasih, tetapi Dia juga adil dan benar. Dia berdasarkan kebenaran-Nya menyelamatkan kita. Haleluya! Salib adalah pegangan kita, adalah pegangan yang Allah berikan kepada kita. Inilah Injil yang adil dan benar, adalah pekerjaan yang telah Allah rampungkan; siapa pun tidak bisa merusaknya.
Lagi pula, akhir Roma 4:25 mengatakan bahwa kebangkitan Kristus berdasarkan pembenaran kita. Dengan kata lain, kalau kita tidak dibenarkan, Kristus tidak bisa bangkit. Juga boleh dikatakan, kalau Kristus tidak bersandarkan pembenaran kita, dia tidak bisa bangkit. Allah melihat kasus kita di hadapan-Nya telah diselesaikan oleh pekerjaan Tuhan Yesus di atas salib, barulah Allah membiarkan Kristus bangkit. Jadi kalau Kristus sudah bangkit, ini membuktikan bahwa kasus kita sudah selesai. Sebab itu, kebangkitan Kristus adalah berdasarkan pembenaran kita. Sebaliknya, Kristus telah bangkit, kalau kita bersandarkan Dia datang ke hadapan Allah, pasti dibenarkan oleh Allah. Ini juga satu jalur, satu jalur yang kuat, yaitu berpegang kepada kebenaran Allah.
VI. TENTANG IMAN YANG HIDUP
Jalur keenam, pemberitaan Injil adalah supaya orang mempunyai iman yang hidup. Apakah iman yang hidup? Iman yang hidup adalah hati manusia terarah kepada Allah, menjamah Allah, inilah yang disebut iman yang hidup. Firman Allah berkata, "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Sebab itu kalau Anda dengan hati percaya akan dibenarkan, dan dengan mulut mengaku akan diselamatkan (Rm. 10:8, 10). Dengan hati percaya adalah hati terarah kepada Tuhan, menjamah Tuhan. Ada orang mengira, setelah mendengar Injil dan dengan jelas mengerti Injil, baru bisa beroleh selamat. Karena itu ia ingin dengan sekuatnya memberitakan Injil dengan sempurna. Tetapi sesungguhnya, begitu seseorang berkontak dengan Tuhan, begitu mulutnya berkata, "Tuhan!" sudah bisa beroleh selamat. Sama seperti Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik, bertemu Tuhan berkata kepada-Nya, "Mengapa engkau menganiaya Aku?" Begitu dia membuka mulut berkata, ". . . Tuhan!" segera beroleh selamat (Kis. 9:3-6). Di kemudian hari Paulus baru mengetahui tentang kebenaran Injil. Sama seperti salah satu penjahat yang tersalib bersama Tuhan, semula ia menghujat Tuhan, kemudian entah mengapa, dari dalam berpaling kepada Tuhan, berkontak dengan Tuhan, dan beroleh selamat. Tentunya dia tidak jelas tentang Injil. Sebab itu ada orang meskipun kurang jelas terhadap Injil, tetapi asal hatinya mengarah kepada Tuhan, mulutnya berseru kepada Tuhan, ia beroleh selamat.
Benih Injil adalah firman Allah (1 Ptr. 1:23). Begitu seseorang menjamah firman Allah, ia beroleh selamat. Ini adalah suatu perkara yang ajaib. Adakalanya kita tidak perlu menyampaikan khotbah Injil dengan jelas, asal membawa orang ke hadapan Tuhan, dia akan beroleh selamat. Ini juga satu jalur. Jalur pemberitaan Injil ini tidak menitikberatkan pada pemberitaan, melainkan memperhatikan lebih dulu menyuruh orang itu berdoa. Sering kali begitu orang itu berdoa, hatinya menjadi jelas; bukan mengerti lebih dulu tentang Injil, tetapi terlebih dulu berdoa. Titik berat jalur ini adalah asal Anda bisa membawa orang kepada Allah, sudahlah cukup. Setelah ia beroleh selamat, barulah Anda menjelaskan kebenaran Injil. Sebelum ia beroleh selamat, Anda jangan mempedulikan dulu apakah dia jelas tentang Injil, asal membawa dia ke hadapan Allah, orang ini akan beroleh selamat.
MASING-MASING MEMPERHATIKAN KEISTIMEWAANNYA,
SELURUH TUBUH BERKOORDINASI MEMBERITAKAN INJIL
Dalam Alkitab, secara umum membicarakan enam jalur ini; orang-orang yang dulu dipakai Allah, juga secara umum memakai enam jalur ini. Orang yang ingin belajar memberitakan Injil, perlu memilih salah satu dari keenam jalur ini. Hari ini memberitakan Injil bukan lagi dilakukan oleh penginjil saja, tetapi dilakukan oleh seluruh gereja. Dalam gereja setiap saudara saudari harus melakukan pekerjaan pemberitaan Injil. Memang pengalaman pribadi kita harus diperdalam, tetapi setiap orang tetap perlu melakukan pekerjaan pemberitaan Injil. Tidak boleh dengan menuntut kerohanian sebagai alasan, lalu tidak memberitakan Injil. Sebaliknya setiap orang yang penuntutan hayat rohaninya semakin dalam, semakin baik juga dalam pemberitaan Injil, ini barulah pekerjaan gereja yang sempurna. Setiap orang harus memberitakan Injil, dan setiap orang seharusnya mempunyai jalur pemberitaan Injilnya masing-masing. Kita harus meletakkan diri di hadapan Allah, mohon Tuhan memberi kita secara pribadi satu jalur yang jelas, yaitu jalur yang diberkati Tuhan. Kemudian perlu di jalur yang Tuhan berikan kepada kita, menuntut lebih dalam lagi.
Setiap orang di antara kita perlu terbina dalam setiap aspek dari jalur yang kita miliki. Kita perlu berdoa dan menuntut di hadapan Allah; pikiran dan waktu kita harus dicurahkan untuk ini. Kita harus memiliki bentuk berita Injil kita sendiri, jangan meniru orang lain. Usahakanlah agar ciri-ciri khas kita lebih menonjol. Keistimewaan atau ciri khas setiap orang harus dinyatakan, barulah pemberitaan Injil gereja bisa sempurna. Kita harus bergumul dalam berbagai aspek, baru bisa sukses. Kita harus mengetahui, yang bisa menyelamatkan orang lain adalah orang yang berhikmat. Kalau satu jalur di satu tempat tidak medapatkan jalan, dan Anda tidak dapat memenuhi keperluan di sana, Anda boleh mengambil jalur yang lain. Kalau Anda sendiri tidak mampu mengatasinya, boleh mengundang saudara yang lain untuk membantu. Dalam pemberitaan Injil, kita jangan sombong, harus belajar berkoordinasi, supaya lebih banyak orang beroleh selamat.