← Daftar isi Hal yang Khusus dari Hidup Gereja · bab 7/7

PRAKTEK-PRAKTEK DALAM HIDUP GEREJA (3)

Pembacaan Alkitab:

Yoh. 15:12, 17; Mat. 20:25-27; 23:8-11; 1 PtR. 5:1-3, 5; Rm. 12:4-5; Why. 1:5b-6a; 5:9b-10a; Yoh. 15:5, 8, 16; 21:15b, 16b, 17b; Kis. 8:1; 11:19-22

Dalam dua bab terakhir, kita telah melihat bahwa hayat ialah hal utama dalam praktek hidup gereja. Untuk mengalami dan menikmati hayat, kita perlu makan Tuhan Yesus. Ketika makan, kita bertumbuh dalam hayat, dan hasilnya ialah pembangunan. Kita juga telah melihat apakah Tuhan Yesus itu, di mana Tuhan Yesus berada, dan bagaimana cara makan Dia. Cara terbaik untuk makan Dia ialah menyeru nama-Nya dan mendoa-bacakan Firman-Nya.

Dalam bab ini, saya akan membahas delapan poin tambahan. Ini sangat praktis dan strategis bagi penghidupan gereja. Mereka bukan butir dari iman Kristiani, tetapi hal-hal yang diperlukan dalam praktek hidup gereja. Untuk menang, suatu gereja lokal harus memiliki butir-butir ini sebagai bagian dari prakteknya.

KASIH PERSAUDARAAN

Pertama, kita harus mempraktekkan kasih persaudaraan (Yoh. 15:12, 17). Nama Filadelfia (Why. 3:7) berarti kasih persaudaraan. Kita harus mengasihi satu sama lain; namun, kasih kita tidak seharusnya sesuatu yang duniawi, emosional, atau bersifat daging. Kasih kita haruslah di dalam roh, penuh dengan hayat Kristus. Namun, kita tidak seharusnya merohanikan kasih kita. Kita harus mengasihi dari roh kita, tetapi seringkali kasih kita harus berupa materi. Jika kita melihat keperluan material, jasmani dari seorang saudara, kita seharusnya memenuhi keperluannya, bukan secara duniawi. Kita harus berdoa dan mencari pimpinan Tuhan dalam hal ini. Cara dunia ialah dengan memamerkan kasih kita atau dalam kasih kita mengandung pamrih. Tetapi kasih persaudaraan yang tepat dalam hidup gereja tidak mengandung pamrih dan tidak perlu dipamerkan.

Misalnya, seorang saudara dikeluarkan dari pekerjaan dan tidak memiliki uang sepeser pun. Lalu, dia sakit dan butuh uang. Kita seharusnya mencari pimpinan dan hikmat Tuhan agar kita tahu bagaimana melayankan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Seringkali Tuhan akan memimpin kita dengan tidak membiarkan dia mengetahui bahwa kita mempersembahkan sesuatu untuk memenuhi keperluannya. Kita melakukannya secara tersembunyi. Dengan jalan demikian, kasih kita membantu dia dan memuliakan Tuhan.

Jangan mengasihi secara daging. Seringkali ketika orang muda tidak mengasihi seseorang, mereka dengan gampangnya tidak mempedulikan orang itu. Tetapi ketika mereka mulai mengasihi seseorang, mereka mengasihinya sampai merusak orang itu. Misalnya, satu saudara mungkin berumur dua puluh satu dan yang lain dua puluh. Mereka mulai Baling mengasihi, dan akibatnya, yang seorang menginjak (menekan) yang lain. Inilah kasih yang bersifat daging. Tidak ada pembedaan dalam roh dan tidak ada batasan. Tidak peduli seberapa besar kita mengasihi satu sama lain, kita masih harus menjaga perbedaan dalam roh dan dibatasi.

Jika untuk beberapa alasan, seorang saudara memerlukan baju atau sepasang sepatu, kita harus mengasihi dia dan melakukan sesuatu untuk memenuhi keperluannya, tetapi tidak secara daging. Haruslah di dalam roh. Saat kita menengadah kepada Tuhan, melakukan pembedaan dalam roh kita, Dia mungkin akan memimpin kita untuk memasukkan lima dollar dalam amplop dan mengalamatkan kepada saudara itu. Kita mungkin juga memberi catatan di dalam amplop tersebut, memberi tahu dia bahwa uang yang ada di dalamnya adalah dari Tuhan baginya untuk membeli baju. Lalu kita memasukkan amplop itu dalam kotak persembahan tanpa menyatakan dari mana pemberian itu berasal. Mungkin kita mengetiknya sehingga dia tidak tahu siapa yang memberi. Amplop itu akan diberikan kepadanya oleh gereja, dan ketika dia membukanya dan membacanya dia pasti akan sangat terjamah oleh Tuhan. Bagi dia, lima dollar itu seperti manna yang turun dari surga. Dengan jalan demikian, kita tidak akan pernah menggugah rasa terima kasih secara daging dari saudara itu. Kasih sejati telah diekpresikan terhadap saudara; dan itu adalah kemuliaan bagi Tuhan; namun, keseluruhannya tersembunyi bagi saudara itu. Secara materi, dia tidak dapat mengetahui siapa yang memberikan pemberian itu, tetapi secara rohani dia menyadari kasih dari Tuhan dalam si pemberi terhadapnya. orang yang menerima pemberian merasakan kasih Tuhan dari orang yang memberikan pemberian itu. Kasih macam ini murni, namun tersembunyi. Ia melakukan segala sesuatu untuk menguntungkan gereja dan menguntungkan saudara yang terkasih. Ia juga memuliakan Tuhan dan tidak memberi musuh jalan untuk masuk dan merusak segala sesuatu.

Di pihak lain, jika saya adalah orang yang memerlukan, saya tidak seharusnya membiarkan orang lain tahu keperluan saya. Di Cina, kita memiliki seorang sekerja yang adalah saudari tua, yang paling tua di antara kita. Dia selalu memberi tahu kita agar jangan memiliki iman yang menuntut kasih orang lain. Memiliki iman sedemikian menyatakan bahwa saya memiliki iman dalam Allah untuk kehidupan saya, namun saya membiarkan Anda mengetahui seberapa besar keperluan saya. Kita tidak seharusnya menunjukkan kemiskinan kita, tetapi bekerja sebaik-baiknya dan menghasilkan uang.

Jika kita mengasihi saudara, kita tidak seharusnya menjadi beban bagi orang lain. Beberapa orang beriman berpikir bahwa karena kita memiliki kasih persaudaraan, maka tidak perlu bekerja terlalu berlebihan. Ini bukan kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan selalu memperhatikan orang lain. la tidak pernah membebani orang lain. Belajarlah memenuhi kebutuhan Anda sendiri dengan bekerja baik-baik, bekerja keras, dan menghasilkan sesuatu bagi orang lain.

Di gereja di Taipei, Taiwan, setiap hari Tuhan, dan bahkan setelah beberapa sidang di hari-hari biasa, ketika pewajib membuka kotak persembahan, ada banyak amplop dan bungkusan dengan uang di dalamnya. Mereka dialamatkan kepada saudari tertentu yang sakit di rumah sakit, atau kepada saudara yang memerlukan uang untuk sekolahnya, dan untuk banyak lagi yang memiliki keperluan tertentu. Segala macam bungkusan itu ada di sana, namun orang yang menerima bantuan tidak tahu siapa yang memberinya. Hanya Tuhan yang tahu. Inilah kasih yang mendasar.

Jika kasih semacam ini dipraktekkan, ini membuktikan bahwa gereja tempat saya berada, mengasihi Tuhan dan bahwa kaum saleh di sana sangat sungguh-sungguh terhadap Tuhan. Kasih semacam ini membangun. Ia meneguhkan, menguatkan, dan menyatukan. Ketika seseorang terbangun dalam gereja lokal seperti ini, bisakah is disimpangkan dari gereja? Tidak mungkin. Inilah

kasih sejati. Kita perlu kasih seperti ini, suatu kasih yang tidak diekspresikan secara duniawi atau daging atau emosional, tetapi dengan cara yang penuh hayat Tuhan, dan mutlak dalam hikmat Roh itu. Kita mempraktekkan kasih persaudaraan, namun kita tidak tahu siapa yang melakukan ini dan itu. Kita hanya tahu bahwa Tuhan melakukannya melalui kaum saleh dalam gereja.

TIDAK BERMAKSUD MENGUASAI

Dalam gereja, tidak ada yang boleh bersikap ingin menguasai. Matius 20:25-28; 23:8-11; dan 1 Ptr. 5:1-3, 5 mewahyukan bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah atas orang-orang, tetapi di dalam gereja tidak ada yang boleh ingin menguasai. Di tengah-tengah kita memang ada kuasa, tetapi itu adalah kekuasaan Tuhan sendiri. Tidak seorang pun dalam gereja, tidak peduli berapa besar tanggung jawab yang dia pikul, berapa banyak hayat yang dia layankan kepada kaum saleh, atau berapa besar yang sudah dia keluarkan berdasarkan kasih karunia Tuhan untuk pembangunan gereja-gereja lokal, dia tidak seharusnya bersikap menguasai orang lain. Kita semua adalah saudara (Mat. 23:8). Kita hanya menerapkan "persaudaraan"; kita tidak bersikap ingin menguasai siapa pun.

Orang-orang terkasih yang memimpin di semua gereja lokal dan semua saudara dan saudari lain seharusnya tidak pernah berpikir bahwa sebaiknya ada semacam penguasaan manusia dalam gereja-gereja lokal. Kita tidak memiliki kelas macam apa pun dalam penghidupan gereja. Kita hanya memiliki satu kelas, persaudaraan. Tidak ada kelas tinggi atau kelas rendah. Saya katakan lagi, seseorang mungkin sangat dipakai oleh Tuhan dan mungkin penuh dengan hadirat Tuhan, hayat Tuhan, kuasa Tuhan, dan bahkan kekuasaan Tuhan, tetapi dia tidak seharusnya bersikap ingin menguasai orang lain. Bersikap ingin menguasai orang lain dalam bentuk apa pun mutlak salah. Tuhan Yesus berkata, "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah is menjadi pelayanmu." (Mat. 20:26). Yang terbesar dalam gereja-gereja lokal adalah dia yang menjadi hamba bagi semua saudara. Kita tidak bersikap ingin menguasai siapa pun, tetapi dengan sukarela menjadi hamba orang lain. Kita tidak diperhamba oleh siapa pun, tetapi kita senang menjadi hamba bagi setiap orang. Ini sangat ajaib dan inilah hidup gereja. Kita tidak memiliki tuan manusia (Mat. 23:8). Kita hanya memiliki tuan ilahi, Tuhan Yesus.

Kita juga tidak seharusnya memanggil seseorang bapa. Melakukan hal demikian mutlak bertentangan dengan pengajaran Tuhan dalam Matius 23:9. Kita hanya memiliki satu bapa, Bapa kita di surga. Tidak ada jenjang dalam hidup gereja. Tidak ada orang yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua memiliki tingkatan yang sama dan jenjang yang sama. Kita semua adalah saudara.

MELATIH KETAATAN

Kita tidak melatih pemerintahan, melainkan melatih ketaatan. Kita taat satu sama lain. Dalam I Petrus 5:5, Alkitab mengatakan, "Hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua." Alkitab juga mengatakan, "Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain" (Ef. 5:21). Bukan hanya orang muda tunduk kepada orang yang lebih tua; bahkan orang yang lebih tua harus belajar tunduk. Semua saling tunduk. Inilah keseimbangan. Jalan satu arah selalu menimbulkan keekstriman. Kita perlu jalan dua arah. Misalnya, seringkali dalam satu keluarga, anak yang paling kecil menyeimbangkan orangtuanya. Anak-anak mungkin berkata, "Ayah, mengapa engkau tidur larut malam? Ibu, sekarang waktumu untuk pergi tidur. Ibu, ayah, mengapa kalian banyak berbicara?

Mengapa engkau tidak mengasihi Ayah? Ayah, apakah engkau tidak melihat paman memerlukan sesuatu?" Seringkali anak-anak kita dipakai Tuhan untuk berbicara sesuatu bagi kita. Kita, orang tua, perlu penyeimbangan dari anak-anak kita. Jangan pernah berpikir, "Saya adalah ayah, jadi setiap orang dalam keluarga harus mendengarkan saya." Kita semua perlu diseimbangkan.

Dalam hidup gereja, saudara tidak seharusnya pernah memaksa saudari untuk tunduk pada mereka. Beberapa saudara dalam gereja lokal tertentu telah menyatakan hal demikian kepada para saudari, bahwa berdasarkan 1 Korintus 11:3 mereka adalah kepala dari perempuan dan semua saudari harus tunduk pada mereka. Tentu kepala macam ini perlu diseimbangkan. Para saudara perlu keseimbangan dari para saudari. Kita semua perlu belajar sesuatu dari orang lain. Belajar tunduk satu sama lain. Tanpa penyeimbangan sedemikian, maka hanya akan ada jalan satu arah, dan ini selalu memimpin kepada sesuatu yang ekstrim.

Dalam gereja, saya mungkin adalah salah satu dari penatua lokal; namun saya masih perlu tunduk pada semua saudara, bahkan kepada para saudari, dan mendengarkan mereka. Semua penatua harus mendengarkan konsep orang lain, sensasi orang lain, perasaan orang lain, dan perkataan orang lain. Kemudian mereka seharusnya membawa semua persekutuan kepada Tuhan dan mencari pimpinan Tuhan. Mungkin keputusan akan dibuat, tidak menurut apa yang dirasakan para penatua, tetapi sebagian menurut apa yang dirasakan saudara dan saudari dan sebagian menurut wahyu Tuhan. Demikianlah, gereja akan terjaga dalam keseimbangan dan dapat maju secara tepat.

BERLATIH UNTUK BERFUNGSI

Kita juga harus mempratekkan bahwa semua anggota gereja adalah anggota yang berfungsi dalam Tubuh (Rm. 12:4-5; 1 Kor. 14:24-26, 31-32). Tidak seharusnya hanya sedikit anggota yang berfungsi dan sisanya pasif. Semua harus menjadi anggota yang aktif. Kemerosotan yang serius di antara orang Kristen dikarenakan kebanyakan dari mereka pasif. Oleh karena itu, kita harus melaksanakan ministri Tubuh yang sejati. Hari ini, ketika orang berbicara mengenai ministri Tubuh, mereka menganggap bahwa dua, tiga, atau empat orang melayani itu adalah minstri Tubuh. Tetapi ministri Tubuh ialah ketika semua anggota berfungsi. Jika tiga ratus orang berkumpul bersama, ketiga ratus orang itu harus berfungsi.

Tubuh kita memiliki banyak bagian. Ketika kita berjalan atau melompat, setiap bagian dari tubuh kita berfungsi; tidak ada satu bagian pun yang pasif. Setiap kaum saleh harus terdorong untuk masuk ke dalam praktek ini. Jika kita akan memilih kidung, lebih baik membantu orang yang lebih muda atau orang yang lebih lemah untuk memilihnya. Juga, kita harus membantu semua anggota berdiri dan mengatakan sesuatu. Mungkin seseorang hanya berkata, "0 Tuhan Yesus"; namun, ini mungkin adalah permulaan dari fungsinya.

Di pihak lain, beberapa orang terlalu aktif. Orang-orang ini perlu memberi kesempatan kepada yang lain dan menjadi aktif dalam membantu orang lain berfungsi.

KEIMAMAN UNIVERSAL

Kita juga perlu mempraktekkan keimaman universal (Why. 1:6; 5:10), yang berarti bahwa semua orang beriman adalah imam. Dalam praktek hidup gereja, kita tidak seharusnya memiliki pendeta atau kaum awam, tetapi hanya imam. Dalam Tubuh Kristus, kita semua adalah anggota, dan dalam melayani Allah Bapa, kita semua adalah imam. Oleh karena itu, kita bukan hanya harus berfungsi dalam sidang-sidang; kita juga harus melayani. Dalam gereja, ada banyak pelayanan, dan setiap orang seharusnya mengambil bagian dalam pelayanan-pelayanan ini. Jadilah imam yang melayani, bukan hanya anggota yang berfungsi. Kita semua harus mempraktekkan hal ini.

BERJUANG UNTUK MENGHASILKAN BUAH

Dalam hidup gereja, kita semua perlu berbuah. Tuhan Yesus berkata, "Tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap" (Yoh. 15:16). Ini bukan hanya hasil di dapat melalui pemberitaan Injil. Juga bukan hanya "memenangkan jiwa-jiwa". Ini adalah membagikan hayat kepada orang lain. Dalam Matius 28:19, Markus 16:15 dan Lukas 24:47 kita disuruh pergi dan memberitakan Injil, tetapi dalam injil Yohanes, kita disuruh pergi dan menghasilkan buah. Injil Yohanes ialah kitab hayat; oleh karena itu pemberitaan, penekanan, dalam kitab ini ialah pembagian hayat kepada orang lain, membuat mereka menjadi buah.

Jangan pernah berkata bahwa jumlah tidak berarti apa pun. Dalam Kisah 11:21 catatan ilahi mengatakan, "Sejumlah besar orang percaya." Jika jumlah tidak berarti, Roh Kudus tidak akan pernah mengatakan hal ini. Dalam hidup pernikahan, kita perlu anak-anak. Jika setelah sejangka waktu yang lama, satu pasangan tidak memiliki anak, ini menunjukkan ada sesuatu yang salah. Melahirkan anak-anak juga tak lain ialah membagikan hayat yang kita miliki kepada anak-anak kita.

Kita juga perlu anak-anak rohani. Kita perlu membagikan hayat rohani kita ke dalam anak-anak rohani. Jika gereja lokal di tempat tertentu, jumlahnya mencapai 50 di tahun ini, lalu tahun berikutnya 51, tahun ketiga 49, dan tahun keempat 44, gereja tidak seharusnya membela diri dengan mengatakan bahwa is tidak peduli dengan jumlah melainkan kualitas. Suatu gereja lokal memerlukan jumlah. Meskipun dalam hal rohani, beberapa anggota yang dilahirkan mungkin timpang, buta, tuli, atau lumpuh, ini masih baik. Penampilannya mungkin kacau, tetapi lebih baik dari pada tidak ada satu pun, dan sesuatu akan muncul darinya. Secara fisik, beberapa ayah yang lumpuh bisa melahirkan anak-anak yang kuat.

Semua gereja lokal harus mendorong setiap saudara dan saudari untuk menghasilkan buah. Semua orang beriman harus berjuang untuk menghasilkan buah, bahkan buah yang tetap. Jangan terganggu dengan berpikir bahwa jika kita melahirkan banyak, gereja tidak dapat merawat dan beberapa akan mati. Mungkin ini benar, tetapi beberapa akan tinggal tetap dan ini lebih baik daripada tidak ada satu pun. Setiap pernikahan yang normal menghasilkan anak. Kita harus banyak menekankan hal ini dan mempraktekkannya.

MEMBERI MAKAN DOMBA-DOMBA

Poin berikutnya ialah memberi makan domba (Yoh. 21:15-17). Berbuah ialah satu hal; memberi makan domba ialah hal lain. Jika kita tepat, di satu pihak, kita membawa banyak orang beriman ke dalam sidang, dan di pihak lain, kita memperhatikan beberapa orang beriman baru. Kita harus menghasilkan buah, dan kita juga harus memberi makan domba. Dalam dua perkara ini, kita tidak seharusnya menjadi spesial dan khusus. Gereja ialah bagi setiap orang, termasuk orang muda, paruh baya, dan orang tua. Gereja adalah bagi segala jenis orang. Kita tidak tahu dari arah mana

Tuhan akan membawa orang ke dalam gereja. Ketika Petrus sedang menderita penganiayaan di Yerusalem, dia mungkin menduga bahwa Saulus dari Tarsus tentu akan pergi ke neraka. Tetapi di luar perkiraan Petrus, Tuhan membuat Saulus menjadi rasul.

Gereja tidak dibangun dengan orang-orang yang kita inginkan, melainkan dengan orang-orang yang telah Allah pilih sebelum peletakkan dasar dunia (Ef. 1:4). Kita tidak dapat memprediksi apakah anak-anak kita, orangtua kita, sepupu kita, teman sekelas kita, atau tetangga kita, akan menjadi orang-orang gereja. Hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya pergi dengan biasa-biasa saja menurut pimpinan Tuhan dan menghasilkan buah. Jangan melakukan sesuatu yang spesial, aneh, atau antik, dan jangan mengelompokkan orang. Tuhan mungkin bahkan membangkitkan beberapa kaum saleh yang baik dari antara orang-orang yang menentang. Siapa yang akan diselamatkan, siapa yang akan menjadi penatua, siapa yang akan menjadi orang rohani, hanya Tuhan yang tahu. Ini bukan bergantung pada kita; ini bergantung pada Dia. Namun kita masih harus melakukan tanggung jawab kita untuk menghasilkan buah dan memberi makan domba. Ini bukan pekerjaan Anda, atau pekerjaan saya, atau bahkan pekerjaan kita. Ini adalah pekerjaan Tuhan.

MENYEBAR MELALUI MIGRASI

Dalam Kisah Para Rasul 8:1, kita melihat penganiayaan timbul melawan gereja di Yerusalem, hingga menyerakkan kaum saleh dan memaksa mereka untuk migrasi. Kisah Para Rasul 11:19, menunjukkan bahwa orang-orang yang terserak memberitakan injil ke mana pun mereka pergi dan beberapa gereja lokal dibangkitkan. Laporan-laporan datang ke gereja di Yerusalem, dan is mengirim Barnabas untuk bersekutu dengan mereka (Kis. 11:22). Penyebaran Injil dan penghidupan gereja di abad pertama dimulai dengan migrasi dari kaum saleh ini. Pengutusan para rasul dimulai dari Antiokhia (Kis. 13:2-3).

Oleh karena itu, sejumlah besar kaum saleh di gereja-gereja lokal seharusnya menjadi orang yang bermigrasi; pertama bermigrasi dari kota ke kota, dan dari negara bagian ke negara bagian di dalam negara ini, dan kemudian bermigrasi ke negara lain. Bagi kepentingan pemulihan Tuhan, kita tidak seharusnya berpandangan sempit dan hanya mengarahkan mata pada gereja lokal di kota tempat kita tinggal. Kita perlu pandangan yang diperluas.

Semakin banyak gereja memberikan orang-orangnya untuk migrasi, semakin banyak orang yang didapatkan. Semakin banyak yang dijaga agar tidak pergi, semakin banyak kehilangan yang diderita. Jangan mencoba menahan orang. Lakukan yang terbaik dengan memberikan mereka bagi penyebaran Tuhan. Jangan berpandangan sempit, mengira bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak akan pernah kehilangan. Bahkan jika Anda kehilangan di bumi ini, tentu Anda akan memperolehnya di sorga. Puji Tuhan untuk jalan migrasi!

KATA-KATA TERAKHIR

Tidak satu pun dari poin-poin yang telah kita bahas dalam ketiga bab terakhir yang adalah aspek dari iman Kristiani kita. Namun, semua itu seharusnya dipraktekkan; jika tidak, gereja lokal tidak akan pernah menjadi kuat dan menang. Jika semua poin ini dipraktekkan, gereja lokal akan menjadi kuat dan menang. Mereka bukanlah butir-butir dari iman Kristiani kita. Tetapi mereka harus menjadi bagian dari praktek hidup gereja.