← Daftar isi Mengetahui Telah Beroleh Selamat · bab 46/48

PENDEWASAAN

Dalam aspek hayat keselamatan sempurna yang telah dipersiapkan Allah bagi kita, pengubahan dalam hayat yang kita alami secara spontan menyebabkan kita bertumbuh dalam hayat rohani hingga mencapai kedewasaan. Jadi, pengalaman kita juga merupakan aspek pendewasaan dalam pertumbuhan hayat.

I. MAKNA PENDEWASAAN

Kata "dewasa" dalam bahasa Yunani berarti "titik akhir". Bila kata "dewasa" dipakai untuk menerangkan organisme, akan mengandung arti kesempurnaan, kematangan dan kedewasaan. Kata ini sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan kematangan, kedewasaan, dan kesempurnaan kaum beriman dalam hayat Allah, yang mereka terima tatkala dilahirkan kembali. Hal ini menyatakan, meskipun kita telah menerima hayat Allah ketika kita dilahirkan kembali, kita masih perlu bertumbuh dan dewasa hingga mencapai kesempurnaan dalam hayat ini.

II. PERLUNYA PENDEWASAAN

1. ". . . Kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab setiap orang yang terus minum susu . . . ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa" (Ibr. 5:12-14).

Ayat-ayat ini memperlihatkan kebutuhan kita untuk bertumbuh dan dewasa dalam hayat rohani. Jika kita tidak bertumbuh dan dewasa, kita akan tetap dalam taraf kanak-kanak, tidak mampu memahami firman kebenaran Allah yang seperti makanan keras Seperti kaum beriman Ibrani waktu itu, kita pun tidak akan mampu memahami wahyu firman Allah yang lebih dalam, dan dengan demikian tidak mampu berbagian dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Hikmat dalam ekonomi Allah hanya dapat dibicarakan kepada orang yang telah matang (1 Kor. 2:6). Untuk memasuki ekonomi Perjanjian Baru Allah, yaitu rencana kekal Allah, menuntut kita bertumbuh dan dewasa dalam hayat Allah.

2. "Kedewasaan penuh . . . sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:13-14).

Setelah kelahiran kembali kita sebagai kaum beriman, meskipun kita bukan lagi bayi yang baru lahir dalam hayat Allah, kita mungkin masih anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, terjebak oleh Satan. Kita perlu bertumbuh dan dewasa supaya di pihak positif, kita dapat memahami wahyu Allah dan mengetahui ekonomi serta rencana-Nya, dan di pihak negatif, kita tidak tertipu atau terjebak oleh Satan.

III. TUJUAN PARA RASUL

1. "Dialah [Kristus] yang kami [rasul-rasul] beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kol. 1:28); "Yang [teman sekerja rasul] selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan berkeyakinan penuh dalam segala hal yang dikehendaki Allah" (Kol. 4:12).

Dalam naskah Yunani, kata "berdiri" dalam ayat kedua adalah dalam bentuk pasif, berarti "ditempatkan" atau "dipersembahkan", yang bersesuaian dengan kata "dipersembahkan" dalam ayat pertama. Kedua ayat dalam kitab Kolose ini memperlihatkan kepada kita, bahwa usaha keras para rasul dalam Kristus bagi kaum beriman dan pergumulan mereka dalam doa-doa bagi kaum beriman, semuanya adalah untuk pertumbuhan dan kedewasaan kaum beriman, supaya mereka dapat dipersembahkan dalam pertumbuhan sempurna serta kedewasaan di hadapan Kristus.

IV. PERINTAH TUHAN

1. "Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna" (Mat. 5:48).

Frase "karena itu" pada awal ayat ini menunjukkan, bahwa frase ini merupakan kesimpulan hukum hayat baru dalam undang-undang kerajaan yang telah Tuhan umumkan dalam ayat 17-47 di depan. Dalam kesimpulan ini Tuhan memerintahkan kita untuk disempurnakan (dalam hayat) seperti Bapa kita yang di surga adalah sempurna. Disempurnakan dalam hayat ialah bertumbuh dan dewasa dalam hayat. Tuhan memerintahkan kita sedemikian dalam kesimpulan hukum hayat baru Kerajaan Surga karena kita adalah anak-anak yang dilahirkan Bapa kita, kita memiliki hayat Bapa kita. Hayat ini bisa membuat kita sempurna dalam hayat Bapa kita, seperti Bapa kita adalah sempurna. Sebab itu, perintah Tuhan ini didasarkan atas hayat ilahi Bapa. Perintah Tuhan ini juga digenapi oleh hayat ilahi Bapa. Hayat ilahi Bapa mampu menjadikan kita sempurna dalam hayat, seperti Dia adalah sempurna. Ini bukan hanya perintah Tuhan bagi kita, tetapi juga pengharapan Tuhan terhadap kita. Kita harus bersimpati pada kehendak hati Tuhan, memelihara perintah-Nya, serta bertumbuh dan dewasa melalui hayat Bapa di dalam kita, hingga kehendak Allah Tritunggal terampungkan.

V. PENUNTUTAN YANG HARUS KITA MILIKI

1. "Sebab itu, marilah kita tinggalkan asas-asas pertama ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangan yang penuh" (Ibr. 6:1).

"Asas-asas pertama ajaran tentang Kristus" mengacu kepada firman dalam Injil tentang Kristus menyelamatkan kita dan melahirkan kembali kita, yaitu firman tentang keselamatan Allah yang mengawali hayat rohani kita. Ayat ini mendesak kita meninggalkan asas-asas pertama, yakni meninggalkan asas-asas pertama hayat rohani kita, menuju ke kesempurnaan hayat rohani. Ini adalah bertumbuh dan dewasa dalam hayat rohani.

2. "Bukan seolah-olah aku . . . telah sempurna [telah dewasa dalam hayat], melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus [yang menginginkan aku memperoleh Dia] . . . aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya [Kristus], tetapi inilah yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan [Kristus] untuk memperoleh hadiah [Kristus], yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu, marilah kita, yang sempurna [dalam hayat], berpikir demikian" (Flp. 3:12-15).

Dalam ayat-ayat ini rasul Paulus memberitahukan kita, bagaimana dia menuntut pertumbuhan dan kedewasaan dalam hayat Kristus. Dalam hal ini dia tidak pernah merasa puas diri, tetapi mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, dan berlari-lari kepada tujuan dan sasaran. Dia melakukannya untuk memperoleh Kristus, supaya dia dapat bertumbuh dan dewasa dalam hayat-Nya. Dengan penuntutannya sendiri sebagai teladan, dia mendorong kaum beriman yang dia bimbing dan perhatikan sama seperti dia, menuntut hayat Kristus dan memperoleh Kristus sepenuhnya, agar mereka dapat bertumbuh dan dewasa. Akhirnya, Paulus berkata, bahwa kita yang dewasa harus memiliki pikiran ini dan menetapkannya sebagai suatu sasaran.

VI. SYARAT UNTUK DEWASA

1. "Sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan" (1 Ptr. 2:2).

Syarat untuk dewasa dalam hayat rohani adalah terus bertumbuh dalam hayat ini. Begitu seseorang dilahirkan kembali dan menjadi seorang bayi rohani yang baru, dia harus menginginkan firman Allah dalam Alkitab sebagai susu yang murni, supaya dia bertumbuh dalam hayat rohaninya.

2. "Aku [Paulus] menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan" (1 Kor. 3:6).

Dalam hayat rohani, seorang beriman, di satu pihak adalah seorang yang memiliki hayat rohani, dan di lain pihak, sepertilah tumbuhan yang ditanam di ladang Allah (1 Kor. 3:5-9). Entah sebagai seorang manusia maupun sebagai tumbuhan, seorang beriman perlu bertumbuh agar dewasa. Sebab itu, kelangsungan pertumbuhan merupakan syarat untuk menjadi matang dan dewasa.

3. "Sebaliknya dengan teguh berpegang kepada kebenaran [Kristus] di dalam kasih, kita bertumbuh ke dalam Dia di dalam segala hal, Kristus, yang adalah kepala" (Ef. 4:15; Tl.).

Kita bertumbuh dalam hayat rohani dengan berpegang teguh di dalam kasih kepada Kristus sebagai kebenaran dan bertumbuh ke dalam Kristus sebagai kepala di dalam segala sesuatu. Pertumbuhan seperti ini mengambil Kristus sebagai kebenaran dan bertumbuh ke dalam Kristus, merupakan syarat yang lebih lanjut agar kita menjadi matang dan dewasa.

4. "Berpegang teguh kepada Kepala [Kristus], dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh dengan pertumbuhan Allah" (Kol. 2:19; Tl.).

Ayat ini menunjukkan bahwa gereja sebagai Tubuh Kristus bertumbuh dengan pertumbuhan Allah dengan berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, melalui menerima suplai yang berlimpah dari Sang Kepala, melalui sendi-sendi Tubuh-Nya, dan diikat menjadi satu oleh urat-urat Tubuh-Nya. Pertumbuhan dalam Tubuh Kristus ini juga merupakan syarat bagi pertumbuhan serta kedewasaan kita dalam hayat Kristus. Syarat ini terpenuhi di dalam pertumbuhan Tubuh Kristus.

VII. HASIL KEDEWASAAN

1. "Sampai kita semua telah mencapai . . . kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef. 4:13).

Kedewasaan penuh disini menunjukkan gereja sebagai Tubuh Kristus bertumbuh ke dalam manusia dewasa. Kepenuhan Kristus menunjukkan Tubuh Kristus menjadi ekspresi-Nya. Secara singkat, tingkat pertumbuhan adalah perawakan. Perawakan ini adalah gereja sebagai Tubuh Kristus bertumbuh ke dalam perawakan Kristus. Ini adalah hasil akhir dan sempurna dari pertumbuhan serta kedewasaan orang-orang beriman melalui hayat Kristus di dalam Tubuh-Nya. Pengubahan kita dalam hayat Kristus menjadikan kita seperti Dia menurut gambar esens-Nya; kedewasaan kita dalam hayat Kristus menjadikan kita seperti Dia dalam tingkat perawakan-Nya. Dengan demikian di satu pihak, kita memiliki gambar-Nya, dan di lain pihak, kita memiliki perawakan-Nya.